Tambahan intermezo mengenai persoalan "(ke)benar(an)" dan "(ke)baik(an)", dua term yg sering saya sisipkan dlm tulisan2 di beberapa tret...
Kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "benar" dan satunya "tidak benar", jelas saya akan pilih yg benar. Dan dlm konteks (ke)Tuhan(an) disini, saya agnostis.
Kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "baik" dan satunya "tidak baik", jelas saya akan pilih yg baik. Dan dlm konteks (ke)Tuhan(an) disini, saya theist.
Tapi bagaimana kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "benar tapi tidak baik" dan satunya "baik tapi tidak benar"? Bismillah saya pilih yang baik, meskipun itu tidak benar.
Bagi saya, bicara ttg Tuhan dan agama adalah bicara ttg kebajikan, bukan kebenaran. Kebenaran hanya sekedar bonusnya. Ini pernah scr eksplisit saya sampaikan dlm posting di tret lain.
Dan di tret lain juga saya pernah sampaikan bahwa saya beragama (dan ber-Tuhan) bukan untuk (nyari) kebenaran, melainkan untuk (nyari) kebaikan. Lalu kalo begitu bagaimana saya bisa mendapatkan sebuah kebenaran? Jawabnya, sebagai seorang theist, saya percaya bahwa kebenaran tsb datangnya dari Tuhan. Sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Saya ndak merasa perlu untuk nyari, apalagi sampai mati2an nyarinya. Nyantai aja kaleee...
Tapi kebenaran disitu bukan kebenaran "2+2=4" alias kebenaran "ilmiah" lho. Kalo kebenaran yg ini sih saya nyarinya mendingan pake akal sepenuhnya. Dan sebagai theist saya percaya bahwa akal saya adalah karunia-Nya. Lha mosok saya percaya kepada-Nya kok malah mau me-nyia2kan karunia-Nya

Lalu, untuk apa saya nyari2 kebenaran dlm hal ini? Ya kembali ke paragraf sebelumnya, yaitu: kebaikan.