Page 2 of 3 FirstFirst 123 LastLast
Results 21 to 40 of 48

Thread: Memaksakan Kehendak Pada Tuhan?

  1. #21
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Bila ada pertanyaan "apakah Tuhan itu adil" bisakah pertanyaan itu dijawab dengan "tidak bisa dijelaskan"?
    Bila sifat Tuhan itu tidak bisa dijelaskan maka apa gunanya kita perduli pada Tuhan?

    Ada kawan Hindu dari India yang percaya bahwa Dewa-Dewa mewakili sifat ideal yang hendaknya diteladani oleh orang-orang yang percaya dengannya. Kalau Tuhan itu tidak punya deskripsi, tidak bisa dijelaskan, lalu apa fungsinya Tuhan?
    Untuk dicari.

  2. #22
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by kimochi View Post
    Untuk dicari.
    Untuk apa mencari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan? Kalau ketemu dan dapat penjelasan, maka bukankah Tuhan kemudian tidak tidak dapat dijelaskan? Tapi bukankah tadinya bersikeras bahwa Tuhan tidak dapat dijelaskan? Kalau dapat dideskripsikan, maka itu bukan Tuhan?

    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    seperti.. ngomongin sesuatu-yang-tidak-boleh-diomongkan
    Bukan tidak boleh.. tetapi tidak dapat.
    Membicarakan sesuatu yang tidak dapat dibicarakan.
    Aneh..

  3. #23
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Untuk apa mencari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan? Kalau ketemu dan dapat penjelasan, maka bukankah Tuhan kemudian tidak tidak dapat dijelaskan? Tapi bukankah tadinya bersikeras bahwa Tuhan tidak dapat dijelaskan? Kalau dapat dideskripsikan, maka itu bukan Tuhan?
    Aneh..
    Tuhan bukannya tidak terjelaskan. Bedakan tidak terjelaskan dengan belum terjelaskan secara memadai. Agama hadir sebagai pra-penjelasan tentang Tuhan tersebut. Anggap aja sebagai prolog sebuah buku. Isinya bagaimana?

    Belum ada penjelasan lebih lanjut, sama seperti klaim ateis tentang alam semesta ini. Apa mereka (ateis) udah menjelaskan semuanya, sehingga sampai pada kesimpulan yang berani (gegabah dan terburu-buru) bahwa Tuhan itu tidak ada?

  4. #24
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by kimochi View Post
    Tuhan bukannya tidak terjelaskan. Bedakan tidak terjelaskan dengan belum terjelaskan secara memadai. Agama hadir sebagai pra-penjelasan tentang Tuhan tersebut. Anggap aja sebagai prolog sebuah buku. Isinya bagaimana?
    Oke lah.. Anda berpendapat begitu.
    Tetapi pemula utas (TS) tampaknya tidak berpendapat demikian.
    Saya kutip lagi kata-katanya di tulisan awalnya.
    Ketika saya menjelaskan tentang apa dan bagaimana Tuhan itu, kok saya merasa itu bukan Tuhan ya? Tuhan kan seharusnya tidak terjelaskan ya?

    Dan ketika saya mengatakan bahwa Tuhan tidak terjelaskan, itu juga saya telah menjelaskan Tuhan bukan?
    ~adaGakYahOrangBunuhDiriKarenaPusingMenjelaskanTuh an

  5. #25
    Quote Originally Posted by kimochi View Post
    Faktanya memang, Tuhan belum bisa dijelaskan. Atau Tidak ada "penjelasan memadai" tentang Tuhan.
    Kita butuh penjelasan yang jauh lebih banyak tentang jejak-jejak yang ditinggalkan Tuhan.
    Memadai itu berarti mengukur.
    Seberapa memadai manusia memerlukan narasi soal Tuhan sehingga mereka "puas" ?

    Menurut anda, kitab-kitab suci kurang memuaskan menjelaskan Tuhan ?
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  6. #26
    Sebenarnya, pemahaman kalian menjelaskan itu kayak gimana ?

    Kalau sekadar sebaris kalimat semacam Tuhan tak dapat dijelaskan,
    hemat saya bukan menjelaskan Tuhan.

    Tidak sekadar kalimat seperti itu, saya kira kita semua mafhum.
    Nanti diskusi sekadar akrobat kata-kata.

    Jadi setiap kata, konsep, persepsi harus disamakan dulu.
    Last edited by keremus; 06-10-2011 at 01:45 PM.
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  7. #27
    Lah, yang saya permasalahkan kan bukan Tuhan itu terjelaskan atau tidak terjelaskan. Yang saya permasalahakn adalah soal "pemaksaan". Soal bahwa Tuhan itu harus begini, jika tidak begini itu bukan Tuhan. Saya merasa hal itu memaksa (atau mendikte) Tuhan.

    Mungkin argumentasinya lebih diarahkan kalo hal itu bukan memaksa (mendikte) dengan alasan bla...bla...bla... dan sebaliknya jika mendukung saya, menjelaskan alasan kenapa itu dianggap memaksa (atau mendikte).

    Gitu loh.
    Last edited by danalingga; 06-10-2011 at 02:07 PM.

  8. #28
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Lah, yang saya permasalahkan kan bukan Tuhan itu terjelaskan atau tidak terjelaskan. Yang saya permasalahakn adalah soal "pemaksaan". Soal bahwa Tuhan itu harus begini, jika tidak begini itu bukan Tuhan. Saya merasa hal itu memaksa (atau mendikte) Tuhan.

    Mungkin argumentasinya lebih diarahkan kalo hal itu bukan memaksa (mendikte) dengan alasan bla...bla...bla... dan sebaliknya jika mendukung saya, menjelaskan alasan kenapa itu dianggap memaksa (atau mendikte).

    Gitu loh.
    Bentar dulu, masih kurang ngerti apa yang dimaksud dengan “Pemaksaan”.

    Misalnya Gw bilang, gini:
    Kambing itu mammamlia. Kambing itu makan rumput. Kambing itu suka kawin (misalnya).

    Apa itu salah satu bentuk “pemaksaan” yang dimaksud? Apakah di sini saya sudah mendikte kambing?

  9. #29
    Jangan pake analogi ah, kok malah jadi lucu.

    Misalnya gini, ketika Tuhan dibilang pasti adil, kalo tidak adil berarti bukan Tuhan.

    Pertanyaannya adalah: bagaimana jika nantinya Tuhan hendak berbuat tidak adil? Apa lantas Dia bukan Tuhan lagi?

    Padahal sepemahaman saya harusnya kalo Tuhan sih suka-suka dia dong, mau adil mau nggak. Namanya juga Tuhan.

    Lah, kalu kita bilang harus adil, jadinya kan kita memaksa (mendikte) Tuhan tuh.

  10. #30
    Kalau begitu, semua deskripsi tentang Tuhan bakal dicap “pemaksaan” kan? Termasuk yg ini juga :

    Padahal sepemahaman saya harusnya kalo Tuhan sih suka-suka dia dong, mau adil mau nggak. Namanya juga Tuhan.
    Tuhan berbuat suka-suka? Ini juga sebuah pemaksaan. Bagaimana kalau suatu saat Tuhan memilih untuk tidak bertindak suka-suka?

    Lantas, bagaimana kita bisa mendeskripsikan sesuatu tanpa disebut memaksakan kehendak / pengertian kita terhadap sesuatu tersebut?

    Ini circular.

  11. #31
    danalingga
    Lah, yang saya permasalahkan kan bukan Tuhan itu terjelaskan atau tidak terjelaskan. Yang saya permasalahakn adalah soal "pemaksaan". Soal bahwa Tuhan itu harus begini, jika tidak begini itu bukan Tuhan. Saya merasa hal itu memaksa (atau mendikte) Tuhan.

    Mungkin argumentasinya lebih diarahkan kalo hal itu bukan memaksa (mendikte) dengan alasan bla...bla...bla... dan sebaliknya jika mendukung saya, menjelaskan alasan kenapa itu dianggap memaksa (atau mendikte).
    Menurut saya anda tidak memaksa tapi sedang mikir

    Jelas saja bahwa anda mau tak mau berurusan dengan tak terjelaskan dan terjelaskan-nya TUhan
    Anda berangkat dari masalah itu sehingga timbul perasaan memaksakan kehendak

    Jadi agar anda tentram tanpa merasa memaksakan kehendak adalah dengan memperoleh jawaban semacam :

    1. Memang Tuhan tak terjelaskan kok atau
    2. Memang Tuhan dapat dijelaskan kok


    Originally Posted by ndugu
    seperti.. ngomongin sesuatu-yang-tidak-boleh-diomongkan
    Persamaan Tuhan dan Lord Voldermort adalah kadang2 menimbulkan rasa gentar
    dan mencekam
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  12. #32
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Jangan pake analogi ah, kok malah jadi lucu.

    Misalnya gini, ketika Tuhan dibilang pasti adil, kalo tidak adil berarti bukan Tuhan.

    Pertanyaannya adalah: bagaimana jika nantinya Tuhan hendak berbuat tidak adil? Apa lantas Dia bukan Tuhan lagi?

    Padahal sepemahaman saya harusnya kalo Tuhan sih suka-suka dia dong, mau adil mau nggak. Namanya juga Tuhan.

    Lah, kalu kita bilang harus adil, jadinya kan kita memaksa (mendikte) Tuhan tuh.
    Mungkin solusinya ya nggak usah berusaha menjelaskan.

    Tapi, saya sendiri (sesuai dengan tulisan diawal) memang masih terjebak dalam usaha untuk menjelaskan.

  13. #33
    pelanggan setia Yuki's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Buitenzorg
    Posts
    6,366
    Tuhan pasti adil, Maha Adil

    hendaklah harus berpikir positif tentang Tuhan, karena Tuhan itu sebagaimana sangkaanmu
    CURE SUNSHINE WA KAKKOSUGIRU.

  14. #34
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Pertanyaannya adalah: bagaimana jika nantinya Tuhan hendak berbuat tidak adil? Apa lantas Dia bukan Tuhan lagi?
    lantas, tuhan itu tidak ada

  15. #35
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Misalnya gini, ketika Tuhan dibilang pasti adil, kalo tidak adil berarti bukan Tuhan.

    Pertanyaannya adalah: bagaimana jika nantinya Tuhan hendak berbuat tidak adil? Apa lantas Dia bukan Tuhan lagi?

    Padahal sepemahaman saya harusnya kalo Tuhan sih suka-suka dia dong, mau adil mau nggak. Namanya juga Tuhan.
    Benar,
    suka-suka si Pencipta.
    Tapi saya menolak mengakui dia Tuhan.
    Menurut saya, sebuah sosok itu layak disebut Tuhan bila ia layak diabdi dan layak didukung. Jadi bukan sekedar 'menciptakan' atau 'punya kuasa'.

    Jadi menurut saya, 'Tuhan' harus punya fungsi untuk manusia. Pilihan 'percaya pada Tuhan' harus punya manfaat pada manusia.

    Ya.. sebut saja itu keegoisan saya sebagai manusia.
    Last edited by kandalf; 07-10-2011 at 02:50 PM.

  16. #36
    pelanggan sejati Urzu 7's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    7,940
    ^ kalo ga ada feedbacknya ga percaya yah om

  17. #37
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by Urzu 7 View Post
    ^ kalo ga ada feedbacknya ga percaya yah om
    Nope.
    Tanpa feedback dari sosok 'Tuhan' pun seseorang juga bisa 'percaya pada Tuhan'. Hanya saja aksi 'percaya pada Tuhan' itu haruslah punya efek pada perbuatan seseorang yang mengklaim 'percaya' itu.

    Nah,
    kalau 'Tuhan' itu beneran ada dan ternyata berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh si yang percaya, maka antara 'Tuhan' itu tidak diakui 'Tuhan' oleh si pemercaya atau si pemercaya harus mereevaluasi kembali konsepnya tentang Tuhan. Bila si pemercaya memilih yang terakhir, maka perilakunya pun juga akan berubah sesuai dengan konsep baru yang ia pilih, dengan asumsi ia masih hidup di dunia.

    Bingung yah?

  18. #38
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Benar,
    suka-suka si Pencipta.
    Tapi saya menolak mengakui dia Tuhan.
    Menurut saya, sebuah sosok itu layak disebut Tuhan bila ia layak diabdi dan layak didukung. Jadi bukan sekedar 'menciptakan' atau 'punya kuasa'.

    Jadi menurut saya, 'Tuhan' harus punya fungsi untuk manusia. Pilihan 'percaya pada Tuhan' harus punya manfaat pada manusia.

    Ya.. sebut saja itu keegoisan saya sebagai manusia.
    Perkataan seperti “Tuhan harus punya fungsi untuk manusia” lah yg dimaksud si danalingga sebagai pemaksaan bagaimana seharusnya (seorang? seekor? sebuah?) Tuhan bersikap.

    Btw, baca postingan kop, jadi ingat nenek ane yang sering nasihatin gw musti begini, musti begitu.

    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Nope.
    Tanpa feedback dari sosok 'Tuhan' pun seseorang juga bisa 'percaya pada Tuhan'. Hanya saja aksi 'percaya pada Tuhan' itu haruslah punya efek pada perbuatan seseorang yang mengklaim 'percaya' itu.
    Efek dan benefitnya sih pasti ada. Cuman, bisa sangat abstrak dan sangat, sangat, sangattt subkyektif.

  19. #39
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Memaksakan kehendak pada tuhan? Memperkosa tuhan? Emangnya tuhan pake rok mini?

    Tuhan menciptakan alam semesta. Setelah itu ngapain? Apakah dia mengawasi saja atau tetap bekerja menjalankan ciptaannya tsb?

    Ketika seseorang kentut, apakah itu kerjaan tuhan atau bukan? Jika bukan, berarti ada bagian dari alam semesta ini (yaitu kentut) yg tidak dikuasai oleh tuhan. Mosok punya julukan maha kuasa tapi kentut saja tidak tertangani. Atau kentut bagian dari freewill manusia? Tapi perasaan ane sejauh ini, ane gak bisa milih2 kentut. Kadang nyaring, kadang senyap. Kadang bau, kadang bau banget. Kadang kering, kadang lengket. Jadi gimana nih, kentut kerjaan tuhan atau freewill manusia?

    Teis pengennya tuhan maha suci, maha tinggi, maha baik, maha sempurna. Tapi itu justru jadi membatasi tuhan, padahal tuhan juga maha kuasa, maha berdikari. Karena pusing dgn sifat2 tuhan, sementara tetap percaya adanya tuhan, akhirnya terbetik utk tidak mau membicarakan tuhan. Tuhan semakin dibicarakan, semakin tidak ada. Sementara jika tuhan tidak dibicarakan, lama2 tuhan terlupakan.

    Mungkin solusinya pilih saja sifat2 tuhan yg sesuai kebutuhan. Misalnya maha mengawasi atau maha melihat atau maha mengetahui dan maha menepati janji. Ini utk menjaga agar teis tidak terperosok ke dalam perbuatan tercela. Misalnya ketika mau korupsi, teringat janji tuhan berupa siksa neraka. Tapi masalahnya kalo ingat tuhan, lha kalo lupa karena melihat setumpuk rupiah gimana?

  20. #40
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Saya sih lebih melihat kepada bahwa kita berpendapat:

    Bahwa Tuhan harus begini, kalo tidak begini berarti bukan Tuhan.

    Nah, itu yang saya maksud memaksakan kehendak -- kehendak bahwa Tuhan harus begini.
    Itu kan kesimpulan bukan memaksaan kehendak, atau dari sisi teologis disebut tafsir ...

    konsekuensi dari berfikir tentang tuhan

Page 2 of 3 FirstFirst 123 LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •