Originally Posted by
Asum
Betul !
Kata siapa ?
Anda tau kang Aam Aminuddin ?
Beliau membuat tafsir kontemporer al-Qur'an. Ybs berhak menafsir karena ybs memiliki perangkat ilmu tafsir, yang salah satunya adalah penguasaan bahasa Arab. Dan sebelum beliau kan ada Bapak Quraisy Shiha dengan tafsir Al-Mishbah nya. Beliau berdua adalah orang-orang yang capable dalam bidang tsb, jadi tidak ada masalah.
Anda bisa bayangkan jika syekhjenar melakukan tafsir (contoh soal ayat al-qur'an yang bener ada di dada kaum muslimin), yang terjadi adalah mushaf ditinggalkan dan beralih kepada paham kebatinan. Besok-besok muncul tafsir al-Qur;an versi kebatinan ... ::arg!::
Jadi, orang awam memang tidak layak lah menafsir sebagaimana penjelasan yang telah lalu. Saya heran akalu ada yg masih ngotot berpaham boleh ... klo bicara boleh sih boleh aja, sama kyk sdr Agitho yang S2 Matematika, memberi penjelasan (tafsiran) soal perencanaan struktur beton prategang untuk jembatan bentang panjang ke awam lainnya. Pinteran saya lah kalo soal beginian, karena memang jurusan saya teknik sipil, dan paham soal tsb karena belajar secara khusus dibanding Agitho. Dan begitu pula sebaliknya, gak mungkin saya menjelaskan (misal) perhitungan statistik secara mendalam, karena saya tidak mendalami hal tsb secara serius. Ntar salah menjelaskan gimana ?
Intinya, jika Agitho mengusai bidang yang akan dijelaskannya, silahkan. Dia berhak. Tapi jika tidak menguasai bidang tsb ... kenapa merasa sok kepinteran ? ::doh::