^ shunya : your true self
^ shunya : your true self
Kabar gembira untuk kita semua, kini tai ada ekstraknya~
istilah "mencari" di sini rasanya sih karena saya mengambilnya dari terjemahan langsung dari istilah "soul-searching" yasoalnya saya merasa apa yang kulakukan ini termasuk soul searching (analisa diri).
tapi apakah saya dengan khusus mencari2 sih ngga juga. ato meyakini seakan2 itu agama juga ngga juga. i *think* it's there. itu karena saya memikirkannya. tapi saya juga menyadari bahwa konsep ini pun masih rada2 abstrak buatku. kalo harus menjelaskan, mungkin quote decartes paling deket, "i think therefore i am". saya belum bisa dan tidak bisa menjawab dengan 100% keyakinan. dan kurasa proses ini adalah life-long personal journey.soul-searching
n : deep or critical examination of one's motives, actions, beliefs, etc.
adj : displaying the characteristics of deep or painful self-analysis
n : a close and penetrating analysis of oneself, esp. in an effort to determine one's true feelings and desires.
sumber: http://www.thefreedictionary.com/soul-searching
mengenai melihat orang yang sudah menemukan hakikat diri dan ciri2nya, tentu saja saya ngga tau persis. karena lagi2, ini adalah personal journey masing2. saya bukan mereka, hanya orang itu yang tau mengenainya. saya paling hanya bisa mengira2 berdasarkan kemiripan personal journey-ku sendiri.misalnya ini
http://www.kopimaya.com/forum/showth...l=1#post232166
apakah mereka sudah menemukan hakikat diri? ntah. mungkin. i would like to think they have found it. tapi saya juga tau kalo ini hanya mereka yang bisa menjawab. saya pribadi juga sering merasakan 'panggilan' seperti ini.
Last edited by ndugu; 09-09-2013 at 04:54 AM.
Mampir sebentar ya... menjawab pertanyaan eyang purba... komentar terhadap postingan teman-teman segera menyusul, Insya Allah...
1. Tahukah kamu, kamu itu siapa? bagaimana bisa tahu?
Tergantung kepada siapa saya bicara. Kalau ngobrol dengan praktisi ilmu yang 'ajaib-ajaib' atau filsafat tinggi, tentu saja jawaban saya adalah: 'tidak tahu'... ini untuk menghindari berbagai macam kalimat aneh atau teka-teki koan sekedar untuk membuat jawaban saya terkesan 'tinggi'...
Kalau dalam tataran pikiran yang populer dan umum, saya bisa bilang bahwa saya mengetahui atribut-atribut yang membentuk diri saya. Misalnya, atribut fisik, berapa tinggi saya, berat badan, ukuran otot, dan sebagainya. Lalu ada juga atribut intelek dan emosional. Saya mengenal cukup baik hal apa akan membuat saya bertindak atau berpikir apa. Apa yang membuat saya tersinggung, lelucon apa yang saya sukai, selera makan, selera musik, tipe perempuan idaman, ideologi, adat yang saya anut, dan banyak lagi.
Saya mengetahui semua itu dari pengamatan terhadap diri sendiri, dan umpan balik dari orang lain.
2. apakah menurutmu kamu unik? Bila ya, apa yang membuat dirimu unik? Bila tidak, kenapa?
Jawabannya mudahnya, ya.
Saya jelas memiliki perbedaan dengan orang lain, baik karena bawaan genetik atau hasil pembelajaran selama hidup. Kadang saya bertemu dengan orang yang memiliki atribut yang kebanyakan sama, tapi akhirnya tetap ada perbedaan yang bisa diidentifikasi.
Jawaban tidak mudahnya, tidak.
Meski dalam hal atribut saya memiliki perbedaan dengan orang lain, dibalik keunikan itu saya merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu, misalnya keluarga atau kelompok-kelompok dalam masyarakat. Yang ketika saya menampilkan diri sebagai organisasi itu kepada organisasi di luar sana, pengalaman mengajari saya untuk tidak menonjolkan keunikan saya sendiri, tapi harus sebagai bagian dari organisasi yang saya wakili.
Jadi unik atau tidak, memiliki fungsi yang sama-sama produktif, tergantung konteks... dan ini menjawab pertanyaan ketiga dari sisi saya.
***
Sehubungan dengan mencari jati diri yang sempat diobrolkan antara ndugu dan eyang Purba... saya melihat 'pencarian diri' sebagai kata lain dari 'kebutuhan untuk terus berkembang'.
Entah jati diri itu ada atau tidak, tapi pengalaman mengajari saya bahwa manusia merasa eksistensi dirinya menjadi berharga bila dia terus menerus berkembang menjadi lebih baik dan bisa berkontrbusi lebih besar dari sebelumnya. Stagnasi dalam waktu lama akan membuat seseorang mengalami ketidakseimbangan dan pada akhirnya merasa diri tidak berharga. Semacam 'kehilangan jati diri'.
Jadi saya melihat dari sisi praktis, meski tentu saja saya yakin ada teman-teman yang punya konsep yang lebih abstrak (silakan ikut meramaikan).
Eyang Purba sendiri gimana (gak boleh idem ditto loh yaaa)???![]()
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
kalo boleh jujur ya... dari kacamata saya, semakin personal sesuatu, semakin spiritual sesuatu maka yg terjadi adalah mulutmu semakin membisu.
btw si purba sendiri masih ga pernah membicarakan sisi spiritualnya, atau ga punya barangkali ya? tapi saya yakin dia punya... buktinya dia jadi atheis.
Kabar gembira untuk kita semua, kini tai ada ekstraknya~
Sebenarnya ane juga menerka-nerka apa yg dimaksudkan oleh pertanyaan-pertanyaan mbah Alip. Karena itu di tanggapan pertama ane mengaitkan pertanyaan hakikat diri dengan kegundahan seseorang pada pekerjaannya yg dirasakan tidak cocok buat dirinya. Artinya, ketidaknyamanan yg dirasakannya membuatnya bertanya-tanya ttg hakikat diri. Pada kasus itu ane punya pengalaman yg pada akhirnya ane simpulkan bahwa hakikat diri tidak ada. Sementara kenyamanan hidup dapat diperoleh dgn memberikan makna pada hidup itu sendiri.
Balik pada pertanyaan-pertanyaan mbah Alip selanjutnya, tahukah kamu siapa kamu? Bagaimana? Unikkah? Ane kira secara umum masing-masing kita dapat membedakan mana kita di antara banyak orang. Jawaban positif dari pertanyaan-pertanyaan tsb menjadi hal yg wajar bagi setiap orang. Yg menarik adalah jika ada yg menjawab saya tidak tahu siapa saya dan saya tidak unik. Adakah yg demikian?
Terima kasih buat jawabannya yang panjang lebar, Tusc...jadi Tuscany menempatkan pengalaman sebagai bahan ajar, dan hakikat diri dihubungkan dengan pengembangan diri sendiri ke masa depan. Sangat praktis..
Seperti saya sebutkan sebelumnya, hakikat di sini berada pada tataran nalar praktis.
sekalian buat Eyang Purba,
mulainya sih hakikat yang praktis dan tangibel, seperti jawaban Tuscany di atas, atau soal ketidaknyamanan dengan pekerjaan yang disebut oleh Eyang Purba. Tapi kalau ada yang mau membawa ke ranah spiritual, tentu silakan. Walau kita harus menerima bahwa pada tataran itu konsep-konsepnya banyak yang rancu, subyektif, dan sangat eksperential.Originally Posted by Purba
Tapi menarik juga loh sekedar memahami pendekatan yang dipakai, contohnya diskusi di bawah ini;
***
Kok sebelum lahir sudah teken kontrak, Mbok... 'kan sebelom coming age khan belum boleh mengikatkan diri dengan kontrak, dus, kontraknya batal demi hukum ... hihihi <kidding>
Ini untuk melanjutkan ke komentar nDugu di bawah ini;
nDugu banget...
Menarik sekali konsepnya, bahwa bertanya itu harus jujur dan sebagai konsekuensinya, kita harus berani pula mencari di luar kerangka berpikir yang ada (atau sudah ditanamkan sebelumnya).
Kalau boleh saya kontraskan, menurut Mbok Jamu, SOP merupakan faktor penting dalam menjalani hidup, sedangkan bagi nDugu, justru kita harus mau berpikir di luar SOP.
Lalu ada komentar dari Chan soal pentingnya penggunaan kerangka berpikir;
yang kemudian oleh nDugu dijelaskan lebih jauh...
Ayik dan seru... terima kasih untuk ndugu, chan, dan mbok jamu...Originally Posted by ndugu
Kalau saya coba pahami, berarti menurut nDugu, kemauan dan kemampuan untuk bertanya, termasuk mempertanyakan SOP yang sudah ditetapkan (agama, adat dll.), merupakan bagian penting dalam kehidupan ber-SOP itu sendiri. Anggaplah sesekali waktu SOP yang paling mendasar sekalipun perlu diamandemen. Di sisi lain, Chan dan Mbok Jamu berpegang bahwa ada SOP yang tidak boleh diganggu gugat.
Saya melihat dua pendekatan ini penting untuk dipahami. Ibaratnya, selain obyek yang kita lihat menggunakan mikroskop, penting pula mengetahui mikroskop model apa yang kita pakai.
Kira-kira hasil pemikirannya akan beda nggak ya?
***
Postingan selanjutnya tunggu 15 menit dulu...
---------- Post Merged at 12:58 PM ----------
Coba kita lihat pendekatan Silvercheeks, Oom Sedge, dan Romo Jisamsu... jelas ini pendekatan spiritual, yang memiliki ciri khas bermuara pada 'kehampaan' atau 'tanpa-definisi', sebuah kondisi 'nir-'. Ini juga sebenarnya pendekatan yang sangat menarik. Percaya atau tidak, hasilnya sama dengan kesimpulan Eyang Purba, bahwa hakikat diri yang transenden itu sebenarnya tidak ada.
Nah loh....
Saya setuju dengan Silvercheeks, bahwa jika melalui jalan spiritual, tataran pemahaman diri akan melewati tahapan-tahapan ketika bahasa sudah susah memberikan definisi, sehingga sulit diajarkan atau diceritakan. Analoginya, ketika anak bertanya, "apa itu sedih?", kita mungkin gelagapan menjelaskannya. Mau bicara soal hormon dan dinamika neurologis otak, kok ya belum nyambung untuk anak-anak. Kita paham makna kesedihan karena pengalaman kita selama bertahun-tahun, dan meta-cognition kita yang mengenali karakter kesedihan kita masing-masing. Si anak harus menjalani proses yang sama untuk bisa menemukan jati diri kesedihannya sendiri, jenis pengetahuan yang tidak bisa dipahami melalui proses belajar berbasis bahasa, diskusi dan sejenisnya. Pun, kalau suatu hari si anak jadi ahli bedah otak ternama dan memahami mekanisme sedih yang ada di otak, tetap ada perbedaan antara memahami kesedihan dan mengalaminya. Orang yang tidak pernah merasa sedih tidak akan memiliki kebijaksanaan yang sama dengan mereka yang pernah merasa sedih, meskipun orang itu memiliki Ph.D. di bidang neurologi (jadi inget Spock sama Data)
Saya percaya Eyang Purba juga sudah mencapai semacam pencerahan melalui sejenis 'pengalaman', untuk sampai pada kesimpulan bahwa hakikat diri itu tidak ada... dan buat saya itupun adalah sebuah perjalanan spiritual.kita tunggu sharingnya eyang kita ini...
---------- Post Merged at 12:58 PM ----------
yah... masih di merge jugak....
![]()
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
Hadeuh, emangnya saya keliatan banget 'aliran spritual' yak?Padahal saya itu merasa sbg org yg sangat rasional banget lho.
Tapi memang lagi mencoba 'menspirit(ual)kan rasio(nal)' sekaligus 'merasio(nal)kan spirit(ual). Atau lebih ekstremnya lagi, meleburkan, menyatukan, menyelaraskan, menyeimbangkan, bakan kalo perlu membuang dan meniadakan dikotomi2 spirit(ual) vs rasio(nal), jiwa vs raga, lahir vs batin, logika vs intuisi, dll bahkan ada vs tidak ada. Mencoba melihat 'aku seutuhnya' tanpa dikotomi2 'menyesatkan' tsb.
Dan mengutip komentar dimas Alip berikut ini..:
Ya menurutku memang seharusnya muaranya sama.Coba kita lihat pendekatan Silvercheeks, Oom Sedge, dan Romo Jisamsu... jelas ini pendekatan spiritual, yang memiliki ciri khas bermuara pada 'kehampaan' atau 'tanpa-definisi', sebuah kondisi 'nir-'. Ini juga sebenarnya pendekatan yang sangat menarik. Percaya atau tidak, hasilnya sama dengan kesimpulan Eyang Purba,...
Tapi sik...sik...
Mengutip kembali apa yg pernah sekelebat saya lontarkan di trit yg sangat 'mengedepankan logika' (forum iptek/sains)...: *daripada ntar dicap atheist ciloko aku*...bahwa hakikat diri yang transenden itu sebenarnya tidak ada.
Tapi mohon ijin ndak usah saya elaborasi yakOriginally Posted by 234
soale kalo udah diskusi (apalagi debat) masalah kayak gitu neuron di kepala saya udah ndak setahan dulu lagi, udah kemakan oleh umur kali.
*ngeles*
Dan sejatinya saya udah 'males' mikirin hal begituan. Tinggal sak dermo nglakoni aja. Mengalir.
![]()
Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.
Saya juga terima kasih loh
Untuk tahap hidup yang sekarang saya memang milih jadi praktis, mungkin perlu dan mampunya begitu. Tapi om alip kok bisa ya mengelaborasikannya ke dalam frasa yang saya baru sadari sekarang. Sekali lagi terima kasih. I found you are such a distinctive mentor.
There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.
Everyone wants happiness, no one wants pain.
But you can't make a rainbow without a little rain.
i agree, alip can be a great mentor
not everyone has a talent to be one
I would like to revisit thisOriginally Posted by alip
i've been thinking about this part for the last several days. need to do a little soul-searching myself about it
dan saya mempunyai dua komentar mengenainya.
pertama, "kebutuhan untuk terus berkembang" - karena pemakaian istilah 'berkembang' ini, konotasinya buatku adalah berkembang ke arah yang positif. sedangkan saya sendiri ngga yakin (dalam pencarianku sendiri) bahwa apakah ini harus ke arah positif ato negatif. soalnya buatku ini hal yang netral. walo mungkin untuk sebagian orang akan menganggapnya sebagai 'destruktif' (ke arah negatif) - dan bagian ini akan kujelaskan nanti.
kedua, saya ingin ngequote cuplikan dari buku teks yang dipake di kelas kuliah filosofi yang sempat kuikuti sebentar podcastnya. dan di sini si pengarang mencoba memberi arti filosofi dan melihat dari perspektif kierkegaard.
bagian yang dibold adalah bbrp bagian yang ingin saya tekankan. and as you can see, i do share similar views dengan bbrp pandangan kierkegaard mengenai kejujuran diri dan personal reflection.
Spoiler for quote buku:
i can relate to that. karena buatku 'pencarian diri' ini adalah untuk mengenal diri, pencarian akan self-understanding ini, for 'better' or 'worse'.
tapi satu hal yang tidak sama antara saya dengan kierkegaard adalah, saya tidak merasa pencarian diri itu sebagai 'misi hidup'ku. dan kalo saya bener2 ingin jujur pada diri sendiri, saya merasa masih belum menemukan misi maupun makna ato tujuan hidup. secara semu, saya menganggap 'hidup untuk ortu, dll' adalah sebagai tujuan hidupku. tapi saya tidak merasa itu alasan yang paling jujur pada diriku sendiri.
so, kalo tidak mempunyai makna dan tujuan hidup, maka kenapa hidup?, you may ask.
again, kalo mo bener2 jujur, saya tidak mempunyai alasan. dan saya sangat menyadari saya tidak mempunyai 'niat hidup' yang tinggi. saya tidak mempunyai 'drive' itu. hidup itu cuman pembuangan waktu dan tenaga kalo mo jujur. dari kecil saya sudah mempunyai suicidal thoughts, dan opsi untuk mengakhiri hidup sendiri tetep saya biarkan terbuka lebar untuk masa depan. don't worry. saya tidak merasa 'tidak stabil' ato depresi. mengobservasi kehidupan manusia dan segala tingkah antik mereka is enough to keep me entertained on earthi'm fully aware of my feelings dan kenyataan hidup itu. i know i have given a lot of thoughts about life and death, perhaps more than i should
tapi perbahasan mengenai kehidupan dan kematian udah termasuk perbahasan renungan laen, and i am not going into that dalam diskusi thread ini
![]()
jadi apakah saya mengalami 'ketidakseimbangan' itu? i guess, persepsi secara umum orang2 akan menganggap apa yang kupikirkan itu sebagai hal yang 'destruktif'. sedangkan saya merasa tidak harus. dan saya tidak merasa itu sebagai hal yang 'berkembang' ato 'destruktif'. that's just part and parcel of life, bagian dari 'pencarian diri' dan self-understanding itu di tingkat sedasar2nya.
having said that though, saya pun masi tetep terbuka akan kemungkinan perubahan tujuan hidup di masa depan, from having none to having something![]()
Last edited by ndugu; 15-09-2013 at 10:50 AM.
ikutan nimbrung ya, walaupun ga yakin bisa nulisin dengan tepat apa yg g pikirin di sini
dari baca2, ada yg menyinggung soal keyakinan terhadap Tuhan di sini
dan ini bikin g inget sama pemikiran g yg dulu...tercetus tiba2 aja kepikiran gitu
seandainya, manusia itu diciptakan oleh Tuhan....lalu setelah mati akan kekal di dalam surga atau neraka...lalu kehidupan manusia itu sendiri akan seperti apa nantinya?
terus2an mengulang hal yg sama di dalam dunia setelah fana? tanpa akhir sama sekali?
lalu "Tuhan" menjadi satu2nya 'makhluk' yg abadi dan menjadi penggerak satu2nya?
jadi...dari mana munculnya 'Tuhan' dan apa jadinya 'dunia tanpa akhir' itu sendiri?
g berkesimpulan (pada waktu itu) bahwa memang pemikiran manusia ga sampe dan ga diijinkan buat nyampe ke sana
jadi g mundur diam2 dan menerima pemikiran yg umum, meskipun masih ga puas dengan jawaban yg manapun
kemudian, soal merasa berbeda dari yg lain
meskipun g standarnya ga pengen terlalu menonjol, ga menarik perhatian atau yg lain2
somehow....lingkungan seringnya melihat g berbeda
atau, g merasa selalu terjebak dalam suatu lingkungan yg membuat g berbeda dari yg lain
cuma karena g punya hobi, kesukaan yg kurang umum, atau bisa jadi pilihan dalam hidup g membawa g ke sana
yg ujung2nya g harus survive habis2an dan membela diri g saat orang2 bertanya kenapa g begini begitu
nah, sampe sini g udah bingung sendiri lagi nulis apa kan![]()
Popo Nest
i think that's a great startdan jangan berhenti dipikirkan terus ya
![]()
po, rasanya cape ngga harus terus 'membela diri' akan keputusanmu itu?kemudian, soal merasa berbeda dari yg lain
meskipun g standarnya ga pengen terlalu menonjol, ga menarik perhatian atau yg lain2
somehow....lingkungan seringnya melihat g berbeda
atau, g merasa selalu terjebak dalam suatu lingkungan yg membuat g berbeda dari yg lain
cuma karena g punya hobi, kesukaan yg kurang umum, atau bisa jadi pilihan dalam hidup g membawa g ke sana
yg ujung2nya g harus survive habis2an dan membela diri g saat orang2 bertanya kenapa g begini begitu
nah, sampe sini g udah bingung sendiri lagi nulis apa kan![]()
iya...emang cape sih
karena g kaya harus nyari pembenaran kenapa g bisa sampe kejebak masuk sana
tapi....lagi2 g mikir, kenapa g seolah2 harus masuk sana? apa karena ada sesuatu yg harus g pelajari di sana?
mungkin pencerahan gitu? biar g bisa jadi sedikit lebih bijaksana
kalo g sama dengan orang2 umumnya, bisa jadi g ga bakalan mikir apa2
cuma, karena 'beda', g dipaksa mikirin posisi g saat itu dan kenapa g masuk ke sana
apa karena penasaran, dipaksa ngeliat atau apa....
dalam beberapa kasus, akhirnya sih g menerima dan berhasil ngerti bahwa itu salah satu jalan buat menambah pengalaman g
untuk kasus lain, g merasa itu gara2 diri g sendiri
actually, seringnya g itu suka penasaran
dan alih2 mengambil keputusan berdasarkan logika yg aman, malah cenderung mengambil resiko
hanya gara2 pengen tau hasilnya kaya gimana![]()
Last edited by Porcelain Doll; 15-09-2013 at 12:26 PM.
Popo Nest