Lembur baca #45 postingan

Maaf baru sempat nimbrung
Judulnya Lebar amat yak. Konsep Agama
Kupikir membahas filosofi agama
boleh-boleh aja mikir seperti itu. biar lebih gampang n damai.
Menyembah pada tujuan satu titik yang sama, beda-beda jalan menuju ke sana..
Memahami konsep suatu agama, apalagi jika dirinya sudah terisi.
Ini semacam cangkir yang sudah isi. Dan akan mudah menjadi luber/tumpah ketika bertemu pemahaman yang bertentangan dengan nalar/imannya.
Apalagi kalau dari sisi agama yang lain. Memahami Agama bukanlah pemahaman dalam berdebat mengenai ayat2 atau bukti2.
Agama bagi saya pribadi adalah proses menjalani perjalanan spiritual senantiasa belajar mengimani, memaknai kehidupan, mencari hikmat dan hikmah, berproses seperti bejana yang dibentuk, memanggul salibNYA (saya sebagai orang Kristen), menjalankan segala perintah ajaran agama. Meski ya.. seringkali masih bolong2 dalam menjalaninya.
Konsep ajaran Kristen bahwa Karya Keselamatan itu dirancang oleh Bapa di Surga dengan mengirimkan anakNya yang tunggal ke dunia melalui rahim Maria.
Ia adalah firman (logos) Allah yang menjadi manusia dan diberi nama YESUS (Ibrani: Yeshua; Yunani: Iesous; Inggris: JESUS), yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut. Dan pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati, naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa Yang Maha Kuasa. Dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
Seperti yang telah disebutkan danalingga.
Di dalam Kristen : Yesus di sebut Allah Anak/anak Allah.
Para pengikut-pengikut Kristus/kaum Nasrani juga disebut anak-anak Allah
Tentang Konsep Allah yang disembah :
Code:
KONSEP ALLAH Dalam Kristen,
ketika berbicara tentang Allah, kita berbicara mengenai hakikat Allah. yang Roh adanya (Yoh 4:24),
bukan materi; tidak terbatas pada ruang dan waktu (Mazmur 93:2), dan tentu tidak seperti kita, manusia yang bersifat materi (Mazmur 90: 4-6).
Pewahyuan Allah Tritunggal dalam Perjanjian Lama
Sudah disebutkan : Allah itu Esa.
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Ulangan 6:4).
Pada Ulangan 6:4, berdasarkan bahasa aslinya, Ibrani. Kata "TUHAN" berasal dari kata bhs Ibrani "YHWH",
Kata "Allah" berasal dari kata Ibrani "ELOHIM" Kata "esa" berasal dari kata Ibrani "Echad" yang artinya adalah "Satu".
Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esensi-Nya atau keberadaan-Nya (YHWH Yg Esa),
sedangkan keragaman-Nya diekspresikan dalam gelar ELOHIM (yg merupakan bentuk kata Jamak).
Di sinilah di Perjanjian Lama, menyiratkan mengenai ketritunggalan.
Pewahyuan Allah Tritunggal dalam Perjanjian Baru
Barulah ketika Tuhan YESUS menyatakannya dalam Matius 28:19
(..baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan ROH KUDUS),
kita mengetahui dengan pasti bahwa ELOHIM yang Jamak itu ternyata terdiri dari tiga pribadi,
yaitu Allah Bapa, Allah Anak (YESUS KRISTUS) dan Allah ROH KUDUS.
Setiap pribadi di dalam Trinitas memiliki peran yang berbeda. Karya keselamatan dalam pengertian tertentu merupakan pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Namun, di dalam pelaksanaannya ada peran yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Anak, dan ROH KUDUS. Bapa memprakarsai penciptaan dan penebusan; Anak menebus ciptaan; dan ROH KUDUS melahirbarukan dan menguduskan, dalam rangka mengaplikasikan penebusan kepada orang-orang percaya.
saya pernah berpikiran seperti anda,
Kupikir tiap orang akan mengalami apa yang dengan dinamakan perjalanan spiritualnya.
agama hanyalah warisan kedua orang tuanya.
manakala si anak beranjak dewasa dia berhak melakukan pencariannya sendiri, sesuai dengan apa yang diyakininya.
proses tsb jelas tidaklah mudah karena pada umumnya manusia adalah cangkir yang sudah isi.
tentu saja akan ada banyak pergesekan2 baik di kalangan internal diri sendiri maupun kalangan lingkungan terdekatnya.
Agama apapun itu baik. Yang tidak baik itu adalah pelaku2nya yang seringkali malah suka sengit internal

nyoba agama itu tentu saja sangat berbeda dengan nyoba makanan yang sekedar cicip.
ini urusannya spiritual bukan kemelekatan dengan duniawi.
manusia tsb harus mendengar, membaca, merasakan, mengimani,
mampu berefleksi secara sadar atas kehidupan yang dialami dengan sandaran hidup yang dia yakininya.
dan harusnya dia tau betul konsekuensi menurut agama yang pernah dipahaminya.
manusia pada umumnya hanya akan bersungut-sungut, menggerutu ketika sedang apes, lalu menyalahkan tuhannya.
mencari pencerahan trus jadi pijakan awal mula sebagai titik tolak/banting setir.
belum lagi kalau ada lingkungan agama sebelah yg lebih nyaman dan bisa menerima dirinya.
ya masing-masing pribadi memiliki 'hidayah'nya sendiri-sendiri.
perjalanan spritualnya untuk beroleh damai sejahtera meski dalam suka ataupun duka.
Hanya Tuhan yang tahu.
Dekat dengan tuhan tidak melulu dengan sarana doa. tidak melulu dengan kegiatan yg sifatnya rohaniah.
meski iya, dalam kristen: Doa adalah nafas bagi orang Kristen.
Dalam aktivitas keseharian seringkali juga ditemukan refleksi sifat keTuhanan.
Sehingga seseorang tersebut merasa begitu dekat denganNya.
Nah definisi dekat sendiri kan relatif, dekatnya manusia belum tentu dekat yang Tuhan maksud.
Ukuran kadar keyakinan dan kebenaran thdp agamanya masing2 bersifar relatif.
Apalagi intepretasi kaum yg keblinger.
entah agama apapun itu.
Intrepetasi dan pemahaman manusia thdp 'pengawasan', 'bimbingan' yang kadang kala malah menimbulkan gesekan dan kerugian bagi orang lain.
Dekat dengan Tuhan --> pasti orang baik (?) --> harusnya. baiknya. maunya. hehehehhe.
Tapi benar ga itu Tuhan? atau malah keblinger somethin dan merasa itu sebagai perantara suara Tuhannya?
Hehehheh berandai2 merubah skenario yah?
Pemahaman inilah yang diyakini manusia berbeda2. Ada yang menyakini, meragukan, menyangkal.
mungkin ada baiknya dibahas dalam thread sendiri ttg Nabi Muhammad atau Nabi Isa?