Page 10 of 12 FirstFirst ... 89101112 LastLast
Results 181 to 200 of 235

Thread: Apakah Tafsir Itu Harus dilakukan Pemuka Agama?

  1. #181
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    hehehe... ngga ah....
    Kelakuan anggota kerajaan Royal Saudi yang ngga
    benar saja, ngga dilurusin oleh Bin Baz
    kenal nama
    gak kenal orangnya
    gak kenal sifatnya
    gak kenal kesehariannya

    kenal sholat
    gak kenal takbiratul ihramnya
    gak kenal sedakepnya
    gak kenal hakekatnya

  2. #182
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    kenal sholat
    gak kenal takbiratul ihramnya
    gak kenal sedakepnya
    gak kenal hakekatnya
    hakekat??
    makanya saya tanya sama anda apakah nabi pernah mengatakan dalam suatu hadits tentang hakekat gerakan2 shalat?? kalo memang tunjukkan donk haditsnya.....!! jangan cuman dari prasangka saja....

  3. #183
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    hakekat??
    makanya saya tanya sama anda apakah nabi pernah mengatakan dalam suatu hadits tentang hakekat gerakan2 shalat?? kalo memang tunjukkan donk haditsnya.....!! jangan cuman dari prasangka saja....
    walah, tunjukin hadist ?
    saya lebih baik langsung nanya aja ke Kanjeng Nabi Muhammad mas
    enak bisa liat wajahnya, bisa liat senyumnya atau dengerin guyonannya


  4. #184
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    walah, tunjukin hadist ?
    saya lebih baik langsung nanya aja ke Kanjeng Nabi Muhammad mas
    enak bisa liat wajahnya, bisa liat senyumnya atau dengerin guyonannya
    ckckckckck lagi ngimpi ya... bagun bangun dah siang ne....

  5. #185
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    ckckckckck lagi ngimpi ya... bagun bangun dah siang ne....


    ini mengingatkan saya seperti ceritanya Yang Mulia Abu Yazid dari Bustham

    Suatu ketika dalam perjalananya, Yang Mulia Bayazid Bisthami berpapasan dengan sesama musafir. Sang musafir, yg mengendarai onta, melihat keledai milik Bayazid Bisthami membawa barang 2 kali lebih banyak daripada yg dibawa ontanya. Sang musafirpun merasa kasihan kepada keledai dan menyalahkan Bayazid atas perlakuannya yg tidak berperikehewanan.

    "Tuan, tidakkah anda memiliki sedikit belas kasihan? Tega sekali kau thd keledaimu?", sergah sang musafir,

    Yang Mulia Bayazid menjawab, "wahai musafir, apabila kusampaikan hal yang sesungguhnya kepadamu niscaya kau takkan percaya. Tetapi apabila tidak kusampaikan hal yang sebenarnya kepadamu, kau akan mencela. Lalu katakan, bagaimanakah aku harus bersikap kepadamu ???"

    Selanjutnya keduanya melanjutkan perjalannya masing-masing. Ketika sang musafir melewati Bayazid Bisthami dan melihat keledainya lebih dekat. Dia saksikan bahwa sesungguhnya beban berat tsb tidaklah menyentuh punggung keledai. Melainkan terdapat jarak 10 cm. Dia baru sadar bahwa beban itu ngambang diatas punggung keledai.


    Sungkem hormat saking dalem teruntuk Yang Mulia Abu Yazid dari Bustham
    Last edited by sedgedjenar; 05-01-2012 at 12:16 PM.

  6. #186
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    wadoh malah bawa2 cerita mistik sufi... ckckckck... emank dah kebathinan....

  7. #187
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    wadoh malah bawa2 cerita mistik sufi... ckckckck... emank dah kebathinan....
    mas itu aja di jawab pertanyan ronggolawe
    anda bersandar kepada seseorang yang tidak meluruskan tindakan royalti arap saudi
    kenapa anda bisa gitu ?

  8. #188
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    hakekat??
    makanya saya tanya sama anda apakah nabi pernah mengatakan dalam suatu hadits tentang hakekat gerakan2 shalat?? kalo memang tunjukkan donk haditsnya.....!! jangan cuman dari prasangka saja....
    ayo jawab juga pertanyaan saya... donk...

  9. #189
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    ayo jawab juga pertanyaan saya... donk...
    udah dijawab tuh di atas
    maap kalo gak memuaskan
    karena saya bukan alat pemuas


  10. #190
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    walah, tunjukin hadist ?
    saya lebih baik langsung nanya aja ke Kanjeng Nabi Muhammad mas
    enak bisa liat wajahnya, bisa liat senyumnya atau dengerin guyonannya
    ini mah bukan jawaban.. saya tanya tunjukin haditsnya.. anda malah bilang enakan nanya langsung.. bilang aja to the point kagak ada dalilnya.. dan itu cuman prasangka anda kok jawabnya muter2.

  11. #191
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    ini mah bukan jawaban.. saya tanya tunjukin haditsnya.. anda malah bilang enakan nanya langsung.. bilang aja to the point kagak ada dalilnya.. dan itu cuman prasangka anda kok jawabnya muter2.
    ada dalilnya mas
    tapi cuma Allah yang tau


  12. #192
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    ada dalilnya mas
    tapi cuma Allah yang tau

    Luar biasa ... hanya Allah yang tau, tapi anda bisa yakin tau ada dalilnya ?

    Atau anda adalah Allah karena anda tau dalilnya ?


    Na'udzubillah min dzalik ... tercapai sudah cita-cita anda menjadi syaikh Siti Djenar. Tinggal nunggu siapa yang mau jadi Sunan Kalijogonya ...
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  13. #193
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by Asum View Post
    Luar biasa ... hanya Allah yang tau, tapi anda bisa yakin tau ada dalilnya ?

    Atau anda adalah Allah karena anda tau dalilnya ?


    Na'udzubillah min dzalik ... tercapai sudah cita-cita anda menjadi syaikh Siti Djenar. Tinggal nunggu siapa yang mau jadi Sunan Kalijogonya ...


    saya belum sampe praktek jalan kematian syekh siti jenar, jadi saya masih belum sampe ke sana
    tapi alhamdulillah kalo anda sudah doain



    seperti kisah abu yazid di atas mas
    kalo saya cerita anda gak akan percaya
    kalo gak cerita anda mencela

    Yang Mulia Bayazid menjawab, "wahai musafir, apabila kusampaikan hal yang sesungguhnya kepadamu niscaya kau takkan percaya. Tetapi apabila tidak kusampaikan hal yang sebenarnya kepadamu, kau akan mencela. Lalu katakan, bagaimanakah aku harus bersikap kepadamu ???"

  14. #194
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post


    saya belum sampe praktek jalan kematian syekh siti jenar, jadi saya masih belum sampe ke sana
    tapi alhamdulillah kalo anda sudah doain



    seperti kisah abu yazid di atas mas
    kalo saya cerita anda gak akan percaya
    kalo gak cerita anda mencela

    Yang Mulia Bayazid menjawab, "wahai musafir, apabila kusampaikan hal yang sesungguhnya kepadamu niscaya kau takkan percaya. Tetapi apabila tidak kusampaikan hal yang sebenarnya kepadamu, kau akan mencela. Lalu katakan, bagaimanakah aku harus bersikap kepadamu ???"
    Semoga Allah SWT mendengar dan mengabulkan apa yang anda cita-citakan.

    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  15. #195
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    Semoga Allah SWT mendengar dan mengabulkan apa yang anda cita-citakan.
    amin

  16. #196
    salam

    jawabannya mudah.......

    harus bisa di pertanggungjawabkan....??

    nah cara mempertanggungjawabkannya ini yang terkadang berujung kepada DEBAT KUSIR

    sesungguhnya Allah tidak menyukai manusia saling berdebat

    barang siapa yang melakukan sesuatu yang bukan AHLI nya maka tunggulah kehancurannya

    yang AHLI mari kita berbincang.... untuk mempertanggung jawabkan statemen si biasa

    jika satu visi, maka yang biasa akan menjadi AHLI dalam hal itu

    jika DEBAT KUSIR.........maka team penguji ada yang bukan AHLI nya.......
    Sombong Itu Selendang Allah

  17. #197
    Wahhh udaah lama nggak main kesini , masih ada pak momod mbah Pasing , Aden Dana sang TS dan dll dll dll , salaam deh untuk anda smua.

    Ijinkanlah saya ikutan share disini , bila telah ada yg mempost , ma'af , bisa diabaikan saja.

    Bagi saya kegiatan "menafsir " ini merupakan kegiatan yg tak terpisahkan dalam kehidupan beragama kita , sebagai kegiatan setiap individue.
    Betapa tidak , kalau pun kita akan merujuk kepada pendapat para ulama mufasir , ternyata yg ada tidaklah hanya satu , ternyata ada beberapa kalau tak boleh dibilang banyak !

    Sehingga menurut saya pada hakekatnya penafsiran itu malahan "harus" kita lakukan sendiri berdasarkan "masukan masukan/referensi" yg ada pada kita . Toh Allah tidak menuntut pertanggung jawaban diluar kemampuan kita.

    Sebagai suatu contoh ibadah sholat sendiri , kita dapati berapa banyak ulama yg punya pendapat yg berbeda , mulai dari manafsirkan "sholat" itu sendiri , menghadap kemana , gerakan sholat , bacaan sholatnya , sholat apa saja dll dll dll
    Maka ternyata kemudian tafsir mana yg akhirnya kita pakai , berpulang kepada kitanya sendiri !
    Dan yg lebih mendasar bahwa kita lah yg akan mempertanggung jawabkan perbuatan amal ibadah kita itu dihadapan Allah , bukan orang lain !

    Just share.
    ADEM_AYEM_TENTREM

  18. #198
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by Dadap serep View Post
    Wahhh udaah lama nggak main kesini , masih ada pak momod mbah Pasing , Aden Dana sang TS dan dll dll dll , salaam deh untuk anda smua.

    Ijinkanlah saya ikutan share disini , bila telah ada yg mempost , ma'af , bisa diabaikan saja.

    Bagi saya kegiatan "menafsir " ini merupakan kegiatan yg tak terpisahkan dalam kehidupan beragama kita , sebagai kegiatan setiap individue.
    Betapa tidak , kalau pun kita akan merujuk kepada pendapat para ulama mufasir , ternyata yg ada tidaklah hanya satu , ternyata ada beberapa kalau tak boleh dibilang banyak !

    Sehingga menurut saya pada hakekatnya penafsiran itu malahan "harus" kita lakukan sendiri berdasarkan "masukan masukan/referensi" yg ada pada kita . Toh Allah tidak menuntut pertanggung jawaban diluar kemampuan kita.

    Sebagai suatu contoh ibadah sholat sendiri , kita dapati berapa banyak ulama yg punya pendapat yg berbeda , mulai dari manafsirkan "sholat" itu sendiri , menghadap kemana , gerakan sholat , bacaan sholatnya , sholat apa saja dll dll dll
    Maka ternyata kemudian tafsir mana yg akhirnya kita pakai , berpulang kepada kitanya sendiri !
    Dan yg lebih mendasar bahwa kita lah yg akan mempertanggung jawabkan perbuatan amal ibadah kita itu dihadapan Allah , bukan orang lain !

    Just share.
    mantap nih
    yang begini nih yang namanya beragama dengan pembuktian
    akalnya dioptimalkan

  19. #199
    Ehhhh aki Jenar , assalamua'alaiku waromatullah wabarokatuh Aki ,.................
    Aki ini bisa aja ,..... jadi malu nih.
    Saya hanya mau mencoba menyampaikan cara pandang yg mungkin belum dipakai saja , meskipun dalam AQ Allah bolak balik ngingetkan lho !

    Tapi ngomong ngomong saya jadi tertarik sama "don(g)eng" sampeyan mengenai mbah Bayashid van Bustham tsbt aki. Saya dapat cerita/hikayat itu dari mbah buyut saya. Namun ada sedikit perbedaan , karena cerita itu masih berlanjut.
    Begini lanjutannya :

    Setelah sang Tokoh tersebut melihat keheranan yg terpancar dari wajah sang musafir , sang Tokoh kemudian tercenung. Dia jadi berpikir alangkah dzolimnya saya , membiarkan seorang manusia untuk berpikir macam macam yg mungkin saja bisa menimbulkan prasangka buruk pada orang itu kepada saya , bahwa saya menggunakan bantuan jin atau setan atau kekuatan sihir , karena dia melihat "keanehan" tersebut .
    Padahal saya hanya mau berlaku jujur . Sebab ketika saya sewa keledai itu dari pemiliknya saya bilang untuk saya kendarai , untuk itu saya membayar sejumlah ongkos/sewa . Saya lupa bahwa saya juga harus membawa barang barang bawaan . Jadi beban itu adalah beban saya , tidak termasuk "kuwajiban" sikeledai sesuai dg kesepakatan .
    Maka untuk menghindari perbuatan yg curang , saya gunakan saja "ilmu" atau kemampuan saya , agar meski sikeledai kelihatannya mengangkut barang tetapi sebetulnya sang keledai tidak mengnggung berat barang bawaan saya . Saya pikir tindakan saya itu bisa mencegah orang untuk berprasangka , karena jamak seokor keledai membawa barang dipunggungnya sambil dituntun si empunya yg berjalan disampingnya. Eh ternyata malahan bisa mnimbulkan fitnah, prasangka buruk !
    Sang tokoh menjadi sangat menyesal , merasa sangat berdosa.

    Kemudian setelah berfikir dengan keras dia segera bergegas kepasar membeli sebuah gerobak. Kemudian dilepaskannya ke dua rodanya , dan bantalan besi (bearing) yg terpasang ditengah roda dibuangnya , kemudian dengan "ilmu" (tehnologi mutakir) yg dikuasainya , digantilah bearing tsbt dg "bantalan udara" (spt yg diletakkan dipunggung keledainya tadi) , dg demikian poros gerobak tidak bersinggungan langsung dengan as roda , sehingga sang roda bisa berjalan/berputar dengan sangat ringan meskipun dalam gerobak diisi beban. Kemudian diikatkanlah gerobak itu ke kekeledainya , sang keledai dapat melenggang seringan sebelumnya.
    Maka berjalanlah sang tokoh dengan riangnya sambil seskali menyapa orang orang yg ditemuinya tanpa mendapatkan "pandangan keheranan penuh prasangka dan tanda tanya" dari orang orang yg berpapasan dgnya.

    Waktu itu saya sih ndomblong saja mendengar "don(g)eng" sang embah buyut atau seringnya udah ngiler duluan , ketiduran , ataupun kalau toh masih melek ya kurang bisa nangkep moral ceritanya atau minta diceritakan kisah nabi.
    Sekarang , itu jadi salah satu guide saya dalam berinteraksi dg sesama.

    Ehhhh kok jadi ngedongeng , moga moga nggak kena semprit eyang Momod !
    Salaam aki Jenar , smoga saja "frekwensi" yg saya pancarkan ini bekerja pada bandwith umum shg bisa ditangkap dengan Ten Four (10-4), loud n clear!. Smoga.
    ADEM_AYEM_TENTREM

  20. #200
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Apakah penafsiran ajaran suatu agama itu menjadi hak preogratif pemuka agama ya? Sehingga rakyat kebanyakan tidak berhak sama sekali melakukan tafsir sendiri?

    Dalam hal ini memang ada resiko. Jika hanya pemuka agama saja yang berhak, para rakyatnya bakal jadi robot sahaja dan juga belum tentu pemuka agama pasti benar. Nah, jika rakyat boleh menafsir, bisa jadi tafsirannya ngawur (karena ilmunya kurang).

    Bagaimana pendapat teman-teman?
    Pendapat saya sederhana. Dan sebenarnya apa yang anda persoalkan memang sederhana jawabannya. Yang berhak menafsir sebuah teks adalah para ahli di bidangnya (scholars). Ini berlaku pada semua disiplin ilmu. Orang awam juga boleh memberi tafsir, tetapi bagaimanapun tetap merujuk pada pendapat scholars sebagai referensi dan menggunakan metodologi yang ilmiah.

    Bukan "pemuka agama", tapi SCHOLARS (para sarjana). "Scholars" di sini bukan dalam arti sempit sebagai orang yang mengimani agama tersebut saja, tapi dalam pengertian ilmiah (luas). Misalnya: Cristoph Luxenberg ahli filologi itu juga memiliki kapasitas dalam menafsir teks-teks Alquran. Kemudian ada Marmaduke Picthall, dan sejenisnya.

    ---------- Post added at 08:03 AM ---------- Previous post was at 07:57 AM ----------

    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    dalam islam sendiri ilmu tafsir itu sangat rumit, harus menguasai bahasa arab, harus menghafal al-Quran dan al-Hadits dan menguasai ilmunya, mengusai ilmu nasiskh mansukh, sampai2 di universitas madinah itu diajarkan hingga S3 jurusan tafsir.... jadi gak gampang menafsirkan al-Qura.....
    Secara umum, menafsir sebuah teks ada ilmunya. Namanya HERMENEUTIKA. Jadi anda jangan berpikir bahwa ihwal tafsir Alquran dan Hadis cuma monopoli Islamic Scholars saja. Itu umum dan ilmiah kok, dan metode tersebut, yakni Hermeneutika, dipakai untuk menafsir teks apapun. Tak cuma Alquran dan Hadis saja.

    Gak cuma menguasai bahasa dari yang ditafsir, gak cuma menguasai nasakh dan mansukh, tapi juga harus menguasai antropologi manusia di jaman pada saat teks tersebut muncul. Jadi, pekerjaan menafsir memang tidak mudah, benar kata anda. Pekerjaan menafsir teks melibatkan berbagai disiplin ilmu.

    ---------- Post added at 08:08 AM ---------- Previous post was at 08:03 AM ----------

    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Nah, pertanyaan saya menjadi bagaimana jika ternyata "rakyat" telah menguasai ilmu tafsir tapi karena dia tidak menonjolkan diri sebagai ulama atau cendikiawan, maka tidak dikenal orang-orang? Apakah masih "layak" untuk menafsirkan?
    Masih. Asal dia bisa mempresentasikan tafsirnya dengan baik di hadapan khayalak (melalui buku misalnya) dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Serta, jangan lupa, jelas metodologinya.

    Inget loh bung, biasakanlah memandang persoalan kajian agama dari sudut pandang ilmiah, bukan sudut pandang kajian normatif agama tsb saja.

    Kajian ilmiah terhadap agama dimulai dari "desakralisasi" objek yang akan dikaji. Ini beda dengan kajian normatif agama yang dimulai dari iman dan keyakinan bahwa "agama ini benar dan oleh kaena itu sakral".

Page 10 of 12 FirstFirst ... 89101112 LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •