Sejauh yang saya pahami, klaim tentang kebenaran yang spesifik dikeluarkan kedua agama tersebut berbicara tentang jalan yang lebih baik ketimbang yang ada pada saat itu.
Ketika Yesus berjalan kaki dan kadangkala naik keledai menyebarkan ajaran kebaikan di daerah yang sekarang kita sebut Timur Tengah, di sana sedang menjadi protektorat Romawi dengan segala keburukan Kekaisaran itu di akhir masa kejayaannya. Begitu pula pemuka agama setempat, mereka tidak lain cuma pengekor penjajah yang menggunakan agama sebagai justifikasi atas ambisi mereka sendiri. Maka Yesus berbicara kepada para petani, nelayan, gembala, pemungut pajak, budak, hamba sahaya dan lainnya... "Akulah akan membawa kalian pada kebaikan" (redaksi aslinya mungkin berbeda, tapi maksudnya itu

). Dan kita sampai sekarang masih mengenal ajaran Yesus yang sangat mengutamakan cinta kasih. Sebuah revolusi dalam sistem kemanusiaan.
Lima ratus tahun kemudian di sebuah kota kecil di tengah gurun pasir, Muhammad membawa pesan dari Tuhannya melawan sekelompok bangsawan lokal yang menggunakan kuil kuno berbentuk persegi berikut patung-patung di dalam dan sekelilingnya sebagai justifikasi atas kekuasaan mereka. Para bangsawan itu memraktekkan sistem ekonomi ultra-kapitalis yang menyebabkan orang kaya makin kaya dan orang miskin makin miskin, bahkan sampai timbulnya perbudakan. Maka Muhammad mengemban misi menghancurkan sumber kekuatan mereka dan mengembalikan ekonomi dan masyarakat kepada kondisi saling asah dan asuh. Sebuah konsep masyarakat egalitarian, meskipun terdiri atas banyak suku dan agama. Lagi-lagi sebuah revolusi sosial.
Itulah konteks jalan kebenaran yang saya pahami sesuai sejarahnya.
Apakah orang-orang yang tidak menerima konsep ini adalah orang yang tidak selamat? Ya betul dalam konteks itu. Mereka adalah orang-orang yang tindakannya merusak dan menyebabkan kesulitan bagi orang lain dan masyarakat sekitar.