Numpang OOT, sapi tidak disembah dalam agama hindu (setidaknya gue liat ini di bali). Mereka menghormati sapi spt kata segde, ya. Tapi sejauh ini gak ada pura atau ritual yg menyembah sapi.
Printable View
Numpang OOT, sapi tidak disembah dalam agama hindu (setidaknya gue liat ini di bali). Mereka menghormati sapi spt kata segde, ya. Tapi sejauh ini gak ada pura atau ritual yg menyembah sapi.
- double post -
Ok, sholat tidak terinci dgn jelas dlm Quran, trus lihat hadits.
Emang ada perintah Quran buat lihat rincian sholat dlm hadits?
Emang ada ayat Quran yg meminta muslim utk melihat hadist sebagai penjelasan detail dari Quran?
Kok Quran jadi bergantung sama hadist, padahal Quran karya Allah swt?
:))
wah bang itulah kaedah tafsir.. dan itulah yang diajarkan oleh nabi Muhammad shallohu alaihi wassallam... seperti yang beliau katakan kepada muadz, isinya intinya beliau bertanya kepada muadz apa yang kau lakukan bila kau menemukan permasalahan, muadz menjawab aku akan mengembalikannya kepada al-Quran dan bila tidak menemukannya didalam al-Quran maka akua akan merujuk kepada al-Hadits, lalu nabi bertanya apabila kau tidak menemukannya pada keduanya? muadz menjawab maka aku akan berijtihad semampuku, jadi posisi hadits itu sebagai penjelas.... memang ada ibadah2 yang tidak dijelaskan secara detail di al-Quran dan shalat adalah salah satunya namun ada juga yang dijelaskan sangat rinci seperti masalh waris dan nikah di al-Quran sudah sangat jelas dan lengkap..
Lha yg ente kutip itu kan hadits. Jadi lihat hadits dulu, kemudian lihat Quran, trus kembali ke hadits, gitu?
Orang jahil dulu juga percaya Muhammad adalah rasulullah dari mendengarkan Quran, bukan hadits.
Kemudian yg ane tanya adakah perintah Quran utk mengambil hadits sbg penjabaran detil dari Quran?
:))
ada kok.................................. :ngopi:Quote:
Lha yg ente kutip itu kan hadits. Jadi lihat hadits dulu, kemudian lihat Quran, trus kembali ke hadits, gitu?
Orang jahil dulu juga percaya Muhammad adalah rasulullah dari mendengarkan Quran, bukan hadits.
Kemudian yg ane tanya adakah perintah Quran utk mengambil hadits sbg penjabaran detil dari Quran?
---------- Post added at 12:01 PM ---------- Previous post was at 11:57 AM ----------
"Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah". [Al-Hasyr : 7].
"Artinya : Barangsiapa yang menta'ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah". [An-Nisaa : 80]
"Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (As-Sunnah)". [An-Nisa' : 59]
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul".(QS.An-Nisa:59)
"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah".(QS.An-Nisa:80)
perkataan rasullullah bukan hadits ya????
perdefinisi aja dulu pur, misal
sholat dlm pengertian yng bgmn dulu maksudnya
hadist dlm pengertian yng spt apa.
dua hal tsb klo mao dibikin thread tersendiri
tentu akan seru juga. (silakan klo ada yng mao inisiasi)
oke
kembali keleptop
yakni : seputar tafsir/penafsiran
"orang spt apa yng berhak/memiliki otoritas menafsirkan makna kitab suci?"
kapan saya suruh nafsirin?? ayat2 diatas sudah jelas maksud dan tujuannya...
oke ne penafsirannya... “Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah)”. [An-Nisa' : 59]
Maksud “mengembalikan kepada Allah” dalam ayat ini adalah mengembalikan kepada kitab-Nya yaitu Al-Qur’an, sedangkan mengembalikan kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau telah wafat “adalah kembali kepada Sunnah beliau”. Selanjutnya Al-Baihaqi menyebutkan suatu hadits riwayat Abu Daud dari Abu Rafi’i, ia berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘laihi wa sallam.
---------- Post added at 09:10 PM ---------- Previous post was at 09:08 PM ----------
“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. [Al-Hasyr : 7].
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat wanita yang mentato tubuhnya, wanita yang meminta di tato tubuhnya, wanita yang mencabut bulu (alis dan bulu mata) dan wanita yang membuat cela diantara giginya untuk memperindah (dirinya) dengan merubah bentuk ciptaan Allah”, kemudian ucapan Ibnu Mas’ud ini sampai kepada seorang wanita yang dikenal dengan panggilan Ummu Yaq’ub, maka Ummu Yaq’ub datang kepada Ibnu Mas’ud dan berkata : “Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa engkau mengucapkan begin dan begitu”, maka Ibnu Mas’ud berkata : “Apa tidak boleh saya melaknat orang yang dilaknat Rasulullah, dan hal itu telah disebutkan dalam Kitabullah”, lalu Ummu Yaq’ub berkata : “Sesungguhnya saya telah membaca seluruh Al-Qur’an dan saya tidak mendapatkan tentang hal itu”, Ibnu Mas’ud berkata : “Jika engkau telah membaca Al-Qur’an maka engkau telah mendapatkan tentang itu, apakah engkau membaca firman Allah.
“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkan”. [Al-Hasyr : 7]
Wanita itu menjawab : “Ya”, Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hal itu”.
---------- Post added at 09:11 PM ---------- Previous post was at 09:10 PM ----------
“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. [Al-Hasyr : 7].
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat wanita yang mentato tubuhnya, wanita yang meminta di tato tubuhnya, wanita yang mencabut bulu (alis dan bulu mata) dan wanita yang membuat cela diantara giginya untuk memperindah (dirinya) dengan merubah bentuk ciptaan Allah”, kemudian ucapan Ibnu Mas’ud ini sampai kepada seorang wanita yang dikenal dengan panggilan Ummu Yaq’ub, maka Ummu Yaq’ub datang kepada Ibnu Mas’ud dan berkata : “Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa engkau mengucapkan begin dan begitu”, maka Ibnu Mas’ud berkata : “Apa tidak boleh saya melaknat orang yang dilaknat Rasulullah, dan hal itu telah disebutkan dalam Kitabullah”, lalu Ummu Yaq’ub berkata : “Sesungguhnya saya telah membaca seluruh Al-Qur’an dan saya tidak mendapatkan tentang hal itu”, Ibnu Mas’ud berkata : “Jika engkau telah membaca Al-Qur’an maka engkau telah mendapatkan tentang itu, apakah engkau membaca firman Allah.
“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkan”. [Al-Hasyr : 7]
Wanita itu menjawab : “Ya”, Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hal itu”.
---------- Post added at 09:12 PM ---------- Previous post was at 09:11 PM ----------
“Artinya : Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah”. [An-Nisaa : 80]
Imam Syafi’i berkata : ” Dalam ayat ini Allah mengajarkan kepada mereka bahwa membai’at Rasulullah berarti sama dengan membai’at Allah dan taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah taat kepada Allah, maka Allah berfirman.
Anda gak baca terjemahan Yusuf Ali di atas ?
Atau anda gak percaya ? BUKA KAMUS DONG, emangnya arti kata tsb bisa anda peroleh dari alam mimpi ::hihi::Quote:
Originally Posted by Terjemahan Yusuf Ali
Ini arti shalat
http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphot...31555241_n.jpg
Ini arti do'a
http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphot...01038248_n.jpg
Keduanya saya kutip dari Kamus Al-Munawwir.
Jadi, sesuai bahasa : aqimish shalat, jika diterjemahkan seluruhnya menjadi "Dirikanlah do'a (permintaan/permohonan)"
kafir... kafir dah lo, dan saya nyatakan berlepas diri jika sesudah ini ada yang sesat ::ngakak2::
di tulisan asli yang arab, farudduuhu illallahi wa rosul (kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul)
terus kenapa diterjemahannya dikasih tambahan kembalikanlahia kepada Allah (Al-Quran) ??
kenapa dikasih tambahan Al-Quran ? Bukankah kalau dikembalikan kepada Allah maknanya lebih luas ? Karena Allah gak sebatas cuma Qur'an aja.
sekalian ya, yg dikembalikan kepada Rasul kenapa ditambahin jadi as-sunnah ? emangnya Rasul cuma satu ??
::ngakak2:: ::ngakak2:: ::ngakak2::
anda bicara sholat secara bahasa (teori)
saya bicara sholat secara hakekat (praktek)
jelas aja kaga nyambung, seperti kata pepatah : mensana incorpore sano
gue bicara ke sana elu jawab ke sono
dan pembahasan ini akan makin ke sono ketika anda mulai sebut2 kafir, dijamin arti kafir bagi kita juga bakal beda
gak apa2, namanya aja forum dialog lintas agama dan keyakinan
ane yakin karena udah ngejalanin, ente yakin karena kitab
---------- Post added at 08:24 AM ---------- Previous post was at 08:21 AM ----------
tergantung kapasitasnya mas
kalo orang yang sudah ketemu Tuhan dan Rasul, buat apa nanya ke buku ?
Hakikat pala lo, apoa sih yang lo tau soal hakikat ? secata bahasa hakikat itu secara sebenarnya. Emang lo tau cara sholat dari siape ? dari tuntunan tuhan ?
Yang jelas lo niru-niru atau dikasih tau guru lo bahwa sholat itu begini dan begitu. Coba lo berpikir sebagai non Islam yang belajar otodidak, dan baca kitab suci agama Islam terus nemu kalimat tsb. Apa yang terpikir dalam otak lo ?
Oooohhh .... sholat itu doa, Dan kalo terjemahan depan Dirikanlah sholat diterjemahkan seluruhnya jadi Diirkanlah do'a. Saya yakin, besok lo jadi Qur'aniyyin (inkar sunnah) karena menyakini bahwa shlat tuh cuman do'a. Ngapain jungkir balik kyk orang sarap ? ::ngakak2::::ngakak2::
btw, jadi sudah 2 terjawan kenapa tafsir musti dilakukan oleh ulama BUKAN AWAM
1. penguasaan bahasa
2. peguasaan ilmu hadits
nanti yang lainnya akan terbukti seperti sebab turunnya ayat, nasikh-mansukh, dll.
:)
---------- Post added at 08:31 AM ---------- Previous post was at 08:29 AM ----------
::ngakak2:: ::ngakak2:: ::ngakak2::
Gua emang dah tau, lo mah aliran tarikat BUKAN ISLAM.
Lo gak berhukum dengan al-Qur'an dan hadits selaku 2 sumber hukum pokok agama Islam, tapi lo bertumpu pada mimpi .... ::ngakak2::::ngakak2::::ngakak2::
Orang kafir juga banyak yang bicara halus, apakah bakalan dapat tiket surga sesuai keyakinan Islam ? KAGAK
Pembeda antara keislaman dan kekafiran adlaah meninggalkan shalat. Lo (misal) shalat tidak sesuai tuntutan sang mursalin LO KAFIR ... simple dan orang kafir KEKAL di Neraka.
Back to topik, jadi itulah gunanya bertanya sama ulama untuk memahami tafsir al-Qur'an.
@Asum:
Gini, semisal nih. Ada orang yang nanya gimana caranya sholat ke Ulama, dan ada orang seperti Sedge lah. Nah, ternyata orang yang nanya ke ulama itu rajin melakukan gerak sholat sesuai petunjuk ulama tersebut tapi rajin juga korupsi di kantornya. Sedangkan Sedge mungkn melakukan sholat yang gerakanya tidak sesuai petunjuk si ulama, tapi tidak pernah korupsi.
Nah, jadinya siapa kira-kira masuk surga tuh?
Rasanya ya nggak sesimple nanya ulama berarti dah pasti benar toh. Itulah yang saya katakan pas diskusi dengan Pasingsingan, bahwa dalam membaca terjemahan dari para ahli, kita jga hendaknya menguasai faktor esensi itu.
hussshh.. kan mas sedge bisa ketemu ama TUhan jadi dia yakin2 aja..Quote:
Emangnya lo sekarang kalo mau jawab soal agama lo komunikasi langsung ame Tuhan dan Rasul-Nya ??
Udah pastilah dibalikin jawabannya ke Al-Qur'an selaku firman Allah SWT dan Al-Hadits selaku sunnah Utusan Tuhan
dalam islam masalah ibadah itu sudah diatur sedemikian rupa mas.. seperti shalat misalanya shalat subuh itu dua rakaat dengan satu salam terus ada yang shalat subuh 3 rakaat dengan satu salam ya jelas dia salah.. dan masalah korupsinya itu masalah lain itu berarti dia cuman mengerjakan shalat tidak mendirikan shalat.... karena seharusnya shalat itu menghindari manusia dari perbuatan keji dan mungkar... tapi apabila shalatnya si koruptor itu sudah sesuai rukun dan hukumnya maka shalatnya diterima, namun masalah dapat pahala apa nggak itu kembali ke Allah azza wa jalla.. sedangkan shalatnya orang yang tidak sesuai tuntunan nabi jelas tidak diterima.. karena nabi Muhammad shallohu alaihi wasallam bersabda " shalatlah sebagaimana aku shalat"Quote:
Gini, semisal nih. Ada orang yang nanya gimana caranya sholat ke Ulama, dan ada orang seperti Sedge lah. Nah, ternyata orang yang nanya ke ulama itu rajin melakukan gerak sholat sesuai petunjuk ulama tersebut tapi rajin juga korupsi di kantornya. Sedangkan Sedge mungkn melakukan sholat yang gerakanya tidak sesuai petunjuk si ulama, tapi tidak pernah korupsi.
Nah, jadinya siapa kira-kira masuk surga tuh?
Dia dapat pahala karena shalatnya, dan berdosa karena perbuatan korupsinya. MAsing2 amal mendapat ganjarannya, namun sholat, dapat mengapus dosa, sedangkan amal kebaikan, tidak dapat menggantikan amala sholat.
Antum pahama yang saya maksud ?
Yang masuk surga itu yang bersyahadat alias tidak kafir. Itu sudah pasti. terlepas apakah dia berbuat maksiat atau tidak.Quote:
Originally Posted by danalingga
esensi apa ?Quote:
Originally Posted by danalingga
Yang disebutkan hajime, gogon, dan sebagian mbah pasing tidak saya sangkal bukan. Dan saya mencoba mengurutkan mulai dari tahapan awal yaitu "bahasa".
Boleh saja anda pakai terjemahanan, tapi belum tentu terjemahan merepresentasikan makna sebenarnya dari bhs asal. manaknya saya pilihkan contoh ayat yang berisi firman : aqimish shalat ... (dirikanlah shalat)
:)
Nah, itu, soal makna mendirikan shalat itulah yang telah berbusa-busa diterangkan teman teman sebelumnya (kalo tidak salah Alip dan Sedgejenar), tapi Asum terus "membantah" dengan menggunakan arti bahasa shalat inilah, itulah.
Oh iya, mengenai "shalatlah seperti aku shalat" bisa dibahas lagi panjang lebar, toh kita sama-sama (dan banyak ulama juga) tidak langsung menyaksikan bagaimana Nabi shalat, dan jika menyaksikanpun, hanya gerakan (phisiknya) saja, tapi kondisi batinnnya tidak bukan? Tapi itu persoalan nantilah.
Nah, sekarang pertanyaan saya belum dijawab. Kira-kira ibadah dari kedua orang itu, Allah menerima siapa masuk surga? Itu shalat diterima berarti si korupsi masuk surga?
Ralat, Asum sudah menjawab diatas soal siapa yang masuk surga. Tapi kalo sampean punya pendapat lain, ya nggak apa apa dikemukakan saja.
gak masalah gak masuk surga sesuai keyakinan islam, bisa jadi akan masuk surga sesuai keyakinan orang2 yg bersikap halus
karena surga itu milik Allah, bukan milik agama tertentu aja
kafir itu artinya terhalang, tertutup
tertutup dari apa ? dari cahaya Tuhan
apanya yang tertutup cahaya Tuhan ? hatinya
apa yang menutupi hati dari cahaya Tuhan ? ego
Apa sebagian ciri2 ego ? emosional
Ya, saya setuju sama anda, orang kafir emang akan kekal di neraka
::hihi::
hmm ....
ini udah melebar n mulai gak fokus neh
kembali keleptop
"orang spt apa yng berhak/memiliki otoritas menafsirkan makna kitab suci?"
sekedar mengingatkanQuote:
Originally Posted by Asum
anda tau kan etika/adab orang berdiskusi?
saya yakin anda paham maksud saya.
note:
bila ingin fokus ke pengertian/pemahaman ttg "shalat"
silakan membuat bahasan/thread tersendiri.
para sahabat banyak yang menyaksikan gerakan sahalat dan dalam hadits yang sahahih banyak kok tertera panduan sshalat yang dimulai dari takbiratul ihram samapai salam.. masalah kondisi bathin itu masalah khusuk.. dan memang khususk itu susah bagi kita2 yang ilmunya cetek, masih aja dalam shalat mikirin yang lain2...Quote:
Oh iya, mengenai "shalatlah seperti aku shalat" bisa dibahas lagi panjang lebar, toh kita sama-sama (dan banyak ulama juga) tidak langsung menyaksikan bagaimana Nabi shalat, dan jika menyaksikanpun, hanya gerakan (phisiknya) saja, tapi kondisi batinnnya tidak bukan? Tapi itu persoalan nantilah.
hmmm bukan milik agama tertentu?? jadi buat apa LLah berfirman tetnag kesempurnaan agama islam dalam ayat terakhir yang turun??? wah ::doh::..Quote:
gak masalah gak masuk surga sesuai keyakinan islam, bisa jadi akan masuk surga sesuai keyakinan orang2 yg bersikap halus
karena surga itu milik Allah, bukan milik agama tertentu aja
---------- Post added at 09:12 AM ---------- Previous post was at 09:12 AM ----------
hmmm bukan milik agama tertentu?? jadi buat apa ALLah azza wa jalla berfirman tetnag kesempurnaan agama islam dalam ayat terakhir yang turun??? wah ..
Biar balik ke laptop, ini rangkuman saya:
Yang berhak menafsir adalah orang yang paham "esensi". Soal faktor bahasa, bisa memanfaatkan orang yang ngerti bahasa dan esensi. Nah, yang kita-kita ini tinggal memanfaatkannya. Tapi yang utama menurutku, adalah esensi bukan bahasa.
Note: menafsir disini dalam arti mengartikan ini esensinya apa sih? maksudnya apa sih? tujuannya apa sih? Jadi saya bedakan menafsir dengan menerjemahkan ya.
Ok, lanjut.
---------- Post added at 09:16 AM ---------- Previous post was at 09:14 AM ----------
Saya tertarik juga bahas soal gerakan shalat ini secara dulu saya sering membaca soal debat antara yang katanya memakai hadist dan tidak memakai hadist. Tapi harusnya di thread sendiri. Mau membuatkan threadnya?
Itu cuma 1 contoh, dimulai dari pemahaman secara bahasa, kemudian nanti akan merujuk kepada penjelasan Rasulullah saw sebagaimana yang tercantum dalam hadits.
Jadi step awal tafsir :
1. ngerti bahasa kitab yang mau ditafsirkan
2. mengambil rujukan lain yang berkaitan erat dengan kitab
kalo bh kerennya Alip mah sumber primer dan sekunder gituh (walau gak jelas penempatan maksudnya)
silahkan saja dibuat nanti saya sampaikan hadits2nya dari buku sifat shlat nabi karangan Nhasirudin al-Albani rahimahullah jilid 1 sampai 2. jilid 3 nya belon beli gw...Quote:
Saya tertarik juga bahas soal gerakan shalat ini secara dulu saya sering membaca soal debat antara yang katanya memakai hadist dan tidak memakai hadist. Tapi harusnya di thread sendiri. Mau membuatkan threadnya?
"Esensi" yang anda maksud ada sih ? ::ungg::
Terjemahan mana yang anda pilih untuk firman Allah SWT "aqimish shalat" ? Apakah terjemahan Depag RI atau Yusuf Ali ? atau anda punya rujukan terjemahan lain ?Quote:
Soal faktor bahasa, bisa memanfaatkan orang yang ngerti bahasa dan esensi. Nah, yang kita-kita ini tinggal memanfaatkannya. Tapi yang utama menurutku, adalah esensi bukan bahasa.
...
Terjemahan mana yang mudah anda pahami maksud (esensi ?) dari firman Allah SWT di atas ?
itu saja dulu pertanyaan saya.
@Asum:
yng dimaksud dana itu kriteria orang yng boleh menafsirkan
bkn ente condong ketafsir mana, dana condong ketafsir mana
dlm suatu persolan. :-?
ya mungkin akar pemahaman kita udah beda
mau diterusin kemana juga bakal mensana incorpore sano
ente ngaji quran berupa buku
ane ngaji quran yang gak cuma buku
mengenai quran yang bukan buku, quran yang ada di dalam dada
ane udah ketemu Manusia yang sering didatangin ulama dan habib
sampe suatu waktu ada habib datang dr pekalongan buat silaturahmi
selese silaturahim, habib ini bilang gini "Guru kamu itu adalah quran yang hidup, bisa dibilang sebagai abuya"
itu sebabnya saya meyakini quran itu gak sekedar buku aja
karena kalo cuma sekedarbuku, rentan di perkosa dan politisasi
apalagi sama orang yang masih emosional dan penuh ego
mudah2 an kita semua dijauhkan dari sifat2 semacam itu
amin
Maksudnya ?
saya tidak paham maksud "esensi" yang dimaksud dan penjelasan mbah di atas. Jadi tidak ada salahnya saya tanya ulang supaya jelas dan tidak salah menangkap maksud pernyataan tsb.
---------- Post added at 09:52 AM ---------- Previous post was at 09:50 AM ----------
emangnya guru lo atau habib lo gak suka memperkosa buku dimaksud ? ::hihi::::hihi::
Yg di dalam kurung itu (Al-Quran dan As-Sunnah) hasil tafsir juga atau memang terpapar begitu di dalam Quran?
Seandainya benar tafsirnya begitu, maka posisi Sunnah sudah sepenting Quran, mengingat itu (An-Nisa:59) perkataan tuhan. Tidak mungkin Nabi saw hanya menyuruh menghafal Quran, tapi Sunnah tidak, padahal Allah menyuruh kembali ke Quran dan Sunnah.
Sesuatu yg sulit diterima akal sehat jika Allah swt menyuruh kembali ke Quran dan Sunnah, sementara utusannya (Muhammad saw) hanya mengurusi Quran (mencatat dan menghafal).
Juga dgn akal sehat (entah buat orang beriman mungkin akal jahil :)) ), perbedaan pendapat umumnya terjadi karena masalah yg makin spesifik, makin sempit, dan makin detil. Menjadi sangat logis jika Allah swt menyuruh utk kembali ke pokok-pokok ajaranNya yg lebih umum, yaitu Quran, utk menyelesaikan masalah tsb. Jadi, perintah kembali kepada Allah dan Rasul lebih mengenai sasaran jika ditafsirkan sbg kembali kepada Quran semata sebagai referensi umum umat Islam.
Mungkin umat Islam perlu berimajinasi sedikit. Someday in the future, umat Islam sudah membuat koloni di sebuah planet X constelasi Y sekian ribu tahun cahaya dari Bumi, lingkungan yg sama sekali asing dibandingkan Bumi. Bagaimana menjalankan syariat Islam di sana? Mau tidak mau, you kembali ke pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Quran, karena pokok-pokok tsb bersifat umum, punya daya adaptasi yg tinggi utk segala jenis lingkungan yg dihadapi.
Atau umat Islam tidak kesampaian berimajinasi seperti itu karena mungkin berpikiran sudah keburu kiamat dan takut neraka? ::hihi::
@Asum:
klo itu yng ente mau
mustinya cukup dng
"apa yng dimaksud esensi dlm penafsiran menurut anda titik"
bukan spt misal:
apa makna "shalat" menurut penafsiran/pemahaman anda?
itu mah udah specific case banget
makanya saya sarankan buka thread baru aja
klo permasalahanya sudah menjurus semacam itu #-o
jadi menurut bung sedge Quran itu makhluk atau sekedar kalam illahi???Quote:
mengenai quran yang bukan buku, quran yang ada di dalam dada
ane udah ketemu Manusia yang sering didatangin ulama dan habib
sampe suatu waktu ada habib datang dr pekalongan buat silaturahmi
selese silaturahim, habib ini bilang gini "Guru kamu itu adalah quran yang hidup, bisa dibilang sebagai abuya"
quran itu bukan mahluk, tapi ada didalam mahluk
kalam ilahi itu ada dalam mahluk, ada juga di dalam quran
---------- Post added at 10:09 AM ---------- Previous post was at 10:07 AM ----------
tolong moderator
dijadikan catatan nih
hehehehhe,,,
underline text quote by pasing
untuk menghindarkan kesalah pahaman