saya lupa dah pernah ada atau tidak ya.
tapi dari pada Oot di thread orang. mending ngungsi ke sini ajalah.
jadi, apa saja kriteria teman2 disini ketika atau kalau nantinya memilih sekolah buat anak2
saya lupa dah pernah ada atau tidak ya.
tapi dari pada Oot di thread orang. mending ngungsi ke sini ajalah.
jadi, apa saja kriteria teman2 disini ketika atau kalau nantinya memilih sekolah buat anak2
pertama: metode pengajaran dan kurikulum
kedua: biaya
ketiga: jarak dan transportasi
ketiga: catatan kriminalitas sekolah (tawuran, perploncoan, narkoba, dkk)
Four tines is a fork. Three tines is a trident. One is for eating, one is for ruling the seven seas.
kekeke...
TK Anggrek
SDN di depan rumah
SMPN dalam radius 2km
SMAN 28, 8 Jakarta atau SMAN 1, 3 Bandung
UI28, ITB28, Harvard28, MIT28![]()
Kualitas. Cara paling simpel adalah dgn cara melihat track record kualitas murid2nya baik yg masih belajar syukur2 sudah ada lulusannya, baik secara prestasi akademis maupun perilakunya. Semakin tinggi jenjangnya (preschools->SD->SMP->SMU->dst) biasanya semakin mudah menilainya.
Biaya. Pahami kemampuan diri dan tentukan plafon yg bisa dijangkau lalu sesuaikan dgn standard kualitas (poin 1) yg diinginkan, syukur2 bisa dapat yg relatif murah dibawah plafon. Perlu dicatat, jgn lupa memperhitungkan faktor berapa anak yg (sedang dan akan) di sekolahkan. Semakin sedikit anak, apalagi tunggal, akan semakin longgar peluangnya, sebaliknya semakin banyak mesti lebih pinter2 memprediksikan ke depannya,...jgn sampe salah perhitungan yg bisa memberatkan dapur ato lebih buruk lagi si bungsu mesti "berkorban" menjadi sekolah ala kadarnya atau si sulung harus "dikaryakan" (sekolahnya ndak tuntas krn terpaksa harus bekerja untuk membantu biaya pendidikan adik2nya). Pengalaman orang2 jadul yg jumlah anaknya bejibun, keberhasilan pendidikan anak2 BIASANYA ditentukan oleh berhasil tidaknya kakak2nya. Bagiku ini ndak fair (curcol anak sulung yg gagal menjadi panutan adik2nya).
Kalo soal kriteria menurutku hanya dua itu aja. Poin pertama (soal kualitas) bisa dijabarkan lebih rinci lagi faktor2nya, relatif disesuaikan standard dan target masing2.
Kalo soal target, bagi saya cukup bisa mengantarkan anak2 sampe ke jenjang S1 dalam tanggungan biaya sepenuhnya dan se-adil2nya bagi ketiga anakku. Selebihnya, saya hanya bisa bantu dgn doa.
Kalo soal pilihan dan cita2...:(Saat ini anak ke-1 co kelas 3 SMPN 2 Depok, ke-2 ce kelas 3 SD swasta Depok, ke-3 co kelas 1 SD swasta Depok)
Anak-1: SMAN 1 Jogja -> UGM/ITB/UI
Anak-2: SMPN Depok -> SMAN Jogja -> UGM/UI/ITB
Anak-3: SMPN Jogja -> SMAN Jogja -> ITB/UI/UGM
Alternatif-2:
Anak-1: SMAN 2 Depok -> UGM/ITB (UI dicoret)
Anak-2: SMPN Depok -> SMAN Depok -> UGM/UI/IPB
Anak-3: SMPN Depok -> SMAN Jogja -> ITB/UGM/UI
(Duh jadi ngebayangin pensiun tinggal di Jogja puas2in main catur, main kartu dan pit2an... Aamiin.)
![]()
Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.
itu sih bukan kriteria om ronggo
untuk paud dan sd aku bakal mempertimbangkan jarak sebagai faktor utama.
ga mau yang jauh2. kasihan capek di jalan.
setelah itu masalah biaya dirasionalkan dengan kurikulum nya.
adek saya sekolahnya di sd kampung. semeja duduk bertiga kuliahnya itb teknik kelautan.
jadi menurutku sih bukan patokan sekolah mahal jadi sukses secara akademis.
aku lihat secara mental, rasa solidaritas dan peka terhadap lingkungan malah jadi tinggi karena sekolah di sana.
selain itu seperti ajaran ortu dari dulu, ga dapat sekolah negeri ya ga sekolah.
akan saya terapkan untuk jenjang s1.
harus melihat gimana kondisi anak juga.
lihat minat bakat dia. jangan dipaksa. kalau memang secara akademis mampu s1 (indikator mampu di sini adalah mampu masuk sekolah negeri) maka sekolahkan. kalau ngga berarti arahkan ke bidang lain sesuai minat bakat.
untuk s1 di indonesia aja deh. selanjutnya baru gimana anak mau.
kekeke...
ngga tahu gw, tapi siapa tahu ada kandungan
emas yang lebih besar dari gunungnya Freeport
---------- Post Merged at 06:24 AM ----------
sebenarnya sih kriteria gw simple saja...
bagaimana si anak bisa bersekolah dalam suasana
lingkungan pergaulan yang akrab, terutama dari te
man-temannya dulu yang tidak ada karakter mem-
bully...
selanjutnya kita arahkan saja agar anak kita minimal
punya sedikit jiwa kepemimpinan, sedikit inisiatif, se
hingga bisa menjadi personal yang mewarnai lingkung
an, bukan terbawa arus.
dan gw setuju, untuk ukuran TK dan SD, memang ha
rus mengambil lokasi yang dapat kita pantau, sehingga
kita bisa melihat langsung, apakah TK dan SD nya sesu
ai dengan harapan kita dalam mendukung tumbuh kem
bang psikologi anak.
Harapan gw tentunya, setelah SD, maka si anak sudah
punya jiwa kepemimpinan, inisiatif dan kritis yang cukup
untuk dilepas lebih jauh, disini SMPN dan SMAN berkuali
tas boleh jadi pegangan utama, soal jarak sudah boleh
menjadi prioritas ke sekian![]()
... yang gurunya bukan alien dan kurikulumnya tidak dirancang untuk alien![]()
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
faktor belajar agama juga penting...kan banyak sekolah agama yang harganya terjangkau, kurikulumnya masih kurikulum nasional dan anak mengikuti, urusan jarak di Blora sih gampang, kemana2 masih kena lha 10-15 menit naek motor kalau nganter, si kakak entar kelas 3 SD juga bisa berangkat sekolah naik sepeda
Kalau udah ke jenjang S1, itu sih gimana ortu bisa mengarahkan anak sejak dini, jadi anaknya tau dia mesti sekolah kemana kalau jadi guru misalnya....gak perlu mikir ketinggian ke sekolah luar negeri, biar itu jadi buah dari arahan sejak dini ortu, sakit kalau jatuh![]()
Lucu, dalam hal kriteria saya lebih banyak "jangan"-nya...
Kualitas;
Jangan sekolah yang terkenal karena lulusan yang berkualitas tinggi. Kebanyakan cuma omong kosong. Kalau murid yang masuk pintar, ya sekolahnya dodol sekalipun lulusannya tetep banyak yang bagus. Lebih baik cari sekolah dengan rasio guru-murid yang kecil, dengan begitu siswa mendapat perhatian yang pantas.
Jarak;
Jangan yang jauh, apalagi sampai keluar pulau...
Harga;
Jangan yang mahal. Self explanatorysaya nggak punya cukup duit buat masukkin anak-anak ke sekolah yang melafalkan namanya saja susah...
Keterlibatan;
Jangan memasukkan anak ke sekolah yang mengambil alih seluruh waktu anak. Sebagian besar waktu anak harus sama orang tua-nya dulu.
Agama;
Jangan yang pelajaran agama-nya dominan. Saya pilih sekolah sekuler dengan muatan pelajaran agama standar, nggak mau memasukkan anak ke sekolah yang namanya saja sudah berbahasa arab, latin, atau hindi.
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
@om alip.
alasannya apa dan itu untuk jenjang yang mana?
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
ada hal2 yang mungkin belum dikuasai bener sama ortu masalah agama.....gwe sih anak gwe dua2nya masuk sekolah agama, lumayan yang tadinya gagap jadinya ikut belajar sambil ngajarin anak2nya....gak ada ruginya, biayanya juga gak mahal....sekolah itu kan cuma 30-20% menyumbang ke kepala anak anak, selebihnya ortu yang mesti menyumbang ke kepala anak....kalau kapasitas ortu cuma 80% ke anak berapa coba? kalau ada sekolah agama, kan lumayan bantu2 ortu biar nambah 100%
Ada gula ada semut, kalo ada tema sekuler mendadak muncullah eyang Purba, DUERRRR...!!!! <dengan visual effect asap belerang dan petir menyambar-nyambar... guruh bergema ke mana-mana... eng...ing...eeeenngggg....>
Yang mana? Ada beberapa "jangan" di atas. Secara umum sih untuk jenjang dasar menengah...
Banyak kasus begitu dan bukan hanya di bidang agama... anak dipaksa les musik padahal ortunya yang kepingin...
Yah aslinya sih memang bagaimana kita menyikapi apa yang kita sebut sebagai agama. Bagi saya ilmu agama bukanlah hapalan kitab-kitab atau ujaran-ujaran, bukan pula hapalan hukum-hukum yang disebut sebagai diturunkan oleh Tuhan. Agama bagi anak-anak adalah kemampuan mereka untuk disiplin dalam bersikap, tenggang rasa, empati, dan menjadi bagian dari kemanusiaan secara keseluruhan, bukan menjadi bagian dari suatu elit pemikiran tertentu (group think). Dalam hal ini anak-anak belajar dari perilaku orang tua, guru, dan lingkungannya, yang tentu saja tidak bisa diukur secara persentase. Bagaimanapun juga agama adalah keberpihakan, buktinya Bunda tentu memasukkan anak-anak ke sekolah sebangsa Al-Azhar, bukannya Santa Maria atau Kolose St. Joseph?
Jika kelak anak-anak tertarik mempelajari perdebatan para petinggi agama tentang Tuhan dan pendapat mereka tentang Tuhan maunya apa, dus adu dalil adu syariat, biarlah itu terjadi ketika kemampuan kognitif mereka sudah cukup berkembang dan sudah mampu menelisik latar belakang datangnya suatu penafsiran, termasuk sudah mampu pula mengakses literatur yang sesuai.
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
Iya, aq cenderung sama kayak um alip sih, mencari sekolah yang lebih netral ketimbang "golongan tertentu". Dan itu lebih ke pilihan kami berdua sebagai orang tua.
Soalnya, bapakqu pernah cerita, ketika dia dulu masuk MI, gurunya mengajarkan bahwa agama Islam adalah yang terbaik. Maka, darah selain Islam itu halal. Mungkin itu cuma oknum, tapi aq jadi ngeri aja.
Lagian, di sekolah negeri, kemungkinan si anak untuk berinteraksi dengan anak dengan latar belakang SARA yang berbeda kan lebih besar, jadi dia bisa belajar untuk menerima orang lain walaupun berbeda. Untuk masalah agama, mungkin nanti ada les mengaji saja. Belum lagi, Babehnya udah siap kalau2 nanti Ara mau berdebat soal fiqih sama dia hehehehe.
OOT dikit,
Untuk soal les tambahan gimana? Apa yang menurut kalian juga penting?
Ada seorang teman kantor yang mengharuskan anakanya ikutan KUMON, sebosan dan sebete apapun anaknya, gak boleh berhenti dari les itu. Tapi untuk les2 yang lain, anaknya boleh milih terserah si anak.
Aq dah pernah ngebahas ini dengan hubby, kami setuju, kayaknya Ara perlu belajar musik, bukan untuk serius2 amat sih, cuma untuk melatih hearing dan nada. Ara sendiri kayaknya sudah ada minat dengan musik, melihat bagaimana dia suka main2 dengan tuts piano dan juga bermain nada dengan xylophone.
Yang kedua, kayaknya kami juga pengen Ara belajar nari, untuk melatih keluwesan dan juga kuda2. Soalnya, Ara anak cewek, nantinya dia akan butuh belajar martial arts sebagai bekal dia bertahan di kota ini. So, les tari kayaknya bakal jadi basic yang bagus (Tari tradisional khususnya)
Four tines is a fork. Three tines is a trident. One is for eating, one is for ruling the seven seas.
semua les seni kayaknya mau aku cobain ke anak terserah minat ke mana. les pelajaran ntar aja kalau udah gede. lagian udah dapat pelajaran di sekolah.
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Nah, soal les... itu salah satu yang saya lihat waktu milih sekolah... saya pilih sekolah yang punya kemampuan untuk membuat anak tidak perlu les di luaran. Waktu itu saya wawancarain guru-guru di SD-nya si kakak, saya cek kemampuan bahasa Inggris dari guru bahasa Inggrisnya, pemahaman matematik dari guru matematika-nya, termasuk pemahaman agama dari guru agamanya. Kemampuan guru keseniannya juga penting, dia termasuk yang paling lama saya wawancarain....
Saya nggak mendorong anak untuk les materi yang sudah masuk kurikulum nasional, itu seharusnya sudah bisa ditangani oleh sekolah. Buat saya kumon is a waste. Untuk apa memberi anak kemampuan matematika yang lebih unggul dari kurikulum atau teman-teman sebayanya? kadang-kadang itu cuma untuk pemenuhan ego orang tua.
Tapi kalau ada hal-hal yang menarik minat anak-anak, saya gak segan untuk menjejalkan mereka ke sana, bahkan seandainya mereka cuma bertahan dua tiga minggu lalu tertarik ke hal lain lagi. Saat ini si adik sedang senang-senangnya les balet, sedangkan si kakak sedang hobi berenang. Kepingin aja memberi mereka pengalaman sih, nggak perlu jadi ahli, sekedar pernah mencoba aja sudah cukup memberi mereka wawasan.
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
wawasan itu yang penting.
paling ngga mengenalkan. kalau ga tertarik dikeluarkan saja nanti.
mau les renang tapi mayan mahal
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India