Page 4 of 12 FirstFirst ... 23456 ... LastLast
Results 61 to 80 of 235

Thread: Apakah Tafsir Itu Harus dilakukan Pemuka Agama?

  1. #61
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Btw, saya punya pemikiran begini. Bahwa kitab suci itu diturunkan untuk menjawab kebutuhan orang-per-orang yang berbeda-beda. Jadi tafsir untuk seseorang belum tentu applicable buat orang lain. Dalam artian seharusnya tafsir itu nggak saklek harus satu tafsir, bisa banyak tafsir sesuai kondisi masing-masing orang yang unik.
    kembali ke type manusianya
    apa type yg terima mateng aja, udah gede terus baca tafsir terus dia terima sepenuh hati

    atau yang type mencari2 dan bertanya2 selalu (freethinker)
    tapi kalopun ada yang type gini banyak yg angus/habis karena oleh yg type pertama diatas ditakut2 in neraka

    walopun demikian, baik type 1 atau 2 kembali lagi diliat dr kualitasnya, kesehariannya
    siapapun diantara 2 type itu yang bisa mengendalikan egonya, ya itu yang saya anggap orang yang benar

  2. #62
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    Berarti masyarakan yang bukan "ulama", tapi punya ilmu-nya berhak menafsir toh? dan sebaliknya walau "ulama": tapi tidak punya ilmunya maka tidak berhak menafsir.

    Btw, arti ulama menurutmu apa sih?
    ulama itu adalah orang yang memiliki ilmu agama yang cukup dan dipercaya oleh masyarakatnya... dan tidak semua ulama juga lho bisa mentafsirkan al-Quran, ustadz ustadz itu pun mereka mengambil tafsir dari para ahli tafsir dan tidak melakukan tafsir sendiri... pakar tafsir itu amat sedikit broo.. di Indonesia dulu yang terkenal itu Buya Hamka rahimahullah... dan dia cuman seorang lo ahli tafsir di indonesia pada zamannya...

    ---------- Post added at 11:47 AM ---------- Previous post was at 11:43 AM ----------

    misal pertanyaan ini, diajukan seorang anak kelas satu SD kepada bapaknya
    lalu bapak menjawab, "maksudnya kerjain sholat nak yang lima waktu"
    dan bapak ini ngaji aja gak bisa, baca tulis gak bisa

    bapak ini berhak gak nafsirin ?
    ya jelas gak boleh lah,, wong ngaji aja gak bisa jadi gak ada jaminan dia mengerti ilmu agama, apa jadinya kalo tafsirnya salah, dan akhirnya anak2nya ikutan salah? khan dia akan bertanggung jawab besar.. terus ntar anaknya juga menyampaikan tafsirannya yang salam kepada teman2nya dan temen2nya ngikutin nah makin jauh klhan jadi kesalahannya...

    ---------- Post added at 11:49 AM ---------- Previous post was at 11:47 AM ----------

    cmn sekedar mengingatkan kembali..

    Juga sabda Rasulullah saw:
    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ


    Artinya:
    “ Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa menafsirkan Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka siapkanlah tempatnya di neraka”.

  3. #63
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by Asum View Post
    Rasulullah saw bersabda terkait orang bodoh yang berlaku seolah-olah mengetahui permasalahan sbb :

    إن الله لا يقبض العلم انيزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتي إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رُءُوسا جهالا فسئِلُوا فأفتوا بغير علم فضلوا و أضلوا
    "Sesungguhnya Allah tidak mencabut suatu ilmu secara sekaligus setelah dianugrahkan kepadamu. Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mencabutnya dari manusia dengan mewafatkan para ulama beserta ilmunya. Maka yang tersisa hanyalah orang-orang jahil. Apabila mereka dimintai fatwa maka mereka memberi fatwa menurut pendapat mereka sendiri. Maka mereka sesat dan menyesatkan" " (HR. Bukhari)
    Jika para ulama binasa, maka yg tersisa orang2 jahil? Trus apa gunanya Allah swt memberikan otak pada manusia?

    Katakanlah semua ulama (baca: mufassirin) binasa karena bencana alam. Yg tersisa hanya sebuah teks Quran yg sudah kuning dan dekil. Apakah orang-orang jahil yg tersisa (baca: bukan mufassirin) tidak bisa menggunakan otaknya utk memahami teks Quran tsb?

    Peradaban Mesir kuno yg sudah usai pun, tetapi meninggalkan teks2 hieroglif, itu masih bisa dibaca oleh orang jaman sekarang, meski gak belajar dari para mufassirin (baca: ulama) Mesir kuno. Karena apa? Karena mereka menggunakan otaknya.

    Hare gene masih ada aja orang yg mengecilkan peran otak.

  4. #64
    Quote Originally Posted by gogon
    ayat Al-Qur'an sendiri ada bbrp yang sudah expired karena sudah diganti dengan ayat yg lebih baru. Namun ayat yg expired itu sebagian masih dicantumkan agar umat tahu proses dan sejarahnya. Kalo ga salah namanya 'manshuh'. CmiiW.
    Nah kalo yg manshuh itu masih ditafsirkan oleh orang awam, gimana tuh, bahaya dong.
    Salah satu contoh ayat yg sdh manshuh tsb kurang lebih artinya sbb (terjemahan bebas): '... Dan janganlah kamu memakan riba yg banyak'.
    Nah kalo ada orang awam yg kebetulan baca sepotong itu, gimana menafsirkannya? Bisa jadi dia narik kesimpulan: wah kalo riba dikit boleh donk
    nah yg manshuh ini termasuk bekal dalam ilmu tafsir. TOOLS kalo mbah pasing bilang
    Pemahaman adanya kaidah nasikh-mansukh sendiri adalah buah dari penafsiran
    faktanya, tidak semua ahli tafsir sependapat dng kaidah ini. Argumen ahli tafsir yng
    menafikan hal tsb adalah, Tuhan punya sifat sempurna. Merevisi atau menganulir
    firman-Nya, apapun alasannya adalah kontradiktif dng sifat-Nya.

    Tentang "riba"
    Rasanya dulu pernah seru dibahas dng purba segala …. tapi dimana yak?
    ohya, klo gak salah jaman masih diwarung lama (AK).

    Pengertian/penafsiran "riba" itu sendiri yng musti komprehensif
    dalam arti, konteksnya spt apa serta constrain-nya bgmn?.
    gamblangnya gini, memberikan pinjaman kpd pihak lain itu motifnya apa?
    murni memberikan bantuan untuk saling memperoleh manfaat atau ada niatan lain
    spt menagguk keuntungan se-besar2nya misalnya?

    Jika bantuan itu bertujuan untuk pemberdayaan, maka akad/perjanjian besarnya biaya
    pengembalian harus dibuat berdasarkan kesepakatan yng saling menguntungkan
    tidak ada pihak yng merasa terpaksa/dipaksa, dan masing2 memperoleh manfaat.

    Ada kaum lemah butuh modal untuk usaha kecil2an
    lalu ada pihak yng bersedia membantu meminjaminya dng syarat bagi hasil sesuai kesepakatan
    terjadilah akad/perjanjian pinjam-meminjam, ini sah adanya dan bukan riba!.
    masalahnya, seberapa besar porsi pembagian keuntungan itu wajarnya?
    misal: tingkat suku bunga umumnya yng berlaku adalah 1,5%/bulan atau 12%/tahun
    Jika akad pembagian keuntungan dapat disepakati dibawah itu, tentu lebih baik bagi peminjam.


    prinsipnya adalah:
    Pemilik modal harus diberi bagian keuntungan, jika motif peminjaman adlh untuk usaha
    klo tdk diberi bagian keuntungan, brarti peminjam mendzalimi pemilik modal
    sebab, klo modalnya itu dipakai usaha sendiri, tentu akan mendatangkan keuntungan juga.

    Jika peminjam dituntut untuk memberikan bagian keuntungan diatas batasan yang wajar
    kpd pemilik modal, brarti pemilik modal mendzalimi peminjam.
    krn, disamping peminjam sudah menanggung resiko usaha lebih besar , ditambah harus
    memberikan bagian keuntungan melebihi batas kemampuannya (batas kewajaran).

    Soal riba klo mao dibahas secara asyik-masyuk lagi, sebaeknya dibuatkan thread tersendiri.

    Btw, kalo mau balik ke 'hati yang lurus' untuk menafsirkan ayat, apakah 'hati yang lurus' itu mau 'ikhlas' mencari ustadz yg lebih punya pengetahuan dalam ilmu tafsir? Ataukah terlalu tinggi hatinya untuk mendengar ustadz yg juga sesama manusia, yg tidak lebih tinggi derajatnya dari si orang awam berhati lurus itu?
    Memanfaatkan (baca mengambil hikmah) dari buah penafsiran ahli (pihak berkompeten)
    memang harus, terutama bila kita merasa belom memiliki kemampuan untuk menafsirkan sendiri
    suatu perkara. Tapi berkeras hati untuk menjadikan salah satu karya penafsiran sbg rujukan yng
    dianggap paling benar sendiri dng tdk metolelir kemungkinan kebenaran jg dimiliki pihak lain
    ini jg sikap yng konyol, atau dlm istilahnya si purba dinamakan "taklid buta" bin fanatisme berlebihan.

    faktanya, para ahli tafsir yng jujur jg mengakui bhw
    - Subyektivitas sbg pribadi adlh suatu hal yng jg sulit dihindarkan
    - Peradaban dan ilmu pengetahuan yng terus berkembang
    - Kebenaran versi manusia bersifat relative
    Last edited by pasingsingan; 25-12-2011 at 02:04 PM.
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  5. #65
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    ya jelas gak boleh lah,, wong ngaji aja gak bisa jadi gak ada jaminan dia mengerti ilmu agama, apa jadinya kalo tafsirnya salah, dan akhirnya anak2nya ikutan salah? khan dia akan bertanggung jawab besar.. terus ntar anaknya juga menyampaikan tafsirannya yang salam kepada teman2nya dan temen2nya ngikutin nah makin jauh klhan jadi kesalahannya...[COLOR="Silver"]
    terus kalo ada anak SD nanya hal gitu, bapaknya kudu jawab gimana ?

    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    cmn sekedar mengingatkan kembali..

    Juga sabda Rasulullah saw:
    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ


    Artinya:
    “ Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa menafsirkan Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka siapkanlah tempatnya di neraka”.
    iye gan, tempat udah disiapin
    dibilang quran sebenarnya bukan bahasa arab, malah ngeyel
    biarpun ente pake dalil quran, tapi karena ente gak paham dalil yg dijadiin hujjah jadinye gitu deh

    ---------- Post added at 11:33 PM ---------- Previous post was at 11:23 PM ----------

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Jika para ulama binasa, maka yg tersisa orang2 jahil? Trus apa gunanya Allah swt memberikan otak pada manusia?

    Katakanlah semua ulama (baca: mufassirin) binasa karena bencana alam. Yg tersisa hanya sebuah teks Quran yg sudah kuning dan dekil. Apakah orang-orang jahil yg tersisa (baca: bukan mufassirin) tidak bisa menggunakan otaknya utk memahami teks Quran tsb?

    Peradaban Mesir kuno yg sudah usai pun, tetapi meninggalkan teks2 hieroglif, itu masih bisa dibaca oleh orang jaman sekarang, meski gak belajar dari para mufassirin (baca: ulama) Mesir kuno. Karena apa? Karena mereka menggunakan otaknya.

    Hare gene masih ada aja orang yg mengecilkan peran otak.
    makanya di kitabnya banyak dikasih peringatan
    afala tatafakarun, afala ta'qilun (apakah kamu tidak berpikir? apakah kamu tidak menggunakan akalmu?)

    gimana mau digunakan akalnya, baru nanya yg aneh2, udah disodorin dalil neraka, dalil siksa
    keburu pada takut duluan.... padahal yang nakut2 in neraka juga blm pernah ke neraka, baru KATANYA aja

  6. #66
    Nah, sekarang sepertinya sudah jelas. Bahwa menafsir itu memang perlu ilmu,
    tapi sepertinya kita masing-masing mengartikan ilmu itu secara berbeda.

    Jadi sepertinya masih lanjut nih diskusinya.

  7. #67
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    gimana mau digunakan akalnya, baru nanya yg aneh2, udah disodorin dalil neraka, dalil siksa
    keburu pada takut duluan.... padahal yang nakut2 in neraka juga blm pernah ke neraka, baru KATANYA aja
    anda bukan bertanya tapi anda membuat opini,, setelah saya menyampaikan dalil tentang opini anda anda tetap teguh dengan pendapat anda walaupun bersebrangan dengan fatwa para ulama, silahkan kalo anda mau tetap denagn pendapat anda kita bertanggung jawab masing2 atas tindakan kita...

  8. #68
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    dalil yang loe ajukan, masih penuh penafsiran, bu
    kan dalil yang qath'i bro

  9. #69
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Nah, sekarang sepertinya sudah jelas. Bahwa menafsir itu memang perlu ilmu,
    tapi sepertinya kita masing-masing mengartikan ilmu itu secara berbeda.

    Jadi sepertinya masih lanjut nih diskusinya.
    bentul
    minimal mengerti bahasa kitab yang akan ditafsirkan
    kecuali memanfaatkan karya penafsir, tentu saja tdk perlu
    cape2 mempelajari bhs kitab dimaksud. Itu baru dari segi bahasa
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  10. #70
    gogon's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    earth
    Posts
    4,845
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Nah, sekarang sepertinya sudah jelas. Bahwa menafsir itu memang perlu ilmu,
    tapi sepertinya kita masing-masing mengartikan ilmu itu secara berbeda.

    Jadi sepertinya masih lanjut nih diskusinya.
    iya, di sini jadi adu ilmu
    atau adu keras-kerasan kepala?
    tapi gpp kok kalo kita ngga sepakat. Toh diskusi bukan berarti menuju kesepakatan bersama
    seringkali berakhir dengan "we're agree to disagree" alias " kita sepakat untuk tidak sepakat"


    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    gan, kalo udah membaca qalam ilahi artinya gak cuma mbaca quran doang
    di veda ada kalam ilahi, di injil ada kalam ilahi, di tripitaka, di sutta juga ada kalam ilahi
    bagaimana cara membaca kalam ilahi ? kudu IQRO!
    di veda, injil, tripitaka, sutta apakah ilahi nya sama dengan ilahi yg dimaksud dengan Al-Quran?
    ilahi di Al-Quran adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala
    gw ga yakin sama. Ilahi nya Islam tidak menurunkan veda, tripitaka dan sutta
    sebelum Al-Quran, yg diturunkan adalah injil, zabur dan taurat.

    Kalo menyamakan semua ilahi pada kitab2 berbeda itu, apakah nanti jadi rancu?
    misal di islam boleh makan sapi, di hindu engga.

    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    bacalah, dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan
    nama Allah itu ada 99
    ada ya rohman ya rohim, maha pengasih dan penyayang
    setuju

    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    kenapa banyak muslim yang tidak bisa membaca kalam ilahi dalam injil ? dalam kitab suci agama lain ?
    karena mereka belum membaca dengan menyebut nama tuhan

    masih ada benci di hati
    masih ada merasa benar dihati
    belum ada rohman rohimnya di hati
    karena mereka masih iqro bi ismi nafs, membaca dengan (nafs) ego
    menurut gw sih, muslim yg ngga baca injil itu cukup sadar diri
    kitab agamanya sendiri belum dikuasai bener, untuk apa membaca kitab agama lain?
    kecuali banyak waktu luang untuk mempelajari kitab lain, dengan tujuan untuk modal adu debat, silakan deh. Tapi ujung2nya paling debat kusir (kayak thread ini? ), dan malah jadi musuhan
    gw sih milih toleran thd agama lain.

    yg masih ada benci di hati itu siapa? Umumnya orang Islam ngga benci dengan agama lain.
    kecuali doktrin2 yang disampaikan jaringan teroris



    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    emang ikhlas itu apa bro? rela?
    kalau menurut penafsiran gw yang awam ini, Ikhlas
    itu memurnikan ketaatan hanya pada Allah.

    nah itu juga.. Ustadz juga manusia, Ulama juga ma
    nusia. Ulama-ulama Mufassir sendiri tidak pernah me
    wajibkan untuk ikut penafsirannya, kenapa yang bu
    kan mufassir mengharuskan?
    daripada menafsir sendiri, saya sih menganjurkan (bukan mengharuskan) yg awam mengikuti ustadz.
    saya rasa para ulama & ustadz juga akan menganjurkan hal yang sama.
    Dan para ulama & ustadz juga bisa kok dikritik. Misal kamu punya hasil penafsiran yg berbeda dengan ulama, bisa di-argumen-kan dengan mereka. Debat keras bila perlu
    Kalo ketemu ulama yg saklek ga mau terima kritik dari umat, mending cari ulama yg lain.

    mirip seperti dokter, kalo kita ngga cocok, bisa cari 2nd opinion, 3rd opinion dst.


    Quote Originally Posted by pasingsingan View Post
    Pemahaman adanya kaidah nasikh-mansukh sendiri adalah buah dari penafsiran
    faktanya, tidak semua ahli tafsir sependapat dng kaidah ini. Argumen ahli tafsir yng
    menafikan hal tsb adalah, Tuhan punya sifat sempurna. Merevisi atau menganulir
    firman-Nya, apapun alasannya adalah kontradiktif dng sifat-Nya.

    Spoiler for Tentang "riba":

    Rasanya dulu pernah seru dibahas dng purba segala …. tapi dimana yak?
    ohya, klo gak salah jaman masih diwarung lama (AK).

    Pengertian/penafsiran "riba" itu sendiri yng musti komprehensif
    dalam arti, konteksnya spt apa serta constrain-nya bgmn?.
    gamblangnya gini, memberikan pinjaman kpd pihak lain itu motifnya apa?
    murni memberikan bantuan untuk saling memperoleh manfaat atau ada niatan lain
    spt menagguk keuntungan se-besar2nya misalnya?

    Jika bantuan itu bertujuan untuk pemberdayaan, maka akad/perjanjian besarnya biaya
    pengembalian harus dibuat berdasarkan kesepakatan yng saling menguntungkan
    tidak ada pihak yng merasa terpaksa/dipaksa, dan masing2 memperoleh manfaat.

    Ada kaum lemah butuh modal untuk usaha kecil2an
    lalu ada pihak yng bersedia membantu meminjaminya dng syarat bagi hasil sesuai kesepakatan
    terjadilah akad/perjanjian pinjam-meminjam, ini sah adanya dan bukan riba!.
    masalahnya, seberapa besar porsi pembagian keuntungan itu wajarnya?
    misal: tingkat suku bunga umumnya yng berlaku adalah 1,5%/bulan atau 12%/tahun
    Jika akad pembagian keuntungan dapat disepakati dibawah itu, tentu lebih baik bagi peminjam.


    prinsipnya adalah:
    Pemilik modal harus diberi bagian keuntungan, jika motif peminjaman adlh untuk usaha
    klo tdk diberi bagian keuntungan, brarti peminjam mendzalimi pemilik modal
    sebab, klo modalnya itu dipakai usaha sendiri, tentu akan mendatangkan keuntungan juga.

    Jika peminjam dituntut untuk memberikan bagian keuntungan diatas batasan yang wajar
    kpd pemilik modal, brarti pemilik modal mendzalimi peminjam.
    krn, disamping peminjam sudah menanggung resiko usaha lebih besar , ditambah harus
    memberikan bagian keuntungan melebihi batas kemampuannya (batas kewajaran).

    Soal riba klo mao dibahas secara asyik-masyuk lagi, sebaeknya dibuatkan thread tersendiri.


    Memanfaatkan (baca mengambil hikmah) dari buah penafsiran ahli (pihak berkompeten)
    memang harus, terutama bila kita merasa belom memiliki kemampuan untuk menafsirkan sendiri
    suatu perkara. Tapi berkeras hati untuk menjadikan salah satu karya penafsiran sbg rujukan yng
    dianggap paling benar sendiri dng tdk metolelir kemungkinan kebenaran jg dimiliki pihak lain
    ini jg sikap yng konyol, atau dlm istilahnya si purba dinamakan "taklid buta" bin fanatisme berlebihan.

    faktanya, para ahli tafsir yng jujur jg mengakui bhw
    - Subyektivitas sbg pribadi adlh suatu hal yng jg sulit dihindarkan
    - Peradaban dan ilmu pengetahuan yng terus berkembang
    - Kebenaran versi manusia bersifat relative
    ya nasikh-mansukh yg saya maksud cuma salah satu ilmu yang dipakai untuk menafsir.
    terlepas dari pro-kontra nya

    oh iya, kalo boleh tau, ada link yang ngasih tau mengenai pro-kontra ini Mbah? soalnya dari ustadz di tempat saya ngaji, beliau ngga nyebut bahwa nasih-mansukh ini tidak semua ulama sependapat. Mau saya tanya ke beliau untuk pertemuan nanti.


    dan untuk riba, maaf saya spoiler mbah karena saya pribadi berpendapat sudah OOT dari topik ini.
    sedikit saja yg mau sampaikan bahwa dari tulisan mbah mengenai hal itu di Islam ada yg namanya ekonomi syariah
    ada pembagian untung-rugi nya juga, biasa dikenal dengan bagi hasil.
    Tapi saya ngga bisa diskusi lebih jauh lagi karena ilmu saya cetek banget untuk ekonomi syariah ini.

    ---------- Post added at 10:36 AM ---------- Previous post was at 10:27 AM ----------

    oh iya, saya sudah menyampaikan semua yg saya tahu mengenai topik ini (topik tafsir; siapa yg boleh melakukan?)
    kalo ada pembahasan berikutnya saya akan tetap memegang pada postingan2 saya yg dulu.
    ditambah dengan postingan hajime_saitoh, saya setuju seluruhnya.
    jadi sepertinya saya tidak akan posting lagi di sini (karena akan muter2 aja ) , mungkin masih baca2

    oh iya, saran tambahan (diulang sebenernya ) , buat yg masih ngga puas dengan pembahasan di sini, coba cari ulama/ustadz setempat.
    Ga susah kok nyarinya, mereka banyak bertebaran di sekitar kita

    eh iya, kalo ternyata yg dimaksud bukan menafsir Al-Quran, ya cari ahli agama sesuai dengan kitab yg mau ditafsir itu.

  11. #71
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by gogon View Post

    di veda, injil, tripitaka, sutta apakah ilahi nya sama dengan ilahi yg dimaksud dengan Al-Quran?
    ilahi di Al-Quran adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala
    gw ga yakin sama. Ilahi nya Islam tidak menurunkan veda, tripitaka dan sutta
    sebelum Al-Quran, yg diturunkan adalah injil, zabur dan taurat.
    kalau anda bilang ilahinya beda antara quran dan veda atau tripitaka, anda itu meyakini ada berapa ilah ?
    kalo saya meyakini cuma ada satu ilah, karena saya bertauhid
    asal kita semua adalah satu sumber, berpulangnya juga kepada sumber
    inna lillahi wa inna illaihi rojiun

    Quote Originally Posted by gogon View Post
    Kalo menyamakan semua ilahi pada kitab2 berbeda itu, apakah nanti jadi rancu?
    misal di islam boleh makan sapi, di hindu engga.
    kalo anda bicara dalam tingkat syariat jelas beda
    tidak makan sapi itu soal syariat
    sama halnya dalam islam tidak makan babi karena soal kesehatan
    tidak makan sapi itu karena sapi di tempat asalnya agama hindu adalah hewan yang paling bermanfaat
    susunya, dagingnya, kulitnya, tenaganya... makanya disakralkan supaya tidak sembarangan membabi buta di konsumsi

    kalo mau bicara lebih dalam, bahas ilmu ketuhanan aja
    mbahas syahadatnya hindu om tat sat ekam eva adwityam brahman (sang hyang widhi wasa adalah tunggal/ tidak ada duanya)

    Quote Originally Posted by gogon View Post
    menurut gw sih, muslim yg ngga baca injil itu cukup sadar diri
    kitab agamanya sendiri belum dikuasai bener, untuk apa membaca kitab agama lain?
    kecuali banyak waktu luang untuk mempelajari kitab lain, dengan tujuan untuk modal adu debat, silakan deh. Tapi ujung2nya paling debat kusir (kayak thread ini? ), dan malah jadi musuhan
    gw sih milih toleran thd agama lain.
    ya kalo anda sudah kenal Allah gak cuma namanya, nanti akan ngalami mbaca kitab2 agama lain dengan antusias dan menyenangkan
    tenang aja, saya gak akan debat kusir koq. Cuma mendalami sejauh mana kawan diskusi disini, kalo udah tau juga saya akan bicara sesuai kapasitas aja

    makasih dah di ingetin

  12. #72
    Quote Originally Posted by gogon
    oh iya, kalo boleh tau, ada link yang ngasih tau mengenai pro-kontra ini Mbah? soalnya dari ustadz di tempat saya ngaji, beliau ngga nyebut bahwa nasih-mansukh ini tidak semua ulama sependapat. Mau saya tanya ke beliau untuk pertemuan nanti.
    silakan KLIK ini dan INI
    fokuskan dibab kontroversialnya
    itu baru sebagian, sebenarnya banyak
    klo mao searching dng kunci "kontroversi nasikh-mansyukh"
    Last edited by pasingsingan; 26-12-2011 at 03:57 PM.
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  13. #73
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    Originally Posted by sedgedjenar View Post
    gan, kalo udah membaca qalam ilahi artinya gak cuma mbaca quran doang
    di veda ada kalam ilahi, di injil ada kalam ilahi, di tripitaka, di sutta juga ada kalam ilahi
    bagaimana cara membaca kalam ilahi ? kudu IQRO!
    anda penganut pluralisme beragama ya??

    kalo anda bicara dalam tingkat syariat jelas beda
    tidak makan sapi itu soal syariat
    sama halnya dalam islam tidak makan babi karena soal kesehatan
    tidak makan sapi itu karena sapi di tempat asalnya agama hindu adalah hewan yang paling bermanfaat
    susunya, dagingnya, kulitnya, tenaganya... makanya disakralkan supaya tidak sembarangan membabi buta di konsumsi
    lho bukannya sapi tidak dimakan karena sapi disembah sebagai dewa atau tunggangannya dewa.. kalo soal kegunaan dimana2 juga sapi sangat berguna untuk persawahan...

  14. #74
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    anda penganut pluralisme beragama ya??
    saya orang yang tidak menyembah agama
    tidak terbelenggu dan terdogma oleh agama

    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    lho bukannya sapi tidak dimakan karena sapi disembah sebagai dewa atau tunggangannya dewa..
    bukan

    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    kalo soal kegunaan dimana2 juga sapi sangat berguna untuk persawahan...
    tapi kalo penduduknya bukan hindu, akan beda perlakuannya kepada sapi

    ---------- Post added at 11:32 AM ---------- Previous post was at 11:27 AM ----------

    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    anda bukan bertanya tapi anda membuat opini,, setelah saya menyampaikan dalil tentang opini anda anda tetap teguh dengan pendapat anda walaupun bersebrangan dengan fatwa para ulama, silahkan kalo anda mau tetap denagn pendapat anda kita bertanggung jawab masing2 atas tindakan kita...
    ya semoga anda bener2 ngarti dengan perkataan anda yang saya bold ya

  15. #75
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Nah itu dia. Dlm sejarah Islam, itu pun sudah terjadi. Adanya suni dan syiah, tidak lepas dari penafsiran Quran yg dimotivasi oleh niat dan agenda berbeda. Sekarang misalnya ada tafsir feminis yg dilatarbelakangi oleh gerakan feminisme (baca: pendobrakan thd dominasi laki-laki). Di sini terlihat Quran ditempatkan sbg alat utk mencapai tujuan tertentu yg mungkin sudah berbeda dari tujuan mula-mula. Contoh lain yg agak gamblang mungkin ketika musim kampanye, banyak politikus yg menafsirkan ayat2 Quran secara serampangan sesuai keperluan politik praktisnya.

    Kalo tafsiran ateis, tenang aja mbah... Ateis gak punya surga dan neraka....
    Wakakakakkk... aman kalo gituh...

    Harus diakui, salah satu kelebihan tafsir atheis dibanding tafsir lain adalah ketika tafsir lain menyebut diri benar dan aliran lain sesat, tafsiran atheis langsung menyebut diri sendiri aliran sesat ... xixixixixixxx...


    Agenda... itulah yang menyebabkan...
    • Prometheus mendaki ke surga, mencuri api dari para dewa, dan turun lagi ke bumi membagi-bagikan api ke seluruh penjuru bumi...
    • Aeneas, turun ke neraka, menaklukkan anjing berkepala tiga penjaga neraka, Cereberus, mendengar takdir tentang Roma, dan kembali lagi ke dunia atas untuk mendirikan kota besar itu...
    • Pangeran Gautama Sakyamuni, meninggalkan istana ayahnya untuk menjadi pertapa miskin terlunta-lunta, agar mendapat jawaban dari rahasia kehidupan... dan menurunkan Agama Buddha...
    • Musa, memimpin rakyatnya keluar dari tanah mesir, membelah laut merah, dan sampai ke tanah perjanjian - Kana'an - setelah empat puluh tahun...
    • Yesus, mengajarkan kasih sayang di tengah dunia yang penuh dengan penjajahan dan kekerasan...


    ... lalu ada Muhammad,

    Belum lama lalu kita dengar soal Soekarno, Joseph Broz Tito, Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr.,...

    ... Semua adalah manusia dan "manusia" dengan agenda untuk membawa umat manusia ke keadaan yang lebih baik dibanding sebelum mereka hadir, sebagian bisa kita saksikan sejarahnya, sebagian kita dengar sebagai mitos atau cerita...

    ...sebagian justru jadi korban interpretasi sejarah ... (contohnya Kakang Ronggolawe dari Majapahit tuh)

    ... dan sebagian diantara kita bertengkar soal interpretasi kita tentang mereka...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  16. #76
    Quote Originally Posted by Alip
    Harus diakui, salah satu kelebihan tafsir atheis dibanding tafsir lain adalah ketika tafsir lain menyebut diri benar dan aliran lain sesat, tafsiran atheis langsung menyebut diri sendiri aliran sesat ... xixixixixixxx...
    betul kang Alip
    pertama:
    krn atheist menafikan tuhan, sehingga dia tdk punya prasangka apa2
    spt takut salah hingga mengakibat dosa dan direndam dineraka misalnya

    kedua:
    dia bisa lebih rilek n nothing to loose (baca leluasa) dlm menafsir/menggali maknanya
    krn teks atau manuskrip berharga dari manapun dianggap sama.
    dlm arti terbebas dari perasaan mensakralkan.

    tetapi apakah atheist akan terbebas dari unsur subyektifitas dlm menafsirkan?
    jwbnya blom tentu, krn bukan manusia namanya klo tdk memiliki sifat atau watak cenderung kpd sesuatu
    Last edited by pasingsingan; 27-12-2011 at 06:34 PM.
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  17. #77
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    misal pertanyaan ini, diajukan seorang anak kelas satu SD kepada bapaknya
    lalu bapak menjawab, "maksudnya kerjain sholat nak yang lima waktu"
    dan bapak ini ngaji aja gak bisa, baca tulis gak bisa

    bapak ini berhak gak nafsirin ?
    Loh saya kan tanya : Sholat yang dimaksud apa ya ?

    Sama seperti jika saya tanya : Rumah yang dimaksud apa ya ? (jika kalimatnya Dirikanlah Rumah)

    atau

    Sama seperti jika saya tanya : Tiang yang dimaksud apa ya ? (jika kalimatnya Dirikanlah Tiang)


    btw ... memahami pertanyaan saja tidak bisa (kenapa gak tanya kalo gak jelas pertanyaannya ?), bagaimana bisa jawabannya sesuai yang ditanyakan ?
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  18. #78
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    saya orang yang tidak menyembah agama
    tidak terbelenggu dan terdogma oleh agama
    bberarti??? anda agnostik gitu???

    lho bukannya memang sapi di india di sembah dan dianggap dewa ya???

  19. #79
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    bberarti??? anda agnostik gitu???
    terserah anda aja mas
    saya gak peduli sama istilah
    mau dibilang agnostik, kafir, musyrik anda pilih aja yang sesuai dengan daya nalar anda
    yang tau kualitas saya kan cuma Tuhan

    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    lho bukannya memang sapi di india di sembah dan dianggap dewa ya???
    saya gak akan jawab mas
    anda belajar agama sendiri aja dulu
    umur anda terbatas, manfaatkan umur sebaik2 nya mudah2 an sebelum ajal sudah khatam belajar agamanya
    gak usah mikirin agama orang lain dulu

    ---------- Post added at 08:31 AM ---------- Previous post was at 08:17 AM ----------

    Quote Originally Posted by Asum View Post
    Loh saya kan tanya : Sholat yang dimaksud apa ya ?

    Sama seperti jika saya tanya : Rumah yang dimaksud apa ya ? (jika kalimatnya Dirikanlah Rumah)

    atau

    Sama seperti jika saya tanya : Tiang yang dimaksud apa ya ? (jika kalimatnya Dirikanlah Tiang)


    btw ... memahami pertanyaan saja tidak bisa (kenapa gak tanya kalo gak jelas pertanyaannya ?), bagaimana bisa jawabannya sesuai yang ditanyakan ?
    mas, esensi jawaban saya itu seperti yang di sampein kang danalingga
    bahwa dalam keterbatasan, orang menafsir quran sesuai kemampuannya
    seiring perkembangan spiritualnya penafsirannya akan makin luas dan matang

    siapa yang menjamin tafsiran ulama ahli tafsir itu benar 100 persen ??!! sini ngacung maju ke saya
    quran itu bahasa langit yang dibumikan, kecuali seseorang itu sudah mencapai derajat langit maka penafsirannya masih patut dipertanyakan

    tapi biar ente gak penasaran, ane jawab ya
    mendirikan sholat ya ?
    berdiri itu artinya berdiri hingga ke langit
    maksudnya adalah mencapai derajat khusyuk dalam sholat

    sholat itu hakekatnya mengingat allah (dzikr)
    mengingat allah itu disetiap hela nafas, dalilnya ingatlah allah diwaktu berdiri, bangun...(silakan cari sendiri, biar qurannya di buka, dipelajari)

    jadi orang sholat dzuhur itu bisa aja cuma mendirikan 1 rokaat, atau bahkan gak mendirikan sama sekali
    orang sholat maghrib cuma mendirikan 2 rokaat aja, dst dst dst..

  20. #80
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    ...

    mas, esensi jawaban saya itu seperti yang di sampein kang danalingga
    bahwa dalam keterbatasan, orang menafsir quran sesuai kemampuannya
    seiring perkembangan spiritualnya penafsirannya akan makin luas dan matang
    Yang berkembang itu bukan spiritual, tapi ilmu (pengetahuan) yang berkaitan dengan hal tsb.

    Quote Originally Posted by sedgedjenar
    siapa yang menjamin tafsiran ulama ahli tafsir itu benar 100 persen ??!! sini ngacung maju ke saya
    quran itu bahasa langit yang dibumikan, kecuali seseorang itu sudah mencapai derajat langit maka penafsirannya masih patut dipertanyakan
    Apalagi tafsiran (penjelasan) anda yang tanpa didukung ilmu ... lebih tidak benar lagi tentunya ...

    Quote Originally Posted by sedgedjenar
    tapi biar ente gak penasaran, ane jawab ya
    mendirikan sholat ya ?
    berdiri itu artinya berdiri hingga ke langit
    maksudnya adalah mencapai derajat khusyuk dalam sholat

    sholat itu hakekatnya mengingat allah (dzikr)
    mengingat allah itu disetiap hela nafas, dalilnya ingatlah allah diwaktu berdiri, bangun...(silakan cari sendiri, biar qurannya di buka, dipelajari)

    jadi orang sholat dzuhur itu bisa aja cuma mendirikan 1 rokaat, atau bahkan gak mendirikan sama sekali
    orang sholat maghrib cuma mendirikan 2 rokaat aja, dst dst dst..
    Weleh ... jadi aqimish shalat itu artinya berdirilah untuk mengingat Allah.


    Jadi sholat itu apa artinya ? mengingat Allah ? <<< ini jawaban dari alam mimpi seorang manusia yang bergelut dalam alam sufi. Kalau yang berpikiran ilmiah, maka ia akan melihat arti kata tsb dalam kamus, jika tidak paham maksud sebenarnya, baru bertanya ... kemana ? ke sumber riwayat, yaitu hadits yang berkiatan soal sholat sehingga jelas apa yang dimaksud sholat dalam firman Allah tsb.

    Jadi ada 2 tahapan seorang faqih menjawab persoalan :
    1. dengan penjelasan bahasa, apa arti sholat.
    2. sumber informasi lain yang menjelaskan maksud sholat tsb.

    Orang yang hanya mengandalkan arti secara bahasa saja, bisa terjerumus kepada kesesatan. Misal terjemah dari ayat tsb dalam bhs inggris (terj Yusuf Ali) sbb : And be steadfast in prayer ...

    Ntar yang dikerjainnya cuman berdoa sambil berdiri, Atau seperti penjelasan sedge ... atau mengingat tuhan sambil berdiri kali ...
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

Page 4 of 12 FirstFirst ... 23456 ... LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •