Page 6 of 6 FirstFirst ... 456
Results 101 to 114 of 114

Thread: [ngobrol] Menemukan hakikat diri?

  1. #101
    pelanggan tetap Silvercheeks's Avatar
    Join Date
    Aug 2012
    Location
    Lost Clerics' Hideaway
    Posts
    645
    ^ shunya : your true self
    Kabar gembira untuk kita semua, kini tai ada ekstraknya~

  2. #102
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Berarti ndugu meyakini adanya hakikat diri ya?

    Ane jadi mo tanya nih. Apakah pernah melihat orang yg sudah menemukan hakikat dirinya? Kalau ya, bisa diceritakan seperti apa ciri-cirinya? Kalau belum, mengapa meyakini (mencari) adanya hakikat diri?
    istilah "mencari" di sini rasanya sih karena saya mengambilnya dari terjemahan langsung dari istilah "soul-searching" ya soalnya saya merasa apa yang kulakukan ini termasuk soul searching (analisa diri).

    soul-searching
    n : deep or critical examination of one's motives, actions, beliefs, etc.
    adj : displaying the characteristics of deep or painful self-analysis
    n : a close and penetrating analysis of oneself, esp. in an effort to determine one's true feelings and desires.

    sumber: http://www.thefreedictionary.com/soul-searching
    tapi apakah saya dengan khusus mencari2 sih ngga juga. ato meyakini seakan2 itu agama juga ngga juga. i *think* it's there. itu karena saya memikirkannya. tapi saya juga menyadari bahwa konsep ini pun masih rada2 abstrak buatku. kalo harus menjelaskan, mungkin quote decartes paling deket, "i think therefore i am". saya belum bisa dan tidak bisa menjawab dengan 100% keyakinan. dan kurasa proses ini adalah life-long personal journey.

    mengenai melihat orang yang sudah menemukan hakikat diri dan ciri2nya, tentu saja saya ngga tau persis. karena lagi2, ini adalah personal journey masing2. saya bukan mereka, hanya orang itu yang tau mengenainya. saya paling hanya bisa mengira2 berdasarkan kemiripan personal journey-ku sendiri. misalnya ini

    http://www.kopimaya.com/forum/showth...l=1#post232166

    apakah mereka sudah menemukan hakikat diri? ntah. mungkin. i would like to think they have found it. tapi saya juga tau kalo ini hanya mereka yang bisa menjawab. saya pribadi juga sering merasakan 'panggilan' seperti ini.
    Last edited by ndugu; 09-09-2013 at 04:54 AM.

  3. #103
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Mampir sebentar ya... menjawab pertanyaan eyang purba... komentar terhadap postingan teman-teman segera menyusul, Insya Allah...

    1. Tahukah kamu, kamu itu siapa? bagaimana bisa tahu?
    Tergantung kepada siapa saya bicara. Kalau ngobrol dengan praktisi ilmu yang 'ajaib-ajaib' atau filsafat tinggi, tentu saja jawaban saya adalah: 'tidak tahu'... ini untuk menghindari berbagai macam kalimat aneh atau teka-teki koan sekedar untuk membuat jawaban saya terkesan 'tinggi'...

    Kalau dalam tataran pikiran yang populer dan umum, saya bisa bilang bahwa saya mengetahui atribut-atribut yang membentuk diri saya. Misalnya, atribut fisik, berapa tinggi saya, berat badan, ukuran otot, dan sebagainya. Lalu ada juga atribut intelek dan emosional. Saya mengenal cukup baik hal apa akan membuat saya bertindak atau berpikir apa. Apa yang membuat saya tersinggung, lelucon apa yang saya sukai, selera makan, selera musik, tipe perempuan idaman, ideologi, adat yang saya anut, dan banyak lagi.

    Saya mengetahui semua itu dari pengamatan terhadap diri sendiri, dan umpan balik dari orang lain.

    2. apakah menurutmu kamu unik? Bila ya, apa yang membuat dirimu unik? Bila tidak, kenapa?
    Jawabannya mudahnya, ya.
    Saya jelas memiliki perbedaan dengan orang lain, baik karena bawaan genetik atau hasil pembelajaran selama hidup. Kadang saya bertemu dengan orang yang memiliki atribut yang kebanyakan sama, tapi akhirnya tetap ada perbedaan yang bisa diidentifikasi.

    Jawaban tidak mudahnya, tidak.
    Meski dalam hal atribut saya memiliki perbedaan dengan orang lain, dibalik keunikan itu saya merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu, misalnya keluarga atau kelompok-kelompok dalam masyarakat. Yang ketika saya menampilkan diri sebagai organisasi itu kepada organisasi di luar sana, pengalaman mengajari saya untuk tidak menonjolkan keunikan saya sendiri, tapi harus sebagai bagian dari organisasi yang saya wakili.

    Jadi unik atau tidak, memiliki fungsi yang sama-sama produktif, tergantung konteks... dan ini menjawab pertanyaan ketiga dari sisi saya.

    ***

    Sehubungan dengan mencari jati diri yang sempat diobrolkan antara ndugu dan eyang Purba... saya melihat 'pencarian diri' sebagai kata lain dari 'kebutuhan untuk terus berkembang'.

    Entah jati diri itu ada atau tidak, tapi pengalaman mengajari saya bahwa manusia merasa eksistensi dirinya menjadi berharga bila dia terus menerus berkembang menjadi lebih baik dan bisa berkontrbusi lebih besar dari sebelumnya. Stagnasi dalam waktu lama akan membuat seseorang mengalami ketidakseimbangan dan pada akhirnya merasa diri tidak berharga. Semacam 'kehilangan jati diri'.

    Jadi saya melihat dari sisi praktis, meski tentu saja saya yakin ada teman-teman yang punya konsep yang lebih abstrak (silakan ikut meramaikan).

    Eyang Purba sendiri gimana (gak boleh idem ditto loh yaaa)???
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  4. #104
    pelanggan tetap Silvercheeks's Avatar
    Join Date
    Aug 2012
    Location
    Lost Clerics' Hideaway
    Posts
    645
    kalo boleh jujur ya... dari kacamata saya, semakin personal sesuatu, semakin spiritual sesuatu maka yg terjadi adalah mulutmu semakin membisu.

    btw si purba sendiri masih ga pernah membicarakan sisi spiritualnya, atau ga punya barangkali ya? tapi saya yakin dia punya... buktinya dia jadi atheis.
    Kabar gembira untuk kita semua, kini tai ada ekstraknya~

  5. #105
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Sebenarnya ane juga menerka-nerka apa yg dimaksudkan oleh pertanyaan-pertanyaan mbah Alip. Karena itu di tanggapan pertama ane mengaitkan pertanyaan hakikat diri dengan kegundahan seseorang pada pekerjaannya yg dirasakan tidak cocok buat dirinya. Artinya, ketidaknyamanan yg dirasakannya membuatnya bertanya-tanya ttg hakikat diri. Pada kasus itu ane punya pengalaman yg pada akhirnya ane simpulkan bahwa hakikat diri tidak ada. Sementara kenyamanan hidup dapat diperoleh dgn memberikan makna pada hidup itu sendiri.

    Balik pada pertanyaan-pertanyaan mbah Alip selanjutnya, tahukah kamu siapa kamu? Bagaimana? Unikkah? Ane kira secara umum masing-masing kita dapat membedakan mana kita di antara banyak orang. Jawaban positif dari pertanyaan-pertanyaan tsb menjadi hal yg wajar bagi setiap orang. Yg menarik adalah jika ada yg menjawab saya tidak tahu siapa saya dan saya tidak unik. Adakah yg demikian?

  6. #106
    pelanggan tetap Silvercheeks's Avatar
    Join Date
    Aug 2012
    Location
    Lost Clerics' Hideaway
    Posts
    645
    ^ ada Pur... cuma masalah waktu aja ketemu orang kek gitu.
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Pada kasus itu ane punya pengalaman yg pada akhirnya ane simpulkan bahwa hakikat diri tidak ada.
    boleh dishare pengalamannya
    Kabar gembira untuk kita semua, kini tai ada ekstraknya~

  7. #107
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    • Sedang mencari tahu, alias setengah jalan.
      Saya tahu kalau saya fokus dengan sesuatu hasilnya jauh lebih baik dari ekspektasi (pribadi) semula. Tapi fokus butuh dua hal: waktu dan motivasi, yang seringnya tidak dimiliki. Jadi saya terbiasa bergelut dengan keterbatasan dan kegagalan *curhat deeeh

      Saya tau mau jadi apa sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun lagi dst. Tapi saya belajar membuka kemungkinan bahwa semua hal bisa berubah, dan yang perlu saya siapkan sepenuhnya adalah bagaimana saya tidak berat untuk mengikuti arus perubahan rencana semula. Maka kalo ditanya orang abis ini mau ngapain, sering nggak bisa jawab karena di kepala saya langsung muncul berpuluh kemungkinan.

      Bagaimana bisa tau yang dua itu? Lewat pengalaman panjang, and sometimes painful. Untuk tau diri saya seutuhnya, sepertinya saya mesti bersedia menambah scars lagi. *masochist detected?

    • Saya dari kecil sudah merasa beda dari orang lain. Dulu mungkin karena ego, can't be special if it's a mass product. Sekarang selain ego, sepertinya aktualisasi diri menuntut saya harus beda dari yang lain. Karena being different itu salah satu nilai jual yang paling penting menurut saya. Atau pada dasarnya saya sedang bosan saja setelah jadi generalist sekian lama.

    • Menjadi unik atau tidak adalah pilihan. Jadi menurut saya bukan bawaan semacam bakat, tapi lebih kepada pandangan dan sikap terhadap diri sendiri dan citra yang mau ditampilkan ke dunia luar.


    Kayaknya itu dulu.
    Terima kasih buat jawabannya yang panjang lebar, Tusc... jadi Tuscany menempatkan pengalaman sebagai bahan ajar, dan hakikat diri dihubungkan dengan pengembangan diri sendiri ke masa depan. Sangat praktis..
    Seperti saya sebutkan sebelumnya, hakikat di sini berada pada tataran nalar praktis.

    sekalian buat Eyang Purba,
    Quote Originally Posted by Purba
    Sebenarnya ane juga menerka-nerka apa yg dimaksudkan oleh pertanyaan-pertanyaan mbah Alip.
    mulainya sih hakikat yang praktis dan tangibel, seperti jawaban Tuscany di atas, atau soal ketidaknyamanan dengan pekerjaan yang disebut oleh Eyang Purba. Tapi kalau ada yang mau membawa ke ranah spiritual, tentu silakan. Walau kita harus menerima bahwa pada tataran itu konsep-konsepnya banyak yang rancu, subyektif, dan sangat eksperential.

    Tapi menarik juga loh sekedar memahami pendekatan yang dipakai, contohnya diskusi di bawah ini;
    ***

    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    Sebelum lahir sepertinya mbok sudah teken kontrak, akan jadi cewek atau cowok, dilahirkan di mana, oleh siapa, bapaknya siapa, punya adik kakak berapa. Tapi kadang mbok suka lupa SOPnya sehingga harus sering minta petunjuk Ziggy, bagaimana menjalani peran yang sekarang.

    Life is short but it is definitely longer than an episode.
    Kok sebelum lahir sudah teken kontrak, Mbok... 'kan sebelom coming age khan belum boleh mengikatkan diri dengan kontrak, dus, kontraknya batal demi hukum ... hihihi <kidding>

    Ini untuk melanjutkan ke komentar nDugu di bawah ini;

    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    I guess
    Karena buatku itu sebentuk cara untuk bener2 jujur pada diri sendiri. Menanyakan pada esensi dasar diri apa adanya, sejujur2nya, dengan tidak ada udang di balik batu kalau saya berpikir tapi masih pake pengecualian harus dalam kerangka ini itu, bukankah itu membohongi diri sendiri? i cant allow myself to do that to myself buatku sih ya
    nDugu banget...
    Menarik sekali konsepnya, bahwa bertanya itu harus jujur dan sebagai konsekuensinya, kita harus berani pula mencari di luar kerangka berpikir yang ada (atau sudah ditanamkan sebelumnya).

    Kalau boleh saya kontraskan, menurut Mbok Jamu, SOP merupakan faktor penting dalam menjalani hidup, sedangkan bagi nDugu, justru kita harus mau berpikir di luar SOP.

    Lalu ada komentar dari Chan soal pentingnya penggunaan kerangka berpikir;

    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    lalu apakah orang yang memilih tidak memiliki keyakinan "umum"-- sederhananya, kita sebut saja tidak beragama (walau sebenarnya tidak sebatas itu)-- lalu jadi orang yang paling rajin mencari hakikat diri, yang paling jujur pada dirinya sendiri dan tidak membohongi diri sendiri?
    nah kembali ke masing2 orang buat menjawabnya.

    konyol bagi saya bisa jadi hal paling penting dalam hidup orang lain. begitu juga sebaliknya.
    yang kemudian oleh nDugu dijelaskan lebih jauh...

    Quote Originally Posted by ndugu
    Dan hal ini ga applicable pada agama ato keyakinan aja ya, tapi pada apa aja, misalnya tradisi dan budaya, dll. Intinya, saya merasa kita sebagai manusia cenderung menerima mentah2 apa yang didiktein oleh sekeliling tanpa bertanya lebih dalam 'kenapa'.
    Ayik dan seru... terima kasih untuk ndugu, chan, dan mbok jamu...
    Kalau saya coba pahami, berarti menurut nDugu, kemauan dan kemampuan untuk bertanya, termasuk mempertanyakan SOP yang sudah ditetapkan (agama, adat dll.), merupakan bagian penting dalam kehidupan ber-SOP itu sendiri. Anggaplah sesekali waktu SOP yang paling mendasar sekalipun perlu diamandemen. Di sisi lain, Chan dan Mbok Jamu berpegang bahwa ada SOP yang tidak boleh diganggu gugat.

    Saya melihat dua pendekatan ini penting untuk dipahami. Ibaratnya, selain obyek yang kita lihat menggunakan mikroskop, penting pula mengetahui mikroskop model apa yang kita pakai.

    Kira-kira hasil pemikirannya akan beda nggak ya?


    ***

    Postingan selanjutnya tunggu 15 menit dulu...

    ---------- Post Merged at 12:58 PM ----------

    Coba kita lihat pendekatan Silvercheeks, Oom Sedge, dan Romo Jisamsu... jelas ini pendekatan spiritual, yang memiliki ciri khas bermuara pada 'kehampaan' atau 'tanpa-definisi', sebuah kondisi 'nir-'. Ini juga sebenarnya pendekatan yang sangat menarik. Percaya atau tidak, hasilnya sama dengan kesimpulan Eyang Purba, bahwa hakikat diri yang transenden itu sebenarnya tidak ada.

    Nah loh....

    Saya setuju dengan Silvercheeks, bahwa jika melalui jalan spiritual, tataran pemahaman diri akan melewati tahapan-tahapan ketika bahasa sudah susah memberikan definisi, sehingga sulit diajarkan atau diceritakan. Analoginya, ketika anak bertanya, "apa itu sedih?", kita mungkin gelagapan menjelaskannya. Mau bicara soal hormon dan dinamika neurologis otak, kok ya belum nyambung untuk anak-anak. Kita paham makna kesedihan karena pengalaman kita selama bertahun-tahun, dan meta-cognition kita yang mengenali karakter kesedihan kita masing-masing. Si anak harus menjalani proses yang sama untuk bisa menemukan jati diri kesedihannya sendiri, jenis pengetahuan yang tidak bisa dipahami melalui proses belajar berbasis bahasa, diskusi dan sejenisnya. Pun, kalau suatu hari si anak jadi ahli bedah otak ternama dan memahami mekanisme sedih yang ada di otak, tetap ada perbedaan antara memahami kesedihan dan mengalaminya. Orang yang tidak pernah merasa sedih tidak akan memiliki kebijaksanaan yang sama dengan mereka yang pernah merasa sedih, meskipun orang itu memiliki Ph.D. di bidang neurologi (jadi inget Spock sama Data)

    Saya percaya Eyang Purba juga sudah mencapai semacam pencerahan melalui sejenis 'pengalaman', untuk sampai pada kesimpulan bahwa hakikat diri itu tidak ada... dan buat saya itupun adalah sebuah perjalanan spiritual. kita tunggu sharingnya eyang kita ini...

    ---------- Post Merged at 12:58 PM ----------

    yah... masih di merge jugak....
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  8. #108
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Hadeuh, emangnya saya keliatan banget 'aliran spritual' yak? Padahal saya itu merasa sbg org yg sangat rasional banget lho.

    Tapi memang lagi mencoba 'menspirit(ual)kan rasio(nal)' sekaligus 'merasio(nal)kan spirit(ual). Atau lebih ekstremnya lagi, meleburkan, menyatukan, menyelaraskan, menyeimbangkan, bakan kalo perlu membuang dan meniadakan dikotomi2 spirit(ual) vs rasio(nal), jiwa vs raga, lahir vs batin, logika vs intuisi, dll bahkan ada vs tidak ada. Mencoba melihat 'aku seutuhnya' tanpa dikotomi2 'menyesatkan' tsb.

    Dan mengutip komentar dimas Alip berikut ini..:

    Coba kita lihat pendekatan Silvercheeks, Oom Sedge, dan Romo Jisamsu... jelas ini pendekatan spiritual, yang memiliki ciri khas bermuara pada 'kehampaan' atau 'tanpa-definisi', sebuah kondisi 'nir-'. Ini juga sebenarnya pendekatan yang sangat menarik. Percaya atau tidak, hasilnya sama dengan kesimpulan Eyang Purba,...
    Ya menurutku memang seharusnya muaranya sama.

    Tapi sik...sik...
    ...bahwa hakikat diri yang transenden itu sebenarnya tidak ada.
    Mengutip kembali apa yg pernah sekelebat saya lontarkan di trit yg sangat 'mengedepankan logika' (forum iptek/sains)...: *daripada ntar dicap atheist ciloko aku*

    Quote Originally Posted by 234
    Itu artinya, logika nalar kita yang "salah".
    Setuju. Nalar yg udah "terbelenggu" oleh model logika Aristotelian yg meneguhkan prinsip identitas, selalu minta penjabaran,... kalau “yang ada” itu “ada”, maka “yang tidak ada” ya berarti “tidak ada.” Saya menyebutnya sbg, CMIIW, dualism. Bagaimanapun, "logika" ini udah berjasa mengantarkan umat manusia sampe ke jenjang saat ini.

    Sebaliknya dlm "logika paradoks", atau saya menyebutnya monism, “ada” dan “tidak ada” itu ya ‘that-which-is’ itu. "Everything is that-which-is. There is nothing other than that-which-is."
    Tapi mohon ijin ndak usah saya elaborasi yak soale kalo udah diskusi (apalagi debat) masalah kayak gitu neuron di kepala saya udah ndak setahan dulu lagi, udah kemakan oleh umur kali. *ngeles*

    Dan sejatinya saya udah 'males' mikirin hal begituan. Tinggal sak dermo nglakoni aja. Mengalir.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  9. #109
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Terima kasih buat jawabannya yang panjang lebar, Tusc... jadi Tuscany menempatkan pengalaman sebagai bahan ajar, dan hakikat diri dihubungkan dengan pengembangan diri sendiri ke masa depan. Sangat praktis..
    Seperti saya sebutkan sebelumnya, hakikat di sini berada pada tataran nalar praktis.
    Saya juga terima kasih loh
    Untuk tahap hidup yang sekarang saya memang milih jadi praktis, mungkin perlu dan mampunya begitu. Tapi om alip kok bisa ya mengelaborasikannya ke dalam frasa yang saya baru sadari sekarang. Sekali lagi terima kasih. I found you are such a distinctive mentor.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  10. #110
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    i agree, alip can be a great mentor
    not everyone has a talent to be one

  11. #111
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    Quote Originally Posted by alip
    saya melihat 'pencarian diri' sebagai kata lain dari 'kebutuhan untuk terus berkembang'.

    Entah jati diri itu ada atau tidak, tapi pengalaman mengajari saya bahwa manusia merasa eksistensi dirinya menjadi berharga bila dia terus menerus berkembang menjadi lebih baik dan bisa berkontrbusi lebih besar dari sebelumnya. Stagnasi dalam waktu lama akan membuat seseorang mengalami ketidakseimbangan dan pada akhirnya merasa diri tidak berharga. Semacam 'kehilangan jati diri'.
    I would like to revisit this i've been thinking about this part for the last several days. need to do a little soul-searching myself about it dan saya mempunyai dua komentar mengenainya.

    pertama, "kebutuhan untuk terus berkembang" - karena pemakaian istilah 'berkembang' ini, konotasinya buatku adalah berkembang ke arah yang positif. sedangkan saya sendiri ngga yakin (dalam pencarianku sendiri) bahwa apakah ini harus ke arah positif ato negatif. soalnya buatku ini hal yang netral. walo mungkin untuk sebagian orang akan menganggapnya sebagai 'destruktif' (ke arah negatif) - dan bagian ini akan kujelaskan nanti.

    kedua, saya ingin ngequote cuplikan dari buku teks yang dipake di kelas kuliah filosofi yang sempat kuikuti sebentar podcastnya. dan di sini si pengarang mencoba memberi arti filosofi dan melihat dari perspektif kierkegaard.

    bagian yang dibold adalah bbrp bagian yang ingin saya tekankan. and as you can see, i do share similar views dengan bbrp pandangan kierkegaard mengenai kejujuran diri dan personal reflection.

    Spoiler for quote buku:

    sumber: The Philosophical Journey by William F. Lawhead, page 5.
    (saya ada bukunya dalam pdf kalo ada yang mau )

    Perhaps Kierkegaard’s point is that only by facing the really difficult issues in life will we gain something that is truly valuable. His mission was to coax us, to irritate us, and to provoke us into making the effort necessary to overcome our reticence to face one of life’s most difficult but rewarding tasks: honest, personal reflection. For Kierkegaard, this activity was the heart and soul of philosophy. Like many other strenuous but valuable activities, becoming a philosopher can involve intellectual labor pains, practice, determination, and creative struggling. But philosophy obviously does not produce the tangible rewards of the sort enjoyed by the mother, musician, athlete, or novelist. What, then, is the reward of doing philosophy? According to Kierkegaard, what philosophy can give us is self-understanding. Self-understanding involves knowing who I really am apart from the masks I present to others, the social roles I fulfill, or the labels and descriptions imposed on me by my society and my peers. It also involves understanding my beliefs and values and being aware of why I act the way I do, including knowing whether my actions result from my own authentic choices or from taken-for-granted, unexamined assumptions or the influences of my culture.

    At first glance, it would seem that self-understanding is something that everyone would desire. But Kierkegaard thought that it was not only the most important goal in life, but the most difficult one. Furthermore, he claimed that it is something that we are often tempted to avoid. It is much easier to be complacent, to be self-satisfied, and to stick with beliefs that are comfortable and familiar than to be painfully and fully honest with ourselves and to subject our deepest convictions to examination. Fitness centers promote the saying, “No pain, no gain.” The same is true with our struggles to become fully realized and actualized persons. In fact, philosophy could be viewed as “aerobics for the human mind.” In Kierkegaard’s day, everyone was claiming to provide the answers to everyone else’s problems. Kierkegaard, however, thought that his greatest contribution to society would be to provide the problems to everyone’s answers. Only in this way, he thought, would we be goaded into searching for those answers that are worthy of our belief. Kierkegaard has provided us with our first definition of philosophy: Philosophy is the search for self-understanding.

    i can relate to that. karena buatku 'pencarian diri' ini adalah untuk mengenal diri, pencarian akan self-understanding ini, for 'better' or 'worse'.

    tapi satu hal yang tidak sama antara saya dengan kierkegaard adalah, saya tidak merasa pencarian diri itu sebagai 'misi hidup'ku. dan kalo saya bener2 ingin jujur pada diri sendiri, saya merasa masih belum menemukan misi maupun makna ato tujuan hidup. secara semu, saya menganggap 'hidup untuk ortu, dll' adalah sebagai tujuan hidupku. tapi saya tidak merasa itu alasan yang paling jujur pada diriku sendiri.

    so, kalo tidak mempunyai makna dan tujuan hidup, maka kenapa hidup?, you may ask.
    again, kalo mo bener2 jujur, saya tidak mempunyai alasan. dan saya sangat menyadari saya tidak mempunyai 'niat hidup' yang tinggi. saya tidak mempunyai 'drive' itu. hidup itu cuman pembuangan waktu dan tenaga kalo mo jujur. dari kecil saya sudah mempunyai suicidal thoughts, dan opsi untuk mengakhiri hidup sendiri tetep saya biarkan terbuka lebar untuk masa depan. don't worry. saya tidak merasa 'tidak stabil' ato depresi. mengobservasi kehidupan manusia dan segala tingkah antik mereka is enough to keep me entertained on earth i'm fully aware of my feelings dan kenyataan hidup itu. i know i have given a lot of thoughts about life and death, perhaps more than i should tapi perbahasan mengenai kehidupan dan kematian udah termasuk perbahasan renungan laen, and i am not going into that dalam diskusi thread ini

    jadi apakah saya mengalami 'ketidakseimbangan' itu? i guess, persepsi secara umum orang2 akan menganggap apa yang kupikirkan itu sebagai hal yang 'destruktif'. sedangkan saya merasa tidak harus. dan saya tidak merasa itu sebagai hal yang 'berkembang' ato 'destruktif'. that's just part and parcel of life, bagian dari 'pencarian diri' dan self-understanding itu di tingkat sedasar2nya.

    having said that though, saya pun masi tetep terbuka akan kemungkinan perubahan tujuan hidup di masa depan, from having none to having something
    Last edited by ndugu; 15-09-2013 at 10:50 AM.

  12. #112
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    ikutan nimbrung ya, walaupun ga yakin bisa nulisin dengan tepat apa yg g pikirin di sini
    dari baca2, ada yg menyinggung soal keyakinan terhadap Tuhan di sini
    dan ini bikin g inget sama pemikiran g yg dulu...tercetus tiba2 aja kepikiran gitu
    seandainya, manusia itu diciptakan oleh Tuhan....lalu setelah mati akan kekal di dalam surga atau neraka...lalu kehidupan manusia itu sendiri akan seperti apa nantinya?
    terus2an mengulang hal yg sama di dalam dunia setelah fana? tanpa akhir sama sekali?
    lalu "Tuhan" menjadi satu2nya 'makhluk' yg abadi dan menjadi penggerak satu2nya?
    jadi...dari mana munculnya 'Tuhan' dan apa jadinya 'dunia tanpa akhir' itu sendiri?

    g berkesimpulan (pada waktu itu) bahwa memang pemikiran manusia ga sampe dan ga diijinkan buat nyampe ke sana
    jadi g mundur diam2 dan menerima pemikiran yg umum, meskipun masih ga puas dengan jawaban yg manapun

    kemudian, soal merasa berbeda dari yg lain
    meskipun g standarnya ga pengen terlalu menonjol, ga menarik perhatian atau yg lain2
    somehow....lingkungan seringnya melihat g berbeda
    atau, g merasa selalu terjebak dalam suatu lingkungan yg membuat g berbeda dari yg lain
    cuma karena g punya hobi, kesukaan yg kurang umum, atau bisa jadi pilihan dalam hidup g membawa g ke sana
    yg ujung2nya g harus survive habis2an dan membela diri g saat orang2 bertanya kenapa g begini begitu

    nah, sampe sini g udah bingung sendiri lagi nulis apa kan
    Popo Nest

  13. #113
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    Quote Originally Posted by Porcelain Doll View Post
    ikutan nimbrung ya, walaupun ga yakin bisa nulisin dengan tepat apa yg g pikirin di sini
    dari baca2, ada yg menyinggung soal keyakinan terhadap Tuhan di sini
    dan ini bikin g inget sama pemikiran g yg dulu...tercetus tiba2 aja kepikiran gitu
    seandainya, manusia itu diciptakan oleh Tuhan....lalu setelah mati akan kekal di dalam surga atau neraka...lalu kehidupan manusia itu sendiri akan seperti apa nantinya?
    terus2an mengulang hal yg sama di dalam dunia setelah fana? tanpa akhir sama sekali?
    lalu "Tuhan" menjadi satu2nya 'makhluk' yg abadi dan menjadi penggerak satu2nya?
    jadi...dari mana munculnya 'Tuhan' dan apa jadinya 'dunia tanpa akhir' itu sendiri?

    g berkesimpulan (pada waktu itu) bahwa memang pemikiran manusia ga sampe dan ga diijinkan buat nyampe ke sana
    jadi g mundur diam2 dan menerima pemikiran yg umum, meskipun masih ga puas dengan jawaban yg manapun
    i think that's a great start dan jangan berhenti dipikirkan terus ya

    kemudian, soal merasa berbeda dari yg lain
    meskipun g standarnya ga pengen terlalu menonjol, ga menarik perhatian atau yg lain2
    somehow....lingkungan seringnya melihat g berbeda
    atau, g merasa selalu terjebak dalam suatu lingkungan yg membuat g berbeda dari yg lain
    cuma karena g punya hobi, kesukaan yg kurang umum, atau bisa jadi pilihan dalam hidup g membawa g ke sana
    yg ujung2nya g harus survive habis2an dan membela diri g saat orang2 bertanya kenapa g begini begitu

    nah, sampe sini g udah bingung sendiri lagi nulis apa kan
    po, rasanya cape ngga harus terus 'membela diri' akan keputusanmu itu?

  14. #114
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    iya...emang cape sih
    karena g kaya harus nyari pembenaran kenapa g bisa sampe kejebak masuk sana
    tapi....lagi2 g mikir, kenapa g seolah2 harus masuk sana? apa karena ada sesuatu yg harus g pelajari di sana?
    mungkin pencerahan gitu? biar g bisa jadi sedikit lebih bijaksana
    kalo g sama dengan orang2 umumnya, bisa jadi g ga bakalan mikir apa2
    cuma, karena 'beda', g dipaksa mikirin posisi g saat itu dan kenapa g masuk ke sana
    apa karena penasaran, dipaksa ngeliat atau apa....

    dalam beberapa kasus, akhirnya sih g menerima dan berhasil ngerti bahwa itu salah satu jalan buat menambah pengalaman g
    untuk kasus lain, g merasa itu gara2 diri g sendiri

    actually, seringnya g itu suka penasaran
    dan alih2 mengambil keputusan berdasarkan logika yg aman, malah cenderung mengambil resiko
    hanya gara2 pengen tau hasilnya kaya gimana
    Last edited by Porcelain Doll; 15-09-2013 at 12:26 PM.
    Popo Nest

Page 6 of 6 FirstFirst ... 456

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •