yg non skripsi biayax lebh tinggi ya?
Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa
"Sedekah Aja "
Sastra - > Dear Diary Inspirasi
Kucing - > Semua Tentang Kucing
PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara
gak hoax. baca beritanya dimari
http://edukasi.kompas.com/read/2012/...likasi.Makalah
you can also find me here
IMHO benernya malah lebih bagus yah, kali aja dengan ini lebih banyak makalah anak negeri yang mengisi semacam Elsevier ato ScienceDirect
setuju... bagus ini, biar pada rajin nulis, masa iya S2 S3 ga ada tulisan ilmiahnya, atleast nasional lah...
kalau ga salah bundanya kandalf juga cerita, yang adikmu di jepang juga ada syarat gitu buat ambil gelar doktoral, harus publikasi berapa jurnal international gitu... kurasa wajar2 aja deh
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
publikasi jurnal itu ga gampang, sudah penelitian dan nulis, belum tentu diterbitkan.
selain kualitas tulisan dan penelitian harus cari jurnal yang diakui dan sesuai.
kebijakan semacam ini udah ada di kampus, kenyataan yang ada, dosen dan
mahasiswa jadi berebut media untuk publikasi karya ilmiah karena masih terbatas
semoga dengan kebijakan ini jumlah jurnal-jurnal yang berkualitas bisa bertambah
jadi inget, kira2 kenapa yah minat menulis anak2 sini rendah sekali........
apa kira2 menggalakan blogging bisa membantu ?
^ ngga kok Tsu...buktinya kontes FF banyak yg ikutan
![]()
~Radio Kopimaya~
^
klo ada yg namanya flash skripsi pada rajin semua kali![]()
boleh juga skripsi dalam 100 kata,
dulu buat skripsi 200 lembar![]()
^tidak terlalu fun kalo banyak kendala. menyenangkan kalo udah selesai
-pengalaman pribadi-
gak fun kalo dosen pembimbingnya ngomong "kurang ini cakupannya, kamu harus menambahkan ini itu bla bla bla, ini saya tambahin lagi buku materinya bla bla, terlalu dangkal penjelasannya bla bla "
skripsi itu selalu berat di bab 1 dan 2, nyaman (hanya) di bagian ucapan terima kasih![]()
hehehehe... sepekat ama alasan um purba
aneh bin ajaib klo alasannya krn kalah ama malaysia
bukan dengan cara seperti ini klo mau bikin publikasi yang mampuni di dunia nasional amupun international
tp sistem pendidikannya
di Indo sistem pendidikannya masih by SKS. di luar rata2 dah by research. walaupun kuliahnya masih ada, tp rata2 dikit SKSnya ga kayak di Indonesia. utk bisa lulus S2 aja harus menghabiskan 40 SKS
makanya publikasinya diluar bisa banyak
utk S1 saya sama sekali tidak setuju klo syarat lulus harus pake publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal
tp tadi baca utk S1 bisa publikasi on line katanya. ga tau publikasi on line itu spt apa
bikin publikasi itu tidak gampang.
klo mau jurnalnya berkualiatas, minimal harus di review oleh reviewer itu 2 kali
dan itu kdang btuh waktu 1 tahun utk bisa selesai review
utk S2 juga malah sulit tuh, masuk jurnal terakreditasi dikti (bukan LIPI ya, beda terakreditasi dikti ama LIPI), itu butuh waktu 2 tahun ampe bisa terbit. sedikitnya 1 tahun baru ada kabar teraccepted.
jurnal terakreditasi dikti itu tidak banyak. mungkin hanya 200 aja.
bayangkan kuliah utk menghabiskan waktu utk mencukupi SKS 1,5 tahun. penelitian dan menulis tesis itu 6 bulan. lah kapan lulusnya klo harus nunggu setahun lagi buat bisa dapat kabar teraccepeted publikasinya. ya siap2 aja lulus 3 tahun dah....
utk S3, ini publikasi international yang bagimana? yang terindeks scopus? wakakaka.... tulisannya orang2 indonesia sulit di percaya ama editor2 jurnal yang terindeks scopus. apalagi tanpa ada nama penulis dari negara luar. kecuali dari univ2 besar indonesia. ini makin melamakan studi seseaorang.
diakui idenya bagus. tp bukan begini caranya.
klo mau ubah sistem dulu. utk S2 kuliah hanya 1 semester, 2 semester utk penelitian, nulis tesis dan siapkan naskah jurnal. waktu sisanya untuk nunggu naskah di accepted sambil menyiapkan publikasi kedua klo2 naskahnya pertama di reject. ga boleh ngirim naskah yang sama di dua tempat dalam waktu yang bersamaan. klo ketahuan bisa black list.
utk S3 juga sama. kuliah 2 semester. dan ini dah mulai research. tahun ke dua dah harus mulai ngirim naskah jurnal2 yang dituju. tunggunya ampun punya lho klo jurnal international. 2 tahun belum tentu ada kabarnya. apalgi klo dah nunggu 2 tahun, ternyata direject. nangis2 dah tuh....
kalau sistem jurnal publikasi,, banyak kok penerbit2 lokal yang mau menerbitkan.. seperti di universitasku, pas S1 memang ada yang mewadahi jurnal2 penelitian untuk diterbitkan,,
kalau mau pake sistem instan, silahkan joint di www.nulisbuku.com, atau klw gak mau repot dengan ***** bengek penerbitan, siapin doku 500 ribu, satu buku berisi publikasi ilmiah kita, bisa kita dapatkan di www.leutikapro.com. Itu gak sampai sebulan jadinya loh. Mungkin2 sampai 3 minggu, buku itu jadi.
klw buat dosen tetap, khan klw naik pangkat.. musti bikin laporan penelitian dan publikasi ilmiah juga.. tapi klw dosen , lebih enak conectednya,, krna dia punya kepentingan buat naik pangkat, serta dia juga tertarik akan masalah yang diangkat, dosen harus selalu berpikir kritis.
sekarangpun, banyak dosen2 saya, menggunakan jasa leutika pro, untuk menghasilkan buku. Tapi biasanya buku sebelum naik cetak, di seminarkan dulu.
---------- Post added at 03:06 AM ---------- Previous post was at 03:01 AM ----------
@waks: sebelum menentukan judul skripsi,, atau permasalahan yang pengen diangkat, kamu musti suka dulu dengan masalah yang pengen diangkat,
setelah suka, kamu harus merasa "penasaran" tentang objek penelitian yang kamu tuju.
Jika rasa "haus" akan info kamu mendek dan berkurang akan masalah penelitian, bisa dipastikan penelitianmu akan membosankan
jadi kata kuncinya dalam meneliti : 1. Haus pengen tahu, 2. Kamu suka akan masalah itu. entah alasan suka, karena objek penelitian dekat ama rumah,
atau narasumber ada temenmu sendiri, atau kamu lebih ahli sama masalah itu, segala aspek bisa kamu analisa/analogikan, gimana caranya kamu bisa suka sama
bahan skripsi/tesis kamu.
Kalau dua hal itu udah ada, Bisa dipastikan penelitianmu akan lancar![]()
Last edited by Nharura; 07-02-2012 at 03:08 AM.
Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa
"Sedekah Aja "
Sastra - > Dear Diary Inspirasi
Kucing - > Semua Tentang Kucing
PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara
Ciri dari publikasi ilmiah adalah adanya peer review atau telaah dari rekan sejawat. Jadi gak bisa skripsi di-online-kan langsung masuk kategori publikasi ilmiah. Misalkan link http://jp.arxiv.org/find adalah jurnal online tetapi belum masuk kategori publikasi ilmiah karena makalah-makalah yg ada di dalamnya belum ditelaah oleh rekan sejawat. Sedangkan jurnal online http://publish.aps.org/search/, ini baru publikasi ilmiah karena sudah ditelaah oleh rekan sejawat. Jika Malaysia memiliki lebih banyak publikasi ilmiah dibandingkan Indonesia, sudah tentu maksudnya adalah yg di-peer review-kan, bukan sekedar online saja seperti orang menuliskan skripsinya dalam sebuah blog. Jadi si pak dirjen tsb gak bisa sembarangan meminta skripsi di-online-kan kemudian sudah berarti publikasi ilmiah, bisa diketawain orang Malaysia nanti, lha apa gak tambah malu?
Mengapa S1 tidak perlu publikasi ilmiah? S1 di Indonesia butuh 144 SKS, itu sudah hampir sama dgn bachelor. Apalagi jika nanti jadi 120 SKS, itu sudah bachelor. Ditinjau dari kebiasaan, tidak ada bachelor di dunia ini yg diwajibkan utk publikasi ilmiah sbg syarat lulus karena memang bukan itu tujuan pendidikan bachelor. Tidak semua lulusan S1 hendak melanjutkan ke S2 atau S3. Karena itu tidak perlu publikasi ilmiah dijadikan syarat lulus. Tugas akhir atau skripsi saja sudah cukup utk melatih mahasiswa S1 menulis secara ilmiah. Jika dipaksakan, masa studi S1 bisa molor, bayar SPP bertambah, dan ujungnya bisa DO. Itu malah merugikan mahasiswa ybs.
Lain halnya dgn S3 atau doctor, itu sangat layak disyaratkan publikasi ilmiah utk lulus, seperti di Jepang misalnya, karena filosofi pendidikan doctor memang utk menjadi peneliti dan seorang peneliti harus mampu publikasi ilmiah level internasional. Di Indonesia pun utk lulus S3 sudah diwajibkan publikasi internasional, tapi seperti biasa peraturan di Indonesia dibuat utk tidak dipatuhi dan orang yg mengambil S3 biasanya utk bangga-banggaan saja dgn titel doctor-nya atau syarat naik pangkat di kantornya. Salah kaprah.
![]()
setuju dengan poin purba dan ga_genah, karena saya mengalami sendiri untuk publikasi di jurnal butuh proses
S1 tanpa skripsi pun sebetulnya sudah dapat lulus dan mendapat gelar akademis by course, dan tujuan mahasiswa
kuliah S1 pub mayoritas untuk menerapkan keilmuannya. Skripsi lebih ditujukan untuk latihan menulis ilmiah.
Sulit jika sekedar mengharapkan peningkatan jumlah penelitian yang berkualitas jika untuk melakukan penelitian
pun sering terkendala masalah anggaran.
Seorang menteri pendidikan yg profesor apakah pernah menghasilkan S3 yg publikasi internasional?
http://edukasi.kompas.com/read/2012/....untuk.Menulis
Dia ternyata tidak paham apa itu skripsi. Dia juga tidak paham apa itu publikasi ilmiah. Pantas saja lulusan S3 di Indonesia tidak produktif dlm publikasi ilmiah karena ternyata profesornya punya pemahaman seperti itu. Pantas saja Indonesia dikalahkan Malaysia dlm publikasi ilmiah karena ternyata pemahaman profesor di Indonesia terhadap publikasi ilmiah adalah seperti itu. Seandainya para profesor yg membimbing S3 patuh thd peraturan wajib publikasi internasional utk lulusan S3, sudah dari dulu publikasi ilmiah Indonesia jauh lebih banyak dari Malaysia.
![]()
tidak tau...
saat ini utk jadi profesor tidak perlu tulisannya pernah terbit di jurnal internasional
yg penting angka kreditnya cukup, disetujui ama sidang2 (ga tau nama sidangnya apa), trus nunggu keputusan dah
saat ini baru wajib masukin tulisan ke jurnal terakreditasi DIKTI