"Cukat siangsing pernah mengagumi seorang bulim cianpwee, cianpwee ite bermarga Li bernama Tam-hoa. Dia memiliki ilmu silat yang hebat, memiliki sifat romantis yang luar biasa. Baik dari masalah romantis hingga perangainya sebagai seorang lelaki, dia merasa kagum seratus persen.
Akan tetap selama ini dia merasa tidak kagum dengan cara Siau-li-tam-hoa dalam menangani kekasihnya.
Gara-gara ingin membalas budi pertolongan dari seorang sahabatnya yang telah selamatkan jiwanya, ternyata dia persembahkan perempuan yang dicintainya kepada sahabatnya itu, sementara dia sendiri pergi dengan membawa duka....
Apa-apaan ini?
Sepintas tampaknya lelaki itu begitu romantis, begitu menyedihkan, begitu kesepian, padahal tindakan semacam ini adalah keputusan yang benar-benar kelewatan, kelewat emosi, kelewat bodoh dan emosional, bukan kelakuan seorang lelaki.
Memangnya kau anggap perempuan itu sebagai apa? Barang dagangan? Hadiah? Atau sebuah bungkusan yang sudah tidak kau maui lagi?
kau anggap tindakan semacam ini dapat embuat kau peroleh sesuatu yang luar biasa? Pengorbanan yang tak ternilai?
Padahal yang bisa kau raih hanya penderitaan, penderitaan dari tiga pihak, kau, pacarmu dan orang yang telah selamatkan nyawamu....."