Setuju, Eyang. Dalam hal ini bisakah kita ambil kesimpulan bahwa variabel pemicu kekerasan terletak pada pola ajarnya, bukan ajarannya? Konsep non-neraka sekalipun bisa menjadi pemicu kekerasan jika disertai oleh insecurity yang parah.
Salah satu hal yang diajarkan pada saya dalam dunia beladiri; "Fight occurs when my insecurity meet yours". Tanpa insecurity ini, tidak pernah ada alasan untuk berkelahi, bahkan jika kita memiliki perbedaan paling mendasar sekalipun. Kita akan talk through differences dan pada titik di mana perbedaan kita tidak dapat dijembatani, kita cenderung untuk agree to disagree. Pun perbedaan ini tidak menghalangi kita untuk bekerjasama dengan baik di masa yang akan datang.
Saya tidak melihat kasus kekerasan terhadap agama atau aliran agama tertentu sebagai manifestasi dari rasa identitas keagamaan yang terdesak, apalagi kalau yang diserang adalah kaum minoritas. Kenapa pihak mayoritas harus merasa terdesak oleh kehadiran segelintir minoritas? Saya cenderung menyebut ini sebagai perpanjangan dari kasus sosio-ekonomi yang lebih rumit, misalnya kemiskinan, kurangnya wawasan/pendidikan, atau hal-hal lain yang sudah berakar lebih dulu di suatu komunitas.
***
Ini suatu telaah yang kena, Oom Pasing, dan berhubungan dengan yang saya sebut di atas.
Kenapa kita butuh mengkultuskan seseorang yang lebih "agung"? Karena kita tidak memiliki kepercayaan diri dan tidak pernah belajar untuk mengambil tanggung jawab atas pikiran, penafsiran, dan perilaku kita sendiri. Ada suatu rasa security semu ketika kita berlindung dalam sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang penghulu yang kita anggap mumpuni. Sebuah sikap tribalisme. Pendidikan di dunia semacam ini umumnya terdiri atas doktrin-doktrin yang bertujuan untuk menghasilkan individu-individu yang sepaham dengan suatu ajaran, tanpa bertanya atau menganalisa lagi. Parahnya, sikap ini menghasilkan perilaku submisif terhadap ketokohan yang mewakili ajaran tersebut, yang alih-alih menghasilkan pemikir produktif, justru hanya menciptakan pengikut yang manut.
Sayangnya tribalisme ini memang rentan terhadap pengkotak-kotakan identitas dan terbuka kemungkinan terjadinya benturan dengan dunia "di luar" tribe-nya. Apalagi jika doktrinnya sangat rinci dan menolak dialog atau interaksi dengan pemikiran-pemikiran dari luar. Ujaran Arab yang terkenal ini menunjukkan kentalnya budaya tribalisme di sana "Me against my brother, me and my brother against my cousin; me, my brother, and my cousin against the world".
Dalam Agama Islam, sikap tribalisme ini sangat tidak disarankan. Seperti penuturan Oom Pasing berikut ini ...
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)
