Page 4 of 12 FirstFirst ... 23456 ... LastLast
Results 61 to 80 of 229

Thread: Percaya Tuhan atau Agama?

  1. #61
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    *numpang ketawa dulu, nubie mau ikutan...*

    Do you believe and trust in GOD or Religion!
    Ini soal belief ato trust yak?

    Kalo yg saya pahami, CMIIW soale ini menyangkut persoalan definisi aja...

    Trust itu obyeknya adalah "benda" (materi) seperti misalnya "saya percaya (pada) Tuhan" maka pernyataan yg tepat adalah "I trust in God". Ini soal trust.

    Sedangkan belief itu lebih kepada "ide" (non-materi), misalnya "saya percaya (pada) (keberadaan) Tuhan" maka pernyataan yg tepat adalah "I believe in God". Ini soal belief.

    Lalu kalo terkait dgn "agama":

    Percaya agama itu maksudnya apa? Ini menyangkut persoalan trust atau belief?

    Satu hal lain lagi, bagaimana dgn faith? Faith itu menyangkut trust atau belief, dan korelasinya seperti apa?

    Sekali lagi ini hanya masalah definisi aja lho, dimana dlm realita se-hari2 tidak jarang ketiga term tsb (trust, belief n faith) diperlakukan identik dan orang2 ybs pun biasanya bisa "memaklumi". Tapi kalo dlm diskusi seperti ini menurutku ketiga hal tsb mesti "dibedakan" dulu supaya ndak timbul kerancuan. Perlu ada kesamaan persepsi dulu.

    ***
    BTT...

    Sekarang kita urai satu-persatu...

    Ada orang yg percaya adanya Tuhan atau disebut theist, ada orang yg ndak percaya adanya Tuhan atau disebut atheist, dan ada juga orang yg "skeptis" (baca: tidak percaya sekaligus tidak tidak-percaya) atau sebut saja "orang bebas" (free thinker?). Catatannya, definisi ini saya buat dlm konteks BELIEF, bukan soal trust maupun faith.

    Konsekuensinya, pertanyaan "do you believe and trust in GOD or Religion" menjadi tidak relevan diajukan ke orang atheist maupun "free thinker".

    Dan dlm hal ini saya pribadi adalah seorang theist, bukan atheist bukan "free thinker", dus I believe in God.

    Lalu bagaimana dgn agama? Apakah saya percaya (baca: believe) agama? Jawabnya: Ya dan Tidak. Yup, saya "skeptis" (tidak percaya sekaligus tidak tidak-percaya) dlm soal agama.

    Berarti saya bukan penganut agama dong? Salah! Saya tetap menganut agama.

    Saya BUKAN deist. Seorang deist adalah theist (who believes in God) tetapi "DOES NOT believe in religion" dgn semboyannya yg berbunyi "God gives us reason, not religion".

    Sedangkan saya, meskipun "I DISbelieve in religion" tetapi "I TRUST in religion" dan, jika dikaitkan dgn FAITH, "my faith is Islam".

    Berbeda dgn persoalan belief yg bersifat "hitam-putih", soal trust dan faith itu sifatnya "abu2", kadang kuat kadang lemah, kadang haqqul yakin kadang ainul yakin kadan ilmu yakin kadang yakin ndak jelas, setiap saat bisa ber-ubah2 ibarat gelombang lautan yg selalu naik turun. Ini, menurut istilahku, yg disebut dgn "iman".

    Dus, konsekuensi dari "iman" yg naik turun tsb, saya tetap menyisakan trust dan faith, dlm ukuran dan batas tertentu, terhadap "agama selain Islam".

    ***
    So, kalo kembali ke persoalan...:
    Do you believe and trust in GOD or Religion!
    Jawaban saya: "I do believe in God and trust in religion."

    So, dlm persoalan Tuhan saya "taqlid" (note: belief bersifat hitam-putih) tapi dlm soal agama saya bukan taqlid (note: iman alias trust/faith bersifat abu2).



    ---------- Post Merged at 10:43 AM ----------

    Eh ada satu poin yg ketinggalan...

    Bagaimana kalo persoalan ttg Tuhan dikaitkan dgn persoalan trust dan/atau faith?

    Saya pilih no comment aja soale, di satu sisi saya seorang "theist taqlid" tapi di sisi lain, saya seorang...agnostis.
    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  2. #62
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    loe harus tahu dulu asbabun posting tersebut, kena
    pa muncul post demikian

    Dalam kasus TS kan jelas kalau dirinya (TS) berulang
    kali "diajak diskusi" oleh teman nya.

    nah, berhubung gw kenal TS, jadi gw tahu kalau TS
    sudah malang melintang dalam diskusi dunia maya,
    apalagi diskusi agama-filsafat dan sejenisnya, maka
    nya gw anggap TS tergolong Veteran, yang mungkin
    sudah "move on" dari kegiatan diskusi tanpa ujung (gw
    anggap diskusi tentang agama dan antar agama seba
    gai diskusi tanpa ujung, karena ngga jelas mau kema
    na diskusi itu akan berakhir), sedangkan si teman yang
    agresif, menurut gw terlihat nubie, barangkali dia baru
    "tercerahkan", lalu dengan semangat 45 mulai "seruduk"
    sana sini.
    jiyahhh... diskusi mah diskusi aja, sekali2 aku setuju ama si purba

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Halagh.. diskusi kok pake istilah veteran dan nubie segala? Diskusi, ya diskusi saja. Yg mau, silakan menyampaikan pendapatnya. Yg tidak, ya nyimak atau diam saja.

    kuceritakan awal kisahnya aku jadi bahas beginian (lagi-padahal udah males sebenarnya) soalnya dia emang cerita soal agama2 di dunia itu.
    kucuekin, tapi tanya2 lagi. ya udah berhubung di DIPA masih tanda bintang, kan gua ga ada kerjaan tuh... jadi deh untuk sementara mengeruk memori masa lalu lagi.


    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    kalau ngutip "standar ganda" gw jadi ingat veteran
    diskusi antar agama yang sampai sekarang masih
    saja bermental nubie


    Dari awal, Islam tidak lepas dari "peran" manusia,
    buktinya Al Quran diturunkan dengan bahasa Arab,
    bukan bahasa Malaikat


    menurut gw, Umat Islam cuma meng-imani bah
    wa Al Quran "bunyi bacaannya" adalah murni da
    ri Allah, tidak berubah dari dulu hingga sekarang.

    cuma memang, terjadi generalisasi sehingga tim
    bul kasus yang loe sebutkan, tetapi menurut gw
    itu bukan standar ganda, melainkan ketidaktahu
    an saja.

    "Cerdiknya", ketidaktahuan tersebut dimanfaatkan
    dengan pertanyaan provokatif "Percaya Tuhan
    atau Percaya Agama"?

    lah, kalau gw jawab gw percaya Tuhan dan perca
    ya Agama, emang kenapa? itu kan pake "atau" ja
    di ngga ada masalah. Masalahnya, "nubie" Islam
    yang ngga mendalami Logika, ikut terprovokasi
    ya gue juga jawabnya "both"
    aku sepakat, Islam diturunkan ke manusia jadi pake bahasa manusia.
    cuman, jujur saja cukup tertarik, dengan yang berpendapat bahwa agama ciptaan manusia, apakah agama yang dimaksud ciptaan manusia ini benar2 hanya melibatkan manusia?
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  3. #63
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    Hmmm...
    Kl dari nyang saya liat-liat dari bragam agama dan kpercayaan, maka ada 3 jenis Tuhan yg rata-rata diimani manusia.

    1. Tuhan yg personal
    2. Tuhan yg semi-personal
    3. Tuhan yg impersonal

    Smakin 'impersonal' sosok Tuhan dlm agama/kpercayaan tsb, maka smakin pnganutnya akan pcaya 'agama' (saya ssuaikan dg bahasa TS).
    wowowowowow....
    jelasin dong om biar nubi jadi pinter dan tercerahkan
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  4. #64
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    BTW... *duh makin jadi nubie aja neh*

    Agnostis sering (bahkan umum) diartikan sebagai "orang yg percaya (DO believe in) Tuhan tapi tidak percaya (DO NOT believe in) agama". Menurutku ini definisi rancu n salah kaprah (fallacy). Orang yg percaya adanya Tuhan tapi tidak percaya agama itu adalah deist, bukan agnostis.

    Sedangkan agnostis itu bicara persoalan "knowledge". Agnostis itu bersifat "DISBELIEF", alias TIDAK ada hubungannya dgn persoalan BELIEF.

    Tapi mungkin memang hal itu yg justru menimbulkan salah kaprah tsb, padahal "DISbelieve" itu BEDA dgn "DO NOT believe".

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  5. #65
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    *numpang ketawa dulu, nubie mau ikutan...*
    sungkem ama om jisamsu
    *mulai menyiapkan buku catatan*

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Ini soal belief ato trust yak?

    Kalo yg saya pahami, CMIIW soale ini menyangkut persoalan definisi aja...

    Trust itu obyeknya adalah "benda" (materi) seperti misalnya "saya percaya (pada) Tuhan" maka pernyataan yg tepat adalah "I trust in God". Ini soal trust.

    Sedangkan belief itu lebih kepada "ide" (non-materi), misalnya "saya percaya (pada) (keberadaan) Tuhan" maka pernyataan yg tepat adalah "I believe in God". Ini soal belief.

    Lalu kalo terkait dgn "agama":

    Percaya agama itu maksudnya apa? Ini menyangkut persoalan trust atau belief?

    Satu hal lain lagi, bagaimana dgn faith? Faith itu menyangkut trust atau belief, dan korelasinya seperti apa?

    Sekali lagi ini hanya masalah definisi aja lho, dimana dlm realita se-hari2 tidak jarang ketiga term tsb (trust, belief n faith) diperlakukan identik dan orang2 ybs pun biasanya bisa "memaklumi". Tapi kalo dlm diskusi seperti ini menurutku ketiga hal tsb mesti "dibedakan" dulu supaya ndak timbul kerancuan. Perlu ada kesamaan persepsi dulu.

    ***
    BTT...

    Sekarang kita urai satu-persatu...

    Ada orang yg percaya adanya Tuhan atau disebut theist, ada orang yg ndak percaya adanya Tuhan atau disebut atheist, dan ada juga orang yg "skeptis" (baca: tidak percaya sekaligus tidak tidak-percaya) atau sebut saja "orang bebas" (free thinker?). Catatannya, definisi ini saya buat dlm konteks BELIEF, bukan soal trust maupun faith.

    Konsekuensinya, pertanyaan "do you believe and trust in GOD or Religion" menjadi tidak relevan diajukan ke orang atheist maupun "free thinker".

    Dan dlm hal ini saya pribadi adalah seorang theist, bukan atheist bukan "free thinker", dus I believe in God.

    Lalu bagaimana dgn agama? Apakah saya percaya (baca: believe) agama? Jawabnya: Ya dan Tidak. Yup, saya "skeptis" (tidak percaya sekaligus tidak tidak-percaya) dlm soal agama.

    Berarti saya bukan penganut agama dong? Salah! Saya tetap menganut agama.

    Saya BUKAN deist. Seorang deist adalah theist (who believes in God) tetapi "DOES NOT believe in religion" dgn semboyannya yg berbunyi "God gives us reason, not religion".

    Sedangkan saya, meskipun "I DISbelieve in religion" tetapi "I TRUST in religion" dan, jika dikaitkan dgn FAITH, "my faith is Islam".

    Berbeda dgn persoalan belief yg bersifat "hitam-putih", soal trust dan faith itu sifatnya "abu2", kadang kuat kadang lemah, kadang haqqul yakin kadang ainul yakin kadan ilmu yakin kadang yakin ndak jelas, setiap saat bisa ber-ubah2 ibarat gelombang lautan yg selalu naik turun. Ini, menurut istilahku, yg disebut dgn "iman".

    Dus, konsekuensi dari "iman" yg naik turun tsb, saya tetap menyisakan trust dan faith, dlm ukuran dan batas tertentu, terhadap "agama selain Islam".

    ***
    So, kalo kembali ke persoalan...:

    Jawaban saya: "I do believe in God and trust in religion."

    So, dlm persoalan Tuhan saya "taqlid" (note: belief bersifat hitam-putih) tapi dlm soal agama saya bukan taqlid (note: iman alias trust/faith bersifat abu2).



    ---------- Post Merged at 10:43 AM ----------

    Eh ada satu poin yg ketinggalan...

    Bagaimana kalo persoalan ttg Tuhan dikaitkan dgn persoalan trust dan/atau faith?

    Saya pilih no comment aja soale, di satu sisi saya seorang "theist taqlid" tapi di sisi lain, saya seorang...agnostis.
    lahhhhhhh kok kaburrrrrr *kajarrrrrrr*
    baru juga nyiapin buku catatan kok kabur..

    makasih om, kata pengantarnya mulai dapat sedikit pencerahan..
    ditunggu bab 1-2 3 sampai kesimpulannya
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  6. #66
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Percaya Tuhan atau Agama?

    Kalo percaya tuhan, berarti tidak harus terpaku pada salah satu agama.
    Kalo percaya agama, berarti tidak harus percaya tuhan, karena ada agama yg tidak mengajarkan ttg tuhan.

    Menurut ane, itu dua kemungkinan jawaban dari pertanyaan di atas.

    Orang yg percaya tuhan, cenderung bersifat inklusif.
    Sementara orang yg percaya agama, cenderung bersifat eksklusif.

  7. #67
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Quote Originally Posted by Chan
    kuceritakan awal kisahnya aku jadi bahas beginian (lagi-padahal udah males sebenarnya) soalnya dia emang cerita soal agama2 di dunia itu.
    kucuekin, tapi tanya2 lagi. ya udah berhubung di DIPA masih tanda bintang, kan gua ga ada kerjaan tuh... jadi deh untuk sementara mengeruk memori masa lalu lagi.
    Kalo melihat "aura" (cieee...ceritanya lagi jadi paranormal nih ) pertanyaan kawan Hindu tsb menurutku dia sebenarnya seorang deist, bukan Hindu. Karena, pinjem istilahnya kop Kandalf, itu pemikiran "sesat" kalo dilihat dr kacamata Hindu. Pertanyaan seperti itu lebih layak dilontarkan oleh seorang deist.

    Itu kalo saya asumsikan dia melontarkan pertanyaan tsb tanpa ada tendensi apa2.

    Tapi kalo dia melontarkan pertanyaan tsb krn ada "udang dibalik bakwan", katakanlah misalnya, maaf, dia sedang coba "jualan kecap" dgn merek Hindu, bisa saja itu dia lontarkan sbg batu loncatan aja. Mlipir2 digiring ke paham deism dulu baru setelah berhasil lalu dia keluarin jurus jualan kecapnya.

    No...no..., maaf saya tidak sedang "menuduh" seseorang (kawan Hindu tsb). Saya hanya coba melihat "kemungkinan2" aja. Setidaknya dgn bisa "membaca niat" dari orang tsb anda bisa lebih "diplomatis" dlm memberikan jawaban.

    Quote Originally Posted by Chan
    ya gue juga jawabnya "both"
    aku sepakat, Islam diturunkan ke manusia jadi pake bahasa manusia.
    cuman, jujur saja cukup tertarik, dengan yang berpendapat bahwa agama ciptaan manusia, apakah agama yang dimaksud ciptaan manusia ini benar2 hanya melibatkan manusia?
    Hanya deist, dan tentu atheist dan skeptic (free thinker), yg menyatakan ("percaya") bahwa "agama adalah ciptaan manusia, bukan ciptaan Tuhan". Ini sangat jelas tercermin dari semboyan deist: "God gives us reason, not religion."

    Tentu saja masih ada lagi "paham2" lain yg mirip2 seperti itu seperti misalnya paham Raelian yg memiliki slogan ndak kalah "gagah" dibanding slogan deism yaitu: "Stop believing and start knowing".

    Saya sendiri, sudah sering saya nyatakan, bukan deist bukan atheist bukan skeptis dan tentu juga bukan Raelian. Saya theist. Ini kalo konteksnya "belief" dlm hal (ke)Tuhan(an) lho.

    Sedangkan dlm hal agama, menurutku pribadi ini bukan soal belief lagi, bahkan diatas secara eksplisit saya nyatakan "I disbelieve in religion" (meskipun I trust in it). So, bagi saya, ini udah soal "iman" alias trust alias faith, bukan belief lagi.

    ***
    Bicara ttg faith, mmm...pengin sih nerusin panjang lebar tapi berhubung lagi ribet waktunya lain kali aja yak...

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  8. #68
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Kalo melihat "aura" (cieee...ceritanya lagi jadi paranormal nih ) pertanyaan kawan Hindu tsb menurutku dia sebenarnya seorang deist, bukan Hindu. Karena, pinjem istilahnya kop Kandalf, itu pemikiran "sesat" kalo dilihat dr kacamata Hindu. Pertanyaan seperti itu lebih layak dilontarkan oleh seorang deist.

    Itu kalo saya asumsikan dia melontarkan pertanyaan tsb tanpa ada tendensi apa2.

    Tapi kalo dia melontarkan pertanyaan tsb krn ada "udang dibalik bakwan", katakanlah misalnya, maaf, dia sedang coba "jualan kecap" dgn merek Hindu, bisa saja itu dia lontarkan sbg batu loncatan aja. Mlipir2 digiring ke paham deism dulu baru setelah berhasil lalu dia keluarin jurus jualan kecapnya.

    No...no..., maaf saya tidak sedang "menuduh" seseorang (kawan Hindu tsb). Saya hanya coba melihat "kemungkinan2" aja. Setidaknya dgn bisa "membaca niat" dari orang tsb anda bisa lebih "diplomatis" dlm memberikan jawaban.
    nah... ini dia Veteran yang ngaku-ngaku Nubie



    #teteupkeukeh
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

  9. #69
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Percaya Tuhan atau Agama?

    Kalo percaya tuhan, berarti tidak harus terpaku pada salah satu agama.
    Kalo percaya agama, berarti tidak harus percaya tuhan, karena ada agama yg tidak mengajarkan ttg tuhan.

    Menurut ane, itu dua kemungkinan jawaban dari pertanyaan di atas.

    Orang yg percaya tuhan, cenderung bersifat inklusif.
    Sementara orang yg percaya agama, cenderung bersifat eksklusif.
    kalo percaya dua2nya berarti sifatnya gimana dong? galau?
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  10. #70
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Kalo melihat "aura" (cieee...ceritanya lagi jadi paranormal nih ) pertanyaan kawan Hindu tsb menurutku dia sebenarnya seorang deist, bukan Hindu. Karena, pinjem istilahnya kop Kandalf, itu pemikiran "sesat" kalo dilihat dr kacamata Hindu. Pertanyaan seperti itu lebih layak dilontarkan oleh seorang deist.

    Itu kalo saya asumsikan dia melontarkan pertanyaan tsb tanpa ada tendensi apa2.

    Tapi kalo dia melontarkan pertanyaan tsb krn ada "udang dibalik bakwan", katakanlah misalnya, maaf, dia sedang coba "jualan kecap" dgn merek Hindu, bisa saja itu dia lontarkan sbg batu loncatan aja. Mlipir2 digiring ke paham deism dulu baru setelah berhasil lalu dia keluarin jurus jualan kecapnya.

    No...no..., maaf saya tidak sedang "menuduh" seseorang (kawan Hindu tsb). Saya hanya coba melihat "kemungkinan2" aja. Setidaknya dgn bisa "membaca niat" dari orang tsb anda bisa lebih "diplomatis" dlm memberikan jawaban.
    dia hindu dari lahir, tapi sepertinya entah dapat pencerahan atau penggelapan, kesadaran atau kepingsanan, mengikuti definisi um jisamsu dia adalah deist. percaya tuhan, tapi tidak percaya agama karena agama adalah buatan manusia.
    lalu kemudian dia galau lagi kayaknya, soalnya ada temannya yang kasih "pencerahan", kata temennya itu "kamu percaya tuhan karena agama yang kamu anut dari lahir menawarkan konsep adanya "tuhan""
    jadi sebenarnya tuhan juga ga ada. ngapain percaya tuhan

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Hanya deist, dan tentu atheist dan skeptic (free thinker), yg menyatakan ("percaya") bahwa "agama adalah ciptaan manusia, bukan ciptaan Tuhan". Ini sangat jelas tercermin dari semboyan deist: "God gives us reason, not religion."

    Tentu saja masih ada lagi "paham2" lain yg mirip2 seperti itu seperti misalnya paham Raelian yg memiliki slogan ndak kalah "gagah" dibanding slogan deism yaitu: "Stop believing and start knowing".

    Saya sendiri, sudah sering saya nyatakan, bukan deist bukan atheist bukan skeptis dan tentu juga bukan Raelian. Saya theist. Ini kalo konteksnya "belief" dlm hal (ke)Tuhan(an) lho.

    Sedangkan dlm hal agama, menurutku pribadi ini bukan soal belief lagi, bahkan diatas secara eksplisit saya nyatakan "I disbelieve in religion" (meskipun I trust in it). So, bagi saya, ini udah soal "iman" alias trust alias faith, bukan belief lagi.

    ***
    Bicara ttg faith, mmm...pengin sih nerusin panjang lebar tapi berhubung lagi ribet waktunya lain kali aja yak...

    makin cinta ama um jisamsu... penjelasannya runut

    bahas tentang faith dunk um kalo udah ga ribet ya. makasih
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  11. #71
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    ... ada yang perang brubuh, ada yang bertengkar, ada yang bersitegang, ada yang berdebat, ada yang berdiskusi, ada yang ngobrol, dan ada yang ngopi bareng kawan...

    Bukan diem atau rame, veteran ato nubie... tapi hobi nyangkul di ladang yang berbeda...

    #tidur_dulu...
    #masi_ngantuq...
    kalo di sini, mau nubi mau veteran, nyangkul di ladang yang sama um [MENTION=249]Alip[/MENTION] xixixixi
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  12. #72
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Emang kepentingan tuhan itu apa? Koq sampe mau-maunya mbikinin agama buat manusia?

    Uwekekekekekee..

    Supaya manusia tidak tersesat? Supaya manusia masuk surga?

    Emang kalo semua manusia tersesat tuhan rugi apa? Atau kalau surga sepi gak ada penghuninya emang tuhan jadi bete?

  13. #73
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    pertanyaan saya lagi, ngulang aja, apakah anda (atau siapapun yang sependapat dengan tulisan kandalf di atas) percaya Islam (minimal pada awalnya) memang agama dari Allah, yang memang diwahyukan kepada Muhammad saw. atau sebaliknya, Muhammad dibantu manusia lainnya membentuk agama Islam ?
    Islam adalah agama dari Allah, yang diwahyukan
    kepada Para Nabi dari Adam AS hingga Muhammad
    SAW.
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

  14. #74
    pelanggan setia mobyokuzan's Avatar
    Join Date
    Jul 2012
    Posts
    2,025

    newbie numpang lewat

    ngestalk id sariputra di forum tetangga, ga tau knp nyampenya kesini juga



    salim buat mbahsdge, dan para penghuni forum ini

    "telling lies is sometimes acceptable,
    when the truth is too difficult to believe"

  15. #75
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    wah urusan disbelief dan kawan-kawan saya jelas nubie. tapi eh, atheist itu kan nggak percaya tuhan toh? bukan nggak percaya agama *nubie mode on
    #minggir lagi di pojokan
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  16. #76
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    BTW... *duh makin jadi nubie aja neh*

    Agnostis sering (bahkan umum) diartikan sebagai "orang yg percaya (DO believe in) Tuhan tapi tidak percaya (DO NOT believe in) agama". Menurutku ini definisi rancu n salah kaprah (fallacy). Orang yg percaya adanya Tuhan tapi tidak percaya agama itu adalah deist, bukan agnostis.

    Sedangkan agnostis itu bicara persoalan "knowledge". Agnostis itu bersifat "DISBELIEF", alias TIDAK ada hubungannya dgn persoalan BELIEF.

    Tapi mungkin memang hal itu yg justru menimbulkan salah kaprah tsb, padahal "DISbelieve" itu BEDA dgn "DO NOT believe".

    dibandingkan menggunakan kata disbelief yang memang akan bikin rancu karena kemiripan istilah, kurasa istilah skeptis lebih pas digunakan untuk mendeskripsikan agnosticism.

  17. #77
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    yes yes yes... banyak nubi mau ikutan komen. makasih ya udah mampir.

    Quote Originally Posted by mobyokuzan View Post
    ngestalk id sariputra di forum tetangga, ga tau knp nyampenya kesini juga



    salim buat mbahsdge, dan para penghuni forum ini
    forum mana um?
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  18. #78
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    iya hindu, yakin banget
    Udah dijelakan ama Om DjieSamSoe.
    Kalau dilihat dari sejarah kawan yang kau ceritakan, tampaknya deist.


    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    sebelum panjang lebar , apakah kamu percaya wahyu yang dihidayahkan kepada muhammad atau kepada nabi2 lainnya?
    Secara pikiran, gue agnostik.
    Secara mental dan emosi, gue teis.
    Jadi bisa dibilang, aku agnostik-teis.

    Nah, soal wahyu.
    Ingat Etca pernah punya proyek Dhammapada-nya agama Buddha?
    Aku baca dari Etca dan, ternyata ada beberapa bagian mirip dengan yang kubaca di Quran. Bedanya di Quran lebih ringkas, di Dhammapada lebih dalam bentuk penegasian dan diulang dalam bentuk beda.

    Atau ada satu kalimat yang dipakai Benjamin Franklin yang bentuk berbedanya ada di Quran? Sebelum Quran, ayat tersebut tidak muncul di alkitab (perjanjian lama dan perjanjian baru) tetapi malah muncul di kelompok politeis Yunani.


    Jadi ada dua SOAL PILIHAN BERGANDA PERTAMA:

    1. setiap perkembangan akal manusia akan cenderung menuju ke hal yang sama, atau;

    2. ada pengawas yang selalu menyelipkan pesan yang sama ke umat yang berbeda.

    Dan buat gue yang agnostik, sukar untuk memilih salah satunya.

    Nah tentang Quran sendiri.. setelah kutipan mu sebelumnya.

    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    di luar hal2 khilafiyah yang dibahas di atas, soal akidah adalah sama, kalau beda ya bukan islam. jadi? maksudnya gimana nih?
    Islam kan bukan soal apakah yang ga pake cadar berarti bukan muslimah, apakah yang jenggotnya ga panjang bukan muslim, atau yang pakai qunut berarti kafir atau sebaliknya.
    hal khilafiyah ada, tapi yang menandakan Islam kan bukan hal khilafiyah itu. rukun iman, rukun islam sama, mungkin ada variasi dalam bidang yang khilafiyah sejauh yang saya tahu masih diakomodasi juga dalam islam dan tidak disalahkan

    pertanyaan saya lagi, ngulang aja, apakah anda (atau siapapun yang sependapat dengan tulisan kandalf di atas) percaya Islam (minimal pada awalnya) memang agama dari Allah, yang memang diwahyukan kepada Muhammad saw. atau sebaliknya, Muhammad dibantu manusia lainnya membentuk agama Islam ?

    -beneran nanya lho ya-
    Di kutipan sebelumnya aku sempat mengutip ustadz yang menunjukkan perbedaan pendapat antar ulama tentang Quran.

    Yang kukutip bukan soal pake cadar, bukan soal jenggot panjang, bukan soal pakai qunut atau tidak. Tetapi itu soal memahami Alquran, penghitungan ayat, urutan turunnya ayat, dsb.

    Sudah baca: http://www.kopimaya.com/forum/showth...4-Bacaan-Warsh ?

    Selama ini pertanyaan macam itu cuma dijawab, "ah itu cuma perbedaan cara membaca saja". Tapi cara membaca yang berbeda bisa:

    1. menimbulkan nuansa yang berbeda (tergantung cara "meletakkan koma" sehingga membuat penekanan berbeda);

    2. menimbulkan kata atau kalimat yang bisa jauh berbeda. Yang satu bisa aktif (membunuh/berperang) dan yang satu lagi bisa pasif (terbunuh).

    Memang secara makna, dilihat dari diskusinya, satu ayat itu bakal sama, tidak ada perbedaan. Tetapi adanya perbedaan tersebut menunjukkan satu hal:

    "Al Quran tidak dihafal berjamaah dengan persis kata-per-kata, kalimat-per-kalimat"

    Di sini ada dua SOAL PILIHAN BERGANDA KEDUA:

    1. ada sebuah sumber teks, tertulis, yang kurang tanda baca, atau kurangnya tanda titik dalam bentuk awal tulisan (tahu sendiri pentingnya "titik" dalam huruf Arab) yang kemudian oleh orang-orang dibaca berbeda dan kelak mereka akan bertemu, membandingkan hafalan dan bacaan dan ketika dijumpai perbedaan, mereka melihat bahwa maknanya sama dan tidak berubah dan memutuskan untuk tidak mempermasalahkan;

    2. atau.. lagi-lagi, adanya pengawas yang sengaja menginspirasi bacaan berbeda untuk memperkaya khasanah.


    Di sini,
    sebenarnya baik pilihan 1 maupun pilihan 2 menghasilkan yang sama, bacaan berbeda namun tetap sama makna.


    Mau gak mau, seseorang pasti subyektif dalam memilih.
    Seorang muslim, dalam kedua SOAL PILIHAN BERGANDA tadi pasti memilih jawaban nomer 2 dalam setiap soal:

    Untuk soal pilihan berganda pertama:

    "Ya! Allah, Tuhan yang menciptakan manusia, yang selalu menginspirasi, memberi wahyu yang sama berulang-ulang di setiap zaman hingga nabi terakhir, Nabi Muhammad"

    Untuk soal pilihan berganda kedua:

    "Ya! Allah menurunkan ayat tersebut dalam bacaan yang berbeda-beda." (Jawaban ini sebenarnya ada di Hadits.).



    Tetapi seorang non-muslim, bahkan yang anti agama Islam bakal memilih jawaban nomer 1 dalam setiap soal:
    Untuk soal pilihan berganda pertama:

    "Manusia itu beragam dan cerdas. Pasti selalu ada orang2 di masa berbeda yang memikirkan hal yang sama dan berakhir pada kesimpulan yang sama."

    Untuk soal pilihan berganda kedua:

    "Ini menunjukkan bahwa hafalan Alquran tidak dijaga dan di awal-awal masa penyebarannya, kekurangan tanda baca dan tanda titik untuk huruf berbeda menyebabkan munculnya cara baca yang berbeda. Namun kebutuhan untuk bersatu menyebabkan mereka bertemu, membandingkan, dan membuang semua bacaan yang bertentangan dan membiarkan bacaan yang walau berbeda tetapi tetap memiliki makna sama".
    (Ingat kebijakan Usman ibn Affan untuk standarisasi Alquran? Ya. Pernah ada kasus lebih ekstrim dari sekedar bacaan Warsh)





    Paham bedanya seorang Teis dan Ateis dalam memahami soal berganda tadi? Seorang Teis akan selalu menyelipkan unsur 'Tuhan' dalam setiap tindakan manusia sementara Ateis akan menganggap tindakan-tindakan manusia tadi adalah hal kewajaran.

    Jadi..
    Iya,
    agama itu secara fisik dibentuk oleh manusia.
    Manusia yang menulis, manusia yang berdiskusi, manusia yang menyebarkan. Tapi di sisi sama, seseorang yang percaya Tuhan yang aktif akan percaya bahwa manusia-manusia tersebut diinspirasi oleh Tuhan, diberi petunjuk (hidayah).
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  19. #79
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    penjelasannya panjang banget n njelimet

    secara "subyektif" gw teringat sebuah kisah, seorang
    budak, yang dalam kepala gw, tentu nya ngga pernah
    sekolah, jadi tentu isi kepala nya ngga njelimet, yang
    nyaris hayatnya berakhir, namun tetap mengacungkan
    satu jari saja, ketika sudah tidak mampu berkata-kata.

    jadinya "keimanan" gw yang "subyektif" menjadi terta
    wa kecil, karena masih ada saja yang suka memutar-
    mutar lidah (berpanjang-panjang) untuk sesuatu yang
    sebenarnya sederhana

    Jadi..
    Iya,
    agama itu secara fisik dibentuk oleh manusia.
    bahkan saat si budak itu "terpaksa" ngacung, "kolabora
    tor" tersebut belum sepenuhnya komplit anggotanya,

    Memang secara makna, dilihat dari diskusinya, satu ayat itu bakal sama, tidak ada perbedaan. Tetapi adanya perbedaan tersebut menunjukkan satu hal:

    "Al Quran tidak dihafal berjamaah dengan persis kata-per-kata, kalimat-per-kalimat"
    disini kan harus dibuktikan dulu, apakah perbedaan peng
    hafalan itu terjadi setelah "kolaborator" utamanya wafat,
    atau sudah terjadi sebelumnya.

    indikasinya (termasuk dalam link-link soal warsh) menun
    jukkan, kaum Qurasy (Muhajirin) bukan penyebab perbe
    daan itu, jadi gw menyimpulkan dari Tuhan ke Muhammad
    dan "ring1" tidak ada perbedaan yang dimaksud.
    ===

    disini, kembali seperti pernah gw tulis, berhubung agama
    itu untuk manusia, sedikit atau banyak tentu saja ada
    campur tangan manusia dalam "membentuk" nya.

    Kalau kemudian fakta tersebut hendak dipakai untuk me
    nyatakan "agama (sepenuhnya) diciptakan oleh manusia",
    seperti pernyataan si Ex-Polytheis yang dicurigai Deist,
    nanti dulu!

    sebuah mobil disebut "mobil Nasional" ada Standar kandu
    ngan lokal nya, dan itu berlaku secara internasional. Sebu
    ah Boeing tetap disebut Buatan America, atau sebuah N219
    tetap disebut Buatan Indonesia, meski mesin nya Pratt n
    Whitney (Canada) atau Roll Royce (Inggris?)

    Jadi harus disepakati dulu, sejauh mana campur tangan
    manusia dinilai melewati standar Kandungan Ilahiyah mini
    mum?

    harus 100% ?
    we live in heaven then
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

  20. #80
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    dibandingkan menggunakan kata disbelief yang memang akan bikin rancu karena kemiripan istilah, kurasa istilah skeptis lebih pas digunakan untuk mendeskripsikan agnosticism.
    ht***tp://id.m.wiki***pedia.org/wiki/Skeptisisme

    klo menurut wikipedia pengertian skeptisme dalam agama adalah mempertanyakan merujuk kepada "keraguan tentang prinsip-prinsip dasar agama (seperti keabadian, pemeliharaan, dan wahyu)."


    Prinsip dasar wahyu : bagi q terdengar seperti "konsep Nabi/Rasul"

    Prinsip dasar keabadian : bagi q terdengar seperti merujuk pada "dzat yg tidak berawal dan tidak berakhir" yg mana dalam islam dzat tsb diberi nama Tuhan.

    Prinsip dasar pemeliharaan : bagi q terdengar seperti pertanyaan atas jaminan terpeliharanya kitab suci (maaf q menyebut kitab suci, bukan 'agama' abis di agama yg q anut, islam = quran, hadis & ijtihad ulama. Yang satu sama lain saling melengkapi).
    Lalu diantara ijtihad ulama, hadis & quran yg kami (umat Muhammad) yakin suci dari penggantian, pengubahan, pengurangan dan penambahan hanyalah quran.


    banyak pemikir [saintis] yang memandang bahwa agama tidak akan pernah dapat didamaikan dengan sains. Masing-masing berada pada posisi yang berbeda, sains menguji semua hipotesis dan semua teorinya berdasarkan pengalaman, sedangkan agama berdasarkan keyakinan.

    Kaum skeptis ilmiah sering mengatakan agama dilandaskan pada asumsi-asumsi apriori atau “keyakinan”, sedangkan sains tidak mau menerima begitu saja segala sesuatu sebagai benar.

    Menurut kaum saintis, memandang agama terlalu bersandar pada imajinasi yang liar,sedangkan sains bertumpuk pada fakta yang dapat diamati.

    Agama terlalu emosional, penuh gairah dan subjektif, sedangkan sains berusaha untuk tidak memihak, tidak terlalu bergairah, dan objektif. Jadi, pertautan antara keduanya tidak dengan mudah dapat dilakukan.

    Keduanya memiliki perbedaan mendasar sehingga upaya menyandingkan keduanya dalam satu ”kotak” tentu akan memicu beberapa persoalan, terutama terkait dengan benturan-benturan konseptual, metodologis dan ontologis antara ”sains” dan ”agama”.
    Last edited by MoonCying; 11-03-2014 at 09:51 AM.

Page 4 of 12 FirstFirst ... 23456 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •