oooh, udah kebaca, ibarat SBY benci Suju
soale lebih digandrungi gadis2 ::ngakak2::
padahal sama2 punya album
Printable View
oooh, udah kebaca, ibarat SBY benci Suju
soale lebih digandrungi gadis2 ::ngakak2::
padahal sama2 punya album
Nah ini. Mungkin kita sering mendengar empat macam golongan orang:
1. Orang bodoh yg tahu dia bodoh.
2. Orang pintar yg tahu dia pintar.
3. Orang pintar yg tidak tahu dia pintar.
4. Orang bodoh yg tidak tahu dia bodoh.
Biasanya urutan dari yg terbaik sampe terburuk adalah 2-3-1-4, tapi ane bikin urutan dari yg terbaik sampe terburuk seperti di atas. Jadi jangan gengsi utk tahu bahwa kita bodoh karena itu lebih baik dari pada merasa pintar padahal bodoh.
Kalo gak salah, produk N*kia terbaru dijualnya di Indonesia dulu. Kenapa? Produsen tahu sifat orang Indonesia: Konsumtif!
Juga Bl*ckberry paling laku di Indonesia. Kenapa? Konsumtif!
Anggota DPR studi banding, tapi yg dikerjakan belanja produk2 seperti tas2 dan sepatu2 mahal.
Kebanyakan turis Indonesia di LN lebih senang wisata belanja dari pada wisata kultur atau lanskap.
Dari postingan2 di atas kita sadar juga bahwa sebagian besar dari kita punya perilaku konsumtif. Cuman yg kita kambing hitamkan malah orang2 yg jualan sbg penyebab perilaku konsumtif tsb. Coba dianalisis lebih dalam lagi, kira2 apa yg menyebabkan kita berperilaku konsumtif?
:))
@Aliph: ya emang sih, pada akhirnya perilaku konsumtif membuat anak muda (atau kebanyakan orang Indonesia) kehilangan akar budayanya. Cuma akar budaya yang mana? Karena terus terang, kita sudah sangat lama kehilangan akar budaya itu...terkikis pelan2. Mungkin ketakutan Sukarno ada benarnya, tapi masalahnya gempuran budaya memang tidak bsia dihindari.
Alternatifnya ya adanya fushion, di mix match aja deh, mana yang bagus dipake yang gak bagus dibuang.
Jadi, yg jadi masalah musiknya atau kapitalismenya? Yg ane gak sepakat adalah musik dijadikan kambing hitam perilaku hedonis anak2 muda sekarang. Bagaimana dgn Iwan Fals? Melalui musiknya dia mengangkat masalah sosial masyarakat pinggiran. Bimbo menghadirkan musik religius Islam. Baik Iwan Fals maupun Bimbo, musiknya adalah musik ngak ngik ngok.
:))
emang musik ngak ngik ngok gimane ujudnya? setau gw sukarno sukanya lenso
Lee Kwan Yew pernah melakukan Sidak ke apartemen2 rakyatnya, saat masuk kerumah2 ia tidak banyak bicara atau beramah tamah.
Ia hanya melihat2 lalu pergi ke rumah lain.
Setelah selesai, ia menjelaskan tindakannya.
Ia masuk ke rumah2 rakyat Singapore karena ia ingin tahu 3 hal:
1. Lukisan apa yg dipajang di dinding
2. Buku apa yg dibaca
3. Musik apa yg didengar
oleh orang singapur.
Dari situ ia ingin menilai seberapa jauh bangsa Singapura telah maju.
^
trus apa yang dia dapatkan lan?
Kao gak salah dia cukup puas dengan apa yang dia temukan di rumah2 rakyatnya.
Lee Kuan Yew sering berkata bahwa negaranya tidak memiliki kekayaan alam dan tidak punya teritory yang luas, yang mereka miliki hanyalah manusia2 yang punya etos kerja keras.
Ia adalah salah satu pemimpin negara Asia yang sering di juluki sebagai Ditaktor.
Setelah tua, Lee mengakui bahwa tidak semua tindakannya selalu benar.. “but everything I did was for an honorable purpose. I had to do some nasty things, locking fellows up without trial.”
Yah lan, gw taw kalo orang spore etos kerjanya tinggi, tp gw maw taw rata2 lukisan, buku dan musik apa yg dikonsumsi orang spore.
Kayaknya dia gak cerita, dia gak buka2 rahasia isi rumah orang singapore, tapi kalo dia pribadi sukanya musik klasik.
Lee dan istri juga sangat menyukai puisi, saat istrinya lumpuh karena stroke selama 2 tahun Lee mendampingi istrinya yang tak bisa bergerak dan bicara itu setiap hari, ia membacakan puisi2 favorite mereka, membacakan buku2 dan menceritakan kegiatannya sehari2 sampai akhirnya sang istri meninggal di tahun 2010.
Mengenai musik, Lee dan banyak orang chinese lainnya percaya bahwa musik klasik adalah musik terbaik, itu sebabnya Singapore, China, Hongkong, Taiwan berlomba2 membuat Opera House2 yang terbaik dan berusaha menguasai musik klasik lebih dari orang barat.
Jadi kalau Soekarno bilang musik barat itu ngak ngek ngok, mungkin tidak berlaku untuk musik klasik.
ngik ngok tuh maksudnya musik2 jamand dulu kek rock 'n roll kali yee..
yg syairnya cengeng ato anti kemapanan kali ya?
yang jadi pertanyaan,
musik itu gambaran jiwa ?
atau
musik itu membentuk jiwa ?
contohnya,
orang yg periang suka musik yang riang ?
atau
musik yang riang membuat jiwa seseorang jadi periang ?
Ane sependapat dgn uraian mbah Alip. Mereka (Soekarno dan Habibie) mengalami semacam "gagap budaya". Soekarno tidak suka musik yg dibawakan oleh The Beatles. Habibie tidak suka musik hip hop. Mereka mengidentikkan musik dgn kelompok yg membawakan musik tsb. Padahal Let It Be dan Yesterday-nya The Beatles pernah dibawakan oleh Royal Philharmonic Orchestra. Jadi, kesimpulannya tidak ada hubungan sebab akibat antara musik dgn perilaku konsumtif orang muda di Indonesia. Juga tidak ada hubungan sebab akibat antara merek HP tertentu dgn perilaku konsumtif orang Indonesia. Sorry utk hal ini, Soekarno dan Habibie salah besar.
:))
IMHO, kedua pernyataan ini benar.
Musik membentuk jiwa(baca: karakter.... mungkin ? ), dan saat sudah terbentuk, kita akan memilih musik yang merefleksikan bentuk jiwa kita. Dan musik yang kita pilih tadi akan membentuk jiwa kita... the circle continued.
Gue pribadi, ngga' membatasi genre musik. Gue lebih membatasi ke konten informasi musik.
Musik bisa mempengaruhi suasana hati, nggak bicara jauh ke jiwa ah...
Kalau sedang banyak tantangan di kantor, di mobil saya setel musik yang bersemangat.
Kalau sedang mau slow down, saya pasang musik yang santai.
Kalau sedang melow, dan pingin berlama-lama "mengasihani diri sendiri", saya pasang musik melow jugak... tapi
kalau sedang melow padahal banyak kerjaan, saya pasang lagu 'mars', langsung melow-nya hilang...
Jadi ya cuma alat bantu... sebenarnya tanpa musik juga saya bisa merubah mood semau saya... tapi knapa nggak pake musik? mumpung ada :ngopi:
well, bisa sejauh sampe 'jiwa' sih. Kalo yang di dengerin adalah musik dengan konten informasi yang sama sejak dini... rada mirip indoktrinasi jadinya. Dan bisa sampe mampengaruhi dalam pembentukan alur logika berfikir kita.
Makanya banyak teori yang bilang bahwa biar gedenya pinter, bayi harus sering terpapar dengan musik klasik(seingat gue, terutama Bethoven) bahkan sejak dalam kandungan.
Dan itu juga sebabnya salah satu metode penyiksaan di Guantanamo juga menggunakan musik. Applied correctly, it can be used to break souls.
buat anak usia dini, musik dan lagu bisa m'perbanyak kosakata & pembelajaran. itu kenapa lbh efektif menasehati dgn lagu
- - - Updated - - -
tp msh penasaran sama musik ngak-ngik-ngok, buat gw berasa dawai biola yg ga bener digeseknya -_-
Atau sesuatu yang kedengarannya seperti itu di telinga dia.
Dan, ngomongin string instrument, andaikan Sukarno masih hidup... gue pengen tau komen dia tentang "Welcome to The Jungle" atau "Smells like Teen Spirit"-nya 2Cellos, atau keseluruhan album Apocalyptica.
Tapi, lagi, kalo dia masih idup sekarang... kemungkinan besar dia bisa charming the pants of The Corr Sisters... Damn it, Bung ! ::arg!::
Hal ini masih dalam perdebatan, karena banyak penelitian memberi hasil yang berbeda. Kecenderungannya sih teori ini semakin dekat dengan kehancurannya. Musik bisa menjadi stimulus bagi anak, tapi seberapa jauh dia mempengaruhi struktur otak, masih diragukan. Apalagi belakangan ini kita semakin yakin bahwa otak bersifat plastis, alias bisa di re-konstruksi ulang, yang mementahkan teori pembentukan dini melalui musik.
Tapi memang banyak industri musik berpegang ke teori ini ... yah, namanya juga jualan... ::bye::
Music alone tidak banyak berpengaruh, dia cuma bagian dari metode penyiksaan. Dalam proses cuci otak sekalipun, musik cuma bahan optional yang jarang dipakai.
Saya tergolong orang yang percaya bahwa setelah dewasa jiwa (karakter dan kesehatan mental) kita dibentuk oleh kesadaran kita sendiri, bukan oleh pengaruh luar. Contoh yang meyakinkan adalah bapak psikologi logoterapi, Victor Frankl, yang bisa selamat dari kamp nazi karena kemampuannya untuk selalu berbesar hati meskipun disiksa habis-habisan.
True.
Agree.Quote:
Music alone tidak banyak berpengaruh, dia cuma bagian dari metode penyiksaan.
To each, their own. ::managuetahu::Quote:
Saya tergolong orang yang percaya bahwa setelah dewasa jiwa (karakter dan kesehatan mental) kita dibentuk oleh kesadaran kita sendiri, bukan oleh pengaruh luar...
Lets just agree to disagree on this.
Gue termasuk yang percaya "it takes a village... ".
Quote:
Itulah yang ingin dicegah Bung Karno. Dengan ngak-ngik-ngok yang mendayu-dayu para pemuda mudah terlena dan mudah tercerabut dari nilai-nilai idealisme.
Ah, kata siapa? The Beatles, yang dituduh Bung Karno lagunya "ngak ngik ngok", punya sosok John Lennon yang berambut gondrong, berkacamata pantat botol, dan memiliki idealisme serta kepedulian terhadap perdamaian. Banyak lirik lagunya, terutama "Imagine" yang populer, berisi pesan-pesan perdamaian. Jadi, apa sebenarnya yang dikhawatirkan Soekarno terhadap budaya "ngak ngik ngok?"
Semua itu tidak lebih dari kecemburuan ideologi saja. Bung Karno takut "bersaing bebas" dengan budaya barat.
Kalau benar begitu dampak budaya ngak ngik ngok, mustahil barat (Amerika) memenangkan PD II dan menjadi negara superpower, karena mentalitas penduduknya konsumtif dan hedonis.Quote:
Gaya hidup pragmatis, santai, dan amat konsumtif para pemuda sekarang bisa bisa dibuktikan dari berbagai hal. Misalnya, konsumsi rokok yang luar biasa besarnya sehingga bangsa ini menjadi bangsa perokok terbesar di dunia. Di kampus-kampus, kantin dan kafe lebih ramai daripada perpustakaan. Kebutuhan pulsa jauh mengalahkan kebutuhan akan buku.
Jangan sok anti-kapitalis kalau nggak tau kapitalisme itu apa. Tukang mie ayam, tukang bubur, dan sebagainya itu pelaku kapitalisme juga. Hanya saja skalanya kecil.
- - - Updated - - -
Terus, kalo musik niru-niru barat nggak boleh? Kalo niru Arab, boleh nggak? Anti barat kenapa? Lha Bung Karno saja pake JAS yang jelas-jelas budaya barat.
Ada masa dimana Bung Karno berusaha mendekat ke blok timur, mungkin hal itu bisa menjelaskan banyak hal.
bung Karno kan ngelarang The Beatles era 60-an, jaman di mana John masih labil, The Beatlesnya belom bubar, rambutnya berponi dan pake celana ngetat--dua hal yg kena brendel Bung Karno. tahun 60-an, John-nya belom bertansformasi jadi seorang asketik seperti saat bikin lagu Imagine.
Cerita yg menarik, meski Bung Karno sangat keras dg The Beatles, anaknya Guntur justru demen maenin lagu The Beatles--biar ikut gaul, persis kek zaman skrg dimana remaja demen nyetel Justin Bieber. Kalo kepergok ma Bung Karno, paling cuma diomeli doang, gak ampe disetrap apalagi disita semua peralatan musiknya.
Dan tentu saja, meski menentang abis-abisan budaya pop barat, toh Soekarno punya sisi "lemah", apalagi kalau bukan wanita. Saat disindir gimana kalo ada cewek barat, bung karno bakal nolak gak, Bung Karno cuma jawab nyengir, "manusia mana yg gak punya kelemahan?" ;D Dan tentu saja, banyak spekulasi dan desas-desus antara Bung Karno-Marlyn Monroe
Buku yang pernah jadi bestseller di Amerika judulnya "A Brief History of Time" karya Stephen Hawking. Sedang di Indonesia, "Dialog dengan Jin Muslim" (karangan nggak tau siapa).
Amerika negara kapitalis yang dituduh sumber lagu "ngak ngek ngok", tapi kok bisa punya selera bacaan yang mutu ketimbang Indonesia yang agamis?
Salah siapa?
- - - Updated - - -
Kita semua pelaku kapitalisme. Makanya jangan munafik sok anti kapitalis.
Teriak "anti-kapitalisme" tapi di facebook dan twitter yang jelas-jelas produk kapitalis. Basilah... ::ngakak2:: ::ngakak2:: ::ngakak2::
Kenapa ya ngaku paling pinter diskusi, tapi selalu nyerempet2 islam dan menghina islam.
Bahas aja tuh apa arti ngak-ngik-ngok dan berhitung2 kenapa sukarno ga demen sampe ngelarang2 plus sampe menjarain koes bersaudara (ato koes plus?)?
Kondisi politiknya emang bung karno lagi condong ke sosialisme waktu itu, jelas aja yg berbau barat dia ga suka.
Orang slogannya aja ganyang malaysia, yg dia anggap antek amerika.
Liat aja siapa temen deket bung karno dan berapa banyak pemuda jaman itu dapet jatah beasiswa ke negeri komunis macam china sama rusia.
Dan begitu suharto berkuasa, yang dapet beasiswa di negeri komunis malah susah pulang
Tanya kenapa -_-
Bahas noh isi diskusi, jangan nyolot melulu PA n ngeflame, katanya cerdas berdiskusi ala anak kuliahan ketimbang saya yang ibu rumah tangga -_-
Bung Karno pernah dekat dengan seorang perempuan Amerika...
Quote:
Pada tahun 1961, Cindy Adams, seorang wartawan Amerika mendapat kesempatan wawancara eksklusif dengan Presiden Indonesia, Soekarno.
Itu adalah kesempatan besar bagi seorang jurnalis tak terkenal seperti Cindy, sedangkan Sukarno adalah seorang pemimpin negara besar yang telah memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan Belanda.
Namun politik luar negri Sukarno sangat tidak disukai oleh Amerika, bahkan banyak orang Amerika yang menyebut Sukarno sebagai Hitler of Asia.
Cindy memutuskan bahwa dirinya takkan minder oleh sosok besar Sukarno dan ia memulai wawancaranya dengan bercanda. Ternyata candaannya tersebut mendapat sambutan menyenangkan dari sang Presiden, Sukarno bersikap hangat terhadapnya dan memberikan waktu wawancara lebih dari satu jam bahkan memberi Cindy berbagai macam hadiah.
Seharusnya kesuksesan Cindy dalam wawancara ini sudah cukup, namun selanjutnya Cindy dan Sukarno sering berhubungan melalui surat menyurat dan persahabatan diantara mereka mulai terjalin hangat, bahkan kemudian Sukarno memintanya untuk menulis Autobiografi.
Cindy Adams yang masih merupakan wartawan level bawah merasa ragu atas tawaran ini, ia menyadari bahwa Sukarno adalah seorang penakluk wanita, Sukarno memiliki 4 istri dan banyak kekasih. Ia sangat tampan dan jelas2 menyukai Cindy, maka tawaran ini bisa berbahaya baginya, namun akhirnya Cindy bersedia menjadi penulis Autobiografi Sukarno.
Pada Januari 1964 Cindy kembali ke Indonesia. Kali ini ia telah mempersiapkan sebuah strategi dalam menghadapi Sukarno yaitu menjadi seorang yang bicara blak-blakan, terus terang dan bersikap berani, ia melihat bahwa sikap semacam ini sangat memikat Sukarno diwaktu yang lalu. Sewaktu ia melakukan interview pertama, Cindy mengkomplain ruangan mereka, lalu ia menulis daftar berbagai permintaan dan banyak perlakuan istimewa yang segera ditanda tangani oleh Sukarno.
Selanjutnya saat melakukan tur keliling indonesia dan mewawancarai orang2 dekat presiden, Cindy mengkomplain kondisi pesawat terbang yang digunakannya sehingga Sukarno segera mengirim pesawat pribadinya untuk dipakai oleh Cindy. Itupun belum cukup, Cindy minta beberapa pesawat lagi dan sebuah helikopter, juga pilot pribadi yang sangat berpengalaman, Sukarno menyetujui semua.
Sukarno bagaikan tersihir oleh aura Cindy, bahkan ia pernah berkata kepada Cindy "Do you know why I'm doing this biography?... Only because of you, that's why"
Sukarno sangat memperhatikan Cindy, ia memuji penampilan Cindy, memperhatikan semua pakaiannya dan mengenal semua perubahan2 kecil dari dandanan Cindy.
Sukarno juga sering mencuri2 kesempatan, misalnya menggandeng tangan Cindy atau mencuri ciuman kecil di pipi. Cindy selalu mengisyaratkan penolakkan dan menunjukkan bahwa perkawinannya dengan suaminya bahagia.
Dalam hati Cindy ada sebuah kekuatiran, kalau Sukarno hanya menginginkan Affair dengannya, maka rencana pembuatan Biografi ini bisa berantakan.
Sukarno bisa membaca kekuatiran Cindy, maka ia menjelaskan pada Cindy bahwa perasaan sayangnya kepada Cindy adalah murni tanpa ada konotasi seksual, Cindy merasa lega karena Sukarno tidak marah kepadanya.
Maka interview terus berjalan hingga beberapa bulan dan sedikit demi sedikit Sukarno mulai berubah menjadi lebih santai, Cindy masih sering melontarkan guyon dan kini Sukarno sering membalas guyonan tersebut. Sekarang Sukarno tidak lagi menggunakan seragam militer dan lebih sering menggunakan pakaian santai bahkan sering bertelanjang kaki.
Suatu hari Sukarno menanyakan warna rambut Cindy, Cindy menjelaskan bahwa cat rambut yang digunakan adalah warna Clairol Blue-black. Sukarno segera meminta cat rambut tersebut kepada Cindy, esok harinya Sukarno meminta agar rambutnya di cat oleh Cindy. Cindy mengira Sukarno hanya bercanda namun ia serius, maka kemudian mereka berdua memiliki warna rambut yang sama.
Buku: "Sukarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams" terbit tahun 1965. Publik Amerika terkejut karena sosok Sukarno yang digambarkan didalam buku itu sangat memikat dan menawan. Kalau ada orang yang meragukannya, Cindylah orang pertama yang yang menjawab bahwa ia mengenal Sukarno lebih dari orang kebanyakan. Tanpa disadari, Cindy telah menjadi public relation bagi Sukarno.
Buku tersebut tersebar luas keseluruh dunia, Sukarno memperoleh popularitas yang mengagumkan, ia mendapat banyak simpati dari publik disaat ia sedang terancam oleh kudeta militer.
Cindy Adams mengira dirinya telah berhasil memikat Sukarno, namun sebenarnya siapa yang dipikat oleh siapa ?
Buku tulisan Cindy menjadi bukti yang jelas bahwa si penulis sangat terpikat oleh subject tulisannya.
Tulisan yang penuh cinta dan kekaguman ini kemudian dibaca oleh jutaan orang diseluruh dunia.
http://www.facebook.com/notes/teddy-...y/417120910558
Tapi cindy tidak bisa membuat sukarno akhirnya menyukai musik ngaj-ngik-ngok ::hihi::
Gw sangat curiga omongan Sukarno tentang musik ngak ngik ngok itu cuma lip service saat sedang berusaha mendekati blok komunis.
Gaya hidup bung karno itu kan flamboyan, sampe2 nge cat rambut segala coba...
ini urusan politis lah.
Actually, seingat gue yang di maksud musik 'Ngak Ngik Ngok' itu adalah alirannya 4 cah kutu asal Liverpool itu deh. Dan Liverpool nggak di Amerika.
- - - Updated - - -
Hence my comment on Sukarno and The Corr Sister's Pants... ::doh::
::bye::
Saya sih hanya mengambil sikap ini kalau kita tidak lagi memiliki common ground yang bisa didiskusikan... misalnya kalau bicara soal keyakinan dari agama yang berbeda... jadi sikap yang paling tepat dalam kasus ini adalah, let's not discuss it any further.
***
Sukarno,
siapa dia? Sosok yang dilahirkan di awal abad keduapuluh dari ayah seorang priyayi dan ibu berkasta brahmana, yang hidupnya penuh berisi pahit getir perjuangan melawan penjajahan. Saya merasa wajar saja kalau beliau merasa tidak cocok melihat anak-anak muda yang menurutnya "urakan", "serampangan", "pemalas", atau "hedonis" yang muncul di era 60-an. Dia berkaca menggunakan pengalaman hidupnya sendiri, yang memang jauh berbeda.
Tanpa menyalahkan beliau, tanpa menyalahkan pula generasi 60-an... mereka memang beda... jika saya jadi Sukarno, saya justru akan sedih kalau anak-anak muda masih sama menderita dan prihatinnya seperti jaman saya sendiri muda dulu... itu berarti perjuangan saya selama ini tidak membawa perubahan apa-apa...
Tapi saya kan bukan Sukarno ::ungg::
Gap generation sih wajar. Ga usah jauh2 dari sukarno ke beatles. Kita sama ortu aja ada gap kog, perbedaan pandangan dan kesukaan, padahal kita diasuh sama ortu.
Kuatir deh ortu sama pilihan hidup kita, kuatir deh ortu sama cara mengasuh anak2 qta.
Banyak lah...
Mungkin artikel yg diberikan TS juga merupakan generation gap antara dia dan generasi anaknya yg kemudian diterjemahkan tentang omongan Sukarno itu.
Meski gw liatnya lebih ke politis sih.
kayaknya masalah politis.
tapi generation gap juga bener.
salah satu negara dengan generation gap paling ekstrim itu Taiwan.
Disana si kakek hidup di jaman pertanian, bapaknya hidup di jaman industri, anaknya hidup di jaman informasi.