Quote Originally Posted by AsLan View Post
Bisa.
Banjir terjadi dalam waktu satu tahun dengan kecepatan naik air yg berbeda antara permulaan banjir dengan akhir banjir.
Selain itu air berasal dari 2 arah, yg pertama berasal dari dalam bumi, yg ke 2 dari langit.

Yang berasal dari dalam bumi mungkin mirip dengan kasus lumpur lapindo namun dengan intensitas yg lebih dahsyat namun hanya terjadi di wilayah2 tertentu, tergantung situasi geologis.
Keluarnya air dan lumpur dari bumi juga bisa terjadi didalam lautan.

Selain itu air juga bisa memicu letusan gunung berapi atau minimal menyebabkan luapan air yg memuai di wilayah2 tertentu.

Air yg berasal dari atmosfir menyebabkan longoran batuan dan tanah yg bergerak dari wilayah tinggi ke wilayah rendah, juga akan mencampur longsoran lumpur dengan genangan air.

Gabungan antara lumpur yg keluar dari perut bumi dengan longsoran lumpur dari pegunungan bisa membuat lapisan yg sangat tebal.
Kalau situh belajar ttg Sedimentasi dan Pengendapan (atau ilmu Geologi secara umum deh), hal-hal yg disebutkan di atas bisa dikatakan sulit terjadi kalau gak dikatakan mustahil.

pertama, air yg tiba2 memenuhi bumi dan menghilang begitu saja hanya dalam tempo 4500 tahun. adakah catatan geologis modern yg mengisyaratkan hal tsb pernah terjadi? kemana air-air tsb menghilang? Kalau mau nyamber data bulan dan mars yg dulu punya air, simulasi komputer modern bisa menunjukan kehilangan air tsb bukan dalam tempo singkat dan tiba-tiba begitu saja. ada faktor lain yg terkait seperti fenomena atmosfer, geologis, dan iklim. Untuk kasus banjir besar 2500SM, adakah bukti2 bahwa atmosfer, geologis, dan iklim bumi berubah secara drastis dalam 4500 tahun? mana hasil penelitiannya? mana bukti bahwa jumlah air di bumi berkurang dan bertambah drastis dalam waktu setahun di era 4500 tahun yg lalu?

kedua, dalam prinsip dasar geologi (termasuk hukum sederhana Steno--terlepas dr Steno yg mempercayai adanya banjir besar ketika dia udah jadi uskup tp tak menjadikan lapisan kambria sbg latar banjir besar itu), endapan-endapan yg terbentuk dalam setahun tidak akan mungkin menghasilkan endapan setebal Grand Canyon. kalaupun terjadi, banjirnya pasti luar biasa campur aduk dengan mengendapkan milyaran ton batuan dalam satu tahun saja, dan dalam tempo yg sesingkat itu (arusnya pasti turbidite) tidak akan dihasilkan endapan yg penyortiran fosil seperti yg terlihat sekarang. Lagian, pasti akan terdapat pengamatan endapan serupa di seluruh penjuru dunia lainnya. kenyataannya tidak.

Terlalu banyak asumsi (terlalu banyak pengadaian namun fatal secara prinsipil sains sederhana sekalipun), sementara bukti dan penjelasan mekanisme detailnya begitu minim dan serampangan.

dengan logika ini saja,
Quote Originally Posted by AsLan View Post
Gabungan antara lumpur yg keluar dari perut bumi dengan longsoran lumpur dari pegunungan bisa membuat lapisan yg sangat tebal.
mestinya daratan hasil pengendapan banjir akan berbentuk datar dan merata di seluruh dunia. tidak akan ada lembah (seluruh lembah di bumi tertutup lumpur) dan tidak ada gunung tinggi (gunung melongsorkan batuannya). 4500 tahun bukan waktu yg terlampau lama. Bukti dan pengamatan bahkan jejak tanah yg kita pijak pasti akan memberikan rekaman banjir dari seluruh penjuru dunia.

Endapan lumpur akan ada dimana-mana di seluruh penjuru dunia. tapi coba tanyakan ke orang geologi, apakah jejak endapan yg seragam ini ditemukan, katakanlah, di indonesia?
Quote Originally Posted by AsLan View Post
Berarti banyak hal yg lu belum tau.
Teori pembentukan Batu Bara bukan cuma 1, ada teori lain yg menunjukkan bahwa batu bara bisa terbentuk dalam waktu yg tidak terlalu lama.

Teori ini dimulai dari penemuan Fossil tanaman yg tidak sesuai dengan Teori lama tentang pembentukan batu bara dimana katanya tanaman pembentuk batu bara harus berasal dari wilayah Rawa2.

Namun penelitian menunjukkan bahwa terdapat fossil tanaman yg bukan tumbuh diwilayah rawa melainkan tumbuh di wilayah kering.

Penelitian lain juga menemukan banyak fossil mahluk laut didalam batu bara, padahal batu bara harus terbuat dari tanaman darat.
makanya, saya menyuruh situh belajar ttg tipe-tipe Kerogen I s/d IV, dalam teori pembentukan migas/batubara tsb gak disebutkan bahwa batubara harus selalu dr tumbuhan darat atau harus selalu berada di lingkungan rawa. Serius, situh perlu membacanya.

Quote Originally Posted by AsLan View Post
Pengukuran batuan vulkanis dengan teknik K-Ar pada dasarnya mengukur jumlah Kalium yg telah meluruh menjadi Argon.
Argon adalah gas yg secara teori akan meninggalkan batuan saat batuan itu meleleh dan berbentuk cair, maka konsepnya adalah diasumsikan bahwa saat lahar membeku maka seluruh Argon telah hilang sehingga saat itu disebut sebagai saat awal usia batuan.

ini dari situs http://geology.about.com/od/geotime_...gon_dating.htm

Potassium-Argon Basics

Potassium occurs in two stable isotopes (41K and 39K) and one radioactive isotope (40K). Potassium-40 decays with a half-life of 1250 million years, meaning that half of the 40K atoms are gone after that span of time. Its decay yields argon-40 and calcium-40 in a ratio of 11 to 89. The K-Ar method works by counting these radiogenic 40Ar atoms trapped inside minerals.

What simplifies things is that potassium is a reactive metal and argon is an inert gas: Potassium is always tightly locked up in minerals whereas argon is not part of any minerals. Argon makes up 1 percent of the atmosphere. So assuming that no air gets into a mineral grain when it first forms, it has zero argon content. That is, a fresh mineral grain has its K-Ar "clock" set at zero.
seperti kata Purba, ini adalah quote mining, banyak hal yang situh penggal begitu saja tanpa pemahaman utuh.

Lagian, dalam teori pembentukan batuan beku (lahar menjadi batu) tidak pernah disyaratkan bahwa seluruh gas yang terelease selalu lepas menjadi gas bebas. Kebanyakan gas tersebut terikat dengan mineral pembentukan batuannya atau malah si gas terperangkap dalam pori batuannya sendiri (porositas tidak efektif).

Argon memang gas inert sukar bereaksi, tapi ketika Kalium meluruh menjadi argon, argon hasil peluruhan tidak serta-merta lepas dan keluar dari batuan, dalam praktek pengukuran sudah diperhitungkan hal-hal seperti itu (baca saja kelanjutan link yg situh kutip).
Quote Originally Posted by AsLan View Post
Kemungkinan besar Ziggurat dibangun tidak lama setelah banjir besar.
Kitab suci mencatat pembangunan Menara Babel dilakukan sekitar 100 tahun setelah Banjir.

Begitu juga dengan Stonehenge, dibangun tidak lama berselang dari peristiwa banjir besar.

Yang jadi masalah adalah pengukuran batuan vulkanis tidak mungkin digunakan untuk menghitung permulaan pembangunan sebuah bangunan sehingga tidak ada cara yang akurat untuk menghitung usia bangunan kuno.
kebudayaan sumeria (dan bangsa2 sesudahnya yg membangun ziggurat era-era awal) dan babilonia pautannya sangat jauh, ribuan tahun sebelum bangsa Babilonia dan menara babel dibangun. Setidaknya, itu yg ditulis di buku sejarah.

stonehenge dan peradaban purba muncul setelah era banjir 2500SM? any links/info?

tidak ada cara akurat utk menghitung usia bangunan kuno? jadi situh kembali menambah deretan ilmu yg dianggap salah dengan menyertakan arkeologi?

---------- Post added at 12:19 PM ---------- Previous post was at 11:26 AM ----------

Quote Originally Posted by AsLan View Post
Nope. Speciasi bukan Evolusi karena tidak ada pembentukan informasi DNA yg baru.
jika spesiasi bukan hasil evolusi, tapi hasil dr pengembangbiakan organisme yg "memiliki perpustakaan genetis lengkap", maka saya ingin tanya, organisme apa yg disebut memiliki perpustakaan genetis lengkap shg bisa menghasilkan ribuan spesies baru? amna yg disebut organisme dg "perpustakaan genetis lengkap" itu? apa itu artinya ribuan kumbang dan ratusan capung berasal dr satu spesies sama?
jika demikian, artinya ada "kecenderungan degradasi kelengkapan" dr tiap generasi (masa 4500 tahun paling hanya menghasilkan ratusan generasi saja). apa yg bisa dijadikan bukti dan petunjuk bahwa organisme yg hidup skrg memiliki "perpustakaan genetis" tidak selengkap m.h 4500 tahun lalu?