Dulu saya ambil mata kuliah Evolusi, dua kredit.
Peminatnya sedikit sekali, nyaris dibatalkan.
Mungkin karena ilmu ini lebih ke multidisiplin berbagai
cabang biologi, jadi penyajiannya teoretis untuk sebuah matkul
di S1.
Tapi buat saya sangat menarik. Terasa sangat eksistensialistik.
Saya pikir ada kemiripan antara berbagai Teori Evolusi dengan
berbagai teori dalam Kosmologi.
Soal kosmologi. Itulah mengapa seorang Karlina Leksono
yang seorang astronom lulusan ITB ujung2nya menekuni
Kosmologi kemudian Filsafat. Sekarang beliau salah satu
pengajar di STF Driyarkara kan.
Menurut saya Evolusi adalah sains. Ada metode ilmiahnya.
Dan ia bukan ilmu yang berdiri sendiri. Kita harus belajar
anatomi, biologi molekuler/genetika, kimia, geologi, dsb.
Sama halnya kosmologi, begitu banyak ilmu2 penunjangnya.
Mengapa pembicaraan teori evolusi pada akhirnya dibawa-
bawa ke urusan agama karena ia menyentuh eksistensi
manusia.
Mengapa memberi demarkasi filsafat dengan sains ?
Bukannya filsafat disebut induk ilmu pengetahuan ?
Filsafat kan tak hendak berhenti menjadi renungan spekulatif,
maka dibangun apa yang disebut metode ilmiah yang menjadi
kerangka semua ilmu pengetahuan.
Ya, ya...manusia bisa berdebat soal tingkat kemutlakan
sebuah metode ilmiah -logiko positivisme itu. Tapi bukankah
kita memerlukan pisau untuk memahami sesuatu ?
Menurut saya, kalau agama dan Tuhan begitu hebat kita
percaya, tak masalah keduanya diobrak-abrik segala metode
ilmiah (yang ada dalam upaya pembuktian Teori Evolusi ini).
Mungkin ilmu pengetahuan memiliki keterbatasan sehingga
kita menjadi lebih beriman?
Sejauh ini, sejauh pemahamanku, Teori Evolusi agak bisa
menerangkan kehidupan
