Page 3 of 12 FirstFirst 12345 ... LastLast
Results 41 to 60 of 229

Thread: Percaya Tuhan atau Agama?

  1. #41
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    menurut om apa?
    Tuhan itu agamanya ya islam. Ya buddha. Ya atheist. Ya kristen. Ntar kalo ada agama baru ya tuhan juga ikutan.

    Kalo menurut kakak? Tuhan agamanya apa?

    ---------- Post Merged at 11:41 PM ----------

    Quote Originally Posted by purpose View Post
    Jadi Tuhan itu pasti punya agama ya? Dan kesimpulan trit ini adalah Ts ini percaya pada satu agama saja. Karna dia belum mempelajari semua agama yg ada di dunia.
    Bisa juga udah mempelajari tapi cuma buat perbandingan aja.

    Kayak belanja ditoko, cuma nanya harga tapi kaga beli, mau nyoba barangnya kaga enak hati atau gak boleh sama pedagangnya. Mbanding-mbandingin buat nyari yg murah, bagus dan awet.

  2. #42
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    silakan baca dipostingan halaman dua yang terakhir. itu menurut Quran bukan menurut saya.
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  3. #43
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    “ Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Alloh adalah Islam.” (QS Ali Imron : 19)
    Good job. :2thumbup
    Next? Anyone?

    (di alam dualitas orang yg sensi dikritik, akan girang kalo dihargai)

    ---------- Post Merged at 11:52 PM ----------

    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    silakan baca dipostingan halaman dua yang terakhir. itu menurut Quran bukan menurut saya.
    Oh oke, jadi menurut quran agamanya allah itu islam. Apakah allah, menurut quran, juga terikat dengan hukum agama islam?

  4. #44

    Membuat tuhan dan kitab suci

    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    pada intinya pada agama2 dunia ada banyak kesamaan bahkan disimpulkan semua sumbernya sama.
    misalnya pada islam ada kisah isra miraj dengan menggunakan burung, di hindu dan agama lain juga ada sosok burung dibahas (misal di hindu ada wisnu)
    - setuju bahwa semua agama sumbernya sama.



    agama dari awal buatan manusia, makin ke sini makin disempurnakan. tadinya pemahamannya baru sampai politeisme lalu manusia berpikir lagi sampai menyimpulkan monoteisme.
    - politeisme ke monoteisme = kisah Nabi Ibrahim
    - tidak setuju klo dibilang dari awal agama adalah buatan manusia.
    - Agama dari awal adalah perkataan Tuhan, dengan perantaraan Jibril, disampaikan ke Nabi/Rasul.
    -Setelah Nabi/Rasul ini wafat(tdk lagi jadi penghuni permukaan bumi) terjadi penyelewengan dan penyimpangan ajaran agama. Mereka melakukan penyimpangan dan pengerusakan terhadap agama, terutama terhadap kitab sucinya. Terjadi penambahan atau pengurangan tanpa alasan tepat. Ayat-ayat palsu diciptakan untuk melegitimasi tindakan politik, akibatnya perpecahan yang membelah umat menjadi sekte-sekte. Atau bahkan lebih buruk lagi generasi berikutnya kehilangan kepercayaan terhadap agama.
    - imho rusaknya kitab suci setelah waktu tertentu inilah penyebab jumlah nabi/rasul yang dikenal tidak cuma 1, mencapai 25 klo di ajaran islam, bahkan lebih klo ditambah Budha dan yang lainnya.



    para pembuat kitab suci itu adalah orang2 yang jenius (atau super jenius) sehingga bisa menuliskannya. sehingga dianggap agama buatan manusia. manusia2 jenius itu yang menciptakan agama , cara menuju tuhan.
    - ada mushaf/lembaran, Zabur, Taurat, Injil, lalu (terakhir) Qur’an. Pada awalnya semua kitab suci itu adalah firman Tuhan. Bukan buatan/karangan manusia. Hanya saja ada yang TERLINDUNG dari kejahilan tangan manusia tetapi ada yang ter-jahil-i.
    -No offense, q sama sekali tidak ada maksud untuk meng-judge bahwa kitab suci tertentu adalah tidak lagi murni dari ka-jahil-an manusia. Lakum dinukum waliyadin (Untukmu keyakinanmu, q tetep pada keyakinan sendiri).



    menarik, satu kata kunci "hidayah" ini juga salah satu pembahasan ama suamiku terkait topik ini. proses penerimaan wahyu karena ada hidayah dari tuhan kepada manusia.
    - btw imho, ‘wahyu’ & ‘hidayah’ adalah dua hal yg berbeda. Klo Jibril terlibat disebut wahyu. Klo tanpa lewat perantara Jibril disebut hidayah(cmiiw).
    Last edited by MoonCying; 09-03-2014 at 11:25 AM.

  5. #45
    "agamanya allah itu islam" =
    "Agama yg diridoi Allah adalah Islam".

    agama = kitab suci. Di kitab suci ada perintah & larangan, selanjutnya perintah & larangan yg tercantum di kitab suci disebut hukum agama.

    Apakah allah, menurut quran, juga terikat dengan hukum agama islam?
    Jawab : Allah adalah yang membuat Qur'an.

    tetapi Qur'an hanyalah salah satu sumber dari 3 sumber hukum agama islam(cmiiw).

    Hukum agama Islam ada yang sumbernya Qur'an, ada dari hadis (hadis=perkataan/perbuatan nabi), ada pula dari fatwa ulama.

    hadis ada berbagai macam. yg diyakini kebenarannya dikarenakan diriwayatkan oleh orang banyak yg mustahil mereka sepakat dalam kedustaan disebut hadis mutawatir.

    tetapi ada pula hadis yg diragukan kebenarannya, bahkan di-judge 'bukan berasal dari Muhammad'. perawinya dusta mengenai hadis ini. Disebut hadis Maudu'.

    & ada lebih banyak lagi hadis yg tingkatannya ada diantara mutawatir dan maudu'.

    Sedangkan mengenai fatwa ulama. Selain Sunni & Syiah yg kabarnya satu sama lain walau meng-iman-i nabi yang sama tetapi saling menumpahkan darah, total ada 4 madzab.

    Madzab = pemahaman ulama besar. Yg ulama tersebut besar jumlah pengikutnya.

  6. #46
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Maksudnya topik ini para theis sedang bimbang pada tuhannya?

  7. #47
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by MoonCying View Post
    Sedangkan mengenai fatwa ulama. Selain Sunni & Syiah yg kabarnya satu sama lain walau meng-iman-i nabi yang sama tetapi saling menumpahkan darah, total ada 4 madzab.

    Madzab = pemahaman ulama besar. Yg ulama tersebut besar jumlah pengikutnya.
    [MENTION=1341]MoonCying[/MENTION] : Apa maksudnya kutipan yang kutandai dengan warna merah?
    Jadi 4 Mazhab itu adalah di luar Syiah dan Sunni ?

    4 Mazhab itu Sunni.
    Syiah itu lain sendiri, biasanya mereka sering mengatakan mazhab kelima walau pernyataan itu sering ditolak oleh Sunni.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Maksudnya topik ini para theis sedang bimbang pada tuhannya?
    Ya.. kalau kata um Ronggolawe,
    kalau masih terjebak ama topik macam ini berarti masih nubie, belum veteran.


    Ini topik sebenarnya gak akan selesai selama para teis tidak mau mengakui kalau menerapkan standar ganda.
    Untuk menilai agama sendiri, biasanya akan bilang berasal dari Tuhan, kecuali Umat Buddha yang memang rada 'agnostik'.. makanya aku cukup terkejut kawannya Cha_n itu Hindu. Yakin Hindu? Bukan Buddha? Karena sebenarnya itu pemikiran yang cukup 'sesat' lho alias sudah liberal.
    Untuk menilai agama lain, biasanya menganggap sebagai bentukan manusia, bahkan untuk sesama abrahamic, seperti mengatakan kalau Yahudi dan Nasrani sudah diutak-atik oleh manusia.

    Padahal, kalau kalian benar-benar mau obyektif,
    "Islam" yang kita kenal sekarang, sebenarnya sudah terkooptasi oleh tangan manusia.

    Mulai dari fatwa yang jelas pasti melibatkan 'ijtihad' yang jelas akal manusia.
    Atau mulai dari pemilihan hadits melibatkan berbagai kriteria seperti pemilihan periwayat-periwayat (isnad) atau penilaian terhadap isi (matan) atau bahkan tradisi penduduk Madinah di mana masing-masing ulama memiliki preferensinya sendiri alias ada akal manusia dalam memilih kriteria yang disukai. Itu sebabnya akhirnya melahirkan mazhab-mazhab dari yang sering dinistakan seperti Muta'zilah, sampai yang diakui, yakni 4 mazhab Sunni tersebut (tentu saja Syiah beda pandangan).

    Atau mau menyatakan bahwa kalau bersandar AlQuran pasti obyektif?
    Saya pernah berada di komunitas Quraniyyun dan ternyata tetap saja kami berdebat. Sekarang, perkembangannya, ada yang jadi ateis, ada juga yang masih bersikukuh dengan pandangannya walau dicap sesat (seperti Al-Qiyadah Al-Islamiyah), atau bahkan mungkin seperti saya, justru malah kadang2 tertarik melihat fatwa2 ulama Sunni yang mirip2 dengan apa yang saya percaya.

    Saya sendiri lebih suka akhirnya 'memungut' fatwa ulama Sunni yang dekat dengan pendapat saya karena efeknya sebagai hujjah lebih kukuh (dan biasanya jarang yang nanggapi karena gak berani ngedebat ulama) dibandingkan kalau saya langsung nulis artikel sendiri.


    Nah, balik lagi ke soal AlQuran,
    kenyataannya dalam memahami AlQuran ada yang namanya keterlibatan akal.
    Dan kita sebenarnya gak obyektif dalam membaca teks yang sama.

    Soal nasakh-mansukh misalnya, pasti cenderung antara mengikuti satu pendapat apakah itu di nasakh atau tidak, atau bahkan mengikuti pendapat yang membuang konsep itu sama sekali. Bagitu juga konsep asbabun nuzul, ada yang mengikuti pendapat wajib hukumnya melihat asbabun nuzul tetapi ada yang hanya menggunakan asbabun nuzul sebagai pertimbangan, tetapi ada juga yang membuang sama sekali.

    Ah mungkin sebaiknya saya pungut salah satu kegalauan seorang ustadz mengenai slogan 'Kembali ke Quran' di mana ustadz ini menunjukkan perbedaan pendapat di antara ulama2 terdahulu mengenai Quran.

    http://www.rumahfiqih.com/fikrah/v.p...ari-khilafiyah
    Spoiler for Kembali ke Quran untuk menghindari Khilafiyah?:

    By : Ahmad Sarwat, Lc., MA - [ baca semua tulisan ]
    3 February 2014, 06:03:04
    Dibaca : 2105 kali | Baca Versi HP Disini

    Dalam sebuah rapat pendirian satu ormas Islam yang dihadiri oleh banyak tokoh Islam, saya diminta memperkenalkan diri dengan menyebutkan bidang keilmuan dan aktifitas sehari-hari.

    Saat itu dengan polos saya bilang bahwa ilmu yang saya tekuni adalah ilmu fiqih, khususnya fiqih perbandingan mazhab. Dan aktifitas saya banyak tercurah di Rumah Fiqih Indonesia. Sehari-hari kami melakukan berbagai penelitian terkait dengan hukum-hukum syariat, termasuk juga berbagai perbedaan pendapat ulama.

    Saat itu spontan ada yang nyeletuk, mungkin sambil guyon,"Wah, berarti tiap hari mengurus masalah khilafiyah, tuh". Yang lain juga ikutan nyeletuk,"Hari gini kok masih saja bicara perbedaan pendapat, ustadz?". Hadirin yang lain ikut tertawa meski agak ditahan, saya tidak tahu maksudnya mentertawakan siapa.

    Saya jawab saat itu,"Kebetulan dulu saya kuliah di Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Mazhab. Disana kita memang bicara tentang komparasi perbedaan pendapat hukum-hukum fiqih di antara para ulama dan mujtahidin".

    Dari sepenggal kisah itu, saya sedikit mendapat masukan bahwa ternyata masih banyak kalangan yang memandang ilmu fiqih, khususnya tentang ikhtilaf dan perbandingan mazhab, dengan sebelah mata. Dan kesan yang saya tangkap memang banyak kalangan yang kurang lengkap pemahamannya.

    Sedihnya lagi, yang mempertanyakan hal di atas bukan dari kalangan orang awam, tetapi mereka yang dikenal sebagai da'i dan aktifis dakwah.


    * * *

    Pada kala yang lain, ada satu teman sesama ustadz yang penasaran bertanya kepada saya. Atau mungkin lebih tepatnya mempertanyakan. Sebut saja namanya Ustadz Abdul. Beliau bertanya begini kepada saya :

    "Ustadz, bukankah kita ini butuh persatuan umat agar bisa kuat?. Namun kalau saya perhatikan, materi-materi ceramah antum masih saja berkutat dengan masalah-masalah furu'iyah yang banyak khilafiyahnya. Bukankah hal ini malah cenderung kurang produktif?. Mestinya kan kita tinggalkan saja semua masalah khilafiyah itu dan kembali ke Al-Quran. Bukankah Al-Quran itu menyatukan kita seluruh umat Islam?"

    Agak bengong juga saya diberondong dengan pertanyaan seperti itu. Sudah panjang, pertanyaannya tajam dan menukik pula. Terpaksa harus saya jawab juga pertanyaannya.

    "Saya amat setuju persatuan umat Islam. Dan saya 100% mendukung untuk kita berpegang teguh dengan Al-Quran. Dan saya pun juga tidak ingin umat Islam berpecah-belah dan saling caci maki, gara-gara meributkan masalah khilafiyah", jawab saya.

    "Kalau memang begitu, lantas kenapa masih saja mengangkat masalah khilafiyah? Nanti umat jadi makin asyik berbeda pendapat dan semakin jauh dari Al-Quran?, tanya Ustadz Abdul lagi.

    "Kalau masalah khilafiyah, rasanya tidak mungkin kita hindari. Jangankan dalam ilmu fiqih, bahkan di dalam Al-Quran sendiri pun tetap saja ada masalah khilafiyah", jawab saya.

    "Ah, mana mungkin ya ustadz. Al-Quran kan kitab yang turun dari Allah SWT. Masa antum bilang di dalam Al-Quran terdapat masalah khilafiyah? Yang bener aja, ustadz", ujarnya bernada protes.

    "Kalau antum tidak percaya, coba jawab pertanyaan saya ini : apakah lafadz bismillahirrahmanirrahim itu termasuk bagian dari surat Al-Fatihah atau bukan?", pancing saya.

    "Hmm, sebenarnya ada yang bilang bukan bagian dari surat Al-Fatihah, sih. Tetapi menurut saya, termasuk bagian dari surat Al-Fatihah", jawabnya agak ragu.

    "Jadi yang benar yang mana nih, bismillah itu bagian dari Al-Fatihah atau tidak?", begitu saya tegaskan. Dia diam agak lama sambil mikir.

    "Sudah lah, jawabannya kan itu masalah khilafiyah di antara para ulama. Gampang saja jawabnya," potong saya.

    "Iya juga sih kalau dipikir-pikir", jawabnya agak ragu.

    "Nih, lagi jawab pertanyaan saja : berapa sebenarnya jumlah total seluruh ayat Al-Quran?", tambah saya.

    "Ah, itu sih gampang, jawabnya enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat", jawabnya mantab.

    Saya balik bertanya,"Yakin nih antum jawabnya 6.666 ayat?".

    "Lho memangnya bukan segitu? Kan dari kecil kita sudah dikasih tahu segitu. Lagian waktu masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah dulu kan jadi soal ulangan. Dan kalau kita jawab segitu, pak gurunya membenarkan.

    Saya bilang,"Ya, Ustadz Abdul. Untuk menetapkan berapa jumlah ayat Al-Quran, ternyata para ulama pun berbeda-beda jawabannya".

    "Ah, masak sih? Yang benar nih antum?", tanya dia kurang percaya.

    "Kalau kita telusuri, ternyata memang benar bahwa para ulama berbeda-benda ketika menghitung jumlah ayat Al-Quran. Menurut Nafi' yang merupakan ulama Madinah, jumlah tepatnya adalah 6.217 ayat. Sedangkan Syaibah yang juga ulama Madinah, jumlah tepatnya 6.214 ayat. Lain lagi dengan pendapat Abu Ja'far, meski juga merupakan ulama Madinah, beliau mengatakan bahwa jumlah tepatnya 6.210 ayat", sambung saya.

    Ustadz Abdul masih agak bengong mendengarkan, saya sambung lagi,"Antum tahu Ibnu Katsir, kan?"

    "Ya tahu, ulama ahli tafsir yang kitabnya termasyhur itu, Tafsir Ibnu Katsir", jawab Ustadz Abdul.

    "Nah, kalau menurut hitungan Ibnu Katsir, jumlahnya ayat Al-Quran itu ada 6.220 ayat. Hasil hitungannya beda dengan hitungan ulama lainnya", ujar saya.

    Ustadz Abdul mengangguk-anggukan kepala perlahan, tidak jelas maksudnya, apakah mengerti atau malah mungkin agak bingung.

    "Lalu 'Ashim yang merupakan ulama Bashrah mengatakan bahwa jumlah ayat al-Quran ialah 6.205 ayat. Hamzah yang merupakan ulama Kufah sebagaimana yang diriwayatkan mengatakan bahwa jumlahnya 6.236 ayat. Dan pendapat ulama Syria sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yahya Ibn al-Harits mengatakan bahwa jumlahnya 6.226 ayat", tambah saya.

    "Jadi bagaimana kita bilang di dalam Al-Quran tidak ada perbedaan atau khilafiyah. Lha wong ngitung berapa jumlah ayatnya saja, para ulama sudah beda-beda", pancing saya.

    Ustadz Abdul diam agak lama sambil dahinya berkerut dua belas lipatan, mungkin otaknya sedang dipaksa berpikir agak keras.

    "Ini pertanyaan terakhir, silahkan jawab kalau antum bersedia dan tahu jawabannya", tiba-tiba saya berkata memecah kesunyian.

    "Pertanyaannya apa? Mana soalnya?", ujar Ustadz Abdul penasaran.

    "Sebutkan ayat mana yang terakhir kali diturunkan?', tanya saya.

    "Wah itu sih kecil. Jawabnya ya ayat ketiga surat Al-Maidah. Al-Yauma akmaltu lakum dinakum dan seterusnya", jawab Ustadz Abdul dengan mantab.

    "Jawaban antum sebenarnya tidak salah, tetapi perlu diketahui bahwa itu adalah salah satu jawaban dari sekian banyak jawaban para ulama", jawab saya.

    "Maksudnya?", tanya Ustadz Abdul penasaran.

    "Selain pendapat antum itu, ada beberapa pendapat yang berbeda terkait dengan ayat yang turun terakhir. Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa ayat yang terakhir turun adalah ayat riba, yaitu surat Al-Baqarah ayat 278 :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

    Sedangkan Al-Imam An-Nasa'i meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Said bin Jubair, bahwa ayat yang terakhir kalli turun adalah surat Al-Baqarah ayat 281:
    وَاتَّقُوا يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

    Dan versi Said bin Al-Musayyib lain lagi. Menurut beliau ayat yang terakhir turun ayat tentang hutang piutang, yaitu surat Al-Baqarah ayat 282.
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً فَاكْتُبُوهُ
    Nah, siapa bilang dengan kembali ke Al-Quran dijamin tidak ada khilafiyah atau perbedaan pendapat?", kata saya mengakhiri percakapan dengan Ustadz Abdul.

    * * *

    Memang benar sekali. Baru bicara ayat pertama tentang bismillah, apakah termasuk bagian dari surat Al-Fatihah atau bukan, para ulama sudah berbeda pendapat. Terus menghitung jumlah total ayat Al-Quran, ternyata beda pendapat lagi. Dan menetapkan mana ayat yang terakhir turun, lagi-lagi beda pendapat.

    Jadi kesimpulannya, yang namanya beda pendapat itu bukan monopoli ilmu fiqih saja. Bahkan ilmu Al-Quran sendiri pun penuh dengan perbedaan pendapat. Semua hal di atas belum terhitung kalau kita bicara tentang perbedaan qiraat yang ada begitu banyak jalur periwayatannya.

    Dalam ilmu hadits pun kita akan menemui begitu banyak perbedaan pendapat. Ilmu Tafsir malah lebih banyak lagi perbedaan pendapatnya. Malah dalam ilmu gramatika Bahasa Arab alias ilmu Nahwu, kita pun berhadapan dengan ulama Kufiyyin dan Bashriyyin, yang selalu saja beda pendapat.

    Lepas dari semua ini, yang penting untuk dicatat bahwa berbeda pendapat itu bukan dosa atau hal yang tabu. Dan mustahil kita menghilangkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

    Maka mari kita membiasakan diri untuk nyaman dengan adanya perbedaan pendapat itu. Toh dahulu para shahabat pun sering berbeda pendapat. Para tabi'in dan generasi salafunash-shalih pun terbiasa berbeda pendapat. Namun hebatnya, mereka tetap santun dan saling menghargai perbedaan pendapat.

    Yang haram adalah berantem, saling caci, saling maki dan saling merasa paling benar sendiri karena perbedaan pendapat. Apalagi kalau sudah menulis komen di media sosial terhadap pendapat yang tidak sejalan dengan dirinya, sampai penghuni kebun binatang diabsen namanya satu per satu. Naudzubillah min tilka.

    Sikap-sikap seperti inilah yang harus kita hindari. Dan untuk menghindarinya, justru wawasan kita harus terbuka luas. Kita harus pelajari adanya perbedaan pendapat para ulama itu. Baru kita bisa nantinya menghormati perbedaan pendapat.

    Sedangkan kalau ilmunya cetek dan sempit, tahunya cuma apa yang diajarkan gurunya, selebihnya cuma dapat dari copy paste di internet, tidak pernah tahu adanya perbedaan pendapat para ulama, biasanya malah cenderung fanatik dan mudah menyalahkan orang lain. Semakin keras bahasa yang digunakan, semakin kelihatan bodohnya.

    Itulah gunanya kita belajar ilmu fiqih yang membahas berbagai perbedaan pendapat ulama. Tujuannya, justru biar kita tidak mudah menyalahkan orang.

    Wallahu 'alam bishshawab.


    Dan, toh, yang Muslim, dengan begitu banyak perbedaan yang menunjukkan adanya keterlibatan akal manusia, tetap percaya yang dia yakini adalah ajaran dari Tuhannya.

    Itu kontradiksinya, standar gandanya.
    Dengan jelas-jelas bukti keterlibatan akal manusia dalam membentuk agama, tetap percaya agamanya adalah yang berasal dari Tuhan.
    Makanya, ulama2 sekarang lebih suka bilang "Wallahu 'alam bishawab"
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  8. #48
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    ^ tuh jawapan yang sudah veteran...

    saya tidak akan komen panjang lebar lagi, itu memang kelebihan yang dianugerahkan Tuhan pada para IT specialist yang saban hari menulis kode di depan komputer dan lebih mungkin untuk nyasar di forum internet

    Jadi cuma pendek saja...
    anak dan istri sedang liburan keluar kota, saya sendirian di rumah... rasanya sepi...

    <dan ini bukan OOT>
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  9. #49
    [MENTION=41]kandalf[/MENTION] : maaf salah memilih kata.

    ralat deh : termasuk sunni & syiah di islam total ada 4 madzab.

    lalu klo dibilang 4 madzab itu yaa = sunni, sedangkan syiah adalah madzab kelima : no coment dah. abis baru pertama ini q baca ada madzab ke-5.



    klo yg ditulis um Ronggolawe, q nangkepnya gini :
    -veteran = "emang males mikir sih" = fakta bahwa Tuhan ada telah masuk di Hati = gak ada acara mikir lagi = ada peristiwa isra' miraj yg di luar akal : "yaa saya percaya" (percaya dari hati). contoh veteran : Abu Bakar as sidiq sang khalifah pertama.

    -Nubie = sering ditanyain = ntah di hati/fikiran sekali waktu masih terbersit tanya = fakta bahwa tuhan ada blum meresap di hati = cuma tunduk (karena takut ditarik pajak/jisyah, atau mungkin karena si dia merasa lebih aman klo ngaku islam, walau lain di mulut di hati belum lagi tersentuh cahaya islam). Contoh nubie/pemula : orang yg murtad saat Muhammad menyampaikan berita peristiwa isra' miraj.



    Ttg teis menerapkan standar ganda.
    aq ngaku deh, aq emang menerapkan standar ganda.
    aq meyakini islam adalah agama yg paling oke = firman Tuhan = pedoman = "way of life" (sikap hidup ideal).

    aq lahir udah islam, setelah memasuki usia 30 tahun, juga gak nemu "agama/dien" yg lebih yahud selain islam.

    &q berpendapat meyakini agama sendiri yg paling benar itu wajar, yaa emang seharusnya begitu.

    Andai aja, andai aja, seandainya hati & pikiran q bisa meyakini semua agama yg ada hari ini adalah sama saja, tentu q akan memilih agama yg larangannya paling sedikit/ringan. Ataupun memilih agama yg perintah/ritual ibadahnya paling mudah.

    Tapi aq tdk bisa mengondisikan hati & pikiran agar seperti itu. & (no offense) berpikir bahwa semua agama adalah sama saja, sama benarnya. imho adalah absurd.

    Standar ganda (atau klo q lebih suka menyebutnya "yakin bahwa agama/dien yg dianutnya adalah yg paling benar") q kira wajar saja, normal itu mah .... .
    Yang gak normal & melampaui batas wajar adalah mencela agama/dien/keyakinan/aliran kepercayaan manusia lain.



    Mengenai bismilah bagian dari qur'an atau tidak,
    Jumlah ayat 6.666 atau 6.210,
    mana ayat yg terakhir diturunkan ... .ehh klo yg ini q berpendapat deh, klo 2 yg sebelumnya woless.

    Seingat q ayat qur'an terakhir turun itu pas saat haji wada'.
    Bunyi ayatnya : telah kusempurnakan islam menjadi agama'mu' dst.
    (Judul surat & no.ayat aq lupa)



    -Madzab = ijtihad = sudah pasti ada keterlibatan akal manusia.

    -kisah Malaikat membelah dada Muhammad pas balita= cerita-cerita ajaib yg sejenis = seperti halnya ada hadis maudu', ada hadis mutawatir & ada yg diantara maudu' - mutawatir = tidak pasti tetapi dimungkinkan adanya tambahan/ pengurangan cerita oleh perawi hadis = perlu ditelaah dg akal & dirasa dg hati, mungkinkah Muhammad yg akhlaknya adalah qur'an akan berkata/berperilaku seperti yg dibilang oleh hadis.

    -qur'an = mpe hari ini 9 maret 2014 q blum pernah baca/dengar bahwa ada "keterlibatan akal manusia dalam membentuk isi -walau cuma satu kata- qur'an".

    Agama bagi q = kitab suci petunjuk ibadah. dan q percaya bahwa qur'an bukanlah karangan Muhammad. Qur'an adalah perkataan Tuhan yg disampaikan dg perantaraan Jibril kepada Muhammad. Wallahu 'alam bishshawab.
    Last edited by MoonCying; 09-03-2014 at 05:02 PM.

  10. #50
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    klo yg ditulis um Ronggolawe, q nangkepnya gini :
    -veteran = "emang males mikir sih" = fakta bahwa Tuhan ada telah masuk di Hati = gak ada acara mikir lagi = ada peristiwa isra' miraj yg di luar akal : "yaa saya percaya" (percaya dari hati). contoh veteran : Abu Bakar as sidiq sang khalifah pertama.

    -Nubie = sering ditanyain = ntah di hati/fikiran sekali waktu masih terbersit tanya = fakta bahwa tuhan ada blum meresap di hati = cuma tunduk (karena takut ditarik pajak/jisyah, atau mungkin karena si dia merasa lebih aman klo ngaku islam, walau lain di mulut di hati belum lagi tersentuh cahaya islam). Contoh nubie/pemula : orang yg murtad saat Muhammad menyampaikan berita peristiwa isra' miraj.
    loe harus tahu dulu asbabun posting tersebut, kena
    pa muncul post demikian

    Dalam kasus TS kan jelas kalau dirinya (TS) berulang
    kali "diajak diskusi" oleh teman nya.

    nah, berhubung gw kenal TS, jadi gw tahu kalau TS
    sudah malang melintang dalam diskusi dunia maya,
    apalagi diskusi agama-filsafat dan sejenisnya, maka
    nya gw anggap TS tergolong Veteran, yang mungkin
    sudah "move on" dari kegiatan diskusi tanpa ujung (gw
    anggap diskusi tentang agama dan antar agama seba
    gai diskusi tanpa ujung, karena ngga jelas mau kema
    na diskusi itu akan berakhir), sedangkan si teman yang
    agresif, menurut gw terlihat nubie, barangkali dia baru
    "tercerahkan", lalu dengan semangat 45 mulai "seruduk"
    sana sini.

    ---------- Post Merged at 05:38 PM ----------

    Ini topik sebenarnya gak akan selesai selama para teis tidak mau mengakui kalau menerapkan standar ganda.
    ....
    ....
    ....

    Itu kontradiksinya, standar gandanya.
    kalau ngutip "standar ganda" gw jadi ingat veteran
    diskusi antar agama yang sampai sekarang masih
    saja bermental nubie

    Padahal, kalau kalian benar-benar mau obyektif,
    "Islam" yang kita kenal sekarang, sebenarnya sudah terkooptasi oleh tangan manusia.
    Dari awal, Islam tidak lepas dari "peran" manusia,
    buktinya Al Quran diturunkan dengan bahasa Arab,
    bukan bahasa Malaikat

    menurut gw, Umat Islam cuma meng-imani bah
    wa Al Quran "bunyi bacaannya" adalah murni da
    ri Allah, tidak berubah dari dulu hingga sekarang.

    cuma memang, terjadi generalisasi sehingga tim
    bul kasus yang loe sebutkan, tetapi menurut gw
    itu bukan standar ganda, melainkan ketidaktahu
    an saja.

    "Cerdiknya", ketidaktahuan tersebut dimanfaatkan
    dengan pertanyaan provokatif "Percaya Tuhan
    atau Percaya Agama"?

    lah, kalau gw jawab gw percaya Tuhan dan perca
    ya Agama, emang kenapa? itu kan pake "atau" ja
    di ngga ada masalah. Masalahnya, "nubie" Islam
    yang ngga mendalami Logika, ikut terprovokasi
    Last edited by Ronggolawe; 09-03-2014 at 05:40 PM.
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

  11. #51
    btw aq salah tangkep yaa



    Nubie = yg masih suka "seruduk" sana sini.

    Veteran = yg udah "move on" dari diskusi tanpa ujung.

    Okee, siippp
    Last edited by MoonCying; 09-03-2014 at 05:59 PM.

  12. #52
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    kesimpulannya.. loe ama gw masih sama-sama nubie,
    buktinya masih nangkring di sini
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

  13. #53
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Halagh.. diskusi kok pake istilah veteran dan nubie segala? Diskusi, ya diskusi saja. Yg mau, silakan menyampaikan pendapatnya. Yg tidak, ya nyimak atau diam saja.


  14. #54
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Kelamaan menulis jawaban malah tertendang. Kalau posting jawabannya udah gak cocok dengan alur diskusi. Ya sudah ah.. balik kerja lagi.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  15. #55
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    wkwkwkwkwkw... ada yang ngambek diindikasikan
    nubie
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

  16. #56
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    ... ada yang perang brubuh, ada yang bertengkar, ada yang bersitegang, ada yang berdebat, ada yang berdiskusi, ada yang ngobrol, dan ada yang ngopi bareng kawan...

    Bukan diem atau rame, veteran ato nubie... tapi hobi nyangkul di ladang yang berbeda...

    #tidur_dulu...
    #masi_ngantuq...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  17. #57
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    saya rasa juga bukan standar ganda, tapi sebagai complementary antara yang menciptakan dan yang menjalankan
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  18. #58
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Udah nih?
    Ngono thok?


  19. #59
    pelanggan Casanova Love's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    451
    Hmmm...
    Kl dari nyang saya liat-liat dari bragam agama dan kpercayaan, maka ada 3 jenis Tuhan yg rata-rata diimani manusia.

    1. Tuhan yg personal
    2. Tuhan yg semi-personal
    3. Tuhan yg impersonal

    Smakin 'impersonal' sosok Tuhan dlm agama/kpercayaan tsb, maka smakin pnganutnya akan pcaya 'agama' (saya ssuaikan dg bahasa TS).

  20. #60
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by kandalf View Post


    Ini topik sebenarnya gak akan selesai selama para teis tidak mau mengakui kalau menerapkan standar ganda.
    Untuk menilai agama sendiri, biasanya akan bilang berasal dari Tuhan, kecuali Umat Buddha yang memang rada 'agnostik'.. makanya aku cukup terkejut kawannya Cha_n itu Hindu. Yakin Hindu? Bukan Buddha? Karena sebenarnya itu pemikiran yang cukup 'sesat' lho alias sudah liberal.
    Untuk menilai agama lain, biasanya menganggap sebagai bentukan manusia, bahkan untuk sesama abrahamic, seperti mengatakan kalau Yahudi dan Nasrani sudah diutak-atik oleh manusia.
    iya hindu, yakin banget

    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Padahal, kalau kalian benar-benar mau obyektif,
    "Islam" yang kita kenal sekarang, sebenarnya sudah terkooptasi oleh tangan manusia.

    Mulai dari fatwa yang jelas pasti melibatkan 'ijtihad' yang jelas akal manusia.
    Atau mulai dari pemilihan hadits melibatkan berbagai kriteria seperti pemilihan periwayat-periwayat (isnad) atau penilaian terhadap isi (matan) atau bahkan tradisi penduduk Madinah di mana masing-masing ulama memiliki preferensinya sendiri alias ada akal manusia dalam memilih kriteria yang disukai. Itu sebabnya akhirnya melahirkan mazhab-mazhab dari yang sering dinistakan seperti Muta'zilah, sampai yang diakui, yakni 4 mazhab Sunni tersebut (tentu saja Syiah beda pandangan).
    sebelum panjang lebar , apakah kamu percaya wahyu yang dihidayahkan kepada muhammad atau kepada nabi2 lainnya?

    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Atau mau menyatakan bahwa kalau bersandar AlQuran pasti obyektif?
    Saya pernah berada di komunitas Quraniyyun dan ternyata tetap saja kami berdebat. Sekarang, perkembangannya, ada yang jadi ateis, ada juga yang masih bersikukuh dengan pandangannya walau dicap sesat (seperti Al-Qiyadah Al-Islamiyah), atau bahkan mungkin seperti saya, justru malah kadang2 tertarik melihat fatwa2 ulama Sunni yang mirip2 dengan apa yang saya percaya.

    Saya sendiri lebih suka akhirnya 'memungut' fatwa ulama Sunni yang dekat dengan pendapat saya karena efeknya sebagai hujjah lebih kukuh (dan biasanya jarang yang nanggapi karena gak berani ngedebat ulama) dibandingkan kalau saya langsung nulis artikel sendiri.


    Nah, balik lagi ke soal AlQuran,
    kenyataannya dalam memahami AlQuran ada yang namanya keterlibatan akal.
    Dan kita sebenarnya gak obyektif dalam membaca teks yang sama.

    Soal nasakh-mansukh misalnya, pasti cenderung antara mengikuti satu pendapat apakah itu di nasakh atau tidak, atau bahkan mengikuti pendapat yang membuang konsep itu sama sekali. Bagitu juga konsep asbabun nuzul, ada yang mengikuti pendapat wajib hukumnya melihat asbabun nuzul tetapi ada yang hanya menggunakan asbabun nuzul sebagai pertimbangan, tetapi ada juga yang membuang sama sekali.

    Ah mungkin sebaiknya saya pungut salah satu kegalauan seorang ustadz mengenai slogan 'Kembali ke Quran' di mana ustadz ini menunjukkan perbedaan pendapat di antara ulama2 terdahulu mengenai Quran.

    http://www.rumahfiqih.com/fikrah/v.p...ari-khilafiyah
    Spoiler for Kembali ke Quran untuk menghindari Khilafiyah?:

    By : Ahmad Sarwat, Lc., MA - [ baca semua tulisan ]
    3 February 2014, 06:03:04
    Dibaca : 2105 kali | Baca Versi HP Disini

    Dalam sebuah rapat pendirian satu ormas Islam yang dihadiri oleh banyak tokoh Islam, saya diminta memperkenalkan diri dengan menyebutkan bidang keilmuan dan aktifitas sehari-hari.

    Saat itu dengan polos saya bilang bahwa ilmu yang saya tekuni adalah ilmu fiqih, khususnya fiqih perbandingan mazhab. Dan aktifitas saya banyak tercurah di Rumah Fiqih Indonesia. Sehari-hari kami melakukan berbagai penelitian terkait dengan hukum-hukum syariat, termasuk juga berbagai perbedaan pendapat ulama.

    Saat itu spontan ada yang nyeletuk, mungkin sambil guyon,"Wah, berarti tiap hari mengurus masalah khilafiyah, tuh". Yang lain juga ikutan nyeletuk,"Hari gini kok masih saja bicara perbedaan pendapat, ustadz?". Hadirin yang lain ikut tertawa meski agak ditahan, saya tidak tahu maksudnya mentertawakan siapa.

    Saya jawab saat itu,"Kebetulan dulu saya kuliah di Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Mazhab. Disana kita memang bicara tentang komparasi perbedaan pendapat hukum-hukum fiqih di antara para ulama dan mujtahidin".

    Dari sepenggal kisah itu, saya sedikit mendapat masukan bahwa ternyata masih banyak kalangan yang memandang ilmu fiqih, khususnya tentang ikhtilaf dan perbandingan mazhab, dengan sebelah mata. Dan kesan yang saya tangkap memang banyak kalangan yang kurang lengkap pemahamannya.

    Sedihnya lagi, yang mempertanyakan hal di atas bukan dari kalangan orang awam, tetapi mereka yang dikenal sebagai da'i dan aktifis dakwah.


    * * *

    Pada kala yang lain, ada satu teman sesama ustadz yang penasaran bertanya kepada saya. Atau mungkin lebih tepatnya mempertanyakan. Sebut saja namanya Ustadz Abdul. Beliau bertanya begini kepada saya :

    "Ustadz, bukankah kita ini butuh persatuan umat agar bisa kuat?. Namun kalau saya perhatikan, materi-materi ceramah antum masih saja berkutat dengan masalah-masalah furu'iyah yang banyak khilafiyahnya. Bukankah hal ini malah cenderung kurang produktif?. Mestinya kan kita tinggalkan saja semua masalah khilafiyah itu dan kembali ke Al-Quran. Bukankah Al-Quran itu menyatukan kita seluruh umat Islam?"

    Agak bengong juga saya diberondong dengan pertanyaan seperti itu. Sudah panjang, pertanyaannya tajam dan menukik pula. Terpaksa harus saya jawab juga pertanyaannya.

    "Saya amat setuju persatuan umat Islam. Dan saya 100% mendukung untuk kita berpegang teguh dengan Al-Quran. Dan saya pun juga tidak ingin umat Islam berpecah-belah dan saling caci maki, gara-gara meributkan masalah khilafiyah", jawab saya.

    "Kalau memang begitu, lantas kenapa masih saja mengangkat masalah khilafiyah? Nanti umat jadi makin asyik berbeda pendapat dan semakin jauh dari Al-Quran?, tanya Ustadz Abdul lagi.

    "Kalau masalah khilafiyah, rasanya tidak mungkin kita hindari. Jangankan dalam ilmu fiqih, bahkan di dalam Al-Quran sendiri pun tetap saja ada masalah khilafiyah", jawab saya.

    "Ah, mana mungkin ya ustadz. Al-Quran kan kitab yang turun dari Allah SWT. Masa antum bilang di dalam Al-Quran terdapat masalah khilafiyah? Yang bener aja, ustadz", ujarnya bernada protes.

    "Kalau antum tidak percaya, coba jawab pertanyaan saya ini : apakah lafadz bismillahirrahmanirrahim itu termasuk bagian dari surat Al-Fatihah atau bukan?", pancing saya.

    "Hmm, sebenarnya ada yang bilang bukan bagian dari surat Al-Fatihah, sih. Tetapi menurut saya, termasuk bagian dari surat Al-Fatihah", jawabnya agak ragu.

    "Jadi yang benar yang mana nih, bismillah itu bagian dari Al-Fatihah atau tidak?", begitu saya tegaskan. Dia diam agak lama sambil mikir.

    "Sudah lah, jawabannya kan itu masalah khilafiyah di antara para ulama. Gampang saja jawabnya," potong saya.

    "Iya juga sih kalau dipikir-pikir", jawabnya agak ragu.

    "Nih, lagi jawab pertanyaan saja : berapa sebenarnya jumlah total seluruh ayat Al-Quran?", tambah saya.

    "Ah, itu sih gampang, jawabnya enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat", jawabnya mantab.

    Saya balik bertanya,"Yakin nih antum jawabnya 6.666 ayat?".

    "Lho memangnya bukan segitu? Kan dari kecil kita sudah dikasih tahu segitu. Lagian waktu masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah dulu kan jadi soal ulangan. Dan kalau kita jawab segitu, pak gurunya membenarkan.

    Saya bilang,"Ya, Ustadz Abdul. Untuk menetapkan berapa jumlah ayat Al-Quran, ternyata para ulama pun berbeda-beda jawabannya".

    "Ah, masak sih? Yang benar nih antum?", tanya dia kurang percaya.

    "Kalau kita telusuri, ternyata memang benar bahwa para ulama berbeda-benda ketika menghitung jumlah ayat Al-Quran. Menurut Nafi' yang merupakan ulama Madinah, jumlah tepatnya adalah 6.217 ayat. Sedangkan Syaibah yang juga ulama Madinah, jumlah tepatnya 6.214 ayat. Lain lagi dengan pendapat Abu Ja'far, meski juga merupakan ulama Madinah, beliau mengatakan bahwa jumlah tepatnya 6.210 ayat", sambung saya.

    Ustadz Abdul masih agak bengong mendengarkan, saya sambung lagi,"Antum tahu Ibnu Katsir, kan?"

    "Ya tahu, ulama ahli tafsir yang kitabnya termasyhur itu, Tafsir Ibnu Katsir", jawab Ustadz Abdul.

    "Nah, kalau menurut hitungan Ibnu Katsir, jumlahnya ayat Al-Quran itu ada 6.220 ayat. Hasil hitungannya beda dengan hitungan ulama lainnya", ujar saya.

    Ustadz Abdul mengangguk-anggukan kepala perlahan, tidak jelas maksudnya, apakah mengerti atau malah mungkin agak bingung.

    "Lalu 'Ashim yang merupakan ulama Bashrah mengatakan bahwa jumlah ayat al-Quran ialah 6.205 ayat. Hamzah yang merupakan ulama Kufah sebagaimana yang diriwayatkan mengatakan bahwa jumlahnya 6.236 ayat. Dan pendapat ulama Syria sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yahya Ibn al-Harits mengatakan bahwa jumlahnya 6.226 ayat", tambah saya.

    "Jadi bagaimana kita bilang di dalam Al-Quran tidak ada perbedaan atau khilafiyah. Lha wong ngitung berapa jumlah ayatnya saja, para ulama sudah beda-beda", pancing saya.

    Ustadz Abdul diam agak lama sambil dahinya berkerut dua belas lipatan, mungkin otaknya sedang dipaksa berpikir agak keras.

    "Ini pertanyaan terakhir, silahkan jawab kalau antum bersedia dan tahu jawabannya", tiba-tiba saya berkata memecah kesunyian.

    "Pertanyaannya apa? Mana soalnya?", ujar Ustadz Abdul penasaran.

    "Sebutkan ayat mana yang terakhir kali diturunkan?', tanya saya.

    "Wah itu sih kecil. Jawabnya ya ayat ketiga surat Al-Maidah. Al-Yauma akmaltu lakum dinakum dan seterusnya", jawab Ustadz Abdul dengan mantab.

    "Jawaban antum sebenarnya tidak salah, tetapi perlu diketahui bahwa itu adalah salah satu jawaban dari sekian banyak jawaban para ulama", jawab saya.

    "Maksudnya?", tanya Ustadz Abdul penasaran.

    "Selain pendapat antum itu, ada beberapa pendapat yang berbeda terkait dengan ayat yang turun terakhir. Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa ayat yang terakhir turun adalah ayat riba, yaitu surat Al-Baqarah ayat 278 :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

    Sedangkan Al-Imam An-Nasa'i meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Said bin Jubair, bahwa ayat yang terakhir kalli turun adalah surat Al-Baqarah ayat 281:
    وَاتَّقُوا يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

    Dan versi Said bin Al-Musayyib lain lagi. Menurut beliau ayat yang terakhir turun ayat tentang hutang piutang, yaitu surat Al-Baqarah ayat 282.
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً فَاكْتُبُوهُ
    Nah, siapa bilang dengan kembali ke Al-Quran dijamin tidak ada khilafiyah atau perbedaan pendapat?", kata saya mengakhiri percakapan dengan Ustadz Abdul.

    * * *

    Memang benar sekali. Baru bicara ayat pertama tentang bismillah, apakah termasuk bagian dari surat Al-Fatihah atau bukan, para ulama sudah berbeda pendapat. Terus menghitung jumlah total ayat Al-Quran, ternyata beda pendapat lagi. Dan menetapkan mana ayat yang terakhir turun, lagi-lagi beda pendapat.

    Jadi kesimpulannya, yang namanya beda pendapat itu bukan monopoli ilmu fiqih saja. Bahkan ilmu Al-Quran sendiri pun penuh dengan perbedaan pendapat. Semua hal di atas belum terhitung kalau kita bicara tentang perbedaan qiraat yang ada begitu banyak jalur periwayatannya.

    Dalam ilmu hadits pun kita akan menemui begitu banyak perbedaan pendapat. Ilmu Tafsir malah lebih banyak lagi perbedaan pendapatnya. Malah dalam ilmu gramatika Bahasa Arab alias ilmu Nahwu, kita pun berhadapan dengan ulama Kufiyyin dan Bashriyyin, yang selalu saja beda pendapat.

    Lepas dari semua ini, yang penting untuk dicatat bahwa berbeda pendapat itu bukan dosa atau hal yang tabu. Dan mustahil kita menghilangkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

    Maka mari kita membiasakan diri untuk nyaman dengan adanya perbedaan pendapat itu. Toh dahulu para shahabat pun sering berbeda pendapat. Para tabi'in dan generasi salafunash-shalih pun terbiasa berbeda pendapat. Namun hebatnya, mereka tetap santun dan saling menghargai perbedaan pendapat.

    Yang haram adalah berantem, saling caci, saling maki dan saling merasa paling benar sendiri karena perbedaan pendapat. Apalagi kalau sudah menulis komen di media sosial terhadap pendapat yang tidak sejalan dengan dirinya, sampai penghuni kebun binatang diabsen namanya satu per satu. Naudzubillah min tilka.

    Sikap-sikap seperti inilah yang harus kita hindari. Dan untuk menghindarinya, justru wawasan kita harus terbuka luas. Kita harus pelajari adanya perbedaan pendapat para ulama itu. Baru kita bisa nantinya menghormati perbedaan pendapat.

    Sedangkan kalau ilmunya cetek dan sempit, tahunya cuma apa yang diajarkan gurunya, selebihnya cuma dapat dari copy paste di internet, tidak pernah tahu adanya perbedaan pendapat para ulama, biasanya malah cenderung fanatik dan mudah menyalahkan orang lain. Semakin keras bahasa yang digunakan, semakin kelihatan bodohnya.

    Itulah gunanya kita belajar ilmu fiqih yang membahas berbagai perbedaan pendapat ulama. Tujuannya, justru biar kita tidak mudah menyalahkan orang.

    Wallahu 'alam bishshawab.


    Dan, toh, yang Muslim, dengan begitu banyak perbedaan yang menunjukkan adanya keterlibatan akal manusia, tetap percaya yang dia yakini adalah ajaran dari Tuhannya.

    Itu kontradiksinya, standar gandanya.
    Dengan jelas-jelas bukti keterlibatan akal manusia dalam membentuk agama, tetap percaya agamanya adalah yang berasal dari Tuhan.
    Makanya, ulama2 sekarang lebih suka bilang "Wallahu 'alam bishawab"
    di luar hal2 khilafiyah yang dibahas di atas, soal akidah adalah sama, kalau beda ya bukan islam. jadi? maksudnya gimana nih?
    Islam kan bukan soal apakah yang ga pake cadar berarti bukan muslimah, apakah yang jenggotnya ga panjang bukan muslim, atau yang pakai qunut berarti kafir atau sebaliknya.
    hal khilafiyah ada, tapi yang menandakan Islam kan bukan hal khilafiyah itu. rukun iman, rukun islam sama, mungkin ada variasi dalam bidang yang khilafiyah sejauh yang saya tahu masih diakomodasi juga dalam islam dan tidak disalahkan

    pertanyaan saya lagi, ngulang aja, apakah anda (atau siapapun yang sependapat dengan tulisan kandalf di atas) percaya Islam (minimal pada awalnya) memang agama dari Allah, yang memang diwahyukan kepada Muhammad saw. atau sebaliknya, Muhammad dibantu manusia lainnya membentuk agama Islam ?

    -beneran nanya lho ya-
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

Page 3 of 12 FirstFirst 12345 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •