Page 7 of 12 FirstFirst ... 56789 ... LastLast
Results 121 to 140 of 229

Thread: Percaya Tuhan atau Agama?

  1. #121
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    Nah Alip,
    Terima kasih utk ceritanya.
    Crita Alip ini mnyediakan saya konteks utk mlanjutkan.

    Tkait dg ritual, maka saya tpikir bhw ritual itu ada 2 macam.

    1. Ritual yg ktika dlaksanakan mbrikan 'rasa aman' dan 'rasa tenang' di dalam diri seseorang.
    Rasa aman dan rasa tenang ini sbetulnya adalah shadow (mgkn saya bisa sebut sbg 'sugesti') bhw sso 'merasa' berkenan kpd Tuhan atau sbg 'omission of guilt'.

    Contohnya,
    Ada orang yg (scara tak sadar) bpikir bhw jika tidak sholat 5 kali maka ia belum 'benar'.
    Maka rasa tenang yg muncul dari sholatnya yg ke-5 itu mrupakan 'omission of guilt' dan 'suggestion of favor'.
    Jika ia sembahyang lebih dari wajibnya, maka rasa tenang akan muncul akibat pmikiran (mgkn scr tak sadar) bhw 'Tuhan senang ia sangat takwa'.

    2. Ritual yg ketika dilaksanakan maka seseorang bisa mrasakan kehadiran/keberadaan scr nyata suatu kekuatan di luar dirinya.
    Nah, inilah yg Alip ceritakan.
    Khadiran rekan Alip itu mmancarkan sesuatu yg Alip tau brasal dari luar diri.
    Maka ini bukan lagi suatu sugesti / rasa tenang / rasa aman pribadi.

    -------

    Mreka yg sudah mngalami ritual nomor 2 itu akan punya pandangan yg bbeda mengenai Tuhan vs Agama.
    Mreka mulai bisa mbedakan antara Agama dg Tuhan.

    Itu mnrt saya.

  2. #122
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Saya sulit menerima (tidak percaya) ada kekuatan besar yg disebut tuhan, yg mengatur alam semesta ini. Bagi saya, yg ada hanyalah alam semesta itu sendiri. Dengan berjalannya waktu, ada bagian alam semesta yg memiliki inteligensia yg cukup berkembang, yg mencoba memahami dirinya sendiri. Kita semua (manusia) adalah bagian dari alam semesta tsb.

    Mungkin cha_n tidak nyaman dengan keyakinan seperti itu, tetapi saya nyaman. Karena itu, saya tidak memaksakan benar atau salah dalam hal-hal seperti itu. Yg penting adalah bukan apa keyakinannya, tapi nyamankah dia dengan keyakinannya. Jika cha_n nyaman dengan Islam, teruslah berislam. Mungkin yg perlu diingat, apa yg nyaman bagi kita, belum tentu nyaman bagi yg lain. Saya kira itu prinsip sederhana, meski mungkin prakteknya tidak semudah mengatakannya.

    Meskipun saya digolongkan ateis, saya memahami mereka yg meyakini keberadaan tuhan di balik alam semesta ini. Bahkan saya pun memaklumi mereka yg meyakini hanya tuhan merekalah yg benar, yg lain salah. Hanya saja, (sebagian) kelompok yg saya sebut terakhir ini kadang membuat tidak nyaman kelompok lain. Tapi riak itu penting, agar hidup tidak membosankan.

    Cerita saya ttg inklusifitas adalah usaha saya memahami mereka yg teis da. Karena itu saya sempat mengatakan "dalam bahasa teis... dst" . Mungkin teis fanatik akan mengatakan keyakinan saya adalah panteisme (alam semesta adalah tuhan).



    Saya kira tetap relevan. Buat saya, diskusi seperti itu manusiawi. Anda semua adalah manusia, niscaya pernah terpikir oleh anda (meski sekelebat) ttg diri anda secara esensial.
    saya juga suka sekali tulisan ini, sangat jujur, dan disampaikan dengan sangat santun tapi jelas.
    makasih banyak udah berbagi
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  3. #123
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    @ Casanova Love

    Thanks atas klarifikasinya.

    Saya setuju dgn anda bahwa "Tuhan" dan "Agama" adalah dua hal berbeda. Dan sikap dan pemikiran saya thd kedua hal tsb rasa2nya sudah cukup panjang lebar saya jelaskan di posting2 awal dimana saya coba gambarkan dgn cara/analogi memisahkan antara "belief, trust n faith".

    Saya theist, meskipun saya agnostis; Saya beragama, meskipun saya skeptis. Itu poinnya.

    Saya theist dan beragama sifatnya "pilihan" sbg sebuah bentuk komitmen. Saya agnostis dan skeptis sifatnya "state" sbg sebuah kondisi yg tidak bisa, bahkan tidak ingin, saya pungkiri.

    Sekali lagi, thanks.

    ***
    @ Alip

    Thanks atas sharing ceritanya. Sori soale saya ndak bisa kasih "Thanks" langsung dr hape.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  4. #124
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    Mreka yg sudah mngalami ritual nomor 2 itu akan punya pandangan yg bbeda mengenai Tuhan vs Agama.
    Mreka mulai bisa mbedakan antara Agama dg Tuhan.

    Itu mnrt saya.
    Meski secara penampakan begitu, tapi dinamika di belakangnya sebenarnya agak ruwet sedikit.

    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    1. Ritual yg ktika dlaksanakan mbrikan 'rasa aman' dan 'rasa tenang' di dalam diri seseorang.
    Rasa aman dan rasa tenang ini sbetulnya adalah shadow (mgkn saya bisa sebut sbg 'sugesti') bhw sso 'merasa' berkenan kpd Tuhan atau sbg 'omission of guilt'.

    Contohnya,
    Ada orang yg (scara tak sadar) bpikir bhw jika tidak sholat 5 kali maka ia belum 'benar'.
    Maka rasa tenang yg muncul dari sholatnya yg ke-5 itu mrupakan 'omission of guilt' dan 'suggestion of favor'.

    Jika ia sembahyang lebih dari wajibnya, maka rasa tenang akan muncul akibat pmikiran (mgkn scr tak sadar) bhw 'Tuhan senang ia sangat takwa'.
    Cara seperti ini menurut saya bukan hal yang layak mendapat pandangan miring, malah termasuk dalam konsep valid dalam kehidupan beragama. Anak-anak belajar beragama dengan cara ini.

    Seseorang yang mengacu pada psikologi Freudian akan beranggapan bahwa ritual semacam ini adalah satu cara seseorang untuk memberikan efek plasebo pada diri sendiri, tapi saya tidak sepenuhnya setuju. However, knowing Unca Freuddie ::, saya bisa paham kenapa dia sampai pada kesimpulan semacam itu.

    Anggaplah kita hadirkan seorang yang merasa diri paling berdosa di dunia, ia akan merasa takut berhadapan dengan Tuhan, tapi pelaksanaan ritual akan memberinya efek refleksi dan pelan-pelan menuntunnya menuju tindakan penerimaan diri. Tindakan ini jauh lebih efektif dibanding dia memilih untuk ber-Tuhan tapi tidak memiliki jalan praktis menjangkau-Nya ... seperti punya impian besar tapi tidak punya rencana kerja untuk mencapainya.

    Masih inget film "eat, pray, love" yang pemerannya hampir secantik istri saya itu? Dia ingin kembali pada Tuhan tapi tidak tahu caranya dan hanya bilang "Hi, God... I am the biggest fan of your work..." ?

    Akhirnya ia perlu menjalani proses pembudayaan untuk bisa melakukan tranformasi. Pertama ia perlu penerimaan dari lingkungan, agar ia bisa merasa diri kembali berharga. Ini dilakukannya dengan bersenang-senang di Italia. Lalu ia masuk ke dalam ritual agama, untuk bisa menerima kenyataan dirinya sendiri, ini dia lakukan melalui ritual Yoga di India, yang ternyata lebih dalam dari sekedar apa yang ia baca di buku. Terakhir ia belajar untuk mencintai di Bali, agar ia bisa menjadi bagian dari semesta yang lebih besar. Menemukan keseimbangan dalam tataran yang lebih tinggi.

    Seseorang yang menekuni ritual dengan baik, akhirnya akan menemui keseimbangan, pengenalan, dan penerimaan diri. Sesudah itu ia akan mengenal semesta lain yang lebih besar dari dirinya. Sebutlah Tuhan atau alam semesta.

    Jadi kedua tipe ritual atau agama yang disebut di atas menurut saya adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Saya justru menganjurkan kehati-hatian terhadap ritual tipe kedua karena saya pribadi menemukan banyak kasus "fenomena" yang sesungguhnya hanya halusinasi. Tidak semua kelompok spiritual itu valid, tidak sedikit yang hanya berputar-putar seputar efek psikis biasa dan tipuan mental yang dikira sebagai "kemajuan" spiritual.

    Yang bermasalah adalah melakukan ritual tanpa sama sekali menjadi manusia yang lebih baik dan produktif.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  5. #125
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    [MENTION=249]Alip[/MENTION],
    Saya spakat bhw umumnya proses ber-Tuhan sso dimulai dari poin pertama.
    Tidak banyak orang yg proses ber-Tuhan nya dimulai dari poin kedua.

    Pendapat saya, sharusnya proses ber-Tuhan itu mnunjukkan progress dari poin pertama menuju poin kedua selama masa hidup seseorang.

    Saya ngga sdg mbicarakan agama mana yg benar/salah, ritual mana yg benar/salah, Tuhan mana yg benar/salah atau fenomena mana yg benar/salah.

    Ptanyaan saya,
    Jika mnyangkut 'Tuhan', bukankah agama harusnya mbawa pngikutnya mengalami Tuhan itu.
    Ataukah tidak usah?

    Jika tidak usah, bagaimana seseorang bisa memverifikasi 'Tuhan'?

    -------

    Nyimpang sdikit,
    Mngenai agnotisisme, mnrt saya scr tidak langsung para agnostic bpendapat bhw agama/ritual yg mreka anut tidak akan dapat (atau sangat kecil kmungkinannya) mbawa mreka mngalami Tuhan scr nyata semasa hidupnya.

    Bukankah bgitu?

  6. #126
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    ... Pendapat saya, sharusnya proses ber-Tuhan itu mnunjukkan progress dari poin pertama menuju poin kedua selama masa hidup seseorang...
    beg to differ...
    Saya percaya bahwa seseorang boleh tetap berada pada ritual tipe pertama (bukan tahap) sampai akhir hayatnya dan hidupnya akan tetap berharga dan bermakna...

    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    Ptanyaan saya,
    Jika mnyangkut 'Tuhan', bukankah agama harusnya mbawa pngikutnya mengalami Tuhan itu.
    Ataukah tidak usah?
    Menurut saya tidak usah... karena apa kepentingannya manusia sampai perlu mengalami Tuhan?

    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    Jika tidak usah, bagaimana seseorang bisa memverifikasi 'Tuhan'?
    Sama seperti di atas, saya tidak mengerti mengapa Tuhan harus diverifikasi?
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  7. #127
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Dulu sekali, sekitar tahun '95-an, saya bergabung dengan sebuah organisasi Tantra yang berpusat di Jamalpur, India. Nah, ketika Acharya yang mendidik saya dipanggil pulang karena suatu urusan, diutus-lah seorang Acharya pengganti untuk sementara waktu mengambil alih proses pendidikan dan manajemen organisasi.

    Pengalaman yang menarik. Berbeda dengan Acharya sebelumnya, orang satu itu samasekali nggak bisa diajak diskusi. Bila biasanya kami punya acara ngobrol-ngobrol filsafat sampai lewat tengah malem sambil makan sayur rebus bikinan sendiri, Acharya yang satu ini cuma bisa melayani pertanyaan sederhana dan teknis soal meditasi dan teknik-teknik lainnya. Orangnya simpel bangets, rada gembrot dengan jenggot bawukan, banyak ketawa, dan lebih suka kegiatan beres-beres rumah ketimbang buka-buka buku. Saya sendiri waktu itu adalah seorang "murid dalam" yang tinggal 24 jam di tempat pelatihan dengan tugas-tugas kerumahtanggaan... karenanya saya punya banyak kesempatan bersama beliau.

    Tapi jangan ditanya soal kemampuannya. Setiap kali meditasi bareng, saya merasakan keteduhan memancar dari beliau. Jaminan mutu bahwa siapapun yang meditasi bareng beliau selalu mencapai tingkat khusuk yang dalem. Dia kadang memberi komentar tentang kesulitan-kesulitan yang kami alami waktu meditasi bareng, tapi kebanyakan dia cuma diem sambil nepuk-nepuk bahu dan memuji kemajuan kami.

    Ketika Acharya kami yang sebelumnya kembali dan Acharya pengganti tersebut pulang ke India, saya bertanya soal fenomena yang kami alami, dan Acharya kami tersenyum lebar sekali. "good experience you have there" katanya.

    ... dan begitulah ceritanya. Menurut sang Acharya, kami -termasuk dia- dianugerahi -atau dikutuk- dengan J'nana, aliran ilmu pengetahuan. Kami cenderung berpikir, berkontemplasi, merenung, dan memecahkan masalah. Tidak salah, karena memang begitulah sebagian manusia. Tapi sang Acharya pengganti tersebut tidak banyak memiliki faktor ini, ia adalah seorang sederhana yang banyak mengutamakan Bhakti, cintanya kepada Atman, Tuhan, atau apapun sebutannya. Ia tidak sanggup berpikir yang rumit, maka hidupnya dipenuhi dengan bhakti dan karma, cinta dan tindakan untuk kebaikan.

    Yoga yang sejati, menurut sang Acharya lagi, seharusnya terdiri dari empat unsur, yaitu J'nana, Bhakti, Karma dan Raja, namun wajar jika seseorang hadir dengan satu unsur lebih dominan dari yang lain. Perlahan-lahan ia akan mengalami keempatnya dan mencapai keseimbangan.

    Sekarang ketika saya sudah kira-kira sebaya dengan para Acharya saya dulu... saya berharap sudah bisa memahami konsep tersebut dengan hati. Sungguh indah ketika saya kadang-kadang sanggup meletakkan pikiran saya untuk sementara waktu dan hanya memberikan cinta tanpa bersyarat. Bahkan mematikan puntung rokok di jalan bisa memberi rasa kedamaian dan kedekatan dengan Tuhan. Apalagi ketika melaksanakan ibadah yang baku. Saya menyukai bahwa di Islam ibadah kepada Tuhan selalu dipasangkan sebagai amal saleh, yaitu tindakan kebajikan yang dilandasi oleh kesadaran akan dan kehadiran Tuhan.

    Alih-alih memandang orang yang fokus pada ritual sebagai agamawan terbelakang, saya justru iri pada mereka karena kemampuan mereka untuk menjalani agama secara sederhana.

    Sejak pengalaman dulu itu, saya tidak pernah menganggap bahwa ritual adalah suatu candu yang menipu untuk membuat seseorang merasa tentram. Didekati dengan sikap yang jujur kepada diri sendiri, ritual adalah bentuk pelatihan untuk mencapai suatu pemahaman, yang seringkali justru sederhana. Didekati dengan rasa takut, maka ritual akan menjadi penjara yang membuat orang selalu merasa takut kehilangan atau takut dihukum.

    ***

    Psikologi? Tidak ada psikologi yang skeptis... yang skeptis adalah psikolognya, dan itu pilihan masing-masing individu.
    Yes, ada temen kafir deh saya.



    ---------- Post Merged at 07:14 PM ----------

    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Yang bermasalah adalah melakukan ritual tanpa sama sekali menjadi manusia yang lebih baik dan produktif.
    Ooo itu bukan ritual, cuma senam padang pasir aja. Kalo ritual itu namanya sholat yg outputnya adalah manusia yg rohmatan lil alamin.

  8. #128
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Nyimpang sdikit,
    Mngenai agnotisisme, mnrt saya scr tidak langsung para agnostic bpendapat bhw agama/ritual yg mreka anut tidak akan dapat (atau sangat kecil kmungkinannya) mbawa mreka mngalami Tuhan scr nyata semasa hidupnya.

    Bukankah bgitu?
    Tergantung apa itu definisi "mengalami Tuhan".

    Tapi bagaimanapun, ini dlm kapasitas saya pribadi sbg agnostis, apapun definisi dr hal tsb ("mengalami Tuhan") bagi saya itu tidak penting untuk saya ketahui. Term "agnostis" sendiri, secara literer, berarti "tidak tahu" alias tidak (a-) memiliki pengetahuan (-gnosis).

    Kenapa itu tidak penting bagi saya?

    Dlm signature saya tertulis, terjemahan bebasnya adalah, "Gusti (Tuhan) itu bersemayam di hatinya orang baik (bagus), oleh karena itu disebut Gusti itu (maksudnya adalah) baGUSnya haTI".

    Dus, sebagai theist tentu saya bekeinginan agar Tuhan selalu bersemayam di hati saya. Dan untuk mewujudkan hal tsb, sebagai orang beragama, tentu saya berupaya (dlm bhs agama: berikhtiar dan berdoa) agar hati saya terjaga dgn baik shg Tuhan berkenan hadir bersemayam di hati saya.

    Benarkah Tuhan pernah, sering, sedang, atau selalu bersemayam di hati saya? Jawabnya: Saya tidak tahu dan tidak penting untuk mengetahui hal tsb. Bahkan lebih ekstrem lagi, saya ingin agar saya tidak pernah tahu hal tsb.

    Lalu apa alasannya? Salah satu alasan utamanya, pinjam kosa kata yg dipakai Dimas Alip, saya tidak ingin terjebak dlm sebuah "halusinasi" dimana saya merasa "mengalami Tuhan".

    Lalu apa itu "Tuhan" dan apa itu "hati"? Menurut saya pribadi, sampe kapan pun tidak ada seorangpun yg bisa mendefinisikan dua hal tsb dgn "tepat" (sebagaimana adanya). Tuhan adalah Tuhan. Hati adalah hati. Titik.

    Kalo begitu bagaimana kalo term "Tuhan" dan "hati" tsb dibuang ke laut aja?

    Maka hasilnya adalah: "Saya ingin menjadi orang baik tanpa saya tahu bahwa saya adalah orang baik". Atau bisa juga: "Saya ingin selalu berbuat baik tanpa saya tahu bahwa saya telah berbuat baik".

    *lha memangnya ada orang yg tahu kalo saya sebenarnya berhati busuk?!*

    Maaf, semua tulisan saya tsb hanyalah sekedar "Dunia Ide" yg ada di otak saya aja. Tidak kurang tidak lebih.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  9. #129
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    Thanks utk tanggapan dari Alip dan 234.
    Saya mnikmati bisa mnuliskan apa yg saya pikirkan dalam konteks 'Tuhan' dan 'Agama'.

    Saya tidak mmungkiri bahwa agama mbrikan 'makna hidup' dan bisa mbuat pnganutnya mnunjukkan 'moralitas' yang baik di lingkungannya.

    Namun konteks dari tulisan saya bukan 'makna hidup' ataupun 'moralitas', mlainkan 'Tuhan'.

    Ptanyaan utama saya:
    Apakah Agama (yg mbrikan klaim 'datang dari Tuhan') sharusnya menuntun seseorang utk mengalami Tuhan (atau yg dianggap sbg Tuhan) slama masa hidupnya.

    Kl mnrt saya, sharusnya iya.
    Krn jika tidak, maka saya akan kritis skali mnanyakan apakah agama itu memang benar datang dari Tuhan.

    Namun bgitu,
    Saya mhargai pendapat dari rekan-rekan disini yg datang dari bragama agama dan kpercayaan.

    Senang diskusi dg Anda semua.

  10. #130
    ^ Ada benarnya juga. Jika agama tidak bisa mengantar manusia mengenal Tuhan. Buat apa agama ada, bukan begitu?

    Mendingan ngikut aja "kita suci" sekular semacam sosialis, demokrasi, pancasila, dll.

  11. #131
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    ^ Ada benarnya juga. Jika agama tidak bisa mengantar manusia mengenal Tuhan. Buat apa agama ada, bukan begitu?

    Mendingan ngikut aja "kita suci" sekular semacam sosialis, demokrasi, pancasila, dll.
    Tapi agama tidak selalu berujung pada tuhan. Misalkan Buddha. Itu juga kalo Buddha mau disebut sbg agama. Jadi, kembali lagi ke masalah definisi.


  12. #132
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    mengalami tuhan itu apaan?
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  13. #133
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Tapi agama tidak selalu berujung pada tuhan. Misalkan Buddha. Itu juga kalo Buddha mau disebut sbg agama. Jadi, kembali lagi ke masalah definisi.

    Setuju soal masalah defenisi. Dan menurut definisi saya agama Buddha mengajarkan cara mengenal Tuhan juga -- tepatnya mengajarkan mengenal kondisi saat telah mengenal Tuhan.

  14. #134
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Sambil ijin gelar tiker menunggu sharing cerita pengalaman langsung dari yg sudah "mengalami/mengenal/bertemu/menyatu dgn" Tuhan, saya mau monolog sejenak.

    Kalo sebelumnya Dimas Alip pernah bicara ttg "empat unsur" (dlm Yoga) dimana setiap manusia memiliki kecenderungan masing2 (meskipun semua akan mengarah pada keseimbangan ke-4 unsur tsb), saya disini coba membagi dua unsur/tipe kecenderungan manusia, yaitu tipe "result oriented" (RO) dan tipe "process oriented" (PO).

    Tipe RO akan cenderung pada HASIL AKHIR yaitu, dlm konteks ini, berupa "pengenalan/pertemuan/penyatuan dirinya dgn Tuhan". Sedangkan tipe PO akan cenderung pada PROSES MENUJU "pengenalan/pertemuan/penyatuan dirinya dgn Tuhan".

    Saya pribadi, sejauh yg saya pahami dan saya sadari ttg diri saya sendiri, adalah tipe PO. Bagi saya: Life is a journey, not a destination. *jadi inget lagunya Aerosmith*

    Dan seperti analogi yg saya buat di awal, saya cenderung menikmati "bermain papan selancar diatas alunan ombak" tanpa tepi atau setidaknya saya tidak tahu atau bahkan mungkin tidak mau terlalu banyak berpikir ttg ujung permainan selancar saya. Tapi tentu saja, sebagai seorang theist yg percaya ada-Nya, saya hanya bisa percaya bahwa atas kehendak-Nya pulalah permainan selancar saya akan berujung kepada-Nya. Sekali lagi ini hanya persoalan percaya (belief) aja lho, krn saya theis. Ini bukan soal knowledge, soale saya agnostis.

    Dan kalo seandainya, sekali lagi: SEANDAINYA, kalo pun permainan selancar saya nanti sampe kepada-Nya maka saya ndak terlalu risau gara2 ndak bisa bermain papan selancar lagi. Saya sudah siapkan papan permainan baru sbg pengganti papan selancar saya, yaitu sebuah...papan catur.

    Eh tapi kenapa saya hanya bilang "seandainya"? Soale saya memang beneran ndak tahu. Lha jgn2 Tuhan itu adanya bukan di ujung permainan selancar tapi adanya malah didalam ombak itu sendiri? Who knows? Not me, I'm an agnostic. *bahasa gaulnya: wallahua'lam*

    Kembali ke masalah RO-PO...

    Biasanya (umumnya, kecenderungannya) tipe yg satu akan memandang heran bahkan bisa saja sampe mencela dan mencemooh tipe lainnya. Ini bisa terjadi baik itu pada tipe RO maupun PO. Dan kalo sama2 dijabanin, perdebatannya ndak bakal ada habis2nya seperti halnya perdebatan ttg ada-tidaknya Tuhan (theist vs atheist).

    (Note: Setahuku, CMIIW, tipe PO saat ini cenderung mulai ditinggalkan orang, minimal dianjurkan untuk ditinggalkan terutama oleh para "motivator ulung" dlm dunia kerja/bisnis. Tipe PO itu biasanya dianggap ndak bisa menghasilkan hasil maksimal bagi bisnis/perusahaan. Muter2 mulu di proses tapi hasilnya ndak jelas. Apalagi dunia kerja sekarang penekanannya selalu pada target, target dan target. Target oriented. 11-12 dgn result oriented. *duh pantesan saya susah banget jadi orang kaya yak*)

    Tapi bagi saya pribadi, lagi2 pinjem istilahnya Dimas Alip, RO dan PO itu ibarat dua sisi mata uang pada satu keping mata uang yg sama.

    Itu akan kembali kepada sudut dan cara pandang masing2 dlm melihat "paradoks RO-PO" tsb. Antara memandang RO-PO sebagai sesuatu yg bersifat benar-salah, baik-buruk, positif-negatif, lweekang-gwakang, dst Atau memandang paradoks RO-PO sebagai sekeping mata uang scr utuh. Tidak ada yin tidak ada yang, tidak ada RO tidak ada PO, melainkan hanya ada: Tao.

    Kalo kembali ke "analogi ombak", IMO, cara tepat untuk "menaklukkan" ombak adalah dgn cara "melampaui" ombak tsb. Kalo yg suka tantangan ya pake papan selancar, kano bahkan kalo perlu kuasi dan perdalam "ilmu berenangnya" shg ndak perlu bantuan alat lagi untuk menaklukkan ombak. Tapi kalo suka cara aman ya ndak apa2, silahken naik perahu aja, kapal, dst. Tiap orang punya cara masing2. Demikian juga cara menaklukkan paradoks eh maksudku ombak2 yg lain seperti ombak RO-PO, benar-salah, positif-negatif, senang-susah, dua sisi koin, dst...dsb. Kata kuncinya adalah diawali dgn memahami adanya perbedaan eh maksud saya bahwa "ombak" tsb memang ada, ndak perlu ditepis apalagi dilawan...ya jelas aja bakal kleleb, atau minimal terombang-ambing.

    Dan at least saya (berusaha untuk) menyadari bahwa disitulah letak "titik keseimbangan" didlm suatu paradoks (apapun). Titik equilibrium. Dan saya percaya bahwa semua materi (dan energi?) yg ada di alam semesta ini, baik "materi hidup" (makhluk hidup) maupun "materi mati" (benda mati) pada dasarnya secara nature sedang dan cenderung untuk menuju pada "titik equilibrium" tsb, baik titik equilibrium dlm "diri masing2 materi" (mikrokosmos) maupun materi semesta secara utuh (makrokosmos).

    Dan atas dasar "pemikiran2" diatas, lagi2 at least, saya percaya kemana arah papan selancar saya akan menuju.

    So, saya tidak akan menepis, mengingkari apalagi melawan kecenderungan saya sebagai tipe PO. Itulah saya adanya. Entah besok ato lusa, saya ndak tahu.

    Udah ah monolognya dah kepanjangan. Oops...mumpung lagi ada ombak besar datang. Saya tak neruske permainan selancar saya lagi.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  15. #135
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    Kl Buddhism (minus KongHuCu) mnrt saya sudah jelas.
    Dia pcaya pd agama, bukan pd konsep Tuhan.
    [MENTION=912]234[/MENTION],
    Tak dapat dpungkiri bhw pmikiran kita dlm mnanggapi topik ini akan banyak dpengaruhi oleh pengalaman pribadi.
    Kl mnyangkut ide yg muncul dari pngalaman pribadi, sptnya tidak ada 'benar' atau 'salah'. Benar atau salah baru ada ktika kita mnetapkan suatu pngukuran yg dsepakati.
    Smua ide akan utk mperkaya prenungan.

  16. #136
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    ^
    Yup setuju banget, banyak dipengaruhi pengalaman pribadi. Dan tentu saja faktor lain yg dominan juga, menurutku, adalah faktor "sifat genetik bawaan". Saya percaya, kalo ini memang bersifat "scientific" lho, faktor genetik ini juga sangat banyak pengaruhnya.

    Oke ndak berpanjang lebar, rasa2nya saya sudah cukup banyak banget cerita di tret ini.

    *gelar tiker lagi*

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  17. #137
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    Kl di psikologi, memang ada faktor genetik, yaitu sso yg lahir dg defect di area otak ttentu akan rentan mngalami ilusi, delusi dan halusinasi.

    Schizophrenia itu salah satu pnyebabnya adalah faktor genetik.

  18. #138
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    Namun konteks dari tulisan saya bukan 'makna hidup' ataupun 'moralitas', mlainkan 'Tuhan'.

    Ptanyaan utama saya:
    Apakah Agama (yg mbrikan klaim 'datang dari Tuhan') sharusnya menuntun seseorang utk mengalami Tuhan (atau yg dianggap sbg Tuhan) slama masa hidupnya.

    Kl mnrt saya, sharusnya iya.
    Krn jika tidak, maka saya akan kritis skali mnanyakan apakah agama itu memang benar datang dari Tuhan.

    Namun bgitu,
    Saya mhargai pendapat dari rekan-rekan disini yg datang dari bragama agama dan kpercayaan.

    Senang diskusi dg Anda semua.
    Ho...ho...ho...ho... (santa Claus mode : ON ) ... jangan kabur dulu donggg... ini adalah diskusi Sokratik di mana kita secara berkesinambungan mengemukakan diri kita dan menerima kemuka-an orang lain, untuk mencapai pemahaman lebih lanjut tentang konsep yang kita kemukakan sebelumnya. Yang menarik dari diskusi semacam ini adalah kita tidak perlu menyetujui atau tidak menyetujui, kita hanya perlu memahami, dan menggunakan pemahaman itu untuk melakukan refleksi atas posisi awal kita sebelumnya... jadi setiap orang beroleh manfaat yang sesuai dengan kondisinya masing-masing. Tidak perlu kuatir akan jadi perdebatan benar salah apalagi membenarkan dan menyalahkan, peran itu sudah diambil oleh orang-orang lain yang biasanya tidak tertarik untuk hadir di sub-forum ini...


    Jadi, mari kita berdiskusi atas dua hal,
    • Mengapa agama perlu mengantarkan kepada Tuhan (memangnya kenapa kalau tidak)?
    • Apa gerangan jadinya setelah diantar dan sampai kepada/mengalami Tuhan (dan bagaimana dengan yang tidak sampai/tidak mengalami)?

    Kita maju pelan-pelan... jangan ngebutttt...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  19. #139
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Kl di psikologi, memang ada faktor genetik, yaitu sso yg lahir dg defect di area otak ttentu akan rentan mngalami ilusi, delusi dan halusinasi.

    Schizophrenia itu salah satu pnyebabnya adalah faktor genetik.
    BTT ttg "mengalami Tuhan"...

    Bagaimana cara dan metode verifikasinya untuk mengetahui bahwa itu memang Tuhan, bukan ilusi, delusi dan/atau halusinasi?

    Ini bukan soal benar-salah kok, saya cuma pengin tahu soale jgn2 selama ini saya sebenarnya sudah "mengalami Tuhan" cuman saya aja yg ndak ngeh.

    Note: Ini ttg verifikasi pengalaman diri sendiri lho, bukan verifikasi pengalaman orang lain.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  20. #140
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    BTT ttg "mengalami Tuhan"...

    Bagaimana cara dan metode verifikasinya untuk mengetahui bahwa itu memang Tuhan, bukan ilusi, delusi dan/atau halusinasi?

    Ini bukan soal benar-salah kok, saya cuma pengin tahu soale jgn2 selama ini saya sebenarnya sudah "mengalami Tuhan" cuman saya aja yg ndak ngeh.

    Note: Ini ttg verifikasi pengalaman diri sendiri lho, bukan verifikasi pengalaman orang lain.

    Kalo awal2 emang pikiran masih bermain2. Ragu akan pengalaman tuhan (experiencing god). Nanti setelah terbiasa ya akan paham sendiri. U just knew it.

    Nah ditahap awal2 tadi biasanya verifikasi datang dari senior (orang yg sudah punya banyak pengalaman experiencing god). Verifikasinya pun biasanya, sejauh yg saya alami, tidak dibungkus dalam bahasa gamblang, macam : elo dah ketemu tuhan, atau iya yg lo alami itu bener tuhan.

    Oleh sebab itu bagi pencari tuhan penting untuk mencari orang alim (berilmu) yg berorientasi kepada tuhan agar wawasan dan keilmuan kita terverifikasi.

    Sekian omong kosong saya. Bukan merupakan kebenaran mutlak, cuma share aja. Karena dalam bertuhan tidak ada kebenaran yg mutlak datang dari luar diri, termasuk sharing ini. Kebenaran mutlak datang dari diri terdalam dan dari pengalaman yg didapat selama perjalanan.

Page 7 of 12 FirstFirst ... 56789 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •