Page 3 of 6 FirstFirst 12345 ... LastLast
Results 41 to 60 of 109

Thread: Memusuhi komunitas Ahmadiyah

  1. #41
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by Agitho_Ryuki View Post
    Aku ndak tahu.. Yang jelas waktu itu adikku punya kartu anggota remaja ahmadiyah.. Tapi di pelajaran Agama Islam di Sekolahnya juga dinyatakan dengan tegas bahwa tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW.
    Kalau pahamnya ini, ya tidak sesat dan setahu saya ini sekte Ahmadiyah Lahore, sedangkan yang difatwa sesat adalah sekte Ahmadiyah Qadiyani
    Fatwa tentang Ahmadiyah Qadiyani 04may10
    Majelis Ulama Indonesia dalam Musyawarah Nasional II tanggal 11-17 Rajab 1400 H/26 Mei – 1 Juni 1980 M. di Jakarta memfatwakan ten tang jama’al Ahmadiyah sebagai berikut :

    1. Sesuai dengan data dan fakta yang diketemukan dalam 9 (sembilan) buah buku tentang Ahmadiyah, Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bahwa Ahmadiyah adalah jama’ah di luar Islam, sesat dan menyesatkan.

    2. Dalam menghadapi persoalan Ahmadiyah hendaknya Majelis Ulama Indonesia selalu berhubungan dengan Pernerintah.


    Kemudian Rapat Kerja Nasional bulan 1- 4 Jumadil Akhir 1404 H./4 – 7 Maret 1984 M., merekomendasikan tentang jama’ah Ahamdiyah tersebut sebagai : berikut :

    1. Bahwa Jemaat Ahmadiyah di wilayah Negara Republik Indonesia berstatur sebagai badan hukum berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI No. JA/23/13 tanggal 13-3-1953 (Tambahan Berita Negara: tangga131-3-1953 No. 26), bagi ummat Islam menimbulkan :

    a. Keresahan karena isi ajarannya bertentangan dengan ajaran agama Islam
    b. Perpecahan, khususnya dalam hal ubudivah (shalat), bidang munakahat dan lain-lain.
    c. Bahaya bagi ketertiban dan keamanan negara.

    Maka dengan alasan-alasan tersebut dimohon kepada pihak yang berwenang untuk meninjau kembali Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI JA/22/ 13, tanggal 31-3-1953 (Tambahan Berita Negara No. 26, tanggal 31– – 1953).

    2. Menyerukan :

    a. Agar Majelis Ulama Indonesia, Majelis Ulama Daerah Tingkat I, Daerah Tingkat II, para ulama, dan da’i di seluruh Indonesia, menjelaskan kepada masyarakat tentang sesatnya Jema’at Ahmadiyah Qadiyah yang berada di luar Islam.

    b. Bagi mereka yang telah terlanjur mengikuti Jema’at Ahmadiyah Qadiyah supaya segera kembali kepada ajaran Islam yang benar.
    c. Kepala seluruh ummat Islam supaya mempertinggi kewaspadaannya, sehingga tidak akan terpengaruh dengan faham yang sesat itu.
    Dan ini alasan2 fatwa sesat tsb : PENJELASAN TENTANG FATWA ALIRAB SESAT AHMADIYAH
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  2. #42
    @Asum: ya udah, kalo nggak mau ngalah, biar yang waras saja yang ngalah. :lol:

    Oh iya, tambahahan, rasanya Asum salah mengerti bahwa waras itu berarti pasti pihak yang benar sehingga tercederai rasa kebenarannya. Waras maksud saya disini dalam tataran logika berpikir bahwa ke-iman-an itu tidak bisa dipaksakan. Nah, saya menyebutkan bahwa tarekat yang ngalah tersebut adalah waras karena mereka sadar tidak mungkin dipaksakan umat Islam umumnya menerima pemikiran mereka dan mereka mengalah untuk tidak petantang-petenteng mengumumkan ke-iman-an mereka yang berbeda itu. Jadi tidak ada urusan salah-benar dalam hal ini.

    Tapi kalo sampean berbendapat bahwa ke-iman-an itu memang harus dipaksakan (dan bukan hak preogratif Tuhan) ya emang berarti yang ngalah itu nggak waras.
    Last edited by danalingga; 24-02-2011 at 04:27 AM.

  3. #43
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Saya tidak tau arti waras menurut anda, yang saya tau waras itu tidak gila.

    Jadi kalau anda katakan
    Quote Originally Posted by danalingga
    @Asum: ya udah, kalo nggak mau ngalah, biar yang waras saja yang ngalah. :lol:
    Maka artinya anda ingin mengatakan bahwa jika ada da'wah sesat, dari pada bentrok leboh baik anda ngalah supaya dianggap waras. Iya toh ?


    wah... jadi Allah SWT & Rasul-Nya tidak waras ketika Allah SWT berfirman :

    وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلّهِ فَإِنِ انتَهَواْ فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِينَ
    Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (QS 2:193)


    dan Rasulullah saw bersabda :

    حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي نَفْسَهُ وَمَالَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ
    Telah bercerita kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhriy] telah bercerita kepada kami [Sa'id bin Al Musayyab] bahwa [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah (tidak ada ilah kecuali Allah). Maka barang siapa yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, sungguh telah terlindung jiwa dan hartanya dariku kecuali dengan haqnya dan perhitunganya kepada Allah". Diriwayatkan oleh 'Umar dan Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. (HR. Bukhari)


    Na'udzubillah min dzalik ...
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  4. #44
    @Asum: ya mbok diceritakan juga latar belakang ayat tersebut turun, jangan disembunyikan gitu donk.

    Maka artinya anda ingin mengatakan bahwa jika ada da'wah sesat, dari pada bentrok leboh baik anda ngalah supaya dianggap waras. Iya toh ?
    dawah sesat? Sesat menurut siapa?

    Kalo ayat tersebut sampean hendak pake, menurut saya harus sudah ditetapkan oleh Tuhan siapa yang sesat itu dan siapa yang tidak. Setahu saya ayat tersebut turun kepada Nabi Muhammad yang tahu persis (berdasarkan wahyu dari Tuhan langsung) siapa yang sesat, siapa yang memfitnah, dll. Lah, kalo sampean make ayat tersebut dan bersandar kepada pendapat manusia mana yang sesat mana yang tidak kan bisa berabe. Bisa-bisa yang terjadi yang sesat teriak sesat. Point saya belum tentu mana yang benar dan mana yang sesat, ini udah sok-sokan pake ayat untuk menghajar (karena kebencian) orang lain.

    Tapi perlu dicatat bahwa kalo sekedar mendakwah (tanpa kebencian dan kekerasan) yang dirasa benar sih saya setuju-setuju saja. Tapi kalo si tarekat atau ahmadiyah tidak goyah imannya oleh dakwah sampean, ya jangan lantas maen paksa dunk. Itu namanya nentang Tuhan.

    Ngerti nggak resikonya kalo situ ternyata yang telah salah? Tapi kalo situ merasa sudah yakin bahwa situ yang paling benar ya silahkan saja menganggap bahwa ternyata seperti yang situ anggapkan kepada saya. Yang penting bukan Tuhan yang beranggapan demikian terhadap saya.

    Perlu juga dicatat bahwa sesat tidak, ke-iman-an itu hak preogratif Tuhan juga berdasarkan AQ (cuman saya nggak suka aja bawa-bawa ayat). Mau dilanggar?
    Last edited by danalingga; 24-02-2011 at 10:43 AM.

  5. #45
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by danalingga
    @Asum: ya mbok diceritakan juga latar belakang ayat tersebut turun, jangan disembunyikan gitu donk.
    Lah, jika anda tau latar belakang ayat tsb turun, silahkan copas disini. Dan bagaimana anda mengambil hukum dari ayat tsb di atas. Gampang kan, jadi tidak bertele-tele

    Quote Originally Posted by danalingga
    Maka artinya anda ingin mengatakan bahwa jika ada da'wah sesat, dari pada bentrok leboh baik anda ngalah supaya dianggap waras. Iya toh ?
    dawah sesat? Sesat menurut siapa?
    Ya menurut syari'at dong, masa menurut saya, anda, atau MUI.

    Dari mana tolok ukur sesatnya ? jika menyimpang dari aturan agama yang qoth'i (baku/pasti) <<< sesat.

    Quote Originally Posted by danalingga
    Kalo ayat tersebut sampean hendak pake, menurut saya harus sudah ditetapkan oleh Tuhan siapa yang sesat itu dan siapa yang tidak.
    Bukankah Allah SWT sudah menetapkan batasannya dalam syari'at ?

    Misal saja : syari'at mengatakan babi haram, anda katakan (misal) babi halal <<< sesat karena bertentangan dengan aturan/hukum agama yang qoth'i.

    Atau anda ingin Allah SWT menurunkan wahyu baru kepada anda, maka anda akan mengatakan : "oooohhhh .... tuhan tadi bilang sama saya klo ini haram, itu halal, dst" ?

    Begitu juga dalam hal adanya Nabi baru sesudah nabi Muhammad saw, paham adanya nabi lain sesudah nabi Muhammad saw <<< sesat

    Quote Originally Posted by danalingga
    Setahu saya ayat tersebut turun kepada Nabi Muhammad yang tahu persis (berdasarkan wahyu dari Tuhan langsung) siapa yang sesat, siapa yang memfitnah, dll. Lah, kalo sampean make ayat tersebut dan bersandar kepada pendapat manusia mana yang sesat mana yang tidak kan bisa berabe. Bisa-bisa yang terjadi yang sesat teriak sesat. Point saya belum tentu mana yang benar dan mana yang sesat, ini udah sok-sokan pake ayat untuk menghajar (karena kebencian) orang lain.
    Nah supaya tidak terjadi "yang sesat teriak sesat", maka menurut anda apa parameternya ?

    Kalau anda tidak punya parameter sebagai tolok ukurnya, maka sebaiknya anda memang diam saja. Gimana bisa menilai jika anda tidak tahu alat ukurnya dan cara menggunakan alat ukur tsb

    Quote Originally Posted by danalingga
    Tapi perlu dicatat bahwa kalo sekedar mendakwah (tanpa kebencian dan kekerasan) yang dirasa benar sih saya setuju-setuju saja. Tapi kalo si tarekat atau ahmadiyah tidak goyah imannya oleh dakwah sampean, ya jangan lantas maen paksa dunk. Itu namanya nentang Tuhan.

    Ngerti nggak resikonya kalo situ ternyata yang telah salah? Tapi kalo situ merasa sudah yakin bahwa situ yang paling benar ya silahkan saja menganggap bahwa ternyata seperti yang situ anggapkan kepada saya.
    Tahapan da'wah itu mas, sama seperti sikap kepada orang Murtad, diminta taubat dulu agar kembali kepada Islam, jika tidak ya dibunuh. Setahu saya, itulah yang diatur dalam syari'at Islam. Cek di sini : Hukum orang yang murtad

    Apakah anda sekarang tidak setuju dengan sabda Rasulullah saw ?


    Btw, ini bukan berarti saya setuju dengan kasus yang terjadi di Cikeusik ya. Justru saya menentang keras perbuatan anarkis tsb.

    Quote Originally Posted by danalingga
    Yang penting bukan Tuhan yang beranggapan demikian terhadap saya.
    Quote Originally Posted by danalingga
    Perlu juga dicatat bahwa sesat tidak, ke-iman-an itu hak preogratif Tuhan juga berdasarkan AQ (cuman saya nggak suka aja bawa-bawa ayat). Mau dilanggar?
    Nah sekarang sudah dikatakan oleh MUI point2 kesesatan Ahmadiyah. Anda setuju tidak ? kalo tidak setuju apa sanggahan anda <<<< kan yang mustinya didiskusikan.
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  6. #46
    gw termasuk yng tidak sependapat dng MUI
    alasan: spt yng pernah gw posting diatas .... MUI ambigu

    - terhadap komunitas Syi'ah 12 imam, bisa menerima sbg bagian dari sekte islam
    - terhadap komunitas Ahmadiyah ...... tidak bisa menerima, gemana neh :geleng2:
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  7. #47
    @Asum: perasaan dari awal saya tidak ada bicara soal sesat atau tidak sesat. Yang saya bicarakan soal waras atau tidak waras. Situ yang memaksa saya bicara soal sesat dan tidak. Itu karena saya berpandangan manusia itu tidak dapat menentukan sesat atau tidak secara mutlak kecuali mendapat wahyu langsung dari Tuhan.

    Nah, sekarang apa waras itu orang-orang yang merasa dapat memaksakan keimanan seseorang? Kalo berdasarkan pengetahuan saya yang sudah saya share diatas, jelas itu tidak waras karena telah menjadikan dirinnya selevel Nabi atau malah Tuhan.

    Jadi soal sesat atau tidak, saya serahkan sepenuhnya kepada Tuhan dan saya sendiri menjalankan apa yang saya yakini benar (tapi tidak mutlak benar -- saya menyisakan kira-kira 10% ruang untuk menerima kebenaran versi orang lain).
    Last edited by danalingga; 24-02-2011 at 06:34 PM.

  8. #48
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Saya akan berikan pendapat saya, lepas ini, memang saya tidak bisa memaksa anda untuk mengikuti apa yang saya yakini, tetapi setidaknya saya berusaha memberikan pandangan lain soal pemahaman pribadi anda ini :

    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    @Asum: perasaan dari awal saya tidak ada bicara soal sesat atau tidak sesat. Yang saya bicarakan soal waras atau tidak waras. Situ yang memaksa saya bicara soal sesat dan tidak. Itu karena saya berpandangan manusia itu tidak dapat menentukan sesat atau tidak secara mutlak kecuali mendapat wahyu langsung dari Tuhan.
    Makanya di atas saya katakan :
    Ya menurut syari'at dong, masa menurut saya, anda, atau MUI.

    Dari mana tolok ukur sesatnya ? jika menyimpang dari aturan agama yang qoth'i (baku/pasti) <<< sesat.
    Padahal kita bisa menetapkan hukum sesat kepada seseorang sesuai penyimpangan dia dalam menjalankan syari'at. Contohnya juga sudah saya berikan :
    Misal saja : syari'at mengatakan babi haram, anda katakan (misal) babi halal <<< sesat karena bertentangan dengan aturan/hukum agama yang qoth'i.
    Sungguh aneh jika kemudian, anda katakan : "manusia itu tidak dapat menentukan sesat atau tidak secara mutlak kecuali mendapat wahyu langsung dari Tuhan", seolah masalah haramnya makan babi itu hukumnya tidak mutlak, hanya Allah saja yang tau, padahal jelas Allah SWT berfirman :

    ... إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ
    Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi ... (QS2:173)


    Rasulullah saw bersabda :

    حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
    Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Hisyam bin 'Urwah] dari [bapaknya]; aku mendengar ['Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash] berkata; "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : 'Allah Azza wa Jalla menghapuskan ilmu agama tidak dengan cara mencabutnya secara langsung dari hati umat manusia. Tetapi Allah akan menghapuskan ilmu agama dengan mewafatkan para ulama, hingga tidak ada seorang ulama pun yang akan tersisa. Kemudian mereka akan mengangkat para pemimpin yang bodoh. Apabila mereka, para pemimpin bodoh itu dimintai fatwa, maka mereka akan berfatwa tanpa berlandaskan ilmu hingga mereka tersesat dan menyesatkan.' (HR. Muslim)

    Jadi orang sesat itu = orang yang berfatwa tanpa landasan ilmu. Dalam arti, apa yang difatwakannya tidak memiliki dasar dari syari'at (hukum2 Islam).


    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ عَنْ تَمِيمِ بْنِ طَرَفَةَ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ أَنَّ رَجُلًا خَطَبَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ رَشَدَ وَمَنْ يَعْصِهِمَا فَقَدْ غَوَى
    Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] dan [Muhammd bin Abdullah bin Numair] telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Sufyan] dari [Abdul Aziz bin Rufai'] dari [Tamim bin Tharafah] dari [Adi bin Hatim] bahwa seorang laki-laki berkhutbah di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah mendapat petunjuk, dan siapa yang bermaksiat kepada keduanya, maka ia telah tersesat." (HR. Muslim)

    Dalam hadits ini dapat disimpulkan bahwa orang yang sesat itu = orang yang tidak ta'at kepada Alla SWT dan Rasul-Nya. Dikatakan sesat karena mereka mengikuti sesuatu di luar petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya.

    Maka, siapa bilang fatwa sesat tidak dapat diberikan/disampaikan secara mutlak ? (Jika parameter yang dijadikan tolok ukur untuk menilai kesesatan itu jelas)

    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Nah, sekarang apa waras itu orang-orang yang merasa dapat memaksakan keimanan seseorang? Kalo berdasarkan pengetahuan saya yang sudah saya share diatas, jelas itu tidak waras karena telah menjadikan dirinnya selevel Nabi atau malah Tuhan.
    Apakah menurut anda Shahabat Ali kw tidak waras ketika menghukum bakar orang2 Zindiq ?

    حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ أُتِيَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِزَنَادِقَةٍ فَأَحْرَقَهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحْرِقْهُمْ لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
    Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'man Muhammad bin Fadhl] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Ikrimah] mengatakan, beberapa orang Zindiq diringkus dan dihadapkan kepada Ali radliallahu 'anhu, lalu Ali membakar mereka. Kasus ini terdengar oleh [Ibnu Abbas], sehingga ia berujar; 'Kalau aku, aku tak akan membakar mereka karena ada larangan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam yang bersabda: "Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah, " dan aku tetap akan membunuh mereka sesuai sabda Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam : "Siapa yang mengganti agamanya, bunuhlah!" (HR. Muslim)

    Perhatikan, Ali kw membakar orang-orang yang berpaham sesat yang tidak mau bertobat dan kembali kepada ajaran yang benar dengan cara membakar mereka. Walau perbuatan tsb ditentang shahabat Ibnu Abbas, karena tidak sesuai sunnah Rasulullah saw.

    Ada kisah lain, dimana Utsman ra pun menerapkan hukum bunuh bagi yang murtad.


    Maka masihkan anda akan berkata : "sekarang apa waras itu orang-orang yang merasa dapat memaksakan keimanan seseorang? "

    Benar bahwa manusia tidak dapat memberi hidayah manusia lainnya tanpa seijin Allah SWT, tetapi bukan berarti tidak ada hukuman bagi para penyesat agama, apalagi kesesatannya jelas yang dapat memecah belah persatuan islam.

    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Jadi soal sesat atau tidak, saya serahkan sepenuhnya kepada Tuhan dan saya sendiri menjalankan apa yang saya yakini benar (tapi tidak mutlak benar -- saya menyisakan kira-kira 10% ruang untuk menerima kebenaran versi orang lain).
    Iya, serahkan kepada Allah SWT dan Rasulnya lewat al-Qur'an dan al-Hadits ash-shahihah sebagai tolok ukur kesesatan mereka ...


    Barakallahu fiika
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  9. #49
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by pasingsingan View Post
    gw termasuk yng tidak sependapat dng MUI
    alasan: spt yng pernah gw posting diatas .... MUI ambigu

    - terhadap komunitas Syi'ah 12 imam, bisa menerima sbg bagian dari sekte islam
    - terhadap komunitas Ahmadiyah ...... tidak bisa menerima, gemana neh :geleng2:
    Fatwa MUI soal syiah di sini : FAHAM SYIAH

    Penjelasannya di sini : MUI: Syiah Bukan Aliran Sesat!
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  10. #50
    itulah anehnya MUI bro

    pdhl
    Ahmadiyah n Syi'ah 12imam hampir sama konsepnya
    yakni keyakinan ttg adanya imam/pemimpin/utusan akhir jaman
    klo gak mao dibilang hampir sama ...... yaudah cumi deh





    cumi= cuma mirip
    Last edited by pasingsingan; 25-02-2011 at 10:23 PM.
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  11. #51
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by pasingsingan View Post
    itulah anehnya MUI bro

    pdhl
    Ahmadiyah n Syi'ah 12imam hampir sama konsepnya
    yakni keyakinan ttg adanya imam/pemimpin/utusan akhir jaman
    klo gak mao dibilang hampir sama ...... yaudah cumi deh





    cumi= cuma mirip
    gak cumi boss, coba lihat point2 yang dijadikan alasan MUI dalam menghukumi sesat paham Ahmadiyah. Lihat sub bab : Aliran Ahmadiyah : Gerakan, Golongan dan Ajarannya point 1~8.

    Monggo ditambah kupinya mas ...



    Saya ke belakang dulu mau rajang aer
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  12. #52
    Quote Originally Posted by Asum View Post
    Saya akan berikan pendapat saya, lepas ini, memang saya tidak bisa memaksa anda untuk mengikuti apa yang saya yakini, tetapi setidaknya saya berusaha memberikan pandangan lain soal pemahaman pribadi anda ini :


    Makanya di atas saya katakan :

    Padahal kita bisa menetapkan hukum sesat kepada seseorang sesuai penyimpangan dia dalam menjalankan syari'at. Contohnya juga sudah saya berikan :

    Sungguh aneh jika kemudian, anda katakan : "manusia itu tidak dapat menentukan sesat atau tidak secara mutlak kecuali mendapat wahyu langsung dari Tuhan", seolah masalah haramnya makan babi itu hukumnya tidak mutlak, hanya Allah saja yang tau, padahal jelas Allah SWT berfirman :

    ... إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ
    Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi ... (QS2:173)


    Rasulullah saw bersabda :

    حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
    Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Hisyam bin 'Urwah] dari [bapaknya]; aku mendengar ['Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash] berkata; "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : 'Allah Azza wa Jalla menghapuskan ilmu agama tidak dengan cara mencabutnya secara langsung dari hati umat manusia. Tetapi Allah akan menghapuskan ilmu agama dengan mewafatkan para ulama, hingga tidak ada seorang ulama pun yang akan tersisa. Kemudian mereka akan mengangkat para pemimpin yang bodoh. Apabila mereka, para pemimpin bodoh itu dimintai fatwa, maka mereka akan berfatwa tanpa berlandaskan ilmu hingga mereka tersesat dan menyesatkan.' (HR. Muslim)

    Jadi orang sesat itu = orang yang berfatwa tanpa landasan ilmu. Dalam arti, apa yang difatwakannya tidak memiliki dasar dari syari'at (hukum2 Islam).


    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ عَنْ تَمِيمِ بْنِ طَرَفَةَ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ أَنَّ رَجُلًا خَطَبَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ رَشَدَ وَمَنْ يَعْصِهِمَا فَقَدْ غَوَى
    Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] dan [Muhammd bin Abdullah bin Numair] telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Sufyan] dari [Abdul Aziz bin Rufai'] dari [Tamim bin Tharafah] dari [Adi bin Hatim] bahwa seorang laki-laki berkhutbah di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah mendapat petunjuk, dan siapa yang bermaksiat kepada keduanya, maka ia telah tersesat." (HR. Muslim)

    Dalam hadits ini dapat disimpulkan bahwa orang yang sesat itu = orang yang tidak ta'at kepada Alla SWT dan Rasul-Nya. Dikatakan sesat karena mereka mengikuti sesuatu di luar petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya.

    Maka, siapa bilang fatwa sesat tidak dapat diberikan/disampaikan secara mutlak ? (Jika parameter yang dijadikan tolok ukur untuk menilai kesesatan itu jelas)


    Apakah menurut anda Shahabat Ali kw tidak waras ketika menghukum bakar orang2 Zindiq ?

    حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ أُتِيَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِزَنَادِقَةٍ فَأَحْرَقَهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحْرِقْهُمْ لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
    Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'man Muhammad bin Fadhl] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Ikrimah] mengatakan, beberapa orang Zindiq diringkus dan dihadapkan kepada Ali radliallahu 'anhu, lalu Ali membakar mereka. Kasus ini terdengar oleh [Ibnu Abbas], sehingga ia berujar; 'Kalau aku, aku tak akan membakar mereka karena ada larangan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam yang bersabda: "Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah, " dan aku tetap akan membunuh mereka sesuai sabda Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam : "Siapa yang mengganti agamanya, bunuhlah!" (HR. Muslim)

    Perhatikan, Ali kw membakar orang-orang yang berpaham sesat yang tidak mau bertobat dan kembali kepada ajaran yang benar dengan cara membakar mereka. Walau perbuatan tsb ditentang shahabat Ibnu Abbas, karena tidak sesuai sunnah Rasulullah saw.

    Ada kisah lain, dimana Utsman ra pun menerapkan hukum bunuh bagi yang murtad.


    Maka masihkan anda akan berkata : "sekarang apa waras itu orang-orang yang merasa dapat memaksakan keimanan seseorang? "

    Benar bahwa manusia tidak dapat memberi hidayah manusia lainnya tanpa seijin Allah SWT, tetapi bukan berarti tidak ada hukuman bagi para penyesat agama, apalagi kesesatannya jelas yang dapat memecah belah persatuan islam.


    Iya, serahkan kepada Allah SWT dan Rasulnya lewat al-Qur'an dan al-Hadits ash-shahihah sebagai tolok ukur kesesatan mereka ...


    Barakallahu fiika
    Untuk hal ini saya tidak akan teruskan karena jawaban saya berpotensi menyakiti saudara-saudara muslim.

    Tapi mungkin peristiwa Karbala dapat sedikit memberikan gambaran soal kemungkinan "waras" atau tidak yang berhubungan dengan para Sahabat.

  13. #53
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by danalingga
    Tapi mungkin peristiwa Karbala dapat sedikit memberikan gambaran soal kemungkinan "waras" atau tidak yang berhubungan dengan para Sahabat.
    Saya kira topik Karbala itu masalah lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan topik ini.

    Adapun jika anda ingin menguatkan pendapat anda soal "waras" atau "tidak waras" maka ini hanya argumen anda semata yang sifatnya subyektif.

    Padahal, membuat keputusan apakah kita "memusuhi atau tidak memusuhi Ahmadiyah" harus digunakan tolok ukur syari'at, dimana diukur seberapa parah kesesatan mereka dalam hal penyimpangan aqidah tsb.

    Abu Bakar as-Shidiq, ketika beliau menjadi khalifah pun melakukan pemaksaan fisik terhadap orang2 yang menyimpang dari pokok2 syari'at yang qothi' seperti dalam riwayat berikut :

    أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ الْفَضْلِ قَالَ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ قَالَ حَدَّثَنِي شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ وَسُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ وَذَكَرَ آخَرَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا جَمَعَ أَبُو بَكْرٍ لِقِتَالِهِمْ فَقَالَ عُمَرُ يَا أَبَا بَكْرٍ كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَإِذَا قَالُوهَا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَوَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ رَأَيْتُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ شَرَحَ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ لِقِتَالِهِمْ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَقُّ
    Telah mengabarkan kepada kami [Ahmad bin Sulaiman], ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Muammal bin Al Fadhl], ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Walid], ia berkata; telah menceritakan kepadaku [Syu'aib bin Abi Hamzah] serta [Sufyan bin Uyainah] dan ia menyebutkan yang lain dari [Az Zuhri] dari [Sa'id bin Al Musayyab] dari [Abu Hurairah], ia berkata; tatkala Abu Bakr bertekad memerangi mereka maka [Umar] berkata; wahai Abu Bakr, bagaimana engkau memerangi manusia sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH, maka seandainya mereka mengucapkannya maka sungguh mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haknya". Maka [Abu Bakr] berkata; sungguh saya akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat. Demi Allah seandainya mereka menahanku mengambil satu anak kambing saja yang dahulunya mereka tunaikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam niscaya saya akan memerangi mereka karena menolak untuk memberikannya. Umar radliallahu 'anhu berkata; demi Allah, tidak lain kecuali saya melihat Allah 'azza wajalla telah melapangkan hati Abu Bakr untuk memerangi mereka dan saya tahu bahwa ia adalah yang benar.(Sunan An-Nasa'i)

    Perhatikan, awalnya Umar bin Khoththob pun mempertanyakan keputusan Abu Bakar untuk memerangi orang-orang Muslim yang tidak mau membayar zakat kepada ke khalifahan Abu Bakar karena Umar bersandar kepada dalil "haramnya memerangi orang-orang yang bersyahadat Laa ilaaha illallaah, namun Abu Bakar tetap memerangi mereka karena mereka melanggar aturan hukum yang jelas dalam Islam (yaitu kewajiban membayar zakat), dan disini pada akhirnya 'Umar menyetujui keputusan khalifah Abu Bakar.

    Dari kisah di atas dapat kita katakan bahwa memerangi orang-orang yang menyimpang dari aturan hukum Syari'at dengan penyimpangan yang nyata dimana mereka tidak dapat kembali ke jalan yang dimakasud oleh syari'at kekuali dengan cara paksa, maka ia dibolehkan bahkan wajib hukumnya demi tegaknya Hukum2 Allah.


    Dan tidak ada generasi salaf dan ulama fiqh yang berkata tidak waras terhadap keputusan Abu Bakar tsb, demikian juga dengan kisah Ali kw yang menghukum bakar kaum Zindiq.

    Oleh karena itu, memusuhi dan mentahjir Ahmadiyah adalah wajib karena aqidah mereka menyimpang dari apa yang dipahami Rasulullah saw dan para shahabat tentang tafsir khataman Nabiyyiina yang artinya penutup para Nabi yang tidak ada nabi lain setelah pengutusan Rasulullah saw ( laa nabiya ba'diy).


    Tidak dipungkiri, bahwa selalu ada tafsir-tafsir yang syadz (menyimpang) dari tafsir yang masyur (yang terkenal), maka dalam kaidah ilmu semua paham yang syadz (memyimpang) dari paham yang masyhur maka ia ditolak.

    Dan YA, membenci dan mengingkari kemungkaran dan kesesatan itu hukumnya wajib walaupun harus kita ingkari dengan hati ...

    Rasulullah saw bersabda :

    حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ أَخْبَرَنِي سُفْيَانُ عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الْحَضْرَمِيِّ يَقُولُ أَخْبَرَنِي مَنْ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أُمَّتِي قَوْمًا يُعْطَوْنَ مِثْلَ أُجُورِ أَوَّلِهِمْ يُنْكِرُونَ الْمُنْكَرَ
    Telah menceritakan kepada kami [Zaid bin Al Hubab] telah mengabarkan kepadaku [Sufyan] dari ['Atho` bin As Sa`ib] berkata; Aku mendengar ['Abdur Rahman bin Al Hadhrami] berkata; telah mengabarkan kepadaku [orang] yang mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: " Diantara ummatku ada sekelompok kaum, mereka diberi pahala seperti pahala para pendahulu mereka, (dikarenakan) mereka mengingkari kemungkaran." (Musnad Ahmad bin Hanbal)


    Apakah orang yang memusuhi dan membenci kesesatan/kemungkaran = orang yang tidak waras ?

    Lalu bagaimana dengan orang yang menyukai dan berkongsi dengan kesesatan/kemungkaran, apakah = dengan waras ?

    Atau, apakah orang yang membiarkan kesesatan/kemungkaran = waras ?


    Silahkan anda vote sambil minum kopi selanjutnya ...
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  14. #54
    Bismillahirohmanirohiim , membaca diskusi mengenai Ahmadiyah dalam topik ini , saya tertarik untuk ikut urun rembug.

    Saya hanya akan share hal yg moga moga menambah pemahaman temen temen mengenai ajaran yg ada dalam Ahmadiyah (oleh MGA) dari buku buku yg mereka terbitkan sendiri.

    1. Imam Zaman. Mirza Ghulam Ahmad (MGA) dalam berbagai kesempatan menyatakan betapa diperlukannya seorang Imam Zaman bagi umat Islam. Dia mengacu pada sebuah hadist :"Barangsiapa yg tidak mengenali imam zamannya maka matinya adalah mati jahiliyah. (Abu Daud..Kanzulumal;Biharul Anwar, hal.45) Dari buku "Khilafat Telah Berdiri" , oleh :H.M.Ahmad Cheema.HA.Sy. Terbitan Jamaah Ahmadiyah Indnesia 1977.

    2.Siapakah Iman Zaman Dalam bukunya "Perlunya seorang Iman zaman" terbitan JAI 1992 oleh MGA as. hal. 45 , MGA dengan tegas menyatakan : "Maka saat ini aku berkata tanpa gentar dan takut-takut bahwa dengan karunia dan anugerah Allah Ta'ala AKULAH IMAN ZAMAN."
    Buku itu diawali dengan merujuk pada hadist pada butir 1 diatas dan diikuti dengan kalimat :"Dengan adanya wasiat Nabi saw tersebut maka perlulah bagi tiap pencari kebenaran agar senantiasa berusaha mencari Imam yg benar."

    3.Baiat Dalam buku yg sama spti butir 1 (Khalifat telah berdiri) halaman 1 , dikutip suatu hadist Muslim & Misykat hal 120 : "Seseorang yg mati dan tidak bai'at kepada serang Iman (yakni Khalifah) , maka matinya adalah mati jahiliyah"

    Dan dalam bukunya berjudul "Ajaranku" MGA menyatakan dia menerima janji Allah :"Tiap tiap orang yg berada di dalam dinding pagar rumahmu akan Kuselamatkan"
    Maka seorang Ahmadiyah harus melakukan bai'at kepada Imamnya masing masing agar tidak mati jahiliyah".

    4.Siapa yg tidak diakui sebagai jema'at Ahmadyah itu Dalam buku "Ajaranku " tsbt hal 19 dijelaskan antara lain :
    :"Barang siapa yg menyalahiperjanjian yg dibuatnya tatkala bai'at dengan cara bagaimanapun ia adalah bukan jema'atku
    Barang siapa yg tidak benar benar yakin bahwa aku Masih dan Mahdi yg dijanjikan ia bukanlah Jema'ahku.
    Barangsiapa yg tidak siap sedia mentaatiku dalam perkara kebaikan ia bukanlah jema;atku.
    Barang siapa yang duduk bercengkerama di tengah tengeh kumpulan orang yg menentangku serta mengiakan apa yang dikatakan oleh mereka , ia bukanlah dari Jema'atku.
    Dan yg lain lain perbuatan yg melanggar larangan agama Islam yg biasa dikenal umat Islam lainnya dinyatakan bukan jema'atnya.

    5.Mengenai haji "Mengenai naik haji ke tanah suci Mekkah , Allah swt berfirman , bahwa ibadah ini merupakan suatu media (perantara) untuk menumpas pikiran pikiran degil dan menjauhkan perselisihan perselisihan. Jadi maksud daripada ibadah haji itu ialah untuk menghentikan kebiasaan dan mengeluarkan ucapan ucapan kotor , perbuatan keji dan perselisihan."

    Itu bisa ditemui di buku "Apakah Ahmadiyah Itu?" hal 64 oleh Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad , terbitan JAI 1996

    Itu sementara sharing dari saya , mungkin bisa memberi gambaran sikap yg terbentuk dlam masyarakat Indnesia dan dunia. saat ini.
    Last edited by Dadap serep; 27-02-2011 at 08:17 PM.
    ADEM_AYEM_TENTREM

  15. #55
    terima kasih bro Dadap
    atas resumenya ttg isi ajaran kitab ... Tadzkirah?
    yng konon dinisbatkan sbg kitab standard komunitas Ahmadiyah.

    bbrp postingan sy diatas jg sedikit menyinggung titik kesamaannya
    antara ajaran Syi'ah 12imam dng Ahmadiyah
    yakni, keyakinan akan perlunya imam/pemimpin umat diakhir jaman.

    hanya saja masalahnya kembali kpd sikap umat islam indonesia umumnya
    serta otoritas MUI dlm menyikapi kesamaan kedua komunitas tsb.

    mengapa komunitas Ahmadiyah dijatuhi vonis "sesat n bukan bagian dari islam"
    sedangkan komunitas Syi'ah 12imam tidak demikian halnya?
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  16. #56
    pelanggan setia eve's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    4,120
    sejujurnya saya malah bingung kalau ada orang yang mengaku beragama islam tapi malah membiarkan aqidah keislamannya terkoyak2 bahkan mungkin saja bisa menjadi barang langka di kemudian hari.
    islam sudah mempunyai dua patokan jelas dalam hidup di dunia yaitu al qur an dan as sunah. jadi, jika ada hal yang bertentangan dengan keduanya dan dilakukan sebuah uoaya untuk memberantasanya sesuai dengan ajaran islam yaitu al qur an dan as sunah, kok bisa ya ada umat islam yang malah menyalahkannya?
    hah.. dunia memang aneh.. semakin aneh dan semakin mendekati kiamat.. jika umat islam tak lagi peduli dengan islam-nya dan malah membela orang2 yang ingin menghancurkan islam, apalah lagi hidup di dunia ini?
    orang2 kafir, darahnya halal,
    orang2 yang menodai agama, pantas dihancurkan. diperangi seoerti yang dilakukan oleh para sahabat sahabat nabi..
    buka mata dan hati, jangan mau dikibuli oleh musuh musuh islam..

    *haoduh... padahal udah gak mau ikutan,.. cukup sekian ah... saya mau kaboor...

  17. #57
    Pak Pasing saya kurang begitu menguasai mengenai Syiah ya. Hanya secara garis besar kan Syiah dan Sunni sebetulnya berangkat dari masalah kepemimpinan umat , bukan pada ajaran . Tapi Ahmadiyah spt saya kutib dan sebetulnya banyak lagi poin persimpangannya adalah ada pada ajrannya. Seperti masalah krusial yg sering disoroti , bahkan oleh orang diluar Islam , bahwa seolah olah Islam main stream tidak berhak mengklaim bahwa ajarannya yg bener dan Ahmadiyah berada diluar Islam --secara seloroh mungkin dibilang memangnya Islam ada hak patent nya-- itu yg sering dikemukakan.
    Namun masalahnya bukan seperti itu . Ajaran Islam sejak nabi sampai dengan permulaan abad 19 (1835-1908) tidak mengenal prosedure untuk jadi muslim dan pada saat mati nanti tidak mati secara jahiliyah , itu harus berbai'at dulu kepada MGA !. Nah baru diawal abad itu untuk menjadi muslim dan mati secara muslim harus baiat dulu kepada MGA dan para penggantinya ! Atau dengan kata lain yg bukan jema'at Ahmadiyah adalah bukan muslim ! Nah jadi sebetulnya yg "mengeluarkan" diri dari Islam itu kan kaum Ahmadi sendiri !
    Nah permasalahannya itu adalah demikian , dan memang mereka menyebut diri kaum Jamaah Ahmadi !

    Silahka juga perhatikan klaimnya (MGA) ini :

    "Allah telah menganugerahkan kepadaku empat macam tanda :
    1.Aku jadi tanda penuturan dan kefasihan dalam bahasa Arab sebagai bayangan mukzijat Al-Qur'an suci.Tidak ada orang yg mampu meandingi.
    2. Aku jadi tanda kemampuan menguraikan kebenaran kebenaran dan ilmu kearifan-kearifan Al Qur'an suci.Tidak ada orang yg mampu menandinginya
    3.Aku jadi tanda berlimpah limpah kemakbulan doa. Tidak ada orang yg mampu menandinginya.Aku berkata dengan sumpah bahwa doa doaku yg telah terkabul mendekati jumlah tiga puluh ribu dan aku memiliki bukti bukti mengenai hal hal itu.
    4. Aku jadi tandatentang kabar kabar gaib. Tidak ada rang yg mampu menaninginya

    Tertulis dalam buku "Perlunya Seorang Iman Zaman" hal 48 oleh MGA diterbitkan leh JAI thn 1992.
    ADEM_AYEM_TENTREM

  18. #58
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by eve View Post
    *haoduh... padahal udah gak mau ikutan,.. cukup sekian ah... saya mau kaboor...
    Loh kok malah kaboor


    Santai aja ev, silahkan kemukakan apa yang jadi uneg2 dan pandangan anda, selama santai dan dengan hati dingin sih gak papa, namanya juga obrolan di warung kopi ... gak perlu tegang begitu dan ketakutan ....


    @bung Dadap,

    Terima kasih tambahan informasi dan atas kesediaanya berbagi ...


    Mari ... mari ... ditambah kopinyaa ....

    Sampe subuuuhhh ....
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  19. #59
    pelanggan setia eve's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    4,120
    Quote Originally Posted by Asum View Post
    Loh kok malah kaboor


    Santai aja ev, silahkan kemukakan apa yang jadi uneg2 dan pandangan anda, selama santai dan dengan hati dingin sih gak papa, namanya juga obrolan di warung kopi ... gak perlu tegang begitu dan ketakutan ....

    saya gak tegang dan ketakutan pak asum, saya hanya ingin hidup benar.. (*lebay..)
    saya sudah capek maen2 di daa, sekarang mau benerin islam saya dulu, kalau sudah khatam al qur an dan as sunah, baru deh saya harus belajar kitab2 lain seperti zabur, taurat dan injil.. nah.. kalau sudah khatam semua, baru belajar yang lain2... seperti tadzkirah..

    nah, permisi ya pak asum..terima kasih tanggapannya..

    tambahan curhat deh : saya sudah mulai mengenal ahmadiyah ini sejak sma, bahkan dulu ada kutipan bagian2 mana yang menjadi "pointer" kesesatan ajaran ini terhadap islam. tapi anehnya, kenapa baru sekarang2 saja mulai santer tentang ahmadiyah ini.

  20. #60
    Quote Originally Posted by pasingsingan View Post
    mengapa komunitas Ahmadiyah dijatuhi vonis "sesat n bukan bagian dari islam"
    sedangkan komunitas Syi'ah 12imam tidak demikian halnya?
    Saya coba kutipkan penjelasan dari MUI mengenai Siah :
    Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam
    dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab
    Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam
    Indonesia.
    Perbedaan itu di antaranya :
    1. Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait,
    sedangkan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan
    asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.
    2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan
    Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa
    yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
    3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan
    Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan
    ikut sertanya “Imam”.
    4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/
    pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama,
    sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari
    segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah
    untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat.
    5. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar
    as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan
    Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin
    (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

    Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus
    Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai
    perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama
    Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham
    Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap
    kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah

    Ditetapkan : Jakarta, 7 Maret 1984 M
    4 Jumadil Akhir 1404 H
    KOMISI FATWA
    MAJELIS ULAMA INDONESIA
    Dan berikut saya ambilkan pointer alasan MUI memandang sesat Ahmadyah /ajaran MGA , saya ambil dari situs resmi MUI

    Keempat, bahwa betapapun kedua kelompok ini berbeda dalam
    beberapa hal, namun mereka sepakat pada hal-hal berikut :

    1. Bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah al-Mahdi al-Ma’huud dan
    al-Masih al-Mau’uud, sebagaimana diberitakan nabi Muhammad
    SAW.

    2. Bahwa pada Mirza Ghulam Ahmad diturunkan wahyu, yang wajib
    dibenarkan dan diikuti oleh seluruh manusia.

    3. Bahwa kedua kelompok ini sesungguhnya memilki “konsep
    kenabian” Mirza Ghulam Ahmad, meski penjelasannya berbeda.

    4. Bahwa apa yang didakwahkan, diucapkan, dan ditulis dalam
    semua karya dan tulisan Mirza Ghulam Ahmad adalah sebuah
    kebenaran.

    5. Bahwa mereka yang mendustakan atau menginkari dakwah Mirza
    Ghulam Ahmad adalah kafir.
    Fatwa dan Sikap MUI

    Berdasarkan bukti-bukti ajaran Ahmadiyah, sebagaiamana
    tertuang dalam berbagai literature karya Mirza Ghulam Ahmad dan
    para tokoh pengikutnya di atas, serta setelah mengkaji ayat-ayat al-
    Qur’an dan Hadis serta Ijma’ Ulama, maka MUI menetapkan fatwa
    bahwa Aliran Ahmadiyah, baik Qodiyani ataupun Lahore,
    sebagai keluar dari Islam, sesat dan menyesatkan. Hal itu
    didasarkan pada :

    1. Bahwa Nash al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah secara qath’i
    telah menetapkan bahwa kenabian dan kerasulan telah berakhir
    (tertutup) setelah kerasulan Nabi Muhammad SAW., maka siapa
    saja yang mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad berarti
    ia telah keluar dari Islam. Dan bahwa aqidah ini (tidak ada nabi
    setelah Nabi Muhammad SAW) adalah keyakinan yang fundamental
    dan mendasar, yang tidak menerima ta’wil dan takhshish apapun,
    karena ia telah ditegaskan dengan jelas dalam al-Qur’an dan Hadis-
    Hadis Mutawatir yang qath’I serta telah menjadi Ijma’ seluruh
    Ulama.

    2. Bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah nyata-nyata mengaku dirinya
    sebagai nabi maka ia telah keluar dari Islam. Adapun adanya ta’wil
    dan tafsir akan kenabiannya sebagai “nabi zhilyi” , “buruzy”, “nabi
    ghairu tasyri’i” atau “nabi ummati” hukumnya adalah sama. Hal itu
    dikarenakan Aqidah tentang khataman nabiyyin, adalah aqidah
    qath’iyyah yang tidak dapat dita’wil ataupun ditakhshish. Tidak ada
    satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran mereka. Sebagaimana
    para shahabat nabi memerangi Musailamah al-Kadzdzaab, Aswad
    al-‘Unsa dan Thalaihah bin Khuawailid yang mengaku nabi dengan
    cara mena’wil ma’na nubuwwah dan risalah.

    3. Bahwa berimam dengan orang mengaku dirinya nabi hukumnya
    sama dengan yang diimaminya.

    4. Bahwa pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai al-Mahdi dan al-
    Masih yang dijanjikan menjelang Hari Kiamat, sebagaimana diakui
    Qodiyan maupun Lahore, adalah kebohongan dan pembohongan
    terhadap al-Qur’an, Sunnah Mutawatir, dan Ijma’.
    Semoga bisa memberikan jawaban atas pertanyaan pak Pasing.
    ADEM_AYEM_TENTREM

Page 3 of 6 FirstFirst 12345 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •