Originally Posted by
Alip
Melengkapi guru dan penjaga sekolah dengan senjata sama saja dengan mengatakan bahwa Yesus telah meralat kata-katanya; "jika pipi kirimu ditampar, gampar pipi kirinya, tembak dia dengan M16, cabik-cabik ususnya, dan buang mayatnya ke selokan". Anak-anak akan belajar bahwa karena ada predator bersenjata di luar sana, maka kita harus melindungi diri dengan senjata pula. Makin lama ini menjadi lingkaran setan, "jika kita mengasah pedang, maka orang lain akan mulai mengasah pedangnya pula..." Jadilah perlombaan senjata seperti jaman perang dingin, hidup di tengah pembenaran atas kebodohan dan ketakutan.
Mata rantai inilah yang diputus oleh ajaran Yesus. Berani tidak bersenjata diantara golongan bersenjata, berani memaafkan orang yang menyakiti kita, berani mencintai orang yang membenci kita, dan berani terbunuh dalam rangka mencapai cita-cita yang lebih mulia daripada selembar nyawa kita.
Lalu apakah kita perlu menjadi bodoh dan menyerahkan leher kita ke tangan predator yang haus darah?
Jawabannya mungkin tidak sederhana, saya berpendapat tindakan seperti itu bodoh. Tapi sama saja bahwa pertanyaan "apakah kita perlu mempersenjatai diri karena orang di luar bersenjata"? tidak begitu saja bisa dijawab "iya". Harganya adalah racun kekerasan dan ketakutan yang dimasukkan ke dalam hati kita.
Your pick...