Page 1 of 4 123 ... LastLast
Results 1 to 20 of 76

Thread: Bung Karno dan Musik Ngak Ngik Ngok ...

  1. #1
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544

    Bung Karno dan Musik Ngak Ngik Ngok ...

    http://mrsantosa.blogspot.com/2010/0...ngik-ngok.html
    Pada masa remaja di tahun 1960-an saya tidak bisa mengerti tindakan Bung Karno yang melarang lagu-lagu dari Barat yang disebutnya sebagai musik ngak-ngik-ngok. Waktu itu lagu-lagu dari kelompok The Beatles sedang melanda dunia. Saya pun sangat menyukainya karena irama lagu itu bisa menghanyutkan jiwa remaja saya.

    Tindakan Bung Karno tidak hanya sampai di sini. Musik ngak-ngik-ngok buatan dalam negeri pun dilarang beredar. Lagu ‘Oh, Kasihku’ ciptaan Koes Bersaudara (kemudian berubah nama menjadi Koes Plus) dan lagu ‘Boneka dari India’ yang dinyanyikan Elya Agus (kemudian berubah nama menjadi Elya M Haris, Elya Khadam dst) juga dilarang. Bahkan Koes Bersaudara dan Elya Agus kemudian dipenjarakan.
    Mengapa Bung Karno begitu? Memangnya anak muda tidak boleh bersenang-senang? Alasan Bung Karno seperti yang amat sering dipidatokan, musik ngak-ngik-ngok yang biasa diiringi dansa-dansi akan merusak mental para pemuda. Menurut bahasa Bung Karno, musik produk imperialis/kapitalis itu akan melemahkan semangat juang para pemuda dan akan menghancurkan nilai kepribadian bangsa. Bung Karno yang memang jadi pejuang bangsa sejak usia muda agaknya punya alasan kuat untuk mengatakan keyakinan itu.
    Bung Karno juga pasti tahu pada 1960-an itu kaum muda di Cina, Jepang, atau Korea masih menahan diri untuk hidup berhura-hura karena mereka sadar harus berjuang dan bekerja keras demi kemajuan masyarakat dan bangsanya. Maka para pemuda Indonsia pun oleh Bung karno dilarang berngak-ngik-ngok dan diminta untuk lebih giat bekerja.
    Sayang, Bung Karno jatuh pada 1966, dan suasana sangat cepat berubah. Terjadi euforia desukarnoisasi di semua bidang. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya bermunculan pemancar radio yang dikelola oleh anak-anak muda. Lalu membanjirlah lagu-lagu Barat yang sebelumnya dilarang. Koran-koran picisan terbit dengan mudah dan bebas. Maka bukan hanya lagu, semua produk budaya pop dan gaya hidup yang dulu ditentang Bung Karno membanjir.
    Memang ada sedikit perlawanan dari anak-anak muda yang masih menyisakan idealisme kerakyatan, seperti yang terlihat dalam peristiwa Malari tahun 1974. Tapi gerakan perlawanan ini ditumpas habis oleh kekuatan besar yang sedang tumbuh, orde baru. Tanggal 6 Juni kemarin adalah hari lahir Bung Karno (1901). Saya jadi teringat kembali tindakan Bung Karno lebih dari 40 tahun lalu yang melarang pemuda Indonesia ber-ngak-ngik-ngok. Dulu saya bingung, namun sekarang saya bisa lebih mengerti.
    Ternyata musik jenis ini bisa menjadi pembuka bagi masuknya gaya hidup sangat pragmatis, cair dan hedonis, dan buntutnya adalah konsumtif. Itulah yang ingin dicegah Bung Karno. Dengan ngak-ngik-ngok yang mendayu-dayu para pemuda mudah terlena dan mudah tercerabut dari nilai-nilai idealisme. Apalagi bila musik itu disertai gaya pergaulan longgar serta dibumbui alkohol dan narkoba. Maka hasilnya bisa dilihat dengan jelas di sekeliling kita sekarang ini.
    Rata-rata pemuda masa kini ingin segera bisa hidup enak tapi dengan cara yang cepat dan mudah. Instan. Santai. Amat konsumtif. (Hormat untuk minoritas anak muda yang mau belajar atau bekerja keras dengan cara berjualan mi ayam, jadi buruh pabrik, PKL, TKI, dsb). Namun selebihnya seperti hanya menuruti jebakan kaum modal yang dulu sengaja menghadirkan musik ngak-ngik-ngok yang tidak disukai Bung Karno.
    Gaya hidup pragmatis, santai, dan amat konsumtif para pemuda sekarang bisa bisa dibuktikan dari berbagai hal. Misalnya, konsumsi rokok yang luar biasa besarnya sehingga bangsa ini menjadi bangsa perokok terbesar di dunia. Di kampus-kampus, kantin dan kafe lebih ramai daripada perpustakaan. Kebutuhan pulsa jauh mengalahkan kebutuhan akan buku.
    Sebagian besar pemuda Indonesia punya prestasi rendah di bidang akademik. Juga di bidang olehraga. Sebaliknya, hasrat untuk mengonsumsi semua barang yang ditawarkan terutama melalui media TV sangatlah besar. Melalui semua media yang tersedia kaum modal telah berhasil mengubah masyarakat, terutama kaum muda, bukan hanya jadi manusia pragmatis dan konsumtif melainkan juga hidup dalam dunia sensasi. Kaum modal memang tahu, masyarakat yang sudah masuk perangkap sensasi sangat mudah menjadi pembeli barang yang mereka buat, baik barang itu benar-benar dibutuhkan atau hanya diinginkan.
    Empat puluh tahun lalu Bung Karno pasti sudah menduga keadaan ini akan terjadi dan dia sudah berupaya menyegahnya. Tetapi banyak orang tidak percaya bahkan menertawakannya. Termasuk saya! Saya menyesal telah ikut-ikutan menyepelekan pikiran Bung Karno yang futuristik ini. Sayang sudah terlambat. Namun setidaknya saya masih bisa mengingatkan kepada kelima anak saya: hiduplah dengan idealisme untuk menjadi manusia yang sehat lahir batin dan produktif. Untuk Bung Karno, semoga perjuanganmu bagi bangsa ini menjadi amal ibadah yang diterima Allah SWT.

    Diambil dari tulisan Ahmad Tohari, Resonansi Harian Republika (tanggal tahun tidak terdata)


    ---
    inikah salah satu sebab hedonisme dan kehancuran generasi kita?
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  2. #2
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    gimana ya? terlalu menggeneralisir imo.

    prestasi akademik rendah, memang dulu jauh lebih tinggi? lagian soal edukasi yang bikin rendah itu kurang infrastruktur, buktinya sekolah dengan infrastruktur yang baik bisa membuat muridnya berprestasi sampai ke luar negeri.

    idealisme bagus, asal ga nato, sayangnya sih kebanyakan sekarang idealisme cuman nato ajah, menjunjung idealisme itu berat.

    btw, gw mending dikasi uang pulsa 50ribu, dripd 50ribu cuman buat buku, cuman bisa beli satu buku, uang pulsa 50ribu bisa buat donlod ratusan ebook dan baca wikipedia dan update perkembangang dunia lewat twitter

    gw sih berprinsip, ga usah terlalu sering melihat masa lalu, gimana caranya kita beradaptasi dan mengambil nilai positif di masa sekarang. sekarang anak muda ga mau jualan mie ayam, karena kalo bisa jualan online sambil dengerin lagu ngak ngek ngok kenapa tidak

  3. #3
    saya gak nyangka jika yg nulis Ahmad Tohari sastrawan yg beken itu. Imho, tulisan ini "dangkal". kajian historisnya hanya sekilas. Alasan Sukarno melarang musik barat kan bukan sekedar "idealisme demi membentuk generasi muda antihedonis". Ah udah malam, lanjut besok aja. tidur dulu skrg mah
    you can also find me here

  4. #4
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Intinya.. bung karno anti barat! Musik ngik ngok yg dimaksudkan musik yg niru2 musik2 barat.
    Tapi semua ini ga bisa dibendung walaupun orang sesakti bung karno.. pilihannya kalo ga akhirnya bung karno musti mengalah, ya dikudeta. Spt macam mosadeq, kadaffi, dll...

  5. #5
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Kalau sekarang masih hidup, Bung Karno akan dibe
    ri cap "Garis Keras"... mana poligami pula

  6. #6
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    ah, ada anak papua dgn infrastrukur t'batas juara olimpiade sains, baru datang beasiswa. ini karena kemauan dan tekad

    - - - Updated - - -

    yg meraih nilai UAN t'tinggi bukan anak kota ato sekolah yg punya fasilitas nmr satu, tapi anak2 daerah yg t'batas

    - - - Updated - - -

    bukannya gw m'iyakan tulisan TS 100%, tp gw jg ga setuju prestasi akademik urusannya cuma infrastruktur. lbh kompleks lg

    - - - Updated - - -

    kalo masalah budaya mau ga mau akhirnya ada gempuran dari luar, bukan westernisasi tapi arus globalisasinya yg kencang

  7. #7
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Kalo mo diurutkan, empat founding fathers Indonesia dari ideologi kiri ke kanan adalah Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan Syahrir. Semuanya berkontribusi mendirikan Indonesia.

    Soekarno gak suka musik ngak ngik ngok, tapi melantai juga dgn cewek bule kalo dijamu makan malam. Nah pake musik apa tuh? Musik Barat atau kosidahan?

    Ok lah musik klasik utk dansa, bukanlah ngak ngik ngok. Tapi tetap saja itu musik Barat. Jadi gak jelas, apa yg di arah oleh Soekarno.


  8. #8
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Ketika Bung Karno dansa dansi itu usia nya sudah
    berapa, Pur? sudah mapan kemana-mana... dan
    dia juga melakukan itu untuk selebrasi saja...

    yang disasar budaya pop itu kan generasi muda pe
    nerus bangsa

  9. #9
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    Sama sadja, makanya gw bilang idealisme itu berat, kalo org lain ga boleh, kenapa diri sendiri boleh, standar ganda walaupun temanya cuman selebrasi, lah yg lain dengar belum tentu tujuannya buat malas2an.

    Masalah pendidikan, iya bukan cuman infrastruktur aja, tp jauh lebih ngaco kalo budaya barat yg bikin prestasi akademik jauh lebih rendah.

  10. #10
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    ini gara2 suamiku ngomongin soal musik ngak ngik ngok, (dan ga mau menjelaskan apa itu plus dihina dina karena ga ngerti sejarah) bisa kesasar nyari artikel soal ini di inet.

    aku sedang mengamati kondisi masyarakat saat ini terutama anak muda, generasi penerus . mulai dari hebohnya justin bibir, si gaga (l) sampai pembunuhan antar supporter sepak bola.

    referensi ini aku kira perlu dipertimbangkan terutama kalau memiliki anak, dalam kondisi apa kita akan menempatkan dia dalam masyarakat. masyarakat yang seperti apa? dalam kebiasaan dan budaya yang bagaimana? lingkungan yang mana?

    yang jelas bagiku pribadi, kalau sampai ikutan jadi suporter ga punya hati, atau mendewakan artis ga jelas kelakuannya, udah rusak generasinya. dan jelas gw ga mau memasukkan anak gw bersama generasi macam itu
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  11. #11
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    Segala sesuatunya itu ada batas. Mnurut gw ya ga papa ngefans ama sesuatu, tapi kalau sampai berlebihan sampai mendewakan, itu yg salah, agama jg kalo berlebihan kan jadinya kayak pengantin, semuanya itu kalau berlebihan ga baik. Ya ga papa orang jadi suporter sepak bola, ada suporter sepak bola yg ga anarkis kok. Jangan ngeliat segalanya dr sisi negatif, gara2 ada yg bacok2an antar suporter jadinya ga boleh jadi suporter.

  12. #12
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Mana ada pengamalan agama yang berlebihan. Yang
    ada itu salah memahami, jadinya salah mengamalkan.

  13. #13
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    Yaudah diganti, jadinya salah memahami, yg lain juga begitu, salah memahami lagu yg cuman buat didengerin, salah memahami apaitu supporter.

  14. #14
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    lah kan udah gw tulis, supporter yang ga punya hati, kalau supporter biasa aja mah silakan. tapi ga jadi berlebihan kaya sekarang.
    sama kaya mendewakan artis. sampe buang2 duit, kalau ga dituritin bunuh diri demi artis, mending mati beneran aja gih
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  15. #15
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    Ukuran buang2 duit itu relatif. Sama seperti banyak org yg nganggep gw buang2 duit banyak cuman buat beli figure mainan. Sepanjang itu ga merugikan diri sendiri dan orang lain, why not, duit2 gw sendiri kok. Kalo sampe bunuh diri demi artis itu lain cerita.

  16. #16
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    kalau duit lu sendiri, lu yang nyari mah bodo amat.
    tapi kalau pake duit ortu, ya itungannya ngamburin duit orang laen

    kalau gw udah pasti anak ga bakal gw kasih buang duit gw buat nonton konser mahal kaya si gaga atau bibir. ga mendidik banget.

    mending tuh duit ilang dalam proses dia belajar bisnis atau buat dia menekuni hobi yang positif
    Last edited by cha_n; 02-06-2012 at 02:28 PM.

  17. #17
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    termasuk buang duit buat kebiasaan buruk seperti merokok apalagi sampe minum miras, narkoba. nauzubillah min dzalik, jangan sampe deh.
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  18. #18
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    balik soal bung karno. kemungkinan dia ngambill sisi ekstrim, langsung cut dari sumbernya. karena kemungkinan ga semua orang bisa mendidik dirinya dan keluarganya supaya aware dengan dampak dari budaya semacam ini.
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  19. #19
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    Klo ortunya bolehin jg why not. Kan sepanjang ga ada yg merasa dirugikan dan melupakan kewajiban pribadi (bolos skul atau kerja).

    Ini semua kembali ke pribadi sendiri kok, makanya gw bilang tulisan di atas itu terlalu menggeneralisir. Asal dr budaya barat itu sendiri adalah negara2 yg maju, tanya kenapa. Cuman mgkn di sini banyak yg cuman ambil sisi hura2nya aja, tapi ga ngeliat sisi kerja keras dr budaya ngak ngek ngok itu.

    Dan gw sendiri ga yakin kalo soekarno di masa sekarang masi bisa sestrict dulu melarang budaya barat masuk.
    Last edited by choodee; 02-06-2012 at 02:38 PM.

  20. #20
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Tengok cina saja lah. Negara hasil anti ngik ngok.
    Paling tidak bisa jadi negara penyuntik dana nya amerika eropa.

Page 1 of 4 123 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •