Page 1 of 3 123 LastLast
Results 1 to 20 of 58

Thread: Religiusitas Berkorelasi Negatif terhadap Kecerdasan

  1. #1
    pelanggan tetap RAP's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Location
    Jakarta
    Posts
    920

    Religiusitas Berkorelasi Negatif terhadap Kecerdasan

    Studi: Religiusitas Berkorelasi Negatif terhadap Kecerdasan

    Kamis, 22 Agustus 2013 | 18:23 WIB


    KOMPAS.com*— Benarkah orang religius punya kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan dengan orang ateis?

    Jawaban pertanyaan tersebut mungkin akan menyakitkan hati beberapa pihak. Namun, studi terbaru yang dipublikasikan diPersonality and Social Psychology Review*menunjukkan bahwa rata-rata orang yang religius memiliki kecerdasan yang lebih rendah.

    Miron Zuckerman dan Jordan Siberman dari University of Rochester dan Judith Hall of Northeastern University adalah yang melakukan studi tersebut.

    Keduanya melakukan metaanalisis dari 63 studi yang dilakukan antara tahun 1928 hingga 2012. Dengan cara ini, keduanya mengecek kembali sampel studi, kualitas analisis, metode penelitian, serta bias yang mungkin ada dalam setiap studi.

    Hasil analisis menunjukkan bahwa 53 studi menyatakan bahwa orang-orang religius memang memiliki kecerdasan lebih rendah. Hanya 10 studi yang menyatakan sebaliknya.

    Kecerdasan dalam studi ini didefinisikan sebagai kemampuan mengemukakan alasan, merencanakan, menyelesaikan masalah, berpikir secara abstrak, menguraikan gagasan, berpikir cepat, serta belajar dari pengalaman.

    Singkatnya, kecerdasan adalah kemampuan analisis. Kecerdasan bisa diukur dari tes IQ, tes masuk universitas, IPK, dan sebagainya.

    Sementara itu, religiusitas adalah kepercayaan terhadap hal-hal supernatural dan kesadaran untuk menjalankan ritual keagamaan, dan lainnya. Religiusitas bisa diukur dari frekuensi datang ke tempat ibadah atau keanggotaan pada organisasi agama tertentu.

    Pertanyaannya sekarang, apa yang membuat orang-orang dengan kecerdasan tinggi lebih tidak religius atau cenderung ateis?

    Alasan pertama kemungkinan adalah bahwa orang-orang dengan kecerdasan tinggi cenderung tidak mau berkompromi dan menerima dogma begitu saja. Bila berada di lingkungan masyarakat yang religius, orang-orang tersebut kemungkinan justru menjadi ateis.

    Alasan lain adalah bahwa orang-orang dengan kecerdasan tinggi akan percaya pada bukti empirik, sesuatu yang memang bisa dilihat.

    Zuckerman mengungkapkan, orang-orang dengan kecerdasan tinggi berpikir lebih analitis, yaitu secara terkontrol, sistematis, dan lebih lambat. Hal ini berbeda dengan orang-orang religius yang cenderung kurang analitis dan berpikir cepat.

    Alasan ketiga, orang dengan kecerdasan tinggi tidak religius kemungkinan adalah karena fungsi-fungsi agama sebenarnya bisa dipenuhi oleh kecerdasan.

    Ada tiga hal saat kecerdasan bisa menggantikan agama. Pertama, agama berfungsi sebagai kontrol. Dengan demikian, percaya kepada Tuhan membuat seseorang lebih mampu mengontrol diri. Namun, orang dengan kecerdasan tinggi bisa mengontrol diri tanpa agama dengan mengandalkan kecerdasan.

    Kedua, gama juga berfungsi sebagai regulasi diri. Kenyataannya, fungsi ini juga bisa digantikan oleh kecerdasan. Jadi, regulasi untuk mencapai tujuan dan lainnya bisa diperoleh tanpa agama.

    Ketiga, kecerdasan bisa menggantikan fungsi agama yang membuat seseorang bisa menghargai dirinya sendiri. Orang religius memiliki kebanggaan atas dirinya. Namun, ternyata orang-orang yang percaya kepada Tuhan juga punya kebanggaan yang sama.

    Terakhir, kebutuhan tempat bersandar. Bagi orang religius, Tuhan dianggap tempat bersandar saat terluka atau kecewa. Bagi orang yang punya kecerdasan tinggi, tempat bersandar tak harus Tuhan, bisa jadi teman.

    Orang yang punya kecerdasan tinggi lebih cenderung untuk menikah dan berhasil dalam pernikahannya, serta cenderung tidak tidak bercerai. Dengan demikian, mereka memiliki teman atau tempat bersandar sehingga tidak memiliki kebutuhan akan Tuhan.

    Diberitakan Ars Technica, Senin (12/8/2013), hasil studi ini mungkin hanya valid untuk wilayah Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, di mana 87 persen orang yang diambil sampelnya berasal.

    Kesimpulan akan relasi religiusitas dan kecerdasan tidak bisa diambil pada masyarakat yang dominan ateis, seperti Skandinavia, atau yang dominan religius, mungkin seperti Indonesia. Studi empirik perlu dilakukan.

    Penulis: Yunanto Wiji Utomo


    Mengundang para pakar untuk penjelasan lanjut....
    Ora mudeng soalnya

  2. #2
    pelanggan setia serendipity's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    4,775
    relasi religiusitas dan kecerdasan tidak bisa diambil pada masyarakat yang dominan ateis, poin ini bener

    Kenalan saya pinter banget, kalo ngobrol ama dia selalu berbau fisika dan ilmiah. Dan orangnya religius. Atheis bisa dikatakan cerdas, karna sering membaca berbagai dogma.
    Jadi merasa tau dan sulit percaya hanya dengan satu keyakinan. Menurut atheis, keyakinannya yg benar. Berdoa hanya buang waktu, karna berharap adalah sia-sia.
    Zuckerman mengungkapkan, orang-orang dengan kecerdasan tinggi berpikir lebih analitis, yaitu secara terkontrol, sistematis, dan lebih lambat. Hal ini berbeda dengan orang-orang religius yang cenderung kurang analitis dan berpikir cepat.
    disini rancu ya, konteks berpikir cepat bukan berarti dia gak analitis. Hanya aja, dia bisa menjangkau lebih cepat, lalu dipikirkan masak-masak apa yang akan dilakukan atau diucapkan.
    Orang Eropa cendrung berpikir cepat tapi mereka juga analitis.
    You were born with the ability to change someone's life - don't ever waste it.

  3. #3
    Barista lily's Avatar
    Join Date
    May 2012
    Location
    a place called home
    Posts
    12,753
    Om Aslan pintar kok.

    ---------- Post Merged at 11:52 AM ----------

    Malah saya kenal banyak orang udah ga religius , bodoh pisan.
    - I'm such a very lucky woman and have a very lucky life -

  4. #4
    opera's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    http://www.opera.com/
    Posts
    4,852
    tergantung orangnya, mau terbuka mencampurkan agama dan pengetahuan
    atau cuman berpegang pada salah satunya saja

  5. #5
    pelanggan setia spears's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    6,733
    Salah banget. Hampir semua penemu rumus2 dasar fisika,matematika,astronomi,kedokteran,dll adalah org religius. Einstein orgnya religius. Galileo Galilei relijius...Ibnu Sina(avicenna), al-farabi..semuanya relijius

    love came down and rescue me, i am yours, i am forever yours

  6. #6
    Kalo menurut saya mungkin bukan soal cerdas dan tidak cerdas, tapi soal semangat untuk mempelajari sesuatu.

    Misalnya, yg tidak religius oke2 saja kalo disuruh meneliti apakah Tuhan itu ada? Atau bagaimana asal mula kehidupan (Evolusi)?

    Tapi pada sebagian yg religius, hal tersebut langsung dibenturkan dengan tembok agama yg dianutnya. Alhasih tidak jadi melakukan penelitian lebih jauh. Kalo hal ini terus berulang, lama-lama kan jadi lupa gimana caranya meneliti.

    Mungkin gitu kali yg ditangkap oleh artikel di atas yak.

  7. #7
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Misalnya, yg tidak religius oke2 saja kalo disuruh meneliti apakah Tuhan itu ada?
    kalau orang cerdas non-religius, masih meneliti apa
    kah Tuhan itu ada, maka itu artinya dia belum cer
    das... sudah tahu ngga ada masih dicari-cari

    atau jangan-jangan Religious in Denial

  8. #8
    ^ Non-religious kan bukan atheis bro Ronggo.

    Non religous menurutku lebih kepada yang beragamanya seadanya saja.

  9. #9
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    kekeke...
    Atheis itu non-religous stadium akhir kok

  10. #10
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Saya setuju dgn hasil penelitian diatas. Alasan (reasons) yg dikemukakan sangat masuk akal.

    Benarkah orang religius punya kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan dengan orang ateis?
    Ya, sangat2 benar menurutku!

    (Note: Hati2 ya bacanya. Saya sedang bicara ttg 'kecenderungan'. Saya ndak bicara sebuah kepastian.)

    Mestinya itu disikapi secara positif, tapi sayangnya para theist biasanya langsung ngamuk2 protes lalu over defensive berusaha membantah dgn menunjukkan contoh tokoh2 religius yg dianggap cerdas.

    So, akui aja! Apa susahnya?

    Lalu jadikan itu sebagai cambuk dan tantangan bagi para theist untuk berusaha menjadi lebih cerdas.

    Sebagai theist, saya sih penginnya religius dan sekaligus cerdas.

    Dan pertanyaan diatas itu 11-12 dgn misalnya:

    Benarkah orang atheist punya moral yang lebih rendah dibandingkan dengan orang religius?
    Ya, itu juga benar!

    Sayangnya itupun sering ditanggapi atheist scr over defensif, biasanya dgn membalas menyodorkan contoh2 para theist yg tidak bermoral.

    Mestinya itu dijadikan cambuk dan tantangan bagi para atheist untuk berusaha menjadi lebih bermoral.

    Sebagai atheist, tentu misalnya [MENTION=101]purba[/MENTION] pun penginnya tetap atheist dan sekaligus bermoral.

    Tapi bisa aja tebakanku salah...

    ***
    So, kesimpulannya, bagi saya tidak ada yg aneh dan tidak ada yg perlu dipersoalkan ttg hasil survey diatas.

    Sekian dan terima kasbon.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  11. #11
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Kalo uji samplingnya di Indonesia kira2 hasilnya sama ga ya? Kalo atheis vs agnostik, cerdasan mana?

  12. #12
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    welp. It's Statistic. You can 'play' with it.
    A proud SpaceBattler now.

  13. #13
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Kalo uji samplingnya di Indonesia kira2 hasilnya sama ga ya?
    Dlm artikel diatas sudah disebutkan bahwa survey tsb tidak bisa diterapkan di Indonesia. Mungkin mereka takut kalo nanti hasilnya 'orang religius maupun atheist di Indonesia sama2 cerdas'.

    Kalo atheis vs agnostik, cerdasan mana?
    Agnostik secara harfiah berarti 'tidak tahu' atau tidak punya pengetahuan. Jadi gimana mau ngukur kecerdasannya jal?!

    Kesimpulan: Agnostik kecerdasannya tak terukur...

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  14. #14
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Dlm artikel diatas
    sudah disebutkan bahwa survey tsb tidak bisa diterapkan di Indonesia.
    Mungkin mereka takut kalo nanti hasilnya 'orang religius maupun atheist
    di Indonesia sama2 cerdas'.


    Agnostik secara harfiah berarti 'tidak tahu' atau tidak punya
    pengetahuan. Jadi gimana mau ngukur kecerdasannya jal?!

    Kesimpulan: Agnostik kecerdasannya tak terukur...

    jadi kalo agnostik tidak tahu Tuhan ada apa enggak, atheis udah kagak mau tahu pokoknya Tuhan itu ga ada karena ga ada bukti fisiknya...kayak gitu cerdasan mana, om?

  15. #15
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    ^Saya tidak tahu.


  16. #16
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    jangan sama ratakan atheist, karena ada dua atheist
    1. Atheist karena belum menemukan tuhan.
      Atheist jenis ini ada yg murni saintis (diskusi dengan alur logika), ada juga yg cuma fanboy (menang mulut doang, kalo diskusi isinyua cuma emosi doang). Ada juga yg perpaduan keduanya. Atheist jenis ini sama seperti kaum relijius, sama-sama belum secara final membuktikan keberadaan Tuhan. Yg satu masih katanya kitab suci, yg satu masih katanya pembuktian sains.
    2. Atheist yg sudah membuktikan bahwa tuhan itu...(left blank)
      Atheist jenis ini merupakan atheist jebolan spiritual. Sudah mengkombinasikan pencarian tuhan antara metode sains dan religi. Otak (pikiran dan akal) dan hatinya berkembang sama baiknya dalam pencarian Tuhan. Hingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa tuhan itu ......(left blank)

      Jadi hati-hati kalo bicara atheist, atheist yg mana yg dimaksud ?

  17. #17
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Setuju banget dengan penelitian di atas... tapi seperti KangMas 234, read the disclaimer... lalu sepakat juga dengan kamerad TheCursed, walaupun saya lebih suka dengan ujaran "the statistic is fixed, but you can always play with the interpretation"

    Selain geografis pengambilan sampel, lihat pula definisi operasional dari religiusitas,
    Religiusitas bisa diukur dari frekuensi datang ke tempat ibadah atau keanggotaan pada organisasi agama tertentu
    ... saya kok jadi ingat dengan aum shinrikyo, branch davidian, people's temple, hassassin, atau... FPI. Pendekatan ini dibuat tahun 1961 dan sudah banyak mendapat kritik dari peneliti lanjutan, misalnya Bergand & MacConatha (Religiousity and life satisfaction), bahkan sudah diusahakan pengukuran multidimensional seperti oleh Donahue (Intrinsic and extrinsic religiousness).

    Saya kuatir ada kelompok 'religius' yang tidak terungkap dalam penelitian ini.

    Tapiii...

    Kritik tentang kecerdasan kaum agamis sebenarnya tidak cuma datang dari penelitian ilmiah, tapi juga dari internal agama. Misalnya, saya pernah baca tulisan Muhammad Ghazali yang mengkritik sebagian ulama sebagai 'tukang lempar dalil' yang pekerjaannya adalah menghujat dengan menggunakan berbagai macam dalil tekstual, tapi buta terhadap konteks sosial yang yang butuh 'kecerdasan'. Beliau mengibaratkan para ulama ini seperti ahli obat-obatan yang hapal segala macam jenis obat, tapi tidak pernah dilatih untuk mendiagnosa penyakit, sehingga kerjanya hanya meramu obat dan memberikannya pada pasien tanpa memahami bagaimana obat itu akan bekerja di tubuh pasiennya. Jadilah umat dikacau-balaukan oleh dalil-dalil yang out of context, tidak masuk akal, dan setelah diterapkan agak lama, kelihatan lebih banyak membawa masalah ketimbang manfaat.

    Kalau penelitian ini dilakukan di Indonesia, kayaknya hasilnya akan sama, sejauh definisi operasionalnya masih sama.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  18. #18
    pelanggan setia serendipity's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    4,775
    Saya penasaran dengan kelompok non religius, apakah mereka kecerdasannya rendah atau tinggi?
    Non religius maksudnya yg beragama, tapi tidak religius banget. Haha saya kok merasa masuk kelompok ini ya

    mohon yang punya banyak waktu mengerjakan statistiknya, supaya jelas di Indonesia
    You were born with the ability to change someone's life - don't ever waste it.

  19. #19
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    sayang sekali ya beragama tapi gak relijius ?
    padahal relijius itu nilai jualnya tinggi lho


  20. #20
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    g nangkepnya yg religius tapi ga cerdas ini, yg dalam penerapan agamanya ngawur ga karuan
    religius iya, tapi kecerdasannya ga dipake buat mikir lebih lanjut
    text book doang diterapin
    Popo Nest

Page 1 of 3 123 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •