Begini Mbah... Yg ane kritisi bukan dosa dan afterlife, tapi kaitan logis antara satu pernyataan dgn pernyataan lain ttg dosa, tuhan, dan orang gila. Misalnya tuhan menginformasikan bahwa orang gila yg membunuh tidak berdosa, tetapi yg bisa tahu apakah orang tsb gila atau tidak hanyalah tuhan sendiri. Jadi utk apa tuhan menginformasikan hal tsb?
Ehem... Hukum dibuat oleh manusia utk manusia dgn tujuan utk meminimalkan kesusahan dan memaksimalkan kesenangan manusia bersama. Sebagai contoh, seorang ayah yg terbunuh adalah sebuah kesusahan bagi anaknya. Jadi, jika tidak ada hukum bagi pembunuhan, maka akan banyak orang yg kesusahan. Orang gila pun harus dihukum, seperti Mbah Alip sebutkan di atas, yaitu dengan direhabilitasi, dst. Gempa bumi pun harus dihukum juga, misalnya dengan membuat lingkungan yg ramah dgn gempa bumi. Orang waras pembunuh yg ditempatkan di lembaga pemasyarakatan pun sebenarnya sama saja dengan orang gila yg direhabilitasi. Jadi intinya, ketika ada pembunuhan, entah oleh orang waras, orang gila, ataupun gempa bumi, maka hukuman tetap ada, tapi bentuknya disesuaikan dgn pelaku pembunuhan tsb.btw, gantian dunk... kan Lily lempar pertanyaan ke semua keyakinan. Bagaimana kasus seperti ini dari sudut pandang atheis. Tentunya tidak bicara dosa dan rasa keadilan Tuhan, karena bagi atheisme keduanya itu tidak relevan. Tapi bagaimana pandangan terhadap kasus-kasus pembunuhan yang tak terhukumkan, baik oleh orang gila maupun gempa bumi...
![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




Reply With Quote