Page 6 of 12 FirstFirst ... 45678 ... LastLast
Results 101 to 120 of 229

Thread: Percaya Tuhan atau Agama?

  1. #101
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    kalo percaya dua2nya berarti sifatnya gimana dong? galau?
    Memang gak mudah sih... Pertama, itu tergantung pada apa yg kita maksud dengan "tuhan" dan "agama". Kita sendiri tahu bahwa diskusi ttg tuhan adalah diskusi klasik yg tidak berkesudahan. Kemudian juga itu tergantung pada keyakinan para pendiskusinya. Ini yg biasanya bikin diskusi tidak ada akhirnya dan malah makin ribet.

    Btw, dalam perspektif sejarah, benih tuhan adalah kekuatan-kekuatan alam yg dipuja oleh masyarakat prasejarah. Atau dlm bahasa teis, pada mulanya tuhan memperkenalkan dirinya pada manusia lewat kekuatan-kekuatan alam (petir, tanah yg subur, matahari, dlsb). Dengan berkembangnya kemampuan berbahasa manusia, tuhan memperkenalkan dirinya pada manusia secara verbal lewat utusan-utusannya. Dalam perspektif ini, agama dapat dilihat sebagai penafsiran pesan-pesan tuhan yg digunakan utk pedoman hidup. Karena yg melakukan penafsiran adalah manusia, boleh dikatakan bahwa agama adalah produk manusia. Dalam perspektif ini juga, keragaman agama dapat dilihat sebagai perbedaan penafsiran dari pesan-pesan tuhan tadi. Perspektif ini bersifat inklusif karena memulai telaahnya dari tuhan sbg eksistensi maha tinggi. Sementara agama merupakan derivatif dari eksistensi maha tinggi tsb. Jadi, ada dialektika antara tuhan dan manusia.

    Tidak menutup kemungkinan bahwa penafsiran pesan-pesan tuhan melahirkan agama yg eksklusif. Mereka yg eksklusif akan melihat keragaman agama sebagai penyimpangan dari pesan-pesan tuhan tadi. Di sini, benar salah ajaran agama menjadi sangat penting.


  2. #102
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    agama apaan tuh?

    om, jelasin yang tuhan personal dll dong
    Tuhan yg 'personal' itu adalah Tuhan yg bisa kamu sendiri bisa dengar suaraNya, kamu lihat wujudNya dan kamu bisa interaksi denganNya.
    Jd Tuhan yg bukan skadar tulisan, kalimat, huruf atau jabaran sifat-sifat yg disampaikan orang lain.

    Kl yg dbawah itu adalah Tuhan yg teoritis.
    Biasanya upaya menjangkau Tuhan yg teoritis itu mnggunakan sprangkat ritual yg tidak habis-habisnya.

    -------

    Para atheist mmahami 'Tuhan teoritis' tp mreka tidak pcaya krn bagi mreka Tuhan itu tidak 'personal'.

  3. #103
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Quote Originally Posted by Alip
    ... sejatinipun nggih... ???
    Ketok uduk asli Jowo. Sejatosipun yayi, bukan sejatose eh sejatinipun.

    Quote Originally Posted by Chan
    salim ama um @Alip
    lebih veteran mana ya ama um @234
    Yg jelas sih, menurut hasil terawanganku, sayalah yg lebih...tuwek.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  4. #104
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Lha wong percaya ato ndak percaya itu pilihan bebas kok, tanpa bukti dan tanpa alasanpun sah2 aja.
    Saya kok ndak yakin kalo sampeyan percaya tuhan hanyalah karena sebuah pilihan bebas saja.

    ---------- Post Merged at 01:15 AM ----------

    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    Tuhan yg 'personal' itu adalah Tuhan yg bisa kamu sendiri bisa dengar suaraNya, kamu lihat wujudNya dan kamu bisa interaksi denganNya.
    Berarti tuhan personal juga bisa ditempeleng pipi kiri dan pipi kanannya ya? Bisa dibunuh juga ya?

    ---------- Post Merged at 01:26 AM ----------

    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Saya melihat njelimetisme dan romantisme agama seperti sepasang sepatu, yang sebaiknya memang dipakai dua-duanya meskipun bentuknya bertolak belakang satu sama lain (karena kaki kita memang bentuknya bertolak belakang begitu...)
    Dlm bahasa njelimetisme, romantisme agama adalah sebuah trauma masa kecil.

  5. #105
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Jadi ada dua SOAL PILIHAN BERGANDA PERTAMA:

    1. setiap perkembangan akal manusia akan cenderung menuju ke hal yang sama, atau;

    2. ada pengawas yang selalu menyelipkan pesan yang sama ke umat yang berbeda.
    Pernyataan 1 bersifat general. Hal yg sama tsb adalah spiritualitas. Sementara spiritualitas tidak melulu ttg tuhan. Ini berlaku baik buat teis maupun ateis.

    Sedangkan pernyataan 2 bersifat spesial. Itu khusus untuk teis.

    Sesuatu yg "missing" kemudian diisi dgn tuhan, itulah teis. Sementara tuhan bukanlah satu-satunya pengisi yg "missing" tsb.

    ---------- Post Merged at 01:58 AM ----------

    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    Emang kalo semua manusia tersesat tuhan rugi apa?
    Gak ada tuhan, manusia juga gak rugi kok.

  6. #106
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Memang gak mudah sih... Pertama, itu tergantung pada apa yg kita maksud dengan "tuhan" dan "agama". Kita sendiri tahu bahwa diskusi ttg tuhan adalah diskusi klasik yg tidak berkesudahan. Kemudian juga itu tergantung pada keyakinan para pendiskusinya. Ini yg biasanya bikin diskusi tidak ada akhirnya dan malah makin ribet.

    Btw, dalam perspektif sejarah, benih tuhan adalah kekuatan-kekuatan alam yg dipuja oleh masyarakat prasejarah. Atau dlm bahasa teis, pada mulanya tuhan memperkenalkan dirinya pada manusia lewat kekuatan-kekuatan alam (petir, tanah yg subur, matahari, dlsb). Dengan berkembangnya kemampuan berbahasa manusia, tuhan memperkenalkan dirinya pada manusia secara verbal lewat utusan-utusannya. Dalam perspektif ini, agama dapat dilihat sebagai penafsiran pesan-pesan tuhan yg digunakan utk pedoman hidup. Karena yg melakukan penafsiran adalah manusia, boleh dikatakan bahwa agama adalah produk manusia. Dalam perspektif ini juga, keragaman agama dapat dilihat sebagai perbedaan penafsiran dari pesan-pesan tuhan tadi. Perspektif ini bersifat inklusif karena memulai telaahnya dari tuhan sbg eksistensi maha tinggi. Sementara agama merupakan derivatif dari eksistensi maha tinggi tsb. Jadi, ada dialektika antara tuhan dan manusia.

    Tidak menutup kemungkinan bahwa penafsiran pesan-pesan tuhan melahirkan agama yg eksklusif. Mereka yg eksklusif akan melihat keragaman agama sebagai penyimpangan dari pesan-pesan tuhan tadi. Di sini, benar salah ajaran agama menjadi sangat penting.

    *terharu* om purba menjawab dengan serius... biasanya nyela2 diriku hiks *lap ingus*

    kalau om [MENTION=101]purba[/MENTION] sendiri gimana? apakah mempercayai inklusiftas tuhan tadi? atau bahkan, apakah percaya ada kekuatan yang biasa dinamai tuhan? kalau ya/tidak, kenapa?

    untuk masa sekarang ini, diskusi tentang tuhan menurut om purba apakah masih relevan? atau seharusnya "move on"?
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  7. #107
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by cha_n
    kalau om [MENTION=101]purba[/MENTION] sendiri gimana? apakah mempercayai inklusiftas tuhan tadi? atau bahkan, apakah percaya ada kekuatan yang biasa dinamai tuhan? kalau ya/tidak, kenapa?
    Saya sulit menerima (tidak percaya) ada kekuatan besar yg disebut tuhan, yg mengatur alam semesta ini. Bagi saya, yg ada hanyalah alam semesta itu sendiri. Dengan berjalannya waktu, ada bagian alam semesta yg memiliki inteligensia yg cukup berkembang, yg mencoba memahami dirinya sendiri. Kita semua (manusia) adalah bagian dari alam semesta tsb.

    Mungkin cha_n tidak nyaman dengan keyakinan seperti itu, tetapi saya nyaman. Karena itu, saya tidak memaksakan benar atau salah dalam hal-hal seperti itu. Yg penting adalah bukan apa keyakinannya, tapi nyamankah dia dengan keyakinannya. Jika cha_n nyaman dengan Islam, teruslah berislam. Mungkin yg perlu diingat, apa yg nyaman bagi kita, belum tentu nyaman bagi yg lain. Saya kira itu prinsip sederhana, meski mungkin prakteknya tidak semudah mengatakannya.

    Meskipun saya digolongkan ateis, saya memahami mereka yg meyakini keberadaan tuhan di balik alam semesta ini. Bahkan saya pun memaklumi mereka yg meyakini hanya tuhan merekalah yg benar, yg lain salah. Hanya saja, (sebagian) kelompok yg saya sebut terakhir ini kadang membuat tidak nyaman kelompok lain. Tapi riak itu penting, agar hidup tidak membosankan.

    Cerita saya ttg inklusifitas adalah usaha saya memahami mereka yg teis da. Karena itu saya sempat mengatakan "dalam bahasa teis... dst" . Mungkin teis fanatik akan mengatakan keyakinan saya adalah panteisme (alam semesta adalah tuhan).

    untuk masa sekarang ini, diskusi tentang tuhan menurut om purba apakah masih relevan? atau seharusnya "move on"?
    Saya kira tetap relevan. Buat saya, diskusi seperti itu manusiawi. Anda semua adalah manusia, niscaya pernah terpikir oleh anda (meski sekelebat) ttg diri anda secara esensial.

  8. #108
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Gak ada tuhan, manusia juga gak rugi kok.
    Yg gak rugi ente kali.
    Coba bayangin kalo profesi ente pemuka agama yg kerjanya nakut-nakutin umat dengan siksa neraka agar mereka isi kotak sumbangan?

    Uwekekekekekee...

    Last edited by sedgedjenar; 16-03-2014 at 07:55 AM.

  9. #109
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Quote Originally Posted by Purba
    Quote Originally Posted by 234
    Lha wong percaya ato ndak percaya itu pilihan bebas kok, tanpa bukti dan tanpa alasanpun sah2 aja
    Saya kok ndak yakin kalo sampeyan percaya tuhan hanyalah karena sebuah pilihan bebas saja.
    Jangankan sampeyan, lha wong saya sendiri juga ndak yakin kok.

    Ini serius lho, soale kalo udah soal "yakin ato ndak yakin" sbg orang yg cenderung skeptis saya justru berusaha menghindari kondisi 100% yakin thd sesuatu (apapun). Sekecil apapun, saya tetap ingin menyisakan sebuah "wilayah steril" dimana disitu saya berkuasa penuh atas diri saya sendiri.

    Tapi kalo mengenai hal "pilihan bebas" (tulisan saya yg anda kutip diatas) tentu saya punya reason dibalik pernyataan tsb.

    Kalo term "pilihan bebas" disitu dibilang sbg "pilihan tanpa sebab" tentu bukan itu maksud saya.

    Bagi saya pribadi, pilihan adalah sebuah bentuk komitmen. Dan tentu saja pilihan itu ndak muncul scr ujug2 tanpa sebab. Bagi saya, tidak ada sesuatu yg tanpa sebab. Tapi, dlm konteks ini, dlm definisi saya, sebab tsb ndak bisa disamakan sbg bentuk (pem)bukti(an) ataupun reason (alasan logis) meskipun tetap tidak tertutup kemungkinan didlm sebab tsb ada terkandung bukti dan/atau reasons.

    Itu yg saya maksud dgn "pilhan bebas" disitu. "Bebas" dlm arti tidak perlu ada bukti dan alasan (reasons), tapi bukan berarti "bebas" dlm arti tanpa ada sebab.

    Tapi kalo yg sampeyan pertanyakan, mungkin (CMIIW), apakah didlm sebab tsb ada unsur "keterpaksaan" maka jawaban saya akan menjadi "mbulet", krn sejatinya saya memang ndak bisa jawab scr eksplisit dgn jawaban Ya atau Tidak.

    Benar bahwa saya theist "sejak lahir", dan saya tidak tahu dan tidak inget apakah saat itu saya punya pilihan atau tidak. Bahkan saya juga ndak ingat kapan persisnya saya benar2 punya pilihan atas hal tsb. So, anggap saja saya punya pilihan sejak menginjak usia tertentu.

    Lalu kenapa sejak dari umur tsb sampe sekarang saya tetap keukeuh (memilih) theist? Kenapa saya tidak (minimal mencoba untuk) memilih menjadi atheist? Bukankah saya punya "pilihan bebas"?

    Jawaban saya, karena saya tidak (belum) menemukan alasan (baca: sebab) yg tepat, yg bagus, yg menarik, bahkan termasuk yg rasional (reason), dan yang paling penting adalah yg bisa memberi manfaat bagi diri saya, sehingga sampe pada titik dimana saya berketetapan untuk mengubah pilihan (bisa dibaca juga: komitmen) saya sebagai theist.

    Memang, sebagai bentuk pilihan, bisa saja saat inipun saya mengubah pilihan saya menjadi atheist atau skeptis (baca: bukan theist sekaligus bukan atheist, alias "memilih untuk tidak memilih"). Namanya juga "pilihan bebas".

    Tapi kalo itu saya lakukan, lalu apa yg akan terjadi? Apalagi ditambah lagi saya memang seorang agnostis.

    Maka besok saya akan balik lagi jadi theist, lusa jadi skeptis, minggu depan jadi atheist, bulan depan theist lagi, bahkan setelah itu bisa setiap saat berubah theist-skeptis-atheist terus menerus bebas-sebebas2nya.

    Lalu apa itu artinya? Artinya, saya sudah melanggar "definisi" (bisa juga dibaca: komitmen) yg saya buat sendiri. Saya sudah mencampur-adukkan "nature" (antara) belief dgn faith. Apa yg saya bilang (definisikan) sbg bentuk belief ternyata sejatinya saya perlakukan sbg bentuk faith. Belief menjadi bersifat seperti "ombak" yg sebelumnya saya jadikan itu sbg analogi untuk faith. Lha manusia macam apa saya jadinya kalo begitu? Bikin komitmen sendiri tapi di-injak2 sendiri.

    Bebas sih bebas, tapi bukan berarti bebas-sebebas2nya kan? Saya bebas memilih/berkomitment, dan pilihan/komitmen itulah yg (akan) membatasi kebebasan saya. Dus, saya bebas untuk (menjadi) tidak bebas. Mbulet kan?!

    Dan kalo itu dikaitkan dgn persoalan ttg (ke)Tuhan(an), mungkin (saya memang ndak berani bilang pasti) hal itulah yg melandasi kenapa saya (cenderung) memilih sbg theist, meskipun saya menyadari bahwa saya agnostis. Saya "butuh sesuatu diluar diri saya" yg bisa "(maha) mengawasi, mengingatkan, kalo perlu menjewer, dll" thd sejauh mana saya menjaga setiap komitmen yg saya buat untuk diri saya sendiri.

    So, dlm konteks tsb, saya (memilih menjadi) theist karena adanya "kebutuhan" akan hal tsb. Tapi sekali lagi ini hanya kemungkinan, saya sendiri ndak sepenuhnya yakin.

    Lalu bagaimana dgn kebutuhan akan surga? Halagh!



    ---------- Post Merged at 01:41 PM ----------

    Tambahan intermezo mengenai persoalan "(ke)benar(an)" dan "(ke)baik(an)", dua term yg sering saya sisipkan dlm tulisan2 di beberapa tret...

    Kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "benar" dan satunya "tidak benar", jelas saya akan pilih yg benar. Dan dlm konteks (ke)Tuhan(an) disini, saya agnostis.

    Kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "baik" dan satunya "tidak baik", jelas saya akan pilih yg baik. Dan dlm konteks (ke)Tuhan(an) disini, saya theist.

    Tapi bagaimana kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "benar tapi tidak baik" dan satunya "baik tapi tidak benar"? Bismillah saya pilih yang baik, meskipun itu tidak benar.

    Bagi saya, bicara ttg Tuhan dan agama adalah bicara ttg kebajikan, bukan kebenaran. Kebenaran hanya sekedar bonusnya. Ini pernah scr eksplisit saya sampaikan dlm posting di tret lain.

    Dan di tret lain juga saya pernah sampaikan bahwa saya beragama (dan ber-Tuhan) bukan untuk (nyari) kebenaran, melainkan untuk (nyari) kebaikan. Lalu kalo begitu bagaimana saya bisa mendapatkan sebuah kebenaran? Jawabnya, sebagai seorang theist, saya percaya bahwa kebenaran tsb datangnya dari Tuhan. Sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Saya ndak merasa perlu untuk nyari, apalagi sampai mati2an nyarinya. Nyantai aja kaleee...

    Tapi kebenaran disitu bukan kebenaran "2+2=4" alias kebenaran "ilmiah" lho. Kalo kebenaran yg ini sih saya nyarinya mendingan pake akal sepenuhnya. Dan sebagai theist saya percaya bahwa akal saya adalah karunia-Nya. Lha mosok saya percaya kepada-Nya kok malah mau me-nyia2kan karunia-Nya Lalu, untuk apa saya nyari2 kebenaran dlm hal ini? Ya kembali ke paragraf sebelumnya, yaitu: kebaikan.


  10. #110
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    So, dlm konteks tsb, saya (memilih menjadi) theist karena adanya "kebutuhan" akan hal tsb. Tapi sekali lagi ini hanya kemungkinan, saya sendiri ndak sepenuhnya yakin.
    Ok saya paham penjelasan sampeyan ttg pilihan bebas.

    Tambahan intermezo mengenai persoalan "(ke)benar(an)" dan "(ke)baik(an)", dua term yg sering saya sisipkan dlm tulisan2 di beberapa tret...

    Kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "benar" dan satunya "tidak benar", jelas saya akan pilih yg benar. Dan dlm konteks (ke)Tuhan(an) disini, saya agnostis.

    Kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "baik" dan satunya "tidak baik", jelas saya akan pilih yg baik. Dan dlm konteks (ke)Tuhan(an) disini, saya theist.

    Tapi bagaimana kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "benar tapi tidak baik" dan satunya "baik tapi tidak benar"? Bismillah saya pilih yang baik, meskipun itu tidak benar.

    Bagi saya, bicara ttg Tuhan dan agama adalah bicara ttg kebajikan, bukan kebenaran. Kebenaran hanya sekedar bonusnya. Ini pernah scr eksplisit saya sampaikan dlm posting di tret lain.

    Dan di tret lain juga saya pernah sampaikan bahwa saya beragama (dan ber-Tuhan) bukan untuk (nyari) kebenaran, melainkan untuk (nyari) kebaikan. Lalu kalo begitu bagaimana saya bisa mendapatkan sebuah kebenaran? Jawabnya, sebagai seorang theist, saya percaya bahwa kebenaran tsb datangnya dari Tuhan. Sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Saya ndak merasa perlu untuk nyari, apalagi sampai mati2an nyarinya. Nyantai aja kaleee...

    Tapi kebenaran disitu bukan kebenaran "2+2=4" alias kebenaran "ilmiah" lho. Kalo kebenaran yg ini sih saya nyarinya mendingan pake akal sepenuhnya. Dan sebagai theist saya percaya bahwa akal saya adalah karunia-Nya. Lha mosok saya percaya kepada-Nya kok malah mau me-nyia2kan karunia-Nya Lalu, untuk apa saya nyari2 kebenaran dlm hal ini? Ya kembali ke paragraf sebelumnya, yaitu: kebaikan.
    Di awal saya mengira apa yg sampeyan sebut dengan "kebenaran" adalah kebenaran ilmiah. Tapi di paragraf terakhir, sampeyan menegasikannya. Jadi, apa yg sampeyan maksud dengan "kebenaran" tsb?

  11. #111
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    ^
    Yup, setelah saya baca ulang ternyata tulisan saya di dua paragraf terakhir memang rancu. Maaf.

    Tapi akan coba saya jelaskan dgn mengutip lagi tulisan tsb:

    Quote Originally Posted by 234
    Dan di tret lain juga saya pernah sampaikan bahwa saya beragama (dan ber-Tuhan) bukan untuk (nyari) kebenaran, melainkan untuk (nyari) kebaikan. Lalu kalo begitu bagaimana saya bisa mendapatkan sebuah kebenaran? Jawabnya, sebagai seorang theist, saya percaya bahwa kebenaran tsb datangnya dari Tuhan. Sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Saya ndak merasa perlu untuk nyari, apalagi sampai mati2an nyarinya. Nyantai aja kaleee...
    Untuk kata "kebenaran" yg pertama (bold), itu analog dgn kebenaran "ilmiah" yg saya maksud di paragraf berikutnya. Saya memang ndak nyari kebenaran seperti itu dlm agama karena jangankan kebenaran saint yg njlimet2, bahkan untuk mencari kebenaran simpel (misalnya "2+2=?") pun ndak bakal saya dapatkan dlm agama.

    Sedangkan dua kata "kebenaran" (bold) berikutnya mestinya saya tuliskan pake huruf besar yaitu "Kebenaran". Entah itu disebut/diistilahkan sbg Kebenaran Sejati, Kebenaran Mutlak, Kebenaran Tertinggi, atau apaun istilahnya. Itu yg saya maksud.

    Dan sikap saya thd hal tsb (Kebenaran) rasanya cukup jelas saya sampaikan disitu, yaitu "...sebagai seorang theist, saya percaya bahwa Kebenaran tsb datangnya dari Tuhan. Sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Saya ndak merasa perlu untuk nyari, apalagi sampai mati2an nyarinya..."

    Tapi bagaimanapun, saya akui bahwa (tulisan) saya salah scr konteks karena saya telah "mencampur-adukkan" dua hal yg jelas berbeda dalam satu konteks rangkaian kalimat bersambung (dlm dua paragraf terakhir) shg rancu, bahkan alur antar kalimatnya jadi "ndak nyambung". Sekali lagi maaf.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  12. #112
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Berarti tuhan personal juga bisa ditempeleng pipi kiri dan pipi kanannya ya? Bisa dibunuh juga ya?
    Bukan itu yg saya mksd 'Tuhan personal'.

    Kl bisa ditempeleng pipi dan dibunuh, itu ada unsur 'manusia/daging' di situ.
    Yg saya maksud ini 'Tuhan'.

    --------

    Saya kuliahnya psikologi dan kalian tau pasti betapa 'kritisnya' (or mgkn skeptis) psikologi thd agama.

    Dulu pas saya kuliah 'Psikologi Agama', saya pernah dengar dosen saya bcerita.
    Mgkn ada baiknya crita ini saya share biar makin seru dimari.

    Dia crita soal tim ekspedisi antropologi ke sbuah daerah terpencil di Indonesia (saya lupa dimana).
    Di daerah itu ada tradisi tahunan mbersihkan kuburan.
    Jd orang-orang pd datang ke kuburan utk mbersihkannya sambil bdoa.

    Nah, seorang nenek diwawancara sama tim ekspedisi itu,
    Ditanyalah dia mengapa dia datang setiap tahun mbersihkan kuburan.
    Dikiranya krn nenek itu sudah sepuh, maka dia bisa mnjelaskan alasan tradisi itu.

    Nenek itu mjawab:
    'Saya ngga tau apa alasannya, yg saya tau kl saya ngga datang mbersihkan kuburan maka hati saya ngga tenang. Saya baru tenang kl datang mbersihkan kuburan.'

    -------

    Dari prenungan saya skian lama, maka saya bpendapat kasus spt di atas itulah yg namanya 'Agama' dan 'Tuhan impersonal'.
    Di kepala dia, Tuhan itu 'tidak jelas'.
    Dia palingan tau ttg Tuhan sbatas yg diketahui anak-anak penghafal buku.
    Yg lebih dia ketahui adalah 'Agama' yaitu sprangkat ritual dan aturan yg 'katanya' mbawa orang mengenai 'Tuhan' itu.
    Bedanya, nenek ini tau ttg 'ritual' dan 'aturan' tp ngga tau 'alasannya'.

    Namun toh itu sudah cukup utk mbuat seseorang 'mrasa aman', 'mrasa nyaman', 'mrasa tenang'.

    Anda bisa hilangkan 'gagasan soal Tuhan', lalu ikuti sprangkat 'aturan', 'ritual', atau 'kebiasaan', maka Anda bisa dapatkan 'ketenangan' sbgmn orang-orang yg 'mengaku' tau Tuhan.

    Yg lebih hebatnya lagi, ada orang-orang yg taunya 'aturan', 'ritual' dan 'kebiasaan', tp mrasa dari semua itu seolah-olah dia udah kenal banget sama yg 'dianggapnya' Tuhan.

  13. #113
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    ^
    Kayaknya akan lebih menarik kalo anda cerita ttg pengalaman anda sendiri, bukan tentang orang lain si anu si nenek dan si nunuk... Soale kebetulan alm nenek saya juga sangat lugu dan tinggal di daerah terpencil yg kadang saya malah ngiri dgn keluguan dan "kebodohan" beliau.

    Saya siap menyimak kok kalo ada yg mau cerita pengalaman pribadi di tret ini, suwer samber gledek saya ndak akan mendebat apalagi mencela pengalaman langsung dr orang lain.

    Tapi kalo itu hanya hasil perenungan doang juga ndak apa2. Apalagi ini di sub-topik "Dunia Ide". Akan lebih afdol lagi kalo tanpa perlu eksplisit bawa2 'agama' yg sekedar dalil2 dan seperangkat aturan tetekbengek seperti yg anda bilang.

    Itung2 bagi saya untuk mencoba memahami corak pemikiran orang lain scr langsung dr orang ybs yg sudah mengalami sendiri, bukan hanya katanya katanya dan katanya dari cerita pihak ketiga keempat kelima dst.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  14. #114
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    ^
    Ini memang dunia ide saja 234.
    Kl bicara soal pngalaman agama saya, sptnya sudah ada kotak lain utk mbahasnya.
    Anggap sajalah saya ini bukan penganut agama ttentu, anggap saja saya ini org dari background psikologi yg skeptis.

    ------

    Saya ambil contoh lagi yg lain,
    Seorang Pastur stiap hari mmenuhi dirinya dg ritual. Pagi baca-baca, malam baca lagi. Doa sgini kali, sujud sgitu lama. Smua ritual itu djalankan dg pmikirannya bhw ritual itu dibuat oleh Tuhan dan akan mbawa dia makin dekat dg 'Tuhan'. Pemikiran itulah yg mbuat sso mrasa 'tenang', 'damai', 'aman', mrasa 'benar'.
    Pdhl, apakah mreka benar-benar bertemu 'Tuhan' atau mlihat 'Tuhan'?

    Jd apa bedanya Pastur itu dg si nenek tsb?
    'Tuhan' si pastur dan 'Tuhan' si nenek, apakah gambarannya sama?
    Bisa jadi beda.
    Namun jangan-jangan 'ritual' itulah yg memperkuat 'ilusi' mreka masing-masing tentang Tuhan.

    Ada agama yg lahir dari penuturan seseorang.
    Orang itu mengaku mdapat wahyu/kabar tentang Tuhan, lalu mnyebarkannya dan orang lain pcaya.
    Orang lain kmudian mnyebarkannya lagi.
    Bapak mnyebarkan ke anak, anak menyebarkan ke cucu.
    Tp siapa yg benar-benar pernah melihat Tuhan yg dikabarkan itu?
    Namun skali lagi 'ritual' lah yg mjd saksi bhw Tuhan itu ada. Dalam hal apa ritual mjd saksi? Krn ada 'rasa tenang' ktika ritual dilakukan.
    Apakah 'rasa tenang akibat ritual' itu adalah 'Tuhan'?

    Di dunia ini ada banyak 'agama' dg versi Tuhan yg beda-beda.
    Tp nyaris smua pnganutnya mrasa 'benar', mrasa 'nyaman', mrasa 'tenang'.
    Apakah Tuhan yg satu mbrikan banyak jalan yg beda-beda dan kadang blawanan?
    Atau jangan-jangan ini semua efek 'ritual'.

    Kl Marx bkata bhw agama adalah candu, apakah yg jadi candu itu 'ritual' nya itu?

    Dunia ide....hehehehe

  15. #115
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Ini memang dunia ide saja 234.
    Kl bicara soal pngalaman agama saya, sptnya sudah ada kotak lain utk mbahasnya.
    Anggap sajalah saya ini bukan penganut agama ttentu, anggap saja saya ini org dari background psikologi yg skeptis.
    Ok ndak apa2 Sob, jadinya saya malah bisa komen ndak pake kesamber gledek.

    *lagian sapa juga yg minta cerita pengalaman agama*

    Tapi kenapa contohnya Pastur? Apakah seorang Pastur itu tipikalnya kalem klemar-klemer shg kayak tipikal seorang nenek yak? Kenapa anda ndak ambil contoh tipikal pecicilan semangat 45 kayak misalnya tipikal Ustad atau Pendeta yg kalo khotbah ber-busa2 bahkan kadang sampe muncrat? Just curious aja.

    Anyway...

    Kalo saya sih malah lebih suka sama tipikal orang2 seperti itu (Pastur dan nenek). Alih2 mencela, saya justru pengin belajar dari si nenek. Setidaknya apa yg dilakukan oleh nenek tsb jauh lebih baik daripada orang2 yg nyari kenyamanan dgn cara misalnya nyimeng atau nyabu. Lha wong bersihin kuburan untuk bikin nyaman aja trus apa masalahnya, kecuali kalo dia merusak kuburan. Korupsi ndak, nyolong juga ndak, apalagi nyolong kuburan.

    Dan kalo saya pengin belajar ke nenek tsb tentu saja saya bukan hendak belajar untuk bersihin kuburan. No...no...tidak sama sekali, itu jelas ndak bakalan membuat saya nyaman. Cuma bikin CPD. Dan itu sih namanya cuma belajar kulitnya.

    Saya pengin belajar sama si nenek ada apa dibalik itu kok sampe bikin dia bisa nyaman, damai, tenang,...ndak kayak saya yg masih suka galau. Begicu maksudku, Sob.

    Pesikologi yg sekeptis...hehehe.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  16. #116
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    asli ngakak baca komen om 234...
    belajar buat bersihin kuburan
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  17. #117
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Saya sulit menerima (tidak percaya) ada kekuatan besar yg disebut tuhan, yg mengatur alam semesta ini. Bagi saya, yg ada hanyalah alam semesta itu sendiri. Dengan berjalannya waktu, ada bagian alam semesta yg memiliki inteligensia yg cukup berkembang, yg mencoba memahami dirinya sendiri. Kita semua (manusia) adalah bagian dari alam semesta tsb.

    Mungkin cha_n tidak nyaman dengan keyakinan seperti itu, tetapi saya nyaman. Karena itu, saya tidak memaksakan benar atau salah dalam hal-hal seperti itu. Yg penting adalah bukan apa keyakinannya, tapi nyamankah dia dengan keyakinannya. Jika cha_n nyaman dengan Islam, teruslah berislam. Mungkin yg perlu diingat, apa yg nyaman bagi kita, belum tentu nyaman bagi yg lain. Saya kira itu prinsip sederhana, meski mungkin prakteknya tidak semudah mengatakannya.

    Meskipun saya digolongkan ateis, saya memahami mereka yg meyakini keberadaan tuhan di balik alam semesta ini. Bahkan saya pun memaklumi mereka yg meyakini hanya tuhan merekalah yg benar, yg lain salah. Hanya saja, (sebagian) kelompok yg saya sebut terakhir ini kadang membuat tidak nyaman kelompok lain. Tapi riak itu penting, agar hidup tidak membosankan.

    Cerita saya ttg inklusifitas adalah usaha saya memahami mereka yg teis da. Karena itu saya sempat mengatakan "dalam bahasa teis... dst" . Mungkin teis fanatik akan mengatakan keyakinan saya adalah panteisme (alam semesta adalah tuhan).



    Saya kira tetap relevan. Buat saya, diskusi seperti itu manusiawi. Anda semua adalah manusia, niscaya pernah terpikir oleh anda (meski sekelebat) ttg diri anda secara esensial.
    i really like this


  18. #118
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    I like it too, in fact I'm in love with his words.

  19. #119
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451

    Smile

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Ok ndak apa2 Sob, jadinya saya malah bisa komen ndak pake kesamber gledek.

    *lagian sapa juga yg minta cerita pengalaman agama*

    Tapi kenapa contohnya Pastur? Apakah seorang Pastur itu tipikalnya kalem klemar-klemer shg kayak tipikal seorang nenek yak? Kenapa anda ndak ambil contoh tipikal pecicilan semangat 45 kayak misalnya tipikal Ustad atau Pendeta yg kalo khotbah ber-busa2 bahkan kadang sampe muncrat? Just curious aja.
    Itu juga tmasuk Sob.
    Sama saja spt seorang Muslim taat yg ibadah dg sangat takwa.
    5 kali sehari sembahyang, puasa dari senin ke kamis, hafal isi kitabnya, ditambah lagi ritual doa-doa lainnya.
    Ada lagi yg bpakaian dan bpenampilan mirip dg tempat lahir agamanya.

    Adakah yg pernah benar-benar mlihat Tuhannya?
    Mungkin saja tidak.

    Tp sgala ritual itu mbuat mreka mrasa 'nyaman', 'tenang', 'aman', 'berkenan'.
    Kl ritual tak dijalankan, maka rasa 'tidak enak', 'tidak tenang', 'mhubungkan sgala kjadian buruk sbg kutuk', 'rasa bersalah/ttuduh' muncul ke permukaan.

    Anyway...

    Kalo saya sih malah lebih suka sama tipikal orang2 seperti itu (Pastur dan nenek). Alih2 mencela, saya justru pengin belajar dari si nenek. Setidaknya apa yg dilakukan oleh nenek tsb jauh lebih baik daripada orang2 yg nyari kenyamanan dgn cara misalnya nyimeng atau nyabu. Lha wong bersihin kuburan untuk bikin nyaman aja trus apa masalahnya, kecuali kalo dia merusak kuburan. Korupsi ndak, nyolong juga ndak, apalagi nyolong kuburan.

    Dan kalo saya pengin belajar ke nenek tsb tentu saja saya bukan hendak belajar untuk bersihin kuburan. No...no...tidak sama sekali, itu jelas ndak bakalan membuat saya nyaman. Cuma bikin CPD. Dan itu sih namanya cuma belajar kulitnya.

    Saya pengin belajar sama si nenek ada apa dibalik itu kok sampe bikin dia bisa nyaman, damai, tenang,...ndak kayak saya yg masih suka galau. Begicu maksudku, Sob.

    Pesikologi yg sekeptis...hehehe.

    Wah Sob,
    Tentu saja mreka yg kalem-kalem mlakukan ritualnya akan lebih baik bagi masyarakat drpd yg nyabu, rampok, dsb.
    Smoga Bro tidak salah mmahami tulisan saya yach

    Inti dr yg saya sampaikan itu:

    Beberapa (kl ngga mau bilang 'banyak') orang scr tidak sadar telah mnganggap 'ritual' itu sbg 'Tuhan'.

    Iman orang boleh beda-beda.
    Orang boleh klaim imannya paling logis, atau imannya paling powerful, atau imannya paling indah scr moral,
    Tp apapun imannya, ktika sso mlakukan 'ritual' dari imannya maka prasaan yg muncul itu sama, meskipun mreka ngga benar-benar pernah bertemu Tuhannya scr langsung.
    (saya rasanya perlu tulis bhw saya tidak sedang brusaha myakinkan anda skalian bhw agama yg ter-benar / ter-orisinil adl agama yg pnganutnya bisa btemu Tuhan scr langsung. Di sini saya tidak sedang diskusi tentang agama yg ter-benar. Ini dunia ide)

    Jadi scr tak sadar orang beranggapan bhw 'Tuhan' = 'Pelaksanaan Agama'.
    Smakin sso mlaksanakan ritual agama, maka ia mrasa smakin dekat dg Tuhan.
    Sama saja impact-nya pd para pnganut animisme/dinamisme, yaitu:
    Smakin sso mlaksanakan ritual kyakinannya, maka ia mrasa smakin selaras dg sesembahannya (atau alam semesta).

    Inilah yg mbuat orang-orang bpendapat:
    Semua agama itu sama.
    Bukan krn gambaran 'Tuhan' nya sama (semua kitab mnggambarkan Tuhan scr bbeda dan toh ngga pernah diliat juga) tp krn prasaan yg muncul krn mlakukan ritualnya adalah sama.

    Makanya kl kita kembali pd judul topik:
    Tuhan atau Agama,
    Maka bbrp orang mnyamakan Agama sbg Tuhan.
    Percaya Tuhan = Percaya Agama.
    Tidak percaya Tuhan = Tidak percaya Agama.
    Smakin ber-Tuhan = Smakin taat mlaksanakan Ritual Agama.
    Last edited by Casanova Love; 19-03-2014 at 10:23 AM.

  20. #120
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Dulu sekali, sekitar tahun '95-an, saya bergabung dengan sebuah organisasi Tantra yang berpusat di Jamalpur, India. Nah, ketika Acharya yang mendidik saya dipanggil pulang karena suatu urusan, diutus-lah seorang Acharya pengganti untuk sementara waktu mengambil alih proses pendidikan dan manajemen organisasi.

    Pengalaman yang menarik. Berbeda dengan Acharya sebelumnya, orang satu itu samasekali nggak bisa diajak diskusi. Bila biasanya kami punya acara ngobrol-ngobrol filsafat sampai lewat tengah malem sambil makan sayur rebus bikinan sendiri, Acharya yang satu ini cuma bisa melayani pertanyaan sederhana dan teknis soal meditasi dan teknik-teknik lainnya. Orangnya simpel bangets, rada gembrot dengan jenggot bawukan, banyak ketawa, dan lebih suka kegiatan beres-beres rumah ketimbang buka-buka buku. Saya sendiri waktu itu adalah seorang "murid dalam" yang tinggal 24 jam di tempat pelatihan dengan tugas-tugas kerumahtanggaan... karenanya saya punya banyak kesempatan bersama beliau.

    Tapi jangan ditanya soal kemampuannya. Setiap kali meditasi bareng, saya merasakan keteduhan memancar dari beliau. Jaminan mutu bahwa siapapun yang meditasi bareng beliau selalu mencapai tingkat khusuk yang dalem. Dia kadang memberi komentar tentang kesulitan-kesulitan yang kami alami waktu meditasi bareng, tapi kebanyakan dia cuma diem sambil nepuk-nepuk bahu dan memuji kemajuan kami.

    Ketika Acharya kami yang sebelumnya kembali dan Acharya pengganti tersebut pulang ke India, saya bertanya soal fenomena yang kami alami, dan Acharya kami tersenyum lebar sekali. "good experience you have there" katanya.

    ... dan begitulah ceritanya. Menurut sang Acharya, kami -termasuk dia- dianugerahi -atau dikutuk- dengan J'nana, aliran ilmu pengetahuan. Kami cenderung berpikir, berkontemplasi, merenung, dan memecahkan masalah. Tidak salah, karena memang begitulah sebagian manusia. Tapi sang Acharya pengganti tersebut tidak banyak memiliki faktor ini, ia adalah seorang sederhana yang banyak mengutamakan Bhakti, cintanya kepada Atman, Tuhan, atau apapun sebutannya. Ia tidak sanggup berpikir yang rumit, maka hidupnya dipenuhi dengan bhakti dan karma, cinta dan tindakan untuk kebaikan.

    Yoga yang sejati, menurut sang Acharya lagi, seharusnya terdiri dari empat unsur, yaitu J'nana, Bhakti, Karma dan Raja, namun wajar jika seseorang hadir dengan satu unsur lebih dominan dari yang lain. Perlahan-lahan ia akan mengalami keempatnya dan mencapai keseimbangan.

    Sekarang ketika saya sudah kira-kira sebaya dengan para Acharya saya dulu... saya berharap sudah bisa memahami konsep tersebut dengan hati. Sungguh indah ketika saya kadang-kadang sanggup meletakkan pikiran saya untuk sementara waktu dan hanya memberikan cinta tanpa bersyarat. Bahkan mematikan puntung rokok di jalan bisa memberi rasa kedamaian dan kedekatan dengan Tuhan. Apalagi ketika melaksanakan ibadah yang baku. Saya menyukai bahwa di Islam ibadah kepada Tuhan selalu dipasangkan sebagai amal saleh, yaitu tindakan kebajikan yang dilandasi oleh kesadaran akan dan kehadiran Tuhan.

    Alih-alih memandang orang yang fokus pada ritual sebagai agamawan terbelakang, saya justru iri pada mereka karena kemampuan mereka untuk menjalani agama secara sederhana.

    Sejak pengalaman dulu itu, saya tidak pernah menganggap bahwa ritual adalah suatu candu yang menipu untuk membuat seseorang merasa tentram. Didekati dengan sikap yang jujur kepada diri sendiri, ritual adalah bentuk pelatihan untuk mencapai suatu pemahaman, yang seringkali justru sederhana. Didekati dengan rasa takut, maka ritual akan menjadi penjara yang membuat orang selalu merasa takut kehilangan atau takut dihukum.

    ***

    Psikologi? Tidak ada psikologi yang skeptis... yang skeptis adalah psikolognya, dan itu pilihan masing-masing individu.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

Page 6 of 12 FirstFirst ... 45678 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •