Page 2 of 2 FirstFirst 12
Results 21 to 36 of 36

Thread: Puisi Puisi Dana

  1. #21
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    saya suka yang terakhir

  2. #22
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    saya suka yang terakhir
    Makasih telah suka.

    ---------- Post added at 07:55 PM ---------- Previous post was at 07:53 PM ----------

    Denting

    Ting…
    Jelas terdengar di sanubari
    Damai menelusup ke relung hati
    Menggetarkan ruang-ruang dalam jiwa

    Saput awan hitam
    Merengkuh hidup, memeluk mati
    Larut rasa yang hanya bisa dirasa
    Mutlak sudah, tanpa apa-apa lagi

    Denting meresonansi kejernihan
    Tanpa ada riak sedikitpun
    Hanya rasa yang tersambung
    Dalam kemutlakan yang tak terkatakan

    Rasakanlah!

    Hanya, ting …
    Menggema dalam jagat raya

    Rasakanlah!

    Kau dengarkah, apa yang kudengar?!

    Ting…
    Nah! Itu berdenting lagi
    Dengar dengan rasamu

    Dengarkanlah, sungguh indah
    Denting jernih menghantar hening.

  3. #23
    Teman

    Rasanya semua jadi hambar, sejak kata cinta terucap.

    Tidak bisakah seperti dulu lagi?

    Bercakap-cakap tanpa beban. Lepas bercanda. Tanpa ketakutan akan melukai, atau kebingungan menempatkan hati.

    Kurindu pertemanan seperti dulu.
    Tapi rasanya menjadi semakin jauh. Nyata makin hari makin tinggi gunung es diantara kita. Membekukan, sedikit demi sedikit.

    Pertemanan pun,
    Jadi terselaput tebalnya es, Membeku dan rapuh. Sedikit sentuhan akan tercerai berai. Tanpa sisa lagi.

    Menyedihkan memang.
    Tapi apa dayaku, jika takdir berkehendak?

  4. #24
    Dzikir

    Kukatakan padamu rasa kontemplasiku. Rasa betapa sudah lama sekali diri ini tenggelam dalam waham kebesaran. Hingga luput memperhatikan hal-hal kecil yang menggetarkan.Betapa sudah lama terlalu terpaku pada hal-hal besar. Mengabaikan apa yang disebut keremehan hidup.

    Tiada dapat melihat dzikirnya para pemulung yang mengais rejeki tanpa mengeluh. Dzikirnya para penjaja koran di pojok jalan yang senantiasa tersenyum. Dzikirnya para pengamen yang tidak menampakkan muka masam ketika tangan ini terangkat untuk menolak. Dzikir yang menjadi lelaku nyata dalam hidup.

    Duh, Gusti. Inginku berdzikir dalam kesederhanaan lagi.

  5. #25
    Sabda Alam

    Kesiur angin
    Gemericik air
    Tarian bunga
    Cicit burung gereja
    Sebuah daun jatuh pelan melayang.

  6. #26
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    yang terakhir:
    very poetic
    haiku 5 baris
    can i steal it?

  7. #27
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    yang terakhir:
    very poetic
    haiku 5 baris
    can i steal it?
    Tentu boleh.

    Btw, Haiku itu apa sih?

  8. #28
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    haiku itu sejenis puisi jepang, dengan format pendek2 gitu
    biasa 3 baris, dan masing2 baris ada batas brapa huruf. ibarat suku kata kali ya. biasa ga lebih dari 5 ato 7 suku kata.
    lupa formatnya persisnya gimana

    dan puisi di atas mengenai alam, buatku sangat fitting aja.

  9. #29
    wahai Perawanku

    Wahai Perawanku…Selaput itu biarlah di situ saja
    Tidak usah kita rusak demi kenikmatan
    Nikmat itu masih bisa kita rasa
    Dengan segala teknik yang kita pelajari
    Pada stensilan yang sudah lecek

    Kamu jangan merengut begitu
    Seakan tidak merasa dihinakan
    Saya tidak kecewa untuk yang satu itu
    Demi keutuhan selembar selaput
    Yang terasa indah pada saatnya nanti

    Saya tidak apa-apa menjaga selaputmu
    Nafsu ini masih bisa kusalurkan
    Pada perempuan lain tanpa selaput
    Merelakan beberapa rupiah,
    demi menjaga selaputmu, hadiah perkawinan kita.

  10. #30
    Dik

    Dik, malam keparat ini, entah kenapa, mengingatkan lagi padamu. Entah sudah berapa lama sejak jantung ini serasa berhenti berdetak pada kepergianmu. Tidak pernah kuhitung waktu memang sejak saat itu.

    Dik, hanya harapku untuk dapat meneruskan hidup. Tidak perlu mencari tahu di tubuh mana kamu akan singgah kembali. Atau mungkin memang sudah tidak perlu lagi. Karena sudah melebur bersamaNya, sang asal.

    Dik, tapi malam keparat ini mungkin punya dendam tersendiri kapadaku. Hingga begitu tega mengingatkan lagi padamu. Aku sedih walau rela. Hanya menatap bayang-bayang yang kadang datang, walau pudar.

    Dik, malam keparat ini tampak terkekeh , puas menatapku yang merana. Walau muak dengan kemenangan sang malam, tanya itu tetap kulontarkan : “Apa kabarmu, Dik?”. Nelangsa karena kutahu, kau sudah tidak mungkin menjawab.

    Rindu tiba-tiba menggemuruh di dada.

  11. #31
    Tuhanpun Terdiam

    Tuhan terdiam, terpana
    Melihat ruang sidang yang berubah
    jadi pasar amarah dengan riuh rendah makian
    Bahkan ada yang mengambil-alih kuasaNya

    Tuhan hanya : diam, terpana,
    Tidak bisa apa-apa

  12. #32
    Gerimis Dan Bidadari

    Rerintik air turun dari langit,
    membelai bumi selembut hati yang sedang
    terpesona kecantikan sang bidadari.
    Senyum hadir meruntuhkan segala
    tembok beku menahun yang berkarat.

    Gerimis berderai melembutkan.
    Melukis keindahan dari jendela kamar
    yang meremang dalam diamnya hati.
    Nikmat binar mata bidadari.
    Menembus ke ujung hati,
    yang sudah lama menyimpan perih.

    Gemericik air pada kolam ikan sebelah rumah.
    Meriakkan tarian bersama air yang menyapa dari langit.
    Menengadah wajah,
    menikmati tarian dari surga di atas sana.
    Sosok tubuh bidadari bercahaya dalam bulir-bulir mutiara bening.

    Gerimis dan bidadari. Menghapus segala kelam, yang baru saja ada.

  13. #33
    Sekadar Berpuisi

    Coretan-coretan kugoreskan. Sekadar menuliskan rasa. Rasa dedaunan yang tampak intim bercumbu dengan angin. Menggeliat jatuh. Untuk kemudian berselingkuh dengan bumi. Mencumbu sampai habis diri. Hilang melebur dalam kesatuan. Menyuburkan.

    Rasa yang terus berbicara. Melihat angin mencumbu awan, yang berarak mendulang berkah, yang terbang ke langit dari orang-orang tanpa asa. Beberapa ada seperti rayuan agar sang awan segera menuntaskan cumbuan dengan sang angin. Tumpahkan mani untuk kehidupan. Membasahi bumi yang telah kering kerontang. Hingga sang daunpun terbakar menyentuh kulitnya..

    Rasa mendengungkan kebenaran. Sekedar berbagi cerita tentang kematian. Syahdu dalam ketidak mengertian. Misteri di sana tetap diam membisu. Tidak mau menyapa manusia-manusia. Suara membahana ke angkasa, menggangu cumbuan angin pada awan. Suara lantang meneriakkan protes. “Mengapa ada manusia yang membuat manusia bercumbu dengan maut ?!!”.

    Sementara,
    bumi, daun , angin, dan awan, terus bercumbu tanpa lelah.

  14. #34
    pelanggan setia beastmen85's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    The Dreamcloud
    Posts
    3,046
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Tuhanpun TerdiamTuhan terdiam, terpanaMelihat ruang sidang yang berubahjadi pasar amarah dengan riuh rendah makianBahkan ada yang mengambil-alih kuasaNyaTuhan hanya : diam, terpana,Tidak bisa apa-apa
    keren bro.seperti sindiran thd orang yg terlalu banyak merenungkan-Nya, hingga sang Tuhan menjadi hilang.
    because, imagination is a part of reality-

  15. #35
    Quote Originally Posted by beastmen85 View Post
    keren bro.seperti sindiran thd orang yg terlalu banyak merenungkan-Nya, hingga sang Tuhan menjadi hilang.
    Heheheheh...

    ---------- Post Merged at 01:26 AM ----------

    Hening

    Menangis.
    Merasakan nikmat yang tiada tara kembali.

    Terimakasihku Tuhan,
    atas tidak bosannya memberikan anugrah
    pada hamba yang tidak tahu diri ini.

    Hadiah ini teramat indah.
    Sebuah kesempatan untuk mencicipi hening kembali.
    Terimakasih.

  16. #36
    Melebur

    Lebur … Lebur … Leburlah, wahai heningku.

    Leburlah keramaian. Meleburlah dalam kesunyian. Hiduppun melebur dengan mati.

    Leburlah sedihku. Melebur dalam senang. Suka pun melebur dalam duka.

    Leburlah inginku. Lalu inginku melebur pada tidak ingin. Ingin pun menjadi satu dengan tidak ingin.

    Maka, leburlah puisi ini. Puisi melebur. Kata-kata sudah tidak ada lagi.

    Bunga kamboja berdiri pongah di tengah kuburan merah. Dan lebur pun melebur.

Page 2 of 2 FirstFirst 12

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •