Page 3 of 4 FirstFirst 1234 LastLast
Results 41 to 60 of 70

Thread: Anda Seorang Agnostik !

  1. #41
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    @234

    Di postingan sebelumnya, ane cuman mo memperjelas dulu kapan term percaya dipake. Sementara contoh ente itu (kesandung batu), menurut ane, lebih dekat ke term dugaan. Bisa saja dari dugaan kemudian menjadi percaya. Tapi term percaya setidaknya perlu informasi samping sebagai dasar utk menerima. Ane melihat percaya perlu waktu, tidak sekejap (muncul di benak), terutama ketika informasi samping sangat minim. Bisa saja ketika masih fase menduga, kemudian menjadi tahu, tanpa perlu percaya dulu. Jadi tidak melulu percaya dulu, tahu kemudian.

    Kebanyakan orang beragama dari orang tua. Anak akan percaya apa yg disampaikan oleh orang tua. Orang tua adalah sebuah informasi samping yg sudah diketahui kualitasnya oleh sang anak. Seorang anak belum tentu menerima ajaran agama yg disampaikan oleh orang lain. Jadi, percaya tidak terjadi begitu saja seperti muncul di dalam benak.

    Ini curious saja, kenapa ente perlu menunjukkan bahwa percaya lebih dulu terjadi dibandingkan tahu?


  2. #42
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Di postingan sebelumnya, ane cuman mo memperjelas dulu kapan term percaya dipake. Sementara contoh ente itu (kesandung batu), menurut ane, lebih dekat ke term dugaan. Bisa saja dari dugaan kemudian menjadi percaya.
    Ok.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Tapi term percaya setidaknya perlu informasi samping sebagai dasar utk menerima. Ane melihat percaya perlu waktu, tidak sekejap (muncul di benak), terutama ketika informasi samping sangat minim.
    Itu juga berlaku untuk term dan/atau kondisi TIDAK percaya. Semakin minim informasi samping semakin besar peluang untuk percaya, sampai batas paling ekstrem tanpa adanya informasi samping maka peluang untuk percaya menjadi 100%. Ini sering muncul dalam praktek "cuci otak" untuk mengindoktrinasi seseorang. Dalam kondisi "kosong", seseorang hanya punya satu pilihan yaitu percaya, tanpa perlu waktu.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Bisa saja ketika masih fase menduga, kemudian menjadi tahu, tanpa perlu percaya dulu. Jadi tidak melulu percaya dulu, tahu kemudian.
    Ya. Seperti halnya tidak melulu TIDAK percaya dulu, tahu kemudian.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Kebanyakan orang beragama dari orang tua. Anak akan percaya apa yg disampaikan oleh orang tua. Orang tua adalah sebuah informasi samping yg sudah diketahui kualitasnya oleh sang anak. Seorang anak belum tentu menerima ajaran agama yg disampaikan oleh orang lain. Jadi, percaya tidak terjadi begitu saja seperti muncul di dalam benak.
    Demikian juga orang tidak beragama karena dari orang tua. Dalam hal ini, si anak masih dalam kondisi relatif "kosong" sehingga lebih mudah percaya. Disini saya ndak melihat orang tua secara status, tetapi dalam posisinya sebagai pihak penyampai paling awal ke anak ybs.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Ini curious saja, kenapa ente perlu menunjukkan bahwa percaya lebih dulu terjadi dibandingkan tahu?
    Sekedar nyari justifikasi sebagai seorang theist aja.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  3. #43
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    Quote Originally Posted by purba View Post
    @234

    Kalau seseorang tersandung sesuatu kemudian di benaknya muncul batu, ane kira itu bukan percaya, tapi dugaan. Demikian juga dgn orang yg merasa alam ini teratur kemudian di benaknya muncul tuhan, itu juga dugaan.

    Kalau percaya lebih ke pernyataan, persisnya menerima suatu pernyataan tanpa perlu pembuktian karena biasanya pelontar pernyataan tsb sudah diketahui kualitasnya. Misalnya si Mamat mengatakan sandungan di gang haji Juki adalah batu. Karena ane tahu si Mamat orangnya jujur, ane menerima omongan si Mamat tsb tanpa perlu ke gang haji Juki utk membuktikannya. Itu namanya percaya.

    Jika ane ke gang haji Juki dan melihat sendiri bahwa sandungan itu adalah batu, itu namanya tahu.

    pas banget.. itu yang dilakukan Abu Bakar assiddiq dan para sahabat yang awal2 masuk Islam.. karena mengetahui pribadi Muhammad shallohu alaihi wa sallam dan kejujurannya.. maka mereka langsung mempercayai apa yang dia bawa....

  4. #44
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Ini kalau di buddhism, cerita persisnya saya gak apal. Dibawah ini cuma mendekati aja, tapi esensinya sama

    Suatu hari Sang Buddha berkumpul bersama murid2 nya. Lalu Buddha bertanya kepada sang murid, "apakah kamu percaya semua yang aku ajarkan padamu ?" Murid2 nya menjawab, "percaya". Lalu Buddha berpaling kepada seorang murid kesayangannya, lalu bertanya "bagaimana dengan kamu ? apakah kau percaya ?". Sang murid menjawab, "tidak percaya". Lalu Buddha berkata, "bagus, jangan percaya sesuatu yang belum kamu buktikan."

    Makanya dalam buddha terkenal dengan konsep, ehipassiko. Datang dan buktikan sendiri.
    Termasuk membuktikan keberadaan tuhan. Yang berhasil maka akan percaya, yang gak berhasil ada yang frustasi dan berhenti pada sebuah kesimpulan, ada juga yang terus menekuni mencari.

    Ada yang belum mencari, cuma modal baca buku dan jurnal ilmiah lalu sampai kepada sebuah kesimpulan
    Ada juga yang pokoknya percaya aja dah

    Nah, dua jenis kelompok diatas itu kalo ketemu seru banget dah tuh

    Anda termasuk yang mana ? *sambil kasih kaca*
    Last edited by sedgedjenar; 26-06-2012 at 05:23 PM.

  5. #45
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Itu juga berlaku untuk term dan/atau kondisi TIDAK percaya. Semakin minim informasi samping semakin besar peluang untuk percaya, sampai batas paling ekstrem tanpa adanya informasi samping maka peluang untuk percaya menjadi 100%. Ini sering muncul dalam praktek "cuci otak" untuk mengindoktrinasi seseorang. Dalam kondisi "kosong", seseorang hanya punya satu pilihan yaitu percaya, tanpa perlu waktu.
    Ane makin gak jelas apa yg ente maksud dgn percaya. Jika semakin minim informasi samping semakin besar utk percaya, maka semakin banyak informasi samping semakin kecil utk percaya. Apa gak aneh?

    Menurut ane, semakin banyak informasi samping yg dimiliki seseorang, semakin mudah utk memutuskan utk percaya atau tidak. Sebaliknya, jika semakin minim, semakin sulit utk memutuskan percaya atau tidak. Jika kosong sama sekali, bisa tidak ada keputusan.

    Demikian juga orang tidak beragama karena dari orang tua. Dalam hal ini, si anak masih dalam kondisi relatif "kosong" sehingga lebih mudah percaya. Disini saya ndak melihat orang tua secara status, tetapi dalam posisinya sebagai pihak penyampai paling awal ke anak ybs.
    Anak tidak dalam kondisi kosong. Isi benak mereka didominasi oleh orang tua. Orang tua itulah informasi samping terkuat yg mereka miliki. Karena itu mereka lebih mudah menerima apa yg dikatakan oleh orang tuanya dari pada orang lain.



    ---------- Post Merged at 09:16 PM ----------

    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    Makanya dalam buddha terkenal dengan konsep, ehipassiko. Datang dan buktikan sendiri.
    Termasuk membuktikan keberadaan tuhan. Yang berhasil maka akan percaya, yang gak berhasil ada yang frustasi dan berhenti pada sebuah kesimpulan, ada juga yang terus menekuni mencari.
    Itu sudut pandang ente yg merasa sudah ketemu tuhan. Cuman merasa lho ya...

    Kalo sudut pandang ateis, ente adalah orang gagal total karena merasa sudah ketemu tuhan.

  6. #46
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by purba View Post

    Itu sudut pandang ente yg merasa sudah ketemu tuhan. Cuman merasa lho ya...

    Kalo sudut pandang ateis, ente adalah orang gagal total karena merasa sudah ketemu tuhan.


    hanya karena saya koar-koar soal ketemu tuhan, itu tidak menjadikan saya telah ketemu tuhan om.
    Tolong dicermati tulisan saya sebelumnya, siapapun disini silakan di cari disemua postingan saya kalo ada yang menemukan kata-kata saya pernah ketemu tuhan, segera pm. Yang pertama nemu nanti saya kasih pulsa.

    namanya aja forum dunia maya lha
    emangnye ente koar-koar soal ilmu pengetahuan dan segala ***** bengek ilmu buat modal berargumen disini otomatis menjadikan ente orang pintar ? nggak kan ?


  7. #47
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Ane makin gak jelas apa yg ente maksud dgn percaya.
    Ah masa?

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Jika semakin minim informasi samping semakin besar utk percaya,...
    Betul. Lha "informasi samping" sendiri itu menurut anda apa sih? Bukannya itu adalah "side information" yg berfungsi untuk memfilter setiap ada informasi baru yang masuk, sebagai tools untuk mengambil keputusan menerima (percaya) ato menolak (tidak percaya) thd informasi baru tsb?

    Quote Originally Posted by purba View Post
    ...maka semakin banyak informasi samping semakin kecil utk percaya. Apa gak aneh?
    Itu kesimpulan sampeyan sendiri. Memang aneh. Dan saya ndak bilang seperti gitu. Coba sampeyan cermati lagi tulisan saya yang anda kutip.

    Percaya atau tidak percaya itu, salah satu faktor penentunya, adalah tergantung kesesuaian antara informasi samping yang dimiliki dgn informasi baru yang diterima, semakin sesuai semakin besar peluang untuk percaya dan semakin tidak sesuai, apalagi bertentangan, akan semakin besar peluang untuk ditolak (tidak percaya).

    Konsekuensi logisnya, semakin banyak informasi samping akan semakin lama/panjang proses penyaringannya, dus keputusan untuk percaya atau tidak percaya butuh proses lebih dibandingkan kalau informasi sampingnya minim.

    Ndak ada yang aneh kok.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Menurut ane, semakin banyak informasi samping yg dimiliki seseorang, semakin mudah utk memutuskan utk percaya atau tidak. Sebaliknya, jika semakin minim, semakin sulit utk memutuskan percaya atau tidak.
    Bisa aja kalo mau dilihat dari cara pandang seperti itu. Tapi disini anda sudah mulai bias dgn persoalan "nilai" (benar-salah). Tipikal cara berpikir orang "eksak/science". Saya bisa maklum kok.

    Tapi itu bertabrakan dgn pernyataan sampeyan sebelumnya yng menyatakan bahwa percaya itu ndak perlu bukti, atau dengan kata lain bebas dari nilai, lha wong pembuktian itu kan untuk menguji nilai benar-salah dari sebuah pernyataan. Lain ceritanya kalo kita bicara ttg penge-tahu-an (knowledge).

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Jika kosong sama sekali, bisa tidak ada keputusan.
    Kalo soal bisa atau ndak bisa sih saya setuju2 aja, itu terserah ybs sebagai pengambil keputusan. Tapi persoalannya disini kita sedang mbahas soal peluang.

    Lha kalo ndak ada sama sekali informasi samping alias "kosong", lalu peluangnya/dasarnya darimana seseorang menolak (tidak percaya) thd sebuah informasi yng masuk?

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Anak tidak dalam kondisi kosong.
    Memang ndak. Saya bilang relatif kosong. Artinya relatif lebih minim dibandingkan dgn orang dewasa.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Isi benak mereka didominasi oleh orang tua.
    Lebih tepatnya oleh orang (dewasa) terdekatnya. Kalau anak itu dari bayi diasuh pamannya ya dia lebih percaya pamannya daripada orang tuanya. Demikian juga kalo dia diasuh engkongnya.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Orang tua itulah informasi samping terkuat yg mereka miliki. Karena itu mereka lebih mudah menerima apa yg dikatakan oleh orang tuanya dari pada orang lain.
    Kalo ini saya agak ndak mudeng maksudnya, coba anda jelaskan antara dua hal yang saya garis bawahi itu korelasinya seperti apa.

    Kalo coba saya nebak2 maksudnya, ya tentu saja begitu karena antara "informasi samping" (garis bawah pertama) dengan "informasi baru" (garis bawah kedua) isinya berkesesuaian karena bersumber dari pihak yang sama (orang tua). Ya jelas anak itu langsung terima (percaya).

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  8. #48
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Betul. Lha "informasi samping" sendiri itu menurut anda apa sih? Bukannya itu adalah "side information" yg berfungsi untuk memfilter setiap ada informasi baru yang masuk, sebagai tools untuk mengambil keputusan menerima (percaya) ato menolak (tidak percaya) thd informasi baru tsb?
    Maka dari itu di awal ane memberikan definisi dulu apa yg dimaksud dgn percaya. Informasi samping bukan seperti yg ente maksudkan di atas. Mengapa? Karena ane mendefinisikan percaya sebagai menerima tanpa menuntut bukti (meski bisa dibuktikan). Kalo informasi samping yg ente maksudkan itu sudah masuk ke dalam pembuktian. Informasi samping yg ane maksud tidak terkait langsung dgn pernyataan tsb, tetapi dapat memberikan dasar utk menerima atau menolak suatu pernyataan.

    Dlm contoh si Mamat tadi. Informasi sampingnya adalah pengetahuan ttg si Mamat orang jujur. Karena si Mamat jujur, maka ane menerima pernyataannya tanpa perlu ane melakukan pembuktian. Jadi kita mempercayai pernyataan seseorang karena, salah satu faktornya, kualitas orang tsb.

    Contoh lain misalnya seorang mantri sunat mengatakan kolesterol dapat mengganggu jantung. Sedangkan seorang dokter spesialis jantung mengatakan kolesterol tidak mengganggu jantung. Mana yg ente percaya? Karena ente tahu bahwa dokter spesialis jantung lebih kompeten dlm hal penyakit jantung, maka ente percaya pernyataan dokter tsb dari pada pernyataan mantri sunat. Pengetahuan ttg orang itu sbg dokter spesialis jantung atau mantri sunat adalah informasi samping.

    Itu kesimpulan sampeyan sendiri. Memang aneh. Dan saya ndak bilang seperti gitu. Coba sampeyan cermati lagi tulisan saya yang anda kutip.
    Kok jadi berbelit2. Coba lihat yg ente tulis...

    Semakin minim informasi samping semakin besar peluang untuk percaya, sampai batas paling ekstrem tanpa adanya informasi samping maka peluang untuk percaya menjadi 100%.
    ...Lha kalo semakin banyak informasi samping semakin gimana peluang utk percaya?

    Selain itu, apa yg ente maksud dgn term percaya? (ini ane tanya berulang kali)

    Percaya atau tidak percaya itu, salah satu faktor penentunya, adalah tergantung kesesuaian antara informasi samping yang dimiliki dgn informasi baru yang diterima, semakin sesuai semakin besar peluang untuk percaya dan semakin tidak sesuai, apalagi bertentangan, akan semakin besar peluang untuk ditolak (tidak percaya).
    Dlm pemahaman ane, yg ente uraikan di atas bukan percaya, tapi nilai dari sebuah pernyataan.

    Tapi itu bertabrakan dgn pernyataan sampeyan sebelumnya yng menyatakan bahwa percaya itu ndak perlu bukti, atau dengan kata lain bebas dari nilai, lha wong pembuktian itu kan untuk menguji nilai benar-salah dari sebuah pernyataan. Lain ceritanya kalo kita bicara ttg penge-tahu-an (knowledge).
    Kok tabrakan? Makanya ane tanya berkali2, apa yg ente maksud dgn percaya. Di atas sudah ane jelaskan apa yg dimaksud dgn percaya dan informasi samping.

    Ketika ente menyodorkan masalah mana lebih dahulu percaya atau tahu, seolah2 term percaya sesuatu yg jelas dan sama bagi setiap orang. Kalo ane gak begitu. Ane berikan dulu batasan2 term percaya supaya yg terlibat dlm diskusi mengacu pada hal yg sama.

    Lha kalo ndak ada sama sekali informasi samping alias "kosong", lalu peluangnya/dasarnya darimana seseorang menolak (tidak percaya) thd sebuah informasi yng masuk?
    Kok orang yg menolak suatu pernyataan ente tuntut dasarnya apa, tetapi orang yg percaya ente tidak tuntut dasarnya apa. Jadi apa term percaya yg ente maksud?


  9. #49
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Ooo...soal definisi tho.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Kalau percaya lebih ke pernyataan, persisnya menerima suatu pernyataan tanpa perlu pembuktian karena biasanya pelontar pernyataan tsb sudah diketahui kualitasnya.
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Informasi samping yg ane maksud tidak terkait langsung dgn pernyataan tsb, tetapi dapat memberikan dasar utk menerima atau menolak suatu pernyataan.

    Dlm contoh si Mamat tadi. Informasi sampingnya adalah pengetahuan ttg si Mamat orang jujur. Karena si Mamat jujur, maka ane menerima pernyataannya tanpa perlu ane melakukan pembuktian. Jadi kita mempercayai pernyataan seseorang karena, salah satu faktornya, kualitas orang tsb.

    Contoh lain misalnya seorang mantri sunat mengatakan kolesterol dapat mengganggu jantung. Sedangkan seorang dokter spesialis jantung mengatakan kolesterol tidak mengganggu jantung. Mana yg ente percaya? Karena ente tahu bahwa dokter spesialis jantung lebih kompeten dlm hal penyakit jantung, maka ente percaya pernyataan dokter tsb dari pada pernyataan mantri sunat. Pengetahuan ttg orang itu sbg dokter spesialis jantung atau mantri sunat adalah informasi samping.
    Jadi definisi anda adalah: Percaya atau tidak percaya thd suatu pernyataan itu ditentukan oleh (pengetahuan tentang kualitas) ORANG yang menyampaikan pernyataan tersebut (dalam bentuk lisan maupun tulisan tentunya, CMIIW).

    Lha kalo dari awal sampeyan langsung secara eksplisit menyanggah pernyataan saya yang dibawah ini...

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Disini point saya sekedar menambahkan bahwa untuk percaya atau tidak percaya thd sesuatu itu bisa muncul dari beberapa faktor, bukan se-mata2 pada sumber asal dari pernyataan itu.
    ...maka argumen2 saya berikutnya pun ndak akan saya bawa jauh2 dari situ.

    Oke, berdasarkan definisi sampeyan diatas maka saya bisa terima argumen2 anda di posting terakhir. Saya ndak bantah.

    Hanya curious aja, anda (mengaku) atheist apakah karena anda tidak percaya dengan (kualitas) orang yang penyampaikan "pernyataan" (lisan dan/atau tulisan) dalam theism? (Jangan sampeyan puterin lagi lho ke pertanyaan "sebelum ane jawab, menurut ente apa itu definisi atheist dan apa definisi theism")



    ---------- Post Merged at 04:12 PM ----------

    Eh saya tambahin ding opsinya...

    ...anda (mengaku) atheist apakah karena anda percaya dengan (kualitas) orang yang penyampaikan "pernyataan" (lisan dan/atau tulisan) dalam atheism?

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  10. #50
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Hanya curious aja, anda (mengaku) atheist apakah karena anda tidak percaya dengan (kualitas) orang yang penyampaikan "pernyataan" (lisan dan/atau tulisan) dalam theism? [SIZE=1](Jangan sampeyan puterin lagi lho ke pertanyaan "sebelum ane jawab, menurut ente apa itu definisi atheist dan apa definisi theism")

    Eh saya tambahin ding opsinya...

    ...anda (mengaku) atheist apakah karena anda percaya dengan (kualitas) orang yang penyampaikan "pernyataan" (lisan dan/atau tulisan) dalam atheism?

    Lho kok selesai? Jadi mana yg lebih dulu? Percaya atau tahu?

    Sekarang ente mau tahu kenapa ane ateis? Karena konsep tuhan yg babak belur. Juga tanpa tuhan pun, banyak hal terjelaskan dgn baik dan orang pun dapat hidup dgn baik.

    Ente kira ane ateis karena percaya pernyataan si anu atau tidak percaya pernyataan si anu? Waduh... salah ente...

    Kalo ente menuntut ane utk menjawab dua pertanyaan ente di atas maka jawabnya dua2nya "tidak". Mengapa? Karena ane ateis bukan karena tidak percaya ataupun percaya perkataan orang.

  11. #51
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by purba View Post
    ...
    Sekarang ente mau tahu kenapa ane ateis? Karena konsep tuhan yg babak belur. ....
    Just curious juga, bagian mananya yang menurut kamu 'Babak Belur' ?
    A proud SpaceBattler now.

  12. #52
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by TheCursed View Post
    Just curious juga, bagian mananya yang menurut kamu 'Babak Belur' ?
    Di topik lain saja, nanti jadi panjang lebar. Di segmen ini lagi membahas mana yg lebih dulu percaya atau tahu. Mendingan ente ikut membahas hal tsb. Apa yg ente maksud dgn percaya, tahu, mana lebih dulu tahu atau percaya, dst.


  13. #53
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Di topik lain saja, nanti jadi panjang lebar. Di segmen ini lagi membahas mana yg lebih dulu percaya atau tahu. Mendingan ente ikut membahas hal tsb. Apa yg ente maksud dgn percaya, tahu, mana lebih dulu tahu atau percaya, dst.
    Nggak pengen. Yang gue percayain, kalo di diskusikan, antara gue bakal di bilang gila, atau di ketawa-in. So, No. Yang gue percayain private sifatnya.
    A proud SpaceBattler now.

  14. #54
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by TheCursed View Post
    Nggak pengen. Yang gue percayain, kalo di diskusikan, antara gue bakal di bilang gila, atau di ketawa-in. So, No. Yang gue percayain private sifatnya.
    Gak ada yg nanyain apa yg ente percayain, tapi apa pendapat ente ttg terminologi percaya, tahu, dst.

  15. #55
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Gak ada yg nanyain apa yg ente percayain, tapi apa pendapat ente ttg terminologi percaya, tahu, dst.
    Gue pecaya/nggak percaya -> uji -> tahu -> kesimpulan akhir: Percaya/nggak percaya.

    Gue percaya/nggak percaya pada awalnya selalu liat siapa yang ngomong. Tapi selalu lagi, gue cek lagi omongannya, ada buktinya nggak(udah keseringan di bohongin, dan ngebohongin). Kalo ada, baru gue putuskan untuk tetap nggak percaya atau jadi percaya.

    Dan, yes, termasuk urusan ke-Agama-an.
    Makanya, gue jadi males ngelanjutin...
    A proud SpaceBattler now.

  16. #56
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Lho kok selesai? Jadi mana yg lebih dulu? Percaya atau tahu?
    Tergantung.

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Sekarang ente mau tahu kenapa ane ateis? Karena konsep tuhan yg babak belur. Juga tanpa tuhan pun, banyak hal terjelaskan dgn baik dan orang pun dapat hidup dgn baik.

    Ente kira ane ateis karena percaya pernyataan si anu atau tidak percaya pernyataan si anu? Waduh... salah ente...

    Kalo ente menuntut ane utk menjawab dua pertanyaan ente di atas maka jawabnya dua2nya "tidak". Mengapa? Karena ane ateis bukan karena tidak percaya ataupun percaya perkataan orang.
    Ok. Saya percaya.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  17. #57
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    @234

    ...segitu aje? Kirain mo elaborasi lagi lebih jauh mana yg lebih dahulu, percaya atau tahu?

  18. #58
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Lhah kan saya bilang tergantung?

    Kalo dalam ilustrasi "orang kesandung batu": (bisa) percaya dulu.
    Kalo dalam ilustrasi "si Mamat cucunya haji Juki": percaya dulu.

    Definisi? Haiyah!

    Lha kalo saya kasih per definisi apa itu "percaya" apa itu "tahu" saya dah nebak ntar ditengah jalan sampeyan bakal lontarin pertanyaan "menurut ente apa itu definisi bukti"...dst...dst apa definisi ini apa definisi itu.

    Itu sama aja ibarat diskusi dah jauh2 mbahas banyak proposisi2 tapi ujung2nya kalo kepentok cuman mlungker balik lagi yang dipersoalkan adalah premisnya.

    Oke sampeyan udah mendefinisikan term "percaya", sekarang coba sampeyan definisikan apa itu "tahu", kalo perlu sekalian apa itu definisi "bukti". Saya ndak berdebat soal definisi, ini artinya, apapun definisi sampeyan saya akan percaya ("menerima tanpa perlu bukti") lalu itu kita jadikan premis untuk menjawab pertanyaan "mana yang lebih dulu muncul antara percaya dengan tahu".

    Saya jamin saya akan dengan mudah menjawab pertanyaan itu.


    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  19. #59
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Lhah kan saya bilang tergantung?

    Kalo dalam ilustrasi "orang kesandung batu": (bisa) percaya dulu.
    Kalo dalam ilustrasi "si Mamat cucunya haji Juki": percaya dulu.

    Definisi? Haiyah!

    Lha kalo saya kasih per definisi apa itu "percaya" apa itu "tahu" saya dah nebak ntar ditengah jalan sampeyan bakal lontarin pertanyaan "menurut ente apa itu definisi bukti"...dst...dst apa definisi ini apa definisi itu.

    Itu sama aja ibarat diskusi dah jauh2 mbahas banyak proposisi2 tapi ujung2nya kalo kepentok cuman mlungker balik lagi yang dipersoalkan adalah premisnya.

    Oke sampeyan udah mendefinisikan term "percaya", sekarang coba sampeyan definisikan apa itu "tahu", kalo perlu sekalian apa itu definisi "bukti". Saya ndak berdebat soal definisi, ini artinya, apapun definisi sampeyan saya akan percaya ("menerima tanpa perlu bukti") lalu itu kita jadikan premis untuk menjawab pertanyaan "mana yang lebih dulu muncul antara percaya dengan tahu".

    Saya jamin saya akan dengan mudah menjawab pertanyaan itu.


    Eh heh heh...
    Kayaknya, kalo gue tangkep dari omongan-lo: Kalo nggak tau pasti, Asumsi aja dulu. Terus coba run dengan Asumsi itu. kalo fail, bikin asumsi baru.

    Gue jadi ketawa karena bikin gue inget sama komen ngaco diskusi profesor dan temen - temen gue di kelas yang ujung2nya; Temen: "Pak kalo gitu saya Asumsi soalnya salah aja ya pak ? jadi nggak usah di kerjain."
    Profesor: "Eh ? OK. Saya juga Asumsi nilai kamu E, ya ? "
    A proud SpaceBattler now.

  20. #60
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Lha kalo saya kasih per definisi apa itu "percaya" apa itu "tahu" saya dah nebak ntar ditengah jalan sampeyan bakal lontarin pertanyaan "menurut ente apa itu definisi bukti"...dst...dst apa definisi ini apa definisi itu.
    Halagh.. sampe sekarang ente gak ngasih penjelasan apa yg ente maksud dgn percaya. Kenapa? Masih kesulitan? Gak usah berdalih entar ane menuntut definisi2 yg lain.

    Itu sama aja ibarat diskusi dah jauh2 mbahas banyak proposisi2 tapi ujung2nya kalo kepentok cuman mlungker balik lagi yang dipersoalkan adalah premisnya.
    Seperti yg ente lakukan sekarang ini, selalu berkelit ketika diminta utk menjelaskan percaya yg ente maksud.

    Oke sampeyan udah mendefinisikan term "percaya", sekarang coba sampeyan definisikan apa itu "tahu", kalo perlu sekalian apa itu definisi "bukti". Saya ndak berdebat soal definisi, ini artinya, apapun definisi sampeyan saya akan percaya ("menerima tanpa perlu bukti") lalu itu kita jadikan premis untuk menjawab pertanyaan "mana yang lebih dulu muncul antara percaya dengan tahu".
    Definisi kok dipercaya? Tapi ok, ane jawab lagi (sebenarnya sudah di postingan2 sebelumnya) bahwa kemunculan percaya dan tahu tidak dalam relasi dahulu-kemudian karena orang bisa tahu tanpa fase percaya. Demikian juga orang bisa percaya, tanpa pernah tahu.

    Saya jamin saya akan dengan mudah menjawab pertanyaan itu.
    Jawablah..


Page 3 of 4 FirstFirst 1234 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •