Sebenernya ini juga gak sengaja dan keterusan... dulu waktu kami berangkat haji, dua anak itu dititipkan ke Eyang mereka di Kediri. Lalu atas inisiatif pamannya, dimasukkan-lah si kakak ke klub renang setempat yang bayarannya cuma 50 ribu sebulan dua kali seminggu (harga Kediri gitu loh). Begitu kami jemput ternyata anaknya sudah ketagihan, malah sempat menang lomba segala...
Jadi deh balik ke Bogor terpaksa ngeluarin ongkos lebih mahal supaya si kakak bisa nerusin hobbi-nya...
---------- Post Merged at 03:16 PM ----------
Setujuuuu... sekalian kegiatan ayah sama anak perempuannya...
atau ibunya yang ngajarin...![]()
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
pengalaman saya sih emang minim, tapi saya gak pernah menemukan di buku teks agama sekolah naomi yang menghujat agama lain dan mengagungkan agama islam secara berlebihan....kebanyakan bicara akhlaq, dengan dalil sederhana tentu....aqidah juga bicara tentang asmaul husna dan sifat wajib Allah yang lebih ke arah maha pengasih. Memang ada kata dosa, tapi lebih pada kata kalo gak sholat, kalau gak puasa dan kalau gak menyayangi sesama. Juga ibadah-ibadah yang sederhana, yang jujur saja, saya sering terlewat ngajarin ke anak-anak karena saya merasa gak mampu kalau jadi super mom, ngajarin semua padahal kapasitas saya terbatas.
Biasa aja, gak ada yang menyeramkan seperti itu di SD Muhammadiyah dan TK Insan Amanah Blora....gak tau ya tempat lain
Siapa bilang sekolah negeri atau umum terlepas dari SARA. Mulut ortu justru racun...temen yang china dan non muslim habis diketawain akrena menyekolahkan anaknya di sekolah negeri, bahkan pihak sekolah sampe tanya 2x apa bener temen mau nyekolahin anaknya di sekolah tersebut? di textbook kagak SARA, prakteknya gedhe banget tuh
Di sekolah Naomi ada anjangsana lho, anak2 berkunjung ke tempat ibadah agama lain dan saya terbantu dari pihak sekolah menerangkan dengan alam berpikir mereka tentu, tentang adanya agama lain di sekitar mereka dan anak-anak harus saling menghormati. Itu sih pinter2nya ortu bisa bersikap, gak langsung tendensius sekolah agama berlebihan
@Om Alip: ya iyalah saya gak masukin anak2 ke sekolah agama lain, karena mereka mengajarkan tata cara ibadah agama lain...yang ada bukan ngajarin toleransi tetapi membingungkan anak
mengenai les, dari PG saya udah masukin Naomi ke tempat sanggar musik, tari dan lukis, rontok semua begitu masuk TK B karena dia lebih berminat dengan jarimatika. Saya gak tau tentang adiknya, mungkin begitu aktif PGnya saya mulai mengenalkan ke sanggar lagi, seperti kakaknya dijajal semua.
Sekarang Naomi sudah merengerk-rengek minta les bahasa inggris, karena pengen bisa ngobrol sama anak-anak temen yang di luar negeri, tapi masih saya pending karena beban belajarnya masih belum bisa diakalin
iya, aq pengen ara belajar renang, tapi kayaknya ntar kuajarin sendiri aja. Untuk piano juga ntar bakal diajarin bapaknya. Tinggal les tari aja.
Four tines is a fork. Three tines is a trident. One is for eating, one is for ruling the seven seas.
@ Bunda,
Kita sudah mengenal sekolah semacam Muhammadiyah sejak dulu, yang sebenarnya adalah sekolah umum. Begitu pula sekolah semacam PSKD, Mardi Yuwana, dan Regina Pacis yang berwawasan kebangsaan meskipun berada di bawah yayasan keagamaan. Saya memuji semangat Romo Mangun almarhum yang menyarankan pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah kristiani tersebut
....tapi di sini saya menemukan kasus-kasus yang berbeda. Memang bukan pengagungan Islam secara berlebihan atau penghujatan atas agama lain, tapi beban ajar agama buat saya terlalu berlebihan. Saya berkunjung ke dua franchise sekolah agama yang populer, dan menemukan anak-anak belajar sampai pulang sore karena ada ekskul ikro dan hapalan Qur'an, serta berbagai macam materi agama lainnya. Gurunya bangga ketika anak-anak kelas tiga SD sudah hapal Al-Baqarah, tapi bagi saya itu adalah penindasan atas kebahagiaan anak.
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
@om Alip: itu kan lagi-lagi pinternya ortu memilih sekolah (meskipun ada label sekolah agama) yang sevisi sama orang tua. Di SD Muhammadiyah pun beban belajar agamanya lebih banyak daripada di SD negeri, yaitu untuk kelas 1 ada 7 jam belajar (1 jam belajar=35 menit) tapi muatannya lebih banyak ke akhlaq dan tauhid setau saya. Ada BTA yang memang khusus hapalan juz amma dan membaca iqro (lho, TK saja kita udah ngajarin anak ngaji, masak iqro aja gak mau di sekolah?), tetapi cuma 1 jam belajar dalam 1 minggu.
SD negeri sekarang pun ketika mayoritas muridnya muslim, saya sudah menemukan, sekolahnya memberi muatan hapalan asmaul husna dan surat2 juz amma yang lebih panjang sebagai mata pelajaran muatan lokal, di sekolah si sulung malah cuma ngajarin asmaul husna gak lebih dari 10, tidak seluruhnya.
Ketika pengajuan peraturan diadakannya mata pelajaran agama disesuaikan dengan yang dianut siswa untuk sekolah-sekolah dibawah naungan yayasan beragama, yang paling kenceng menolak bukannya sekolah dibawah yayasan katolik ya?![]()
@bunda,
Betul, akhirnya pintar-pintarnya orang tua memilih sekolah yang sevisi, dan sayangnya dari yang saya kunjungi belum ada yang satu visi dengan sayamisalnya ketika saya tanya, boleh gak anak saya gak pakai jilbab, jawab mereka itu adalah bagian dari seragam dan pembiasaan untuk anak...jadi deh sekolah itu saya coret.
Saya tidak berusaha membela sekolah katolik, tapi saya paham bahwa waktu itu mereka kesulitan memasukkan kurikulum agama Islam karena struktur manajemen yang terpusat, sedangkan sekolah non-katolik yang saya tahu sudah punya guru agama Islam. Saya sendiri belajar di salah satu sekolah itu dan sama sekali tidak ada kebingungan, cuma toleransi saja. Akibatnya saya sendiri tidak keberatan memasukkan anak ke sekolah kristiani, tapi kenapa tidak yang sekuler saja sekalian?
Saya tidak menggeneralisir sekolah agama, jadi tidak sembarang sekolah yang memasang embel-embel SDIT langsung saya coret. Saya kunjungi mereka baik-baik dan setelah nyata kami tidak sejalan, baru saya coret. Sayangnya di sekitar rumah semuanya tidak sejalan... padahal elit dan mahal![]()
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
^SDIT emang mahal...kesannya eksklusive![]()
Kebetulan, kakak ipar (kakaknya istri kakak saya), punya yayasan dan mengelola PAUDIT sampai SDIT..
Dan karena di desa (gunungkidul), masih lumayan terjangkau menurut saya dibandingkan di semarang misalnya, itu saja PAUDnya setiap hari masuk, dengan uang gedung yang sama, di semarang masuk hanya beberapa hari dalam seminggu.
Uang gedung dan lain lain, total untuk dua semester 1,5jt dan bulanan 205rebu, itu aja setiap hari dapat snack (jajanan) dan makan siang. Kalau si anak gak mau makan, dibawain pulang ke rumah.
Jadi, atas pertimbangan itu saya memilihnya...
Percayai apa yang ingin kau percayai
Dan hiduplah seperti apa yang kau inginkan….
Iya bun, sama, bisa bisa dicicil juga...
Kalau saya perhatikan sih bun, 205sebulan itu udah murah... Melihat berapa yang didapat si anak, guru2nya, dan kelebihan2 lain yang ada di paud IT tersebut. Terlebih punya "keluarga" sendiri.. (ړײ )hehehehe...
60rebu sebulan, dapat makan siang ama snack juga bun senin-sabtu ? Hebat juga sekolahnya ya bun.. .
---------- Post Merged at 09:07 AM ----------
Oiya, mungkin karena punya keluarga sendiri, jadi gak eman keluar duit lebih banyak karena percaya pemanfaatannya gak bakal disalah gunakan. InsyaALLAH malah lebih bermanfaat...
Beda kali ya kali ya kalau semisal itu tempat pendidikan yang saya gak kenal sama sekali, mungkin bakal seselektif um alip...
Percayai apa yang ingin kau percayai
Dan hiduplah seperti apa yang kau inginkan….