Berani menempuh resiko yang ada masak masuk kategori nggak realistis?![]()
Berani menempuh resiko yang ada masak masuk kategori nggak realistis?![]()
There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.
Everyone wants happiness, no one wants pain.
But you can't make a rainbow without a little rain.
kalo saya sih berani menempuh resiko, tapi gak punya uang di kemudian hari itu namanya gak realistis. Itu saya loh.![]()
Udah jgn nyari-nyari hakekat diri, jgn sampe udah nyari cape2 ternyata yg namanya diri itu nggak eksis.
Galau lho ntar.
mungkin ada yang ingin mencoba mendefinisikan hakikat diri itu? daripada simpang siur ntar obrolannya?![]()
'sampah' buatku karena buku self-help gini 'ga berguna'dan tentu saja ini buatku sendiri
mungkin buat bbrp orang, buku self help bisa membantu mengarahkan dan memotivasi hidupnya. buatku fungsinya mirip seperti fungsi buku2 suci agama kali ya, 'membantu mengarahkan'. tapi apakah buatku berguna ato ngga? well, yah, begitu lah
nothing spectacular buatku because many of them are common sense
good question!
makanya saya juga bingung, apa sebenarnya hakikat itu, apa yang ingin ditunjukkan, ato, apakah sesuatu yang perlu ditunjukkan? apakah harus diasosiasikan pada pekerjaan? next logical thing would be pandangan hidup, ato cara seseorang menjalani hidup.
mungkin saya masih blom mengerti apa sebenarnya hakikat diri ini. ato apakah hakikat ini seabstrak "tao" - sesuatu yang tidak bisa didefinisikan dan dijelaskan?![]()
thisTapi ada satu yg ane kagak setuju, buku apapun tidak ada yg sampah. Pernah ente menulis sebuah buku? Apa buku ente? Boleh ane baca?
tidak ada yg benar-benar baru, yg benar-benar memberikan inspirasi pada pembacanya, semuanya adalah hal-hal normal yg sudah ada di kepala orang masing-masingnothing spectacular buatku because many of them are common sense
CURE SUNSHINE WA KAKKOSUGIRU.
Sebelum mulai, minta tolong ke Barista, memungkinkan gak ya kalau postingan saya dipecah-pecah? Supaya tidak terlalu panjang dan mumet bacanya. Soalnya setahu saya postingan pendek-pendek sekalipun kalau berturut-turut posting-nya, jatuhnya di merge jugak...
Juga sebelum diteruskan, saya perlu proklamasi dulu bahwa saya sendiri bukan orang yang punya jawaban final atas topik ini. Topik ini saya angkat karena ulasan penerbit dan pembaca di buku yang saya acu memancing saya untuk berpikir, tapi terus terang saya sendiri tidak punya jawaban yang memuaskan. Jadi kita ngobrol di sini...
***
Kayaknya pemakaian kata “hakikat” memang terlalu berat yak? Aslinya memang saya juga mikir-mikir untuk menerjemahkan secara bebas istilah yang dipakai di buku ini dengan “hakikat”. Tapi to get thing demistified, istilah ini mengacu pada suatu hal yang unik pada setiap orang, yang diduga merupakan hasil kombinasi/interaksi antara struktur genetika dan pengalaman hidup orang tersebut, yang selama ini dianggap sebagai faktor utama pembentuk minat dan kemampuan. Hal ini umum diasumsikan sebagai faktor dominan seseorang memilih karir tertentu, yang premisnya apabila seseorang bergerak di bidang yang sesuai dengan bakat dan kemampuan tersebut, dia akan lebih mudah meraih keberhasilan dan kepuasan dalam karirnya itu.
Perlu digarisbawahi bahwa saya sengaja memasukkan unsur “diduga”, “dianggap”, “diasumsikan”, dan “premis”. Ini menunjuk bahwa meski sudah diterima secara umum (buktinya pendidikan di manapun punya yang namanya guru BP, telaah minat dan bakat, penjurusan dan sebagainya), konsep ini untuk saya sepertinya masih berada di ranah hipotesis. Saya belum ketemu penelitian yang secara meyakinkan menunjuk bahwa orang yang bekerja sesuai dengan disain genetiknya lebih berhasil ketimbang mereka yang bekerja di bidang yang tidak sesuai. Kebanyakan argumen yang ada (apalagi di buku Self Help) rata-rata sifatnya anekdotal.
***
Everyone is original. Good point, kop King. Ini menggambarkan dengan baik konsep yang saya maksud di atas. Terima kasih. Jadi pertanyaan berikutnya adalah apa pengaruh originalitas itu.
Juga salah satu hal yang menarik kita masukkan di sini. Bagaimana kita tahu kalau itu ‘kita’?
***
Biar gampang pada tahap ini kita bicarakan di batasan karir dulu kali ya? Tentunya kalau nanti mau lebih nyilem lagi karena memang dibutuhkan, dengan senang hati kita lanjut.
Kalau saya coba petakan, definisi kata ‘hakikat’ yang levelnya fungsional di atas, punya tujuan yang definisinya fungsional pula, yaitu keberhasilan dalam karir. Dalam hal ini keberhasilan bisa kita definisikan dengan hal yang mudah seperti misalnya kemampuan menyelesaikan pekerjaan, peningkatan jabatan (dus penghasilan), dan kepuasan dalam bekerja. Sedangkan hakikat yang lebih filosofis mungkin akan berhubungan dengan kebahagiaan, yang ‘kebahagiaan’ sendiri agak lebih abstrak untuk didefinisikan.
Let’s start with the simple one first.
Sudut pandang yang bagus sekali, Gu... jadi ada pula faktor kesempatan ya? Credit to you and our cursed mutual friend... jadi kita perhatikan juga kecenderungan orangnya, tukang ngelamun atau tukang ngebut, ini sepertinya sejalan dengan tiga tipe kepribadian yang disebut Etca.
That’s make two of us... masih ABG nih...
Jadi sepaham dengan asumsi di atas ya, Gu?
Ada komentar soal menjalani profesi yang tidak sejalan dengan kondisi ‘panggilan jiwa’ tersebut (as I suspect lots and lots of people are)?
Wah, kalau tau renungannya nDugu isinya begitu, saya akan sering-sering dolan ke sana. Deep banget
. Nice way to point out, apakah adil mengotakan manusia sebatas profesinya saja?
Sepertinya kita semua setuju bahwa manusia jauh lebih berharga bila dibandingkan dengan profesi yang dia geluti.
...dan dalam diskusi ini kita tarik mundur sedikit,
Jika memang kita bukan profesi kita, pentingkah memilih profesi yang ‘mewakili’ atau ‘sejalan’ dengan diri kita?
***
BWAKAKAKAKAKKKKK...
Semakin kita sadari bahwa setiap orang unik, dan dari keunikan itu, setiap orang beautiful in their own way. Good entrance there, Ale. Pokoknya Ale banget.
Sekedar pertanyaan kecil, apakah Ale akan merasa nyaman berperan dengan karakter yang berbeda, misalnya karena tuntutan pekerjaan?
***
You know Seren... saya tadi celingukan mikir selama sepuluh menit membaca tulisan Seren ini. Poin yang sangat valid, apakah orang pada dasarnya sulit menemukan hakikat diri, atau sebenarnya secara naluriah sudah mengetahuinya (misalnya melalui bakat dan ketertarikannya pada suatu bidang), tapi tidak memiliki keberanian untuk bertindak berdasarkan pengetahuannya atas ‘hakikat’ diri itu?
Bagaimana pendapat teman-teman yang lain...???
Tuh...
Etca tau tempat cetak undangan yang bagus kan?
***
Itu juga yang jadi pikiran saya. Apakah ada karakter yang lebih baik dari yang sudah kita miliki, atau sesungguhnya karakter kita saat ini adalah yang terbaik ‘untuk kita’?
You know, ini muncul dari banyaknya ide bertaburan soal tipe atau tingkatan manusia, yang semuanya bicara tentang meningkatkan kualitas kita dari tipe tertentu ke tipe lain.
Hayo siapa yang mau mulai?
***
Hehehe... hayo diterusin... ini pemikiran yang valid dan bener banget seputar topik ini. Idealisme dihadapkan pada resiko.
soalnya, bagaimana kalau kita ambil resiko untuk mencari atau mengikuti kata hati, tapi ternyata...
Jadi, do we have what it take? Layakkah kita mengejar si hakikat ini?
***
True...
Makanya bagi saya buku self-help yang sesungguhnya adalah genre biografi, karena buku macam ini memberikan konteks pada common sense yang sudah ada di kepala seseorang (yang biasanya juga ada di kepala kita). Bagaimana seseorang menempatkan pikiran dan idealismenya di dalam dunia yang dia jalani.
Tapi saya masih kadang-kadang membolak-balik juga halaman self-help, atau minimal membaca ulasan soal buku-buku itu. Kenapa? Karena saya tidak ingin kebencian saya pada satu topik membuat saya berlaku tidak adil pada topik tersebut. Perilaku ini akan menutup saya dari kesempatan untuk berkembang.
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
tidak sampe dalam kadar membenci
saya pun jika mengunjungi toko buku tetap saya suka melihat secara sepintas judul-judul buku self help yg dipajang segombreng di depan toko
saya selalu baca sinopsisnya jika menarik, namun untuk selanjutnya tidak pernah bisa membuat saya untuk membeli buku-buku tsb
CURE SUNSHINE WA KAKKOSUGIRU.
ibu/bapak Alip...menjawab pertanyaan kecil darimu :
Apakah Ale akan merasa nyaman berperan dengan karakter yang berbeda, misalnya karena tuntutan pekerjaan?
nyaman atau tidak, semua karakter itu adalah aku, aku si usil, aku si pendiam, aku si rajin di kantor, aku si jaim, aku si anak manis, aku si tukang tidur, aku si penggerutu..semuanya adalah aku, senyata-nyatanya aku. Aku adalah kelopak-kelopak yang membentuk taman bebungaan, aku adalah arah mata angin sekaligus badai yang kadang menghancurkan tapi bisa juga hadir penuh kelembutan menyapa gembala yang bercucuran keringat dan tertidur di bawah pohon beringin karena kelelahan. Aku adalah ibu bumi, biji mata Tuhan dan cikal bakal keabadian.
jadi, hakekat diri kita adalah apa yang menjadi ciri khas kita, sekaligus yang bukan ciri khas kita. Hakekat diri adalah apa yang ada dan yang tidak ada.
ada adalah tidak ada, tidak ada adalah ada, begitu katanya. Jadi, kenapa repot2 mencari hakekat diri?
dia ada di bawah ranjang tempat tidurmu, tapi bukan hantu.
![]()
Last edited by Alethia; 07-08-2013 at 12:44 PM.
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
^
I luv your diksi!!!
Setau saya nih om, resiko mendorong manusia mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Kalau dihadapkan dengan resiko, tinggal ditimbang masak-masak mampu nggak menerima hasil terburuk. Kadang yang terburuk itu kemungkinannya kecil sekali tapi kita terlalu konsen pada yang buruk sehingga yang baiknya tertutupi. Semua itu bagaimana pun juga kembali ke karakter masing-masing orang: apakah dia risk averse, risk neutral atau risk lover.
Kutipan mengenai resiko yang saya suka banget:
Take risks, if you win you'd be happy, if you lose you'd be wise.
Being wise pun katanya Mario Teguh adalah jalan untuk happy juga. So...what do we lose actually? (tentunya kalo semua quotes itu diasumsikan benar sih).
Soal hakikat diri, saya tipenya mengalir aja jadi tidak pernah sampe benar-benar meluangkan pemikiran untuk mendefinisikan. Asalkan saya bisa berguna buat diri sendiri, syukur-syukur bisa memuliakan orang lain, maka itu sudah cukup, apa pun hakikat saya, termasuk apa pun yang saya kerjakan.
There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.
Everyone wants happiness, no one wants pain.
But you can't make a rainbow without a little rain.
that's a million dollar question, sirOriginally Posted by alip
![]()
i dont know. and most of all, i can't speak for others. i guess in the end, keputusan itu tergantung pada diri masing2, personality masing2, dan situasi dan kondisi hidup masing2.
Originally Posted by alip
ini pertanyaan2 orang 'kenyang' ato kebanyakan waktu nihOriginally Posted by alip
![]()
actually i know a number of people yang berada di situasi seperti ini. myself included![]()
post2 di thread renungan kebanyakan mundane stuff, but here's a snippet of it yang mungkin agak relevan
Spoiler for old post:
kalo kita ngomong stictly dalam paradigma karir dan pekerjaan ya
saya sendiri pun lagi berada di posisi demikian. i dont really hate my current job per se, i like this field, it's interesting and can be intellectually stimulating (at times), but i dont like the part di mana saya perlu selalu berinteraksi dengan orang, demikian 'hakikat'ku yang rada anti-sosial kali ya, penyebab ketidakpuasanku, or so i'd like to think
dan saya ngga yakin apakah saya ingin melakukan ini untuk 10 taon kedepan. dan saya sendiri sekarang dalam berada posisi ngambil ancang2, rencananya akhir taon ini bakal ngambil sabbatical dan mempersiapkan diri untuk ganti haluan, walo masih dalam industri yang sama. ini versi leap-of-faith-ku, ngga sedramatis temenku yang banting dari medis ke animasi
dan haluan baru ini pun blom tentu pasti akan sesuai dengan panggilan hatiku. just something i *think* is closer to heart compared to what i am doing right now, so i am just going to experiment with and hopefully it sticks. if not, then kembali lagi ke misi mencari diri
![]()
tapi seren has a good point too. tidak semua orang mempunyai previlege berada dalam posisi 'kenyang' dan bereksperimen dengan apa yang ingin dia lakukan. i am lucky karena mempunyai support yang memberikan dukungan moral, dan juga have enough savings to last me few years biarpun jadi penganggur. begitu pula temenku yang kalo pun planBnya doesnt work out, dia masih ada planA to fall back on (profesi aslinya yang seorang dokter).
saya ada temen laen, seorang musician (lulusan musik, spesialisasi percussion), yang berubah haluan ke bidang teknologi. karena menurutnya menjadi jazz drummer doesn't make muchin this case, mungkin kebalikan dari saya dan temenku ya. reality hits, dan dia perlu menerimanya. although i should add, dia juga memang tertarik dengan bidang IT sih, so it's not like he is agonizing about it
![]()
kembali ke pertanyaan "keberanian untuk bertindak berdasarkan pengetahuannya atas ‘hakikat’ diri itu":
so, di atas ada 2 sample, orang 'kenyang' yang bertindak, dengan orang 'laper' yang bertindak. menurutku ada tipe laen lagi yang biarpun laper maupun kenyang tapi tidak bertindak. i've met plenty of people juga (myself included, for a while), yang selalu mengeluh pekerjaan tidak sesuai panggilan hati tapi tidak melakukan apa2. dalam hal ini, kurasa bisa ada bbrp faktor yang berperan. sikon hidupnya yang 'memaksanya' untuk tidak mengambil resiko, ato simply he is too comfortable in his comfort zone (complacent).
Another article that I think you're gonna like, Alip sircheck out artikel dari yahoo sport ini. yang ini lebih ke 'hakikat' versi filosofis dibandingkan karir kali ya
Spoiler for repost:
Last edited by ndugu; 07-08-2013 at 11:57 PM.
Saya juga jadi lama nih mencerna jawaban yg harus diketik
Thank u om Alip, responnya bagus dan menyenangkan
Kalo menurut saya, secara naluriah orang dibagi-bagi. Ada yg udah tau bakat dan kemampuannya dan ada yg belom tau.
Orang yg udah tau bakat dan hakikatnya dibagi 2:
- mau melakukan apa yg dia mau, karna dia sangat percaya diri akan berhasil. kemudian berhasil memang jadinya di kemudian hari.
- mau melakukan apa yg dia mau, tapi jadinya berantakan dan gak berhasil. Kalo yg kaya gini contohnya udah banyak di depan mata saya. Maka dari itu saya berusaha sebaik mungkin untuk berjalan hati-hati. Menurut saya, kalo saya bisa belajar dari kesalahan orang lain itu akan lebih baik. Misal saya tau dimana kesalahan org tsb, jadi pelajaran berharga buat saya.
Saya suka baca biografi orang, dari situ ya saya tau ini orang dimana kekuatan dan kelemahannya. Kalo banyak orang di dunia ini bisa menemukan kelemahan dan kekuatan disaat yg sama,.... mungkin akan mempermudah dikemudian hari untuk menemukan hakikat diri.
Misalnya ada yg bilang "Saya orang yg pelupa"... disini selain kelemahan seseorang, bisa diliat juga kekuatannya. Orang yg pelupa biasanya adalah org yg pemaaf. Gak menyimpan kesalahan orang lain. Dan lebih senang melupakan kesalahan orang.
Untuk orang yg gak tau hakikat dirinya, mungkin dia orang yg jarang memperhatikan dirinya sendiri![]()
Last edited by serendipity; 08-08-2013 at 12:30 AM.
Ini kayaknya masalah cocok dan gak cocok dgn kerjaan yg sedang dilakoninya.
Mungkin begini. Ketika seseorang menerima suatu pekerjaan, itulah yg paling cocok saat itu buat dirinya. Misalnya seseorang sudah setahun kagak kerja, kemudian ada tawaran sebuah pekerjaan, dia pun menerima kerjaan tsb. Dengan berjalannya waktu, sepertinya ada pekerjaan lain yg menurutnya lebih cocok buat dirinya dan dia merasa punya peluang utk mendapatkan pekerjaan tsb, meski harus mundur dari keadaannya yg sudah dicapainya sekarang. Dia pun gamang. Akibatnya muncullah perenungan ttg konsep diri sejati utk mendapatkan keputusan apakah tetap atau pindah pekerjaan.
Well, itu semua tergantung pada bagaimana ente memaknai hidup ente hingga saat ini. Kalo ane, pada tahap ini, karena ane memaknai hidup ane adalah buat anak-anak ane yg sedang berkembang, maka keputusan utk pindah pekerjaan dilihat dari situ, apakah itu mengganggu atau tidak daya dukung ane buat anak-anak tadi. Kalo mengganggu, tidak usah pindah. Kalo tidak, pindah saja, toh lebih cocok.
Bagaimana kalo ente masih bujangan? Kalo ane masih bujangan, ane seneng berpetualang (ini makna hidup ane saat bujangan). Karena ada pekerjaan yg lebih cocok, meski harus mundur, ane akan pindah ke pekerjaan tsb.
Kembali ke pertanyaan topik ini, adakah hakikat diri sejati? Dalam konteks di atas, tidak ada. Yg ada mungkin hakikat diri semu. Hakikat yg selalu berubah sesuai keadaan. Jadi malah bukan hakikat?
Bisa juga yg dimaksud dgn hakikat diri sejati adalah ego. Dalihnya biasanya dikatakan demi idealisme. Kalo contoh ane di atas, ketika ane masih bujangan, ego ane dominan, idealis. Tapi ketika sudah berumah tangga dgn segala situasi dan kondisinya, ane merasa perlu kompromistis, ego tidak bisa lagi dipertahankan. Bisa saja dgn dalih idealisme tadi, utk meyakinkan dan menenangkan semua orang, ego kita tetap berlanjut dan berbuah juga nantinya. Tapi buat ane, itu seperti membohongi diri sendiri.
![]()
itu sala satu contoh situasi kondisi hidup yang kumaksud tadi. mungkin ada kreditan rumah yang blom selesai, mungkin ada anak2 sebagai tanggungan, mungkin ada ortu sepuh yang sakit2an yang membutuhkan perhatian ekstra, mungkin lokasi tempat tinggalnya baru mengalami bencana, ato berada di daerah perang, dll. dalam hal ini prioritas hidup jadi berubah, dan pencarian hakikat diri menjadi prioritas rendah.
tapi apakah itu brarti tidak ada hakikat? kurasa bukan brarti tidak ada. mungkin bener, jadi semu. ato mungkin berubah, seiring situasi kondisi hidup yang berubah terus. ada yang mengatakan, saat2 mengambil resiko adalah pada saat muda when you can afford to lose, karena saat sudah lebih tua, "bagasi" (tanggung jawab) hidup pun bertambah.
setuju sama purba.
jujur dari awal baca thread ini rada bingung. baca komentar2nya juga pada "dalem" banget.
saya pribadi ga pernah mikir seribet itu.
dulu pernah terpesona dengan orang2 yang mampu berpikir ribet, tapi sekarang bersyukur pikiranku sederhana aja. hidup dijalani aja. selama tidak keluar aturan yang aku yakini, lanjut.
masalah pilihan disesuaikan dengan kondisi hidup.
dulu sejak sd-sma bercita2 jadi arsitek. sekarang? jauh banget. apa artinya hidup ga semangat ? ga juga. ga sesuai hakikat ? definisi hakikat itu sendiri saya masih ga mudheng nih.
jalan aja satu per satu.
waktu akhirnya kecebur kuliah bidang IT, pinginnya terkait networking, tapi malah jadi dosen, banyak ngajar matematika diskret dan mat dasar, nyaris g sentuh networking. pindAh haluan jadi programmer, ga suka jam kerjanya ya resign aja. begitu seterusnya.
hobi banyak, tapi ga merasa harus hidup terpaku itu.
mungkin bagi yng "idealis", saya pragmatis banget. tapi sebenarnya ini soal realistis aja.
waktu memutuskan kuliah lagi, hamil anak ke 2. ya nekat aja. kuliah yang diambil sesuai dengan kerjaan.
suka apa ngga ama pekerjaan sekarang? pekerjaan ini sesuai latar belaKang pendidikanku. jadi ga merasa ada alasan perlu komplen dapat rezeki ya diterima. capek harus kuliah sambil kerja, minta tugas belajar (cuti untuk pendidikan) jadi lebih santai. kurang apa lagi coba.
namun memang seakan akan harapanku jadi kerdil, kalo dibandingkan waktu masih single dan muda. tapi kalo kubilang malah harapanku sekarang jauh lebih dewasa.
kalau sudah berkeluarga dan berkembang biak gini, seperti kata purba, bukan ego pribadi lagi yang main. hakikat itu ada untuk kepentingan keluarga saya, saya suami dan anak2.
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
ibarat mau mancing, kudu ada umpannya dulu slan.
mancing ikan, umpannya pake cacing hongkong
nah kalo ente mau nyummon/mancing purba umpannya kudu pake kambing/domba
dgn catatan dia ga demen yg berjenggot, maunya yg sesat, katanya sih kenyal2 empuk kalo dibikin sate atau gule
---------- Post Merged at 01:44 PM ----------
ini ngasih saran krn sdh mengalami sendiri atau bagaimana nih mbah ?
stlh lebaran gini memang paling pas buat nernak domba/kambing![]()
"telling lies is sometimes acceptable,
when the truth is too difficult to believe"
Ternyata postingan saya di atas adalah yang ke-1000
***
Kebanyakan menempatkan ‘hakikat’ diri sebagai sesuatu yang tidak perlu mendapat curahan perhatian dan usaha khusus, baik karena dianggap tidak penting, mungkin memang tidak ada, bisa dikompromikan, atau ternyata tanpa itupun sudah bisa hidup dengan baik.
Jadi pembicaraannya sedikit saya bawa ke topik seputar tema yang umum kita temukan di buku self-help, yaitu tentang looking back sesudah menjalani kehidupan. Komentar dan pertanyaan saya di bawah memang satu per satu ke masing-masing teman-teman, tapi tentu saja silakan juga menanggapi komentar saya untuk teman lain karena komentar-komentar itu sifatnya umum dan terbuka...
... dan semua itu saya lontarkan karena saya ingin tahu... mengosongkan gelas untuk bisa bercermin dari sudut pandang orang lain.
***
Cool... jadinya either way, taking risk membawa kita menjadi manusia yang lebih baik. I like the quote regardless it is correct or not.
Jadinya bagaimana pendapat Tuscany soal orang-orang yang menyesali tindakan yang sudah mereka ambil? apa yang salah dari mereka? Karena kalau menurut Mario Teguh di atas, tidak ada yang perlu disesali. Bagaimana cara kita bisa terhindar atau keluar dari penyesalan semacam itu?
Ini saya tanyakan karena kebanyakan buku self-help memakai tema semacam; “temukan dirimu dan berkaryalah berdasarkan panggilan hatimu, jangan sampai kau menyesal saat terbaring menunggu ajal”?
Setuju, secara garis besar saya juga punya prinsip yang sama. Hanya kadang-kadang saya bertanya, apakah ini sudah semuanya, sudah yang terbaik? Adakah hal yang saya abaikan, misalnya bakat yang tidak saya ungkapkan.
***
Good diksi, Ale, seperti kata Etca. Love it.
Sharing dong bagaimana ceritanya sejauh ini dengan menerapkan pola pikir itu... lalu adakah hal atau pertimbangan yang mendorong Ale untuk melakukan misalnya introspeksi atau perubahan? Misalnya karena menginginkan pencapaian, keadaan, atau penerimaan tertentu? Atau mengalami peristiwa yang membuat Ale perlu menimbang ulang hal yang selama ini sudah diyakini?
***
Then you’re one of the kenyang too, Gu... hehehehe...
That’s amazing, Gu. Jadi pada prinsipinya nDugu masih memiliki konsep diri (just not to call it ‘hakikat’) yang belum terpenuhi, meskipun masih pada tahap yang sangat mudah untuk ditolerir. Berbeda dengan kasus yang harus ambil langkah ekstrim seperti pindah dari medis ke animasi.
Laper ataupun kenyang, Gu, you really put your thinking brain to hard work. I am impressed.
Sekarang sebagai tambahan dari tiga kategori manusia menurut Etca, kita punya dua kategori manusia pula di sini dilihat dari mengambil tindakan atau tidak, orang yang meninggalkan everything to pursue his/her call (either laper or kenyang), dan orang yang stick with his/her current state (also, either laper or kenyang).
Confession made, saya pernah mau pindah jadi dosen karena sudah dari SMA saya memang merasa panggilan mengajar adalah yang paling keras bunyinya in my conscience, apalagi ada beberapa tawaran menggiurkan (I though I gonna like the job, and it sounds cool too, don’t you think?). Selama ini saya pikir sudah compensate ke bidang Human Resources di kantor (dan menikahi seorang psikolog, if that’s count), tapi ketika tawaran itu datang, saya betul-betul seperti ditawari untuk nikah lagi dengan janda kaya (not a good analogy, but you know what I mean
).
Tapi setelah pikar-pikir, dan konsultasi panjang lebar dengan istri, akhirnya tawaran itu saya tinggalkan, against all the temptation.. Faktor paling utama adalah alasan keluarga. Lucunya, I feel content about it, dan itulah justru yang jadi unfinished business untuk beberapa waktu. Bukankah seharusnya ada penyesalan (that I made wrong decision) atau kepuasan (that I made right decision)? Have I gone complacent, or even worse, aphatic?
Untungnya, Oktober tahun lalu saya melakukan mutasi internal ke bidang yang samasekali tidak diduga semua orang, pun tampaknya bukan bidang yang prestisius... and I am as happy as a kid (meskipun harus diakui skala tabungan saya lebih memprihatinkan dari sebelumnya).
Awesome sharing, Gu. You’re a philosopher (ok, it may means to some people that you daydream a lot... but take it as compliment)
***
... to be continued di postingan berikut... barusan dikasih warning kalau postingan saya yang ini kepanjangan...![]()
Last edited by Alip; 09-08-2013 at 04:10 PM.
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
---------- Post Merged at 03:04 PM ----------
You’re most welcome, Seren. You gave great insight.
Nah, ini juga menarik sekali.
Jadi orang yang sudah tahu ‘hakikat’ dirinya dan bertindak berdasarkan pengetahuan itu ternyata bisa berhasil tapi juga bisa gagal.
Jujur bahwa di buku self-help biasanya diceritakan keberhasilan orang-orang yang pursue their dream, tapi tidak banyak diceritakan orang yang gagal. Dan menurut Seren cara yang bijaksana untuk menyikapinya adalah...
Totally agree. Biografi adalah harta karun diantara genre buku.
Jadi saya simpulkan bahwa Seren menganjurkan orang untuk secara rutin melakukan introspeksi. Seperti tipe orang ketiga dalam kategorinya Etca.
Cuma saya ingin sedikit berandai-andai, Seren.
Seandainya Seren adalah salah satu orang yang mengikuti panggilan hati dan gagal, menurut Seren bagaimana itu akan mempengaruhi kepribadian Seren berikutnya?
***
Perspektif yang bagus sekali, Eyang. Jadi berbeda dengan konsep sebelumnya yang kita berangkat dan dari pengenalan diri dan berusaha menemukan karir yang sesuai dengan ‘diri’ kita, Eyang Purba justru melihat proses pencarian diri sebagai akibat dari kegamangan seseorang ketika harus memilih alternatif pekerjaan. Jadi merupakan suatu perangkat dalam pengambilan keputusan. Sangat praktis. Thank you banget for bringing it on the table.
Jadi Eyang Purba melihat peran sebagai bread winner, kepala keluarga, sebagai sentral dari pengambilan keputusan karir. Kesejahteraan keluarga di atas pertimbangan lain, termasuk ego atau ‘self image’ yang dulu pernah diyakini.
Seperti saya katakan di atas, Eyang. Perspektif yang bagus. Jadi hakikat diri mungkin sesungguhnya hanya salah satu perkakas (tool) dalam pengambilan keputusan, dan dia sendiri mungkin berubah sesuai waktu dan keadaan. Insight semacam ini memang hanya bisa saya harapkan dari seorang pragmatis macam Eyang Purba. But truly, I will give it a thougt. Such a new input to my system.
Kalau tidak keberatan dengan pertanyaan yang agak pribadi, Eyang.
Do you still hear your ego calling? Maksud saya, meskipun sudah memutuskan dan kompromi dengan keadaan, tapi apakah masih terasa bahwa ‘seandainya tidak ada tanggung jawab dan kewajiban lain yang menghalangi (in good sense), saya sudah akan mengambil profesi yang satu itu’? atau memang Eyang sudah bisa totally menjadi bagian dari role yang dijalani sekarang tanpa ada cabang pemikiran samasekali?
Tidak ada udang di balik batu. Saya hanya ingin tahu apakah dengan memiliki kepribadian dan pola pikir yang pragmatis, seseorang dapat menenangkan ‘panggilan-panggilan’ lain yang dalam banyak literatur self-help merupakan bisikan dari unfinished business.
Tentunya dengan asumsi Eyang pernah mengalami konflik pilihan macam itu loh yaaa... kalau tidak ya tidak apa-apa.
***
Ngiri... saya adalah orang yang kalau berpikir luar biasa njlimet... makhluk yang paling menyebalkan kalau menurut istri saya.
Umur memang menentukan ya, Bunda Chan? Seperti pengalaman saya dan Eyang Purba di atas, ada peran lain yang kita anggap lebih penting.
Memang pertanyaannya adalah apakah peran itu sesungguhnya hakikat kita juga, atau hal yang mengeliminir si hakikat. Seperti komentar nDugu berikut ini,
Menarik loh mendengarkan Eyang Purba, nDugu, dan Chan ngobrol soal ada tidaknya ‘hakikat’ diri... semua pihak punya perspektif yang sangat menarik.
***
Personal note, saya memulai utasan ini betul-betul karena ingin mendengar perspektif dari teman-teman, dan banyak sekali insight yang saya terima. Terima kasih.
![]()
Last edited by Alip; 09-08-2013 at 04:11 PM.
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
Faktor menyesal tiap orang pasti beda2, jadi pendapat saya mungkin nggak general ya.
Dalam pandangan saya dua faktor yang berpengaruh dalam menyesal tidaknya seseorang adalah tujuan dan proses. Bagi saya persisnya hanya satu hal yang bisa menghindarkan orang dari penyesalan, yaitu tujuan yang memijak bumi dan usaha sebaik-baiknya.
Tujuan yang realistis memberi insentif motivasi bahwa "aku bisa jika berusaha" dan usaha optimal menutup celah penyesalan. Mungkin karakter orangnya juga berperan. Orang yang process oriented menurut saya lebih tidak gampang menyesal karena mereka menikmati values dari proses tsb. Tujuan akhir, jika tercapai adalah bonus. Namun saat mengambil resiko, along the way orang yang process oriented akan diperkaya dengan berbagai hal2 yang tidak dibayangkannya untuk dilakukan saat hidup tanpa resiko.
Yep, saya juga sering baca quote self-help semacam itu. Kadang kedengarannya terlalu tinggi ya, karena tidak semua orang mampu menemukan diri sendiri dengan gampang, sebagai mana refleksi dari teman-teman lain di sini. Sama juga seperti pepatah: raihlah cita-citamu setinggi bintang di langit. Quote semacam ini sifatnya aspiratif untuk membangun motivasi, tapi tidak efektif jika berdiri sendiri. Sepertinya perlu ditemani dengan quote lain yang lebih praktis semisal:Ini saya tanyakan karena kebanyakan buku self-help memakai tema semacam; “temukan dirimu dan berkaryalah berdasarkan panggilan hatimu, jangan sampai kau menyesal saat terbaring menunggu ajal”?
Follow your heart but take your brain with you.
Atau pemikiran strategis semisal: gimana caranya membangun tangga dari bumi hingga ke bintang? Mungkin kita tak perlu sampai ke bintang, tapi punya strategi yang applicable pasti, saya yakin pasti, jika dilakukan maka akan membawa si pelaku ke ketinggian yang tak pernah diibayangkannya bisa di sana, bahkan jika itu hanya setinggi pohon kelapa saja.
Sebagaimana ada terlalu banyak buku untuk dibaca dalam satu kehidupan, saya percaya bahwa ada terlalu banyak hal (termasuk bakat) untuk digali dan ditemukan dalam kehidupan satu manusia. Bagi saya, hal-hal yang akan saya lakukan/pelajari di masa depan akan menampakkan diri pada waktunya nanti, ketika saya membutuhkannya atau dalam skala prioritas yang lebih rendah, ketika saya menginginkannya. Begitu aja sih, namanya juga prinsip hidup mengalirSetuju, secara garis besar saya juga punya prinsip yang sama. Hanya kadang-kadang saya bertanya, apakah ini sudah semuanya, sudah yang terbaik? Adakah hal yang saya abaikan, misalnya bakat yang tidak saya ungkapkan.
Saya setuju nih, ndugu memang salah satu filsufnya KMAwesome sharing, Gu. You’re a philosopher (ok, it may means to some people that you daydream a lot... but take it as compliment)
Hihi...berarti saya bukan orang kaya karena saya nggak suka baca biografi. Ato mungkin belum merasa perlu aja. Tapi saya suka baca sejarah.
There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.
Everyone wants happiness, no one wants pain.
But you can't make a rainbow without a little rain.
maaf um alip, pake hape susah banget quote. jadi komentar seadanya dulu.
saya jadi merasa dicolek untuk berpikir "lebih" gara2 thread ini
mungkin makna si "hakikat diri" ini masih mengambang sehingga komentar tentang apa itu hakikat diri juga bisa berbeda, padahal maksudnya sama?
saya ulang baca komentar om alip ada kata2 "looking back setelah menjalani kehidupan" lalu juga tentang penyesalan, ada panggilan yang belum dilakukan sehingga rasanya ada "unfinish business"
sekedar sharing, saya pribadi tidak merasakan itu (panggilan khusus/ unfinish business) apalagi penyesalan
mungkin masuk kategori tuscy yang lebih mementingkan proses? tapi ga terlalu tepat juga ya.
jadi ingat kata2 budha (kalo ga salah) "kosong adalah isi, isi adalah kosong" saya rasa begitu pula ketika mengejar hakikat ini berputar soal ego (isi) tapi sebenarnya semua adalah ilusi (kosong).
sejauh ini saya mengalir, panggilan hidup saya datang seiring pergerakan hidup membawa, karena semua bergantung pada pilihan sebelumnya.
bukan berarti saya tidak mempersiapkan diri ya.
dulu selalu berlatih gambar, mempersiapkan diri menjadi arsitek. gagal jadi arsitek,ya sudah itulah yang terbaik. dulu pingin banget bisa kuliah ke jerman, udah kursus bahasa jerman segala,ga bisa ke sana ya sudah. pindah haluan, saya kuliah sekaligus ambil kursus terkait networking, ga ke sana jalannya, ya sudah, saya ga merasa ada yang sia2. jalani pelan2 aja. saya merasa selalu dibimbing dalam hidup. soal hasil itu takdir. yang penting sudah ikhtiar
saya memilih mencintai apa yang saya punya dibandingkan mengejar apa yang tidak ada di genggaman saya.
"unfinish business" saya saat ini adalah bagaimana menjadi madrasah bagi anak2, menghantarkan mereka jadi anak sholeh/ah. lalu soal tanggung jawab seorang hamba kepada tuhannya.
dari sisi pekerjaan, dalam skala realitas aja, ga muluk2 amat, indonesia bisa seperti korsel soal layanan publiknya
oh iya satu hal, saya mengaitkan pencapaian hakikat diri ini dengan kebahagiaan (ga tau salah apa benar). apapun kondisi saya saat ini, inilah yang terbaik, paling sempurna yang telah diberikan Allah buat saya.
enw saya suka baca buku self help, ga semua sih. saya suka la tahzan, dulu juga pernah dikado buku soal gimana bisa berkomunikasi efektif dengan pasangan. (dua itu, yang lain ga tahu) sekedar pengingat. kadang kita suka lupa hal yang "make sense" lho, entah karena ego, atau emosi lagi ga stabil. tapi baca buku gituan dulu sih masih kuliah s1, masih sangat labil. sekarang ga pernah baca buku genre itu.
Al Quran sendiri boleh dibilang buku sebagian isinya self helpnah kalo quran masih baca
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India