Menghadapi seorang penjahat bersenjata api tidak perlu dgn senjata api.
http://www.youtube.com/watch?v=Tqd3M-pDrk4
Printable View
Menghadapi seorang penjahat bersenjata api tidak perlu dgn senjata api.
http://www.youtube.com/watch?v=Tqd3M-pDrk4
pas kejadian Tragedi Connectitut pagi , di hari yang sama , tapi malem ada kejadian penembakan di Hotel Excalibur - Las Vegas , tewas 2 orang (korban dan pelaku).
kalo polisi kan jelas harus melindungi diri mereka dari orang jahat , jadi ya wajib bawa senjata. ga kebayang kalo polisi ga bawa senjata.
lha bawa senjata , tapi ga siap aja bisa mati tertembak kok...
pasti masi ada yang mikir gini... ah simpen 1 ah , kan sekarang senjata langka ::hihi::
kalo orang udah nekad mah , mo pake apapun jadi... pake tangan ditutupi kain juga udah kayak senjata dan orang udah takut....
Nope.
That's the whole point of the discussion.
Gue termasuk yang berpendapat rasa aman nggak tergantung dari mudah atau tidaknya orang mendapatkan senpi.
Kalo masyarakatnya emang doyan rusuh, bahkan tanpa senpi-pun mereka akan cari cara.
Dan kebalikannya juga berlaku, kalo masyarakatnya tipe 'kalem', biar di kasih kemudahan mendapatkan senpi-pun tetep males petantang petenteng bawa beceng...
Balik lagi ke pendapat gue bahwa 'Weapons don't kill people. People kill people.'
Dan buat kasus penembakan ini, gue berpendapat bahwa bukan karena ada senpi lalu ada banyak penembakan, tapi lebih ke arah 'karena banyak yang doyan main tembak-tembakan jadi banyak senpi'. :ngopi:
Mbok ngerti maksud Aslan tapi masalahnya, dalam insiden ini, yang punya senjata api justru si masyarakat sipil (ibu si penembak yang juga guru di sekolah tsb). Si penembak juga dari golongan orang baik bukan golongan orang jahat.
Pelaku penembakan di Norwegia dulu juga masyarakat sipil, bukan penjahat.
Jadi, apa jaminannya seorang yang digolongkan orang baik, punya senjata, akan menggunakan senjata itu untuk kebaikan pula?
Contohnya ya insiden terakhir ini, malah senjata makan tuan.
Kalau penjahat tembak-tembakan, kita maklum, namanya juga penjahat. Tapi kalau orang baik tembak-tembakan? Berarti ada yang benar-benar sakit dalam golongan orang yang baik-baik itu. Apakah mempersenjatai mereka (orang baik) merupakan jalan keluarnya? I don't think so.
The way I see it. Kamsud-nya AsLan, kalo di sebuah negara pake rule 'dilarang senjata', maka Semua ngga' ada yang bole pake. Kecuali militer tentunya.
Dan kalo sebuah nagara pake rule 'semua bole punya beceng', kalo ngga' punya, berarti mengurangi kesempatan menjaga keamanan diri sendiri. Karena, artinya mengurangi kesempatan kita untuk jadi imbang dengan orang lain, yang ngga' semuanya baik, yang punya beceng.
OK. Katakanlah Amerika punya rule itu, tidak ada yang boleh bersenjata. Kira-kira para penjahat di Amerika nurut atau tidak? Penjahat tidak peduli dengan rule, namanya juga penjahat.
Sebaliknya, katakanlah Amerika punya rule bahwa semua boleh bersenjata. Penjahat jelas dong tambah senang. Yang baik-baik, seperti ibu penembak, punya ijin untuk beberapa senjata api. Akhirnya sekarang, yang baik malah menembak yang baik lain.
Apa gunanya polisi dan rakyat bayar pajak tinggi-tinggi kalau akhirnya harus simkamling sendiri?
Di negara yang suusah punya senpi, penjahatnya belom tentu punya beceng. Golok kemungkinan besar punya.
Di negara yang mudah punya senpi, jelas penjahat-nya bakalan punya beceng. So, di negara yang mudah punya senpi, di mana kemungkinan besar penjahat-nya punya beceng, berani jadi orang yang sama sekali ngga' ada pertahanan ?
Well, soal siskamling sendiri... setau gue, rakyat sana emang maunya gitu. Mentalitas mereka emang dasarnya 'frontier'.
Dan mereka nggak percaya kalo full military power di taroh di tangan 'aparat pemerintah'. Mereka percaya-nya, kalo the worse come to shove, rakyat sipil bisa berdiri toe-to-toe dengan aparat. Mungkin akibat dari pengalaman mereka dulu memberontak ngelawan Inggris dan jaman perang saudara...
gw makin lost, gak ngerti ke arah mana diskusinya.
kesannya, disini diumpamakan ada bad guys and good guys, dan semuanya berhak / mendapatkan akses mudah ke senjata api.
gw kira bakalan mbahas mengenai sputar akses, perijinan, kebijakan, gun control, psikotes, shells, recoil.
ternyata malah menjerumus ke kriminalisasi karakter yang jelas2 hanya hypothetical dan berharap bisa dijadikan poin penting di produk kebijakan. ::arg!:: U can't do that. Sorry, tpi kita gak bisa bilang seseorang itu jahat/baik disini sehingga tidak pantas/layak/cocok/memenuhi syarat hukum untuk kemudian memiliki senpi. Loe gak bisa menentukan kebaikan/kejahatan seseorang untuk dijadikan kriteria itu. Bukan kek gitu logical frameworknya. Membuktikan calon pemilik senpi itu baik hati dan akan berbuat jahat gimana hayoooo, and vice versa? Ya, ada SKCK/criminal record yang membantu mendeskripsikan track record seseorang untuk melihat pola2 dan kecenderungannya berbuat sesuatu di luar hukum perdata/pidana. Tapi itu pun jg tidak bisa dijadikan basis/argumen baku untuk men-judge criminals are very bad person for evahhh. Mungkin kita tahu kejelekan karakter orang, tapi selama dia tidak dibuktikan bersalah. He/she a free human being. Indikator etos ini lho, apaan seh ? blas gak valid. Stop latah Endonesia, and please be rational.
gw pengin tahu, misalnya gini neh:
Kalo loe smua jadi Obama, target kebijakannya kek gimana?
1. Kurangin jumlah distribusi senpi lewat gun control.
2. Tekan angka kekerasan/violence terhadap anak-anak dan wanita
3. Re-standarisasi aparat dg semi-automatic yg lebih canggih dan buang 9mm.
4. else
Setiap target2 ini alur pikirnya beda, skenario politiknya beda, agenda hearingnya beda, dan akan
ditempuh dengan cara beda. Mungkin dikombinasikan, sehingga poin 1+2 bisa kena, tapi poin 3 gak.
Intinya adalah akan ada check and balance, ada trade-off, ada yang kena dan gak kena. Tidak ada kebijakan yang fits all size, one-easy-fix-for-all-problems.
Diskusinya sih (harusnya) apa bisa diterima (setuju/tidak) pendapat dari TS bahwa jika
hidup di negara seperti US (yang katanya senjata legal dan gampang dimiliki)
maka sudah seharusnya kita harus mempersenjatai diri kita dengan senpi
untuk melawan jika ada yang menyerang kita. Rugi besar jika kita tidak
mau mempersenjatai diri.
Gitu jox, jadi agak terlalu jauh apa yang kau ajukan itu. ::hihi::
kalo menurut gue sich...kurangi distribusi lewat kebijakan kontrol gun...
kayanya US gampang banget dapat senpi tinggal beli kaya beli sembako aja...senpi di tangan bukan penjahat lebih bahaya daripada ditangan preman atau mafia..
Pistol bukan pisau..
Pistol dan senapan gak punya kegunaan lain selain melukai mahluk hidup. Berbeda dengan pisau.
Kemampuan jarak jauhnya dan kemudahannya penggunaannya (tanpa perlu latihan khusus) serta kemampuan untuk digunakan berkali-kali dalam waktu singkat membuatnya lebih berbahaya dibandingkan pisau, golok, panah, tombak, meriam, tank, pesawat, bom nuklir.
Senjata api seharusnya dibatasi hanya untuk aparat keamanan dan militer (dan pemberontak tentunya). Soal apakah itu tidak membatasi kemampuan rakyat untuk melawan bila pemerintah menjadi militerisme dan tiran, maka selalu ada strategi gerilya dan penyelundupan.
Kalau Aslan bicara tentang frontier atau tentang menguatkan masyarakat,
pemerintah bisa mengambil jalan wajib militer untuk latihan. Atau bisa juga pakai cara-cara kerajaan zaman dahulu, dengan membuat permainan-permainan tradisional yang mengajarkan kerjasama, formasi pertahanan, teknik membidik, ketenangan dalam peperangan, dsb.
Soal perlindungan terhadap penjahat yang punya akses terhadap senjata api. Percayalah, kalaupun seseorang punya senjata api dan tergantung padanya, bisa jadi ketika baru menarik senjata api, penjahat yang bersangkutan sudah menekan pelatuk lebih dahulu. Dalam hal ini, senjata api hanya berguna untuk mengancam bila si penjahat belum sempat mengeluarkan senjatanya. Iya kalau si penjahat rela dan menyerah lalu pergi masalah selesai di situ. Bagaimana kalau terjadi malah sebaliknya, yakni eskalasi, dia pergi, kembali bawa kawan yang semua sudah menyiapkan senjata api dan langsung menembak?
Banyak penembakan massal terjadi di sekolah2, kampus, tempat kemping remaja, mall, bioskop dll
kenapa ?
Kenapa penembakan massal tidak terjadi di kantor polisi atau pangkalan militer ?
Karena para psyco itu tahu bahwa ada tempat2 dimana dia bisa "untuk sementara" menjadi penguasa, menjadi sosok dominan, ditakuti, menjadi superior karena disitu dia adalah satu2nya yg memegang senjata.
memang gak selalu senjata bisa menyelesaikan masalah, tapi kadang2 senjata hanya bisa dilawan dengan senjata.
Sekarang Coba bayangkan :
Quote:
Kamu sedang berada disebuah sekolah, sedang mengajar anak2 kecil disebuah kelas.
Tiba2 ada seorang bersenjata masuk ke kelasmu dan mulai menbar peluru menembaki semua anak dikelas itu.
Kamu tahu beberapa detik lagi kamu dan semua anak2 kecil itu akan ditembak mati.
Dalam situasi itu pilih :
1. Kamu memegang senjata dan bisa menembak dia
2. Kamu tidak punya senjata
Beberapa detik lagi ditembak, biar punya senjata, tetep aja ketembak. Kecuali ente jack chan ato max payne.
betul bleg.
Tapi pilihan lu cuma 2 itu, pilih mana ?
Ingat ya, orang yg tertembak masih bisa membalas tembakan sebelum mati.
Gak kayak di film, orang kena tembak langsung tergeletak mati.
Lu masih sempat menembak si psyco itu sebelum lu mati, kematian lu akan menyelamatkan banyak anak2 disitu.
worthed kan ?
Ya ga ada pilihan kecuali ketembak. Kalo gak ketembak, tinggal ambil bangku getok ke mukanye. Sama sulitnya dgn menembak.
Kalo elu penembak jitu, boleh jadi. Kalo malah nyasar? Emang punya pestol jadi otomatis bisa nembak gitu?Quote:
Lu masih sempat menembak si psyco itu sebelum lu mati, kematian lu akan menyelamatkan banyak anak2 disitu.
Orang kebanyakan punya pestol cuman utk nakut2in doang. Suruh nembak belon tentu bisa. Paling nyasar kemana2 berharap musuh kabur. Ga gampang bunuh orang coy.
Nope....Quote:
Originally Posted by Aslan
Kecuali lu sudah dalam kondisi adrenalin tinggi, lu sudah gak berkutik ketika tertembak biarpun itu cuma terserempet di bahu sekalipun.
Justru akan lebih menyelamatkan nyawa anak2 kalau lu, sebagai guru, nyuruh anak2 tiarap dan mencari perlindungan sambil tiarap.
Lagipula, sekalipun lu punya senjata,
lu pasti naruh di laci meja atau di tas. Lu gak akan sempat ngambil. Lu akan tertembak tanpa perlawanan kalau jalan pikiran lo adalah harus ambil senjata untuk melawannya.
Beda dengan polisi atau tentara yang menaruh di pinggang. Itu pun, bila dalam kondisi tidak siap, mereka pasti mencari tempat berlindung atau tiarap, baru mengambil senjata.
Sekedar catatan, dalam kasus SD Sandy Hook, si pemilik senjata adalah orang paranoid yang punya jalan pikiran persis yang lu pikirkan, Slan. Dia gak menyangka kalau senjatanya dipakai oleh si anak. Dan ini bukan kasus pertama di mana senjata milik orang tua dipakai oleh anaknya.
Buat gue, daripada sang guru diperbolehkan membawa senjata, lebih menyelamatkan kalau murid-muridnya, dalam pelajaran olahraga diajarkan tiarap dan merayap dengan cepat.
---------- Post Merged at 11:36 PM ----------
Sekedar tambahan catatan,
salah besar kalau mengira tidak ada senjata di kelas.
Kursi2 di kelas bisa dilempar dengan cepat.
Begitu juga vas bunga yang kadang2 ada di meja kelas.
Meja bisa didorong ke arah pelaku.
yg disandy hook itu ternyata bukan senjatanya si ibu/guru.
Itu senjatanya si pelaku yg dibeli pakai nama ibunya, mungkin credit card ibunya.
mengenai pilihan diatas, pilihannya cuma 2:
saat itu lu membawa senjata api
atau
saat itu lu gak bawa senjata api
okelah seperti kata lu dan ndableg, walaupun ada senjata tapi gak sempat make, ada senjata tapi gak brani make, dll
gw seih tetap milih yg pilihan pertama, ada senjata untuk melawan.
kalau perlu berlindung dulu, ya lakukanlah, berlindung dulu lalu membalas tembak.
saya milih ga bawa senjata api sih...
soalnya udah tiba - tiba diserang udah kaget...
lagian saya ga mau membunuh orang , takut...
Setiap terjadi kasus penembakan massal, penjualan senjata melonjak.
http://www.cnbc.com/id/100321785
alasannya:
1. orang ingin melindungi diri dan orang2 yg dicintainya
2. orang takut pemerintah mempersulit terbitnya ijin senjata
Jadi, memang kebebasan senjata api di amerika adalah hal yg buruk, tapi itu realita yg sudah terlanjur terjadi.
ibaratnya
sama dengan situasi peredaran senjata, seharusnya senjata diatur dengan ketat, hanya aparat negara yg boleh memilikinya, tapi situasinya sudah kacau, banyak orang memiliki senjata dan banyak kasus penembakan.Quote:
disuatu wilayah terjadi kelangkaan pangan.
pemerintah memberi bantuan pangan yg dikirim dengan beberapa truk
situasi menjadi chaos, orang2 berebut makanan dan situasi tak terkendali
di situasi itu, apa yg kau lakukan ?
ikut berebut makanan dan mungkin bisa dapet untuk menyelamatkan keluargamu (mungkin juga gak dapet)
atau
tidak mau ikut berebut makanan dan keluargamu sudah pasti mati kelaparan
sebenarnya situasi yg terbaik adalah makanan dibagikan secara baik dan adil, tapi situasinya sudah keburu kacau dan tak bisa dikendalikan
Lan, kebebasan senjata di amrik itu ud dari ratusan taun. Kejadian2 orang gila gini kan baru2 aja. Dan semakin sering terjadi, bukan karena orang2 bisa pegang senjata, tapi karena kehidupan yg makin buruk di sana.
Kalo diliat dari efeknya di mana orang justru malah membeli senjata yg sebanyak2nya, maka penjual2 senjata lah yg diuntungkan. Jadi apa ga lebih masuk akal kalo kejadian2 ini diprakarsai oleh penjual2 senjata? Membeli senjata yg sebanyaknya artinya kemungkinan rakyat sipil saling tembak menembak lebih tinggi. Di sana telah ditumbuhkan mentalitas saling mencurigai.
maka gw bilang kondisi itu udah gak sehat.
tapi kalau lu hidup dilingkungan yg gak sehat seperti itu gimana ?
mau tunggu amerika jadi membaik dulu ?
boleh aja menunggu situasi amerika membaik, tapi apa salahnya beli dan berlatih memakai senjata api dengan baik.
nanti kalau akhrinya pemerintah amerika minta semua senjata api diserahkan ke negara, ya serahkan.
tapi itu juga gak dipaksakan sih, tergantung masing2.
kalau jiwanya seperti lily, gak mau melakukan kekerasan apapun dalam kondisi apapun, ya gak usah pegang senjata, serahkan saja pada orang baik lainnya yg mau.
Nope..
Itu senjata sang ibu.
Sang ibu bukan guru SD tersebut. Ia korban pertama, ketika masih tidur.
Si ibu pula yang memperkenalkan senjata, latihan senjata bersama pelaku. Ada dugaan, dia mencari alternatif agar bisa mengajak si anak keluar rumah, supaya si anak tidak hanya berada di depan komputer main games.
Dia membeli senapan serbu pada Bulan Maret 2010;
Sig Sauer otomatis pada Maret 2011;
Pistol Glock pada bulan Januari 2012.
Yang Bushmaster yang masih misteri kalau gak salah.
http://www.cbsnews.com/8301-18563_16...town-shooting/
Kembali ke topik,
Bukan 'kalau perlu berlindung',Quote:
Originally Posted by Aslan
tapi reaksi pertama memang yang benar adalah berlindung dengan benar dahulu.
Dunia tembak menembak bukan kayak film koboi di mana kedua belah pihak sama-sama berhadapan dengan senjata masing-masing di pinggang.
---------- Post Merged at 12:29 AM ----------
Pergi dari Amerika Serikat.
Been that, done that!
Video yang ditunjukkan oleh nDableg sebelumnya,
kagak perlu punya senjata api untuk melawan senjata api. Si cewek menuruti keinginan si perampok, mengambil kapak saat lengah, dan mengayunkan dan kayaknya juga pakai perang mental supaya si perampok kagok. Toh, akhirnya ayunan kapaknya membuat si perampok menjatuhkan pistol dan lari.
Kejadian di Gresik juga sama, cuma bedanya, yang diserang tidak berpikir. Dia refleks. Niatnya hanya supaya pistol tidak ditujukan ke badannya. Siapa sangka ternyata malah si oknum TNI malah kagok, menekan pelatuk pas sedang mengarah ke kepala.
sejak gw mencintai pisau, gw bawa2 pisau kesayangan gw kemana2.
gw cukup puas dengan pandangan negatif orang2, bahkan teman2 gw sendiri ada yg bilang gw paranoid.
mungkin dalam hati mereka mau bilang bahwa gw pengecut.
gw gak mau debat, biarin aja orang berpikir apapun.
gw merasa gw adalah orang yg rasional.
menurut gw, punya itu lebih baik daripada gak punya.
orang punya mobil gak berarti harus make mobil, tapi berarti saat dia perlu make mobil dia bisa.
kalau dia mau make kendaraan umum juga dia bisa.
jadi orang punya senjata tidak berarti dia harus make senjatanya, tapi artinya kalau dia perlu make senjata itu, dia bisa.
bagi gw punya pilihan lebih banyak adalah sebuah keputusan yg lebih rasional daripada sengaja membatasi pilihan.
Kalau lu sedang mengajar dikelas,
lalu tiba2 ada orang masuk dan memberondong murid2 disitu.
1. lu punya senjata
atau
2. lu gak punya senjata
kalo lu gak punya, lu cuma bisa pasrah memandangi anak2 kecil itu diberondong peluru.
kalo lu punya senjata, lu punya pilihan mau melawan, bisa. Atau mau diam dan memandangi anak2 kecil itu diberondong peluru, juga bisa.
Kalau lu berkata bahwa lu bisa pakai meja atau bangku untuk melawan...
betul. kalau itu yg menurut lu yg terbaik, maka dengan pistol di kantung pun lu tetap bisa memilih untuk menggunakan bangku atau meja untuk melawan.
Lu mau kasus di mana ada yang pegang senjata resmi tapi gak bisa menggunakan, Slan?
Ini:
http://www.kgw.com/news/Clackamas-ma...183593571.html
Kasus penembakan membabibuta juga.
Ada yang mau melakukan intervensi, persis seperti argumentasimu.
Dia juga sempat mengambil senjata dan menodongkan ke arah pelaku penembak membabi buta.
Dan... dia tidak bisa menembak bukan karena senjatanya macet.
Dia tahu persis, kalau meleset, dia akan mengenai orang lain.
Jadi yang dia lakukan adalah tetap menodong pistolnya, tidak menembak, tetapi sorot matanya menatap tajam ke si pelaku.
Dia beruntung, si pelaku penembak membabi buta kalah mental jadi akhirnya bunuh diri.
Pertanyaan gue adalah,
bagaimana seandainya si pelaku tidak gentar?
ya kita ditembak mati...
sama seperti kalau kita gak punya senjata, mati juga.
melawan orang nekad seperti itu memang chance keberhasilannya kecil.
jadi gini...
untuk masalah senjata, ada 2 wilayah pembahasan:
1. di level negara, harus dibuat undang2 atau peraturan baru untuk memperbaiki situasi
2. di level pribadi, lakukan apapun yg kira2 paling rational untuk diri kita dan keluarga kita
ibaratnya...
Quote:
kita harus melewati sebuah lembah yg sangat berbahaya karena banyak perampok, biasanya orang yg dirampok pasti dibunuh.
pilihan yg paling rasional adalah kita harus mempersenjatai diri, kalau bisa malah bawa pasukan keamanan sekalian.
lalu di level pemerintah, pemerintah perlu memikirkan cara membenrantas kriminal2 yg bercokol di lembah itu
tapi sementara pemerintah belum beraksi, kita kan tetap harus berada ditempat bahaya itu, ya kita lakukanlah semua opsi yg bisa memperbaiki chance survival kita untuk sementara waktu.
Well,
pandangan gue di level negara udah jelas di halaman sebelumnya.
Di level keluarga,
gue melihat masih banyak pilihan untuk bertahan hidup.
Walaupun jujur, rencana gue untuk melatih putri gue sampai sekarang banyak ditentang ama bini.
Saya berubah pikiran , saya mau punya senjata dan berlatih senjata. Tapi saya ga mau membunuh orang. Saya pikir , kalo kita orang baik , kita pasti bisa melumpuhkan seorang penjahat dengan menembaknya , tapi ga sampe mati.
Ya paling enggak melumpuhkan aja , supaya ga lebi banyak korban. Misal tembak di kakinya...
Ini misal ya , bayangin aja udah ngeri.
---------- Post Merged at 12:04 AM ----------
Saya berubah pikiran , karena om Aslan tulis 2 contoh yang saat kelaparan ama yang saat lewat lembah berbahaya...
Apa kita sebagai manusia , emang harus memilih mengorbankan orang lain , supaya kita selamat ya...
Kayak di contoh dan pilihan yang om Aslan berikan di atas...
Pernah latihan menembak, Ly?
Gue pernah.
Gak semudah itu membidik.
Itu sebabnya kenapa para penembak membabibuta menembak di keramaian karena biarpun meleset dari target, pasti tetap kena orang.
Itu sebabnya, 'pahlawan' yang kukutip di atas sama sekali tidak menekan pelatuk dan hanya mengandalkan perang psikologis.
Kalau niatmu punya senjata untuk melumpuhkan, lebih baik lupakan.
Sekali pegang senjata dan kau dalam kondisi genting dan berbahaya, maka niatmu harus satu, 'bunuh'. Kenapa si 'pahlawan' itu berhasil selain faktor keberuntungan, karena dia punya latihan sebagai keamanan. Dia bisa tenang, bisa menilai bahwa dia tidak bisa menembak sasaran dengan tepat tanpa resiko. Dan dia tahu, dengan kekurangan itu, dia tetap harus mengancam.
Tanpa latihan semacam itu, tanpa ketenangan dan kemampuan memancarkan niat serius, hanya latihan menembak biasa, dan diberikan pistol, percayalah... kau cuma akan melukai orang lain, bukan si penembak buta.
Itu sebabnya, aku tidak setuju pendapat untuk membolehkan orang tanpa latihan (polisi, militer) menggunakan senjata api.
Sekedar intermezzo,
di kasus Sandy Hook,
jumlah korban bisa lebih banyak. Adam Lanza masih memiliki pistol di kantongnya. Tapi selain guru dan dua kelas, sisanya selamat. Kenapa? Karena strategi yang sudah dilatih, menerapkan sistem komunikasi dan kekompakan mengunci serta latihan menenangkan siswa.
Sekarang seandainya kau guru di sana dan punya pistol di sana,
seperti yang kubilang, kalaupun kau punya pistol, kau tidak akan menaruh di kantong. Kau pasti menaruhnya di laci meja atau di tas. Kalau pikiranmu untuk mengambil pistol, kau sudah telat bereaksi dan kau tidak akan menolong siapa pun.
Begitu juga seandainya kau di kelas ujung dan kau sempat ambil pistol dan mau jadi sok jagoan dan langsung keluar, dijamin tembakanmu akan meleset. Masih untung kalau tidak melukai anak-anak lain.
Mau menembak kaki? Bagaimana kalau meleset dan lantainya cukup keras dan sudutnya memenuhi faktor untuk mementalkan peluru dan malah jadi peluru nyasar ke arah lain?
Atau kasusnya dibalik,
bagaimana kalau putramu, O, entah bagaimana bisa mengambil senjatamu dan dia gunakan untuk melawan anak-anak yang lebih tua yang selama ini memukuli dia?
Pada kebanyakan nonton pelem seh..
kekeke...
langkah paling aman adalah menempatkan ex-navy
seal atau ex-delta sebagai koki disetiap kantin se
kolah :)
Berarti gini,
Seperti hal apapun, punya senpi juga ada untung dan ruginya.
Untungnya ya punya kesempatan untuk balas menembak (kalo belon ditembak duluan sih)
Ruginya senpinya ada ksempatan untuk disalah gunakan (misalnya dicuri anak untuk melakukan penembakan masal)
Jadi tergantung pilihan masing2 sih. Kalo gue sih walau hidup di US, tetap memilih nggak punya senpi.
kan hanya misal dalf... tapi saya ga pernah latihan menembak sih , antara pengen belajar dan enggak sih gara - gara thread ini ::ungg::
itu sih tergantung pribadi masing - masing sih... contohnya... Papa saya , dia koleksi senjata dan jago menembak , tapi Koko saya juga ga pernah pegang senjata dan belajar menembak...
padahal dulu , kita semua tau dimana Papa taruh senjata nya , mulai dari pisau sampe senjata...
sekarang aja , udah ditaruh di loteng , yang ga mungkin kita kesana.
---------- Post Merged at 07:50 AM ----------
saya pernah diajari Mama gini...
saat kamu tinggal di lingkungan yang buruk , jangan kamu ikut - ikut menjadi buruk. tetaplah menjadi orang yang baik.
mungkin ga sekarang , tapi one day , orang yang buruk bisa menjadi orang yang baik , karena seorang kamu.
---------- Post Merged at 07:52 AM ----------
tapi kalo udah kejadian begini , kayanya sekolah di AS akan menyewa tentara ato penembak jitu kali ya , buat jaga sekolah mereka...
dan yang lebi baik , setiap guru , dilengkapi baju anti peluru , soalnya kan penembakan di dunia pendidikan , ga sekali ini aja terjadi disana.
Pake detektor metal aja di gerbang sekolah. Kayak di bandara gitu. Kan bisa buat menghadang senjata. Kecuali si anak bawa senjata kimia (air keras yg disemprotkan pake pestol air) atau senjata biologi (sekantong kresek semut api), ini mau gak mau musti digeledah tasnya kemudian ditelanjangin sebelum lewat gerbang sekolah.
:))
Metal detektor gak berguna kalau si pelaku siap bunuh2an.
Si penjaga yg pertama kali diberondong.
Metal detektor cuma mencegah siswa nakal yg sok sok an bawa senjata buat pamer ke temen.
Yah.. jadi ga bisa masuk dong.. pintu masih kekunci..
Kalo si penjaga diberondong, minimal pelurunya tinggal dikit. Malah bisa habis cuman buat berondong si penjaga doang. Jadi siswa2 lain banyak yg selamat.
Supaya si penjaga aman, pakein rompi anti peluru. Trus, seperti kata ndableg, pintu gerbang masih dlm keadaan tertutup. Jadi, meski si penjaga ambruk, pintu masih terkunci.
:))