[MENTION=1220]mbok jamu[/MENTION]
I understand your principle, Mbok... tapi tentunya saya tidak pada posisi untuk menentukan bagi orang-orang di kampung sinih tentang bagaimana seharusnya sebuah natural cycle of human life. Paradigma yang ada adalah given, yang di dalamnya ada faktor budaya, agama (dengan berbagai interpretasinya), pandangan hidup, dan macam-macam lagi.
Yang saya maksud dari diskusi ini adalah bagaimana tuntutan dari kondisi perekonomian yang sedang kita hadapi. Misalnya;
Digambarkan oleh Kakang Tumenggung Ronggolawe kisah kondisi sosial ekonomi kampung di sini beberapa waktu lalu, yaitu ketika seorang Tumenggung Sepuh memutuskan untuk purna bakti, beliau masih bisa hidup berkecukupan tanpa banyak pusing soal perencanaan. Barangkali karena sedikit tabungan beliau tidak tergerus oleh inflasi, atau struktur budaya yang masih mewajibkan (secara moral) para senapati muda untuk menyokong kehidupan sang Tumenggung Sepuh yang Madeg Pandito.
Apakah generasi yang sekarang masih bisa berharap seperti itu? Melihat pertumbuhan nilai properti, ketersediaan lapangan kerja, kemungkinan jenjang karir yang ditawarkan (pertumbuhan pendapatan), perubahan demografi, dan pertumbuhan biaya pendidikan? Apakah kita masih bisa berharap saat pensiun nanti kondisi perekonomian masih sama dengan ketika Tumenggung Sepuh Purna Bakti? Apakah kita harus menyiapkan hal yang berbeda? Apakah pada akhirnya pendidikan dan kesejahteraan yang menyertainya hanya bisa dinikmati sedikit orang sedangkan selebihnya harus hidup selibat karena lapangan pekerjaan yang tersedia tidak akan cukup untuk menghidupi seorang istri dan anak-anak (seperti prinsip siMbok)?
***
Ketika ngobrol dengan dua teman itu, mereka bertanya apakah kami suami istri meninggalkan anak-anak di rumah, yang saya jawab bahwa dalam kasus kami sih tidak, istri saya bekerja sebagai freelance yang punya cukup waktu untuk anak-anak dan penghasilan saya sendiri cukup untuk kebutuhan kami sekeluarga. Tapi saya bisa melihat bahwa sebagian kecil dari generasi saya sudah mulai harus mengandalkan double income untuk memenuhi proyeksi kebutuhan-kebutuhan ke depan.
Mereka lalu bilang bahwa di kampung mereka, kebutuhan atas double income sudah terjadi sejak mereka anak-anak. Jadi generasi saya sekarang ini mulai memasuki kondisi seperti generasi orang tua mereka dulu. Mereka menyebutkan banyak pergeseran sosial di kampung sana, yang samar-samar mulai bisa saya kenali gejalanya di kampung sini.
Jadi saya ingin tahu dari pandangan teman-teman semua, apakah kita mulai memasuki tatanan kesejahteraan yang menuntut kita untuk berusaha lebih ekstra sekedar untuk memenuhi kebutuhan yang sama?
Saat ini di Jakarta memang kita bisa hidup sederhana tapi bahagia dengan pendapatan sekitar lima juta per bulan, dengan berbagai cara survival yang memang khas kehebatan orang Indonesia... tapi apakah teman-teman melihat bahwa hal ini akan konstan ke depannya, atau ada gejala-gejala yang tampaknya akan menuntut kita untuk lebih kreatif?
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote