-
Puisi Puisi Dana
Teriluh
teriluh tendiku
sanga kunin matawari
i kerabun wari, i tengah sabah
i bas inganta ndube
ercakap cakapken wari si reh
i sapo i tengah sabah
mbegi mbegi sora perik
nemani kita i bas ukur meriah
nuturken ate ngena-nta
genduari, bas saat enda
teriluh kel tendiku nde iting
erkiteken kuburendu ngenca si ngalo-ngalo
tambar malem ningen,
tapi labo malem malem ukurku enda
natap natap si nggo lewat
si lanai terobah, adi nggo padan.
teriluh kel tuhu tendiku
adi matawari tempa lanai ndarat
erkiteken ciremndu lanai ku idah
tuhu ngenda kata nini si nai
mesera ngenda nggeluh
adi lanai lit tambar malem ndai.
Terjemahan bebasnya:
| Sukmaku menangis
| Saat kulihat mentari
| di sore hari, di tengah sawah
| Di tempat kita dulu
| berbicara tentang masa depan
| di dangau tengah sawah
| mendengar kicau burung
| menemani kita dalam kebahagiaan
| bercerita tengang cinta kita
| Sekarang, saat ini
| menangis dengan sangat sukmaku nde iting (1
| Sebab hanya kuburanmulah yang menyambut
| katanya obat penyembuh rindu ,
| tapi tidak sembuh sembuh juga hati ini
| mengenang yang telah berlalu
| yang tidak bisa di rubah, sebab sudah takdir.
| Sungguh menangis sukmaku
| Jika mentari sepertinya sudah tidak akan terbit
| disebabkan senyummu tidak terlihat lagi
| Kebenaranlah yang dicupakan orang tua dulu
| sulit untuk hidup
| jika pengobat rindu telah tiada.
(1. Merupakan sebutan (sayang) orang karo terhadap wanita yang bermarga Ginting.
-
MUNIR
Sore ini, 30 mei 2008, tiba-tiba saja aku teringat akan sebuah nama. Munir . Nama itu terngiang kembali dalam ingatan ketika kudengar sebuah lagu yang ditujukan untuk mengenangnya. Tembang begitu syahdu penuh getaran yang diberi judul Before You Go. Rasa ini seakan diiris-iris bagai dipaksa ingat kepada hal yang sangat menyakitkan. Betapapun menyakitkan ingatan itu. Lebih menyakitkan lagi ketika sadar ternyata rakyat negri ini sudah terlalu susah untuk sekedar mengingatmu. Maaf sang pahlawan, kami sedang sibuk mengurus perut kami akibat gonjang-ganjing BBM. Sekali lagi mohon maafkanlah kami.
Munir, sang pahlawan yang menjadi martir. Kuanggap engkau martir. Walau aku tak tahu entah martir untuk apa. Sebab tidak kunikmati hasil dari kematianmu kecuali tentang cerita konspirasi yang begitu indah. Saking indahnya maka tidak terpecahkan sampai sekarang. Begitu piawai memang yang mengarang cerita tentangmu. Sengaja meninggalkan para pembaca menerka-nerka tanpa akhir akan ending. Atau memang para pengarang akan terus bercerita hingga episode 10 , bagai sinetron yang kulihat di televisi hitam putih warisan nenek. Jika begitu, maka saya nikmati saja. Menunggu semoga ada happy ending akan kisahmu.
-
Rasa Kasihan
Rasa Kasihan
Jangan pernah merasa kasihan kepadaku, walau seburuk apapun kau rasa nasibku. Itu semua adalah hanya rasamu, bukan rasaku. Buruk kau bilang bisa berarti baik bagiku. Jadi buang saja rasa kasihanmu itu. Ada tong sampah di sana yang siap menampung. Sampah kasihan itu buang di sana. Lalu bakarlah sampai tidak tersisa. Aku masih baik-baik saja. Walau seburuk apapun yang terlihat olehmu.
-
Kerinduan
Senandung karo itu mengalun mendayu. Memenuhi segenap ruang kosong dalam diri. Memenuhi dengan rasa rindu akan nuansa sebuah kota kecil di sumatera utara, kota agraris yang dipanggil Kabanjahe . Kota kecil yang telah membentuk saya menjadi seorang manusia. Terimakasih.
Kenangan demi kenangan mengalir. Merindu aku tiada tertahan. Semoga suatu saat nanti bisa pulang merengkuh indahnya kedamaian. Semoga saja. Pada saatnya nanti ketika kita bersua, memang masih ada damai di Kabanjahe yang tercinta.
-
Menghantar Mati ?
I
Air mata mengalir tak tertahan
Sang maut tanpa pertanda menampakkan diri
dalam balutan jubah hitam menebar aroma kematian
Sebentar lagi menjadi nyata pada orang terkasih
Mataku memancarkan aroma dendam tak berdaya
Aneh, sang maut malah tersenyum
Bersemangat memberi kabar dibalik bayang-bayang
meremas hati sampai hancur, tak bersisa
Melihat orang tersayang semakin lemah
dalam naungan aroma aneh yang ditebarkan
Seringai sang maut menatap dingin
menggeletar rasa tertutup kabut berselimut maut
yang mengembang tanpa dapat ditahan.
II
Jeritan hatiku tenggelam dalam samudera
Gelombang rasa sedih membelenggu asaku
Hanya sesekali riak mukjijat sekelebatan
Memberikan secercah cahaya, tapi itu hanya
hanya secercah, hanya sekelebatan
Tidak lama setelah itu
kegelapan kembali mengungkung
hitam pekat
Kulihat orang terkasih semakin redup
Masih coba tersenyum, menatapku lemah
Tampak binar khawatir di matanya
Jantungku serasa berhenti berdetak
dan dunia seketika berhenti berputar.
III
TUHAN! Bisakah nyawaku sebagai ganti?!
serahkan orang terkasih dalam bayangan maut
yang tidak lama lagi tentu akan datang
‘Kan kulakukan segalanya demi secercah harapan
akan mukjijat yang sering didongengkan
ketika dulu hendak tidur
dalam pangkuan orang terkasih, yang makin pudar
Terasa hampa dalam bayangku akan hidup
Saat semua telah selesai bagi orang terkasih
Hanya mukjijat yang mungkin menyelamatkan
Akankah kali ini doaku terkabul?
IV
“Pasrah, tabah, ikhlas.” kata para pembisik
Hatiku berontak! Tahu apa mereka akan sedihku?!
Ya! Aku tahu yang hidup akan mati
Tapi aku hanya ingin sedikit berharap
Pada mukjijat yang mungkin datang
Jadi, tolonglah kau diam sebentar
Jangan jadi Tuhan, membungkam asaku
dengan vonis maut yang tak tertawar
Diamlah! Walau kau itu sang maut sekalipun
Biarkan aku memanjatkan asa kepadaNya
Sebentuk doa penyerahan total akan kehendakNya
Mungkin mukjijat itu bakal sudi berkunjung
Mengusir maut dalam jubah hitam berhias mata dingin
yang telah menampakkan bayang-bayang pada orang terkasih
Tanpa rasa apa-apa.
V
Kutatap dalam-dalam mata orang terkasih
yang tersenyum dibelitan bayang sang maut
Tulus kasih sayang terasa
Membelai hati yang gundah menghujam asa
Binar itu masih ada, tidak pernah berubah
Setidaknya masih seperti dulu, menentramkan jiwa
Walau aroma maut yang semakin tajam terasa
Seberkas harapan menyentuh hati
akan ketulusan untuk menerima sang takdir
Entah akhirnya maut atau mukjijat
Kuanggukkan kepala, mengiyakan bisik darinya
Untuk tidak mendendam pada sang maut
Juga untuk tidak terlalu memuja sang hidup
Lalu senyumnya kembali mengembang
Tangannya merengkuh kepalaku, membelai
Damai-damai-damai, hanya itu yang ada. Kututup mataku.
Tidur yang sudah lama tidak.
VI
Mentari menyambut pagi ditingkahi kicau burung
Kabut pagi yang mulai pudar menyentuh, sejukkan jiwa
Udara ikut bercengkrama, memeluk hati masih sedikit sakit
Menyisakan cerita yang sudah hampir pudar
akan orang terkasih yang menari bersama sang maut
Pasrah, walau sedikit harap sempat singgah
akan sebuah dongeng mukjijat
yang dulu sering menghantar tidur, tapi tak kunjung ada
Maka ikhlas jualah yang menjadi obat
semua terjadi atas kasih sayangNya
entah itu maut, atau hidup
Maka berakhirlah satu lagi cerita
tentang hidup yang tidak pernah lepas dari mati.
(Teruntuk seorang teman, semoga bisa tabah)
-
Menangis
YA!
Aku lelaki telah menangis
miris memandang manusia berebut
kebenaran di antara desu peluru
menunduk mencari perlindungan
di relung hati yang terdalam
akan sebuah damai
YA!
Sebut saja aku lelaki cengeng
karena air mata terurai
melihat anak manusia gelap mata
mencincang tubuh sang penyesat
lalu memakannya sampai habis
kanibalisme sepanjang jaman
YA!
Air mata lelaki ini kering
memandang kesedihan
menerjang tanpa belas kasihan
dalam jiwa yang rapuh
berusaha menggapai asa diri
hanya sekedar menikmati hidup yang damai.
YA!
jawab dari tanyamu ada
Semua itu atas nama.
-
Luka itu ada
Luka itu ternyata masih ada
terdiam di sudut berdebu
menunggu sekedar sentuhan ringan
membangkitkan kenangan
Luka itu ternyata masih ada
sabar di pojok gelap
menunggu jendela menghantar cahaya
ketika terbuka walau secelah
Luka itu ternyata masih ada
memendam di dalam ketaksadaran
menunggu sebuah kesempatan
saat sang sadar singgah sebentar
Luka itu ternyata masih ada
menyimpan sakit tak pernah pudar
di jiwa yang semakin rapuh
berharap tanpa asa
Tanya terngiang, terus tanpa henti :
“Apakah Luka bisa tidak ada?”
-
Berjalan Aku
Langkah demi langkah mengantar
Dalam perjalanan dengan diri
Sendiri menikmati hidup
Saat duka menghantam
Saat suka menyapa
Saat menangis,saat tertawa
Terus aku jalani
Manis pahit yang tercecap
Ikhlas.
-
Senja
Senja itu memerah
Menghantar mentari ke peraduan
Kunikmati dalam perjalanaan
Meniti langkah demi langkah
Dalam kehampaan kadang berharap
Antara dua dunia ada terpisah, pintu
Menghantar aku berkunjung
Menyapa engkau yang ada dihati
Mencumbu tanpa lelah
Hayalku semakin melambung
Tanpa batas
Sementara merah mulai tertelan
Mentari sudah lama pergi
Mengistirahatkan diri untuk esok hari
Senja masih saja belum menjawab
Senja telah pergi
Malam telah datang
Hanya ada hati tergiris pilu
Sadar tidak terlihat ada mungkin
Penghubung duniaku dengan duniamu
Hanya ada rindu meronta
Ingin menggapai engkau
Wahai kekasih hati
Nantikan saja, ketika saatnya tiba
Kan kujenguk dirimu
Lalu langkah demi langkah berlanjut
Tanpa tahu lelah itu
Mencari aku,
Melewati beribu senja.
-
17 Agustus
Tidak usah kau usik aku. Biarlah kunikmati hari ini dengan merdeka. Bermain futsal di pojok kota. Berlari dalam goni di gang yang sempit. Memasukkan pinsil ke botol yang sempit di halaman sekolah. Menonton manisnya para mayoret di sebuah lapangan kota kecil. Beradu otot menarik tambang di pojok kantor. Berjelaga menggapai hadiah di ujung pinang. Ikut bernyanyi Indonesia Raya penuh semangat.
Biarlah dulu sebentar. Sebelum sang saka merah putih itu hilang ditelan malam. Hanya sampai malam ini tiba. Sampai matahari terbit esok hari. Kunikmati dulu rasa merdeka sampai detik terakhir. Dan besok silahkan miliki aku lagi. Sebab rasa merdeka itu memang hanya untuk sehari. Esok hari, rasa itu hilang menguap tak berbekas. Karena memang setiap tahun sudah begitu. Mungkin memang sudah takdir.
Sabar, tunggu sajalah dulu. Sebab ini hanya sehari. Istirahat dari hidup barang sejenak. Merdeka dalam arti sebenarnya. Kemudian besok hidup akan mulai lagi. Bergulir setelah henti kemarin. Dan merdekapun hanya menjadi kenangan hari yang sudah lalu. Ada memang tersebut kata merdeka dalam guliran hidup setelah itu. Tapi hanyalah sebatas selogan yang kosong. Tidak pernah menjadi bermakna merdeka.
Sebab hidup kembali menjadi kenyataan. Belenggu di harga berbbm, berpendidikan, berbahan makanan, bepekerjaan, berteman, bercinta, berumah, bersubsidi, beragama, bernegara, bermerdeka, bahkan bernapas. Maka, hari ini, biarkan aku dulu wahai sang hidup. Sekejap kunikmati rasa merdeka. Longgarkan sejenak belitanmu. Biarlah kunikmati rasa merdeka ini. Walau sementara.
-
Cerita Pantai
Udara itu serasa asin melekat
Memeluk diri yang terpana
Tatapan jauh ke cakrawala
Tarian ombak menemani tanpa canggung
Di atas pasir basah dua manusia
Sedang bermain dalam rindu
Lupa waktu yang tak menyentuh
Damai itulah yang ada
Wajah-wajah puas tampak tertidur
Dalam pelukan sang bidadari
Yang basah dan asin, murni
Hangatnya tidak dingin seperti air
Dinginnya tidak panas seperti api
Deru ombak
Desau angin
Gemericik air
Lembutnya pasir
Menarikan tarian indah melenakan
Dua anak manusia yang sedang bercengkrama
Melepas rindu bergulingan di pantai
Seberkas semburat senja
Melukis indahnya hidup
Kepiting, Ikan kerapu, sambal kecap dengan irisan rawit
Menghapus lapar yang menyerang
Saat dua anak manusia melepas
Rindu telah menyatu di dangau tepi pantai
Duduk beralas tikar menikmati hidup
Di antara belaian angin senja
Dalam semburat memerah
Damai
Indah
Pantai
Burung camar tampak menyampaikan berita
Dua anak manusia memadu rindu di pantai
Tidak lupa juga tentang damainya.
-
Harmoni Jiwa
Suara malaikatmu melantunkan lagu jiwa, iringi suara gitarku membelah kebekuan. Melodi kita menyapa orang-orang yang terlelap dibuai kehidupan. Robot-robot menari berusaha memanusiakan diri. Senyummu di balas senyumku, sementara denting piano tampaknya tidak tahan untuk tidak ikut serta. Damai ini terus mendendangkan lagu kita, ketika cinta menyapa.
Sumringah senyummu bangkitkan rasa yang telah lama tidur. Seperti sang putri tidur yang mendapat kecupan dari sang pangeran, maka hidupku pun terselamatkan. Ketika ku sadar kita itu ternyata ada. Bukan hanya sebuah mimpi yang tak tergapai, walau seumur hidup. Mengajak mereka-mereka untuk berdendang dalam lagu jiwa, sebuah harmoni antara kau dan aku.
Mereka-mereka ternyata mulai menyadari harmoni jiwa yang sedang kita ciptakan. Maka marilah kita bernyanyi terus tanpa henti. Semoga mereka ikut serta menari dan menyanyi dalam kegembiraan kita. Merayakan nyanyian, suara gitar, dan denting piano yang mengalun tanpa lelah. Binar mata mu menembus dalam relung hati terdalam, yang tanpa ingin sembunyi lagi . Teriakkan cinta kita, dalam senandung tiada akhir.
Wahai dikau, marilah kita ajak dunia menari bersama kita. Meresapi kebahagiaan yang tiada taranya, sebab cinta memang adalah cinta. Nyanyianmu semakin syahdu, suara gitarku makin menyatu, denting piano mengiringi tanpa pamrih. Ikhlasku menembus batas-batas ego.
Ah, duhai dunia marilah bersama kami, menikmati hidup yang semakin indah. Dalam harmoni jiwa.
-
Puisiku
Lembar demi lembar kehidupan
kugoreskan dalam huruf
menyusun kata, menulis makna
dalam kata kata berima aneh
berusaha terdengar indah
Walau tak tercapai
tetap ini aku sebut puisi
sebuah puisi hidup
yang berusaha menggapai hati
dalam dada ada rindu
Dengarkan saja goresan ini
terwujud dalam puisi
walau aneh.
-
Bakar!
Bakar!
Itulah yang terlintas
kala hati dipenuhi amarah
tanpa batas
Melirih dengus orang orang
teraniaya
Bangkit merubah yang tak sedap
dipandang
Gemericik api yang melalap habis
rumah kayu
Pandangan bengis disekeliling
liukan tubuh di dalam rumah
menggeliat
Kepuasan memancarkan penghinaan
pada arang hitam dan debu
mengonggok
Bakar!
Telah dilakukan sekejap tadi
nafsu amarah tidak tertahan
teringat hawa kematian menyeruak
menyapa setiap lawan, tanpa belas kasihan
Mata-mata liar itu nanar menatap
musuh bersama yang tinggal abu
rumah yang tinggal arang
tertawa mereka melepas lelah
untuk penghabisan
Bakar!
Menyelesaikan ketakutan-ketakutan
oleh sosok berbaju hitam menyeramkan
menyebarkan hawa maut tanpa pilih
kini sudah tidak ada lagi.
-
Sakit
Seorang wanita jadi korban kebrengsekan
Tentu jatuh sakit
Maka yang mengaku temanpun menjenguk
Demi sebuah ramah tamah
Yang sudah menjadi budaya negeri ini
Seperti biasa,
Seperti sudah-sudah
Dikala ada pertemuan,
Walau dalam sakit
Yang dilakukan adalah saling bercerita
Cerita mengalir,
Tentang pengendara sepeda motor yang sangat brengsek
Tentang pelayanan UGD sebuah rumah sakit yang keterlaluan
Tentang penyakit yang terpaksa ditemukan kemudian
Tentang manusia yang kehilangan empati
Tentang ketidak becusan
Tentang orang-orang negeri ini
Semuanya,
Tentang kegeraman, amarah, dan luka
Tentang betapa sakitnya negeri tercinta.
Hei engkau, jangan merengut begitu
Jangan proteskan cerita
yang hanya tentang sakit ini
Sebab wajar adanya jika memang sedang.
*Makasih buat seorang teman yang telah menjadi bahan inspirasi puisi alakadarnya ini. Semoga cepat sembuh. *
-
Hatiku
Hatiku ternyata rapuh. Begitu gampang tercerai-berai. Lagi dan lagi. Tanpa aku bisa berbuat. Hanya pasrah setiap kali datang kerikil yang membentur. Tanpa pernah memberi ampun hanya dengan sedikit retak, luluh lantak kemudian.
Hatiku ternyata kuat. Begitu sering tercerai-berai oleh kerikil-kerikil tanpa ampun. Tetap bisa kembali seperti semula. Merekat seolah tidak pernah hancur. Melekat memberi denyut pada hidup. Tanpa pernah berhenti sedetikpun, bahkan di saat tersulit sekalipun.
Hatiku memang hati. Bukan batu cadas bergeming tanpa rasa. Bukan juga kaca yang tercerai-berai tanpa pernah bersatu lagi. Hatiku hanya hati. Yang mengalami rasa sakit yang menghancurkan. Tapi kemudian tetap saja ingin terus merasa. Lalu menyatu lagi.
Aku, dengan hati merasakan hidup.
-
Senjakala
Senjakala
bermandikan cahaya
putih, bersih, suci
membasuh jiwa
luruhkan segala resah
menyatu dalam keheningan.
-
Kekosongan
Kutatap wajah
yang kosong, melompong
mengembara jiwa tak tentu arah
tinggalkan jasad merintihi nasib
kosong menjadi teman sunyi
meratap diantara tangis
tiada henti
airmata yang telah jadi darah
kering meranggas dalam panas
menatap dalam kosong
jauh tanpa ujung
menasibi sang nasib
akhir segala
kekosongan dalam hati
teman menikmati nanah
dari luka yang tak kunjung sembuh.
-
Tiba Tiba
Tiba tiba, tanpa salam engkau masuk
menerobos pintu hati yang tertutup
Ingin kuusir, tapi apa daya
hati telah tertawan
oleh anggun paras dan senyum manis
Tiba-Tiba memang semua
harus kurelakan tanpa bisa protes
porak porandanya keping keping hati
yang sedang kutata, kusiapkan kembali mengarungi
zig-zag kehidupan ketika bermain
dengan yang namanya cinta.
Kerlingmu semakin menawanku
tiba-tiba saja dan aku tak berdaya.
Lalu tiba-tiba juga,
semua hilang tak berbekas
Hanya kekosongan yang tertinggal
Sedikit wangi tubuhmu sebagai kenangan
Engkau pergi seperti datangmu,
begitu tiba-tiba.
-
Koma
Koma
Sudah saatnya kububuhkan
Dalam perjalanan ini
Beristirahat sejenak
Melakoni syariat hidup
yang sudah lama tidak
Mencengkramai cahaya putih
Kutatap,
begitu terang tapi tidak silau
Melebur segala ingin, segala lelah,
segalanya, tanpa sisa
Maka selagi aku masih ingat
Koma dulu kububuhkan
Sebelum nanti titik memaksaku lupa.
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules