Page 6 of 12 FirstFirst ... 45678 ... LastLast
Results 101 to 120 of 229

Thread: Percaya Tuhan atau Agama?

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    kok aku malah mikir sebaliknya ya, agama memberikan petunjuk gimana bisa lebih dekat dengan Tuhan.
    Titik pentingnya adalah di:

    Namun bgitu, orang itu tidak pernah benar-benar bertemu Tuhan yg diberitakan itu sampai matinya (krn katanya itu impossible).

  2. #2
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    Titik pentingnya adalah di:

    Namun bgitu, orang itu tidak pernah benar-benar bertemu Tuhan yg diberitakan itu sampai matinya (krn katanya itu impossible).
    agama apaan tuh?

    om, jelasin yang tuhan personal dll dong
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  3. #3
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    agama apaan tuh?

    om, jelasin yang tuhan personal dll dong
    Tuhan yg 'personal' itu adalah Tuhan yg bisa kamu sendiri bisa dengar suaraNya, kamu lihat wujudNya dan kamu bisa interaksi denganNya.
    Jd Tuhan yg bukan skadar tulisan, kalimat, huruf atau jabaran sifat-sifat yg disampaikan orang lain.

    Kl yg dbawah itu adalah Tuhan yg teoritis.
    Biasanya upaya menjangkau Tuhan yg teoritis itu mnggunakan sprangkat ritual yg tidak habis-habisnya.

    -------

    Para atheist mmahami 'Tuhan teoritis' tp mreka tidak pcaya krn bagi mreka Tuhan itu tidak 'personal'.

  4. #4

    Jaminan Allah Terhadap Kemurnian AlQuran

    Dalam Al Quran Allah mengatakan jika Allah sendirilah yang menjamin terpeliharanya Al Qur'an dari segala bentuk penggantian, pengubahan, pengurangan dan penambahan.

    "Sungguh, Kamilah yang menurunkannya (Al Qur'an) dan kamilah yang menjaganya." [Al Hijr: 9]

    "Tidak disentuh oleh kebatilan dari depan ataupun dari belakang (secara terang-terangan ataupun secara samar-samar). Ia (Al Qur'an) diturunkan oleh Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji." [Fushshilat: 42]

    dari dulu sampai sekarang alqur'an tidak berubah baik dari bahasa maupun dari terjemahannya.

    Penyampaian dan penulisan Alquran berlangsung dalam kurun waktu lebih
    dari 23 tahun. Ayat-ayat Alquran dicatat langsung dari bibir Muhammad dari waktu ke waktu oleh para penulis atau mula-mulanya dihafalkan, dan beberapa waktu kemudian baru dituliskan.

    Untuk penulisan ketika itu digunakan bahan tulis kasar, yg dipakai orang-orang Arab. Tidak diketahui tempat penyimpanan yang pasti dari bahan-bahan ini, tetapi kemungkinan disimpan di sebuah kamar salah seorang istri Muhammad
    atau dipegang oleh orang-orang yang pertama-tama menulisnya.
    Banyak juga ayat-ayat yang hanya ada dalam hafalan para pengikutnya, serta
    tidak pernah dituangkan dalam bentuk tulisan selama hidupnya.

    Setelah Nabi Muhamad meninggal, banyak penghafal ayat-ayat Alquran yang
    terbunuh dalam perang Yamama. Oleh karena itu Umar mengusulkan kepada
    Abu Bakar supaya semua bab-bab Alquran dikumpulkan.

    Dan Tugas tersebut diserahkan kepada Zaid bin Tsabit, ketua penulis atau sekretaris Muhammad. Dia mencari cuplikan-cuplikan Alquran dari setiap tempat, mengumpulkannya menjadi satu, dari daun-daun kurma, lempengan-lempengan batu putih dan dari ingatan-ingatan pengikut-pengikut yang setia.

    Naskah pertama yang lengkap dihimpun 20 tahun setelah Muhammad meninggal dan pengurusannya dipercayakan kepada Hafasah, salah satu janda Muhammad.

    Dan perlu diingat, kebiasaan MENGINGAT/MENGHAPAL sangat kuat di kalangan
    muslim kala itu. Maka, tidak heran jika banyak para sahabat yang hapal ayat
    Al Quran seluruhnya, walaupun tidak bisa membaca.

    *fyi klo ttg kekuatiran bercampurnya hadis(perkataan/perbuatan Muhammad) ke dalam quran, hal tsb "not gonna happen".
    Karena pada awalnya demi alasan kehati-hatian para pemimpin umat islam di masa awal perkembangan islam melarang penulisan hadis.
    Jarak musaf al-quran pertama kali selesei ditulis dg awal hadis mulai ditulis, kurang lebih 100 tahun.

    *dulu klo ada perbedaan bacaan, kaum islam mula-mula selalu mengembalikan dialek cara membaca ke dialek kaum quraisy. Karena quran diturunkan ke Muhammad, sedangkan Muhammad & aahabat mula-mula adalah kaum quraisy.

    *ttg kekuatiran titik (mungkin yg dimaksud harokat?) Yg akan mengubah makna : jangankan mereka yang terlahir sbg bangsa arab, orang jawa yg kemampuan bahasa arabnya bagus, bisa koq membaca tulisan arab tanpa harokat (arab gundul).



    om 234 : setuju om. klo menyangkut "dien" paling bener yaa "nafsi-nafsi".
    tapi dari thread yg dibuat bu cha_n, ternyata muncul banyak komen yg menambah pengetahuan.

    *Ini bicara soal "percaya atau ndak percaya" (belief) (thd Tuhan atau agama) tapi larinya malah ke soal "pembuktian" (apakah agama diciptakan oleh Tuhan atau manusia). Kalo menurut saya sih ya ndak bakalan ada habisnya.

    Semasa Muhammad masih hidup, yang percaya quran buatan Tuhan adalah Abu bakar cs.

    Yang percaya quran buatan manusia : Abu lahab cs, orang yg bilang muhammad penyair & muhammad gila
    Last edited by MoonCying; 11-03-2014 at 12:32 PM.

  5. #5
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    [MENTION=1341]MoonCying[/MENTION]
    itu kebijakan standarisasi oleh Usman ibn Affan dan sering diajarkan di kelas-kelas Agama Islam di sekolah umum di Indonesia. Tapi prakteknya tidak sesederhana itu.


    *dulu klo ada perbedaan bacaan, kaum islam mula-mula selalu mengembalikan dialek cara membaca ke dialek kaum quraisy. Karena quran diturunkan ke Muhammad, sedangkan Muhammad & aahabat mula-mula adalah kaum quraisy.
    Dalam hadits yang dicantumkan di Muwatta yang disusun oleh Imam Malik,
    yang pertama berbeda adalah Umar ibn Khattab dan Hisyam ibn Hakim ibn Hizam.
    Keduanya orang Quraisy, Lahir di Mekkah, dan jelas pasti menggunakan dialek Quraisy.
    Tapi toh, berbeda cara membaca surat Al-Furqan.

    Menurut riwayat, keduanya dibenarkan oleh Nabi.

    Tentu saja, [MENTION=1341]MoonCying[/MENTION] boleh kok menolak hadits yang mengatakan dua orang Quraisyi tersebut berbeda cara baca. Toh, Indonesia ini mazhab-nya rata-rata Syafi'i, bukan Maliki.

    *ttg kekuatiran titik (mungkin yg dimaksud harokat?) Yg akan mengubah makna : jangankan mereka yang terlahir sbg bangsa arab, orang jawa yg kemampuan bahasa arabnya bagus, bisa koq membaca tulisan arab tanpa harokat (arab gundul).
    [MENTION=1341]MoonCying[/MENTION]
    Silakan baca topik terpisah tentang Warsh.
    http://www.kopimaya.com/forum/showth...4-Bacaan-Warsh

    Saya bahkan sengaja memilihkan ayat yang jelas katanya berubah.
    Yang satu "taquluuna" (engkau mengatakan) sementara yang satu "yaquluuna" (mereka mengatakan).
    Huruf ya dan ta cuma berbeda titik dan menjadikan kata berubah subyek.


    Adalagi yang berubah aktif menjadi pasif. Yang satu aktif memiliki arti berperang (qataala), yang pasif memiliki arti dibunuh (qutila).

    Sekali lagi, kedua cara membaca itu sah atau benar semua. Tidak ada versi yang satu 'lebih benar' dibandingkan yang lain dan sekali lagi, maknanya sama, yakni para Nabi dan pengikutnya harus berjuang dan menempuh ujian berat. Silakan cek Ali Imran (3:146).

    Oh iya, Alquran yang satu lagi (non-Warsh) biasanya disebut sebagai Hafs, merujuk pada Hafsah, janda Nabi Muhammad di sejarah yang kau sebutkan.

    Karena maknanya tetap sama, biasanya sih yang Mu'min dan yang tahu persis, tidak khawatir soal perbedaan antara Hafs dan Warsh itu. Hanya orang-orang yang bimbang yang ragu-ragu yang sukar menerima, "kok bisa wahyu dari sumber yang sama, kata-katanya berbeda" biarpun sudah dijelaskan maknanya tetap sama sekalipun.

    Tentang Warsh,
    diteruskan di topiknya sendiri ya?

    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Saya melihat njelimetisme dan romantisme agama seperti sepasang sepatu, yang sebaiknya memang dipakai dua-duanya meskipun bentuknya bertolak belakang satu sama lain (karena kaki kita memang bentuknya bertolak belakang begitu...)

    • Saat kita perlu sadar dan tidak jatuh dalam Temporary Crush yang akan merusak rumah tangga kita dan orang lain, kita pakai sepatu njlimetisme... (teori hormon-lah, neurosains-lah... )
    • Saat kita bersama anak istri dan rasanya di dunia ini tidak ada lagi yang lebih penting dari kebahagiaan mereka, kita memakai sepatu romantisme (ya Shakespeare-lah, Sitok Srengenge-lah... ups... )



    Nyatanya memang dua hal yang bertolak belakang itu saling melengkapi...
    Sepakat.
    Soalnya standar ganda itu perlu untuk bikin hidup lebih semangat
    Last edited by kandalf; 11-03-2014 at 01:23 PM.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  6. #6
    Barusan udah baca tautan bacaan warsh yg dishare kandalf.

    Ada beda huruf.
    Menurut keyakinan q salah satu dari 2 gambar di atas salah cetak (ntah salah cetaknya sengaja atau tidak sengaja)

    -bahkan bisa jadi dua-duanya salah cetak (q tdk bisa meng-judge, karena q blum termasuk penghafal quran. Tapi klo aa gym,din samsudin atau qurais sihab pasti bisa mengjudge instantly )

    Klo q berpendirian tulisan yg benar adalah seperti cetakan quran terbitan Departemen Agama RI.


    ------------------------------

    Btw ini adalah pengetahuan baru bagi q. Mungkin ada yg bisa membagi informasi. DAri naskah tulisan hafsah(Istri Nabi Muhammad) bila masih ada, apakah emang benar klo antara huruf ta & ya tdk bisa dibedakan?

    Yang kedua : sejak tahun berapa, lalu pertama kali muncul di negara mana (atau di negara mana aja) kasus "bacaan warsh" ini muncul?

    YAng ketiga : ataukah udah ada ulama sekelas din samsudin atau qurais sihab yg memberikan tanggapan atas fenomena bacaan warsh ini?

    #serius nanya
    LHa wong aq sekedar baca qur'an aja "gak teteh"


    --------------



    MAaf, ternyata di thread warsh kandalf telah mencantumkan 'saos' berupa tautan ke fordis lain.

    (Tadi kurang detil memperhatikan aq)

    -----------------------

    originally posted by kandalf : "Oh iya, Alquran yang satu lagi (non-Warsh) biasanya disebut sebagai Hafs, merujuk pada Hafsah, janda Nabi Muhammad di sejarah yang kau sebutkan"
    # di Indonesia di qur'an yg di jual di toko buku, biasanya ada tulisan, ada salah cetak laporkan ke depag.

    Tapi ini koq nggak sih,
    bisa-bisanya dibiarin muncul 2 versi yg sama-sama ngaku sebutan dia quran. ::
    Last edited by MoonCying; 11-03-2014 at 02:13 PM.

  7. #7
    Kesalahan manusia saat berlebihan percaya agama adalah mereka mau aja di brain wash.
    Percaya sama Tuhan ya lebih baik jelas.
    Jangan mau percaya berlebihan sama agama. Sampe diperalat buat jd teroris sama agama dengan gampangnya.

  8. #8
    -->itu kebijakan standarisasi oleh Usman ibn Affan dan sering diajarkan di kelas-kelas Agama Islam di sekolah umum di Indonesia. Tapi prakteknya tidak sesederhana itu.

    -->Praktek kebijakan standarisasi bacaan quran oleh usman bin affan (bagi q itu sederhana & memang itulah yang musti dilakukan)

    Saos :
    judul buku :
    Usman bin Affan
    Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan

    Oleh :
    Muhammad Husain Haekal

    Diterjemahkan dari bahasa Arab oleh :
    Ali Audah

    Cetakan kedelapan

    Penerbit :
    Litera AntarNusa • Pustaka Nasional

    Halaman 124

    judul sub bab : Usaha penyeragaman dalam bacaan Qur'an

    Latar belakang : orang islam dari syam dan dari irak ngumpul bareng di satu tempat.
    masing-masing membaca Quran dengan bacaan yang berbeda.
    Masing-masing mengklaim bacaannya yang paling baik.
    Kelompok yang satu mengafirkan dan yang lain menganggap diri benar.

    Melihat perselisihan diatas seorang yang bernama Huzaifah cepat-cepat pulang ke Madinah & langsung menemui usman sebelum pulang ke rumahnya dengan mengatakan : "cepat selamatkan umat ini sebelum menemui kehancuran!"

    "Mengenai apa?" tanya usman.

    "Mengenai kitabullah," kata huzaifah lagi.

    Huzaifah menceritakan ttg perselisihan di atas seraya katanya : "saya khawatir mereka akan berselisih ttg kitab suci kita seperti orang-orang yahudi dan nasrani"

    Usman melihat ini memang berbahaya. Ia mengumpulkan beberapa orang lalu meyampaikan pendapatnya : "menurut hemat saya orang harus sepakat dengan hanya ada satu macam bacaan. Kalau sekarang kita berselisih, maka perselisihan generasi sesudah kita akan lebih parah lagi."

    Kalangan pemikir menyetujui pendapat usman di atas. Maka dimulailah penyalinan mushaf quran yg pada saat itu ada pada ummulmukminin hafsah binti umar menjadi beberapa mushaf.

    Mushaf usman.
    Usman memerintahkan untuk menuliskan satu mushaf untuk syam, satu mushaf untuk mesir, satu mushaf dikirimkan ke basrah, satu mushaf untuk kufah, satu untuk mekah, satu untuk yaman dan satu ditinggalkan di madinah.
    Umat sudah puas dg semua mushaf ini, dan orang menamakannya mushaf usman, sebab ditulis atas perintah usman, kendati tidak ditulis dengan tangannya sendiri.

    Sesudah mushaf-mushaf ini dikirimkan ke kota-kota tadi dan khalifah mewajibkan supaya bacaan itu yang dipakai, ia memerintahkan mushaf-mushaf yang lain dikumpulkan dan dibakar.

    Tidak perlu diragukan apa yang sudah dilakukan usman supaya bacaan quran seragam, merupakan kebijakan yang luar biasa. Dengan ini quran tetap terjaga kemurniannya sebagaimana diwahyukan Allah kepada Rasulullah SAW. (kutipan dari buku end sampai disini)



    *Sedangkan fordis yg ada pada link kedua di thread ttg bacaan warsh, imho adalah ibarat merobek luka lama dimana khalifah ketiga telah bersusah payah menutup luka itu demi menjaga keutuhan umat islam.
    *Fyi dari sekilas q membaca tautan berbahasa inggris yg dishare kandalf. Peserta diskusi di link tsb menikmati bermain dg "waqof" (tanda berhenti pada saat membaca quran) karena dengan itu mereka akan menjumpai pengertian berbeda. Pengertian berbeda yang bagi mereka menyenangkan, tapi bagi q mengkhawatirkan.

    Karena,
    "Hanya engkaulah ratu di hatiku".
    Sangat berbeda maknanya dengan,
    "Mereka yg di gang dolly itulah ratu di hatiku"

    #kalau ada perbedaan cara membaca, imho, sudah selayaknya kita umat muslim akhir zaman, mengembalikan bacaan sesuai bacaan pada mushaf usman.

    *Moga oleh bu pemilik warung post ini tidak di-judge oot*

    *hanyalah ingin menyambung obrolan*
    Last edited by MoonCying; 11-03-2014 at 05:59 PM.

  9. #9
    -->Umar ibn Khattab dan Hisyam ibn Hakim ibn Hizam.
    Keduanya orang Quraisy, Lahir di Mekkah, dan jelas pasti menggunakan dialek Quraisy.
    Tapi toh, berbeda cara membaca surat Al-Furqan.

    Menurut riwayat, keduanya dibenarkan oleh Nabi.

    Tentu saja, MoonCying boleh kok menolak hadits yang mengatakan dua orang Quraisyi tersebut berbeda cara baca.

    -->
    saos :
    ht***tp://answers.yahoo.c***om/question/index?qid=20080619040407AAdj09t

    Umar radhiallaahu anhu said: “I heard Hishaam ibn Hakeem reciting Soorat al-Furqaan in a manner different from that in which I used to recite it and the way in which the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) taught me to recite it. I was about to argue with him whilst he was praying, but I waited until he finished his prayer, and then I tied his garment around his neck and seized him by it and brought him to the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) and said, ‘O Messenger of Allaah, I heard this man reciting Soorat-al-Furqaan in a way different to the way you taught it to me.’ The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said to him, ‘Recite it,’ and he recited it as I had heard him recite it. The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) said, ‘It was revealed like this.’ Then he said to me, ‘Recite it,’ so I recited it and he said, ‘It was revealed like this.’ This Qur'aan has been revealed in seven different ways, so recite it in the way that is easiest for you.’”

    (Narrated by al-Bukhaari, 2287; Muslim, 818)



    omong-omong untuk bisa posting komentar di sub forum agama memanglah butuh approve dari moderator.
    saya setuju sepenuhnya dg peraturan di atas.
    #sabar menunggu, postingan q dari kmrn, mpe pagi ini, blum di approve juga.



    #lalu q mau meralat tulisan q di page sebelumnya.
    q bilang bahwa 4 madzab = sunni, syiah, + dua lagi ntah apa.

    #lalu q pas senggang kmrn lurking-lurking di forum agama islam "KM".
    ternyata pernyataan q di atas salah.

    #ttg madzab ada dibahas koq di thread tersendiri koq di forum agama KM.
    cari aja yang judulnya "Madzab"

  10. #10
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Quote Originally Posted by Alip
    ... sejatinipun nggih... ???
    Ketok uduk asli Jowo. Sejatosipun yayi, bukan sejatose eh sejatinipun.

    Quote Originally Posted by Chan
    salim ama um @Alip
    lebih veteran mana ya ama um @234
    Yg jelas sih, menurut hasil terawanganku, sayalah yg lebih...tuwek.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  11. #11
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Quote Originally Posted by Purba
    Quote Originally Posted by 234
    Lha wong percaya ato ndak percaya itu pilihan bebas kok, tanpa bukti dan tanpa alasanpun sah2 aja
    Saya kok ndak yakin kalo sampeyan percaya tuhan hanyalah karena sebuah pilihan bebas saja.
    Jangankan sampeyan, lha wong saya sendiri juga ndak yakin kok.

    Ini serius lho, soale kalo udah soal "yakin ato ndak yakin" sbg orang yg cenderung skeptis saya justru berusaha menghindari kondisi 100% yakin thd sesuatu (apapun). Sekecil apapun, saya tetap ingin menyisakan sebuah "wilayah steril" dimana disitu saya berkuasa penuh atas diri saya sendiri.

    Tapi kalo mengenai hal "pilihan bebas" (tulisan saya yg anda kutip diatas) tentu saya punya reason dibalik pernyataan tsb.

    Kalo term "pilihan bebas" disitu dibilang sbg "pilihan tanpa sebab" tentu bukan itu maksud saya.

    Bagi saya pribadi, pilihan adalah sebuah bentuk komitmen. Dan tentu saja pilihan itu ndak muncul scr ujug2 tanpa sebab. Bagi saya, tidak ada sesuatu yg tanpa sebab. Tapi, dlm konteks ini, dlm definisi saya, sebab tsb ndak bisa disamakan sbg bentuk (pem)bukti(an) ataupun reason (alasan logis) meskipun tetap tidak tertutup kemungkinan didlm sebab tsb ada terkandung bukti dan/atau reasons.

    Itu yg saya maksud dgn "pilhan bebas" disitu. "Bebas" dlm arti tidak perlu ada bukti dan alasan (reasons), tapi bukan berarti "bebas" dlm arti tanpa ada sebab.

    Tapi kalo yg sampeyan pertanyakan, mungkin (CMIIW), apakah didlm sebab tsb ada unsur "keterpaksaan" maka jawaban saya akan menjadi "mbulet", krn sejatinya saya memang ndak bisa jawab scr eksplisit dgn jawaban Ya atau Tidak.

    Benar bahwa saya theist "sejak lahir", dan saya tidak tahu dan tidak inget apakah saat itu saya punya pilihan atau tidak. Bahkan saya juga ndak ingat kapan persisnya saya benar2 punya pilihan atas hal tsb. So, anggap saja saya punya pilihan sejak menginjak usia tertentu.

    Lalu kenapa sejak dari umur tsb sampe sekarang saya tetap keukeuh (memilih) theist? Kenapa saya tidak (minimal mencoba untuk) memilih menjadi atheist? Bukankah saya punya "pilihan bebas"?

    Jawaban saya, karena saya tidak (belum) menemukan alasan (baca: sebab) yg tepat, yg bagus, yg menarik, bahkan termasuk yg rasional (reason), dan yang paling penting adalah yg bisa memberi manfaat bagi diri saya, sehingga sampe pada titik dimana saya berketetapan untuk mengubah pilihan (bisa dibaca juga: komitmen) saya sebagai theist.

    Memang, sebagai bentuk pilihan, bisa saja saat inipun saya mengubah pilihan saya menjadi atheist atau skeptis (baca: bukan theist sekaligus bukan atheist, alias "memilih untuk tidak memilih"). Namanya juga "pilihan bebas".

    Tapi kalo itu saya lakukan, lalu apa yg akan terjadi? Apalagi ditambah lagi saya memang seorang agnostis.

    Maka besok saya akan balik lagi jadi theist, lusa jadi skeptis, minggu depan jadi atheist, bulan depan theist lagi, bahkan setelah itu bisa setiap saat berubah theist-skeptis-atheist terus menerus bebas-sebebas2nya.

    Lalu apa itu artinya? Artinya, saya sudah melanggar "definisi" (bisa juga dibaca: komitmen) yg saya buat sendiri. Saya sudah mencampur-adukkan "nature" (antara) belief dgn faith. Apa yg saya bilang (definisikan) sbg bentuk belief ternyata sejatinya saya perlakukan sbg bentuk faith. Belief menjadi bersifat seperti "ombak" yg sebelumnya saya jadikan itu sbg analogi untuk faith. Lha manusia macam apa saya jadinya kalo begitu? Bikin komitmen sendiri tapi di-injak2 sendiri.

    Bebas sih bebas, tapi bukan berarti bebas-sebebas2nya kan? Saya bebas memilih/berkomitment, dan pilihan/komitmen itulah yg (akan) membatasi kebebasan saya. Dus, saya bebas untuk (menjadi) tidak bebas. Mbulet kan?!

    Dan kalo itu dikaitkan dgn persoalan ttg (ke)Tuhan(an), mungkin (saya memang ndak berani bilang pasti) hal itulah yg melandasi kenapa saya (cenderung) memilih sbg theist, meskipun saya menyadari bahwa saya agnostis. Saya "butuh sesuatu diluar diri saya" yg bisa "(maha) mengawasi, mengingatkan, kalo perlu menjewer, dll" thd sejauh mana saya menjaga setiap komitmen yg saya buat untuk diri saya sendiri.

    So, dlm konteks tsb, saya (memilih menjadi) theist karena adanya "kebutuhan" akan hal tsb. Tapi sekali lagi ini hanya kemungkinan, saya sendiri ndak sepenuhnya yakin.

    Lalu bagaimana dgn kebutuhan akan surga? Halagh!



    ---------- Post Merged at 01:41 PM ----------

    Tambahan intermezo mengenai persoalan "(ke)benar(an)" dan "(ke)baik(an)", dua term yg sering saya sisipkan dlm tulisan2 di beberapa tret...

    Kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "benar" dan satunya "tidak benar", jelas saya akan pilih yg benar. Dan dlm konteks (ke)Tuhan(an) disini, saya agnostis.

    Kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "baik" dan satunya "tidak baik", jelas saya akan pilih yg baik. Dan dlm konteks (ke)Tuhan(an) disini, saya theist.

    Tapi bagaimana kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "benar tapi tidak baik" dan satunya "baik tapi tidak benar"? Bismillah saya pilih yang baik, meskipun itu tidak benar.

    Bagi saya, bicara ttg Tuhan dan agama adalah bicara ttg kebajikan, bukan kebenaran. Kebenaran hanya sekedar bonusnya. Ini pernah scr eksplisit saya sampaikan dlm posting di tret lain.

    Dan di tret lain juga saya pernah sampaikan bahwa saya beragama (dan ber-Tuhan) bukan untuk (nyari) kebenaran, melainkan untuk (nyari) kebaikan. Lalu kalo begitu bagaimana saya bisa mendapatkan sebuah kebenaran? Jawabnya, sebagai seorang theist, saya percaya bahwa kebenaran tsb datangnya dari Tuhan. Sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Saya ndak merasa perlu untuk nyari, apalagi sampai mati2an nyarinya. Nyantai aja kaleee...

    Tapi kebenaran disitu bukan kebenaran "2+2=4" alias kebenaran "ilmiah" lho. Kalo kebenaran yg ini sih saya nyarinya mendingan pake akal sepenuhnya. Dan sebagai theist saya percaya bahwa akal saya adalah karunia-Nya. Lha mosok saya percaya kepada-Nya kok malah mau me-nyia2kan karunia-Nya Lalu, untuk apa saya nyari2 kebenaran dlm hal ini? Ya kembali ke paragraf sebelumnya, yaitu: kebaikan.


  12. #12
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    So, dlm konteks tsb, saya (memilih menjadi) theist karena adanya "kebutuhan" akan hal tsb. Tapi sekali lagi ini hanya kemungkinan, saya sendiri ndak sepenuhnya yakin.
    Ok saya paham penjelasan sampeyan ttg pilihan bebas.

    Tambahan intermezo mengenai persoalan "(ke)benar(an)" dan "(ke)baik(an)", dua term yg sering saya sisipkan dlm tulisan2 di beberapa tret...

    Kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "benar" dan satunya "tidak benar", jelas saya akan pilih yg benar. Dan dlm konteks (ke)Tuhan(an) disini, saya agnostis.

    Kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "baik" dan satunya "tidak baik", jelas saya akan pilih yg baik. Dan dlm konteks (ke)Tuhan(an) disini, saya theist.

    Tapi bagaimana kalo ada dua hal dimana menurut saya yg satu "benar tapi tidak baik" dan satunya "baik tapi tidak benar"? Bismillah saya pilih yang baik, meskipun itu tidak benar.

    Bagi saya, bicara ttg Tuhan dan agama adalah bicara ttg kebajikan, bukan kebenaran. Kebenaran hanya sekedar bonusnya. Ini pernah scr eksplisit saya sampaikan dlm posting di tret lain.

    Dan di tret lain juga saya pernah sampaikan bahwa saya beragama (dan ber-Tuhan) bukan untuk (nyari) kebenaran, melainkan untuk (nyari) kebaikan. Lalu kalo begitu bagaimana saya bisa mendapatkan sebuah kebenaran? Jawabnya, sebagai seorang theist, saya percaya bahwa kebenaran tsb datangnya dari Tuhan. Sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Saya ndak merasa perlu untuk nyari, apalagi sampai mati2an nyarinya. Nyantai aja kaleee...

    Tapi kebenaran disitu bukan kebenaran "2+2=4" alias kebenaran "ilmiah" lho. Kalo kebenaran yg ini sih saya nyarinya mendingan pake akal sepenuhnya. Dan sebagai theist saya percaya bahwa akal saya adalah karunia-Nya. Lha mosok saya percaya kepada-Nya kok malah mau me-nyia2kan karunia-Nya Lalu, untuk apa saya nyari2 kebenaran dlm hal ini? Ya kembali ke paragraf sebelumnya, yaitu: kebaikan.
    Di awal saya mengira apa yg sampeyan sebut dengan "kebenaran" adalah kebenaran ilmiah. Tapi di paragraf terakhir, sampeyan menegasikannya. Jadi, apa yg sampeyan maksud dengan "kebenaran" tsb?

  13. #13
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    ^
    Yup, setelah saya baca ulang ternyata tulisan saya di dua paragraf terakhir memang rancu. Maaf.

    Tapi akan coba saya jelaskan dgn mengutip lagi tulisan tsb:

    Quote Originally Posted by 234
    Dan di tret lain juga saya pernah sampaikan bahwa saya beragama (dan ber-Tuhan) bukan untuk (nyari) kebenaran, melainkan untuk (nyari) kebaikan. Lalu kalo begitu bagaimana saya bisa mendapatkan sebuah kebenaran? Jawabnya, sebagai seorang theist, saya percaya bahwa kebenaran tsb datangnya dari Tuhan. Sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Saya ndak merasa perlu untuk nyari, apalagi sampai mati2an nyarinya. Nyantai aja kaleee...
    Untuk kata "kebenaran" yg pertama (bold), itu analog dgn kebenaran "ilmiah" yg saya maksud di paragraf berikutnya. Saya memang ndak nyari kebenaran seperti itu dlm agama karena jangankan kebenaran saint yg njlimet2, bahkan untuk mencari kebenaran simpel (misalnya "2+2=?") pun ndak bakal saya dapatkan dlm agama.

    Sedangkan dua kata "kebenaran" (bold) berikutnya mestinya saya tuliskan pake huruf besar yaitu "Kebenaran". Entah itu disebut/diistilahkan sbg Kebenaran Sejati, Kebenaran Mutlak, Kebenaran Tertinggi, atau apaun istilahnya. Itu yg saya maksud.

    Dan sikap saya thd hal tsb (Kebenaran) rasanya cukup jelas saya sampaikan disitu, yaitu "...sebagai seorang theist, saya percaya bahwa Kebenaran tsb datangnya dari Tuhan. Sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Saya ndak merasa perlu untuk nyari, apalagi sampai mati2an nyarinya..."

    Tapi bagaimanapun, saya akui bahwa (tulisan) saya salah scr konteks karena saya telah "mencampur-adukkan" dua hal yg jelas berbeda dalam satu konteks rangkaian kalimat bersambung (dlm dua paragraf terakhir) shg rancu, bahkan alur antar kalimatnya jadi "ndak nyambung". Sekali lagi maaf.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  14. #14
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    ^
    Kayaknya akan lebih menarik kalo anda cerita ttg pengalaman anda sendiri, bukan tentang orang lain si anu si nenek dan si nunuk... Soale kebetulan alm nenek saya juga sangat lugu dan tinggal di daerah terpencil yg kadang saya malah ngiri dgn keluguan dan "kebodohan" beliau.

    Saya siap menyimak kok kalo ada yg mau cerita pengalaman pribadi di tret ini, suwer samber gledek saya ndak akan mendebat apalagi mencela pengalaman langsung dr orang lain.

    Tapi kalo itu hanya hasil perenungan doang juga ndak apa2. Apalagi ini di sub-topik "Dunia Ide". Akan lebih afdol lagi kalo tanpa perlu eksplisit bawa2 'agama' yg sekedar dalil2 dan seperangkat aturan tetekbengek seperti yg anda bilang.

    Itung2 bagi saya untuk mencoba memahami corak pemikiran orang lain scr langsung dr orang ybs yg sudah mengalami sendiri, bukan hanya katanya katanya dan katanya dari cerita pihak ketiga keempat kelima dst.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  15. #15
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    ^
    Ini memang dunia ide saja 234.
    Kl bicara soal pngalaman agama saya, sptnya sudah ada kotak lain utk mbahasnya.
    Anggap sajalah saya ini bukan penganut agama ttentu, anggap saja saya ini org dari background psikologi yg skeptis.

    ------

    Saya ambil contoh lagi yg lain,
    Seorang Pastur stiap hari mmenuhi dirinya dg ritual. Pagi baca-baca, malam baca lagi. Doa sgini kali, sujud sgitu lama. Smua ritual itu djalankan dg pmikirannya bhw ritual itu dibuat oleh Tuhan dan akan mbawa dia makin dekat dg 'Tuhan'. Pemikiran itulah yg mbuat sso mrasa 'tenang', 'damai', 'aman', mrasa 'benar'.
    Pdhl, apakah mreka benar-benar bertemu 'Tuhan' atau mlihat 'Tuhan'?

    Jd apa bedanya Pastur itu dg si nenek tsb?
    'Tuhan' si pastur dan 'Tuhan' si nenek, apakah gambarannya sama?
    Bisa jadi beda.
    Namun jangan-jangan 'ritual' itulah yg memperkuat 'ilusi' mreka masing-masing tentang Tuhan.

    Ada agama yg lahir dari penuturan seseorang.
    Orang itu mengaku mdapat wahyu/kabar tentang Tuhan, lalu mnyebarkannya dan orang lain pcaya.
    Orang lain kmudian mnyebarkannya lagi.
    Bapak mnyebarkan ke anak, anak menyebarkan ke cucu.
    Tp siapa yg benar-benar pernah melihat Tuhan yg dikabarkan itu?
    Namun skali lagi 'ritual' lah yg mjd saksi bhw Tuhan itu ada. Dalam hal apa ritual mjd saksi? Krn ada 'rasa tenang' ktika ritual dilakukan.
    Apakah 'rasa tenang akibat ritual' itu adalah 'Tuhan'?

    Di dunia ini ada banyak 'agama' dg versi Tuhan yg beda-beda.
    Tp nyaris smua pnganutnya mrasa 'benar', mrasa 'nyaman', mrasa 'tenang'.
    Apakah Tuhan yg satu mbrikan banyak jalan yg beda-beda dan kadang blawanan?
    Atau jangan-jangan ini semua efek 'ritual'.

    Kl Marx bkata bhw agama adalah candu, apakah yg jadi candu itu 'ritual' nya itu?

    Dunia ide....hehehehe

  16. #16
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Ini memang dunia ide saja 234.
    Kl bicara soal pngalaman agama saya, sptnya sudah ada kotak lain utk mbahasnya.
    Anggap sajalah saya ini bukan penganut agama ttentu, anggap saja saya ini org dari background psikologi yg skeptis.
    Ok ndak apa2 Sob, jadinya saya malah bisa komen ndak pake kesamber gledek.

    *lagian sapa juga yg minta cerita pengalaman agama*

    Tapi kenapa contohnya Pastur? Apakah seorang Pastur itu tipikalnya kalem klemar-klemer shg kayak tipikal seorang nenek yak? Kenapa anda ndak ambil contoh tipikal pecicilan semangat 45 kayak misalnya tipikal Ustad atau Pendeta yg kalo khotbah ber-busa2 bahkan kadang sampe muncrat? Just curious aja.

    Anyway...

    Kalo saya sih malah lebih suka sama tipikal orang2 seperti itu (Pastur dan nenek). Alih2 mencela, saya justru pengin belajar dari si nenek. Setidaknya apa yg dilakukan oleh nenek tsb jauh lebih baik daripada orang2 yg nyari kenyamanan dgn cara misalnya nyimeng atau nyabu. Lha wong bersihin kuburan untuk bikin nyaman aja trus apa masalahnya, kecuali kalo dia merusak kuburan. Korupsi ndak, nyolong juga ndak, apalagi nyolong kuburan.

    Dan kalo saya pengin belajar ke nenek tsb tentu saja saya bukan hendak belajar untuk bersihin kuburan. No...no...tidak sama sekali, itu jelas ndak bakalan membuat saya nyaman. Cuma bikin CPD. Dan itu sih namanya cuma belajar kulitnya.

    Saya pengin belajar sama si nenek ada apa dibalik itu kok sampe bikin dia bisa nyaman, damai, tenang,...ndak kayak saya yg masih suka galau. Begicu maksudku, Sob.

    Pesikologi yg sekeptis...hehehe.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  17. #17
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451

    Smile

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Ok ndak apa2 Sob, jadinya saya malah bisa komen ndak pake kesamber gledek.

    *lagian sapa juga yg minta cerita pengalaman agama*

    Tapi kenapa contohnya Pastur? Apakah seorang Pastur itu tipikalnya kalem klemar-klemer shg kayak tipikal seorang nenek yak? Kenapa anda ndak ambil contoh tipikal pecicilan semangat 45 kayak misalnya tipikal Ustad atau Pendeta yg kalo khotbah ber-busa2 bahkan kadang sampe muncrat? Just curious aja.
    Itu juga tmasuk Sob.
    Sama saja spt seorang Muslim taat yg ibadah dg sangat takwa.
    5 kali sehari sembahyang, puasa dari senin ke kamis, hafal isi kitabnya, ditambah lagi ritual doa-doa lainnya.
    Ada lagi yg bpakaian dan bpenampilan mirip dg tempat lahir agamanya.

    Adakah yg pernah benar-benar mlihat Tuhannya?
    Mungkin saja tidak.

    Tp sgala ritual itu mbuat mreka mrasa 'nyaman', 'tenang', 'aman', 'berkenan'.
    Kl ritual tak dijalankan, maka rasa 'tidak enak', 'tidak tenang', 'mhubungkan sgala kjadian buruk sbg kutuk', 'rasa bersalah/ttuduh' muncul ke permukaan.

    Anyway...

    Kalo saya sih malah lebih suka sama tipikal orang2 seperti itu (Pastur dan nenek). Alih2 mencela, saya justru pengin belajar dari si nenek. Setidaknya apa yg dilakukan oleh nenek tsb jauh lebih baik daripada orang2 yg nyari kenyamanan dgn cara misalnya nyimeng atau nyabu. Lha wong bersihin kuburan untuk bikin nyaman aja trus apa masalahnya, kecuali kalo dia merusak kuburan. Korupsi ndak, nyolong juga ndak, apalagi nyolong kuburan.

    Dan kalo saya pengin belajar ke nenek tsb tentu saja saya bukan hendak belajar untuk bersihin kuburan. No...no...tidak sama sekali, itu jelas ndak bakalan membuat saya nyaman. Cuma bikin CPD. Dan itu sih namanya cuma belajar kulitnya.

    Saya pengin belajar sama si nenek ada apa dibalik itu kok sampe bikin dia bisa nyaman, damai, tenang,...ndak kayak saya yg masih suka galau. Begicu maksudku, Sob.

    Pesikologi yg sekeptis...hehehe.

    Wah Sob,
    Tentu saja mreka yg kalem-kalem mlakukan ritualnya akan lebih baik bagi masyarakat drpd yg nyabu, rampok, dsb.
    Smoga Bro tidak salah mmahami tulisan saya yach

    Inti dr yg saya sampaikan itu:

    Beberapa (kl ngga mau bilang 'banyak') orang scr tidak sadar telah mnganggap 'ritual' itu sbg 'Tuhan'.

    Iman orang boleh beda-beda.
    Orang boleh klaim imannya paling logis, atau imannya paling powerful, atau imannya paling indah scr moral,
    Tp apapun imannya, ktika sso mlakukan 'ritual' dari imannya maka prasaan yg muncul itu sama, meskipun mreka ngga benar-benar pernah bertemu Tuhannya scr langsung.
    (saya rasanya perlu tulis bhw saya tidak sedang brusaha myakinkan anda skalian bhw agama yg ter-benar / ter-orisinil adl agama yg pnganutnya bisa btemu Tuhan scr langsung. Di sini saya tidak sedang diskusi tentang agama yg ter-benar. Ini dunia ide)

    Jadi scr tak sadar orang beranggapan bhw 'Tuhan' = 'Pelaksanaan Agama'.
    Smakin sso mlaksanakan ritual agama, maka ia mrasa smakin dekat dg Tuhan.
    Sama saja impact-nya pd para pnganut animisme/dinamisme, yaitu:
    Smakin sso mlaksanakan ritual kyakinannya, maka ia mrasa smakin selaras dg sesembahannya (atau alam semesta).

    Inilah yg mbuat orang-orang bpendapat:
    Semua agama itu sama.
    Bukan krn gambaran 'Tuhan' nya sama (semua kitab mnggambarkan Tuhan scr bbeda dan toh ngga pernah diliat juga) tp krn prasaan yg muncul krn mlakukan ritualnya adalah sama.

    Makanya kl kita kembali pd judul topik:
    Tuhan atau Agama,
    Maka bbrp orang mnyamakan Agama sbg Tuhan.
    Percaya Tuhan = Percaya Agama.
    Tidak percaya Tuhan = Tidak percaya Agama.
    Smakin ber-Tuhan = Smakin taat mlaksanakan Ritual Agama.
    Last edited by Casanova Love; 19-03-2014 at 10:23 AM.

  18. #18
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    asli ngakak baca komen om 234...
    belajar buat bersihin kuburan
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  19. #19
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    I like it too, in fact I'm in love with his words.

  20. #20
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Dulu sekali, sekitar tahun '95-an, saya bergabung dengan sebuah organisasi Tantra yang berpusat di Jamalpur, India. Nah, ketika Acharya yang mendidik saya dipanggil pulang karena suatu urusan, diutus-lah seorang Acharya pengganti untuk sementara waktu mengambil alih proses pendidikan dan manajemen organisasi.

    Pengalaman yang menarik. Berbeda dengan Acharya sebelumnya, orang satu itu samasekali nggak bisa diajak diskusi. Bila biasanya kami punya acara ngobrol-ngobrol filsafat sampai lewat tengah malem sambil makan sayur rebus bikinan sendiri, Acharya yang satu ini cuma bisa melayani pertanyaan sederhana dan teknis soal meditasi dan teknik-teknik lainnya. Orangnya simpel bangets, rada gembrot dengan jenggot bawukan, banyak ketawa, dan lebih suka kegiatan beres-beres rumah ketimbang buka-buka buku. Saya sendiri waktu itu adalah seorang "murid dalam" yang tinggal 24 jam di tempat pelatihan dengan tugas-tugas kerumahtanggaan... karenanya saya punya banyak kesempatan bersama beliau.

    Tapi jangan ditanya soal kemampuannya. Setiap kali meditasi bareng, saya merasakan keteduhan memancar dari beliau. Jaminan mutu bahwa siapapun yang meditasi bareng beliau selalu mencapai tingkat khusuk yang dalem. Dia kadang memberi komentar tentang kesulitan-kesulitan yang kami alami waktu meditasi bareng, tapi kebanyakan dia cuma diem sambil nepuk-nepuk bahu dan memuji kemajuan kami.

    Ketika Acharya kami yang sebelumnya kembali dan Acharya pengganti tersebut pulang ke India, saya bertanya soal fenomena yang kami alami, dan Acharya kami tersenyum lebar sekali. "good experience you have there" katanya.

    ... dan begitulah ceritanya. Menurut sang Acharya, kami -termasuk dia- dianugerahi -atau dikutuk- dengan J'nana, aliran ilmu pengetahuan. Kami cenderung berpikir, berkontemplasi, merenung, dan memecahkan masalah. Tidak salah, karena memang begitulah sebagian manusia. Tapi sang Acharya pengganti tersebut tidak banyak memiliki faktor ini, ia adalah seorang sederhana yang banyak mengutamakan Bhakti, cintanya kepada Atman, Tuhan, atau apapun sebutannya. Ia tidak sanggup berpikir yang rumit, maka hidupnya dipenuhi dengan bhakti dan karma, cinta dan tindakan untuk kebaikan.

    Yoga yang sejati, menurut sang Acharya lagi, seharusnya terdiri dari empat unsur, yaitu J'nana, Bhakti, Karma dan Raja, namun wajar jika seseorang hadir dengan satu unsur lebih dominan dari yang lain. Perlahan-lahan ia akan mengalami keempatnya dan mencapai keseimbangan.

    Sekarang ketika saya sudah kira-kira sebaya dengan para Acharya saya dulu... saya berharap sudah bisa memahami konsep tersebut dengan hati. Sungguh indah ketika saya kadang-kadang sanggup meletakkan pikiran saya untuk sementara waktu dan hanya memberikan cinta tanpa bersyarat. Bahkan mematikan puntung rokok di jalan bisa memberi rasa kedamaian dan kedekatan dengan Tuhan. Apalagi ketika melaksanakan ibadah yang baku. Saya menyukai bahwa di Islam ibadah kepada Tuhan selalu dipasangkan sebagai amal saleh, yaitu tindakan kebajikan yang dilandasi oleh kesadaran akan dan kehadiran Tuhan.

    Alih-alih memandang orang yang fokus pada ritual sebagai agamawan terbelakang, saya justru iri pada mereka karena kemampuan mereka untuk menjalani agama secara sederhana.

    Sejak pengalaman dulu itu, saya tidak pernah menganggap bahwa ritual adalah suatu candu yang menipu untuk membuat seseorang merasa tentram. Didekati dengan sikap yang jujur kepada diri sendiri, ritual adalah bentuk pelatihan untuk mencapai suatu pemahaman, yang seringkali justru sederhana. Didekati dengan rasa takut, maka ritual akan menjadi penjara yang membuat orang selalu merasa takut kehilangan atau takut dihukum.

    ***

    Psikologi? Tidak ada psikologi yang skeptis... yang skeptis adalah psikolognya, dan itu pilihan masing-masing individu.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

Page 6 of 12 FirstFirst ... 45678 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •