Mungkin gerundelannya udah lama tapi sama saya baru curhat.
Bagaimana introspeksinya ? menurutnya dia baik2 saja sebagai
istri, melakukan apa yang dianggap tugas istri.
Dia bukan keberatan hobi suami atau sosialisasinya, tapi kayaknya
lebih ke porsinya. La kalau suami menjadikan rumah sebagai tempat
mampir doang dan teman2nya sebagai yang utama, apa ndak
menjengkelkan tuh?
Saya ndak pernah dengar versi misuanya sih. Anak2 kayaknya
juga ndak dekat ama bokapnya, jadi figur ibu menyeimbangkan
kekurangan sang ayah.
´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
-John Adams-
Nah, saya suka saran ini dan menurut saya dia harus melakukannya.
kalau suaminya senang2 dengan dunianya, kenapa dia tidak?
Apalagi uang kan ndak masalah.
Tapi, si suaminya itu, kalo istrinya pergi, kayak ndak rela gitu.
Maunya, sekalinya istri pergi, anak2 ikut sekalian jadi dia ndak direpotin.
Artinya, istri ndak bisa full "me-time" yang ada ngurus anak juga
Trus si suami tuh, kalo dapat cuti tahunan, dipakenya buat moge..
padahal anak-istrinya udah mupeng liburan keluarga kayak tetangga2...
Sekalinya liburan, suami emoh ikutan
padahal anak-istri merindukan mereka pergi barengan..
dan kalo istri-anak pergi, dia malah happy banget karena bisa sepanjang
hari di markas moge
Sang istri guyon "mekkah-nya di situ, tuhannya moge.." .![]()
´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
-John Adams-
ya itu...
tidak bisa kita menilai suatu permasalahan kalo hanya dipandang dari satu sisi saja.
harus didengar pendapat suami mengenai kebiasaannya tersebut.
tidak bisa juga kita mengambil pengalaman pribadi diri sendiri untuk dijadikan panduan dalam menganalisis permasalahan ini.
orang akan cenderung membenarkan tindakannya sendiri.. tanpa memperhatikan akibatnya ke orang lain.
CMIIW
egois, maunya menang sendiri, suka masa bodo, ngga perhatian
makanya gua ngga mau sama cowo
orang bilang perlu waktu 10 tahun bagi pasangan suami istri untuk bisa saling mengerti dan memantapkan rumah tangganya. Tapi kalau sampai 15 tahun suami blum ngeh juga bahwa dia belum menjadi ayah dan suami yang diinginkan keluarganya, sebaiknya suami "disidang" oleh semua anggota keluarga. Perlu dijedotin rame2 bahwa dia adalah seorang AYAH dan SUAMI...not just TEMAN buat teman2nya atau MESIN UANG yang gak tau mata hatinya
postingannya um alip, bu keremus dan um crash, juga bundana ilang semua euy
--
aku sepakat ama bundana... emang harusnya ada saling pengertian, suaminya egois, tapi di sisi lain mungkin si istri juga kurang memperlihatkan ketidaksetujuannya
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
antara masa sesudah apgred dan sebelum down tadi siang, semua postingan ilang
*numpang lewat
you can also find me here
nowel etca...hayo mana neh postingan yg ilang?![]()
Laki yg punya duit memang cenderung kurang mau berbaik2 sama istri dan keluarga, ini biasa.
iya,ga melulu kayak gitu lan.
untungnya sekelilingku laki2nya family men, jadi ga punya perbandingan drastis kayak ceritanya bu keremus.
tapi mayan membuka cakrawala juga sih, ternyata ada ya laki2 yang separah itu
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Orang kaya cenderung kurang ramah pada orang lain, karena mereka terbiasa tidak butuh bantuan orang lain.Rich Man, Poor Man: Body Language Can Indicate Socioeconomic Status, Study Shows
ScienceDaily (Feb. 5, 2009) — Socioeconomic status (SES) is determined by a number of factors such as wealth, occupation and schools attended. SES influences the food we eat, hobbies we participate in and can even have an impact on our health.
People with an upper SES background can often be accused of flaunting their status, such as by the types of cars they drive or how many pairs of Manolo Blahniks they have in their closet. It is easy to guess someone's SES based on their clothing and the size of their home, but what about more subtle clues? Psychologists Michael W. Kraus and Dacher Keltner of the University of California, Berkeley wanted to see if non-verbal cues (that is, body language) can indicate our SES.
To test this idea, the researchers videotaped participants as they got to know one another in one-on-one interview sessions. During these taped sessions, the researchers looked for two types of behaviors: disengagement behaviors (including fidgeting with personal objects and doodling) and engagement behaviors (including head nodding, laughing and eye contact).
The results, reported in Psychological Science, reveal that nonverbal cues can give away a person's SES. Volunteers whose parents were from upper SES backgrounds displayed more disengagement-related behaviors compared to participants from lower SES backgrounds. In addition, when a separate group of observers were shown 60 second clips of the videos, they were able to correctly guess the participants' SES background, based on their body language.
The researchers note that this is the first study to show a relation between SES and social engagement behavior. They surmise that people from upper SES backgrounds who are wealthy and have access to prestigious institutions tend to be less dependent on others. "This lack of dependence among upper SES people is displayed in their nonverbal behaviors during social interactions," the psychologists conclude.
Fenomena ini ada dibahas di buku "Men are from mars women are from venus" karangan John Gray.
Memang tidak semua pria berduit akan bersikap begitu, tapi ada kecenderungan kearah situ, maka setiap pasangan perlu mewaspadai resiko2 dari setiap kondisi, termasuk resiko menjadi kaya (kalau dulunya mereka adalah pasangan miskin) atau resiko menikahi pria kaya.
Waspadalah...waspadalah!
![]()
Sabbe sattha bhavanthu sukhitatta.
Untungnya suamiqu masih tergolong family man. Sebenernya hobi gakpapa sih, asal gak nelantarin anak istri kayak gitu
Kenapa postingan ilang, chan?
Bunda Na@
Ya mungkin itu pengaruh nilai2 yang ditanamkan ke keluarga
yang kemudian membentuk mindset seseorang. Orang yang tumbuh dalam
keluarga yang terlalu patriarkat (maksudku, lelaki selalu utama dan perempuan
dianggap cuma ngurus anak dan rumah), mungkin lebih potensial berperilaku
kayak kasus di atas.
Sepengamatanku, hal-hal sepele dalam RT bisa malah besar dampaknya.
Misalnya ya sapaan empatik : " Capek ya Pa + Ma ?"
Atau mendengarkan pasangan bicara, sama2 duduk2 nonton TV, jalan
sekeluarga...
Itu nampak sepele, tapi kalau tidak ada, RT terasa kosong dan jika ada
RT terasa hangat.
La gimana kalo satunya sibuk berkutat ngurus rumah, satunya berkutat
nongkrongin moge dan hanya mampir ke rumah, bukannya pulang ?
Last edited by keremus; 19-10-2011 at 01:45 PM.
´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
-John Adams-
saranya saya untuk gabung ke KM aja si ibu ...... dijamin gak bakal bosen .... ikut kegiatan sosial di KM asyik lho...
cerai ? jangan ah...kasian anak2 ....toh suami tidak menyelewengkan ........
Last edited by deddy; 19-10-2011 at 02:12 PM.
GARUDA DI DADAKU