saya suka yang terakhir :mrgreen:
Printable View
saya suka yang terakhir :mrgreen:
Makasih telah suka. :D
---------- Post added at 07:55 PM ---------- Previous post was at 07:53 PM ----------
Denting
Ting…
Jelas terdengar di sanubari
Damai menelusup ke relung hati
Menggetarkan ruang-ruang dalam jiwa
Saput awan hitam
Merengkuh hidup, memeluk mati
Larut rasa yang hanya bisa dirasa
Mutlak sudah, tanpa apa-apa lagi
Denting meresonansi kejernihan
Tanpa ada riak sedikitpun
Hanya rasa yang tersambung
Dalam kemutlakan yang tak terkatakan
Rasakanlah!
Hanya, ting …
Menggema dalam jagat raya
Rasakanlah!
Kau dengarkah, apa yang kudengar?!
Ting…
Nah! Itu berdenting lagi
Dengar dengan rasamu
Dengarkanlah, sungguh indah
Denting jernih menghantar hening.
Teman
Rasanya semua jadi hambar, sejak kata cinta terucap.
Tidak bisakah seperti dulu lagi?
Bercakap-cakap tanpa beban. Lepas bercanda. Tanpa ketakutan akan melukai, atau kebingungan menempatkan hati.
Kurindu pertemanan seperti dulu.
Tapi rasanya menjadi semakin jauh. Nyata makin hari makin tinggi gunung es diantara kita. Membekukan, sedikit demi sedikit.
Pertemanan pun,
Jadi terselaput tebalnya es, Membeku dan rapuh. Sedikit sentuhan akan tercerai berai. Tanpa sisa lagi.
Menyedihkan memang.
Tapi apa dayaku, jika takdir berkehendak?
Dzikir
Kukatakan padamu rasa kontemplasiku. Rasa betapa sudah lama sekali diri ini tenggelam dalam waham kebesaran. Hingga luput memperhatikan hal-hal kecil yang menggetarkan.Betapa sudah lama terlalu terpaku pada hal-hal besar. Mengabaikan apa yang disebut keremehan hidup.
Tiada dapat melihat dzikirnya para pemulung yang mengais rejeki tanpa mengeluh. Dzikirnya para penjaja koran di pojok jalan yang senantiasa tersenyum. Dzikirnya para pengamen yang tidak menampakkan muka masam ketika tangan ini terangkat untuk menolak. Dzikir yang menjadi lelaku nyata dalam hidup.
Duh, Gusti. Inginku berdzikir dalam kesederhanaan lagi.
Sabda Alam
Kesiur angin
Gemericik air
Tarian bunga
Cicit burung gereja
Sebuah daun jatuh pelan melayang.
yang terakhir: ::up::::up::
very poetic
haiku 5 baris :cengir:
can i steal it?
haiku itu sejenis puisi jepang, dengan format pendek2 gitu
biasa 3 baris, dan masing2 baris ada batas brapa huruf. ibarat suku kata kali ya. biasa ga lebih dari 5 ato 7 suku kata.
lupa formatnya persisnya gimana
dan puisi di atas mengenai alam, buatku sangat fitting aja.
wahai Perawanku
Wahai Perawanku…Selaput itu biarlah di situ saja
Tidak usah kita rusak demi kenikmatan
Nikmat itu masih bisa kita rasa
Dengan segala teknik yang kita pelajari
Pada stensilan yang sudah lecek
Kamu jangan merengut begitu
Seakan tidak merasa dihinakan
Saya tidak kecewa untuk yang satu itu
Demi keutuhan selembar selaput
Yang terasa indah pada saatnya nanti
Saya tidak apa-apa menjaga selaputmu
Nafsu ini masih bisa kusalurkan
Pada perempuan lain tanpa selaput
Merelakan beberapa rupiah,
demi menjaga selaputmu, hadiah perkawinan kita.
Dik
Dik, malam keparat ini, entah kenapa, mengingatkan lagi padamu. Entah sudah berapa lama sejak jantung ini serasa berhenti berdetak pada kepergianmu. Tidak pernah kuhitung waktu memang sejak saat itu.
Dik, hanya harapku untuk dapat meneruskan hidup. Tidak perlu mencari tahu di tubuh mana kamu akan singgah kembali. Atau mungkin memang sudah tidak perlu lagi. Karena sudah melebur bersamaNya, sang asal.
Dik, tapi malam keparat ini mungkin punya dendam tersendiri kapadaku. Hingga begitu tega mengingatkan lagi padamu. Aku sedih walau rela. Hanya menatap bayang-bayang yang kadang datang, walau pudar.
Dik, malam keparat ini tampak terkekeh , puas menatapku yang merana. Walau muak dengan kemenangan sang malam, tanya itu tetap kulontarkan : “Apa kabarmu, Dik?”. Nelangsa karena kutahu, kau sudah tidak mungkin menjawab.
Rindu tiba-tiba menggemuruh di dada.
Tuhanpun Terdiam
Tuhan terdiam, terpana
Melihat ruang sidang yang berubah
jadi pasar amarah dengan riuh rendah makian
Bahkan ada yang mengambil-alih kuasaNya
Tuhan hanya : diam, terpana,
Tidak bisa apa-apa
Gerimis Dan Bidadari
Rerintik air turun dari langit,
membelai bumi selembut hati yang sedang
terpesona kecantikan sang bidadari.
Senyum hadir meruntuhkan segala
tembok beku menahun yang berkarat.
Gerimis berderai melembutkan.
Melukis keindahan dari jendela kamar
yang meremang dalam diamnya hati.
Nikmat binar mata bidadari.
Menembus ke ujung hati,
yang sudah lama menyimpan perih.
Gemericik air pada kolam ikan sebelah rumah.
Meriakkan tarian bersama air yang menyapa dari langit.
Menengadah wajah,
menikmati tarian dari surga di atas sana.
Sosok tubuh bidadari bercahaya dalam bulir-bulir mutiara bening.
Gerimis dan bidadari. Menghapus segala kelam, yang baru saja ada.
Sekadar Berpuisi
Coretan-coretan kugoreskan. Sekadar menuliskan rasa. Rasa dedaunan yang tampak intim bercumbu dengan angin. Menggeliat jatuh. Untuk kemudian berselingkuh dengan bumi. Mencumbu sampai habis diri. Hilang melebur dalam kesatuan. Menyuburkan.
Rasa yang terus berbicara. Melihat angin mencumbu awan, yang berarak mendulang berkah, yang terbang ke langit dari orang-orang tanpa asa. Beberapa ada seperti rayuan agar sang awan segera menuntaskan cumbuan dengan sang angin. Tumpahkan mani untuk kehidupan. Membasahi bumi yang telah kering kerontang. Hingga sang daunpun terbakar menyentuh kulitnya..
Rasa mendengungkan kebenaran. Sekedar berbagi cerita tentang kematian. Syahdu dalam ketidak mengertian. Misteri di sana tetap diam membisu. Tidak mau menyapa manusia-manusia. Suara membahana ke angkasa, menggangu cumbuan angin pada awan. Suara lantang meneriakkan protes. “Mengapa ada manusia yang membuat manusia bercumbu dengan maut ?!!”.
Sementara,
bumi, daun , angin, dan awan, terus bercumbu tanpa lelah.
Heheheheh... ;)
---------- Post Merged at 01:26 AM ----------
Hening
Menangis.
Merasakan nikmat yang tiada tara kembali.
Terimakasihku Tuhan,
atas tidak bosannya memberikan anugrah
pada hamba yang tidak tahu diri ini.
Hadiah ini teramat indah.
Sebuah kesempatan untuk mencicipi hening kembali.
Terimakasih.
Melebur
Lebur … Lebur … Leburlah, wahai heningku.
Leburlah keramaian. Meleburlah dalam kesunyian. Hiduppun melebur dengan mati.
Leburlah sedihku. Melebur dalam senang. Suka pun melebur dalam duka.
Leburlah inginku. Lalu inginku melebur pada tidak ingin. Ingin pun menjadi satu dengan tidak ingin.
Maka, leburlah puisi ini. Puisi melebur. Kata-kata sudah tidak ada lagi.
Bunga kamboja berdiri pongah di tengah kuburan merah. Dan lebur pun melebur.