Page 4 of 4 FirstFirst ... 234
Results 61 to 70 of 70

Thread: Anda Seorang Agnostik !

  1. #61
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Quote Originally Posted by TheCursed View Post
    Eh heh heh...
    Kayaknya, kalo gue tangkep dari omongan-lo: Kalo nggak tau pasti, Asumsi aja dulu. Terus coba run dengan Asumsi itu. kalo fail, bikin asumsi baru.

    Gue jadi ketawa karena bikin gue inget sama komen ngaco diskusi profesor dan temen - temen gue di kelas yang ujung2nya; Temen: "Pak kalo gitu saya Asumsi soalnya salah aja ya pak ? jadi nggak usah di kerjain."
    Profesor: "Eh ? OK. Saya juga Asumsi nilai kamu E, ya ? "
    Saya ndak tau pasti. Dan saya ndak sedang berasumsi. Silahken tanya langsung aja ke ybs.

    ***
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Halagh.. sampe sekarang ente gak ngasih penjelasan apa yg ente maksud dgn percaya. Kenapa? Masih kesulitan? Gak usah berdalih entar ane menuntut definisi2 yg lain.
    Penjelasan? Dari awal saya dah kasih melalui contoh ilustrasi kasus "orang kesandung batu". Saya bertanya sesuatu ("mana yng lebih dulu...") bukan tanpa adanya penjelasan. Kenapa penjelasannya HARUS per definisi?

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Seperti yg ente lakukan sekarang ini, selalu berkelit ketika diminta utk menjelaskan percaya yg ente maksud.
    Oke singkat saja. "Percaya" disifatkan sebagai "tanpa bukti", sedangkan "tahu" bersifat "ada bukti". (Lain kali saya akan elaborasi/jelaskan lebih rinci.)

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Definisi kok dipercaya?
    Maksud saya, diterima tanpa menuntut bukti. Saya sekedar mengikuti definisi anda sendiri. Dan ini adalah bukti bahwa saya percaya dengan pernyataan (berbentuk definisi) sampeyan.

    Ataukah saya harus membuat definisi sendiri yg pokoke harus beda ndak boleh sama dengan definisi yang disodorkan oleh pihak lain begitu? Emangnye ane ente!

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Tapi ok, ane jawab lagi (sebenarnya sudah di postingan2 sebelumnya)...
    Secara implisit saya juga dah nangkep dari posting2 sampeyan sebelumnya. Dan saya juga sudah kasih jawaban sebelumnya: Tergantung.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    ...bahwa kemunculan percaya dan tahu tidak dalam relasi dahulu-kemudian karena orang bisa tahu tanpa fase percaya. Demikian juga orang bisa percaya, tanpa pernah tahu.
    Kok malah ngasih bocoran jawaban? Ok, berdasarkan premis tsb maka...

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Jawablah..

    ...jawabnya: Tergantung. Mudah kan?

    ***
    Anyway, dari contoh kasus "si Mamat" plus pernyataan terakhir sampeyan berikut ini:

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Demikian juga orang bisa percaya, tanpa pernah tahu.
    Bagi saya itu udah cukup untuk justifikasi saya sebagai (orang yang mengaku) agnostic-theist, ato ada yang menyebutnya dgn istilah theistic-agnostic.

    Dan itu sudah sangat eksplisit menjawab persoalan yang dilontarkan oleh TS dalam topik ini, kecuali masih ada yang ingin menyanggah hal tsb.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  2. #62
    pelanggan setia Agitho_Ryuki's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    mBantul, Ngayogyokarto, Hadiningrat
    Posts
    2,517
    tolak ukurnya agnostik itu gimana seh?
    Barangsawijine purwo marang kawitan, Bandar sejatining wujud. Yuk lakone.. BUTHO CAKIL sido NGEMUTTT PEN.....THUNG!!

  3. #63
    Barista fullmoonflower's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    antara maya dan nyata
    Posts
    739
    setahu aku, AGNOSTIK itu tidak mengakui AGAMA mana pun... mau agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, dll.. pokoknya tidak mengakui LABEL agama...
    tapi mereka percaya bahwa TUHAN ITU ADA... bahwa ada yang berkuasa di atas dunia ini yaitu Tuhan...
    dan mereka ber-Tuhan dengan cara mereka sendiri, tanpa mengikuti tata cara, undang-undang, dan hukum yang tertulis di kitab suci tiap agama, karena mereka anggap kitab suci itu hasil tulisan manusia (emang secara logika bener sih yang "menuliskannya di atas kertas" adalah dengan tangan manusia)...
    mereka masih bilang : I DO BELIEVE IN GOD (but not believe in religions)

    beda kalau ATHEIS benar-benar nggak mengakui adanya Tuhan.
    pada umumnya mereka bilang : I DON'T BELIEVE THAT THERE IS GOD, I DO BELIEVE IN MYSELF..

    CAPPUCCINO AND TIRAMISU LOVER

  4. #64
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Wah kalo itu sih kembali lagi ke pengertian awal tentang apa itu agnosticism.

    Term agnosticism sendiri mengalami pengembangan arti/makna sehingga muncul banyak definisi mengenainya. Sepanjang itu menyangkut sebuah definisi, saya ndak akan mempersoalkannya lha wong definisi itu cuman masalah kesepakatan pemahaman aja kok.

    Tapi disini saya coba paparkan pemahaman saya tentang agnosticism dilihat dari pengertian awal (dasar)-nya. Kebetulan saya masih nemu file coretan2 saya di forum "rumah lama" (AK)...

    Kata "agnostic" berasal dari "a" (yang berarti "tidak/bukan/non") dan "gnosis" (berarti "pengetahuan") sehingga, secara literer, agnostic adalah seseorang yang (mengklaim) tidak memiliki pengetahuan (tentang sesuatu). Jika dikaitkan dengan (pengetahuan tentang) eksistensi Tuhan, agnostic adalah seseorang yang tidak meng-iya-kan sekaligus tidak menyangkal eksistensi Tuhan.

    Paham agnostic dikenal ada dua tipe: "soft-agnosticism" dan "hard-agnosticism". Soft-agnostic berpendapat bahwa Tuhan TIDAK diketahui. Mereka masih bisa menerima adanya pengetahuan tentang Tuhan, artinya mungkin saja ada orang2 yang tahu Tuhan (ada). Sedangkan hard-agnostic berpendapat bahwa Tuhan TIDAK DAPAT diketahui.

    Ada juga yang membagi paham agnostic menjadi "limited-agnosticism" dan "unlimited-agnosticism". Limited-agnostic berpendapat bahwa manusia, karena keterbatasannya, hanya bisa tahu sebagian (some things, bukan everything) tentang Tuhan. Sedangkan unlimited-agnostic berpendapat bahwa mustahil manusia bisa tahu (anything) tentang Tuhan.

    Jadi, secara definisi, agnostic penekanannya lebih kepada soal knowledge (tahu atau tidak tahu), bukan soal belief (percaya atau tidak percaya).

    Sebaliknya, theist and atheist penekanannya lebih kepada belief (bukan knowledge) meskipun bisa aja ada yang mengklaim dirinya tahu (bisa berarti benar2 tahu bisa juga hanya sok tahu) bahwa Tuhan ada atau tidak ada.

    Lalu manakah yang bisa disebut sebagai "agnostic (sekaligus) atheist" dan "agnostic-theist"?

    Dari definisi2 diatas, soft-agnostic dan limited-agnostic bisa (tapi tidak selalu lho) dikategorikan sebagai agnostic-theist dan kelompok ini sering disebut juga sebagai skeptic (meskipun beberapa kalangan "theist/agamawan" beranggapan bahwa skeptic itu ya sami mawon dengan atheist).

    Sedangkan agnostic-atheist adalah dari kelompok hard-agnostic ataupun unlimited-agnostic meskipun tidak selalu hard-agnostic maupun unlimited-agnostic adalah atheist.

    Dengan kata lain, agnostic-atheist bisa digambarkan sebagai orang yang tidak percaya (adanya) Tuhan dan memegang salah satu (atau lebih) paham/prinsip berikut:

    - Eksistensi Tuhan tidak diketahui (unknown) atau tidak dapat diketahui (unknowable)
    - Pengetahuan tentang (ada tidaknya) Tuhan itu tidak penting
    - Mengabaikan klaim pengetahuan tentang keberadaan maupun ketidakberadaan Tuhan

    Kalau atheist (murni) seh adalah orang yang tidak percaya (adanya) Tuhan. Itu aja. Titik.

    * * *
    Quote Originally Posted by Agitho_Ryuki View Post
    tolak ukurnya agnostik itu gimana seh?
    Kalau definisi diatas saya jadikan tolok ukur, maka saya (234) berpendapat bahwa saya adalah seorang agnostic, lebih tepatnya soft-agnostic, BUKAN limited-agnostic dan terlebih lagi BUKAN hard-agnostic maupun unlimited-agnostic. Ini kalau dilihat dari sisi knowledge.

    Sedangkan kalau dari sisi belief, saya (mengaku) theist. Lebih spesifik lagi, saya seorang Muslim (pemeluk ajaran agama Islam) dan konsekuensinya, insya Allah, tanpa keraguan saya tetap menjalankan aturan main yang ada dalam ajaran agama yang saya anut. Tentu saja yang sesuai dengan apa yang saya pahami dalam agama saya.

    Jadi, saya agnostic-theist.

    ***
    Quote Originally Posted by fullmoonflower View Post
    setahu aku, AGNOSTIK itu tidak mengakui AGAMA mana pun... mau agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, dll.. pokoknya tidak mengakui LABEL agama...
    Kalau dilihat dari pengertian secara murni: Ya, karena agnosticism ndak bicara soal agama. Agnosticism lahir/ada dalam ranah filsafat, bukan ranah agama. Itu kalau dilihat dari disiplin bidangnya.

    Tapi kalo dilihat dari orangnya, mereka bisa berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang theist/beragama, ada atheist, dan ada pemikir bebas (free thinker) yang ndak terikat dengan paham tertentu (baik itu theism maupun atheism).

    Quote Originally Posted by fullmoonflower View Post
    tapi mereka percaya bahwa TUHAN ITU ADA... bahwa ada yang berkuasa di atas dunia ini yaitu Tuhan...
    dan mereka ber-Tuhan dengan cara mereka sendiri, tanpa mengikuti tata cara, undang-undang, dan hukum yang tertulis di kitab suci tiap agama, karena mereka anggap kitab suci itu hasil tulisan manusia (emang secara logika bener sih yang "menuliskannya di atas kertas" adalah dengan tangan manusia)...
    mereka masih bilang : I DO BELIEVE IN GOD (but not believe in religions)
    Itu bukan agnostic. Itu deist.

    Quote Originally Posted by fullmoonflower View Post
    beda kalau ATHEIS benar-benar nggak mengakui adanya Tuhan.
    pada umumnya mereka bilang : I DON'T BELIEVE THAT THERE IS GOD, I DO BELIEVE IN MYSELF..
    Kalo ini biar bang Purba yang klarifikasi.



    ---------- Post Merged at 08:43 PM ----------

    Sedikit penjelasan aja... (daripada saya mesti edit beberapa kali)

    Tulisan saya diatas saya ambil dari coretan2 di forum lain yang konteksnya membahas persoalan antara agnosticism vs atheism. Jadi sori kalo struktur kalimatnya jadi kurang pas. Thx.

    Last edited by 234; 05-07-2012 at 09:37 PM. Reason: Melengkapi aja...
    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  5. #65
    agnostik tidak bisa dibandingkan dengan atheis, karena pendekatannya berbeda

    nih gambar yang lebih menjelaskan



    atau lebih jelasnya lagi

    Four tines is a fork. Three tines is a trident. One is for eating, one is for ruling the seven seas.

  6. #66
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Quote Originally Posted by Nowitzki View Post
    agnostik tidak bisa dibandingkan dengan atheis, karena pendekatannya berbeda
    Ya, itu kata kuncinya. Saya pakai istilah "perbedaan cara pandang". Ini akan saya pakai untuk untuk menjelaskan persoalan "percaya (belief) vs tahu (knowledge)". Tapi ntar yaa..., masih belum dapet mood buat bikin tulisan yang agak panjang.

    Quote Originally Posted by Nowitzki View Post
    nih gambar yang lebih menjelaskan
    Quote Originally Posted by Nowitzki View Post
    atau lebih jelasnya lagi
    Yup. Cukup jelas.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  7. #67
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    @All

    Di bagian ini saya akan jelaskan pemahaman saya tentang persoalan "percaya (belief)" vs "tahu (knowledge)". Dalam tulisan ini ada banyak term yang muncul (saya akan kasih warna hijau) dan, sekali lagi, saya ndak berdebat per definisi dari term2 tsb. Dikomentari monggo, ditambahi silahkan, dikoreksi matur nuwun, disanggah terserah,...saya ndak akan bantah/debat.

    Ini sekalian untuk bayar janji saya yang ini...

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Oke singkat saja. "Percaya" disifatkan sebagai "tanpa bukti", sedangkan "tahu" bersifat "ada bukti". (Lain kali saya akan elaborasi/jelaskan lebih rinci.)
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Ini akan saya pakai untuk untuk menjelaskan persoalan "percaya (belief) vs tahu (knowledge)". Tapi ntar yaa..., masih belum dapet mood buat bikin tulisan yang agak panjang.
    Menurut saya, munculnya term "percaya" dan "tahu" adalah sebuah upaya manusia untuk mencoba memisahkan cara pandang thd "sesuatu" kedalam dua ranah yang berbeda, seperti hanya manusia coba memisahkan antara "rasa" vs "rasio", "alam/pikiran bawah sadar" vs "alam/pikiran sadar", dll.

    "Percaya", "rasa" dan "alam bawah sadar" ada di (ditempatkan pada) ranah sama pada satu sisi, sedangkan "tahu", "rasio" dan "alam sadar" ada di ranah sama pada sisi yang lain.

    Sekali lagi, itu hanya sebuah upaya pemisahan. Tapi sejatinya obyek kajiannya ya yang itu2 juga, "sesuatu" yang sama dan identik yang tersimpan di otak sebagai pusat pikiran.

    Term percaya dan tahu, secara umum, sering dikaitkan dengan term "bukti" sebagai pembeda. "Percaya" disifatkan sbg "tanpa bukti", sedangkan "tahu" bersifat "ada bukti". Ini bisa dijelaskan sbb:

    Bukti bisa dibagi menjadi dua macam, yaitu bukti logis dan bukti empiris.

    Bukti logis, dilihat dari namanya aja, sangat jelas bahwa adanya di ranah rasio (logika) ato ranah "tahu", bukan di ranah rasa ato ranah "percaya".

    Bagaimana dengan bukti empiris? Sama saja. Itu adanya juga di ranah rasio, bukan ranah rasa. Lho kok?!

    Oke saya akan jelaskan melalui sebuah ilustrasi aja...

    Misalnya, si Fulan bertemu dengan "hantu" (terserah kalo ada yang coba iseng2 membalik suku katanya).

    Itu artinya Fulan secara empiris telah membuktikan adanya hantu, dus bisa dikatakan Fulan TAHU hantu itu ada. Apakah itu artinya Fulan percaya hantu itu ada? Belum tentu! Bisa saja Fulan (tetap) TIDAK PERCAYA adanya hantu. Ini sah dan valid.

    Itu menunjukkan bahwa bukti empiris itu adanya di ranah "rasio" atau "tahu", bukan di ranah "rasa" ato "percaya".

    Fenomena Fulan ini sebenarnya bisa dijadikan bahan kajian tersendiri yang ndak kalah menariknya dalam dunia filsafat (baca: pemikiran), yaitu persoalan antara "realita" vs "persepsi" ato dalam kasus tsb antara "realita ttg hantu" vs "persepsi Fulan ttg hantu".

    Bisa saja Fulan ngotot ngeyel mengatakan dirinya tidak tahu ada-tidaknya hantu dan Fulan jujur mengatakan hal itu, artinya Fulan benar2 merasa tidak tahu. Tapi bagaimanapun, Fulan sejatinya tahu lha wong realitanya dia ada/punya bukti empirisnya kok. Hal ini bisa terjadi akibat persepsi Fulan ttg hantu berbeda dengan realita ttg hantu itu sendiri.

    Sedangkan dalam hal percaya, Fulan bebas se-bebas2nya memilih untuk percaya atau tidak percaya. Apapun alasannya, apapun motivasinya, apapun pilihannya, itu sah dan valid.

    (Note: Bahkan dalam kasus lain, khususnya hal yg biasanya terkait dgn persoalan agama, banyak ditemukan adanya orang yang percaya sesuatu/pernyataan yang bersifat paradoks. Ini tetap sah dan valid. Selama ybs bisa menempatkan mana ranah rasa mana ranah rasio maka ndak akan terjadi masalah. Tapi kalo ybs coba2 ngasal seenaknya mencampur-adukkan kedua ranah tsb ya siap2 aja ybs jadi puyeng2 mumet sendiri, apalagi kalo menghadapi orang yg modelnya kayak Purba dan Ishaputra. Puyeng2 dah.)

    Dari contoh ilustrasi ttg Fulan diatas dapat juga disimpulkan bahwa "percaya" bersifat "pilihan", sedangkan "tahu" bersifat "state" (kondisi/keadaan).

    Ada orang percaya dan (meskipun) tidak tahu. Ini valid.
    Ada orang percaya dan (karena) tahu. Ini jelas valid.
    Ada orang tidak percaya dan (karena) tidak tahu. Ini juga valid.
    Ada orang tidak percaya dan (meskipun) tahu. Ini tetap sah dan valid.

    Bagaimana kalo term "percaya" diganti dengan term "theist", "tidak percaya" dengan "atheist", "tahu" dengan "gnostic" dan "tidak tahu" dengan "agnostic"? Dengan kata lain, adanya agnostic-theist atau theistic-agnostic, gnostic-theist (theistic-gnostic), agnostic-atheist (atheistic-agnostic) bahkan gnostic-atheist (atheistic-gnostic) semuanya itu adalah sah dan valid.

    ***
    Btw...

    Ada orang yang mengedepankan (bahkan mendewakan) rasio ketimbang rasa. Itu saintis. Saya sangat kagum thd para dewa saintis.

    Ada orang yang mengedepankan (bahkan mengagungkan) rasa dibanding rasio. Itu spiritualis. Saya sangat respek thd para spiritualis agung.

    Dan saya bukan saintis bukan spiritualis. Saya orang awam. Sak dermo nunut mampir ngombe...eh ngupi ding.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  8. #68
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Btw...

    Ada orang yang mengedepankan (bahkan mendewakan) rasio ketimbang rasa. Itu saintis. Saya sangat kagum thd para dewa saintis.
    Ada orang yang mengedepankan (bahkan mengagungkan) rasa dibanding rasio. Itu spiritualis. Saya sangat respek thd para spiritualis agung.
    dua diatas itu juga adalah 'state', kondisi pencapaian. Nah setelah dua diatas terlampaui akan sampai di suatu 'state'
    Yaitu di bawah ini

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Dan saya bukan saintis bukan spiritualis. Saya orang awam. Sak dermo nunut mampir ngombe...eh ngupi ding.


  9. #69
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Ada orang yang mengedepankan (bahkan mendewakan) rasio ketimbang rasa. Itu saintis. Saya sangat kagum thd para dewa saintis.

    Ada orang yang mengedepankan (bahkan mengagungkan) rasa dibanding rasio. Itu spiritualis. Saya sangat respek thd para spiritualis agung.
    Ane masih sulit memahami pembagian di atas. Sejauh yg ane tahu, saintis adalah sebuah profesi yg dijalankan sesuai kaidah sains dgn salah satu tahapannya adalah pembuktian empiris. Apakah spiritualis adalah sebuah profesi juga?

    Jika sang Buddha termasuk spiritualis, malah gak cocok, karena dia mengedepankan rasio (ajaran2nya dijabarkan secara rasional).


  10. #70
    pelanggan tetap red_pr!nce's Avatar
    Join Date
    Aug 2012
    Location
    BSD City
    Posts
    580
    Gw lebih condong ke GNOSTIC ATHEIST.

Page 4 of 4 FirstFirst ... 234

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •