ya senengnya mbahas surga neraka, syiah pun terlupakan..
Ada pengalihperhatian rupanya.. ::hihi::
Printable View
ya senengnya mbahas surga neraka, syiah pun terlupakan..
Ada pengalihperhatian rupanya.. ::hihi::
Ada dua kemungkinan, kalo gak penyembah patung, ya jualan patung. ::ngakak2::
Ateis mempersoalkan agama karena agama bisa punya dampak buruk dlm masyarakat, contohnya ajaran siksa neraka tsb. SKB 3 Menteri utk membendung kristenisasi. Kok begitu? Karena umat Islam takut dihukum dgn siksa neraka jika menjadi Kristen.
Ketika SKB tsb dilihat tidak efektif, umat Islam menjadi agresif thd nonmuslim dlm rangka menghalau siksa neraka.
- Yakin?, dlm masyarakat yng tdk menganut doktrin siksa neraka tdk melakukan kekerasan?Quote:
Originally Posted by purba
- Umat islam takut dihukum sisksa neraka klo murtad, tp klo korupsi, menindas dan
menebar terror tdk takut neraka gitu? :-?
Ketika ane bilang ajaran siksa neraka dapat memicu kekerasan, bukan berarti ajaran selain itu tidak memicu kekerasan. Banyak faktor yg dapat memicu kekerasan. Dlm kasus pembantaian Ahmadiyah misalnya, ane melihat ajaran tsb yg jadi pemicunya. Jadi, ane mengajukan dugaan utk menjelaskan suatu kasus, bukan men-generalisasi-kan ajaran siksa neraka selalu memicu kekerasan, yg lain tidak.
Yg ane lihat begitu, umat Islam lebih takut murtad dari pada korupsi (misalnya). Bagi mereka, dosa korupsi bisa dihapuskan, sedangkan dosa murtad permanen.
:))
Ya iyalah dialihkan. Secara pembahasannya udah nggak relevan lagi ama judul en post #1
Jelas di tv, internet, radio,koran, surat kabar sudah diklarifikasi oleh penyelidikan kepolisian klo kasus Sampang ini murni masalah asmara, bukan aliran agama tertentu. Udah diingatkan juga ama Bundana..
Ehhh masiih aja ngotot ngebahas masalah Syiah yg dibantai ::hihi::
Pada nggak pernah baca koran apa ya?
Kalo mau mbahas, harusnya thread ini ditutup, bikin thread baru judulnya misalnya "mengapa Syiah dianggap sesat" dst dll..
Ini casenya udah closed alias pointless. So, back to habits..kita alihkan aja yuuu ::hihi::
@purba : itu kan katamu. Klo masalah Ahmadiyah itu nggak ada hubungannya sm siksa neraka (walopun, gw akuin memang semua manusia pasti takut ama neraka. Kalo ada yg nggak takut, gw tantang untuk nulis disini sepenuh hati dan segenap keyakinan utk menulis SAYA NGGAK TAKUT MASUK NERAKA)
Masalah Ahmadiyah itu sbnrnya simpel. Kalau mereka mendeklarasikan diri sbg bukan Islam, dan bikin agama baru dgn nama Ahmadiyah (misalnya) gw yakin haqqul yakin, mereka nggak akan diganggu oleh ormas2 Islam.
Toh ajaran mereka juga udah beda, trus pertanyaannya kenapa kok mereka ngotot sekali ngaku2 Islam.
Ibarat orang pake seragam Polisi, trus ngotot ngaku2 kalo mereka adalah ABRI? Klo dia ABRI ya dia harus ikutan peraturan ABRI dong, pake seragam ABRI bukannya seragam polisi :)) ya jelas aja tuh polisi di bully ama ABRI2
So, balik lg ke pertanyaannya?
Knp mereka ngotot? Nggak mau bikin agama baru? Padahal Menteri Agama udah mau memberi rekomendasi? Kenapa?kenapa?kenapa?
Jawabannya cuman satu : niatnya emang cuman mau bikin rusuh dan mengganggu keharmonisan kehidupan orang beragama.
Kalao mereka emang bener niat ibadah..pasti mereka akan ambil jalan as peace as possible, bukannya makin memperkeruh suasana
:))
Its all about neraka? Think again.
jangan lupa Sist, eksistensi Ahmadiyah yang awal
nya berdiri lewat restu Kolonial Inggris :)
As you wish sis Spears:
SAYA NGGAK TAKUT MASUK NERAKA
---------- Post Merged at 11:42 AM ----------
Btw, biar nggak OOT, untuk kasus di sampang memang dah clear
penyebabnya.
Tapi perlu dicermati kenapa ada orang yang dapat dikerahkan
oleh kyai yang bertikai tersebut.
Apakah mereka orang bodoh yang gampang dicocok hidungnya
sehingga dapat disuruh2 membela salah satu kyiai dengan kekerasan?
Kalo jawaban Purba yang sedang diuji beberapa kawan karena ketakutan akan neraka.
barista nya gimana sih...BTT oe.. #rekomen buat dilock trus buka topik khusus bahas aliran dalam Islam
::hihi::
Silakan dilakukan apapun yang dirasa perlu seputar utasan ini. Saya sama Eyang Purba cuma sedang ngopi-ngopi aja kok... dengan senang hati kami akan bubaran kalau pos kamlingnya mau dipake ronda... ::bye::
::ngakak2::
masih runyam ternyata urusannya nih ?
apa masih galau, shocked liat ada yang gak takut sama neraka ?
ih, kamyuh, neraka malah di buat bcandaan ?
::doh::
saya nggak shock sih klo ada yg nggak takut masuk neraka. soalnya udah ketauan artinya mereka bohong ::hihi:: (ini sbnrnya pertanyaan pancingan aja ;D )
gw suka lurking2 di thread tuh sbnrnya mau cari pengetahuan juga. cuman nggak mau klo pengetahuannya didpt dr org smbarangan. tar gw tambah sesat lagi. so, harus dipetakan siapa yg bs dipercaya..no offense and no mention ya :D
kena musibah dunia aja pasti udah mewek bin pusing, ketusuk paku aja buru2 kedokter...palagi ntar masuk neraka yg katanya siksanya tuh ga bs dibayangkan oleh imajinasi manusia.
nahhhhhh blm tau aja udah ada yg berani bilang nggak takut.
kan jelas2 tuh orang pendusta ^^v
ok lanjut deh :D
ya ada baiknya buat bahan instropeksi aja
kalo kena paku saya masih nangis gak ? kalo kena musibah saya masih mewek gak ?
kalo masih ya berarti emang pantes lah ada di level yang takut neraka
tapi sebagai orang yang takut pada neraka harusnya berpikir lebih jernih lagi untuk tidak mencap pembohong, mencap kena paku ke dokter, mencap kena musibah mewek. Karena kalau salah mencap artinya fitnah, fitnah itu dosa, dosa itu neraka. katanya takut neraka tapi kelakuannya tidak seperti orang yang takut neraka.
Tapi kalo dia bisa nerawang sih lain masalah lha, berarti orang sakti mandraguna bisa tau tembus. Gimana nih danalingga ? apa mau diputuskan itu fitnah ?? atau terawangannya bener kalo kena musibah mewek kejer-kejer. Atau liat fb nya danalingga ah, sapa tau statusnya isinya ngeluh dan curcol melulu
::ngakak2::
Kalo ane, melihat kapasitas spears yang takut neraka, maka ane aminin aje perkataan beliau kalo ane ini sebenernya pembohong dan mewek-mewek kalo kena musibah serta kalo kena dokter langsung ke paku.... eh, maksudnya kena paku ke dokter.
Supaya Allah membebaskan beliau dari siksa neraka karena salah nerawang ane.
lah, klau ada orang yang ngomong dgn sombongnya nggak takut masuk neraka itu kita bilang bohong itu, fitnah nggak??? :D itu jelas2 bohong. fitnah dimananya??
oke deh gw aminin juga.
Amiin Ya Allah.
Semoga Allah memelihara aku dari siksa api neraka. Amin.
:D
makasih doanya Sege...smoga terkabul :D
---------- Post Merged at 03:30 PM ----------
ps. kalau beneran nggak takut neraka kok sewot ya pas gw bilang "banyak istigfar aja, siapa tau kepengenannya diijabah"...
klo mang nggak takut, sharusnya, kalopun diijabah... ga ngaruh dong... ::hihi::
---------- Post Merged at 03:45 PM ----------
Ya udah deh, drpada makin runyam..krn ada org yg ga takut masuk neraka tp sewot ketika dibilang siapa tau bener masuk neraka...yowesss..
mudah2an Om Sege dan Dana masuk surga Ya Allah. smoga dapat hidayah dan tetap istiqomah sehingga akhirnya masuk Surga.
Amin Ya Rabbal Alaminnnnnnnnnnnnnn. yang baca juga pada bilang Amin ya ::maap::
yg mengaminkan = mendoakan diri sendiri lho.
Amiiiiiiiiiiiiiiii...iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii iiiiiiiinnnnnnnnnnnn
Yah, dipastikan bohong. Saya berserah aja deh. ;))
iya pasti kamu bohong. (bohong atau pembohong ya?)
bener nih jujur??
Nabi Muhammad aja yang udah Nabi en dijamin masuk surga aja masih takut ama neraka, masa seorang Dana nggak takut? wuiih..sombong bener ya. tp whatever lah. itu toh resiko kmu sendiri :D gw sih asik2 aja.. artinya nih org antara , klo gak pembohong ya sombong :D ooh trnyata kayak begitu ya ternyata...okelah klo begitu
case closed.
Quote:
“Bahwa Nabi saw jika melihat mendung ataupun angin maka segera berubah menjadi pucat wajahnya. Berkata A’isyah ra: “Ya Rasulullah, orang-orang jika melihat mendung dan angin bergembira kerana akan datangnya hujan, maka mengapa anda cemas?” Jawab beliau saw: “Wahai A’isyah, aku tidak dapat lagi merasa aman dari azab, bukankah kaum sebelum kita ada yang diazab dengan angin dan awan mendung, dan ketika mereka melihatnya mereka berkata: Inilah hujan yang akan menyuburkan kita.” (HR Bukhari dan Muslim)
Tidak selalu mbah... Itu tergantung bagaimana si muslim menyikapi ajaran tsb.
Pada kasus2 tertentu, ane menduga ancaman siksa neraka dapat memicu seorang muslim utk melakukan kekerasan. Dugaan ini ane turunkan dari pengamatan bahwa makhluk hidup umumnya akan berubah agresif ketika merasa terancam. Jadi ketika seorang muslim merasa aqidahnya terancam, dia dapat berubah menjadi agresif. Ane menduga itu yg terjadi pada kasus2 seperti pembantaian Syiah, Ahmadiyah, ataupun gereja.
:)
ya krn pada tataran grass root masih kental dng budaya paternalistik (baca panutan)Quote:
Originally Posted by danalingga
mereka beranggapan bhw, urusan keagamaan adlh mutlak wewenang atau tanggung
jawab ulama semata.
Sedangkan ulama dipahami sekadar hanya kpd orang yng mendapat atau
diberi sebutan ustadz/kyai. Ketika sang panutan berpendapat (memfatwakan)
sesuatu itu boleh dilakukan maka, tanpa perlu pikir panjang lg sang pengikut
menterjemahkannya sbg semacam perintah atau restu.
Ironinya, qur'an sendiri mengkritik sistim kerahiban (baca keharusan mengikuti tetua2
atau penghulu), yng ada justru mendorong (mewajibkan) pembacanya untuk selalu berfikir,
merenungi apa-apa yng terkait dlm usahanya memperoleh rahmat (baca pencerahan).
LAH klo fanatismenya thd sang kyai sudah sampai tahap mengkultuskan misalnya?Quote:
Apakah mereka orang bodoh yang gampang dicocok hidungnya
sehingga dapat disuruh2 membela salah satu kyiai dengan kekerasan?
Jgnkan masalah konflik sampang, seseorang yng diisukan memiliki ilmu santet oleh
tetua kampung, dampaknya bisa berujung pada kematian yng mengenaskan kok?
gemana sampeyan ini :mrgreen:
Setuju, Eyang. Dalam hal ini bisakah kita ambil kesimpulan bahwa variabel pemicu kekerasan terletak pada pola ajarnya, bukan ajarannya? Konsep non-neraka sekalipun bisa menjadi pemicu kekerasan jika disertai oleh insecurity yang parah.
Salah satu hal yang diajarkan pada saya dalam dunia beladiri; "Fight occurs when my insecurity meet yours". Tanpa insecurity ini, tidak pernah ada alasan untuk berkelahi, bahkan jika kita memiliki perbedaan paling mendasar sekalipun. Kita akan talk through differences dan pada titik di mana perbedaan kita tidak dapat dijembatani, kita cenderung untuk agree to disagree. Pun perbedaan ini tidak menghalangi kita untuk bekerjasama dengan baik di masa yang akan datang.
Saya tidak melihat kasus kekerasan terhadap agama atau aliran agama tertentu sebagai manifestasi dari rasa identitas keagamaan yang terdesak, apalagi kalau yang diserang adalah kaum minoritas. Kenapa pihak mayoritas harus merasa terdesak oleh kehadiran segelintir minoritas? Saya cenderung menyebut ini sebagai perpanjangan dari kasus sosio-ekonomi yang lebih rumit, misalnya kemiskinan, kurangnya wawasan/pendidikan, atau hal-hal lain yang sudah berakar lebih dulu di suatu komunitas.
***
Ini suatu telaah yang kena, Oom Pasing, dan berhubungan dengan yang saya sebut di atas.
Kenapa kita butuh mengkultuskan seseorang yang lebih "agung"? Karena kita tidak memiliki kepercayaan diri dan tidak pernah belajar untuk mengambil tanggung jawab atas pikiran, penafsiran, dan perilaku kita sendiri. Ada suatu rasa security semu ketika kita berlindung dalam sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang penghulu yang kita anggap mumpuni. Sebuah sikap tribalisme. Pendidikan di dunia semacam ini umumnya terdiri atas doktrin-doktrin yang bertujuan untuk menghasilkan individu-individu yang sepaham dengan suatu ajaran, tanpa bertanya atau menganalisa lagi. Parahnya, sikap ini menghasilkan perilaku submisif terhadap ketokohan yang mewakili ajaran tersebut, yang alih-alih menghasilkan pemikir produktif, justru hanya menciptakan pengikut yang manut.
Sayangnya tribalisme ini memang rentan terhadap pengkotak-kotakan identitas dan terbuka kemungkinan terjadinya benturan dengan dunia "di luar" tribe-nya. Apalagi jika doktrinnya sangat rinci dan menolak dialog atau interaksi dengan pemikiran-pemikiran dari luar. Ujaran Arab yang terkenal ini menunjukkan kentalnya budaya tribalisme di sana "Me against my brother, me and my brother against my cousin; me, my brother, and my cousin against the world".
Dalam Agama Islam, sikap tribalisme ini sangat tidak disarankan. Seperti penuturan Oom Pasing berikut ini ...
Dan ini rasanya diakibatkan oleh pola pengajaran agamaQuote:
Kenapa kita butuh mengkultuskan seseorang yang lebih "agung"? Karena kita tidak memiliki kepercayaan diri dan tidak pernah belajar untuk mengambil tanggung jawab atas pikiran, penafsiran, dan perilaku kita sendiri. Ada suatu rasa security semu ketika kita berlindung dalam sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang penghulu yang kita anggap mumpuni. Sebuah sikap tribalisme. Pendidikan di dunia semacam ini umumnya terdiri atas doktrin-doktrin yang bertujuan untuk menghasilkan individu-individu yang sepaham dengan suatu ajaran, tanpa bertanya atau menganalisa lagi. Parahnya, sikap ini menghasilkan perilaku submisif terhadap ketokohan yang mewakili ajaran tersebut, yang alih-alih menghasilkan pemikir produktif, justru hanya menciptakan pengikut yang manut.
dimana biasanya memang umat dilarang mandiri.
Misalnnya, selama ini didengang-dengungkan pasti akan
tersesat jika menafsir sendiri ayat2 dari kitab suci,
oleh sebab itu penafsiran harus diserahkan pada petinggi agama.
Umatnya tinggal memakai saja tanpa perlu berpikir.
Yah, jadinya ya kasus Sampang karena si kyai juga tidak beres ternyata.
---------- Post Merged at 07:29 AM ----------
Eh, ternyata saya sepimikiran dengan Mbah Pasing:
Quote:
ya krn pada tataran grass root masih kental dng budaya paternalistik (baca panutan)
mereka beranggapan bhw, urusan keagamaan adlh mutlak wewenang atau tanggung
jawab ulama semata.
Sedangkan ulama dipahami sekadar hanya kpd orang yng mendapat atau
diberi sebutan ustadz/kyai. Ketika sang panutan berpendapat (memfatwakan)
sesuatu itu boleh dilakukan maka, tanpa perlu pikir panjang lg sang pengikut
menterjemahkannya sbg semacam perintah atau restu.
Ironinya, qur'an sendiri mengkritik sistim kerahiban (baca keharusan mengikuti tetua2
atau penghulu), yng ada justru mendorong (mewajibkan) pembacanya untuk selalu berfikir,
merenungi apa-apa yng terkait dlm usahanya memperoleh rahmat (baca pencerahan).
Itulah makanyaQuote:
Originally Posted by danalingga
Apa yng disitir oleh kang Alip diatas jg menegaskan sinyalemen ente
sikap jumud/kemalasan pikir yng berujung pada lemahnya daya kritis n analitis
itulah yng banyak diidap oleh tataran grass root. Sehingga memunculkan paradigma
bhw, urusan agama adlh otoritas kyai, ustadz, da'i, syech, mullah dst dsb.
Naifnya, sikap "sami'na wa ato'na" (baca saya dengar, saya taat tanpa reserve) itu
justru tdk jarang malah dimanfaatkan oleh panutannya untuk tujuan yng tdk terpuji
demi kepentingan diri maupun kelompoknya. Bukannya untuk melaksanakan amanah luhur
spt mensejahterakan dan mencerdaskan umat yng medjadi makmumnya (baca pengikut).
berarti yang dikatakan dalai lama ada benernya juga nih
https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.n...89719527_n.jpg
Sampang itu cuman masalah kemiskinan dan pengangguran..
Coba bayangkan kalau pelaku2 tsb punya deadline semua dikantor.. pasti ga ada rusuh2..
Banyak juga yang miskin dan nganggur nggak buat rusuh Bleg.
ya karena ga diprovokasi.. coba lu provokasi.. mereka kan cuman ingin diperhatikan ato cari perhatian.. sehari2 dipengkolan..
jangankan di indo. Di negara2 maju pun bisa diprovokasi.
Jika bukan manifestasi terancamnya aqidah, bagaimana mbah Alip menjelaskan kasus pembantaian Syiah, Ahmadiyah, ataupun gereja? :)
Ane ambil contoh kalangan PKS, mereka berkecukupan (banyak pengusaha) dan terdidik (banyak doktor), tapi justru pemahaman agama mereka cenderung literal, sektarian, dan eksklusif. Memang, dibandingkan grassroot, agresifitas mereka tidak secara fisik, melainkan secara fikir dan siasat. Tapi esensinya sama, mereka pun merasakan ancaman aqidah. Ane melihat, kalau alasannya sosio-ekonomi ataupun kemiskinan, malah tidak tepat.
Menurut ane, budaya paternal sejalan dgn agama samawi. Karena itu di topik sebelah ane bertanya, kenapa gak ada nabi cewek? Kenapa Yesus cowok, dst? Meskipun begitu, bukan berarti sang panutan dapat menyuruh pengikutnya seenak udelnya saja. Hal pertama yg harus dilakukan oleh sang panutan adalah mendoktrinasi calon pengikutnya lebih dulu. Ketika doktrinasi tsb sudah tertanam dgn kuat di hati sanubari sang pengikut, maka sang panutan dapat dgn mudah menyuruh sang pengikut utk melakukan hal2 yg ekstrim sekalipun.
:))
Dengan melihat siapa yang terlibat dalam pembantaian tersebut, Eyang. Silakan Eyang Purba sebutkan secara rinci kasus-kasus termaksud, dugaan saya sebagian besar (atau malah semua?) dilakukan oleh pihak-pihak yang memang sudah punya kecenderungan pada kekerasan... yaitu mereka yang kita bahas sebelumnya.
Kalau ini saya harus minta maaf dulu, Eyang Purba, karena politik bukan bidang yang saya tekuni maka saya tidak mengikuti benar bagaimana pemahaman, tindakan, dan sikap teman-teman dari PKS. Mungkin Eyang bisa merinci lebih lanjut...
Namun begitu, saya pesimis apakah dunia politik bisa kita jadikan rujukan yang baik. Sambil tetap sadar untuk tidak jatuh pada pemikiran stereotip, politik yang saya dengar sedikit-sedikit adalah dunia yang dipenuhi oleh manusia-manusia yang pandai memutar-balikkan fakta dan tidak merasa bersalah meletakkan kepetingan di atas pertimbangan moral. Hal ini semakin benar di negara yang sedang mengalami pendewasaan seperti di Indonesia. Dalam lingkungan semacam ini, agama dan label-labelnya digunakan untuk mencapai tujuan politis, bukan sebagai landasan bersikap. Tapi sekali lagi, ini cuma persepsi saya.
Kalau dalam konteks kuno, hal ini mengingatkan saya pada slogan "go to east young knight" yang konon didengungkan oleh Paus Urban II dan mencetuskan Perang Salib Pertama. Penaklukan Yerusalem oleh pasukan crusader di tahun 1099 ini dianggap sebagai kemenangan Tuhan dan gereja atas kaum kafir Turki dan selama ratusan tahun menjadi bahan romantisme religius para ksatria eropa. Yang mereka tidak sadari adalah slogan tersebut, dan perang salib yang mengikutinya, hanyalah akal bulus dari Alexios I, kaisar Byzantium yang merasa kekuasaannya digerogoti oleh kerajaan Turki dan membutuhkan bantuan untuk memusnahkan ancaman dari musuhnya itu. Demikianlah awal mula perseteruan ratusan tahun yang masih meninggalkan luka antara Kristen dan Islam sampai sekarang, kepentingan politik seorang kaisar yang paranoid.
Saya agak bingung dengan pernyataan Eyang yang ini... apa hubungannya antara gender nabi dengan indoktrinasi terhadap pengikut? Apakah maksudnya budaya patrlianis adalah budaya yang diktatik dan indoktrinatif? Apa kelemahannya memiliki pemuka agama/nabi yang laki-laki?
Temen gue susah dan sedang nganggur,
Gue provokasi, anteng aja tuh. ;))
Maksud gue lo generalisasi ya itu
seolah olah asal susah dan nggangur pasti
bisa diprovokasi.
Mosok temen dijadiin sampel.. Kalo sampel tuh ambil 100 orang, 500 orang.. Kalo orang spesial ya ga merepresentasikan orang2 kebanyakan lah.. Sampang itu dimana? Nah ente ambil sampel dari daerah2 setaraf sampang, kayak manggarai, priok, tanah abang atau tempat2 rusuh lainnya.
Kedua tentu ada kepentingannya. Spt yg tereak2 paling keras utk memberantas pelacuran atau pakean seksi. Pasti ada maunya.. entah biar diliat alim atau suci. Tapi ga harus masalah neraka surga.. kejauhan.. paling simpel supaya orang2 pikir dia orang alim, agamanya kuat ato anak pesantren yg taat.. Ato supaya keliatan jagoan, berani mati... pokoknya jaim aja lah.. Ga jauh ama anak sma tawuran..
Soalnya kalo pengangguran dan keliatan ga bisa apa2 itu orang merasa loser. Akhirnya.. coba menunjukkan diri lewat tawuran. Nih gw jagoan jg loh..
dw kan jg tau rasanya tawuran jek... ::hihi::
Lah, situ apa sudah ngambil sampel di Sampang juga
dan menyatakan itu karena susah dan nganggur? ;))
Gue juga setuju sih bukan soal sorga dan neraka semata.
Tapi gue juga nggak setuju disimplifikasi sebagai soal susah dan nganggur.
Gue pikir berbagai macam faktor menyambung menjadi satu yang menyebabkannya.
Ok.. tapi apa elu bisa meyakinkan gw bahwa orang2 sampang yg rusuh2 bahagia dan sibuk dgn kerjaan? ::hihi::
sekarang kalo gw bilang, coba orang2 di sampang itu punya deadline semua di kerjaan. Apa mereka tetep bs ngurusin syiah lagi ibadah nangis2an?
Ya nggaklah, gue juga nggak tahu kondisi sebenarnya di sana.Quote:
Ok.. tapi apa elu bisa meyakinkan gw bahwa orang2 sampang yg rusuh2 bahagia dan sibuk dgn kerjaan?
Ya, sama, gue nggak tahu juga secara nggak tahu kondisi orang2 yang terlibat itu bejimana sebenarnya.Quote:
sekarang kalo gw bilang, coba orang2 di sampang itu punya deadline semua di kerjaan. Apa mereka tetep bs ngurusin syiah lagi ibadah nangis2an?
Tapi secara logika sih emang kemungkinan untuk rusuh jadi berkurang.
Mungkin yng dimaksud purba tuh budaya patriarki kali kang?Quote:
Originally Posted by Alip
yakni budaya yng menganut nilai bhw kaum pria memiliki kelebihan
dibanding wanita (baca superioritas). Oleh karenanya, kaum pria mendominasi
atau mendapatkan semacam privilege, dlm hal kepemimpinan misalnya.
gue kemarin mbuka fb nye tersangka teroris solo yang ketembak mati
umur 20, dari status-status fb nya keliatan persis seperti yang kop-may sebutkan disini
ane juga kros-cek dengan beberapa sumber berita di koran atau web supaya gambarannya lengkap
kesimpulan sementara ane, tersangka teroris solo itu cuma korban
korban kebodohannya sendiri, korban keadaan, sama korban pergaulan
dalam hidupnya ada satu sisi yang tidak terpenuhi, ketemu kelompok yang ngiming-ngimingin hal-hal yang gak terpenuhi dalam hidupnya
dalam hal ini iming-iming surga, kebahagiaan (yang selama ini dia cari tapi gak ketemu dalam hidupnya)
jadilah dia tergiur, akhirnya mati sangit... eh syahid ya ? apa mati sakit ?
::hihi::