Page 8 of 12 FirstFirst ... 678910 ... LastLast
Results 141 to 160 of 229

Thread: Percaya Tuhan atau Agama?

  1. #141
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    ... lalu ketika baru mau mulai dulu, Oom Sedge, bagaimana Oom Sedge bisa tahu kalau calon guru dan senior yang didatangi itu betul-betul mumpuni dan alim? Bagaimana supaya tidak salah kumpul dengan kaum yang berlagak paling berilmu padahal tidak tahu apa-apa, atau sekumpulan orang schizopren yang mengira mereka sudah intim dengan Tuhan?

  2. #142
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Thanks Kang Sedge atas sharingnya. Nyantai aja. Seperti kata Dimas Alip, saya pun berharap tret ini bisa jadi ajang "pengemukaan" diri masing2 untuk bahan refleksi, bukan menilai apalagi mencela pengalaman pihak lain. Sekedar berharap aja lho, krn bagaimanapun ini adalah forum bebas. Tapi seperti "sumpah" yg saya sampekan didepan, suwer samber gledek saya ndak akan mendebat apalagi mencela pengalaman diri pribadi yg diungkap langsung oleh ybs, apapun latar belakang agama dan keyakinannya.

    Sekedar menggaris-bawahi aja...
    Kebenaran mutlak datang dari diri terdalam dan dari pengalaman yg didapat selama perjalanan.
    Sepakat. "SOE (aku) lah jalan dan kebenaran dan hidup. Barangsiapa mengenal SOE (dirinya sendiri) maka dia akan mengenal DJI (Tuhannya)" (Kitab DjiSamSoe ayat Medley).

    Sedangkan mengenai "pengalaman" rasa2nya saya sudah cukup banyak ceritakan didepan, meskipun saya lebih suka menyebut itu sebagai "mengalami diri", bukan "mengalami Tuhan".

    Dan dari hasil "pengalaman mengenali diri" tsb saya sampe pada kesimpulan sementara (saya ulangi: sementara) bahwa saya "(bertipe) process oriented (PO)" plus "(bertipe) skeptis".

    Mungkin hal itulah yg menjadikan saya "sulit menerima" apa yg pernah dinyatakan oleh misalnya diantaranya adalah Siti Jenar (Manunggaling Kawula Gusti), al-Hallaj (Hulul) ataupun Abu Yazid (Ittihad). No...no..., ini bukan soal benar-salah. Saya sangat menghormati "pencapaian" mereka bertiga kok, bahkan "ajaran SSJ" itu sangat dekat menemani "penjalanan pengenalan diri" yg terjadi dlm diri saya, lha wong saya terlahir dan dibesarkan sbg "wong Jowo" yg sangat kental dgn ajaran tsb. Pusat "Paguyuban SSJ" dulu yg di Kadipaten Kidul (Jogja), entah sekarang masih ada disitu ato ndak, hanya berjarak sekitar 200 meter dari tempat saya dilahirkan dan tumbuh sampe usia dewasa.

    Di sisi lain, untuk hal2 begini, saya lebih merasa "sreg/pas/cocok" dgn Ibn al-Araby (Wahdad al-Wujud). Kalo di "puncak pencapaiannya" SSJ dan al-Hallaj menyatakan "ana al-haq" dan kalo Abu Yazid dgn "ana huwa", sedangkan kalo al-Araby (hanya) sampe pada konklusi "huwa la huwa", maka pernyataan terakhir ("huwa la huwa") itulah yg paling "cocok/sreg/pas" dgn (karakter) diri saya yg "PO+skeptis".

    Dan kalo saya kadang menyinggung persoalan "Tao(ism)", ini juga mungkin krn sangat dekat dgn "karakter" saya tsb. Tao sendiri secara literer artinya "jalan", yg saya pahami sbg "proses" bukan "hasil akhir" ("tujuan").

    "The Tao of Islam", inilah yg saya tangkap dan pahami dari "wahdad al-wujud" nya al-Arabi.

    Sekali lagi ini bukan soal benar-salah. Ini hanya soal kecocokan masing2 aja sesuai "karakter" masing2. Oh ya, dlm setiap karyanya, al-Araby sangat menghormati al-Hallaj bahkan dia pd beberapa kesempatan scr eksplisit mengaku karya2nya banyak diilhami oleh pandangan2 al-Hallaj.

    Anyway...

    Saya bukan SSJ, bukan al-Hallaj, bukan Abu Yazid dan bukan al-Araby. Mereka adalah para spiritualist yg saya hormati seperti halnya para spiritualist yg lain. Saya jelas bukan apa2 dibandingkan mereka. Saya hanya seorang "penempuh jalan". Din. Tao. "Life is a journey..," kata lagunya Aerosmith. Dan saya juga bukan Aerosmith lho. Saya adalah saya. Saya 234.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  3. #143
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    ... lalu ketika baru mau mulai dulu, Oom Sedge, bagaimana Oom Sedge bisa tahu kalau calon guru dan senior yang didatangi itu betul-betul mumpuni dan alim? Bagaimana supaya tidak salah kumpul dengan kaum yang berlagak paling berilmu padahal tidak tahu apa-apa, atau sekumpulan orang schizopren yang mengira mereka sudah intim dengan Tuhan?
    dulu saya terinspirasi dr kisah dewa ruci. Siang malam saya berdoa, mohon dipertemukan dengan tuhan. Kalo itu nggak mungkin, mohon dipertemukan dengan manusia yg sudah bertemu dengan tuhan.

    Hari hari di isi dengan air mata, sholat dua jam tiga jam udah gak aneh. Liat batu keinget allah, saya nangis. Lihat hujan saya nangis. Bener2 fase kegilaan dalam hidup.

    Sementara itu setiap ada orang alim saya datangi. Saya belajar, sampe tau gurunya beliau siapa. Lalu saya datangi gurunya beliau, saya belajar sampai beliau cerita ttg guru beliau. Saya datangi gurunya tsb. Saya belajar lagi, sampe mentok sekarang beliau gak cerita siapa gurunya. Kelak kalau beliau cerita, insya allah akan saya datangi.

    Nah, seiring perjalanan pencarian itu saya juga svaluasi selama ikut guru a perubahan saya apa, lanjut sampe ke guru b yg saya sudah buktikan dalam hidup apa. Alhamdulillah semuanya membawa dampak yg makin bagus. Nah taunya guru saya ini sudah kenal tuhan gimana? Yg beliau bisa menjawab semua tanya saya ttg tuhan. Saya bisa lebih mengerti dan paham ttg tuhan, beyond religions. Diluar itu, seperti halnya manusia suci lainnya, banyak kejadian semacam mukjizat, karomah atau apalah namanya yg pernah saya lihat langsung. Tapi hal ini bukan ukuran menentukan tingkat kemumpunian ilmu seseorang, jadi saya gak akan eksplore lebih jauh.

    Semoga bermanfaat

    ---------- Post Merged at 02:05 PM ----------

    Btw, untuk pembuktian saya rasa sah-sah saja murid menuntut pembuktian bahwa gurunya sudah ketemu tuhan. Tapi tidak semuanya akan dibuktikan oleh beliau.

    Dan pembuktiannya pun sering diluar dugaan dan penalaran akal normal. Jadi bersiaplah secara penuh kalo udah minta bukti. Kalo rejeki pembuktiannya bisa berupa hal yg wah, kalo rejeki juga pembuktiannya bisa berupa teguran.

    Tips nya, jgn minta bukti secara lisan. Minta buktinya diem2 aja dibersitkan dalam sanubari, baik saat bertemu atau saat tidak bertemu (jauh).
    Last edited by sedgedjenar; 23-03-2014 at 02:58 PM.

  4. #144
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    @yg pernah ketemu tuhan atau experiencing god,

    bisa dijelaskan seperti apa rasa ataupun suasana "ketemu tuhan" ataupun "experiencing god"?

    Atau itu sesuatu yg tidak bisa dijelaskan? Cukup dilaksanakan dengan mengikuti saja apa kata-kata sang guru?


  5. #145
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Ho...ho...ho...ho... ... jangan kabur dulu donggg... ini adalah diskusi Sokratik di mana kita secara berkesinambungan mengemukakan diri kita dan menerima kemuka-an orang lain, untuk mencapai pemahaman lebih lanjut tentang konsep yang kita kemukakan sebelumnya. Yang menarik dari diskusi semacam ini adalah kita tidak perlu menyetujui atau tidak menyetujui, kita hanya perlu memahami, dan menggunakan pemahaman itu untuk melakukan refleksi atas posisi awal kita sebelumnya... jadi setiap orang beroleh manfaat yang sesuai dengan kondisinya masing-masing. Tidak perlu kuatir akan jadi perdebatan benar salah apalagi membenarkan dan menyalahkan, peran itu sudah diambil oleh orang-orang lain yang biasanya tidak tertarik untuk hadir di sub-forum ini...
    Udah nih balik lagi.

    Mengapa agama perlu mengantarkan kepada Tuhan (memangnya kenapa kalau tidak)?
    Hmmm...

    Ada (mungkin banyak) orang-orang yg tidak menganggap bhw agama 'perlu' mengantarkan kepada Tuhan scr nyata.
    Jd jika ada ptanyaan spt itu, maka tgantung apa yg sseorang cari dari agama.

    Jika sso mencari 'Tuhan' di dalam agama, maka akan beda dari sso yg mencari 'moralitas' dalam agama.
    Di agama-agama ttentu ada saja skelompok orang-orang yg sangat aktif mencari sosok Tuhan dan mreka mnempuh ritual-ritual ttentu utk mengalamiNya; namun tentunya bagi golongan lain hal tsb tidak mjadi keniscayaan.

    Jd jawaban saya:
    Perlu, jika sso ingin mengalami Tuhan.

    Apa gerangan jadinya setelah diantar dan sampai kepada/mengalami Tuhan (dan bagaimana dengan yang tidak sampai/tidak mengalami)?
    Jika orang itu memang ingin mngalami Tuhan scr nyata, maka sampai/tidaknya ia mlalui agamanya akan bpengaruh pd dirinya.

    Mgkn ada bbrp org yg awalnya ingin mngalami Tuhan scr nyata, tp seiring bjalannya waktu mreka mjd mengutamakan pmaknaan dan moralitas.
    Jika mreka pd saat itu mlihat pmaknaan dan moralitas sbg ssuatu yg penting, maka pengalaman akan Tuhan tentunya tidak mjd ssuatu yg harus.

    --------

    Skrg saya mau btanya.

    Sbg sso yg beragama, apa yg akan teman-teman jawab ktika teman datang dan bkata:
    'Saya pengen banget bisa melihat Tuhan tetapi stelah skian lama ber-agama, saya tidak kunjung bertemu Tuhan scr nyata walau saya mrasa tenang hatinya'.

  6. #146
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Hmm...ditanya apa njawabnya kemana...
    Jd jawaban saya:
    Perlu, jika sso ingin mengalami Tuhan.
    Pertanyaannya: Mengapa perlu? Memangnya kenapa kalo tidak?

    Lalu apa itu maksudnya "mengalami Tuhan"? Ini yg ndak pernah anda jawab dan jelaskan.


  7. #147
    coba-coba mendoan's Avatar
    Join Date
    Mar 2014
    Location
    Bandung
    Posts
    28
    percaya Tuhan atau Agama?
    dua-dua nya
    "Jangan sengaja pergi agar di cari. jangan sengaja lari biar di kejar. Berjuang tak sebercanda itu" - Soedjiwo Tedjo

  8. #148
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    dulu saya terinspirasi dr kisah dewa ruci. Siang malam saya berdoa, mohon dipertemukan dengan tuhan. Kalo itu nggak mungkin, mohon dipertemukan dengan manusia yg sudah bertemu dengan tuhan.

    Hari hari di isi dengan air mata, sholat dua jam tiga jam udah gak aneh. Liat batu keinget allah, saya nangis. Lihat hujan saya nangis. Bener2 fase kegilaan dalam hidup.
    Terima kasih atas sharing-nya, Oom Sedge...
    Tapi saya agak sulit memahami bahwa sebuah cerita bisa menginspirasi sampai sejauh itu. Dugaan saya, ada peristiwa atau kecenderungan kecil-kecil sebelumnya yang lalu berakumulasi sampai akhirnya cerita itu menjadi pencetus... soalnya sampai menimbulkan fase kegilaan...

    ... apakah sebelumnya sudah ada dorongan-dorongan?


    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    Jd jawaban saya:
    Perlu, jika sso ingin mengalami Tuhan.
    Saya mengamini KangMas DjiSamSoe... jawaban Cassa menunjukkan sikap menjauh dari topik dan tetap berdiri di luar pagar. Sama saja seperti Cassa mengatakan: "pendapat saya adalah kalian harus bertemu dengan si sso yang ingin mengalami Tuhan dan bertanya pendapatnya". Jadi bawakanlah si sso itu kemari dan biar beliau yang berdiskusi di sini... dengan demikian kami mengenal dengan siapa kami berdiskusi dan bisa memberikan komentar yang menurut kami paling sesuai dan moga-moga bermanfaat bagi sso dan kami...

    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    Sbg sso yg beragama, apa yg akan teman-teman jawab ktika teman datang dan bkata:
    'Saya pengen banget bisa melihat Tuhan tetapi stelah skian lama ber-agama, saya tidak kunjung bertemu Tuhan scr nyata walau saya mrasa tenang hatinya'.
    saya akan senang bicara dengan si teman ini, dan jawaban saya akan disesuaikan dengan latar belakang, pengalaman, dan bahasa yang ia gunakan. Mudah-mudahan bermanfaat baginya...

    Tapi karena si teman ini masih hipotetik, maka tidak ada yang bisa saya katakan...


    ---------- Post Merged at 08:48 AM ----------

    Quote Originally Posted by purba View Post
    @yg pernah ketemu tuhan atau experiencing god
    Ini adalah summon name yang paling panjang yang pernah saya lihat...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  9. #149
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    Hmmm...
    Brarti sementara ini diskusi kita masih menggantung sampai nanti ada org yg pernah mengalami Tuhan mau datang dan share di dunia ide ini.

  10. #150
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    ... atau kita bisa menunggu sampai Casanova Love memaparkan kenapa dia berpendapat bahwa manusia beragama perlu bertemu Tuhan sebelum mati, dan apa yang dia bayangkan bila manusia beragama tidak sempat mengalami Tuhan...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  11. #151
    Karena manusia lah yang membentuk struktur, menuliskan dan mewariskan ajaran-ajaran, membentuk bangsa,
    maka bisalah disebut manusia yang membentuk agama. Karena secara fisik memang demikian.

    Tapi buat mereka yang mendasarkannya pada kepercayaan kepada Pencipta, mereka percaya bahwa mereka mengimplementasikan konsep yang diturunkan sang pencipta ke muka bumi.

    ane setuju dengan jalnnya...

    ---------- Post Merged at 11:33 AM ----------

    Quote Originally Posted by Alip View Post
    ... atau kita bisa menunggu sampai Casanova Love memaparkan kenapa dia berpendapat bahwa manusia beragama perlu bertemu Tuhan sebelum mati, dan apa yang dia bayangkan bila manusia beragama tidak sempat mengalami Tuhan...
    Sangat perlu bro.... H. RHOMA IRAMA dengan judl buta tuli... yang dalam "baitnya Kalau manusia tidak menegenal tuhan maka seperti Hewan" ...


  12. #152
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    Yg gak rugi ente kali.
    Coba bayangin kalo profesi ente pemuka agama yg kerjanya nakut-nakutin umat dengan siksa neraka agar mereka isi kotak sumbangan?

    Uwekekekekekee...

    [/IMG]
    nabi Muhammad melakukan hal tersebut pada saat setelah shalat ied beliau memerintahkan para wanita untuk bersedekah agar mereka bisa terselamatkan dari api neraka.... fungsi sedekah sendiri banyak kok.... bisa jadi dana pembangunan masjid dana untuk membantu para fakir miskin... sedekah bisa jadi sarana silahturahmi..... kok... jadi dimana masalahnya......

  13. #153
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Tentang manusia dgn hewan...

    ...Kalau manusia tidak menegenal tuhan maka seperti Hewan" ..
    Manusia itu pintar, hewan itu bodoh. Itu yg saya tahu, dan rasa2nya ini ndak terbantahkan. So, dlm hal ini, saya jelas menolak disamakan seperti hewan.

    Apakah hewan mengenal Tuhan? Kalo ini suwer beneran saya ndak tahu. Thanks kalo ada yg bisa kasitau saya. So, sepanjang itu saya ndak tahu, maka dlm hal ini saya tidak menolak disamakan seperti hewan.

    Itu kalo bicara soal "tahu" (knowledge).

    Sedangkan kalo bicara soal "percaya" (belief) saya malah percaya bahwa hewan itu mengenal Tuhan. Dus, dlm hal ini, justru manusia yg mengenal Tuhan itu berarti seperti hewan. Tapi tentu saja, sbg implikasi logisnya maka, manusia yg ndak mengenal Tuhan berarti "lebih rendah" daripada hewan lho.

    Dan saya juga percaya bahwa ada manusia yg juga lebih rendah (ndak pake tanda petik) daripada hewan. Psikopat, pembunuh, pemerkosa, maling, copet, rampok, tukang tipu2, ngibul, koruptor, dll adalah contohnya. Saya percaya hewan pun akan menolak kalo disamakan seperti orang2 tsb.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  14. #154
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    nabi Muhammad melakukan hal tersebut pada saat setelah shalat ied beliau memerintahkan para wanita untuk bersedekah agar mereka bisa terselamatkan dari api neraka.... fungsi sedekah sendiri banyak kok.... bisa jadi dana pembangunan masjid dana untuk membantu para fakir miskin... sedekah bisa jadi sarana silahturahmi..... kok... jadi dimana masalahnya......
    Yg bilang itu masalah siapaa ya?

  15. #155
    pelanggan tetap red_pr!nce's Avatar
    Join Date
    Aug 2012
    Location
    BSD City
    Posts
    580
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    abis diajak diskusi teman (dia terlahir hindu)...
    dia bilang tuhan tidak menciptakan agama, manusia yang menciptakan agama
    jadi mana yang harus dipercaya sebenarnya? tuhan atau agama?


    bagaimana menurut anda?
    Tuhan sudah ada jauh sebelum agama.
    Manusia mencoba memahami hukum di dunia ini.
    Manusia tidak mampu memahami hukum di dunia ini.
    Oleh karena itu, manusia menciptakan agama untuk berkomunikasi dengan Tuhan agar memahami hukum di dunia ini.

  16. #156
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    ... atau kita bisa menunggu sampai Casanova Love memaparkan kenapa dia berpendapat bahwa manusia beragama perlu bertemu Tuhan sebelum mati, dan apa yang dia bayangkan bila manusia beragama tidak sempat mengalami Tuhan...
    Kenapa tidak Mas Alip?

    Dlm pmikiran saya,
    Ktika sso mngikuti sebuah agama yg menjelaskan tentang Tuhan, maka wajar skali jika orang itu ingin melihat Tuhan yg diyakininya pd saat ia masih hidup, kcuali jika di agama itu tercantum bhw Tuhan yg diyakininya tidak mungkin bisa dilihat spanjang ia masih hidup (baru bisa dilihat jika sudah mati).

    Utk agama-agama yg saya bold di atas, saya tutup kasus karena memang katanya tidak mungkin.
    Utk agama-agama yg tidak sperti yg saya bold di atas, bukankah tetap ada ruang yg leluasa bhw Tuhan akan mnyatakan diriNya pd umat?

  17. #157
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    Dlm pmikiran saya,
    Ktika sso mngikuti sebuah agama yg menjelaskan tentang Tuhan, maka wajar skali jika orang itu ingin melihat Tuhan yg diyakininya pd saat ia masih hidup
    Nah, akhirnya kita bicara soal keyakinan pribadi... jadi saya kembalikan ke pertanyaan awal yang mungkin masih kurang jelas juga dipahami... untuk memudahkan, saya akan pecah ke dalam sub-pertanyaan yang lebih rinci dengan kata kunci saya garis bawahi...

    1. Jadi apakah bertemu Tuhan sebelum mati adalah suatu syarat pencapaian yang harus diraih sso dalam hidup beragama?
    2. Apakah orang yang tidak pernah bertemu Tuhan sebelum dia mati berarti dia telah gagal dalam kehidupan beragamanya?
    3. Jika jawaban untuk pertanyaan pertama dan kedua di atas adalah "tidak", lalu mengapa sso perlu bertemu Tuhan sebelum dia mati?


    Quote Originally Posted by Casanova Love View Post
    kcuali jika di agama itu tercantum bhw Tuhan yg diyakininya tidak mungkin bisa dilihat spanjang ia masih hidup (baru bisa dilihat jika sudah mati).
    ...

    Utk agama-agama yg tidak sperti yg saya bold di atas, bukankah tetap ada ruang yg leluasa bhw Tuhan akan mnyatakan diriNya pd umat?
    Boleh disebutkan agama apa saja sepengetahuan Casanova yang mengatakan bahwa manusia akan bertemu Tuhan di dunia ini sebelum mereka mati? Adakah agama-agama tersebut mengajarkan ritual-ritual tertentu yang memungkinkan sso untuk bertemu Tuhan sebelum mati?
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  18. #158
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Ijin numpang mundur (BTT) sejenak ttg "Percaya Tuhan atau Agama"...

    Saya mau iseng2 monolog lagi mumpung ada di tret yg membahas ttg "percaya/belief". *yg jelas sih mumpung barusan lagi lepas dari deadline kerjaan*

    Saya sering menyatakan bahwa "belief" itu bersifat "pilihan", tanpa disertai bukti (logis dan/atau empiris). Ranahnya beda dgn ranah "tahu" (knowledge) yg bersifat "ilmiah" dlm arti harus disertai bukti. Dst. Dsb.

    Tapi sebenarnya kalo mau coba2 "mengilmiahkan belief" juga sah2 aja kok, toh sesuatu yg tanpa disertai bukti itu bukan berarti bukti tsb tidak ada, melainkan mungkin ada tapi mungkin juga sebaliknya alias memang beneran ndak ada. Maybe yes, maybe no.

    (Note: Tapi kalo untuk membuktikan ada-tidaknya Tuhan saya ndak minat sama sekali. Kesannya jadul banget.)

    IMO, "percaya" itu kalo dibawa ke ranah ilmiah levelnya kurang lebih setara dgn sebuah "asumsi", sesuatu yg dianggap benar. Tapi asumsi tetaplah asumsi. Sepanjang tidak (belum) ada bukti sebaliknya maka asumsi tsb tetap sah dan valid untuk dipertahankan, ndak bisa disebut gugur.

    Dan seseorang (dlm bidang apapun) mengambil sebuah asumsi itu motifnya cuma satu: asas manfaat. Kebutuhan. Orang butuh berasumsi untuk membantunya mencapai goal tertentu, mau ilmiah, spiritual, sosial, klenik, rasa nyaman, kebahagiaan, dsb itu semua sami mawon, semua itu butuh sebuah asumsi sbg landasan berpijak.

    Masalahe, tidak sedikit manusia yg "berasumsi" bahwa asumsinya tsb bukan sebuah asumsi melainkan "kebenaran mutlak" (hadeuh istilah apa lagi ini). Jadilah asumsi diatas asumsi.

    No...no..., saya sama sekali tidak hendak mengatakan hal itu adalah bentuk sikap yg "tidak benar" dan/atau "tidak baik". Tidak sama sekali. Itu natural kok. Memang begitulah nature "akal pikiran" yg ada pada manusia.

    (Note: Jangankan "asumsi", lha wong yg levelnya hipotesa, aksioma, konsep, teori bahkan hukum, postulat, paradigma, prinsip dll yg bersifat ilmiahpun pun tetap tidak tertutup kemungkinan di kemudian hari terbukti tidak benar dan berubah kok, namanya juga iptek akan selalu berkembang.)

    So dlm konteks "asumsi" ini, yg membedakan antar manusia itu sebenarnya bukan masalah "benar vs salah", melainkan masalah "openmind vs jumud".

    Dan kalo misalnya dihubungkan dgn persoalan "agama (agamawan) vs iptek (ilmuwan)" memang ada asumsi bahwa agama itu (harus) jumud sedangkan iptek itu (harus) openmind. Sehingga kalo ada agamawan yg openmind kecenderungannya akan disingkirkan dr kelompoknya, ndak dianggap sbg agamawan. Sebaliknya, kalo ada ilmuwan yg jumud pun akan bernasib sama alias akan disingkirkan dr kelompoknya, ndak diakui sbg ilmuwan. Sayangnya, asumsi ini memang sulit dibantah.

    Trus gimana duong? Ya kembali lagi ke motif awal yaitu: asas manfaat. Selama sebuah asumsi memang membawa manfaat (kalo ustad gaul bilangnya: rahmatan lil'alamin) ya berarti itu "baik (dan benar)", tapi kalo sebaliknya maka itu berarti "tidak baik (dan/atau tidak benar)".

    (Note: Bicara manfaat, IMO, adalah lebih bicara soal kebaikan, bukan kebenaran. Mungkin ini reason kenapa saya menempatkan "kebaikan" diatas "kebenaran". Dan mungkin hal ini pula yg menjadikan saya merasa sbg orang pragmatis, agak2 gimana gitu kalo denger istilah idealistis.)

    Trus bagaimana menilai sesuatu itu manfaat atau ndak? Ya lagi2 berdasarkan: asumsi. Lha trus emangnya mau gimana lagi? Memang begitu kok nature dari (pikiran) manusia.

    Tapi dasar namanya manusia yg, IMO, secara nature memang ngeyel, panjang akal, ndak mau nyerah begitu aja, maka muncullah otak kreatifnya "menciptakan" ato mencoba memisahkan sisi lain yg disebut sbg "spiritualitas" sbg upaya untuk melepaskan diri dr asumsi2 yg adanya didlm ranah rasionalitas.

    Bisakah? Berhasilkah? Bisa atau ndak, berhasil atau gagal, itu semua ndak masalah. Namanya juga makhluk cerdas bin ngeyel, yg penting usaha. Sifat ingin tahu itu juga nature dr si makhluk ngeyel yg bernama manusia itu.

    Oleh sebab itu, IMO, beberapa (bahkan pada umumnya) ajaran "spiritual" bahkan khususnya yg berlabel "agama" ujung2nya kebanyakan mengarah pada bagaimana "menaklukkan pikiran". Ada yg bilang "mengalahkan hawa nafsu". Ada yg ngomong "melenyapkan ego". Lepas dari dualitas pikiran. Melihat realita apa adanya. Terang benderang. Enlightening. Lepas dari asumsi dan persepsi akal pikiran. Lepas dari dhukka dan samsara. Lolos dr neraka. Keluar dari lingkaran karma. Terbebas dari siklus reinkarnasi dan tumimbal lahir. Null. Nil. Kosong. Hening. In perfect stillness. Moksa. Menyatu dgn "Sang Realitas Sejati". Sang Kasunyatan. Keabadian. Wuji. Nibbana. Allah. Bapa. JHVH. Brahman. Gusti. DJI.

    Apakah itu? Adakah itu? Bisakah itu? Ya cari tahu aja sendiri. Ehipassiko. Tanya pada diri sendiri. Jangan nanya ke saya. Percuma. Lha wong saya juga ndak tahu kok. Ora mudheng. Saya agnostis.

    Apalagi saya pribadi memang ndak minat untuk "menaklukkan" akal pikiran. Istilah takluk-menaklukkan, mengalahkan, menguasai, mengendalikan, dll itu bagi saya kesannya agak2 gimana gitu. Se-olah2 akal pikiran itu adalah musuh. Saya malah lebih memilih untuk berusaha memahami, menyadari, bersahabat dan berteman akrab bahkan bersenda-gurau dgn akal pikiran, alih2 saling takluk-menaklukkan.

    So, IMO, pilihannya tinggal antara mau pilih jadi manusia openmind apa manusia jumud. Dan apapun pilihannya, itu nature manusia juga kok. Openmind dgn jumud itu juga dua sisi dari satu keping mata uang yg sama kok. Apalagi orang openmind itu mirip2 dgn orang ndak punya pendirian, demikian juga orang jumud itu sulit dibedakan dgn orang yg teguh pendirian. So, tinggal bagaimana lihainya aja dlm memilih dan mengambil sudut dan cara pandang thd paradoks tsb yg, lagi2, ujung2nya bagaimana pinter2nya aja dalam...berasumsi.

    *Asyiiik...bisa ngoceh panjang lebar mumpung di sub-topik "Dunia Asumsi" eh maksutku "Dunia Ide"*

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  19. #159
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    Yg bilang itu masalah siapaa ya?
    emank gak ada yang bilang masalah tapi anda kan mentertawakan hal tersebut... emank itu lucu ya???

  20. #160
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    Oleh sebab itu, IMO, beberapa (bahkan pada umumnya) ajaran "spiritual" bahkan khususnya yg berlabel "agama" ujung2nya kebanyakan mengarah pada bagaimana "menaklukkan pikiran". Ada yg bilang "mengalahkan hawa nafsu". Ada yg ngomong "melenyapkan ego". Lepas dari dualitas pikiran. Melihat realita apa adanya. Terang benderang. Enlightening. Lepas dari asumsi dan persepsi akal pikiran. Lepas dari dhukka dan samsara. Lolos dr neraka. Keluar dari lingkaran karma. Terbebas dari siklus reinkarnasi dan tumimbal lahir. Null. Nil. Kosong. Hening. In perfect stillness. Moksa. Menyatu dgn "Sang Realitas Sejati". Sang Kasunyatan. Keabadian. Wuji. Nibbana. Allah. Bapa. JHVH. Brahman. Gusti. DJI.
    kalo dalam islam sendiri tidak dikenal adanya istilah mengalahkan hawa nafsu yang ada adalah mengendalikan atau memanaje hawa nafsu.... krena nafsu adalah hal yang fitrah dalam diri manusia.. dapat dilihat dari sosok panutan bagi umat islam yaitu nabi Muhammad beliau menikah dan memiliki keturunan, beliau puasa dan beliau berbuka. beliau makan daging yang dihalalkan, beliau berperang dan beliau melakukan hal2 yang memang manusiawi tanpa mematikan apa yang kita sebut nafsu.........
    dan dalam islam sendiri dari tuntunan Nabi tidak dikenal dengan apa yang disebut menyatu dengan Tuhan... dan hal2 yang serupa...

Page 8 of 12 FirstFirst ... 678910 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •