Originally Posted by
purba
Saya sulit menerima (tidak percaya) ada kekuatan besar yg disebut tuhan, yg mengatur alam semesta ini. Bagi saya, yg ada hanyalah alam semesta itu sendiri. Dengan berjalannya waktu, ada bagian alam semesta yg memiliki inteligensia yg cukup berkembang, yg mencoba memahami dirinya sendiri. Kita semua (manusia) adalah bagian dari alam semesta tsb.
Mungkin cha_n tidak nyaman dengan keyakinan seperti itu, tetapi saya nyaman. Karena itu, saya tidak memaksakan benar atau salah dalam hal-hal seperti itu. Yg penting adalah bukan apa keyakinannya, tapi nyamankah dia dengan keyakinannya. Jika cha_n nyaman dengan Islam, teruslah berislam. Mungkin yg perlu diingat, apa yg nyaman bagi kita, belum tentu nyaman bagi yg lain. Saya kira itu prinsip sederhana, meski mungkin prakteknya tidak semudah mengatakannya.
Meskipun saya digolongkan ateis, saya memahami mereka yg meyakini keberadaan tuhan di balik alam semesta ini. Bahkan saya pun memaklumi mereka yg meyakini hanya tuhan merekalah yg benar, yg lain salah. Hanya saja, (sebagian) kelompok yg saya sebut terakhir ini kadang membuat tidak nyaman kelompok lain. Tapi riak itu penting, agar hidup tidak membosankan.
Cerita saya ttg inklusifitas adalah usaha saya memahami mereka yg teis da. Karena itu saya sempat mengatakan "dalam bahasa teis... dst" . Mungkin teis fanatik akan mengatakan keyakinan saya adalah panteisme (alam semesta adalah tuhan).
Saya kira tetap relevan. Buat saya, diskusi seperti itu manusiawi. Anda semua adalah manusia, niscaya pernah terpikir oleh anda (meski sekelebat) ttg diri anda secara esensial.
:)