hahaha... istri om alip lucu banget
hahaha... istri om alip lucu banget
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
wah, si kakak oke nih, udah mulai mikirin tentang diri![]()
ini yang persis saya diskusiin sama X kemaren2 itu
kolegaku juga bbrp waktu yang lalu cerita, dia atheist dan istrinya katolik, anaknya yang masi kecil juga sekola katolik (atas keinginan si istri). dia udah wanti2 ke istrinya, kalo sampai waktunya si anak mulai bertanya2 tentang tuhan dan dinosaurus, loe yang jawab!![]()
nature nya anak kecil emang gitu ya, banyak tanya
soal tuhan aja di tanya
beruntung tuh anaknya kolega, punya orang tua yg sudah siap dengan kemungkinan anak yg bertanya tuhan
kalo dulu ane bertanya tuhan, orang tua ane banyak ngelesnye
mungkin karena kurang ilmu kali ya ?
akhirnya ane bertekad kelak anak ane harus lebih upgrade, kalopun ane gak bisa jawab paling gak ane bisa kasih referensi harus bertanya ke siapa agar pertanyaan ttg tuhan itu terjawab.
gampang kalau saya persiapannya, kasih mic ke si ayah aja biar dia yang jawab. ngasih nama anaknya aja hegel, biar hobi melamun, eh maksudnya mikir kali ya
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Ini sebenarnya jawaban sarkas temenku ke istrinya.
Buatku, pertanyaan - pencarian - jawaban mengenai tuhan itu sedikit Sebanyak seperti pencarian diri juga.
Biarpun saya menghabiskan hampir 10 tahun sekolah di sekola katolik/Kristen, juga menjalani sekola minggu dll, justru Pelajaran agama Paling berharga buatku adalah waktu mengambil matakuliah 'agama dunia' waktu kuliah. Dan kalo saya Ada anak, saya justu Akan berusaha menahan diri Dari mempengaruhinya Dari pencarian jawaban mengenai ketuhanan. Saya Akan dengan senang hati mengantarnya ke segala tempat sembahyang yang Ada di dunia Dan memberikanya buku mengenai segala macam agama ataupun school of thoughts yang Ada di dunia. Tapi yang terpenting, dia harus bisa mengambil kesimpulannya sendiri.
Rasanya saya akan merasa puas dengan apapun kesimpulan yang dia temukan asalkan kesimpulan itu atas Hasil pemikiran dia sendiri, walaupun kalo kesimpulan / kepercayaannya itu berbeda denganku![]()
Utasan ini awalnya cuma ingin menelusuri sikap teman-teman terhadap pendapat populer bahwa 'kita diciptakan untuk suatu panggilan tertentu, karenanya jalur kesuksesan kita terletak pada menemukan panggilan tersebut dan melakukan kegiatan yang paling dekat dengannya' atau yang sering diungkapkan dalam kalimat yang lebih sederhana 'earning from what you love to do'. Tentu saja dengan melihat pula posisi dari orang yang tidak setuju.
Pembicaraan kemudian berkembang menjadi cenderung religius, dan saya menganggap ini wajar karena banyak orang meletakkan pertanyaan seperti ini pada jawaban-jawaban 'siap pakai' yang sudah disediakan oleh ajaran-ajaran agama/spiritual... mengapa tidak? if someone or some deities from the past have tried to give the answer, we can use it, or at least start from it. Tapi saya juga menyukai teman-teman yang datang dengan authenticity, jawaban yang murni merupakan hasil olah renung-nya sendiri.
Yang jelas, mari kita buat diskusi ini Socratean, dalam arti kita tidak berusaha menggiring peserta diskusi ke kesimpulan kita sendiri (apalagi sampe ngamuk kalau pendapat kita disanggah orang lain), tapi lebih berusaha untuk menempatkan segala sesuatu di atas meja dan melihatnya dari berbagai perspektif. Bahkan jika pada akhirnya kita tetap berpegang teguh pada pendapat kita masing-masing (which is healthy, btw), diskusi macam ini seringkali memperkaya pendapat kita dan justru memberi alasan bagi kita untuk bersedia memegangnya lebih teguh lagi. Toh, pendapat adalah subyektif, hasil dari interaksi banyak faktor yang membuat setiap dari kita pribadi yang unik dan utuh...
Nah, melanjutkan diskusi dan mencoba mengakomodasi teman-teman dengan sudut pandang masing-masing, saya kerucutkan pertanyaannya;
- Tahukah kamu, kamu itu siapa? bagaimana bisa tahu?
- apakah menurutmu kamu unik? Bila ya, apa yang membuat dirimu unik? Bila tidak, kenapa?
- Apakah ada yang perlu dilakukan sehubungan dengan keunikan tersebut? atau, bila tidak unik, apa juga yang perlu disikapi bahwa kamu tidak unik?
Silakan ditanggapi dari sudut pandang yang dirasa paling cocok dengan diri sendiri. Boleh menggunakan argumen yang berdasarkan agama, boleh juga dari sisi naturalis, kutipan filsafat, atau sekedar my godamn opinion... hanya please make sure we do it in civilised manner...
... tapi sebelumnya, ada pengakuan dosa...
TS-nya sendiri mungkin cuma bisa nimbrung saat weekend
---------- Post Merged at 07:55 AM ----------
ini postingan pasti kena gabung
Soal anak bertanya tentang Tuhan... saya sependapat dengan ndugu dan Oom Sedge...
Saya berpendapat bahwa pencarian tentang Tuhan (yang bisa diartikan pula sebagai pencarian atas hakikat keberadaan seseorang), merupakan pencarian yang sifatnya pribadi dan setiap orang mungkin akan sampai pada titik atau arah yang berbeda, meskipun mereka adalah orang tua dan anak.
Saya akan menemani anak sejauh dia belum sanggup melangkah sendiri, dan untuk tiap pertanyaan tentang Tuhan yang dia tanyakan pada saya, akan saya jawab dengan ajakan untuk berpikir tentang pertanyaannya itu, tentang bagaimana kita mencari jawabannya. Jadi bukan memberikan jawaban (yang jawaban saya sendiri belum tentu benar), tapi membantu dia mengembangkan kemampuan untuk mencari jawabannya sendiri...
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
Sebelum lahir sepertinya mbok sudah teken kontrak, akan jadi cewek atau cowok, dilahirkan di mana, oleh siapa, bapaknya siapa, punya adik kakak berapa. Tapi kadang mbok suka lupa SOPnya sehingga harus sering minta petunjuk Ziggy, bagaimana menjalani peran yang sekarang.
Life is short but it is definitely longer than an episode.
honestly, i have a mixed feeling about this![]()
alasan saya dulu menjauhi buku2 yang kurasa akan mempengaruhiku, atau berkeinginan memperkenalkan ide yang beragam kepada anak supaya dia bisa membuat keputusan sendiri (semoga dengan objektif), justru supaya jangan terlalu 'males' dan mengambil jalan singkat dengan mencomot jawaban2 yang 'siap pakai' itumungkin itu bukan cara yang paling efisien. tapi karena buatku, sangatlah penting untuk seorang anak maupun orang dewasa untuk bisa (ato at least mencoba) berpikir secara mandiri tanpa diktean pihak laen, misalnya 'pihak ber-otoritas' seperti ortu, agama, kitab suci, norma masyarakat, tradisi, budaya, bahkan tuhan, dll - seperti komentarku mengenai thread anak kandung sebelah, misalnya, benarkah menikah itu untuk meneruskan turunan? perlukah? benarkah keinginan mempunyai anak itu bener2 atas keinginan diri sendiri, atau sekedar mengikuti "tradisi" turun temurun? apakah saya beragama ini karena saya memang bener mempercayainya, atau sekedar mengikuti apa yang diajarkan ortu dan keluarga dan kitab suci ato takut neraka? sure, mengambil jalan pintas memang paling efisien. tapi kemandirian berpikir tanpa atribut ini itu, buatku sangat penting. dan metode ini juga kupikir akan sangat diperlukan saat melakukan pencarian diri itu.
ini pertanyaan2 yang susah dijawab, apalagi diverbalizedNah, melanjutkan diskusi dan mencoba mengakomodasi teman-teman dengan sudut pandang masing-masing, saya kerucutkan pertanyaannya;
- Tahukah kamu, kamu itu siapa? bagaimana bisa tahu?
- apakah menurutmu kamu unik? Bila ya, apa yang membuat dirimu unik? Bila tidak, kenapa?
- Apakah ada yang perlu dilakukan sehubungan dengan keunikan tersebut? atau, bila tidak unik, apa juga yang perlu disikapi bahwa kamu tidak unik?
![]()
definitely worth to ponder about though![]()
ntar nyambung lagi, sudah harus tidur. besok harus ngejar pesawat pagi. sekalian mikir2 dulu.![]()
Last edited by ndugu; 31-08-2013 at 01:56 PM.
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
I guess
Karena buatku itu sebentuk cara untuk bener2 jujur pada diri sendiri. Menanyakan pada esensi dasar diri apa adanya, sejujur2nya, dengan tidak ada udang di balik batukalau saya berpikir tapi masih pake pengecualian harus dalam kerangka ini itu, bukankah itu membohongi diri sendiri?
i cant allow myself to do that to myself
buatku sih ya
![]()
nah itu. kalau yang dibahas adalah seperti apa yang ditanya om alip, "sekedar" pekerjaan yang kita pilih, buat saya bisa saja berpikir sendiri.
apa kita yakin sama keinginan kita? minat, bakat, panggilan jiwa dst. berkorelasi ga jenis pekerjaan yang dipilih nanti dengan efektifnya kita dalam mengerjakan?
itu kalau saya ga salah memahami ya.
tapi kalau soal apa yang penting dalam hidup, pilihan dalam sebuah keyakinan, itu balik ke orangnya. ada yang memilih untuk yakin pada sebuah keyakinan, dalam hal ini agama. apa itu membatasi dia dalam berpikir? (atau malah dianggap membohongi diri sendiri, males dst) silakan dijawab masing2 aja.
lalu apakah orang yang memilih tidak memiliki keyakinan "umum"-- sederhananya, kita sebut saja tidak beragama (walau sebenarnya tidak sebatas itu)-- lalu jadi orang yang paling rajin mencari hakikat diri, yang paling jujur pada dirinya sendiri dan tidak membohongi diri sendiri?
nah kembali ke masing2 orang buat menjawabnya.
konyol bagi saya bisa jadi hal paling penting dalam hidup orang lain. begitu juga sebaliknya.
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Kalo moderator diskusinya selevel opa alip sih, enjoy ajahhhh
- Sedang mencari tahu, alias setengah jalan.
Saya tahu kalau saya fokus dengan sesuatu hasilnya jauh lebih baik dari ekspektasi (pribadi) semula. Tapi fokus butuh dua hal: waktu dan motivasi, yang seringnya tidak dimiliki. Jadi saya terbiasa bergelut dengan keterbatasan dan kegagalan *curhat deeeh
Saya tau mau jadi apa sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun lagi dst. Tapi saya belajar membuka kemungkinan bahwa semua hal bisa berubah, dan yang perlu saya siapkan sepenuhnya adalah bagaimana saya tidak berat untuk mengikuti arus perubahan rencana semula. Maka kalo ditanya orang abis ini mau ngapain, sering nggak bisa jawab karena di kepala saya langsung muncul berpuluh kemungkinan.
Bagaimana bisa tau yang dua itu? Lewat pengalaman panjang, and sometimes painful. Untuk tau diri saya seutuhnya, sepertinya saya mesti bersedia menambah scars lagi. *masochist detected?
- Saya dari kecil sudah merasa beda dari orang lain. Dulu mungkin karena ego, can't be special if it's a mass product. Sekarang selain ego, sepertinya aktualisasi diri menuntut saya harus beda dari yang lain. Karena being different itu salah satu nilai jual yang paling penting menurut saya. Atau pada dasarnya saya sedang bosan saja setelah jadi generalist sekian lama.
- Menjadi unik atau tidak adalah pilihan. Jadi menurut saya bukan bawaan semacam bakat, tapi lebih kepada pandangan dan sikap terhadap diri sendiri dan citra yang mau ditampilkan ke dunia luar.
Kayaknya itu dulu.
There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.
Everyone wants happiness, no one wants pain.
But you can't make a rainbow without a little rain.
1 - not necessarily
2 - not necessarily
Dan proses kesimpulan kamu itu bukan maksudku
Di atas kamu pake pattern:
Beragama -> maka membatasi dan malas mikir
Tidak beragama -> maka rajin mikir blabla
Sedangkan pointku sebaliknya, berpikir -> maka beragama / tidak beragama (apapun 'kesimpulan'nya itu)
Dan saya ngga menganggap orang yang beragama itu males mikir kok, contohnya seperti post di halaman2 sebelumnya mengenai orang yang mengikuti panggilan hatinya / spiritualnya. Ato contohnya alip sendiri, menurutku alip biarpun beragama (eh, beragama kan lip?), saya bisa ngeliat dia bisa secara sementara melepaskan topi agama untuk mengkritisi diri dengan jujur.
Dan hal ini ga applicable pada agama ato keyakinan aja ya, tapi pada apa aja, misalnya tradisi dan budaya, dll. Intinya, saya merasa kita sebagai manusia cenderung menerima mentah2 apa yang didiktein oleh sekeliling tanpa bertanya lebih dalam 'kenapa'.
'tidak oleh mencuri' termasuk dalam sala satu 10 perintah allah dalam christianity. Apakah saya setuju dengan aksi mencuri itu tidak bener karena simply tertulis pada kitab, atau karena saya memang bener2 setuju aksi mencuri itu tidak benar di luar kerangka agama ato norma masyarakat? Itu aja![]()
Kalo orang sudah tau hakikat diri, istilah kejawenya 'eling, istilah kulonnya awakened, istilah gue "sudah tamat baca kitab suci agamanya", hal macam di atas akan terjadi. Orang jawa yg eling gak pernah baca ten commandment, tapi dia menjalankan semua perintah Allah itu. Ketika dia pertama kali mbaca paling berujar, yaah yg gini gue juga udah tau dan udah gue jalanin.
Akhirnya dia tertarik membaca semua kitabnya kaum kristiani, dan mulai menemukan "benang merah" antara injil dengan kitab jawanya.
Ketika dia diskusi dengan orang jawa yg lain untuk menceritakan pengalamannya, sekonyong-konyong lawan bicaranya berujar, dasar elu Jawa Liberal !!
![]()
- rasanya saya tau saya ada. Dan bagaimana saya tau? Maybe, karena saya berpikir maka saya ada?Tahukah kamu, kamu itu siapa? bagaimana bisa tahu?
apakah menurutmu kamu unik? Bila ya, apa yang membuat dirimu unik? Bila tidak, kenapa?
Apakah ada yang perlu dilakukan sehubungan dengan keunikan tersebut? atau, bila tidak unik, apa juga yang perlu disikapi bahwa kamu tidak unik?tetapi kalo apakah saya sudah tau persis saya siapa, rasanya masih dalam pencarian
![]()
- ntah ya, secara mikro mungkin saya unik, tapi secara makro rasanya ga unik2 amatapakah saya yang sekarang sama dengan seandainya kalau saya dari 100 tahun yang lalu? (katakan saya lahir di era yang berbeda). Kurasa ngga. Mungkin sebagian akan sama, tapi kurasa juga perbedaan perjalanan pengalaman hidup seseorang maupun perbedaan sikon hidup seseorang akan membuat diri seseorang itu unik. Im still pondering about it
![]()
- saya ngga tau apakah keunikan ato ketidakunikan seseorang itu sesuatu yang perlu disikapi![]()
Berarti ndugu meyakini adanya hakikat diri ya?
Ane jadi mo tanya nih. Apakah pernah melihat orang yg sudah menemukan hakikat dirinya? Kalau ya, bisa diceritakan seperti apa ciri-cirinya? Kalau belum, mengapa meyakini (mencari) adanya hakikat diri?
---------- Post Merged at 04:56 PM ----------
Kalau Mbah Alip sendiri, apa jawaban atas pertanyaan2 di atas?
saya jawab aja ya... tau deh orang mau nganggep apa, yg jelas bakal nimbulkan byk prasangka gaje nan ambigu
1. Tahukah kamu, kamu itu siapa? bagaimana bisa tahu?
>> tau2 aja, emang kenapa kok bisa tidak tahu? bagaimana bisa tahu? karena pengetahuan sudah tak lagi mengetahui.... jadi aku itu siapa? aku adalah aku, aku adalah segalanya, aku adalah kamu, kamu adalah aku, aku adalah segala sesuatu yg kita berdua sama2 aku... kamu tau siapa aku? aku adalah --> ?
2. apakah menurutmu kamu unik? Bila ya, apa yang membuat dirimu unik? Bila tidak, kenapa?
>> aku dan kamu kita unik karena kita berdua sama2 unik jadi ga unik lagi donk tapi itulah keunikan kita, karena aku kamu dan kalian adalah keunikan tidak unik yg unik.
3. Apakah ada yang perlu dilakukan sehubungan dengan keunikan tersebut? atau, bila tidak unik, apa juga yang perlu disikapi bahwa kamu tidak unik?
>> yg perlu dilakukan ya tidak ada... terima aja kamu atau aku
---------- Post Merged at 11:31 PM ----------
nyoba jawab juga yah...
Ane jadi mo tanya nih. Apakah pernah melihat orang yg sudah menemukan hakikat dirinya? Kalau ya, bisa diceritakan seperti apa ciri-cirinya? Kalau belum, mengapa meyakini (mencari) adanya hakikat diri?
>> ciri2nya adalah kamu tak bisa lagi mengerti, kalo kamu sudah tak mengerti tapi hatimu mantep, itulah dirimu, siapa dirimu? aku juga ga tau
mengapa mencari?
>> mengapa tidak?![]()
Kabar gembira untuk kita semua, kini tai ada ekstraknya~
Hidup itu ibarat 'butir bawang merah', semakin dikupas dan terus dikupas lapis demi lapis maka akhirnya ketemunya: kosong.
Alih2 mikirin apa gerangan hakikat terdalam dari butir bawang merah, mendingan berusaha memberi 'makna positif' pd setiap lapis butir bawang merah tsb, dari lapisan terluar sampe lapisan terdalam sebelum akhirnya nanti kembali pada 'kekosongan'.
![]()
Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.