Page 3 of 3 FirstFirst 123
Results 41 to 43 of 43

Thread: budaya melayani diri sendiri

  1. #41
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    mbok, kalo menurutku perlu dilihat2 background dan budayanya di indo. di eropa di amrik, mungkin ikea itu merek kelas bawah. tapi kalo ternyata di indo ga taunya ikea untuk kelas menengah keatas, then asumsi di atas ga bener. ya ga tau juga kenapa bisa jadi untuk kelas menengah ke atas, mungkin seperti yang tusc bilang, setelah dikonversi kurs, jatohnya jadi mahal untuk ukuran dompet indo kali.

    regardless, i'm not going to be too quick to judge tanpa mepertimbangkan budaya. kurasa ini sangat berperan besar.
    I don't give a sh1t if Ikea is for the lower or higher class.

    Yang mbok lihat ada tulisan mengkritik tanpa mengerti yang dikritik. So who's judging the Indonesians without thinking about their OWN culture?


    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    likewise budaya clean after yourself. menurutku orang indo selama ini ngga ada praktek seperti itu, jadi ga ada asumsi bahwa di foodcourt etc musti beresin alat sendiri. emang dari dulu ga ada praktek itu. kalo ternyata ikea mulai tradisi ini, then give it time. biarkan info itu propagate (halah ) ke masyarakat.

    all in all, saya sih mendukung budaya clean after yourself ini ya. sama seperti budaya pembantu, we need to wean away from that
    Lha.. mbok bilang juga give it some time, or what they call process, karena setiap orang butuh waktu untuk mencerna hal yang baru. Jangan belum apa-apa langsung mengkritik, ketahuan baru melek.
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  2. #42
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    Eh.. sorry for what? That's what going on here, isn't it? ....
    Eh ? Ok, Then.
    Siap laksanaken, Mbok.
    A proud SpaceBattler now.

  3. #43
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Quote Originally Posted by tsu View Post
    sama kaya Zara dan Uniqlo kan ? disana merek terjangkau, disini kok mehong wkwkwkkwk

    anw, OT yah
    Zara murah kalau beli di negara asalnya (Spain), meskipun gitu kalo dikurskan ke rupiah tetap jadi mahal bagi kantong kebanyakan orang Indonesia di Indonesia.

    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    lha, jauh amat bandingannya jati kan mahal?
    barang2 ikea biasa pake 'ampas'nya kayu yang dikompres, jelas beda donk sama jati.
    you get what you pay for deh ya
    Saya kan bicara dari segi harga yang katanya sama mahalnya. Kalo sama mahal mending beli jati, gitu loh. Kalo sama murah, mending beli Olympic?
    #cintaprodukindonesia

    regardless, i'm not going to be too quick to judge tanpa mepertimbangkan budaya. kurasa ini sangat berperan besar.
    kalo yang ini saya setuju banget. dari sudut pandang lain, saya kira ikea yang mestinya menyesuaikan dengan budaya lokal. kalo mau memaksakan budaya luar ke konteks lokal, yha siap-siap tidak sesuai target.

    likewise budaya clean after yourself. menurutku orang indo selama ini ngga ada praktek seperti itu, jadi ga ada asumsi bahwa di foodcourt etc musti beresin alat sendiri. emang dari dulu ga ada praktek itu. kalo ternyata ikea mulai tradisi ini, then give it time. biarkan info itu propagate (halah ) ke masyarakat.

    all in all, saya sih mendukung budaya clean after yourself ini ya. sama seperti budaya pembantu, we need to wean away from that
    Kembali ke konteks lokal, budaya clean after yourself di rumah makan memang bukan bagian dari budaya Indonesia. Lha pelayan berkeliaran di mana-mana. Kalo nggak ada lowongan pelayan rumah makan, yang pendidikannya rendah bakal banyak yang jadi pengangguran. Demikian juga pembantu. Beda lah dengan negara maju dan belum pas untuk sampai ke kesimpulan: kalo nggak begitu maka dianggap sebagai kesalahan.

    Point dari [MENTION=41]kandalf[/MENTION] juga menarik. Kurang budaya baca. Kalo pun terbaca, lihat-lihat dulu di sekitar ada nggak yang melaksanaken, kalo nggak ada ngapain dilaksanaken? Untuk Ikea sendiri, ya nggak cukup cuma pasang banner minta customer menaruh bakinya di situ. Sedari awal yang menyajikan makan mesti ngasi tau. Terus pasang gambar gede-gede sebagai contoh, bukan tulisan doang. Habis itu masih nggak mempan, pake cara lain sampe berhasil.



    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    I don't give a sh1t if Ikea is for the lower or higher class.

    Yang mbok lihat ada tulisan mengkritik tanpa mengerti yang dikritik. So who's judging the Indonesians without thinking about their OWN culture?
    Lha.. mbok bilang juga give it some time, or what they call process, karena setiap orang butuh waktu untuk mencerna hal yang baru. Jangan belum apa-apa langsung mengkritik, ketahuan baru melek.
    +1.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

Page 3 of 3 FirstFirst 123

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •