Menurut pengamatanku, tidak semua lelaki / suami bertipe family man.
Dan beruntunglah orang yang dapet suami tipe kayak gini.
Tipe family man bukan hanya bahwa ia mencintai keluarganya
(karena yang bukan tipe ini bukan berarti tak mencintai keluarga)
Tapi juga terlibat dengan keluarganya secara positif.
Yang pastinya bukan seorang suami yang merasa tugasnya hanya
mencari uang lalu urusan anak dan RT tanggungjawab istri.
Saya suka melihat seorang suami yang hangat kepada anak dan istrinya
dan selalu menyediakan waktu bagi keluarganya.
Karena saya sering dijadikan tempat curhat, saya sering mendengar
masalah sehubungan hal-hal seperti ini.
Contoh:
Si A, sebut saya inisial kawan saya.
Nah suaminya hampir setiap malam nongkrong di tempat kawannya. Kalau bukan
di tempat kawannya, nongkrong di kafe. Ini sampai larut malam. Weekend,
bukannya buat keluarga, malah setengah hari di tempat kawannya itu, yang
hobinya sama, motor gede. Dalam seminggu, tiga kali wajib naik motor, satu hari
spesial dengan rute lebih panjang. Ia muncul di rumah jelang isya (dan akan
kembeli ke tempat temannya atau di kafe itu hingga ujung malam).
Kalau ada acara sosial lainnya, misalnya pengajian, izinnya pengajian tapi
dilanjutkan ke markas. Pokoknya hampir tiap hari pulang larut malam. Sekalinya
di rumah kalau ndak nongkrong depan laptop, nonton tv tidak mau diganggu.
Uang lancar. Tapi apa gunanya uang kalau tidak bahagia bukan?
Dan yang bikin tambah jengkel kawan saya itu, suaminya itu kalau urusan
rumah tangga, rada2 tidak perduli kecuali didesak. Urusan kran air
rusak, bak mandi mampet, pasang lukisan di dinding -pokoknya kerja2
pertukangan gitu, ibaratnya 100 x permohonan baru kelar.
Tapi kalau urusan yang menyangkut hobi si suami, wow...secepat kilat
kelar dan tuntas. Pawai moge yang sebulanan kemudian diadakan,
bisa seminggu diurusnya dengan penuh antusias. Penuh senyum dan
rela berkorban, baik hati bak gentleman.
Ngajak keluarga rekreasi? Tidak pernah. Sekalinya ngajak, terpaksa dan
sangat tidak menikmati. Cenderung hanya menjadi supir keluarga sehingga
anak2 jadi tidak nyaman karena bawaan ayahnya yang maunya terburu-
buru dan ngedumel. Tapi kalu supirin kawanannya, dua belas jam jalan'
darat pun happy forever.
Jadi si suami sepertinya berpikir kewajibannya hanya satu yaitu mencari
duit dan selesailah sudah.
Teman saya ini berpikir untuk bercerai karena tidak tahan menjurus ke
stress. Tapi dia kasihan sama anak2. Teman saya mengaku selama
lima belas tahun menikah, dia adalah istri yang sangat kesepian.
Dia merasa cuma dijadikan babu rumah tangga plus penunggu rumah.
Suami sibuk dengan dunianya sendiri. Sampe2 dia guyon bahwa
rasanya dia pengen bakar tuh moge berikut markas suaminya.
Bayangin aja, tuh suaminya ngantor ampe sore, malamnya nyambung
ke markas moge-nya, kalo ndak di markas moge, kafe2, itu ampe
malam banget. Tiga kali seminggu nge-moge. Wiken, nge-moge.
Makanya saya berpikir, beruntunglah perempuan2 yang dapat
suami tipe family man, yang menurut saya ciri2nya antara lain
senang berkumpul dengan keluarganya, terlibat dengan anak2nya,
memberi perhatian pada kebutuhan pasangannya (bukan cuma duit
dan seks), menomorsatukan keluarga, menyeimbangkan hobi
individualnya dengan kebersamaan dengan keluarga...
Saya tentu ndak nyaranin kawan saya bercerai, cuma ndak tau
juga mau nasehatin apa. Masakan toh saya satronin si maniak
moge itu?
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)

Reply With Quote










