Page 6 of 11 FirstFirst ... 45678 ... LastLast
Results 101 to 120 of 211

Thread: Kenapa Syi'ah di bantai?

  1. #101
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Tidak selalu mbah... Itu tergantung bagaimana si muslim menyikapi ajaran tsb.

    Pada kasus2 tertentu, ane menduga ancaman siksa neraka dapat memicu seorang muslim utk melakukan kekerasan. Dugaan ini ane turunkan dari pengamatan bahwa makhluk hidup umumnya akan berubah agresif ketika merasa terancam. Jadi ketika seorang muslim merasa aqidahnya terancam, dia dapat berubah menjadi agresif. Ane menduga itu yg terjadi pada kasus2 seperti pembantaian Syiah, Ahmadiyah, ataupun gereja.
    Setuju, Eyang. Dalam hal ini bisakah kita ambil kesimpulan bahwa variabel pemicu kekerasan terletak pada pola ajarnya, bukan ajarannya? Konsep non-neraka sekalipun bisa menjadi pemicu kekerasan jika disertai oleh insecurity yang parah.

    Salah satu hal yang diajarkan pada saya dalam dunia beladiri; "Fight occurs when my insecurity meet yours". Tanpa insecurity ini, tidak pernah ada alasan untuk berkelahi, bahkan jika kita memiliki perbedaan paling mendasar sekalipun. Kita akan talk through differences dan pada titik di mana perbedaan kita tidak dapat dijembatani, kita cenderung untuk agree to disagree. Pun perbedaan ini tidak menghalangi kita untuk bekerjasama dengan baik di masa yang akan datang.

    Saya tidak melihat kasus kekerasan terhadap agama atau aliran agama tertentu sebagai manifestasi dari rasa identitas keagamaan yang terdesak, apalagi kalau yang diserang adalah kaum minoritas. Kenapa pihak mayoritas harus merasa terdesak oleh kehadiran segelintir minoritas? Saya cenderung menyebut ini sebagai perpanjangan dari kasus sosio-ekonomi yang lebih rumit, misalnya kemiskinan, kurangnya wawasan/pendidikan, atau hal-hal lain yang sudah berakar lebih dulu di suatu komunitas.

    ***

    Quote Originally Posted by pasingsingan View Post
    ya krn pada tataran grass root masih kental dng budaya paternalistik (baca panutan). Mereka beranggapan bhw, urusan keagamaan adlh menjadi wewenang atau tanggung jawab ulama semata.
    LAH klo fanatismenya thd sang kyai sudah sampai tahap mengkultuskan misalnya?
    Ini suatu telaah yang kena, Oom Pasing, dan berhubungan dengan yang saya sebut di atas.

    Kenapa kita butuh mengkultuskan seseorang yang lebih "agung"? Karena kita tidak memiliki kepercayaan diri dan tidak pernah belajar untuk mengambil tanggung jawab atas pikiran, penafsiran, dan perilaku kita sendiri. Ada suatu rasa security semu ketika kita berlindung dalam sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang penghulu yang kita anggap mumpuni. Sebuah sikap tribalisme. Pendidikan di dunia semacam ini umumnya terdiri atas doktrin-doktrin yang bertujuan untuk menghasilkan individu-individu yang sepaham dengan suatu ajaran, tanpa bertanya atau menganalisa lagi. Parahnya, sikap ini menghasilkan perilaku submisif terhadap ketokohan yang mewakili ajaran tersebut, yang alih-alih menghasilkan pemikir produktif, justru hanya menciptakan pengikut yang manut.

    Sayangnya tribalisme ini memang rentan terhadap pengkotak-kotakan identitas dan terbuka kemungkinan terjadinya benturan dengan dunia "di luar" tribe-nya. Apalagi jika doktrinnya sangat rinci dan menolak dialog atau interaksi dengan pemikiran-pemikiran dari luar. Ujaran Arab yang terkenal ini menunjukkan kentalnya budaya tribalisme di sana "Me against my brother, me and my brother against my cousin; me, my brother, and my cousin against the world".

    Dalam Agama Islam, sikap tribalisme ini sangat tidak disarankan. Seperti penuturan Oom Pasing berikut ini ...

    Quote Originally Posted by pasingsingan View Post
    Ironinya, qur'an sendiri mengkritik sistim kerahiban (baca keharusan mengikuti tetua2 atau penghulu), yng ada alih2 mendorong (mewajibkan) pembacanya untuk selalu berfikir, merenungi apa-apa yng terkait dlm usahanya memperoleh rahmat (baca pencerahan).
    Last edited by Alip; 06-09-2012 at 07:56 AM.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  2. #102
    Kenapa kita butuh mengkultuskan seseorang yang lebih "agung"? Karena kita tidak memiliki kepercayaan diri dan tidak pernah belajar untuk mengambil tanggung jawab atas pikiran, penafsiran, dan perilaku kita sendiri. Ada suatu rasa security semu ketika kita berlindung dalam sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang penghulu yang kita anggap mumpuni. Sebuah sikap tribalisme. Pendidikan di dunia semacam ini umumnya terdiri atas doktrin-doktrin yang bertujuan untuk menghasilkan individu-individu yang sepaham dengan suatu ajaran, tanpa bertanya atau menganalisa lagi. Parahnya, sikap ini menghasilkan perilaku submisif terhadap ketokohan yang mewakili ajaran tersebut, yang alih-alih menghasilkan pemikir produktif, justru hanya menciptakan pengikut yang manut.
    Dan ini rasanya diakibatkan oleh pola pengajaran agama
    dimana biasanya memang umat dilarang mandiri.
    Misalnnya, selama ini didengang-dengungkan pasti akan
    tersesat jika menafsir sendiri ayat2 dari kitab suci,
    oleh sebab itu penafsiran harus diserahkan pada petinggi agama.
    Umatnya tinggal memakai saja tanpa perlu berpikir.

    Yah, jadinya ya kasus Sampang karena si kyai juga tidak beres ternyata.

    ---------- Post Merged at 07:29 AM ----------

    Eh, ternyata saya sepimikiran dengan Mbah Pasing:

    ya krn pada tataran grass root masih kental dng budaya paternalistik (baca panutan)
    mereka beranggapan bhw, urusan keagamaan adlh mutlak wewenang atau tanggung
    jawab ulama semata.

    Sedangkan ulama dipahami sekadar hanya kpd orang yng mendapat atau
    diberi sebutan ustadz/kyai. Ketika sang panutan berpendapat (memfatwakan)
    sesuatu itu boleh dilakukan maka, tanpa perlu pikir panjang lg sang pengikut
    menterjemahkannya sbg semacam perintah atau restu.

    Ironinya, qur'an sendiri mengkritik sistim kerahiban (baca keharusan mengikuti tetua2
    atau penghulu), yng ada justru mendorong (mewajibkan) pembacanya untuk selalu berfikir,
    merenungi apa-apa yng terkait dlm usahanya memperoleh rahmat (baca pencerahan).

  3. #103
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Kenapa kita butuh mengkultuskan seseorang yang lebih "agung"? Karena kita tidak memiliki kepercayaan diri dan tidak pernah belajar untuk mengambil tanggung jawab atas pikiran, penafsiran, dan perilaku kita sendiri.
    biasanya sosok itu kita beri nama "takdir", dan "tuhan".

    kita harus berbuat baik agar masuk surga
    kata siapa ?
    kata tuhan


    sudahlah nak, kegagalan ini harus kau terima
    kenapa bu ?
    sudah takdir

  4. #104
    Quote Originally Posted by danalingga
    Quote Originally Posted by Alip
    Kenapa kita butuh mengkultuskan seseorang yang lebih "agung"? Karena kita tidak memiliki kepercayaan diri dan tidak pernah belajar untuk mengambil tanggung jawab atas pikiran, penafsiran, dan perilaku kita sendiri. Ada suatu rasa security semu ketika kita berlindung dalam sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang penghulu yang kita anggap mumpuni. Sebuah sikap tribalisme. Pendidikan di dunia semacam ini umumnya terdiri atas doktrin-doktrin yang bertujuan untuk menghasilkan individu-individu yang sepaham dengan suatu ajaran, tanpa bertanya atau menganalisa lagi. Parahnya, sikap ini menghasilkan perilaku submisif terhadap ketokohan yang mewakili ajaran tersebut, yang alih-alih menghasilkan pemikir produktif, justru hanya menciptakan pengikut yang manut.
    Dan ini rasanya diakibatkan oleh pola pengajaran agama
    dimana biasanya memang umat dilarang mandiri.
    Misalnnya, selama ini didengang-dengungkan pasti akan
    tersesat jika menafsir sendiri ayat2 dari kitab suci,
    oleh sebab itu penafsiran harus diserahkan pada petinggi agama.
    Umatnya tinggal memakai saja tanpa perlu berpikir.

    Yah, jadinya ya kasus Sampang karena si kyai juga tidak beres ternyata.
    Itulah makanya
    Apa yng disitir oleh kang Alip diatas jg menegaskan sinyalemen ente
    sikap jumud/kemalasan pikir yng berujung pada lemahnya daya kritis n analitis
    itulah yng banyak diidap oleh tataran grass root. Sehingga memunculkan paradigma
    bhw, urusan agama adlh otoritas kyai, ustadz, da'i, syech, mullah dst dsb.

    Naifnya, sikap "sami'na wa ato'na" (baca saya dengar, saya taat tanpa reserve) itu
    justru tdk jarang malah dimanfaatkan oleh panutannya untuk tujuan yng tdk terpuji
    demi kepentingan diri maupun kelompoknya. Bukannya untuk melaksanakan amanah luhur
    spt mensejahterakan dan mencerdaskan umat yng medjadi makmumnya (baca pengikut).
    Last edited by pasingsingan; 06-09-2012 at 11:02 AM.
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  5. #105
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    berarti yang dikatakan dalai lama ada benernya juga nih


  6. #106
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Sampang itu cuman masalah kemiskinan dan pengangguran..
    Coba bayangkan kalau pelaku2 tsb punya deadline semua dikantor.. pasti ga ada rusuh2..

  7. #107
    Banyak juga yang miskin dan nganggur nggak buat rusuh Bleg.

  8. #108
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    ya karena ga diprovokasi.. coba lu provokasi.. mereka kan cuman ingin diperhatikan ato cari perhatian.. sehari2 dipengkolan..

    jangankan di indo. Di negara2 maju pun bisa diprovokasi.
    Last edited by ndableg; 06-09-2012 at 04:59 PM.

  9. #109
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Saya tidak melihat kasus kekerasan terhadap agama atau aliran agama tertentu sebagai manifestasi dari rasa identitas keagamaan yang terdesak, apalagi kalau yang diserang adalah kaum minoritas. Kenapa pihak mayoritas harus merasa terdesak oleh kehadiran segelintir minoritas? Saya cenderung menyebut ini sebagai perpanjangan dari kasus sosio-ekonomi yang lebih rumit, misalnya kemiskinan, kurangnya wawasan/pendidikan, atau hal-hal lain yang sudah berakar lebih dulu di suatu komunitas.
    Jika bukan manifestasi terancamnya aqidah, bagaimana mbah Alip menjelaskan kasus pembantaian Syiah, Ahmadiyah, ataupun gereja?

    Ane ambil contoh kalangan PKS, mereka berkecukupan (banyak pengusaha) dan terdidik (banyak doktor), tapi justru pemahaman agama mereka cenderung literal, sektarian, dan eksklusif. Memang, dibandingkan grassroot, agresifitas mereka tidak secara fisik, melainkan secara fikir dan siasat. Tapi esensinya sama, mereka pun merasakan ancaman aqidah. Ane melihat, kalau alasannya sosio-ekonomi ataupun kemiskinan, malah tidak tepat.

  10. #110
    Quote Originally Posted by ndableg View Post
    ya karena ga diprovokasi.. coba lu provokasi.. mereka kan cuman ingin diperhatikan ato cari perhatian.. sehari2 dipengkolan..

    jangankan di indo. Di negara2 maju pun bisa diprovokasi.
    Lo apa nggak terlalu menggeneralisasi Bleg?

  11. #111
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Menurut ane, budaya paternal sejalan dgn agama samawi. Karena itu di topik sebelah ane bertanya, kenapa gak ada nabi cewek? Kenapa Yesus cowok, dst? Meskipun begitu, bukan berarti sang panutan dapat menyuruh pengikutnya seenak udelnya saja. Hal pertama yg harus dilakukan oleh sang panutan adalah mendoktrinasi calon pengikutnya lebih dulu. Ketika doktrinasi tsb sudah tertanam dgn kuat di hati sanubari sang pengikut, maka sang panutan dapat dgn mudah menyuruh sang pengikut utk melakukan hal2 yg ekstrim sekalipun.


  12. #112
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Jika bukan manifestasi terancamnya aqidah, bagaimana mbah Alip menjelaskan kasus pembantaian Syiah, Ahmadiyah, ataupun gereja?
    Dengan melihat siapa yang terlibat dalam pembantaian tersebut, Eyang. Silakan Eyang Purba sebutkan secara rinci kasus-kasus termaksud, dugaan saya sebagian besar (atau malah semua?) dilakukan oleh pihak-pihak yang memang sudah punya kecenderungan pada kekerasan... yaitu mereka yang kita bahas sebelumnya.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Ane ambil contoh kalangan PKS, mereka berkecukupan (banyak pengusaha) dan terdidik (banyak doktor), tapi justru pemahaman agama mereka cenderung literal, sektarian, dan eksklusif. Memang, dibandingkan grassroot, agresifitas mereka tidak secara fisik, melainkan secara fikir dan siasat. Tapi esensinya sama, mereka pun merasakan ancaman aqidah. Ane melihat, kalau alasannya sosio-ekonomi ataupun kemiskinan, malah tidak tepat.
    Kalau ini saya harus minta maaf dulu, Eyang Purba, karena politik bukan bidang yang saya tekuni maka saya tidak mengikuti benar bagaimana pemahaman, tindakan, dan sikap teman-teman dari PKS. Mungkin Eyang bisa merinci lebih lanjut...

    Namun begitu, saya pesimis apakah dunia politik bisa kita jadikan rujukan yang baik. Sambil tetap sadar untuk tidak jatuh pada pemikiran stereotip, politik yang saya dengar sedikit-sedikit adalah dunia yang dipenuhi oleh manusia-manusia yang pandai memutar-balikkan fakta dan tidak merasa bersalah meletakkan kepetingan di atas pertimbangan moral. Hal ini semakin benar di negara yang sedang mengalami pendewasaan seperti di Indonesia. Dalam lingkungan semacam ini, agama dan label-labelnya digunakan untuk mencapai tujuan politis, bukan sebagai landasan bersikap. Tapi sekali lagi, ini cuma persepsi saya.

    Kalau dalam konteks kuno, hal ini mengingatkan saya pada slogan "go to east young knight" yang konon didengungkan oleh Paus Urban II dan mencetuskan Perang Salib Pertama. Penaklukan Yerusalem oleh pasukan crusader di tahun 1099 ini dianggap sebagai kemenangan Tuhan dan gereja atas kaum kafir Turki dan selama ratusan tahun menjadi bahan romantisme religius para ksatria eropa. Yang mereka tidak sadari adalah slogan tersebut, dan perang salib yang mengikutinya, hanyalah akal bulus dari Alexios I, kaisar Byzantium yang merasa kekuasaannya digerogoti oleh kerajaan Turki dan membutuhkan bantuan untuk memusnahkan ancaman dari musuhnya itu. Demikianlah awal mula perseteruan ratusan tahun yang masih meninggalkan luka antara Kristen dan Islam sampai sekarang, kepentingan politik seorang kaisar yang paranoid.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Menurut ane, budaya paternal sejalan dgn agama samawi. Karena itu di topik sebelah ane bertanya, kenapa gak ada nabi cewek? Kenapa Yesus cowok, dst? Meskipun begitu, bukan berarti sang panutan dapat menyuruh pengikutnya seenak udelnya saja. Hal pertama yg harus dilakukan oleh sang panutan adalah mendoktrinasi calon pengikutnya lebih dulu. Ketika doktrinasi tsb sudah tertanam dgn kuat di hati sanubari sang pengikut, maka sang panutan dapat dgn mudah menyuruh sang pengikut utk melakukan hal2 yg ekstrim sekalipun.
    Saya agak bingung dengan pernyataan Eyang yang ini... apa hubungannya antara gender nabi dengan indoktrinasi terhadap pengikut? Apakah maksudnya budaya patrlianis adalah budaya yang diktatik dan indoktrinatif? Apa kelemahannya memiliki pemuka agama/nabi yang laki-laki?
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  13. #113
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Lo apa nggak terlalu menggeneralisasi Bleg?
    Menggeneralisasi yg mana?
    Orang susah gampang diprovokasi? Kerusuhan di indonesia dilakukan orang susah?
    Pengangguran ga punya kerjaan? Emang ada pengangguran punya kerjaan?

  14. #114
    Temen gue susah dan sedang nganggur,
    Gue provokasi, anteng aja tuh.

    Maksud gue lo generalisasi ya itu
    seolah olah asal susah dan nggangur pasti
    bisa diprovokasi.

  15. #115
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Mosok temen dijadiin sampel.. Kalo sampel tuh ambil 100 orang, 500 orang.. Kalo orang spesial ya ga merepresentasikan orang2 kebanyakan lah.. Sampang itu dimana? Nah ente ambil sampel dari daerah2 setaraf sampang, kayak manggarai, priok, tanah abang atau tempat2 rusuh lainnya.

    Kedua tentu ada kepentingannya. Spt yg tereak2 paling keras utk memberantas pelacuran atau pakean seksi. Pasti ada maunya.. entah biar diliat alim atau suci. Tapi ga harus masalah neraka surga.. kejauhan.. paling simpel supaya orang2 pikir dia orang alim, agamanya kuat ato anak pesantren yg taat.. Ato supaya keliatan jagoan, berani mati... pokoknya jaim aja lah.. Ga jauh ama anak sma tawuran..

    Soalnya kalo pengangguran dan keliatan ga bisa apa2 itu orang merasa loser. Akhirnya.. coba menunjukkan diri lewat tawuran. Nih gw jagoan jg loh..

    dw kan jg tau rasanya tawuran jek...
    Last edited by ndableg; 07-09-2012 at 12:15 AM.

  16. #116
    Lah, situ apa sudah ngambil sampel di Sampang juga
    dan menyatakan itu karena susah dan nganggur?

    Gue juga setuju sih bukan soal sorga dan neraka semata.
    Tapi gue juga nggak setuju disimplifikasi sebagai soal susah dan nganggur.
    Gue pikir berbagai macam faktor menyambung menjadi satu yang menyebabkannya.

  17. #117
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Ok.. tapi apa elu bisa meyakinkan gw bahwa orang2 sampang yg rusuh2 bahagia dan sibuk dgn kerjaan?

    sekarang kalo gw bilang, coba orang2 di sampang itu punya deadline semua di kerjaan. Apa mereka tetep bs ngurusin syiah lagi ibadah nangis2an?

  18. #118
    Ok.. tapi apa elu bisa meyakinkan gw bahwa orang2 sampang yg rusuh2 bahagia dan sibuk dgn kerjaan?
    Ya nggaklah, gue juga nggak tahu kondisi sebenarnya di sana.

    sekarang kalo gw bilang, coba orang2 di sampang itu punya deadline semua di kerjaan. Apa mereka tetep bs ngurusin syiah lagi ibadah nangis2an?
    Ya, sama, gue nggak tahu juga secara nggak tahu kondisi orang2 yang terlibat itu bejimana sebenarnya.
    Tapi secara logika sih emang kemungkinan untuk rusuh jadi berkurang.

  19. #119
    Quote Originally Posted by Alip
    Quote Originally Posted by purba
    Menurut ane, budaya paternal sejalan dgn agama samawi. Karena itu di topik sebelah ane bertanya, kenapa gak ada nabi cewek? Kenapa Yesus cowok, dst? Meskipun begitu, bukan berarti sang panutan dapat menyuruh pengikutnya seenak udelnya saja. Hal pertama yg harus dilakukan oleh sang panutan adalah mendoktrinasi calon pengikutnya lebih dulu. Ketika doktrinasi tsb sudah tertanam dgn kuat di hati sanubari sang pengikut, maka sang panutan dapat dgn mudah menyuruh sang pengikut utk melakukan hal2 yg ekstrim sekalipun.
    Saya agak bingung dengan pernyataan Eyang yang ini... apa hubungannya antara gender nabi dengan indoktrinasi terhadap pengikut? Apakah maksudnya budaya patrlianis adalah budaya yang diktatik dan indoktrinatif? Apa kelemahannya memiliki pemuka agama/nabi yang laki-laki?
    Mungkin yng dimaksud purba tuh budaya patriarki kali kang?
    yakni budaya yng menganut nilai bhw kaum pria memiliki kelebihan
    dibanding wanita (baca superioritas). Oleh karenanya, kaum pria mendominasi
    atau mendapatkan semacam privilege, dlm hal kepemimpinan misalnya.
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  20. #120
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    gue kemarin mbuka fb nye tersangka teroris solo yang ketembak mati
    umur 20, dari status-status fb nya keliatan persis seperti yang kop-may sebutkan disini
    ane juga kros-cek dengan beberapa sumber berita di koran atau web supaya gambarannya lengkap

    kesimpulan sementara ane, tersangka teroris solo itu cuma korban
    korban kebodohannya sendiri, korban keadaan, sama korban pergaulan
    dalam hidupnya ada satu sisi yang tidak terpenuhi, ketemu kelompok yang ngiming-ngimingin hal-hal yang gak terpenuhi dalam hidupnya
    dalam hal ini iming-iming surga, kebahagiaan (yang selama ini dia cari tapi gak ketemu dalam hidupnya)
    jadilah dia tergiur, akhirnya mati sangit... eh syahid ya ? apa mati sakit ?

    Last edited by sedgedjenar; 07-09-2012 at 12:41 PM.

Page 6 of 11 FirstFirst ... 45678 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •