Dulu sekali, sekitar tahun '95-an, saya bergabung dengan sebuah organisasi Tantra yang berpusat di Jamalpur, India. Nah, ketika Acharya yang mendidik saya dipanggil pulang karena suatu urusan, diutus-lah seorang Acharya pengganti untuk sementara waktu mengambil alih proses pendidikan dan manajemen organisasi.
Pengalaman yang menarik. Berbeda dengan Acharya sebelumnya, orang satu itu samasekali nggak bisa diajak diskusi. Bila biasanya kami punya acara ngobrol-ngobrol filsafat sampai lewat tengah malem sambil makan sayur rebus bikinan sendiri, Acharya yang satu ini cuma bisa melayani pertanyaan sederhana dan teknis soal meditasi dan teknik-teknik lainnya. Orangnya simpel bangets, rada gembrot dengan jenggot bawukan, banyak ketawa, dan lebih suka kegiatan beres-beres rumah ketimbang buka-buka buku. Saya sendiri waktu itu adalah seorang "murid dalam" yang tinggal 24 jam di tempat pelatihan dengan tugas-tugas kerumahtanggaan... karenanya saya punya banyak kesempatan bersama beliau.
Tapi jangan ditanya soal kemampuannya. Setiap kali meditasi bareng, saya merasakan keteduhan memancar dari beliau. Jaminan mutu bahwa siapapun yang meditasi bareng beliau selalu mencapai tingkat khusuk yang dalem. Dia kadang memberi komentar tentang kesulitan-kesulitan yang kami alami waktu meditasi bareng, tapi kebanyakan dia cuma diem sambil nepuk-nepuk bahu dan memuji kemajuan kami.
Ketika Acharya kami yang sebelumnya kembali dan Acharya pengganti tersebut pulang ke India, saya bertanya soal fenomena yang kami alami, dan Acharya kami tersenyum lebar sekali. "good experience you have there" katanya.
... dan begitulah ceritanya. Menurut sang Acharya, kami -termasuk dia- dianugerahi -atau dikutuk- dengan J'nana, aliran ilmu pengetahuan. Kami cenderung berpikir, berkontemplasi, merenung, dan memecahkan masalah. Tidak salah, karena memang begitulah sebagian manusia. Tapi sang Acharya pengganti tersebut tidak banyak memiliki faktor ini, ia adalah seorang sederhana yang banyak mengutamakan Bhakti, cintanya kepada Atman, Tuhan, atau apapun sebutannya. Ia tidak sanggup berpikir yang rumit, maka hidupnya dipenuhi dengan bhakti dan karma, cinta dan tindakan untuk kebaikan.
Yoga yang sejati, menurut sang Acharya lagi, seharusnya terdiri dari empat unsur, yaitu J'nana, Bhakti, Karma dan Raja, namun wajar jika seseorang hadir dengan satu unsur lebih dominan dari yang lain. Perlahan-lahan ia akan mengalami keempatnya dan mencapai keseimbangan.
Sekarang ketika saya sudah kira-kira sebaya dengan para Acharya saya dulu... saya berharap sudah bisa memahami konsep tersebut dengan hati. Sungguh indah ketika saya kadang-kadang sanggup meletakkan pikiran saya untuk sementara waktu dan hanya memberikan cinta tanpa bersyarat. Bahkan mematikan puntung rokok di jalan bisa memberi rasa kedamaian dan kedekatan dengan Tuhan. Apalagi ketika melaksanakan ibadah yang baku. Saya menyukai bahwa di Islam ibadah kepada Tuhan selalu dipasangkan sebagai amal saleh, yaitu tindakan kebajikan yang dilandasi oleh kesadaran akan dan kehadiran Tuhan.
Alih-alih memandang orang yang fokus pada ritual sebagai agamawan terbelakang, saya justru iri pada mereka karena kemampuan mereka untuk menjalani agama secara sederhana.
Sejak pengalaman dulu itu, saya tidak pernah menganggap bahwa ritual adalah suatu candu yang menipu untuk membuat seseorang merasa tentram. Didekati dengan sikap yang jujur kepada diri sendiri, ritual adalah bentuk pelatihan untuk mencapai suatu pemahaman, yang seringkali justru sederhana. Didekati dengan rasa takut, maka ritual akan menjadi penjara yang membuat orang selalu merasa takut kehilangan atau takut dihukum.
***
Psikologi? Tidak ada psikologi yang skeptis... yang skeptis adalah psikolognya, dan itu pilihan masing-masing individu.