Page 2 of 11 FirstFirst 1234 ... LastLast
Results 21 to 40 of 211

Thread: Kenapa Syi'ah di bantai?

  1. #21
    pelanggan tetap Serenade's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    943
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Kayaknya yang jadi masalah bukan ajaran surga neraka tapi lebih kepada ajaran 'I am hollier than thou'. Sebutlah seperti misalnya 'hanya kami-lah yang benar'.

    Konsep ini lebih kuat dari 'hanya kami-lah yang akan masuk sorga' karena dalam perasaan kebenaran ada terkandung bahwa orang lain salah, sedangkan perasaan akan masuk sorga cuma terkandung implikasi bahwa dia akan mendapat hadiah atas kepercayaan dan perilakunya. Bahwa konsep surga akan berimplikasi bahwa orang lain masuk neraka, paling cuma akan menghasilkan pemikiran semacam 'itu memang resiko yang kamu ambil' dan tidak sampai ke wacana untuk menyalahkan apalagi sampai membantai pihak lain. Dalam kasus yang sehat bahkan adau kecenderungan untuk mengajak orang lain masuk surga dan menjauhi neraka.

    Saya cenderung menyalahkan kasus kekerasan ini pada perilaku inferiority complex yang juga disebabkan oleh kurangnya kondisi.ekonomi. Orang yang merasa hidupnya kurang berhasil dan kurang bermakna akan sangat memerlukanu konsep 'aku benar dan kau salah' untuk membuat hidupnya terasa berarti. Bagi orang yang krisis identitasnya parah, dia bahkan lebih butuh kepada bagian 'kamu salah'-nya.

    Nah, ketika orang semacam ini dihadapkan pada suatu pola pemikiran lain, dia akan berusaha mempertahankan ideologinya seolah-olah mempertahankan jiwanya. Karena jika ideologinya runtuh, terbukti salah, dia tidak punya apa-apa lagi untuk membuat hidupnya berarti.

    Dalam kasus ringan ini tampil sebagai perilaku agresif dalam diskusi, tapi dalam kasus parah, bisa terjadi kasus seperti di Sampang, menghalalkan darah atas nama agama.

    Karenanya saya percaya bahwa agama seharusnya bicara dulu soal perilaku/akhlak, bukan identitas atas posisi.

    Sorry kalau banyak typo... Ini lagi belajar posting dari HP
    Tinjauan yg menarik... andai aku bisa menyeret temen lama di forum lain ke sini utk membaca tulisan seorang muslim yg spt ini.

  2. #22
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    ajak aja om, asal cewek ya


  3. #23
    pelanggan tetap meliakh's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Location
    Surabaya
    Posts
    1,757
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Nah, ketika orang semacam ini dihadapkan pada suatu pola pemikiran lain, dia akan berusaha mempertahankan ideologinya seolah-olah mempertahankan jiwanya. Karena jika ideologinya runtuh, terbukti salah, dia tidak punya apa-apa lagi untuk membuat hidupnya berarti.


    mantab komennya
    ini berlaku di luar agama juga i think.. anything yang bikin orang jadi fanatik: klub olahraga, boy/girlband.. though to a lesser degree

  4. #24
    kayaknya semua agama itu rentan konflik deh om
    di buddha juga ada konflik antar sangha, sampe akhirnya ada buddha theravada - buddha mahayana
    ajaran agama kalau di ibaratkan pisau, ya manfaatnya akan tergantu siapa yang memegang dan mengendalikan pisau
    kalau yg megang manusia sih Insya Allah aman, malah bermanfaat
    kalau yang megang kera atau simpanse kayaknya gawat

    lebih gawat lagi kalo yang megang manusia yang sifatnya kayak kera
    Tapi agama samawi yang jelas2 tercantum ajaran yang bisa diartikan sebagai yang benar sendiri, yang lain pasti salah.

    Contohnya : hanya Islam agama yang diridhoi Allah atau hanya melalui Yesus jalan ke surga.

    Kalo di agama non samawi, rasanya (sejauh yang pernah saya pelajari) tidak ada ajaran yang mengatakan hanya melalui agama itu saja orang bisa selamat.

    ---------- Post Merged at 08:33 PM ----------

    kayaknya semua agama itu rentan konflik deh om
    di buddha juga ada konflik antar sangha, sampe akhirnya ada buddha theravada - buddha mahayana
    ajaran agama kalau di ibaratkan pisau, ya manfaatnya akan tergantu siapa yang memegang dan mengendalikan pisau
    kalau yg megang manusia sih Insya Allah aman, malah bermanfaat
    kalau yang megang kera atau simpanse kayaknya gawat

    lebih gawat lagi kalo yang megang manusia yang sifatnya kayak kera
    Tapi agama samawi yang jelas2 tercantum ajaran yang bisa diartikan sebagai yang benar sendiri, yang lain pasti salah.

    Contohnya : hanya Islam agama yang diridhoi Allah atau hanya melalui Yesus jalan ke surga.

    Kalo di agama non samawi, rasanya (sejauh yang pernah saya pelajari) tidak ada ajaran yang mengatakan hanya melalui agama itu saja orang bisa selamat.

  5. #25
    pelanggan tetap red_pr!nce's Avatar
    Join Date
    Aug 2012
    Location
    BSD City
    Posts
    580
    Di agama-agama non-Samawi tidak diajarkan bahwa orang hanya selamat kalau percaya kepada agama dan Tuhan agama itu saja.

    Tapi di agama-agama non-Samawi, diajarkan bahwa keselamatan itu pilihan manusia.
    Kalau mau selamat, jalankanlah aturan-aturan Tuhan.
    Kalau tidak mau selamat, jauhilah aturan-aturan Tuhan.
    Apapun agamanya, selama menjalankan aturan-aturan Tuhan, maka dia selamat.

  6. #26
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Ulasan mbah Alip cukup menarik. Tetapi ane punya contoh begini. Misalkan kita tahu orang yg duduk di samping kita adalah pengidap HIV. Apa yg akan kita lakukan? Secara spontan kita akan menjauhi orang tsb. Mengapa? Karena kita tidak mau tertular HIV. Bagaimana jika orang tsb mendekati kita terus sehingga kita terpojok? Kita akan menyerang orang tsb. Ini adalah sifat alamiah makhluk hidup (bukan manusia saja) yg merasa terancam keberadaannya.

    Demikian juga dgn ajaran sesat yg ancamannya neraka. Seorang muslim tentu tidak akan mau masuk neraka. Mungkin langkah pertama yg dilakukannya adalah menghindar ketika bertemu dgn ajaran sesat tsb. Tapi jika ajaran sesat tsb terus ada di sampingnya, muslim tadi pun akhirnya merasa kian terancam. Utk lepas dari ancaman tsb, sifat agresifnyalah yg keluar utk menghancurkan ajaran sesat tsb.

    Jadi, intinya adalah adanya rasa terancam menyebabkan munculnya sikap agresif. Muslim yg sejak kecil diajarkan siksa neraka jika melakukan hal yg tidak sejalan dgn ajaran agama, tentu akan merasa terancam di sepanjang hidupnya. Berbeda jika diajarkan sekedar tidak dapat surga juga tidak disiksa jika melakukan kesalahan, ini tidak menimbulkan rasa terancam.

    Tentunya penjelasan yg ane sampaikan di atas (siksa neraka) berlaku pada kasus Rhoma vs Jokowi, fatwa2 sesat MUI, pembantaian Ahmadiyah, pembantaian Syiah, penolakan gereja, dll.

    Jika mau diperluas, maka sikap agresif muncul ketika seseorang merasa terancam eksistensinya. Pendukung fanatik sepak bola menjadi agresif ketika mulai merasakan tim favoritnya akan mengalami kekalahan. Copet yg kabur akan balik menyerang ketika terhalang dinding besar, dst. Dalam politik pun sifat agresif itu muncul jika seorang politikus merasa terancam kedudukannya. Juga pembantaian akan dilakukan oleh penguasa yg merasa terancam kekuasaannya.


  7. #27
    ijma’ ulama dunia dalam Deklarasi Amman, Jordania. (27-29 Jumadil Ula 1426 H / 4-6 Juli 2005 M) Disebutkan bahwa siapa saja yang mengikuti salah satu dari empat Mazhab Ahlusunnah Waljama’ah (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali), dan Mazhab Ja’fari (Syiah Imamiah), Mazhab Syiah Zaidiyah, Mazhab Ibadhi, dan Mazhab Az-Zhahiri, semuanya adalah muslim, tidak diperbolehkan mengkafirkannya dan haram darah, harta, serta keluarga mereka.
    Perlu dicatat, risalah Amman ini disetujui oleh 500 ulama seluruh dunia, baik Sunni (Ahlusunnah Waljama’ah) maupun Syiah, yang kemudian diikuti oleh ratusan ulama dunia dalam deklarasi di Jeddah, diantaranya dari Indonesia ada Maftuh Basyumi (Mantan Menteri Agama), Din Syamsuddin (Muhammadiah), Dr. Tuti Alawi (Rektor Universitas As-Syafi’iyah), Dr. Alwi Shihab (Mantan Menlu), dan KH. Hasyim Muzadi (NU).

  8. #28
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Copet melawan karena merasa terancam, ya jelas aja karena yg ngejar pasti membawa ancaman. Orang didekati orang hiv segera menjauh karena merasa terancam, ya merasa terancam karena kebodohannya/ ketidaktauan ttg penyakit hiv yg tidak menular hanya karena berdekatan.

    Jadi merasa terancam itu karena banyak faktor. Karena emang diancam, atau karena prasangka aja?

    Kalo kasus syiah-sunni ini apakah emang yg satu mengancam yang lain? Atau karena prasangka aja? Atau karena sifat serakah, ingin melanggengkan kekuasaan dengan kedok aliran agama??

    Jawabannya ya kembali ke manusianya. Kalau emang ada yg mengancam, ada otoritas yang berwenang, ada hukum yang berlaku. Kalau cuma prasangka, maka kedepankan dialog. Kalo emang serakah, ya kudu dijejelin agama.

    Kenapa dikembalikan ke orangnya. Karena sifat mengancam, sifat suka berprasangka tanpa mengedepankan dialog, sifat serakah itu tanda orang yang jiwanya kacau, orang yg kudu dijejelin agama.

  9. #29
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Asyik nih...

    Tapi kita bicara di ranah teori dulu ya... masalah apa yang sesungguhnya terjadi di Sampang biarlah kita tunggu penyelidikan lebih dalam.

    @Eyang Purba,
    konsep surga neraka sebenarnya hanyalah penggambaran dari konsep universal reward and punishment, carrot and stick. Kita melakukan ini dalam semua pola ajar, baik kepada orang kecil maupun ke orang dewasa, hanya caranya memang berbeda-beda.

    Namun satu hal yang perlu kita pahami, bahwa ini adalah metoda dasar yang kemudian harus ditinggalkan. Kenapa? Karena sebagai metoda yang mengandalkan konsekuensi eksternal (hadiah dan hukuman) keefektifannya hanya berlaku di awal-awal. Jadi jika pada awalnya kita berharap bisa merubah perilaku seseorang dengan sistem reward and punishment, pada saat perilaku tersebut sudah ter-internalisasi pada diri si orang, maka dia akan memiliki sistem reward and punishment internal. Dia terus menerus melakukan perilaku baru tersebut karena dia suka melakukannya, dan menolak meninggalkannya karena dia akan mengalami perasaan tidak enak (internal) bila meninggalkannya.

    Beberapa penelitian yang saya baca (sayang tidak bisa saya kutip jurnalnya karena lupa nyelip di rak buku yang mana) menunjukkan bahwa seseorang yang telah mencapai tahap internal reward seperti ini justru cenderung mengabaikan external reward, dan perasaan kenikmatan/kepuasan dari perilakunya justru berkurang ketika dia masih diberi external reward.

    Dalam terminologi agama, kondisi ini digambarkan dengan konsep ketika seseorang sudah merasa bahwa surga neraka tidak lagi relevan dalam kehidupannya, satu-satunya yang relevan adalah kecintaannya terhadap Tuhan. Ini penggambaran seseorang yang sudah dewasa secara agama dan tidak lagi membutuhkan hadiah/hukuman eksternal sebagai penjaga perilakunya.

    Sekarang kalau kita hubungkan dengan perilaku bantai membantai...

    Saya tetap menduga bahwa ini datang dari pribadi yang insecure, baik karena kekurangan ekonomi, pendidikan, atau trauma-trauma psikis lainnya. Sayangnya, alih-alih menyembuhkan luka-luka ini (yang seharusnya merupakan peran agama), pendidikan agama ada yang justru mengipas-ngipasinya. Para guru agama bolak-balik menghembuskan sikap fanatik golongan yang menyebabkan seseorang merasa lebih baik secara semu karena merasa dia berada di jalan yang benar meskipun miskin, bodoh, dan cacat (pernah dengar istilah agama adalah 'candu'?)

    Mengapa para guru agama melakukan hal seperti itu? Karena mereka dulu juga belajarnya seperti itu. Dalam kasus Islam, ini adalah fenomena yang sudah berjalan ratusan tahun. Ketika Islam bukan agama yang mendominasi percaturan dunia, ketika ilmu pengetahuan bukan datang dari kalangan ilmuwan muslim lagi, ketika dunia barat yang dianggap penuh kekafiran justru adalah dunia yang lebih maju, maka banyak guru-guru penderita inferiority complex yang butuh pembenaran atas ke-Islam-an mereka dan akhirnya membangun komunitas fanatik sempit yang membenci apapun yang bukan 'mereka'.

    Jadi kalau kita simpulkan lagi surga neraka dan perilaku pembantaian, sesungguhnya konsep surga neraka hanyalah konsep pendidikan perilaku saja, sama seperti konsep eternal carrot (wortel yang digantung di depan keledai supaya dia mau jalan, tapi wortelnya ikut jalan seiring dengan langkah si keledai). Tidak ada konsep pendidikan perilaku yang bisa lepas dari awalan ini, reward and punishment. Seorang atheis sekalipun akan menggunakan konsep yang sama.

    Cuma adalah salah kalau konsep ini terus menerus diterapkan tanpa ada internalisasi. Hal ini sama saja seperti menyuruh anak untuk tidak pernah dewasa dan berpikir sendiri.

    Jadi apakah surga neraka merupakan pemicu proses pembantaian, atau kekerasan lainnya? Tidak. Surga neraka harus disalahgunakan dan dipertemukan dulu dengan insecurity, baru dia bermuara pada kekerasan.

    Coba ancamkan neraka pada orang semacam Oom Sedge, paling dia akan tanya: "boleh bawa barbeque gak?"
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  10. #30
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Tapi agama samawi yang jelas2 tercantum ajaran yang bisa diartikan sebagai yang benar sendiri, yang lain pasti salah.

    Contohnya : hanya Islam agama yang diridhoi Allah atau hanya melalui Yesus jalan ke surga.

    Kalo di agama non samawi, rasanya (sejauh yang pernah saya pelajari) tidak ada ajaran yang mengatakan hanya melalui agama itu saja orang bisa selamat.
    bener om
    tapi dalam agama samawi (islam) persoalan ini sudah ada koridornya di ayat lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku)
    nah ketika orangnya lupa akan koridor ini, ditambah lagi dengan sifat superioritynya jadinya ayat yang buat konsumsi internal jadi dibawa keluar sebagai pembenaran. Kalau dalam kristen saya pikir ada juga koridornya, mungkin yang kristen bisa bantu kasih referensi ayatnya yang senada dengan konsep lakum dinukum.

    Kalau saja koridor lakum dinukum ini dipatuhi dan dijalani maka pada suatu TITIK tidak akan diperlukan lagi.
    Karena pada titik tersebut seseorang sudah bisa melihat bahwa mau lewat yesus, mau lewat muhammad tenyata sampainya diterminal yang sama
    Nah kalo orang masih berseteru hal-hal yg elementer itu karena mereka masih di terminal bayangan, bahkan ada yang masih nyetop di pinggir jalan

    Refoottt dijeeeh...



    ---------- Post Merged at 09:30 AM ----------

    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Coba ancamkan neraka pada orang semacam Oom Sedge, paling dia akan tanya: "boleh bawa barbeque gak?"
    gak koq, paling gue elus2 aje


  11. #31
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Ini ttg surga neraka ato sunni syiah? Gw rasa ga ada hubungannya antara konflik sunni syiah yg asli (di arab sono). Oke.. di sampang mungkin masalah siapa yg benar. Tapi di arab sono.. berawal dari pulitik persis setelah nabi wafat. Bener2 murni politik dah.. Itu lah kenapa politik itu busuk. Politik itu bawaan dunia yg gampang melenceng kemana2 termasuk ke masalah iman.

    Pertanyaan kenapa syiah dibantai itu bukan pertanyaan baru. Dari sejarah, golongan syiah ini kebagian dibantainya doang.. (menurut gw sih) Coba tengok sejarah imam2 alias keluarga keturunan nabi muhammad... Matinya kebanyakan dari mereka, kagak ada yg normal. Keluarga tsb mengalami konspirasi politik, spt layaknya JFK, shg keturunan2 yg menjadi pemimpin kebanyakan diahabisi pembunuh bayaran.

    Tapi apakah Sunni yg salah? Atau Syiah yg salah? Nope... Karena mereka atau kita tidak bisa melihat siapa ditengah2 mereka? Idealnya sih Iblis, tapi ibilsnya siapa? mana? ya ndak pernah tahu lah. Karena iblis bersermayam dihati orang2 yg penuh napsu dan kepentingan politik.

    Yg jelas, Sunni dan Syiah bersatu dikala memiliki common enemy, Crusader. Sunni Syiah baru ribut lagi stlh musuh mereka mengetahui kelemahan mereka. Iblis itu...
    Last edited by ndableg; 01-09-2012 at 02:35 PM.

  12. #32
    bener om
    tapi dalam agama samawi (islam) persoalan ini sudah ada koridornya di ayat lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku)
    nah ketika orangnya lupa akan koridor ini, ditambah lagi dengan sifat superioritynya jadinya ayat yang buat konsumsi internal jadi dibawa keluar sebagai pembenaran. Kalau dalam kristen saya pikir ada juga koridornya, mungkin yang kristen bisa bantu kasih referensi ayatnya yang senada dengan konsep lakum dinukum
    Harusnya sih memang ada koridornya juga di kristen. Kalo tidak tidak mungkin vatikan sana mengeluarkan fatwa bahwa orang diluar kristen juga tetap bisa selamat
    selama mengamalkan inti ajaran2 yang dibawa Yesus.

    Kalau saja koridor lakum dinukum ini dipatuhi dan dijalani maka pada suatu TITIK tidak akan diperlukan lagi.
    Karena pada titik tersebut seseorang sudah bisa melihat bahwa mau lewat yesus, mau lewat muhammad tenyata sampainya diterminal yang sama
    Nah kalo orang masih berseteru hal-hal yg elementer itu karena mereka masih di terminal bayangan, bahkan ada yang masih nyetop di pinggir jalan

    Refoottt dijeeeh..
    .

    Setuju. Pada suatu titik yang dilihat bukan sosok lagi (sosok Muhammad, sosok Yesus, dll).

  13. #33
    Kayanya bahasa "dibantai" terlalu berlebihan deh, kalau dah ribuan yang mati mungkin tu yang dibantai (kaya kasus suriah). Mungkin tepatnya konflik sosial yang mengakibatkan korban jiwa lebih enak didengar. ketika saya baca berita ini saya sebenarnya tidak kaget lagi, karena Indonesia memang rawan konflik. Penyebabnya banyak ada ekonomi, ada banyak perbedaan, dal lain-lain, Tapi faktor yang paling mendasar adalah MASYARAKATNYA YANG BELUM DEWASA. SEKALI LAGI SAYA TULIS : MASYARAKAT INDONESIA BELUM DEWASA. Tidak bisa menerima perbedaan dan maunya menang sendiri. Gak usah jauh-jauh ngomongin agama, NONTON BOLA AJA RUSUH (kalau tim kalah) dan parahnya selalu cari kambing hitam (tidak mau introspeksi diri). Kalau di bola yang sering jadi kambing hitam adalah wasit, padahal emang tim nya aja yang main nya jelek.
    Jadi saya pribadi menilai bahwa konflik sosial yang sering terjadi di Indonesia bukan karena agama (jadi kambing hitam), bukan pula karena Amerika, Yahudi, fremason, CIA, dll (gak ada hubungannya sebenarnya) yang jadi kambing hitam. Jangan salahkan Presiden (SBY hanya manusia biasa bukan Tuhan) atau pun kambing hitam lainnya. Ini semua karena Masyarakat kita yang berfikir seperti bocah (tidak dewasa). Jadi Introspeksi diri aja dulu, SUDAHKAH KITA BERFIKIR DEWASA? atau MASIH TERIAK-TERIAK SEPERTI BOCAH? BOCAH ITU KALAU MALING DAN KETAHUAN PASTI AKAN MENUDING ORANG LAIN, TIDAK MAU MENGAKUI KESALAHANNYA. Saya hanya meminta anda untuk BERFIKIR dewasa saja dulu, saya tidak minta tindakan anda, saya hanya minta pola pikir anda.

  14. #34
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    @mbah Alip,

    apa yg mbah Alip jelaskan ttg surga/neraka sbg awalan utk munculnya kontrol internal adalah sebuah harapan. Sebuah harapan tidak selalu kesampaian atau bisa belum kesampaian. Pada sebagian muslim ajaran ttg surga/neraka bisa tidak berkembang menjadi kontrol internal atau masih belum berkembang menjadi kontrol internal. Pada sedgedjenar mungkin ajaran tsb sudah berubah menjadi kontrol internal. Apalagi pada ateis, boro2 surga/neraka, tuhan saja diolok2. Kontrol internal mereka bukan lagi hal2 metafisis seperti surga/neraka, dsb. Jadi ane menerima penjelasan mbah Alip bahwa ajaran surga/neraka adalah awalan utk tumbuhnya kontrol internal. Tetapi itu tidak serta merta, melainkan butuh waktu. Ketika belum kesampaian, ajaran surga/neraka (terutama siksa neraka) bisa menjadi pemicu rasa insecure. Nah, fase insecure tsb yg ane gunakan utk menjelaskan fenomena Rhoma vs Jokowi, pembantaian Ahmadiyah, pembantaian Syiah, pelarangan pendirian gereja, dan beberapa yg lain. Tentu bahwa rasa insecure tidak melulu datang dari ajaran siksa neraka, bisa juga dari hal-hal lainnya. Tetapi pada kasus2 tadi, ane melihat rasa insecure datang dari ajaran siksa neraka.

    Rhoma menjelaskan bahwa dia perlu mengingatkan orang muslim utk memilih pemimpin muslim. Itu dia lakukan karena perintah tuhannya demikian. Jika dia tidak lakukan, maka dia berdosa dan balasan dosa adalah siksa neraka. Rhoma merasa insecure jika membiarkan nonmuslim penjadi pemimpin. Pembantaian Ahmadiyah terjadi karena itu adalah ajaran sesat. Jelas bahwa balasan kesesatan adalah siksa neraka. Ketika ada komunitas Ahmadiyah yg berkembang pesat di suatu kampung, muslim sekitar akan melihatnya sebagai ancaman. Mereka takut tertular oleh kesesatan tsb. Rasa insecure tumbuh dan pada titik tertentu berubah menjadi agresifitas. Hal yg sama juga terjadi dgn konflik pendirian gereja di suatu kampung. Mereka melihatnya sebagai titik awal kristenisasi, aktivitas mengkristenkan, atau muslim melihatnya sbg pengkafiran. Dan, ancaman kafir adalah siksa neraka. Ini memicu lagi rasa insecure.

    Bagi orang yg belum paham bagaimana HIV tertularkan, maka mereka akan melihat kehadiran penderita HIV sbg ancaman, rasa insecure tumbuh. Tetapi ketika fase itu terlewati dan mereka sudah paham, maka mereka dapat menerima penderita HIV utk hidup bersama mereka.

    Karena itu, ane sering mengatakan bahwa umat Islam butuh menafsir ulang sumber ajaran mereka. Sebagian mereka sudah melakukan itu, misalnya kelompok Islam progresif atau liberal. Tapi sebagian besar lagi malah makin tenggelam dalam pemahaman tekstual yg dangkal dan out of date.

    Kasus pembantaian Ahmadiyah atau konflik pendirian gereja, misalnya, perlu dicarikan solusi yg tepat. Utk mendapatkan solusi yg tepat, perlu telaah kasus yg tepat pula. Ane tidak mengklaim bahwa ane telah menelaah dgn tepat, tetapi kecurigaan ane pada ajaran siksa neraka yg dapat memicu rasa insecure hanya upaya utk menjelaskan kasus2 tadi. Tentu kecurigaan thd ajaran siksa neraka tidak bisa digeneralisasikan ke semua kasus.

    Bagaimana Islam diterima dgn mudah di Indonesia yg mayoritas Hindu dulu? Bagaimana sulitnya umat Islam menerima gereja di tengah2 mereka? Kira2 apa penyebabnya?

    Kelompok Islam liberal, misalnya, telah berupaya utk menafsir ulang kata kafir. Mereka tidak lagi melihat kata tsb sbg sinonim nonmuslim, melainkan perilaku buruk. Misalnya koruptor adalah orang kafir, meski di KTP-nya tertulis agama Islam. Ancaman buat orang kafir adalah siksa neraka. Seandainya sebagian besar muslim menerima tafsir ulang ini sejak kecil, mungkin mereka akan sangat takut utk korupsi karena itu identik dgn keluar dari Islam yg ancamannya kekal di neraka.

    Apakah merasa paling benar bisa memicu rasa insecure? Ketika tenyata dia bukan yg benar, apakah membuatnya merasa insecure? Ane kira malah tidak. Yg ada dia malah malu dan akhirnya menutup diri.


  15. #35
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Kalo mau menyelesaikan masalah pertikaian agama dengan cara mengkritisi ajaran agama, mungkin aja bisa tapi itu jalan yg panjang...

    Intinya semua masyarakat apapun dan dimanapun pasti akan selalu mengalami bentrokan, jadi persoalannya adalah seberapa kuat pemerintah dan kepolisian menegakkan hukum dan menjaga ketertiban... itu yg jadi masalah di indonesia.

  16. #36
    pelanggan tetap red_pr!nce's Avatar
    Join Date
    Aug 2012
    Location
    BSD City
    Posts
    580
    Quote Originally Posted by ndableg View Post
    Yg jelas, Sunni dan Syiah bersatu dikala memiliki common enemy, Crusader. Sunni Syiah baru ribut lagi stlh musuh mereka mengetahui kelemahan mereka. Iblis itu...
    Berarti mereka berdua akan hancur sendiri lama-kelamaan kalo gak ada musuh bersama.

  17. #37
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    ya itu jg ud lama...
    Sekarang masih ada musuh bersama.. tapi mereka sekarang temenan..

    tuh...

  18. #38
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    Kalo mau menyelesaikan masalah pertikaian agama dengan cara mengkritisi ajaran agama, mungkin aja bisa tapi itu jalan yg panjang...

    Intinya semua masyarakat apapun dan dimanapun pasti akan selalu mengalami bentrokan, jadi persoalannya adalah seberapa kuat pemerintah dan kepolisian menegakkan hukum dan menjaga ketertiban... itu yg jadi masalah di indonesia.
    Zaman ORBA, pemerintah sangat kuat dlm menjaga ketertiban beragama. Tapi ketika ORBA tumbang, ketertiban pun buyar. Jadi tidak cukup hanya dgn kekuatan utk menjaga ketertiban, perlu juga dgn pemahaman. Nah, pemahaman tsb salah satunya datang dari tafsir ulang ajaran2 agama yg disesuaikan dgn kondisi kekinian.


  19. #39
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    John Calvin mengatakan, pemerintah yg buruk masih tetap lebih baik daripada tak ada pemerintah (anarki).
    Pemerintah yg lemah itu mirip2 tak ada pemerintah.

  20. #40
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Zaman ORBA, pemerintah sangat kuat dlm menjaga ketertiban beragama. Tapi ketika ORBA tumbang, ketertiban pun buyar. Jadi tidak cukup hanya dgn kekuatan utk menjaga ketertiban, perlu juga dgn pemahaman. Nah, pemahaman tsb salah satunya datang dari tafsir ulang ajaran2 agama yg disesuaikan dgn kondisi kekinian.

    wkwkwkw..
    ujung-ujungnya penafsiran ulang yang progresif
    dan liberal...

    sejak kapan Progresif dan Liberal menjadi standar
    kebenaran?

    toleransi dan perdamaian merupakan akhlak dalam
    ajaran Islam... sampai ketidakdilan merusak itu se
    mua.

    Ego menghilangkan rasio, menghilangkan logika da
    lam membaca fakta, bahwa Islam dibangun dengan
    kerendah-hatian, bukan ketamakan akan kekuasa
    an... itu yang membuat Muawiyah menolak kepe
    mimpinan Ali.

    Ketidakadilan Umayah terhadap bekas pendukung
    Ali dan Keluarganya, memunculkan dendam, meng
    hilangkan pentingnya Ukhuwah Islammiyah, pada
    hal Hasan bin Ali telah mengedepankan Ukhuwah
    dengan menyerahkan Kekhalifahan kepada Mua
    wiyah... sampai provokasi dari Abdulah bin Saba
    (siapapun dia) merusak sikap tawadu' dan sema
    ngat Ukhuwah dan Perdamaian dalam Islam.

Page 2 of 11 FirstFirst 1234 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •