dengan kata lain, si bayi terbunuh karena jadi tumbal dosa si kakek
Dan apa jaminan si kakek bakal bertaubat setelah minum obat sementara bayi udah telanjur dikubur?
dengan kata lain, si bayi terbunuh karena jadi tumbal dosa si kakek
Dan apa jaminan si kakek bakal bertaubat setelah minum obat sementara bayi udah telanjur dikubur?
kok repot, ya diundi saja dengan koin
ato baiknya obat itu saya simpen sendiri saja, jaga2 kalo saya sakit parah
si bayi masih pure, mati masuk surga
si kakek? emg udh bau tanah siy,
lha kalo saya? saya kan masih muda, udh ga pure, bau tanah juga ngga, ya buat sendiri aje obatnya ::kekekek::
Purba bikin ribet nih...
Koq jadi masalah kakek dan bayi.
Yang namanya bunuh diri itu adalah kalau kondisi fisik dan lingkungan mendukung kehidupan tapi dipaksa berhenti.
Kasus2 dimana fisik tidak mampu hidup, meskipun tidak ditolong pun itu bukan sebuah pembunuhan, meskipun sering kali hal itu mengusik hati nurani.
Si kakek dan si bayi sama2 sudah tidak mampu hidup lagi, kalau bisa kita tolong bagus, kalau kita tidak mampu ya sudah, kita tidak membunuh siapa2.
@lan, biasa si purba emang suka memancing ikan...eh, keributan... Wkwkw... Melempar umpan..
msh nyambung menurut saya
spt kisah si mindy, ttg euthanasia scr halus.
ada unsur tekanan disini, cerita ada di si kakek, dia tahu obat hanya ada satu, tentu dia tertekan, klo dia dapet obat maka si bayi mati, klo si bayi yg dapet obat maka itu artinya dgn keterpaksaan dia meng-euthanasia dirinya sendiri scr halus, lha bijimane lagi? lha wong obatnya cmn satu....
dan pak dokter memang harus membiarkan menderita sampe mati salah satu dr mereka yg itu artinya mencabut nyawa org lain (scr pelan2) yg harusnya hanya dilakukan oleh Tuhan. dan parahnya dia mati dgn menderita.
kan pngennya mati dgn tidak menderita, makanya itu di euthanasia
ya gitu deh
![]()
![]()
![]()
namanya juga euthanasia. Selalu melibatkan unsur 'tertekan hingga terpaksa' dengan 'persetujuan' kedua belah pihak.
Harap bedakan euthanasia dg bunuh diri dan pembunuhan (baca:pembantaian)
Buat yang muslim... please read this...
Euthanasia menurut hukum ISlam
kesimpulan dari artikel tersebut...
Hukum euthanasia aktif
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS Al-An’aam : 151)
“Dan tidak layak bagi seorang mu`min membunuh seorang mu`min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja)…” (QS An-Nisaa` : 92)
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An-Nisaa` : 29).
Dari dalil-dalil di atas, jelaslah bahwa haram hukumnya bagi dokter melakukan euthanasia aktif. Sebab tindakan itu termasuk ke dalam kategori pembunuhan sengaja (al-qatlu al-‘amad) yang merupakan tindak pidana (jarimah) dan dosa besar.
Dokter yang melakukan euthanasia aktif, misalnya dengan memberikan suntikan mematikan, menurut hukum pidana Islam akan dijatuhi qishash (hukuman mati karena membunuh), oleh pemerintahan Islam (Khilafah), sesuai firman Allah :
“Telah diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (QS Al-Baqarah : 178)
Hukum euthanasia pasif
Berdasarkan penjelasan di atas, maka hukum pemasangan alat-alat bantu kepada pasien adalah sunnah, karena termasuk aktivitas berobat yang hukumnya sunnah. Karena itu, hukum euthanasia pasif dalam arti menghentikan pengobatan dengan mencabut alat-alat bantu pada pasien –setelah matinya/rusaknya organ otak—hukumnya boleh (jaiz) dan tidak haram bagi dokter. Jadi setelah mencabut alat-alat tersebut dari tubuh pasien, dokter tidak dapat dapat dikatakan berdosa dan tidak dapat dimintai tanggung jawab mengenai tindakannya itu (Zallum, 1998:69; Zuhaili, 1996:500; Utomo, 2003:182).
sedangkan untuk definisi dan pandangan enurut hukum2 agama yang lain please read this... Euthanasia menurut Wikipedia
Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi
Impossible is nothing!
enak benar nuduh orang lain visi dunia doang
coba ibu baca lagi kisah 2 sahabat yang sekarat
dan saling menolak untuk ditolong, serta meminta
agar sahabat yang lain lah untuk ditolong terlebih
dahulu.
Akhirnya, kedua sahabat meninggal karena sama-
sama menolak mendapat pertolongan.
kayanya Islam ngga ngajarin tuh, hidup di atas
penderitaan (apalagi kematian) orang lain (apalagi
bayi yang tak berdosa)![]()
Hahaha very clever
Sang kakek ketika rela dan ikhlas memberikan obat itu kepada sang bayi toh Allah akan mencatat amal baiknya dan MUNGKIN akan memasukkannya ke dalam surga
Sang bayi sih emang gak berdosa karena belum punya akal untuk memilih, bahkan untuk mengemukakan pendapatnya pun ia tak bisa
Kita yang dilema harus mengambil keputusan pun akan dimaklumi oleh Allah. Apakah kita akan memberikan obat kepada sang kakek, kepada sang bayi, tidak keduanya atau bahkan dibagi dua kepada keduanya. Sikon seperti ini sudah di luar kemampuannya, dan adalah sebuah keimanan bagi kita untuk menjadi mempercayai qadhaNya ini![]()
Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi
Impossible is nothing!
hah...susah emang ngemeng kalau udah beda visi...
Contoh yang ente berikan itu kan sesama manusia dewasa bukan? Adakah yang bayi tak berdosa? Jaman nabi ada gitu kasus euthanasia?
Bung, aye ngerti berat sebelah ente ke bayi itu.. Tapi coba netral dikit... Apa ente coba bayangin dikit, semisal,
1. Bayi kecil gak berdosa - meninggal - pasti masuk surga.. Jadi malaikat yang menunggu orangtuanya..
2. ITu bayi tumbuh besar, dewasa - pasti meninggal juga - belum tentu masuk surga (karena sudah pasti berdosa) - bisa jadi mampir neraka dulu...
Nah..bagian mana dari visi kita yang sama?
pertanyaannya jadi mirip kaya gini:
(sering kea di fim2 sinetron indonesia) (mendramatisir)
misalnya kita cuman ada biaya uang hanya untuk membeli susu bayi kita sendiri, sedangkan ada kakek kita satu2nya sedang butuh biaya untuk cuci darah, karena bayi, dianggap masih lebih penting dari Kakek,, dan kakekpun menolak untuk cuci darah,karena tahu, tidak ada biaya. Makanya kakek pulang kerumah, dan di rumah, penyakitnya malah parah, dan akhirnya meninggal.
Nah kalau yang itu,,sama gak dengan bunuh diri? atau Euthanasia?
*tapi sih mending usaha dulu, ke Kelurahan kek, ke mana kek, minta bantuan,, atau jual sana sini... pasti ada cara untuk menyelamatkan keduanya...*
Last edited by Nharura; 11-09-2011 at 04:06 PM.
Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa
"Sedekah Aja "
Sastra - > Dear Diary Inspirasi
Kucing - > Semua Tentang Kucing
PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara
kok jadi ngelantur sih? Kita kan ngemengin euthanasia...
Setiap kasus itu punya jawaban sendiri2..beda2 untuk tiap kasus...
Dan perbandingan yang anda (ronggolawe) ajukan itu, tidak sesuai dengan kasus yang ada.. Satu kasus satu solusi, gak bisa digeneralisir..
katakan, kasus A: banyak nyawa manusia yang seharusnya sudah mati karena penyakit, tapi karena intervensi dokter, obat, dan kita sendiri, akhirnya malah sembuh - bukankah itu menentang tuhan?
ato, kasus B: katakan orang yang koma ato katakan sudah sekarat, sudah tidak bisa bernafas ato hidup sendiri, tapi 'hidup'nya masi disupport oleh alat2 mesin laennya sehingga secara teknis dia masi hidup karena masih bernafas dan organ2 masi more or less "berfungsi", demi memperjuangkan hidup... - apakah itu juga menentang tuhan?
yak! ada apa?
ini yang tentang jack kevorkian itu kan? waduh. ini sala satu film dalam list film harus ditontonku
THANKS for posting this, kupikir postingan ini sangat menggambarkan the grey area dari euthanasia ini..Atau... film My Sister Keeper...
........
lalu si pasien berinisiatif untuk menjalani euthanasia secara halus (bukan suntikan mematikan, tapi menolak donor) agar keluarganya kembali utuh.. kembali menjadi keluarga yang bahagia...
Pada banyak kasus euthanasia, selain faktor penderitaan yg tak mungkin terobati, faktor ekonomi keluarga berperan. Ada yg pasiennya meminta sendiri karena kasian ekonomi keluarganya hancur gara biaya pengobatan, atau juga ada yg keluarganya yg meminta karena sudah tak sanggup membiayai keluarga yang sakit.
Euthanasia bukan sekedar masalah putus asa atau mengurangi penderitaan, tapi juga pilihan. pilihan untuk memberikan kesempatan bukan hanya kepada pasien tapi juga kesempatan untuk keluarga mereka. Karena hidup penuh pilihan, tinggal dipilih, pilihan mana yang akan diambil--meski tampak sulit![]()
kupikir yang sering diidentikkan dengan pendangan orang pada umumnya adalah dalam kasus euthanasia aktif, di mana pasien/dokter melakukan aksi yang secara aktif bisa mematikan pasien, seperti kasi suntikan ato obat mematikan
yang kurang disadari mungkin adalah euthanasia pasif, di mana life support ato obat2an yang menunjang kehidupan pasien itu dicabut, sehingga pasien itu mati secara alami.. ini juga termasuk euthanasia loh..
saya tidak akan menghakimi orang yang memutuskan untuk melakukan euthanasia. orang mo mati bunuh diri itu bukan urusan hitam putih. saya blom pernah nonton film my sister's keeper, tapi kalo saya berada di kasus seperti itu, saya tidak akan berpikir dua kali untuk melakukan hal yang sama, ato bahkan dengan inisiatif membunuh diri secara aktif..