Ikut urun rembuk ah ...
- Tuhan itu bukan untuk dipercaya tapi untuk dikenali (ditemui)
- Agama itu bukan untuk dipercaya tapi untuk dipelajari agar mengenal (menemui) Tuhan.
Dah segitu aja.
Ikut urun rembuk ah ...
- Tuhan itu bukan untuk dipercaya tapi untuk dikenali (ditemui)
- Agama itu bukan untuk dipercaya tapi untuk dipelajari agar mengenal (menemui) Tuhan.
Dah segitu aja.
Ini bicara soal "percaya atau ndak percaya" (belief) (thd Tuhan atau agama) tapi larinya malah ke soal "pembuktian" (apakah agama diciptakan oleh Tuhan atau manusia). Kalo menurut saya sih ya ndak bakalan ada habisnya.![]()
Lha wong percaya ato ndak percaya itu pilihan bebas kok, tanpa bukti dan tanpa alasanpun sah2 aja.![]()
[MENTION=39]ndugu[/MENTION]
Yup, thanks. Memang kalo (agnosticisme) dikaitkan dgn agama, istilah "skeptis" akan lebih pas. Tapi maksud saya disitu memang ingin lebih menekankan adanya kemiripan istilah tsb, krn memang justru itulah alasan, menurutku yg paling mungkin, atas munculnya kesalahpahaman kenapa agnostis banyak disalah artikan sebagai "non-believer" (baca: menolak agama).
Sedangkan kalo (agnosticism) dikaitkan dgn persoalan (ke)Tuhan(an), istilah "skeptis" malah justru bikin rancu, se-olah2 agnostis itu ada di tengah2 antara theist dgn atheist, dus agnostis pasti "bukan theist" sekaligus "bukan atheist". Padahal ada istilah agnostic-theist (agnostis sekaligus theist) maupun agnostic-atheist (agnostis sekaligus atheist), meskipun ada juga agnostic yg memang "netral" (skeptis).
Anyway, namanya juga sekedar istilah/definisi. Yg penting bisa paham, bukan salah persepsi, dgn substansi tulisan yg disampaikan.
@Chan
Kalo menurut (definisi) saya, faith itu berbeda dgn belief. Belief bersifat pilihan, sedangkan faith bersifat state (kondisi). Belief bersifat hitam-putih (statis), sedangkan faith bersifat abu2 (dinamis). Itu diantara dua perbedaan pokoknya.
So, faith (selanjutnya bisa disebut iman, keyakinan, something like that) itu bisa, bahkan selalu, ber-ubah2, naik-turun, menguat-melemah, dst itu natural/biasa/wajar. Orang (termasuk saya lho) bisa aja bilang atau bersikap menunjukkan (se-olah2) imannya kuat/lemah, tapi siapa yg tahu "isi hati" orang tsb? Jgn2 malah sebaliknya. Dan dlm ajaran agama pun bahkan dinyatakan bahwa hanya Tuhanlah yg tahu iman seseorang.
Dan faith inilah yg bisa, bahkan sering, menimbulkan "kegalauan" seseorang, terombang-ambing, bingung antara yakin dan ndak yakin, ragu, bimbang, dst.
Dan menurut saya, kegalauan itu bukan karena misalnya faith-nya lagi ngedrop aja, tapi bisa saja pas lagi diatas pun bisa aja galau. Kegalauan itu muncul, IMO, justru karena "ketidakma(mp)uan menyadari" nature dari faith itu sendiri yg saya ibaratkan nature-nya memang seperti "ombak". Lha ombak kok mau dilawan, ya jelas bakal terombang-ambing bahkan kalo apes bisa malah klelep tenggelam. :mrgeen:
So, alih2 galau terombang-ambing, kalau saya (penginnya lho, mudah2an) lebih memilih untuk "meraih papan selancar" dan menikmati alunan ombak tsb. Dan fungsi papan selancar bukan untuk mengendalikan dan mengatur ombak supaya mengecil atau bahkan membesar, tapi sekedar mengikuti irama ombak. Dlm falsafah Jawa dikenal istilah "ngenter, tapi bukan kenter", mengikuti arus air (dgn kesadaran), bukan terbawa arus air (tanpa sadar).
Dan kalo dikaitkan dgn agama, bagi saya ajaran agama itulah papan selancar saya.
Mmm...udah ah segitu aja, ndak enak kok kesannya saya jadi tuwir banget sok bijaksana.
![]()
Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.
Um Ronggo,
perkara Warsh mending dibahas di topiknya khusus ya?
Itu agak pelik. Makanya walau bertahun2 saya memendam pertanyaan tentang itu, saya gak berani posting hingga menemukan link kedua yang menjelaskan perbedaan Warsh dengan bacaan lain.
Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013
Ada orang datang kmudian bkata:
'Hei, saya btemu Tuhan dan inilah kata-kata dari Tuhan.
Patuhi kata-kata itu dan kamu akan disenangi Tuhan.
Lakukan ini-itu, jauhi ini-itu maka kamu akan jadi favorit Tuhan.'
Kmudian kita btanya:
'Tuhan itu spt apa?'
Lalu dia jawab:
'Sifat-sifat dan atribut Tuhan itu spt ini-ini-ini. Slebihnya sulit kamu kenal Dia.
Yg penting kamu taati kata-kataNya, printahNya dan ritualNya.'
Maka orang itu mjalankan kata-kataNya, printahNya dan ritualNya.
Sifat manusiawinya akan mbuat orang itu mrasa nyaman, aman dan tenang ktika ia mlakukan printah dan ritualNya, krn orang itu mrasa telah bkenan kpd Tuhan dan mjd favoritnya Tuhannya.
Ia pun bela mati-matian Tuhannya dg pmikiran bhw Tuhannya akan makin senang padanya.
Namun bgitu, orang itu tidak pernah benar-benar bertemu Tuhan yg diberitakan itu sampai matinya (krn katanya itu impossible).
Itulah bagi saya definisi 'agama'.
Dalam Al Quran Allah mengatakan jika Allah sendirilah yang menjamin terpeliharanya Al Qur'an dari segala bentuk penggantian, pengubahan, pengurangan dan penambahan.
"Sungguh, Kamilah yang menurunkannya (Al Qur'an) dan kamilah yang menjaganya." [Al Hijr: 9]
"Tidak disentuh oleh kebatilan dari depan ataupun dari belakang (secara terang-terangan ataupun secara samar-samar). Ia (Al Qur'an) diturunkan oleh Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji." [Fushshilat: 42]
dari dulu sampai sekarang alqur'an tidak berubah baik dari bahasa maupun dari terjemahannya.
Penyampaian dan penulisan Alquran berlangsung dalam kurun waktu lebih
dari 23 tahun. Ayat-ayat Alquran dicatat langsung dari bibir Muhammad dari waktu ke waktu oleh para penulis atau mula-mulanya dihafalkan, dan beberapa waktu kemudian baru dituliskan.
Untuk penulisan ketika itu digunakan bahan tulis kasar, yg dipakai orang-orang Arab. Tidak diketahui tempat penyimpanan yang pasti dari bahan-bahan ini, tetapi kemungkinan disimpan di sebuah kamar salah seorang istri Muhammad
atau dipegang oleh orang-orang yang pertama-tama menulisnya.
Banyak juga ayat-ayat yang hanya ada dalam hafalan para pengikutnya, serta
tidak pernah dituangkan dalam bentuk tulisan selama hidupnya.
Setelah Nabi Muhamad meninggal, banyak penghafal ayat-ayat Alquran yang
terbunuh dalam perang Yamama. Oleh karena itu Umar mengusulkan kepada
Abu Bakar supaya semua bab-bab Alquran dikumpulkan.
Dan Tugas tersebut diserahkan kepada Zaid bin Tsabit, ketua penulis atau sekretaris Muhammad. Dia mencari cuplikan-cuplikan Alquran dari setiap tempat, mengumpulkannya menjadi satu, dari daun-daun kurma, lempengan-lempengan batu putih dan dari ingatan-ingatan pengikut-pengikut yang setia.
Naskah pertama yang lengkap dihimpun 20 tahun setelah Muhammad meninggal dan pengurusannya dipercayakan kepada Hafasah, salah satu janda Muhammad.
Dan perlu diingat, kebiasaan MENGINGAT/MENGHAPAL sangat kuat di kalangan
muslim kala itu. Maka, tidak heran jika banyak para sahabat yang hapal ayat
Al Quran seluruhnya, walaupun tidak bisa membaca.
*fyi klo ttg kekuatiran bercampurnya hadis(perkataan/perbuatan Muhammad) ke dalam quran, hal tsb "not gonna happen".
Karena pada awalnya demi alasan kehati-hatian para pemimpin umat islam di masa awal perkembangan islam melarang penulisan hadis.
Jarak musaf al-quran pertama kali selesei ditulis dg awal hadis mulai ditulis, kurang lebih 100 tahun.
*dulu klo ada perbedaan bacaan, kaum islam mula-mula selalu mengembalikan dialek cara membaca ke dialek kaum quraisy. Karena quran diturunkan ke Muhammad, sedangkan Muhammad & aahabat mula-mula adalah kaum quraisy.
*ttg kekuatiran titik (mungkin yg dimaksud harokat?) Yg akan mengubah makna : jangankan mereka yang terlahir sbg bangsa arab, orang jawa yg kemampuan bahasa arabnya bagus, bisa koq membaca tulisan arab tanpa harokat (arab gundul).
om 234 : setuju om. klo menyangkut "dien" paling bener yaa "nafsi-nafsi".
tapi dari thread yg dibuat bu cha_n, ternyata muncul banyak komen yg menambah pengetahuan.
*Ini bicara soal "percaya atau ndak percaya" (belief) (thd Tuhan atau agama) tapi larinya malah ke soal "pembuktian" (apakah agama diciptakan oleh Tuhan atau manusia). Kalo menurut saya sih ya ndak bakalan ada habisnya.
Semasa Muhammad masih hidup, yang percaya quran buatan Tuhan adalah Abu bakar cs.
Yang percaya quran buatan manusia : Abu lahab cs, orang yg bilang muhammad penyair & muhammad gila![]()
Last edited by MoonCying; 11-03-2014 at 12:32 PM.
... sejatinipun nggih... ???
Ini yang veteran banget...
Saya melihat njelimetisme dan romantisme agama seperti sepasang sepatu, yang sebaiknya memang dipakai dua-duanya meskipun bentuknya bertolak belakang satu sama lain (karena kaki kita memang bentuknya bertolak belakang begitu...)
- Saat kita perlu sadar dan tidak jatuh dalam Temporary Crush yang akan merusak rumah tangga kita dan orang lain, kita pakai sepatu njlimetisme... (teori hormon-lah, neurosains-lah... )
- Saat kita bersama anak istri dan rasanya di dunia ini tidak ada lagi yang lebih penting dari kebahagiaan mereka, kita memakai sepatu romantisme (ya Shakespeare-lah, Sitok Srengenge-lah... ups...
)
Nyatanya memang dua hal yang bertolak belakang itu saling melengkapi...
*... duh, masih jetlag nih, ini baru mau sarapan padahal badan masih ikut Indonesia yang hampir makan siang... masak mau dobel?![]()
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
[MENTION=1341]MoonCying[/MENTION]
itu kebijakan standarisasi oleh Usman ibn Affan dan sering diajarkan di kelas-kelas Agama Islam di sekolah umum di Indonesia. Tapi prakteknya tidak sesederhana itu.
Dalam hadits yang dicantumkan di Muwatta yang disusun oleh Imam Malik,*dulu klo ada perbedaan bacaan, kaum islam mula-mula selalu mengembalikan dialek cara membaca ke dialek kaum quraisy. Karena quran diturunkan ke Muhammad, sedangkan Muhammad & aahabat mula-mula adalah kaum quraisy.
yang pertama berbeda adalah Umar ibn Khattab dan Hisyam ibn Hakim ibn Hizam.
Keduanya orang Quraisy, Lahir di Mekkah, dan jelas pasti menggunakan dialek Quraisy.
Tapi toh, berbeda cara membaca surat Al-Furqan.
Menurut riwayat, keduanya dibenarkan oleh Nabi.
Tentu saja, [MENTION=1341]MoonCying[/MENTION] boleh kok menolak hadits yang mengatakan dua orang Quraisyi tersebut berbeda cara baca. Toh, Indonesia ini mazhab-nya rata-rata Syafi'i, bukan Maliki.
[MENTION=1341]MoonCying[/MENTION]*ttg kekuatiran titik (mungkin yg dimaksud harokat?) Yg akan mengubah makna : jangankan mereka yang terlahir sbg bangsa arab, orang jawa yg kemampuan bahasa arabnya bagus, bisa koq membaca tulisan arab tanpa harokat (arab gundul).
Silakan baca topik terpisah tentang Warsh.
http://www.kopimaya.com/forum/showth...4-Bacaan-Warsh
Saya bahkan sengaja memilihkan ayat yang jelas katanya berubah.
Yang satu "taquluuna" (engkau mengatakan) sementara yang satu "yaquluuna" (mereka mengatakan).
Huruf ya dan ta cuma berbeda titik dan menjadikan kata berubah subyek.
Adalagi yang berubah aktif menjadi pasif. Yang satu aktif memiliki arti berperang (qataala), yang pasif memiliki arti dibunuh (qutila).
Sekali lagi, kedua cara membaca itu sah atau benar semua. Tidak ada versi yang satu 'lebih benar' dibandingkan yang lain dan sekali lagi, maknanya sama, yakni para Nabi dan pengikutnya harus berjuang dan menempuh ujian berat. Silakan cek Ali Imran (3:146).
Oh iya, Alquran yang satu lagi (non-Warsh) biasanya disebut sebagai Hafs, merujuk pada Hafsah, janda Nabi Muhammad di sejarah yang kau sebutkan.
Karena maknanya tetap sama, biasanya sih yang Mu'min dan yang tahu persis, tidak khawatir soal perbedaan antara Hafs dan Warsh itu. Hanya orang-orang yang bimbang yang ragu-ragu yang sukar menerima, "kok bisa wahyu dari sumber yang sama, kata-katanya berbeda" biarpun sudah dijelaskan maknanya tetap sama sekalipun.
Tentang Warsh,
diteruskan di topiknya sendiri ya?
Sepakat.
Soalnya standar ganda itu perlu untuk bikin hidup lebih semangat![]()
Last edited by kandalf; 11-03-2014 at 01:23 PM.
Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013
Barusan udah baca tautan bacaan warsh yg dishare kandalf.
Ada beda huruf.
Menurut keyakinan q salah satu dari 2 gambar di atas salah cetak (ntah salah cetaknya sengaja atau tidak sengaja)
-bahkan bisa jadi dua-duanya salah cetak (q tdk bisa meng-judge, karena q blum termasuk penghafal quran. Tapi klo aa gym,din samsudin atau qurais sihab pasti bisa mengjudge instantly)
Klo q berpendirian tulisan yg benar adalah seperti cetakan quran terbitan Departemen Agama RI.
------------------------------
Btw ini adalah pengetahuan baru bagi q. Mungkin ada yg bisa membagi informasi. DAri naskah tulisan hafsah(Istri Nabi Muhammad) bila masih ada, apakah emang benar klo antara huruf ta & ya tdk bisa dibedakan?
Yang kedua : sejak tahun berapa, lalu pertama kali muncul di negara mana (atau di negara mana aja) kasus "bacaan warsh" ini muncul?
YAng ketiga : ataukah udah ada ulama sekelas din samsudin atau qurais sihab yg memberikan tanggapan atas fenomena bacaan warsh ini?
#serius nanya
LHa wong aq sekedar baca qur'an aja "gak teteh"
--------------
MAaf, ternyata di thread warsh kandalf telah mencantumkan 'saos' berupa tautan ke fordis lain.
(Tadi kurang detil memperhatikan aq)
-----------------------
originally posted by kandalf : "Oh iya, Alquran yang satu lagi (non-Warsh) biasanya disebut sebagai Hafs, merujuk pada Hafsah, janda Nabi Muhammad di sejarah yang kau sebutkan"
# di Indonesia di qur'an yg di jual di toko buku, biasanya ada tulisan, ada salah cetak laporkan ke depag.
Tapi ini koq nggak sih,
bisa-bisanya dibiarin muncul 2 versi yg sama-sama ngaku sebutan dia quran. ::
Last edited by MoonCying; 11-03-2014 at 02:13 PM.
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Kesalahan manusia saat berlebihan percaya agama adalah mereka mau aja di brain wash.
Percaya sama Tuhan ya lebih baik jelas.
Jangan mau percaya berlebihan sama agama. Sampe diperalat buat jd teroris sama agama dengan gampangnya.
analogi yang bagus banget om. bedanya orang yang berpengalaman dan bijaksana dengan orang galau kayak saya(bukan soal tua muda, tua itu pasti, dewasa itu pilihan)
bisa aja nemu analoginya. ya ya ya, saya sepakat banget.
salim ama um [MENTION=249]Alip[/MENTION]
lebih veteran mana ya ama um [MENTION=912]234[/MENTION] xixixixi *penting banget dibahas*
hm, jadi memang harus standar ganda ya, dimana menempatkan otak, dimana menempatkan hati
akhirnya ya standar ganda.
trus kalo standar ganda salah atau benar?
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
-->itu kebijakan standarisasi oleh Usman ibn Affan dan sering diajarkan di kelas-kelas Agama Islam di sekolah umum di Indonesia. Tapi prakteknya tidak sesederhana itu.
-->Praktek kebijakan standarisasi bacaan quran oleh usman bin affan (bagi q itu sederhana & memang itulah yang musti dilakukan)
Saos :
judul buku :
Usman bin Affan
Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan
Oleh :
Muhammad Husain Haekal
Diterjemahkan dari bahasa Arab oleh :
Ali Audah
Cetakan kedelapan
Penerbit :
Litera AntarNusa • Pustaka Nasional
Halaman 124
judul sub bab : Usaha penyeragaman dalam bacaan Qur'an
Latar belakang : orang islam dari syam dan dari irak ngumpul bareng di satu tempat.
masing-masing membaca Quran dengan bacaan yang berbeda.
Masing-masing mengklaim bacaannya yang paling baik.
Kelompok yang satu mengafirkan dan yang lain menganggap diri benar.
Melihat perselisihan diatas seorang yang bernama Huzaifah cepat-cepat pulang ke Madinah & langsung menemui usman sebelum pulang ke rumahnya dengan mengatakan : "cepat selamatkan umat ini sebelum menemui kehancuran!"
"Mengenai apa?" tanya usman.
"Mengenai kitabullah," kata huzaifah lagi.
Huzaifah menceritakan ttg perselisihan di atas seraya katanya : "saya khawatir mereka akan berselisih ttg kitab suci kita seperti orang-orang yahudi dan nasrani"
Usman melihat ini memang berbahaya. Ia mengumpulkan beberapa orang lalu meyampaikan pendapatnya : "menurut hemat saya orang harus sepakat dengan hanya ada satu macam bacaan. Kalau sekarang kita berselisih, maka perselisihan generasi sesudah kita akan lebih parah lagi."
Kalangan pemikir menyetujui pendapat usman di atas. Maka dimulailah penyalinan mushaf quran yg pada saat itu ada pada ummulmukminin hafsah binti umar menjadi beberapa mushaf.
Mushaf usman.
Usman memerintahkan untuk menuliskan satu mushaf untuk syam, satu mushaf untuk mesir, satu mushaf dikirimkan ke basrah, satu mushaf untuk kufah, satu untuk mekah, satu untuk yaman dan satu ditinggalkan di madinah.
Umat sudah puas dg semua mushaf ini, dan orang menamakannya mushaf usman, sebab ditulis atas perintah usman, kendati tidak ditulis dengan tangannya sendiri.
Sesudah mushaf-mushaf ini dikirimkan ke kota-kota tadi dan khalifah mewajibkan supaya bacaan itu yang dipakai, ia memerintahkan mushaf-mushaf yang lain dikumpulkan dan dibakar.
Tidak perlu diragukan apa yang sudah dilakukan usman supaya bacaan quran seragam, merupakan kebijakan yang luar biasa. Dengan ini quran tetap terjaga kemurniannya sebagaimana diwahyukan Allah kepada Rasulullah SAW. (kutipan dari buku end sampai disini)
*Sedangkan fordis yg ada pada link kedua di thread ttg bacaan warsh, imho adalah ibarat merobek luka lama dimana khalifah ketiga telah bersusah payah menutup luka itu demi menjaga keutuhan umat islam.
*Fyi dari sekilas q membaca tautan berbahasa inggris yg dishare kandalf. Peserta diskusi di link tsb menikmati bermain dg "waqof" (tanda berhenti pada saat membaca quran) karena dengan itu mereka akan menjumpai pengertian berbeda. Pengertian berbeda yang bagi mereka menyenangkan, tapi bagi q mengkhawatirkan.
Karena,
"Hanya engkaulah ratu di hatiku".
Sangat berbeda maknanya dengan,
"Mereka yg di gang dolly itulah ratu di hatiku"
#kalau ada perbedaan cara membaca, imho, sudah selayaknya kita umat muslim akhir zaman, mengembalikan bacaan sesuai bacaan pada mushaf usman.
*Moga oleh bu pemilik warung post ini tidak di-judge oot*
*hanyalah ingin menyambung obrolan*
![]()
Last edited by MoonCying; 11-03-2014 at 05:59 PM.
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
-->Umar ibn Khattab dan Hisyam ibn Hakim ibn Hizam.
Keduanya orang Quraisy, Lahir di Mekkah, dan jelas pasti menggunakan dialek Quraisy.
Tapi toh, berbeda cara membaca surat Al-Furqan.
Menurut riwayat, keduanya dibenarkan oleh Nabi.
Tentu saja, MoonCying boleh kok menolak hadits yang mengatakan dua orang Quraisyi tersebut berbeda cara baca.
-->
saos :
ht***tp://answers.yahoo.c***om/question/index?qid=20080619040407AAdj09t
Umar radhiallaahu anhu said: “I heard Hishaam ibn Hakeem reciting Soorat al-Furqaan in a manner different from that in which I used to recite it and the way in which the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) taught me to recite it. I was about to argue with him whilst he was praying, but I waited until he finished his prayer, and then I tied his garment around his neck and seized him by it and brought him to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) and said, ‘O Messenger of Allaah, I heard this man reciting Soorat-al-Furqaan in a way different to the way you taught it to me.’ The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said to him, ‘Recite it,’ and he recited it as I had heard him recite it. The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘It was revealed like this.’ Then he said to me, ‘Recite it,’ so I recited it and he said, ‘It was revealed like this.’ This Qur'aan has been revealed in seven different ways, so recite it in the way that is easiest for you.’”
(Narrated by al-Bukhaari, 2287; Muslim, 818)
omong-omong untuk bisa posting komentar di sub forum agama memanglah butuh approve dari moderator.
saya setuju sepenuhnya dg peraturan di atas.
#sabar menunggu, postingan q dari kmrn, mpe pagi ini, blum di approve juga.
#lalu q mau meralat tulisan q di page sebelumnya.
q bilang bahwa 4 madzab = sunni, syiah, + dua lagi ntah apa.
#lalu q pas senggang kmrn lurking-lurking di forum agama islam "KM".
ternyata pernyataan q di atas salah.
#ttg madzab ada dibahas koq di thread tersendiri koq di forum agama KM.
cari aja yang judulnya "Madzab"![]()
Penyebutan standar ganda memang berkonotasi negatif sih, makanya cenderung sampai pada salah atau benar.
Aslinya sih itu cuma menggunakan seluruh alat yang ada pada porsi yang dibutuhkan. Kalau mau motong papan, pakai gergaji, kalau mau muter sekrup, pake obeng, kalau mau mbenamin paku, ya pake palu. Orang yang cuma bisa pake palu akan memperlakukan semua hal sebagai paku... Jadi standarnya sebenarnya tunggal: pakailah alat yang sesuai. Kalau kebutuhannya beda, ya pake alat yang berbeda.
misalnya,
saya sendiri punya hipotesa bahwa semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi, akan semakin terbukti bahwa Tuhan itu tidak ada. Tapi alih-alih menjadikan saya sebagai atheis di satu sisi, atau pembenci iptek di sisi lain, hipotesa ini membuat saya percaya pada Tuhan dan sekaligus hobi ngikuti perkembangan iptek. Karena kalau melihat segala macam atribut yang disebutkan agama-agama yang saling bertolak belakang dan bertentangan dengan logika, berarti Dia haruslah berada pada posisi yang melampaui semua atribut alami di alam ini, dus, harus "terbukti tidak ada" di semesta.
Tuh, dua hal yang bertolak belakang tapi saling melengkapi... tapi buat saya aja loh yaaaa
Melihat agama dengan akal memang akan sampai pada keraguan, kebimbangan dan kegalauan (eh, semua itu sinonim ya?), sehingga banyak yang memilih sembunyi di balik doktrin, kalau perlu sampai menyalahkan pihak lain yang tidak sepaham. Tapi sesungguhnya itu tidak perlu, karena seperti kata veteran dari kamar sebelah, KangMas Jisamsu, itu suatu keniscayaan. Keraguan adalah perjalanan menuju keyakinan yang asyik.
Tentu saja ini dari kacamata orang-orang yang melihat agama sebagai suatu wahana pencarian, bukan sebagai suatu paket mati instan jaminan masuk surga. Orang yang melihat agama sebagai pencarian akan berselancar di naik-turunnya ombak menuju tujuannya, kadang terguling, kadang terjungkir... tapi dia jalan terus dan malah having fun. sedangkan orang paket mati akan memperlakukan papan selancar itu seperti kayu yang mengapung di lautan luas, mati-matian berpegang erat ke situ sambil sibuk memaki-maki ombak yang datang karena membuat matanya perih. Yang satu melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan beragama, yang lain sibuk ketakutan dan berharap papan selancarnya akan jalan sendiri.
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"