Memang utk mengubah perilaku dibutuhkan sistem reward/punishment dan ajaran surga/neraka adalah salah satu sistem tsb. Seandainya ajaran surga/neraka adalah titik awal utk membentuk perilaku, maka ketika perilaku itu sudah terbentuk, seharusnya ajaran tsb tidak diperlukan lagi.
Mungkin mbah Alip bisa mencoba langsung pada diri sendiri. Mengapa mbah Alip tidak menjadi Kristen? Atau mendeklarasikan diri bukan penganut Islam? Apakah menjadi Kristen adalah sebuah kesalahan sehingga harus menerima punishment? Apa yg menahan seorang muslim utk tidak menjadi Kristen? Apakah dgn menjadi Kristen maka akan menjadi penjahat?
Ane ambil Kristen sbg sampel saja, bukan utk membenturkan.
Sebenarnya tidak harus surga/neraka, tetapi punishment ketika beridentitas berbeda.Mungkin kita perlu mencermati pula agama-agama yang tidak punya konsep surga neraka (apa saja ya?), apakah mereka lepas dari tindak kekerasan yang berhubungan dengan perbedaan keyakinan? Harapan saya sih ada yang bisa menelaah lebih lanjut.
Ane ambil contoh sejarah keberagamaan di Indonesia. Mengapa Islam mudah diterima di Indonesia, sementara Kristen menjadi sulit? Karena ketika Islam datang, Indonesia masih Hindu. Sementara ketika Kristen datang, Indonesia sudah Islam.
Mengapa Bali mudah menerima wisatawan mancanegara yg umumnya bukan Hindu? Mengapa daerah lain sulit? Padahal alam dan budayanya tidak kalah menarik dgn Bali?
Ketika interpretasi yg ada sekarang di-deinterpretasi, maka itu menjadi ajaran awal yg sederhana. Tapi karena itu dilakukan sekarang, yg suasananya sangat jauh berbeda dengan ketika Muhammad hidup dulu, maka ajaran awal tsb pun harus di-reinterpretasi.Tapi Agama Islam memang pada dasarnya sederhana dan mengacu pada prinsip-prinsip yang universal yang seharusnya bisa mengakomodasi perkembangan jaman. Itulah penafsiran saya soal ‘kitab’ yang abadi, yaitu hukum kemanusiaan yang universal, bukan segala penafsiran dan perangkat hukum tambahan yang sayangnya disakralkan sebagai bagian tak terpisahkan dari ajaran dasarnya. Jadi sebelum re-interpretasi, kita perlu melepaskan dulu interpretasi yang sudah terlanjur melekat.
Misalnya, bagi saya perempuan sebagai bagian aktif dari masyarakat adalah ajaran dasar dalam Islam. Jadi ketika kita mau menempatkan perempuan dalam posisi sejajar di masyarakat, kita bukan melakukan interpretasi baru, tapi sekedar membuang interpretasi lama yang dipengaruhi oleh kondisi sosio kultur ketika interpretasi ini dikeluarkan.
... atau itu sudah termasuk re-interpretasi ya?![]()
Reinterpretasi ttg "kafir" yg dilakukan kelompok muslim progresif sebenarnya hal menarik. Mereka menafsirkan kafir bukan sbg nonmuslim, tetapi orang yg berperilaku buruk. Seorang koruptor, meski di KTP-nya tertulis Islam, adalah orang kafir. Seandainya orang Islam menerima reinterpretasi ini, mereka akan berfikir sejuta kali utk korupsi.
Utk tulisan mbah Alip yg lain (ttg pendapat Maslow dan cuplikan2 dari artikel tua), ane tanggapi kemudian.![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote


). Adapun kedua Kristen dan Hindu cukup banyak bisa saya temukan, sedangkan Budha pada waktu itu kelihatannya agak rancu dengan Kong Hu Cu (belum periode Gus Dur).

