Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 20 of 36

Thread: Puisi Puisi Dana

  1. #1

    Puisi Puisi Dana

    Teriluh

    teriluh tendiku
    sanga kunin matawari
    i kerabun wari, i tengah sabah

    i bas inganta ndube
    ercakap cakapken wari si reh
    i sapo i tengah sabah
    mbegi mbegi sora perik
    nemani kita i bas ukur meriah
    nuturken ate ngena-nta

    genduari, bas saat enda
    teriluh kel tendiku nde iting
    erkiteken kuburendu ngenca si ngalo-ngalo
    tambar malem ningen,
    tapi labo malem malem ukurku enda
    natap natap si nggo lewat
    si lanai terobah, adi nggo padan.

    teriluh kel tuhu tendiku
    adi matawari tempa lanai ndarat
    erkiteken ciremndu lanai ku idah
    tuhu ngenda kata nini si nai
    mesera ngenda nggeluh
    adi lanai lit tambar malem ndai.

    Terjemahan bebasnya:

    | Sukmaku menangis
    | Saat kulihat mentari
    | di sore hari, di tengah sawah

    | Di tempat kita dulu
    | berbicara tentang masa depan
    | di dangau tengah sawah
    | mendengar kicau burung
    | menemani kita dalam kebahagiaan
    | bercerita tengang cinta kita

    | Sekarang, saat ini
    | menangis dengan sangat sukmaku nde iting (1
    | Sebab hanya kuburanmulah yang menyambut
    | katanya obat penyembuh rindu ,
    | tapi tidak sembuh sembuh juga hati ini
    | mengenang yang telah berlalu
    | yang tidak bisa di rubah, sebab sudah takdir.

    | Sungguh menangis sukmaku
    | Jika mentari sepertinya sudah tidak akan terbit
    | disebabkan senyummu tidak terlihat lagi
    | Kebenaranlah yang dicupakan orang tua dulu
    | sulit untuk hidup
    | jika pengobat rindu telah tiada.

    (1. Merupakan sebutan (sayang) orang karo terhadap wanita yang bermarga Ginting.

  2. #2
    MUNIR

    Sore ini, 30 mei 2008, tiba-tiba saja aku teringat akan sebuah nama. Munir . Nama itu terngiang kembali dalam ingatan ketika kudengar sebuah lagu yang ditujukan untuk mengenangnya. Tembang begitu syahdu penuh getaran yang diberi judul Before You Go. Rasa ini seakan diiris-iris bagai dipaksa ingat kepada hal yang sangat menyakitkan. Betapapun menyakitkan ingatan itu. Lebih menyakitkan lagi ketika sadar ternyata rakyat negri ini sudah terlalu susah untuk sekedar mengingatmu. Maaf sang pahlawan, kami sedang sibuk mengurus perut kami akibat gonjang-ganjing BBM. Sekali lagi mohon maafkanlah kami.

    Munir, sang pahlawan yang menjadi martir. Kuanggap engkau martir. Walau aku tak tahu entah martir untuk apa. Sebab tidak kunikmati hasil dari kematianmu kecuali tentang cerita konspirasi yang begitu indah. Saking indahnya maka tidak terpecahkan sampai sekarang. Begitu piawai memang yang mengarang cerita tentangmu. Sengaja meninggalkan para pembaca menerka-nerka tanpa akhir akan ending. Atau memang para pengarang akan terus bercerita hingga episode 10 , bagai sinetron yang kulihat di televisi hitam putih warisan nenek. Jika begitu, maka saya nikmati saja. Menunggu semoga ada happy ending akan kisahmu.

  3. #3

    Rasa Kasihan

    Rasa Kasihan

    Jangan pernah merasa kasihan kepadaku, walau seburuk apapun kau rasa nasibku. Itu semua adalah hanya rasamu, bukan rasaku. Buruk kau bilang bisa berarti baik bagiku. Jadi buang saja rasa kasihanmu itu. Ada tong sampah di sana yang siap menampung. Sampah kasihan itu buang di sana. Lalu bakarlah sampai tidak tersisa. Aku masih baik-baik saja. Walau seburuk apapun yang terlihat olehmu.

  4. #4
    Kerinduan

    Senandung karo itu mengalun mendayu. Memenuhi segenap ruang kosong dalam diri. Memenuhi dengan rasa rindu akan nuansa sebuah kota kecil di sumatera utara, kota agraris yang dipanggil Kabanjahe . Kota kecil yang telah membentuk saya menjadi seorang manusia. Terimakasih.

    Kenangan demi kenangan mengalir. Merindu aku tiada tertahan. Semoga suatu saat nanti bisa pulang merengkuh indahnya kedamaian. Semoga saja. Pada saatnya nanti ketika kita bersua, memang masih ada damai di Kabanjahe yang tercinta.

  5. #5
    Menghantar Mati ?

    I

    Air mata mengalir tak tertahan
    Sang maut tanpa pertanda menampakkan diri
    dalam balutan jubah hitam menebar aroma kematian
    Sebentar lagi menjadi nyata pada orang terkasih
    Mataku memancarkan aroma dendam tak berdaya
    Aneh, sang maut malah tersenyum
    Bersemangat memberi kabar dibalik bayang-bayang
    meremas hati sampai hancur, tak bersisa
    Melihat orang tersayang semakin lemah
    dalam naungan aroma aneh yang ditebarkan
    Seringai sang maut menatap dingin
    menggeletar rasa tertutup kabut berselimut maut
    yang mengembang tanpa dapat ditahan.


    II

    Jeritan hatiku tenggelam dalam samudera
    Gelombang rasa sedih membelenggu asaku
    Hanya sesekali riak mukjijat sekelebatan
    Memberikan secercah cahaya, tapi itu hanya
    hanya secercah, hanya sekelebatan
    Tidak lama setelah itu
    kegelapan kembali mengungkung
    hitam pekat
    Kulihat orang terkasih semakin redup
    Masih coba tersenyum, menatapku lemah
    Tampak binar khawatir di matanya
    Jantungku serasa berhenti berdetak
    dan dunia seketika berhenti berputar.


    III

    TUHAN! Bisakah nyawaku sebagai ganti?!
    serahkan orang terkasih dalam bayangan maut
    yang tidak lama lagi tentu akan datang
    ‘Kan kulakukan segalanya demi secercah harapan
    akan mukjijat yang sering didongengkan
    ketika dulu hendak tidur
    dalam pangkuan orang terkasih, yang makin pudar
    Terasa hampa dalam bayangku akan hidup
    Saat semua telah selesai bagi orang terkasih
    Hanya mukjijat yang mungkin menyelamatkan
    Akankah kali ini doaku terkabul?

    IV

    “Pasrah, tabah, ikhlas.” kata para pembisik
    Hatiku berontak! Tahu apa mereka akan sedihku?!
    Ya! Aku tahu yang hidup akan mati
    Tapi aku hanya ingin sedikit berharap
    Pada mukjijat yang mungkin datang
    Jadi, tolonglah kau diam sebentar
    Jangan jadi Tuhan, membungkam asaku
    dengan vonis maut yang tak tertawar
    Diamlah! Walau kau itu sang maut sekalipun
    Biarkan aku memanjatkan asa kepadaNya
    Sebentuk doa penyerahan total akan kehendakNya
    Mungkin mukjijat itu bakal sudi berkunjung
    Mengusir maut dalam jubah hitam berhias mata dingin
    yang telah menampakkan bayang-bayang pada orang terkasih
    Tanpa rasa apa-apa.


    V

    Kutatap dalam-dalam mata orang terkasih
    yang tersenyum dibelitan bayang sang maut
    Tulus kasih sayang terasa
    Membelai hati yang gundah menghujam asa
    Binar itu masih ada, tidak pernah berubah
    Setidaknya masih seperti dulu, menentramkan jiwa
    Walau aroma maut yang semakin tajam terasa
    Seberkas harapan menyentuh hati
    akan ketulusan untuk menerima sang takdir
    Entah akhirnya maut atau mukjijat
    Kuanggukkan kepala, mengiyakan bisik darinya
    Untuk tidak mendendam pada sang maut
    Juga untuk tidak terlalu memuja sang hidup
    Lalu senyumnya kembali mengembang
    Tangannya merengkuh kepalaku, membelai
    Damai-damai-damai, hanya itu yang ada. Kututup mataku.
    Tidur yang sudah lama tidak.


    VI

    Mentari menyambut pagi ditingkahi kicau burung
    Kabut pagi yang mulai pudar menyentuh, sejukkan jiwa
    Udara ikut bercengkrama, memeluk hati masih sedikit sakit
    Menyisakan cerita yang sudah hampir pudar
    akan orang terkasih yang menari bersama sang maut
    Pasrah, walau sedikit harap sempat singgah
    akan sebuah dongeng mukjijat
    yang dulu sering menghantar tidur, tapi tak kunjung ada
    Maka ikhlas jualah yang menjadi obat
    semua terjadi atas kasih sayangNya
    entah itu maut, atau hidup
    Maka berakhirlah satu lagi cerita
    tentang hidup yang tidak pernah lepas dari mati.



    (Teruntuk seorang teman, semoga bisa tabah)

  6. #6
    Menangis

    YA!
    Aku lelaki telah menangis
    miris memandang manusia berebut
    kebenaran di antara desu peluru
    menunduk mencari perlindungan
    di relung hati yang terdalam
    akan sebuah damai

    YA!
    Sebut saja aku lelaki cengeng
    karena air mata terurai
    melihat anak manusia gelap mata
    mencincang tubuh sang penyesat
    lalu memakannya sampai habis
    kanibalisme sepanjang jaman

    YA!
    Air mata lelaki ini kering
    memandang kesedihan
    menerjang tanpa belas kasihan
    dalam jiwa yang rapuh
    berusaha menggapai asa diri
    hanya sekedar menikmati hidup yang damai.

    YA!
    jawab dari tanyamu ada
    Semua itu atas nama.

  7. #7
    Luka itu ada

    Luka itu ternyata masih ada
    terdiam di sudut berdebu
    menunggu sekedar sentuhan ringan
    membangkitkan kenangan

    Luka itu ternyata masih ada
    sabar di pojok gelap
    menunggu jendela menghantar cahaya
    ketika terbuka walau secelah

    Luka itu ternyata masih ada
    memendam di dalam ketaksadaran
    menunggu sebuah kesempatan
    saat sang sadar singgah sebentar

    Luka itu ternyata masih ada
    menyimpan sakit tak pernah pudar
    di jiwa yang semakin rapuh
    berharap tanpa asa

    Tanya terngiang, terus tanpa henti :
    “Apakah Luka bisa tidak ada?”

  8. #8
    Berjalan Aku

    Langkah demi langkah mengantar
    Dalam perjalanan dengan diri
    Sendiri menikmati hidup
    Saat duka menghantam
    Saat suka menyapa
    Saat menangis,saat tertawa
    Terus aku jalani
    Manis pahit yang tercecap
    Ikhlas.

  9. #9
    Senja

    Senja itu memerah
    Menghantar mentari ke peraduan
    Kunikmati dalam perjalanaan
    Meniti langkah demi langkah
    Dalam kehampaan kadang berharap
    Antara dua dunia ada terpisah, pintu
    Menghantar aku berkunjung
    Menyapa engkau yang ada dihati
    Mencumbu tanpa lelah
    Hayalku semakin melambung
    Tanpa batas

    Sementara merah mulai tertelan
    Mentari sudah lama pergi
    Mengistirahatkan diri untuk esok hari
    Senja masih saja belum menjawab

    Senja telah pergi
    Malam telah datang
    Hanya ada hati tergiris pilu
    Sadar tidak terlihat ada mungkin
    Penghubung duniaku dengan duniamu
    Hanya ada rindu meronta
    Ingin menggapai engkau
    Wahai kekasih hati
    Nantikan saja, ketika saatnya tiba
    Kan kujenguk dirimu

    Lalu langkah demi langkah berlanjut
    Tanpa tahu lelah itu
    Mencari aku,
    Melewati beribu senja.

  10. #10
    17 Agustus

    Tidak usah kau usik aku. Biarlah kunikmati hari ini dengan merdeka. Bermain futsal di pojok kota. Berlari dalam goni di gang yang sempit. Memasukkan pinsil ke botol yang sempit di halaman sekolah. Menonton manisnya para mayoret di sebuah lapangan kota kecil. Beradu otot menarik tambang di pojok kantor. Berjelaga menggapai hadiah di ujung pinang. Ikut bernyanyi Indonesia Raya penuh semangat.

    Biarlah dulu sebentar. Sebelum sang saka merah putih itu hilang ditelan malam. Hanya sampai malam ini tiba. Sampai matahari terbit esok hari. Kunikmati dulu rasa merdeka sampai detik terakhir. Dan besok silahkan miliki aku lagi. Sebab rasa merdeka itu memang hanya untuk sehari. Esok hari, rasa itu hilang menguap tak berbekas. Karena memang setiap tahun sudah begitu. Mungkin memang sudah takdir.

    Sabar, tunggu sajalah dulu. Sebab ini hanya sehari. Istirahat dari hidup barang sejenak. Merdeka dalam arti sebenarnya. Kemudian besok hidup akan mulai lagi. Bergulir setelah henti kemarin. Dan merdekapun hanya menjadi kenangan hari yang sudah lalu. Ada memang tersebut kata merdeka dalam guliran hidup setelah itu. Tapi hanyalah sebatas selogan yang kosong. Tidak pernah menjadi bermakna merdeka.

    Sebab hidup kembali menjadi kenyataan. Belenggu di harga berbbm, berpendidikan, berbahan makanan, bepekerjaan, berteman, bercinta, berumah, bersubsidi, beragama, bernegara, bermerdeka, bahkan bernapas. Maka, hari ini, biarkan aku dulu wahai sang hidup. Sekejap kunikmati rasa merdeka. Longgarkan sejenak belitanmu. Biarlah kunikmati rasa merdeka ini. Walau sementara.

  11. #11
    Cerita Pantai

    Udara itu serasa asin melekat
    Memeluk diri yang terpana
    Tatapan jauh ke cakrawala
    Tarian ombak menemani tanpa canggung
    Di atas pasir basah dua manusia
    Sedang bermain dalam rindu
    Lupa waktu yang tak menyentuh
    Damai itulah yang ada
    Wajah-wajah puas tampak tertidur
    Dalam pelukan sang bidadari
    Yang basah dan asin, murni
    Hangatnya tidak dingin seperti air
    Dinginnya tidak panas seperti api

    Deru ombak
    Desau angin
    Gemericik air
    Lembutnya pasir
    Menarikan tarian indah melenakan
    Dua anak manusia yang sedang bercengkrama
    Melepas rindu bergulingan di pantai
    Seberkas semburat senja
    Melukis indahnya hidup

    Kepiting, Ikan kerapu, sambal kecap dengan irisan rawit
    Menghapus lapar yang menyerang
    Saat dua anak manusia melepas
    Rindu telah menyatu di dangau tepi pantai
    Duduk beralas tikar menikmati hidup
    Di antara belaian angin senja
    Dalam semburat memerah
    Damai
    Indah
    Pantai

    Burung camar tampak menyampaikan berita
    Dua anak manusia memadu rindu di pantai
    Tidak lupa juga tentang damainya.

  12. #12
    Harmoni Jiwa

    Suara malaikatmu melantunkan lagu jiwa, iringi suara gitarku membelah kebekuan. Melodi kita menyapa orang-orang yang terlelap dibuai kehidupan. Robot-robot menari berusaha memanusiakan diri. Senyummu di balas senyumku, sementara denting piano tampaknya tidak tahan untuk tidak ikut serta. Damai ini terus mendendangkan lagu kita, ketika cinta menyapa.

    Sumringah senyummu bangkitkan rasa yang telah lama tidur. Seperti sang putri tidur yang mendapat kecupan dari sang pangeran, maka hidupku pun terselamatkan. Ketika ku sadar kita itu ternyata ada. Bukan hanya sebuah mimpi yang tak tergapai, walau seumur hidup. Mengajak mereka-mereka untuk berdendang dalam lagu jiwa, sebuah harmoni antara kau dan aku.

    Mereka-mereka ternyata mulai menyadari harmoni jiwa yang sedang kita ciptakan. Maka marilah kita bernyanyi terus tanpa henti. Semoga mereka ikut serta menari dan menyanyi dalam kegembiraan kita. Merayakan nyanyian, suara gitar, dan denting piano yang mengalun tanpa lelah. Binar mata mu menembus dalam relung hati terdalam, yang tanpa ingin sembunyi lagi . Teriakkan cinta kita, dalam senandung tiada akhir.

    Wahai dikau, marilah kita ajak dunia menari bersama kita. Meresapi kebahagiaan yang tiada taranya, sebab cinta memang adalah cinta. Nyanyianmu semakin syahdu, suara gitarku makin menyatu, denting piano mengiringi tanpa pamrih. Ikhlasku menembus batas-batas ego.

    Ah, duhai dunia marilah bersama kami, menikmati hidup yang semakin indah. Dalam harmoni jiwa.

  13. #13
    Puisiku

    Lembar demi lembar kehidupan
    kugoreskan dalam huruf
    menyusun kata, menulis makna
    dalam kata kata berima aneh
    berusaha terdengar indah

    Walau tak tercapai
    tetap ini aku sebut puisi
    sebuah puisi hidup
    yang berusaha menggapai hati
    dalam dada ada rindu

    Dengarkan saja goresan ini
    terwujud dalam puisi
    walau aneh.

  14. #14
    Bakar!


    Bakar!
    Itulah yang terlintas
    kala hati dipenuhi amarah
    tanpa batas

    Melirih dengus orang orang
    teraniaya
    Bangkit merubah yang tak sedap
    dipandang
    Gemericik api yang melalap habis
    rumah kayu

    Pandangan bengis disekeliling
    liukan tubuh di dalam rumah
    menggeliat

    Kepuasan memancarkan penghinaan
    pada arang hitam dan debu
    mengonggok

    Bakar!
    Telah dilakukan sekejap tadi
    nafsu amarah tidak tertahan
    teringat hawa kematian menyeruak
    menyapa setiap lawan, tanpa belas kasihan

    Mata-mata liar itu nanar menatap
    musuh bersama yang tinggal abu
    rumah yang tinggal arang
    tertawa mereka melepas lelah
    untuk penghabisan

    Bakar!
    Menyelesaikan ketakutan-ketakutan
    oleh sosok berbaju hitam menyeramkan
    menyebarkan hawa maut tanpa pilih
    kini sudah tidak ada lagi.

  15. #15
    Sakit

    Seorang wanita jadi korban kebrengsekan
    Tentu jatuh sakit
    Maka yang mengaku temanpun menjenguk
    Demi sebuah ramah tamah
    Yang sudah menjadi budaya negeri ini

    Seperti biasa,
    Seperti sudah-sudah
    Dikala ada pertemuan,
    Walau dalam sakit
    Yang dilakukan adalah saling bercerita

    Cerita mengalir,
    Tentang pengendara sepeda motor yang sangat brengsek
    Tentang pelayanan UGD sebuah rumah sakit yang keterlaluan
    Tentang penyakit yang terpaksa ditemukan kemudian
    Tentang manusia yang kehilangan empati
    Tentang ketidak becusan
    Tentang orang-orang negeri ini

    Semuanya,
    Tentang kegeraman, amarah, dan luka
    Tentang betapa sakitnya negeri tercinta.

    Hei engkau, jangan merengut begitu
    Jangan proteskan cerita
    yang hanya tentang sakit ini
    Sebab wajar adanya jika memang sedang.


    *Makasih buat seorang teman yang telah menjadi bahan inspirasi puisi alakadarnya ini. Semoga cepat sembuh. *

  16. #16
    Hatiku

    Hatiku ternyata rapuh. Begitu gampang tercerai-berai. Lagi dan lagi. Tanpa aku bisa berbuat. Hanya pasrah setiap kali datang kerikil yang membentur. Tanpa pernah memberi ampun hanya dengan sedikit retak, luluh lantak kemudian.

    Hatiku ternyata kuat. Begitu sering tercerai-berai oleh kerikil-kerikil tanpa ampun. Tetap bisa kembali seperti semula. Merekat seolah tidak pernah hancur. Melekat memberi denyut pada hidup. Tanpa pernah berhenti sedetikpun, bahkan di saat tersulit sekalipun.

    Hatiku memang hati. Bukan batu cadas bergeming tanpa rasa. Bukan juga kaca yang tercerai-berai tanpa pernah bersatu lagi. Hatiku hanya hati. Yang mengalami rasa sakit yang menghancurkan. Tapi kemudian tetap saja ingin terus merasa. Lalu menyatu lagi.

    Aku, dengan hati merasakan hidup.

  17. #17
    Senjakala

    Senjakala
    bermandikan cahaya
    putih, bersih, suci
    membasuh jiwa
    luruhkan segala resah
    menyatu dalam keheningan.

  18. #18
    Kekosongan

    Kutatap wajah
    yang kosong, melompong
    mengembara jiwa tak tentu arah
    tinggalkan jasad merintihi nasib

    kosong menjadi teman sunyi
    meratap diantara tangis
    tiada henti
    airmata yang telah jadi darah
    kering meranggas dalam panas

    menatap dalam kosong
    jauh tanpa ujung
    menasibi sang nasib

    akhir segala
    kekosongan dalam hati
    teman menikmati nanah
    dari luka yang tak kunjung sembuh.

  19. #19
    Tiba Tiba

    Tiba tiba, tanpa salam engkau masuk
    menerobos pintu hati yang tertutup
    Ingin kuusir, tapi apa daya
    hati telah tertawan
    oleh anggun paras dan senyum manis

    Tiba-Tiba memang semua
    harus kurelakan tanpa bisa protes
    porak porandanya keping keping hati
    yang sedang kutata, kusiapkan kembali mengarungi
    zig-zag kehidupan ketika bermain
    dengan yang namanya cinta.

    Kerlingmu semakin menawanku
    tiba-tiba saja dan aku tak berdaya.

    Lalu tiba-tiba juga,
    semua hilang tak berbekas
    Hanya kekosongan yang tertinggal
    Sedikit wangi tubuhmu sebagai kenangan

    Engkau pergi seperti datangmu,
    begitu tiba-tiba.

  20. #20
    Koma

    Koma
    Sudah saatnya kububuhkan
    Dalam perjalanan ini
    Beristirahat sejenak
    Melakoni syariat hidup
    yang sudah lama tidak
    Mencengkramai cahaya putih

    Kutatap,
    begitu terang tapi tidak silau
    Melebur segala ingin, segala lelah,
    segalanya, tanpa sisa

    Maka selagi aku masih ingat
    Koma dulu kububuhkan
    Sebelum nanti titik memaksaku lupa.

Page 1 of 2 12 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •