Page 7 of 11 FirstFirst ... 56789 ... LastLast
Results 121 to 140 of 211

Thread: Kenapa Syi'ah di bantai?

  1. #121
    pelanggan setia mobyokuzan's Avatar
    Join Date
    Jul 2012
    Posts
    2,025
    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    gue kemarin mbuka fb nye tersangka teroris solo yang ketembak mati
    umur 20, dari status-status fb nya keliatan persis seperti yang kop-may sebutkan disini
    ane juga kros-cek dengan beberapa sumber berita di koran atau web supaya gambarannya lengkap

    kesimpulan sementara ane, tersangka teroris solo itu cuma korban
    korban kebodohannya sendiri, korban keadaan, sama korban pergaulan
    dalam hidupnya ada satu sisi yang tidak terpenuhi, ketemu kelompok yang ngiming-ngimingin hal-hal yang gak terpenuhi dalam hidupnya
    dalam hal ini iming-iming surga, kebahagiaan (yang selama ini dia cari tapi gak ketemu dalam hidupnya)
    jadilah dia tergiur, akhirnya mati sangit... eh syahid ya ? apa mati sakit ?

    yg bikin gw penasaran kondisi dia stlh mati gmn yah kop ?
    sayangnya yg di reportasekan hanya keadaan dia ketika hidup dan detik2 menjelang ajal saja, tetapi setelah sangit... eh syahid ya ? ga pernah ada yg bahas, apakah iming2nya sdh keturutan ataukah malah kebalikannya.

    "telling lies is sometimes acceptable,
    when the truth is too difficult to believe"

  2. #122
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Dengan melihat siapa yang terlibat dalam pembantaian tersebut, Eyang. Silakan Eyang Purba sebutkan secara rinci kasus-kasus termaksud, dugaan saya sebagian besar (atau malah semua?) dilakukan oleh pihak-pihak yang memang sudah punya kecenderungan pada kekerasan... yaitu mereka yang kita bahas sebelumnya.
    Ok, dlm hal ini mbah Alip lebih condong pada teori Maslow bahwa kekerasan oleh sekelompok orang disebabkan "sudah dari sono"nya mereka keras.

    Sementara ane berangkat dari sifat dasar makhluk hidup bahwa kekerasan pada akhirnya akan dilakukan oleh setiap makhluk hidup ketika mereka mengalami ancaman. Singa memang "sudah dari sono"nya keras, jadi gak aneh kalo singa melakukan kekerasan. Tapi sapi yg "sudah dari sono"nya lembut, bukan tidak mungkin melakukan kekerasan, misalnya ketika sapi mau disembelih atau dimangsa, bisa berubah agresif, akhirnya melakukan kekerasan. Katakanlah ini teori singa-sapi. Tinjau kasus pembantaian Syiah di Sampang. Ok, masyarakat Sampang (etnis Madura) terkenal dgn karakter keras, sehingga mudah melakukan kekerasan. Ini cocok dgn teori Maslow. Tapi bagaimana dgn pembantaian Ahmadiyah atau penolakan gereja di Bogor? Masyarakat Bogor (etnis Sunda) terkenal dgn kelemah-lembutannya, tapi akhirnya melakukan kekerasan juga. Ini gak cocok dgn teori Maslow. Ane melihat malah teori singa-sapi yg lebih cocok utk menjelaskan kasus2 kekerasan tadi.

    Atau begini. Ane pernah membaca, more or less, bahwa tukang jagal kambing lebih mudah melakukan kekerasan dibandingkan petani kangkung. Itu karena keseharian tukang jagal yg terbiasa menjagal, sehingga tidak ada perasaan sungkan atau apalah ketika mau menjagal orang. Apa ini yg dimaksud mbah dgn kecenderungan pada kekerasan? Ok, lagi-lagi karena etnis Madura yg terkenal dgn karakter keras, maka mudah terjadi tindak kekerasan. Tapi apa motifnya? Kan tidak tiba-tiba seorang etnis Madura menantang carok pada yg lain tanpa sebab2 yg jelas. Teori Maslow ini mungkin utk menjelaskan seberapa cepat atau seberapa sering sebuah kekerasan terjadi pada suatu masyarakat. Contoh lain, misalnya masyarakat Bugis yg juga dikenal dgn karakter kerasnya, makanya sering terjadi tawuran mahasiswa di Sulawesi Selatan. Tapi tetap saja kekerasan tsb harus didahului oleh motif tertentu. Nah, ancaman aqidah-lah yg ane duga sbg motif kekerasan thd Syiah, Ahmadiyah, dan gereja.

    Kalau ini saya harus minta maaf dulu, Eyang Purba, karena politik bukan bidang yang saya tekuni maka saya tidak mengikuti benar bagaimana pemahaman, tindakan, dan sikap teman-teman dari PKS. Mungkin Eyang bisa merinci lebih lanjut...
    Ane ambil PKS utk menunjukkan bahwa ancaman aqidah bukan saja dirasakan oleh kalangan muslim yg miskin dan bodoh, tapi juga oleh kalangan muslim yg kaya dan terdidik. PKS merepresentasikan kalangan muslim yg kaya dan terdidik. Ane tidak fokus pada hurup P(artai) dalam singkatan PKS, tetapi pada muslim yg berafiliasi pada PKS yg umumnya kaya dan terdidik. Jadi, bukan pada politiknya mbah... Memang manifestasi rasa terancam dari kalangan muslim yg kaya dan terdidik bukan berupa kekerasan fisik, melainkan berupa kebijakan2 politik atau pemikiran2 lainnya.

    Kalau dalam konteks kuno, hal ini mengingatkan saya pada slogan "go to east young knight" yang konon didengungkan oleh Paus Urban II dan mencetuskan Perang Salib Pertama. Penaklukan Yerusalem oleh pasukan crusader di tahun 1099 ini dianggap sebagai kemenangan Tuhan dan gereja atas kaum kafir Turki dan selama ratusan tahun menjadi bahan romantisme religius para ksatria eropa. Yang mereka tidak sadari adalah slogan tersebut, dan perang salib yang mengikutinya, hanyalah akal bulus dari Alexios I, kaisar Byzantium yang merasa kekuasaannya digerogoti oleh kerajaan Turki dan membutuhkan bantuan untuk memusnahkan ancaman dari musuhnya itu. Demikianlah awal mula perseteruan ratusan tahun yang masih meninggalkan luka antara Kristen dan Islam sampai sekarang, kepentingan politik seorang kaisar yang paranoid.
    Dalam hal ini ane melihat ajaran atau keyakinan prajurit Salib, bahwa perang yg mereka lakukan adalah utk membela Tuhan mereka, dimanfaatkan oleh kaisar yg haus kekuasaan utk menyerang Turki. Artinya, harus ada dulu sebuah ajaran, kemudian ketika ajaran tsb sudah tertanam dgn baik, maka tinggal dimanfaatkan saja. Tanpa adanya ajaran tsb, bagaimana mungkin sang kaisar memerintahkan prajuritnya utk perang?

    Saya agak bingung dengan pernyataan Eyang yang ini... apa hubungannya antara gender nabi dengan indoktrinasi terhadap pengikut? Apakah maksudnya budaya patrlianis adalah budaya yang diktatik dan indoktrinatif? Apa kelemahannya memiliki pemuka agama/nabi yang laki-laki?
    Pernyataan ane ttg hal itu sebenarnya utk merespon engkong Pasing yg menyatakan kekerasan Sampang disebabkan oleh pengkultusan berlebihan dlm masyarakat paternal kita. Itu bisa saja benar dlm hal sang panutan memanfaatkan kepatuhan pengikutnya utk melakukan kekerasan demi kepentingan sang panutan. Hal yg sama juga terjadi pada kasus Alexios I yg mbah ceritakan di atas. Tapi perintah sang panutan utk menyerang tidak terlaksana begitu saja jika sebelumnya tidak ada ajaran yg sudah tertanam dibenak para pengikutnya. Setidaknya sang panutan memcap dulu bahwa Syiah sesat, kemudian dia memerintahkan pembantaian. Ketika pengikutnya tahu Syiah sesat, maka muncullah rasa terancam dalam diri mereka, selanjutnya eksekusi pembantaian. Pada masyarakat dgn karakter keras, eksekusi segera terlaksana.

    Masalah tidak ada nabi perempuan juga ane kaitnya dgn budaya. Engkong Pasing sudah mengoreksi bahwa budaya yg dimaksud adalah patriarki. Dalam hal itu Islam juga terkait dgn budaya patriarki, tidak adanya nabi perempuan. Sedangkan kaitan Islam dgn budaya paternal misalnya ajaran "sami'na wa atho'na". Bukan Islam saja, juga Yahudi dan Kristen sebenarnya sejalan dgn budaya paternal. Konsep sang penyelamat dalam agama samawi adalah budaya paternal.


  3. #123
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by mobyokuzan View Post
    yg bikin gw penasaran kondisi dia stlh mati gmn yah kop ?
    sayangnya yg di reportasekan hanya keadaan dia ketika hidup dan detik2 menjelang ajal saja, tetapi setelah sangit... eh syahid ya ? ga pernah ada yg bahas, apakah iming2nya sdh keturutan ataukah malah kebalikannya.
    waduh... wallahu'alam deh
    yang sekelas amrozi aje......*tiiit* (kena sensor)
    apalagi yang beginian kop



    apa kita panggil aja yang bersangkutan buat diwawancara ?


  4. #124
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by mobyokuzan View Post
    yg bikin gw penasaran kondisi dia stlh mati gmn yah kop ?
    sayangnya yg di reportasekan hanya keadaan dia ketika hidup dan detik2 menjelang ajal saja, tetapi setelah sangit... eh syahid ya ? ga pernah ada yg bahas, apakah iming2nya sdh keturutan ataukah malah kebalikannya.
    Yg ini bukan urusan kita lah... kecuali ada edisi kopi baka.. bukan kopi maya..

  5. #125
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by purba
    Ok, dlm hal ini mbah Alip lebih condong pada teori Maslow bahwa kekerasan oleh sekelompok orang disebabkan "sudah dari sono"nya mereka keras.
    Ooo... maksudnya gituuuu...

    Kalau begitu harus ada yang kita luruskan dulu, Eyang. Maslow tidak menyebutkan bahwa ada ras tertentu yang cenderung pada kekerasan, dia hanya melihat hubungan antara agama yang dianut oleh suatu masyarakat dengan kondisi sosialnya. Ditemukan bahwa masyarakat yang agresif cenderung menciptakan agama yang juga agresif. Namun Maslow percaya bahwa kekerasan bukanlah watak dasar manusia manapun.


    Quote Originally Posted by purba
    ... Singa memang "sudah dari sono"nya keras, jadi gak aneh kalo singa melakukan kekerasan. Tapi sapi yg "sudah dari sono"nya lembut, bukan tidak mungkin melakukan kekerasan, misalnya ketika sapi mau disembelih atau dimangsa, bisa berubah agresif, akhirnya melakukan kekerasan...
    Pada periode Maslow hal ini masih berupa teori, tapi sekarang sudah terbukti bahwa kekerasan pada manusia normal adalah learned behavior, bukan bawaan genetis. Di wilayah yang alamnya keras seperti Normandia, Hijaz, Madura, dan lain-lain, manusia-manusianya terkondisi untuk bersikap keras pula. Sebaliknya berlaku bagi manusia yang tumbuh di wilayah subur dan tenang. Jadi contoh tukang jagal dan petani itu memang cocok adanya.

    Di jaman modern begini anak-anak belajar kekerasan hampir delapan jam sehari melalui film sejenis Tom and Jerry dan berita-berita kriminal di TV.

    Quote Originally Posted by purba
    ... Sementara ane berangkat dari sifat dasar makhluk hidup bahwa kekerasan pada akhirnya akan dilakukan oleh setiap makhluk hidup ketika mereka mengalami ancaman.
    Setuju. Dalam kondisi terdesak, semua makhluk hidup memiliki mekanisme fight or flee di mana bagian otak kecil (amigdala) akan memerintahkan tubuh untuk siaga. Adrenalin akan dipompa ke dalam darah dan jantung berdetak lebih cepat, tubuh siap untuk melakukan tindakan ekstrim, baik itu lari lintang pukang atau berkelahi mati-matian.

    Quote Originally Posted by purba
    ... tapi apa motifnya? Kan tidak tiba-tiba seorang etnis Madura menantang carok pada yg lain tanpa sebab2 yg jelas. .... Tapi tetap saja kekerasan tsb harus didahului oleh motif tertentu. Nah, ancaman aqidah-lah yg ane duga sbg motif kekerasan thd Syiah, Ahmadiyah, dan gereja...
    Mungkin Eyang Purba ingat pada diskusi kita beberapa waktu lalu, sayang saya lupa link-nya. Ritual ibadah, seperti sholat, do'a, dan meditasi, punya manfaat menekan fungsi amigdala dan mengembangkan sikap yang lebih empatik dan welas asih. Ini adalah penafsiran saya untuk ayat "sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar".

    Jadi seharusnya agama dan akidah memiliki fungsi yang berkebalikan dari kasus-kasus kekerasan antar agama yang terjadi belakangan ini. Dari sini kita layak menduga bahwa kasus kekerasan yang terjadi, meskipun melibatkan kasus dan simbol keagamaan, bukan berawal dari agama.

    Atau jikapun katakanlah murni merupakan pertentangan agama, maka akarnya terletak dari pola ajar agama yang keliru, bukan kesalahan dalam ajaran agamanya.


    Quote Originally Posted by purba
    Ane ambil PKS utk menunjukkan bahwa ancaman aqidah bukan saja dirasakan oleh kalangan muslim yg miskin dan bodoh, tapi juga oleh kalangan muslim yg kaya dan terdidik. PKS merepresentasikan kalangan muslim yg kaya dan terdidik. Ane tidak fokus pada hurup P(artai) dalam singkatan PKS, tetapi pada muslim yg berafiliasi pada PKS yg umumnya kaya dan terdidik. Jadi, bukan pada politiknya mbah... Memang manifestasi rasa terancam dari kalangan muslim yg kaya dan terdidik bukan berupa kekerasan fisik, melainkan berupa kebijakan2 politik atau pemikiran2 lainnya.
    Oke saya paham. Tapi saya tetap melihat ini sebagai dampak dari pengaruh kehidupan berpolitik ketimbang pengaruh ajaran agama. Soalnya yang sekilas saya lihat, partai-partai berasaskan Islam sekalipun saling sikut dan saling sikat tanpa menunjukkan adanya persaudaraan antara umat seagama.


    Quote Originally Posted by purba
    Dalam hal ini ane melihat ajaran atau keyakinan prajurit Salib, bahwa perang yg mereka lakukan adalah utk membela Tuhan mereka, dimanfaatkan oleh kaisar yg haus kekuasaan utk menyerang Turki. Artinya, harus ada dulu sebuah ajaran, kemudian ketika ajaran tsb sudah tertanam dgn baik, maka tinggal dimanfaatkan saja. Tanpa adanya ajaran tsb, bagaimana mungkin sang kaisar memerintahkan prajuritnya utk perang?
    Betul sekali.

    Hanya saja dalam hal ini kita berbicara tentang pengaruh agama pada jaman pertengahan yang juga disebut abad kegelapan (dark age), yang sudah dimaklumi oleh jumhur sejarawan sebagai masa di mana penyatuan agama dan kekuasaan telah menghasilkan manipulasi-manipulasi ajaran, dan agama digunakan untuk menakut-nakuti masyarakat agar pemerintah bisa meraih kekuasaan absolut. Dalam hal ini saya setuju dengan analisa Eyang Purba, karena memang begitulah perilaku dan penggunaan ajaran agama pada saat itu.


    Quote Originally Posted by purba
    Tapi perintah sang panutan utk menyerang tidak terlaksana begitu saja jika sebelumnya tidak ada ajaran yg sudah tertanam dibenak para pengikutnya. Setidaknya sang panutan memcap dulu bahwa Syiah sesat, kemudian dia memerintahkan pembantaian. Ketika pengikutnya tahu Syiah sesat, maka muncullah rasa terancam dalam diri mereka, selanjutnya eksekusi pembantaian.
    Betul. Saya setuju.

    Dari sini Eyang Purba bisa melihat bahwa harus dilakukan dulu pelencengan dari ajaran agama oleh si Ustadz sebelum doktrin kebencian bisa ditanamkan di hati para pengikutnya. Kalau dikembalikan hanya sekedar ajaran surga neraka saja seperti awal diskusi kita, maka pengaruhnya tidak akan sampai sejauh ini.

    Seperti disebutkan oleh Youngblue jauh di depan, forum ulama internasional sudah mengakui banyak ajaran sektarian sebagai bagian dari keluarga besar muslim sedunia, salah satunya adalah Syi'ah.


    Quote Originally Posted by purba
    Masalah tidak ada nabi perempuan juga ane kaitnya dgn budaya. Engkong Pasing sudah mengoreksi bahwa budaya yg dimaksud adalah patriarki. Dalam hal itu Islam juga terkait dgn budaya patriarki, tidak adanya nabi perempuan. Sedangkan kaitan Islam dgn budaya paternal misalnya ajaran "sami'na wa atho'na". Bukan Islam saja, juga Yahudi dan Kristen sebenarnya sejalan dgn budaya paternal. Konsep sang penyelamat dalam agama samawi adalah budaya paternal.
    Sebagai agama yang turun di tanah Patriakis di Arab sana, wajar saja bila Islam membawa misi dengan nada patriakis. Suatu taktik yang wajar, sederhana, dan sangat bisa dipahami akal.

    Tapi saya bingung bila ajaran "sami'na wa atho'na" dihubungkan dengan budaya patriakis ini. Apakah yang dimaksud Eyang Purba adalah "pokoknya lu patuh sama gw", yang pesannya memang bernada maskulin?
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  6. #126
    Quote Originally Posted by purba
    Pernyataan ane ttg hal itu sebenarnya utk merespon engkong Pasing yg menyatakan
    kekerasan Sampang disebabkan oleh pengkultusan berlebihan dlm masyarakat paternal kita.
    Itu bisa saja benar dlm hal sang panutan memanfaatkan kepatuhan pengikutnya utk melakukan kekerasan
    demi kepentingan sang panutan
    . Hal yg sama juga terjadi pada kasus Alexios I yg mbah Alip ceritakan di atas.
    Yup, fenomena spt itulah pur
    yng menurut gw lebih dominan (baca banyak melatar belakangi) pada kasus semacam Sampang

    Tapi perintah sang panutan utk menyerang tidak terlaksana begitu saja jika sebelumnya tidak ada ajaran
    yg sudah tertanam dibenak para pengikutnya. Setidaknya sang panutan memcap dulu bahwa
    Syiah sesat
    , kemudian dia memerintahkan pembantaian. Ketika pengikutnya tahu Syiah sesat,
    maka muncullah rasa terancam dalam diri mereka, selanjutnya eksekusi pembantaian.
    Pada masyarakat dgn karakter keras, eksekusi segera terlaksana.
    Makanya diatas gw jg singgung ttg grassroot yng mengidap sindrom kemalasan pikir
    oleh karenanya gampang sekali untuk terombang-ambing (baca dimanfaatkan)
    LAH, mereka menjadi percaya n ikut2an melabel syi'ah sesat itu dari mana/siapa?
    Dilain pihak, ada tidak kelompok lain yng jg punya panutan tetapi berperilaku toleran
    serta tdk reaktif dlm menyikapi perbedaan?
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  7. #127
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    @mbah Alip

    ane menangkap bahwa menurut mbah Alip ajaran Islam tidak pernah salah atau tidak akan memberikan dampak negatif pada apapun, yg bisa salah atau berperilaku negatif adalah umatnya dlm menafsirkan atau menjalankan ajaran tsb. Ane bisa memaklumi bila mbah Alip berkeyakinan demikian mengingat mbah Alip adalah seorang muslim yg tentunya meyakini kebenaran dan kemuliaan ajaran Islam. Sementara ane melihat ada yg salah atau ada dampak negatif dari ajaran Islam. Dari sudut pandang ane sbg ateis, semua ajaran agama yg ada adalah hasil dari penafsiran manusia thd kejadian yg terjadi di sekitarnya. Karena penafsiran yg dilakukan oleh manusia tidak mutlak, tergantung pada situasi dan kondisi saat penafsiran, maka kesalahan atau dampak negatif atau ke-out of date-an dari suatu penafsiran selalu saja ada. Utk itu, menurut ane, melakukan reinterpretasi ajaran agama sesuai dgn kondisi kekinian adalah hal yg sebaiknya selalu dilakukan oleh umat beragama.


  8. #128
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    No argument over the matter, Eyang. I completely in agreement with you.

    Saya meyakini bahwa kemuliaan suatu agama atau ajaran bukan tergantung pada keyakinan mentah pengikutnya tapi pada kemampuan ajaran tersebut untuk menjawab berbagai variasi masalah kehidupan manusia dari jaman ke jaman. Semakin relevan kebaikan yang dibawa oleh suatu ajaran ke kehidupan manusia maka semakin mulia-lah dia.

    Ada satu penafsiran pribadi saya atas disebutnya Islam sebagai agama penghabisan dan Muhammad sebagai penutup para nabi, yaitu bahwa pada titik diturunkannya Islam, evolusi manusia telah sampai pada tahap perkembangan kognitif dan spiritual yang cukup dewasa dan memadai untuk memaknai hakikat keberadaannya sendiri, dan manusia telah sanggup mengambil tanggung jawab penuh atas kesejahteraan dan kebahagiaannya. Analoginya seperti orang tua yang memutuskan bahwa anaknya sudah siap untuk mandiri.

    Konsekuensi dari doktrin ini adalah Islam harus mampu berinteraksi dengan segala tantangan yang ada sampai ke akhir jaman, dan harus ada penafsiran untuk setiap keadaan, meski ini berarti perlu ada multi penafsiran atau penafsiran ulang. Persis seperti yang diajukan oleh Eyang Purba.

    Nah, that being said, umat Islam harus mengakui bahwa telah terjadi penyimpangan dari semangat ini, yang menyebabkan Islam sekarang menjadi agama terbelakang. Ketika dulu Islam dapat diterjemahkan menjadi berbagai macam penafsiran yang saling menjaga dan melengkapi, titik baliknya terjadi di abad ke dua belas ketika pihak-pihak ortodoks memenangkan dukungan politik dan menyatakan interpretasi mereka sebagai kebenaran mutlak yang tak terbantahkan. Berbagai pembersihan interpretasi dilakukan pada saat itu dan dinyatakanlah bahwa penafsiran dan hukum-hukum Islam telah mencapai titik kesempurnaan akhir dan tidak boleh ada interpretasi lain lagi. Pintu telaah telah ditutup.

    Sejak saat itu berhentilah kejayaan Islam sebagai agama yang membawa pembaruan baik dalam bidang pemikiran maupun teknologi. Penafsiran sesudah tahap ini hanya merupakan akumulasi yang dibangun di atas struktur penafsiran-penafsiran sebelumnya yang kaku tanpa dimungkinkannya dialog dan pandangan yang berbeda.

    Tidak heran bahwa kemudian kepemimpinan di bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi diambil alih oleh dunia barat. Yang justru menerapkan pola pikir dan keilmuan yang dikembangkan oleh Islam sebelum periode kemundurannya.

    Jika Eyang Purba sekarang sedang berinteraksi dengan teman-teman dari Islam progresif yang terbuka dan tidak takut untuk melakukan re-interpretasi, sesungguhnya Eyang sedang bersentuhan dengan salah satu pemikiran yang sudah ada dari dulu dalam khasanah keilmuan Islam, yang pernah dikalahkan secara politis dan tenggelam di bawah stigma 'sesat'.

    Atau gampangnya, Eyang bisa lihat sendiri betapa 'sesat'-nya saya di kalangan tertentu

    Jadi Eyang, dalam hal ini kita sependapat. Apakah re-interpretasi, de-interpretasi, atau co-interpretasi bukan masalah. Yang jelas adalah umat beragama, bukan hanya Islam, perlu melihat ulang kontribusi mereka terhadap kehidupan manusia dan sekiranya pola pikir mereka justru membawa kemudharatan bagi kehidupan, maka mereka perlu meninjau ulang pikiran-pikiran tersebut, termasuk pada asumsi-asumsi yang paling mendasar sekalipun.

    (horeee... Berhasil nulis sepanjang ini di HP...)
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  9. #129
    Quote Originally Posted by purba View Post
    @mbah Alip

    ane menangkap bahwa menurut mbah Alip ajaran Islam tidak pernah salah atau tidak akan memberikan dampak negatif pada apapun, yg bisa salah atau berperilaku negatif adalah umatnya dlm menafsirkan atau menjalankan ajaran tsb. Ane bisa memaklumi bila mbah Alip berkeyakinan demikian mengingat mbah Alip adalah seorang muslim yg tentunya meyakini kebenaran dan kemuliaan ajaran Islam. Sementara ane melihat ada yg salah atau ada dampak negatif dari ajaran Islam. Dari sudut pandang ane sbg ateis, semua ajaran agama yg ada adalah hasil dari penafsiran manusia thd kejadian yg terjadi di sekitarnya. Karena penafsiran yg dilakukan oleh manusia tidak mutlak, tergantung pada situasi dan kondisi saat penafsiran, maka kesalahan atau dampak negatif atau ke-out of date-an dari suatu penafsiran selalu saja ada. Utk itu, menurut ane, melakukan reinterpretasi ajaran agama sesuai dgn kondisi kekinian adalah hal yg sebaiknya selalu dilakukan oleh umat beragama.

    Kalo baca ini jadi keinget ama piso. Orang bilang piso itu netral,
    penggunanya lah yang mementukan dia jadi alat masak atau alat pembunuh.

    Tapi di lain sisi, rasanya ada juga pengaruh pisau terhadap keinginan membunuh.
    Ketika memegang piso rasanya jadi petantang petenteng dan jadi berani melakukan apa saja.

    Yup, benar memang orangnya yang menentukan. Tapi tetap saja saya melihat ada pengaruh piso juga.

  10. #130
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    hehe... top lah pokoknya.. ternyata hanya mbah alip yg bisa menjinakkan purba...

  11. #131
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Kalo baca ini jadi keinget ama piso. Orang bilang piso itu netral,
    penggunanya lah yang mementukan dia jadi alat masak atau alat pembunuh.

    Tapi di lain sisi, rasanya ada juga pengaruh pisau terhadap keinginan membunuh.
    Ketika memegang piso rasanya jadi petantang petenteng dan jadi berani melakukan apa saja.

    Yup, benar memang orangnya yang menentukan. Tapi tetap saja saya melihat ada pengaruh piso juga.
    Ya, ane melihatnya demikian terhadap semua ajaran karena ane melihat ajaran tsb produk manusia yg sifatnya tidak mutlak, bisa mengandung kesalahan, bisa berdampak negatif, dst. Jadi titik berangkatnya dari keraguan, bukan keyakinan. Tapi tidak semua orang berangkat dari keraguan, ada yg dari keyakinan, dan itu tidak bisa dipaksakan.


  12. #132
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by danalingga
    "Ketika memegang piso rasanya jadi petantang petenteng dan jadi berani melakukan apa saja...
    ... ada pengaruh piso juga..."

    Betul... Sebagai orang yang hobi ilmu pisau saya mengamini ini... Karenanya saya tidak pernah bawa pisau kemanapun...


    Hanya saja, kalau menurut pengamatan saya, pisau dalam kasus ini lebih tepat digunakan sebagai analogi bagi kekuasaan, bukan agama. Atau sedekat-dekatnya kekuasaan yang diperoleh melalui agama. Agama-nya sendiri adalah sesuatu yang netral. Apa ya analoginya yang pas untuk agama?


    Quote Originally Posted by purba
    Ya, ane melihatnya demikian ... Tapi tidak semua orang berangkat dari keraguan, ada yg dari keyakinan, dan itu tidak bisa dipaksakan.*

    Benar Eyang, ada yang memulai dari situ. Namun seperti apa yang selalu menjadi pegangan teman-teman atheis, keyakinan harus dibenturkan dengan kenyataan... mau lari seperti apapun juga pada akhirnya keyakinan akan dibenturkan dengan kenyataan. Pilihannya adalah menerima keraguan dan mulai melakukan pencarian (seperti yang dilakukan oleh banyak Nabi) atau seterusnya hidup dalam pengingkaran atas kenyataan dan menggunakan agama sebagai pelarian.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  13. #133
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Pisau kalau tergeletak juga netral, ketika ada yg pakai baru pisau itu akan menjadi tetap netral atau berubah jadi baik atau buruk

  14. #134
    Bentrok yg terjadi dgn syiah krna syiah mengakui sbgai Islam ttapi dia mengangkat orang2 suci mereka menjadi perantara/mempunyai hak istimewa dalam penentuan rahmat/hal ghaib selain Allah, sedangkan dalam ajaran Islam diajarkan hanya bertauhid (mengikuti perintah Allah) dan taat kepada orang suci karena Allah (orang suci mengajarkan tdak bertentangan dgn hukum Allah)...
    (QS 9:31 = Allah melarang menjadikan orang2 alim bsa mnentukn khendak Allah).
    (QS 11:53,11:62,11:87,14:22 dll).
    Bnyk lgi ayat serupa...

  15. #135
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Yg model menjadikan seseorang jadi orang suci dan dianggap bisa jadi perantara antara mereka dan Tuhan juga dianggap punya karomah, bukan syi'ah aja lho. Di sini islam tradisional juga begitu. Lihat aja tradisi ziarah dan ngalap berkah di makam2 para wali, sama aja intinya

    ---------- Post Merged at 03:21 AM ----------

    Coba dengar kalo orang2 islam tradisional baca doa saat kenduri, ada nama syek abdul jalani gitu disebut2, diminta bahwa karomahnya akan melindungi hidup orang2 yg ikut kenduri. Gw ga pernah bilang amin pas doa season ini. Juga kalangan pemuda NU yg menganggap Gus Dur setara dgn Rasul dan Nabi kesuciannya. Gw nganggapnya juga bahaya yg beginian. Kog ga dianggap salah sama yg ngaku Sunni?

  16. #136
    Sya ga tau bunda yg ngalap ke kuburan ntu syiah atau bkan yg jelas yg melakukan ntu bukan dri ahlu sunnah wal jama'ah...
    Sya dlu jga prnah masuk ke aliran sprti tu bunda, disana sya hrus mmbaca wirid yg islami tpi di selipin tawassul ke para wali songo ke abdul Qadir n tokoh2 lain...
    Mntan guru sya ntu braliran syiah n brgelar kyai...
    Rata2 murid dia brakhir gila, alhamdulillah sya engga...
    Krna akhirnya sya tau ajaranny melenceng, di suruh sungkem sma yg ga klhatan, dll... akhirny sya putuskan keluar...

  17. #137
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Kalo baca ini jadi keinget ama piso. Orang bilang piso itu netral,
    penggunanya lah yang mementukan dia jadi alat masak atau alat pembunuh.

    Tapi di lain sisi, rasanya ada juga pengaruh pisau terhadap keinginan membunuh.
    Ketika memegang piso rasanya jadi petantang petenteng dan jadi berani melakukan apa saja.

    Yup, benar memang orangnya yang menentukan. Tapi tetap saja saya melihat ada pengaruh piso juga.
    Naaahhhh... Tanya aja tukang daging, ayam dan ikan di pasar.
    Atau Koki.
    A proud SpaceBattler now.

  18. #138
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Buat aliran yg anti ziarah kubur ini. Jgn kan kuburnya waliyulloh. Kuburan nabi muhammad aja dia anti ziarah.

    Keren emang ye yg namanya ajaran agama itu. Bisa bikin pengikutnya mau diapa-apain. Di adu domba saling bunuh juga mau lho tuh.


  19. #139
    Untuk Ziarah kubur sekedar mendo'akan si mayit & kelak ingat bahwa kta kan mati & kan di bangkitkan lgi & hal yg dipertanyakan Allah pertama x, apakah sbgai orang Islam kta menyekutukan Allah tidak, gpp?
    Soalny bgi yg brasa bukan Nabi mana berani lancang bikin syareat2 baru
    Ngomong2 om Jenar tau kelompok biasa main gedik2/hncurin bangsa jin sesat, iblis & sjnisny ntu?
    Sya rasa dgn ksaktian om Jenar bisa mlihat mreka, klo da garis cahaya dari langit ke bumi, smperin aj orangny om Jenar
    Last edited by Bagindo; 23-08-2013 at 06:50 AM.

  20. #140
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    Buat aliran yg
    anti ziarah kubur ini. Jgn kan kuburnya waliyulloh. Kuburan nabi
    muhammad aja dia anti ziarah.

    Keren emang ye yg namanya ajaran agama itu. Bisa bikin pengikutnya mau
    diapa-apain. Di adu domba saling bunuh juga mau lho tuh.

    ogut ga bahas ziarah buat mengingat kita semua bakal mati dan sekedar mendoakan buat ketenangan si mayit. itu lho yg sering doa2 di kubur makam para wali minta berkah di depan makam, kan bukan orang syiah aja yg melakukan spt omongn [MENTION=1924]Bagindo[/MENTION], islam tradisional kebanyakan melakukan, rata2 ngakunya pengikut salah satu ormas besar islam di indonesia, mrk ngaku ahlul sunnah wal jamma'ah lho, kog gak dibasmi?

Page 7 of 11 FirstFirst ... 56789 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •