@ Nowitzki

Yup, itu memang ndak mudah mbakyu. Alih2 untuk bisa mempraktekannya, lha wong untuk memahaminya aja juga bukan perkara mudah kok. Saya pun masih sebatas omdo. Teori. Prakteknya masih jauuuhhh tertinggal di belakang. Ke-ponthal2.

@ Chan

Ya iyalah mbakyu, mosok saya keliatan ndak pake otak sih? JK.

Tapi hati2 juga, "hati dgn otak" itu juga "suami-istri" lho. Garwo. Sejatinya satu. Sama halnya dgn "rasa-rasio", "intuisi-logika", dll bahkan "baik-benar". Jadi mesti ekstra hati2 kalo mau me-milah2nya, kudu seimbang, ditempatkan pada tempat semestinya masing2, ndak kebalik-bolak, dst. Hati itu baik, otak itu benar. Jgn sampe pihak ketiga yg namanya ego ikut campur urusan pasutri eh pasangan otak-hati. Ntar keduanya bakalan diadu-domba kayak pasutri yg bertengkar saling tuding menyalahkan. Hati akan menuding otak itu jahat, arogan, sesat. Otak pun balas menuding hati itu bodoh, lembek, dogmatis. Lebih runyam lagi kalo "si baik" (hati) merasa benar dan "si benar" (otak) merasa baik, kebalik-bolak, jadinya sama2 merasa udah ndak saling membutuhkan lagi. Ya bubar.

Yup, kata kuncinya memang: komunikasi. Eh satu lagi ding: komitmen. Nah kalo dua kata ini memang kudu nyantol terus di kepala.