iya memank beda2 tipis... beda dengan syiah yang beda2 tebel
ehehehe, kok dibikin sulit sih..
Kita bikin gambaran gini saja, misalnya di bidang kesehatan :
cuci tangan sebelum makan.
Untuk orang awam, cuci tangan sebelum makan agar bersih dari kuman. Kuman bisa menyebabkan sakit.
Kalau anak kecil nanya ke orang tuanya (yang awam) , dijawab biar bersih dari kuman, biar nggak sakit.
Kalau mau jawaban yang lebih spesifik, bisa tanya ke dokter atau ahli kesehatan lainnya. Berdasarkan keilmuannya di bidang kesehatan dokter akan menerangkan secara lebih rinci.
Jadi pengetahuan orang bertingkat-tingkat, ada yang tidak tau sama sekali, ada yang tau tingkat dasar , menengah, dan lanjutan.
Anak TK yang belum tahu sama sekali nanya ke orang tua (kebetulan tau tingkat dasar) :
"Pa..... kenapa kita sebelum makan harus cuci tangan? " dijawab oleh orang tuanya ; "Agar tanganmu bersih dari kuman nak... karena kuman sumber penyakit" (jawaban tingkat dasar).
Bolehkah orang tua itu memberi jawaban / penafsiran : boleh karena memang jawaban tersebut tidak bertentangan dengan kaidah kesehatan.
Kalau mau lebih jelas lagi bisa bertanya ke tingkat menengah ataupun yang sudah expert , dokter ataupun ahli kesehatan akan menjelaskan secara terperinci mengenai masalah tersebut didukung dengan keilmuannya.
Dalam kasus tersebut kalau yang berhak memberi jawaban / menafsirkan hanya dokter / ahli kesehatan , alangkah repotnya kalau setiap anak kita bertanya masalah kesehatan, matematika, pengetahuan alam, sosial, harus kita bawa ke ahlinya.
Jadi kita semua sudah mempunyai pengetahuan hanya masing -masing berbeda, ada yang tingkat basic, intermediate, atau advance. Kalau yang punya pengetahuan dasar ditanya dan memberikan jawaban sebatas pengetahuannya dan tidak menyalahi kaidah yang ada, bukan suatu masalah.
Meski tlah jauh....
أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)
dari sekian banyak tingkatan ulama, ukuran kebenaran tafsirannya gimana ?
apakah berdasarkan kesepakatan atau gimana ? contohnya kalo banyak ulama yg menafsir ayat A dimana artinya adalah ABCD, maka itu adalah yg paling benar
karena ane ngalamin sendiri, ketika bersebrangan pendapat maka kata2 nya yg keluar adalah : pandangan anda tidak sesuai dengan kesepakatan kebanyakan ulama
jadi agama berdasarkan kesepakatan para ulama gitu???
Barangsawijine purwo marang kawitan, Bandar sejatining wujud. Yuk lakone.. BUTHO CAKIL sido NGEMUTTT PEN.....THUNG!!
@agitho:
sepakat untuk tidak sepakat
itu juga buah kesepakatan lo![]()
mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito
@asum & sedge:
saya bilang jg apa?
dihalaman atas sudah saya sarankan
klo mao fokus bahas tafsir/makna shalat
silakan buka thread baru, mao di DLA atau Agama Islam
daripada eyel-eyelan alias saling ngotot ditopik ini
kembali keLEPTOP
Last edited by pasingsingan; 04-01-2012 at 08:43 AM.
mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito
kembali ke TABLET (sekarang lagi musim tablet yak.. ehehe)
Masalah penafsiran, menurut saya, seperti di atras. Kita tidak mungkin expert di segala hal. Boleh jadi kita menguasai hal A, tapi hal B dan C pengetahuan kita masih tingkat dasar, atau bahkan belum ada pengetahuan sama-sekali. Kewajiban yang belum ada pengetahuan adalah bertanya kepada yang lebih tahu, jangan 'ngecap' seolah-olah sudah tahu. Nah ...... tipe yang seperti ini seperti yang disebutkan oleh hadits Nabi, (intinya) apabila dia menafsirkan tapi tidak ada pengetahuan padanya maka akan masuk neraka. Karena akibat penafsirannya padahal dia tidak ada pengetahuan sama sekali tentangnya, bisa membahayakan penanya.
Untuk yang mempunyai pengetahuan dasar, bisa menafsirkan sepanjang yang dia tau (biasanya garis besar atau yang umum) dan tidak menyalahi kaidah yang berlaku.
Demikian selanjutnya, sampai tingkat paling atas.
Yang perlu diperhatikan, penyampaian ke penanya juga perlu teknik. Kita menyampaikan suatu hal ke anak kita yang masih kecil, apakah perlu kita sampaikan dengan bahasa "ilmiah" berikut segala literatur pendukungnya? Demikian juga seorang Kiai menyampaikan suatu hal kepada ibu-ibu pengajian , tentu tidak sama dengan dosen menyampaikan kepada mahasiswa atau juga Professor menyampaikan kepada mahasiwa S-3 nya.
Bahasa penyampaian boleh berbeda, tapi esensinya tetap sama.
Meski tlah jauh....
yang jadi masalah adalah apakah pendapat anda itu sudah sesuai dengan kaedah penafsiran. apakah anda sudah memilkiki dasar2 ilmu tafsir... nah bisa kita lihat penafsiran anda sebelum2nya semua berdasarkan prasangka saja bukan berdasarkan ilmu beda dengan para ulam yang menghabiskan hidupnya hanya untuk mengkaji al-Quran dan al-Hadits.. padahal sudah dikatakan oleh rasullullah shallohu alaihi wa sallam jgn menafsirkan al-Quran tanpa ilmu anda masih juga ngeyel ya terserah anda.. kita masing akan mempertanggung jawabkan perbuatan kita masing2....dari sekian banyak tingkatan ulama, ukuran kebenaran tafsirannya gimana ?
apakah berdasarkan kesepakatan atau gimana ? contohnya kalo banyak ulama yg menafsir ayat A dimana artinya adalah ABCD, maka itu adalah yg paling benar
karena ane ngalamin sendiri, ketika bersebrangan pendapat maka kata2 nya yg keluar adalah : pandangan anda tidak sesuai dengan kesepakatan kebanyakan ulama
yup kesepakatan para ulama yang tentu saja berdasarkan dalil al-Quran dan al-hadits.. agama bukanlah penafsiran para awam....Originally Posted by Agitho_Ryuki View Post
jadi agama berdasarkan kesepakatan para ulama gitu???
1. umum; am; kebanyakan; biasa; tidak istimewa; 2 n orang kebanyakan; orang biasa (bukan ahli, bukan rohaniwan, bukan tentara);
meng·a·wam·kan v 1 mengumumkan; menyampaikan; (me-nyiarkan dsb) kpd orang banyak; 2 mengutarakan; menganjurkan; mengusulkan;
ke·a·wam·an n perihal awam: ~ bangsa kita di bidang teknologi canggih, kini semakin mengecil dng dapatnya menguasai teknologi kedirgantaraan;
peng·a·wam n penganjur: ia bertindak sbg ~ penanaman padi unggul
Bilamana seseorang itu dikatakan awam dengan agama?
Barangsawijine purwo marang kawitan, Bandar sejatining wujud. Yuk lakone.. BUTHO CAKIL sido NGEMUTTT PEN.....THUNG!!
I like thisOriginally Posted by DHIM4Z
atau dng ungkapan lainnya
"sebatas yng dia mampu/usahakan"
Adalah terlalu naïf bila bertanya kpd yng lebih mengetahui itu
semata-mata dipahami sbg keharusan pergi menemui/menghadap
pemuka agama atau ahli ilmu agama/ahli dibidangnya, hare gene gitu loh
arus informasi semakin mudah diakses/didapatkan, dari manapun sumbernya![]()
mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito
sepakat nih
kembaliin aja ke niat
segala sesuatu berawal dari niat
kalo niat belajar buat ngalahin debat agama lain, supaya agamanya terlihat benar... ya gitu lha
tapi kalo niat semata2 mendekatkan diri kepada Allah, demi mencari kebenaran.... PASTI suatu saat akan sampai
seperti kisahnya bima dalam lakon dewa ruci
tapi cerita ini asalnya dari jawa, mungkin yg belum tau dan minat baca saya kasih tau dari awal kalo didalamnya gak ada bau2 arab ya
![]()
bukan hanya ahli sastra arab.. pan di awal2 sudah dijelaskan syarat2 menjadi ahli tafsir lha nanya lg disini... ckckck
nah karena akses informasi sekarang yang begitu gampang itulah seharusnya kita bjuga bisa dengan gampang mengakses informasi2 dari pihak2 yang memang ahlinya.. kalo masalah agama islam kita tinggal browsing tentang tafsir ibnu katsir rahimahullah atau tafsir jallallain... atau kalo masalah fatwa cari aja fatwa2 lajnah daimah pimpinan syaikh Abdullah bin baz.. bukannya malah cari situs2 aneh yang melakuykan penafsiran seenaknya sesuai hawa nafsunya....Adalah terlalu naïf bila bertanya kpd yng lebih mengetahui itu
semata-mata dipahami sbg keharusan pergi menemui/menghadap
pemuka agama atau ahli ilmu agama/ahli dibidangnya, hare gene gitu loh
arus informasi semakin mudah diakses/didapatkan, dari manapun sumbernya